- Rende KEE GBKP No. 305:1,2
- Tuhan Kam me penampat, ibas geluhku. O Tuhan Kam me cicionku, bas aru ateku. Angin meter, udan meder, Kam me kubunku. O Tuhan Kam me ikutenku, segedang geluhku.
- Enterem imbang-imbangku bas pertibi e. Si atena nirangkenku ras Kam kap Tuhanku. Kawali min, cikeplah min, lah la ku bene. O Tuhan Kam me pengarapen segedang geluhku.
- Ertoto
- Ngoge Pustaka Si Badia : Ulangan 1:27:30
“ Kamu menggerutu di dalam kemahmu serta berkata: Karena TUHAN membenci kita, maka Ia membawa kita keluar dari tanah Mesir untuk menyerahkan kita ke dalam tangan orang Amori, supaya dimusnahkan. Ke manakah pula kita maju? Saudara-saudara kita telah membuat hati kita tawar dengan mengatakan: Orang-orang itu lebih besar dan lebih tinggi dari pada kita, kota-kota di sana besar dan kubu-kubunya sampai ke langit, lagipula kami melihat orang-orang Enak di sana. Ketika itu aku berkata kepadamu: Janganlah gemetar, janganlah takut kepada mereka; TUHAN, Allahmu, yang berjalan di depanmu, Dialah yang akan berperang untukmu sama seperti yang dilakukan-Nya bagimu di Mesir, di depan matamu,”
Renungen
Ada sebuah film yang bertema “ Change the past to rescue the future”. Yang menarik dari tema film ini adalah adanya kesadaran bahwa saat ini telah terjadi perbuatan yang tidak benar yang dapat mengakibatken terjadinya hal-hal buruk di masa depan. Dan mereka berusaha memperbaiki keadaan ini dengan kembali ke masa lalu. Ini adalah salah satu kerinduan dalam hati kita. Dalam bahasa Karo ada istilahnya, bicara bage min sange, entah labo bagenda jadina. Secara nyata, tentunya kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Apa yang terjadi di masa lalu, tidak bisa diulangi lagi. Kita harus melangkah maju. Kita melangkah maju sambil belajar dari peristiwa-peritiwa masa lalu sehingga kita dapat melanjutkan apa yang baik dari masa lalu dan tidak mengulang kesalahan-kesalahan masa lalu.
Dalam sejarah perjalanan bangsa Isarel, mereka juga mengalami hal yang sama. Bangsa Israel telah keluar dari Mesir dan mereka tiba di pegunungan orang Amori. Musa mengutus 12 orang pengintai untuk melihat daerah orang Amori. Setelah menerima laporan ke dua belas pengintai itu, bangsa Israel menggerutu. Bangsa Israel menyesali perjalanan mereka. Mereka telah jauh berjalan dan menghadap banyak rintangan, namun akhirnya mereka berhadapan dengan bangsa Amori yang gagah perkasa. Mereka berkata, “Ke manakah pula kita akan maju?” Bangsa Israel ada dalam situasi menyesali masa lalu mereka dan takut menghadapi masa depan yang menghadang mereka. Istilahna, “mulih ningen, enggo mberat, terusken pe mberat kang”. Penyesalan terhadap masa lalu dan ketakutan menghadapi masa depan membuat bangsa Israel tidak lagi mengingat apa yang telah dilakukan Allah bagi mereka di tanah Mesir. Dalam hal ini, Musa mengingatkan dan meneguhkan hati bangsa Israel. Allah akan bertindak seperti Allah yang bertindak membebaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir.
Kita harus bergerak maju menggapai masa depan kita. Benar, ada rintangan yang menghadang kita. Kita kuat karena Allah yang berjalan di depan kita. Amin. - Ertoto kenca Renungen
- Rende KEE GBKP No. 331:1,2.
- Tegu aku anakNdu, bas perdalan geluhku. ‘Di paksa aku labuh, ambatilah musuhku. Tegu aku, ibas perdalanenku. Kam ngenca ku lebuh, cikepNdu tanku enteguh.
- Kam bentengku si paguh, gia musuhku ngupuh. Amin mara reh nderpa, la aku bera-bera. Tegu aku, ibas perdalanenku. Kam ngenca ku lebuh, cikepNdu tanku enteguh.
- Pertoton Syafaat ras Pertoton Tuhan.
Pdt. Tanda Pinem
GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan