Renungan Malam 16 Oktober 2020
- Rende KEE GBKP No. 212:1,4.
- Perkuah ate si mbelin, nemani geluhku. Ije me aku erdalin. Teruh perkuahNdu.
- Perkuah ate si mbein, si mahan dame e. bengketi pusuh kami min, ‘lah kami senang je.
- Ertoto
- Ngoge Kata Dibata Mazmur 131:2.
“ Sesungguhnya, aku telah menenangkan dan mendiamkan jiwaku; seperti anak yang disapih berbaring dekat ibunya, ya, seperti anak yang disapih jiwaku dalam diriku.”
Renungan
Dalam situasi pandemi ini, semakin besar beban kehidupan kita. Namun demikian, di tengah-tengah perjuangan yang semakin berat itu, bisa jadi beban kehidupan seorang perempuan-lah yang lebih berat. Aktivitas kehidupan yang selama ini banyak terjadi di luar rumah, sekarang ini aktivitas kehidupan banyak di dalam rumah. Yang berarti pekerjaan rumah seorang perempuan bertambah banyak. Perempuan dituntut menjadi perempuan multitasking, seorang perempuan yang serba bisa. Seturut dengan Ulang Tahun Moria GBKP, bagaimana kita memandang kehidupan Moria ? Kita dapat belajar dari pengakuan Daud.
Di dalam kitab Mazmur 131: ayat 2, diceritakan tentang ketenangan yang dirasakan Duad. Dibayangkannya ketenangan yang diberikan Allah seperti ketenangan seorang anak berbaring dekat ibunya, ibas bahasa Karo, ibas ampun nandena. Mungkin kita berkata, seorang bayi tidak memiliki pengetahuan. Benarkah demikian ? Mungkin kita pernah melihat seorang bayi yang telah menangis dalam beberapa waktu. Banyak orang yang berusaha menenangkannya dengan mengendongnya, tetapi si bayi belum juga berhenti menangis. Tetapi ketika si ibu bayi itu datang, maka si bayi dapat merasakan kehadiran ibunya dan berhenti menangis. Demikianlah si bayi ini dapat membedakan dan merasakan ketenangan bersama ibunya. Begitu juga Daud dapat membedakan dan merasakan ketenangannya bersama Allah. Ketenangan bersama Allah dibayangkan Daud seperti ketenangan seorang anak “ ibas ampun nandena”.
Pengalaman Daud ini memperlihatkan kuatnya perasaan terhadap kehadiran seorang ibu. Mungkin kita tidak dapat mengingat peristiwa-peristiwa yang terjadi di masa-masa kita masih bayi. Ketika kita dilahirkan, menyusui, menangis karena lapar dan haus, menangis tengah malam karena buang air kecil, belajar berjalan, mengucapkan kata pertama, dan sebagainya, kita tidak mengingat semua yang dilakukan ibu terhadap kita. Kita bisa mengingat kenangan masa kecil kita pada saat usia kita sudah 4 – 7 tahun. Walaupun kita tidak memiliki ingatan pada masa-masa sebelum usia 4 -7 tahun, kita dapat merasakan ketenangan bersama seorang ibu. Kita merasakan kebutuhan dasar hidup kita dipenuhi. Ibu hadir disaat kita buang air kecil, disaat kita buang air besar, disaat kita lapar, disaat kita haus, disaat kita kedinginan, kita merasa hangat dalam pelukannya.Tidak ingat bukan berarti tidak ada. Justru di masa-masa kita tidak ingat itu, pada saat itulah pondasi kehidupan kita dibangun. Pondasi yang membentuk perasaan yang kuat terhadap kehadiran seorang ibu. Sehingga sampai usia lanjut pun kita tetap memiliki perasaaan yang kuat terhadap kehadiran seorang ibu.
Demikianlah Daud membayangkan ketenangannya bersama Allah seperti ketenangan seorang bayi bersama ibunya. Dengan hal ini, Daud juga memperlihatkan arti kasih itu. Jika kita ingin belajar tentang kasih Allah, justru kita dapat belajar dari kasih seorang ibu. Kasih ibu yang mengandung kehidupan, melahirkan kehidupan, memenuhi kebutuhan kehidupan, membesarkan kehidupan dan memelihara kehidupan.
Mengingat semua itu, untuk semua Moria GBKP, khususnya Moria GBKP Rg. Sei Batang Serangan, di dalam Ulang Tahun Moria yang ke-63 tahun, tetaplah memperlihatkan kasih Allah, kasih kehidupan man kami kerina. Untuk kita para suami, untuk anak-anak, mari kita ingat-ingat semampu daya ingat kita tentang kasih ibu, kita hargai, kita hormati, kita doakan, dan kita kasihi Moria kekelengennta.
Selamat Ulang Tahun Moria GBKP ke 63 tahun. Tuhan Allah memberkati kita semua. Amin.
- Ertoto kenca renungen
- Rende KEE GBKP No. 173:1,3.
- O, Tuhan mari, wari enggo ben, gelap me wari, Kam ku ban teman. La lit nampati di la Kam Tuhan. Mari gundari marilah Tuhan.
- Kam kesikelku, katawari pe, Kam gelemenku bas percuban e. Kam me dalinku. Kam kap ngenca e. mari gundari, marilah Tuhan.
- Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.
Pdt. Tanda Pinem
GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan
Renungan Malam 15 Oktober 2020
- Rende KEE GBKP No. 264:1,2.
- Ateku tedeh man baNdu o Tuhan, malem me ateku jumpa si erkuasa. Aku megegeh ‘di ras kam o Tuhan, sabab Kam me kapen ulu sinasana. Kubegi kataNdu, kata tuhu-tuhu keke me ukurku nehken peratenNdu.
- Terang kataNdu, nerangi pusuhku, pusuh jadi senang, ergiah geluhku. Gegeh si mbaru, berekenNdu bangku, labo aku talu, meriah ukurku. Kubegi kataNdu…
- Ertoto
- Ngoge Kata Dibata Mazmur 73 : 23 – 24.
“Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku. Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan.”
Renungan
Beberapa penggal kalimat dari lagu Karo yang berjudul, “Selamat Menempuh Hidup Baru”, berkata demikian. “Bayu kebaya enggo kutempahken. Kampuh remas-emas enggo ku tukur, man pakenku ibas mata kerja. Kepe ukurndu erkusur dungna, erjabu kam ras impalndu.
Man kai kebaya ndai ? Man kai kampuh remas-emas ndai ? Adina kita labo sahun erjabu. Lagu ini mengisahkan tentang kehampaan seseorang yang ditinggalkan calon pasangannya. Dia merasa sia-sia semua yang telah dia persiapkan. Dan dia bertanya untuk apa lagi kebaya dan kain sarung yang telah dia miliki ? Benarkah sia-sia semuanya itu ?
Dalam Mazmur 73 ini, Pemazmur juga punya pengalaman yang mengganggap sia-sia yang telah dia lakukan. “Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah.”(Mazmur 73:13) Pemazmur merasa sia – sia mempertahankan hidupnya bersih ketika dia membandingkan dirinya dengan orang yang berbuat kejahatan. “Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik. Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka; mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain.”(Mazmur 73:3-5) Sedangkan Pemazmur sendiri banyak mengalami penderitan hidup. “Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi.”(Mazmur 73:14) Pada awalnya, Pemazmur memang mengambil kesimpulan yang demikian. Tetapi ketika Pemazmur masuk ke dalam Bait Suci, merenungkan perbuatan Allah dan keputusan Allah, akhirnya Pemazmur menemukan kebenaran yang hakiki. Pertama, Pemazmur mengetahui akhir kehidupan orang jahat. “Betapa binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan!” (Psa 73:19 ITB) Kedua, walaupun Pemazmur mengalami penderitaan hidup, Pemazmur tetap dekat kepada Allah. “Ketika hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya, aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu. Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku. Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan.” (Mazmur 73:21-24) Demikianlah Pemazmur melihat bahwa tidaklah sia-sia dia tetap dekat pada Allah. Pemazmur yakin bahwa Allah yang memegang tangannya, menuntun Pemazmur ke dalam kemulian.
Jika kita jawab pertanyaan syair lagu tadi, Ya bisa saja baju kebaya itu dia simpan untuk pernikahannya dengan laki-laki yang lain, atau agar tidak menjadi ingatan yang menyakitkan bisa saja pakaian itu di jual atau diberikan kepada orang lain. Memang ketika sakit hati sudah menguasai pikiran kita, maka kita sering menganggap semuanya tidak berharga lagi. Namun demikian, Pemazmur memperlihatkan kepada kita bahwa menjaga hidup bersih, dekat kepada Allah tidaklah sia-sia. Sebab kita yang dekat kepada Allah, maka Allah memegang kehidupan kita, dan menuntun kita ke dalam kemulian.
Hidup tidak menjadi sia-sia ketika kita tetap dekat dengan Allah. Tuhan memberkati kita. Amin.
- Ertoto kenca renungen
- Rende KEE GBKP No. 238:1,3
- Ibas ndalani perdalanen nggeluh, kiniseran pe reh megatti ngupuh, si cengkal ukur ras si mambur iluh, bereNdu teneng gelah banci tunduh. Kesah ras daging rikut pe ras tendi, kempak Dibata k’rina ‘ndesken kami. emaka Kam-lah tetap si ‘ngkawali, ‘lah daging bugis bas medak pe pagi.
- Sima-simangku ndeher entah ndauh, lit nge si kote deba ka megegeh. Lit si meriah deba lit nge nderkuh. Bas berngi end kepkep gelah paguh. Kesah ras daging …
- Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.
Pdt. Tanda Pinem
GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan
Renungan Malam 14 Oktober 2020
- Rende KEE GBKP No. 280:1,2.
- Keg’luhen doni, Tuhan si ngaturkenca, labo tersipati, Ia si mada kuasa. Tah kai pe jadi, leben enggo ietehNa, la lit si terbuni ilebe-lebeNa. La lit si terbuni ilebe-lebeNa.
- Man Tuhan pindo k’rina si perlukenndu. Sehken arah toto, la bo perlu kam aru. Lah tetap ukur arapen la erkusur. Kekelengen Tuhan tetap labo luntur. Kekelengen Tuhan tetap labo luntur
- Ertoto
- Ngoge Kata Dibata Mazmur 4 : 7
“ Banyak orang berkata: “Siapa yang akan memperlihatkan yang baik kepada kita?” Biarlah cahaya wajah-Mu menyinari kami, ya TUHAN !”
Renungan
Sering kita mendengar orang yang berkata, “Hidup seperti deburan ombak ke tepi pantai”. Artinya, persoalan hidup terus menerus melanda hidup kita. Selesai satu persoalan, ada persoalan baru yang menyusul. Bahkan, terkadang persoalan yang lama juga belum selesai, sudah datang lagi persoalan baru. Akhirnya ada orang yang mengganggap hidup itu seperti tumpukan permasalahan. Bernarkah demikian ? Tidak adakah pelajaran yang dapat kita ambil dari pengalaman-pengalaman itu yang memberikan pemahaman baru bagi kita, yang dapat kita jadikan pedoman dalam menghadapi persoalan hidup ini ?
Kita dapat melihat pengalaman Pemazmur. Pemazmur mengalami penderitaan hidup. Dia telah berseru kepada Allah dan Allah telah memberi kelegaan kepada Pemazmur. “Apabila aku berseru, jawablah aku, ya Allah, yang membenarkan aku. Di dalam kesesakan Engkau memberi kelegaan kepadaku. Kasihanilah aku dan dengarkanlah doaku!” (Mazmur 4:2) Pemazmur telah melewati pengalaman ketidakadilan. Hal ini bukan berarti tidak ada lagi orang yang berlaku tidak adil kepadanya. Pemazmur sendiri mengalami ketidakadilan lagi. Istilahnya, satu persoalan selesai, bukan berarti tidak ada lagi persoalan. Persoalan baru muncul lagi. Namun demikian, dari pengalaman ini, Pemazmur telah memperoleh ketetapan dan keyakinan bahwa Allah-lah penolong hidupnya. Oleh karena itu, dari pengalaman ini, Pemazmur menjawab pertanyaan orang yang mengalami penderitaan juga. Orang-orang yang menderita bertanya siapa yang memperlihatkan yang baik kepada mereka ? Mereka yang mengalami penderitaan telah mencari siapa yang memperhatikan, membela dan menyelamatkan mereka dari penderitaan mereka. Sesuai dengan pengalaman Pemazmur, Pemazmur menyakinkan mereka yang menderita bahwa Tuhan tetap memperhatikan dan menolong mereka yang menderita. Kata-kata “Cahaya wajah Allah menyinari kami” berarti Allah memperhatikan orang-orang yang mengalami penderitaan, berkenan kepada mereka dan dalam kerelaan dan kebaikanNya, Allah menuntun mereka untuk lepas dari penderitaan itu.
Kita lihat kembali perjalanan hidup kita. Tentunya, kita dapat melihat bahwa hidup bukanlah tumpukan permasalahan. Ada saat di mana kita telah mendapatkan kelegaan dari penderitaan hidup kita. Namun, bisa saja karena penderitaan saat ini menekan kita, pengalaman kelegaan itu tidak lagi terasa berarti dalam hidup kita. Kita ingat kembali pengalaman kelegaan yang dilakukan Allah dalam hidup kita. Pengalaman kelegaan itu menjadi keyakinan dan kekuatan kita untuk berharap akan pertolongan Allah. Kita yakin “sinar wajah Allah menyinari kita. Kita yakin Allah memperhatikan penderitaan hidup kita, berkenan kepada kita dan dalam kerelaan dan kebaikanNya, Allah menuntun kita untuk lepas dari permasalahan yang sedang kita hadapi saat ini. Tuhan memberkati kita. Amin.
- Ertoto kenca renungen
- Rende KEE GBKP No. 201:1,4.
- Malem ate tuhu-tuhu, si ernalem man baNdu. Kam Dibata sinjadiken langit ras doni enda. SalsaliNdu pusuh kami, maka t’rangndu tergejap. Kalak si tek la kap bene, ban kelengNdu e tetap.
- Aloken Kamlah o Bapa, kuendesken geluhku. KesahNdu min ngajarisa, lah kueteh nembah baNdu. Pasu – pasu min kerina, daging, ukur, tendingku. Gelah arah tan ras kata, ipujina gelarNdu.
- Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.
Pdt. Tanda Pinem
GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan
Renungan Malam 13 Oktober 2020
- Rende KEE GBKP No. 319:1,2.
- Sada soranta muji Dibatanta. Ia jine si njayam keg’luhenta. Lalap Ia ‘ngkelengi tinepaNa, maler me kap tetap pasu-pasuNa.
- Sada soranta muji Dibatanta. S’lamat kita ban perkuah ateNa. AlokenNa kita jadi anakNa, maler me kap tetap pasu-pasuNa.
- Ertoto
- Ngoge Kata Dibata Kolose 3: 15.
“ Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.”
Renungan
Hari-hari yang kita lalui rasanya semakin menekan berat kehidupan kita. Seperti si bapak ini, walaupun sudah usia lanjut, beban hidup yang harus dia pikul bukannya semakin berkurang. Bagaimana kita menjalani situasi yang menekan kehidupan kita ?
Dalam bacaan renungan malam hari ini kita berbicara tentang damai sejahtera. Namun damai sejahtera, dalam hal ini, bukan sekedar perasaan damai, seperti saat kita melihat pemandangan yang indah. Dalam hal ini damai sejahtera berarti telah dipulihkannya hubungan manusia dengan Allah. Dosa manusia telah membuat hubungan manusia dengan Allah telah rusak. Tidak hanya hubungan Allah dengan manusia yang menjadi rusak tetapi hubungan manusia dengan ciptaan Allah yang lain juga rusak. Ketika jatuh ke dalam dosa, laki-laki mempersalahkan perempuan dan perempuan mempersalahkan ular sebagai penyebab mereka memberontak terhadap perintah Allah. Kematian Yesus Kristus menjadi jalan pemulihan hubungan Allah dengan manusia. “Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami.”(2 Kor 5:19) Pendamaian yang telah dilakukan Allah dalam Tuhan Yesus Kristuslah yang sekarang menguasai seluruh kehidupan orang percaya. Seluruh keputusan-keputusan moral atau etika orang percaya dikuasai atau dipimpin oleh pendamaian ini. Pertama, orang-orang percaya sekarang disebut sebagai satu tubuh. Demikianlah cara berada hubungan sesama orang percaya. Bila dibandingkan dengan saat manusia jatuh ke dalam dosa, maka sekarang hubungan sesama orang percaya tidak lagi saling menyalahkan. Sebagai sesama orang percaya, maka kehidupannya saling memperhatikan. “Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya.”(1 Kor. 12:26-27) Kedua, kehidupan orang percaya adalah kehidupan mengucap syukur. Orang percaya bukan hanya mengucap syukur atas berkat pendamaian yang telah dilakukan Allah, tetapi menjadikan hidupnya sebagai bentuk ucapan syukur. Setiap pikiran, perkataan dan perbuatan orang percaya didasari oleh ucapan syukurnya kepada Allah. “Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita.” (Epesus 5:20)
Demikianlah kita menghadapi kehidupan kita. Memang kehidupan kita semakin menekan berat, tetapi oleh karena kita dikuasai oleh pendamaian Kristus maka kita hidup sebagai satu tubuh. Di tengah-tengah keluarga, kita hidup saling memahami, saling medukung, saling menghormati dan saling menghargai satu dengan lainnya. Demikian juga di tengah-tengah jemaat. Dengan demikian, kita merasa tidak sendirian menjalani kehidupan ini. Oleh karena pendamaian Kristus, kita menjadikan hidup kita sebagai ucapan syukur kita. pikiran, perkataan dan perbuatan kita dikuasai ungkapan syukur kita. Tuhan Yesus memberkati kita. Amin.
- Ertoto kenca renungen
- Rende KEE GBKP No. 71:1,3.
- Teman si sada perukur, sindarami senang je. Kubas Yesus legi ukur, maka jumpa dame e. Ia kapen ikutenta, kita kap ngawanNa e. Tuhan Yesus kap Gurunta, kita ‘jar-ajarNa e.
- Kam me si persada kami, k’rina si tek baNdu e. gelah sikeleng-kelengen, ngikutken pedahNdu e. Tudu ku bas kebenaren, e me kap ateNdu e. Kam me jadi penalemen, gelah kami la bene.
- Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.
Pdt. Tanda Pinem
GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan
Renungan Malam 12 Oktober 2020
- Rende KEE GBKP No. 276:1,2.
- Kuikutken Kam o Tuhan, Kam kap si perkeleng e. Sabab Kam si mere dalan, dalan terkelin kepe. Ia ka pen Jurus’lamat. Ia ka pen penampat. KataNa me kapen tambar, KuasaNa la ‘rsibar.
- Tuhan ka pen kuarapken jadi temanku nggeluh. Tetap Ia penalemen, kinitekenku ‘nteguh. Ia ka pen Jurus’lamat…
- Ertoto
- Ngoge Kata Dibata Mazmur 91:14-16
“Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku. Bila ia berseru kepada-Ku, Aku akan menjawab, Aku akan menyertai dia dalam kesesakan, Aku akan meluputkannya dan memuliakannya. Dengan panjang umur akan Kukenyangkan dia, dan akan Kuperlihatkan kepadanya keselamatan dari pada-Ku.”
Renungan
Kita menyadari bahwa bahaya selalu saja ada dalam kehidupan kita. Kita belum lepas dari berbagai ancaman kehidupan ini. Dalam situasi ini kita juga gampang bimbang, cemas, kuatir dan takut menjalaninya. Oleh karena selalu ada bahaya, maka kita juga harus selalu diingatkan dan dikuatkan untuk menghadapi bahaya itu. Inilah yang dapat kita baca dari Mazmur 91.
Mamzur 91 berisi ajakan terhadap orang percaya untuk tetap teguh menyerahkan diri kepada Tuhan Allah. Pemazmur menyadari bahwa ada bahaya yang mengancam kehidupan orang percaya. Mulai ayat 3-13, Pemamzur menyebutkan bahaya itu, antara lain : jerat, kedahsyatan malam, panah siang hari, penyakit sampar, penyakit menular, orang yang telah rebah, malapetaka, tulah, singa dan ular. Walaupun hidup orang percaya dikelilingi bahaya, pemamzur menegaskan agar orang percaya itu tidak perlu takut. Hal ini dikarenaken perlindungan Tuhan besar bagi orang percaya.
Di dalam bacaan renungan malam hari ini, kita melihat beberapa tindakan orang percaya itu. Orang percaya berarti hatinya melekat pada Tuhan. Walaupun ada bahaya, dia tidak berpindah ke lain hati, mengikatkan diri, berpaut atau menetapkan hatinya untuk menyerahkan hidupnya ke dalam kuasa Tuhan. Orang percaya mengenal nama TUHAN. Orang percaya mengetahui kedahsyatan nama Allah dan takut akan Allah. Orang percaya berseru kepada Allah. Hanya Allah saja tempat dia menaikkan seru doa permohonannya. Terhadap orang percaya, Allah memberikan janji keselamatanNya. Disebutkan tindakan Allah itu, yaitu meluputkan, membentengi, menjawab, menyertai, memuliakan orang percaya itu dari bahaya yang mengancam hidup orang percaya itu. Allah akan memberkati mereka dengan memberikan panjang umur dan keselamatan.
Demikianlah dalam bahaya yang terus mengancam kehidupan kita, kita juga terus diingatkan untuk tetap teguh menyerahkan hidup kita kepada Allah. Kita tidak perlu bimbang, cemas, kuatir dan takut dengan bahaya yang selalu ada, sebab Allah juga selalu beserta orang percaya untuk meluputkan, membentengi, menjawab, menyertai, memuliakan orang percaya itu.
Kita masuki istirahat malam kita dengan hati yang tetap teguh melekat pada Tuhan. Allah memberkati kita. Amin.
- Ertoto kenca renungen
- Rende KEE GBKP No. 425:1,3.
- Adi ras Yesus malem naring pusuhta, iperdiatekenNa me kita ban kelengNa. Amin gia jumpa erbage percuban, lakap itadingkenNa, kita isampatiNa. Malem me ate je kita pe dat dame ras keriahen ukur bene me kebiaren tading me keguluten, mberat jadi menahang, pusuh pe jadi salang.
- Adi ras Yesus lanai aru ateta. Darami k’rajanNa dalanken singena ateNa, i cukupiNa k’rian si perlu banta, mbelin kap kuasa ras kekelengenNa banta. Malem me ate je …
- Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.
Pdt. Tanda Pinem
GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan
Renungan Malam 11 Oktober 2020
- Rende KEE GBKP No. 263:1,2.
- Adi kuidah ampar bintang terang, ras sora lenggur guntar kubegi. O Tuhanku ije ukurku mamang, ngidah b’linna k’rina tinepaNdu. Maka pusuhku e pehaga Kam, mbelin me Kam o Tuhanku. Maka pusuhku e pehaga Kam. O Tuhanku mehaga Kam.
- Tuhanku, di k’rina e kuukurken, perkuah ‘teNdu nebusi aku. Tuhan me kap man bangku nggo ib’reken, alu dareh Yesus si badia. Maka pusuhku e pehaga Kam…
- Ertoto
- Ngoge Kata Dibata 2 Petrus 3: 17 – 18.
“Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, kamu telah mengetahui hal ini sebelumnya. Karena itu waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh. Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.”
Renungan
Ajaib kebijaksanaan Allah dalam memelihara kehidupan kita. Bahkan terkadang, kita tidak dapat memahami cara Allah mengasihi kita. Dikatakan dalam Mazmur 139:6, “Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya.” Keadaan, dimana kita tidak dapat memahami pemeliharaan Allah, dapat membuat kita terseret ke dalam kesesatan. Kita merasa Allah tidak memelihara kehidupan kita. Namun demikian, bila kita tidak dapat memahami cara kerja kasih Allah bukan berarti tidak ada kasih Allah. Dengan pertolongan Roh Kudus dan setelah melalui waktu dan berbagai proses kehidupan, barulah perlahan-lahan kita dapat mengaminkan pemeliharaan Allah dalam hidup kita.
Inilah yang ditekankan Petrus dalam bacaan renungan kita malam hari ini. Petrus mengingatkan kembali pengetahuan yang telah dimiliki jemaat. Kekristenan berarti salib. Selalu saja ada ancaman dan tantangan yang terjadi dalam kehidupan orang percaya. Dalam 2 Petrus 2:1 disebutkan, “Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka. Oleh karena itu Petrus mengingatkan jemaat agar waspada, jangan terseret ke dalam kesesatan ini. Jemaat telah memperoleh apa yang utama dalam kehidupan ini. Firman Tuhan dalam 2 Petrus 1:3, dikatakan, “Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.” Sebaliknya, Petrus meminta agar jemaat bertumbuh dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat manusia. Artinya, jemaat semakin memahami dan merasakan tindakan kasih karunia Allah dalam kehidupan mereka. Oleh karena pengenalannya akan Tuhan Jesus Kristus, maka jemaat semakin hidup dalam penguasaan diri, ketekunan, kesalahen dan kasih.
Melalui ibadah minggu hari ini, kita telah diingatkan akan kasih karunia Allah. Dengan demikian, kita semakin dapat mengetahui dan merasakan pemeliharaan Allah dalam kehidupan kita. Inilah yang menjadi kekuatan kita dalam memasuki aktivitas kita dalam satu minggu ini. Kita harus selalu waspada terhadap ancaman dan tantangan yang membawa kita kepada hawa nafsu duniawi. Tetapi hendaklah kita semakin bertumbuh dalam kasih karunia Allah dan hidup dalam penguasaan diri, ketekunan, kesalehan dan kasih.
Kita persiapkan diri kita untuk memulai aktivitas kita di minggu ini dengan keyakinan kasih karunia Allah tetap memlihara kehidupan kita. Kita dapat beristirahat dengan nyaman dan aman. Dan esok pagi kita bangun dengan badan segar dan dengan semangat baru kita jalani kembali pekerjaan, usaha dan pencarian kita dalam minggu ini. Tuhan Allah memberkati kita. Amin.
- Ertoto kenca renungen
- Rende KEE GBKP No. 388:1,2.
- Tupung tayang aku nginget Kam, gedang berngi kuukuri Kam. Sabab Kam si nampati aku, o Dibata tedeh ‘teku Kam. O Dibata Kam kap Dibatangku, kudahi tedeh ateku Kam. Mesikel aku nandangi Kam, desken taneh si enggo kerah. Bage me muasna tendingku, man baNdu Tuhan Dibatangku.
- Sabab Kam si nampati aku teruh kabengNdu rende aku. ‘Di ras Kam meriah ukurku, o Dibata Kam sekawalku. O Dibata Kam kap Dibatangku …
- Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.
Pdt. Tanda Pinem
GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan
Renungan Malam 10 Oktober 2020
- Rende KEE GBKP No. 319:1,2
- Sada soranta muji Dibatanta, IA jine si njayam keg’luhenta. Lalap IA ‘ngkelengi tinepaNa, maler me kap tetap pasu-pasuNa.
- Sada soranta muji Dibatanta, S’lamat kita ban perkuah ateNa. AlokenNa kita jadi anakNa, Maler me kap tetap pasu-pasuNa.
- Ertoto
- Ngoge Kata Dibata 2 Korintus 13:11
“ Dungna, mejuah-juah man bandu o senina-senina! Pekenalah man bandu mulihi, janah tamakenlah ku bas ukurndu pemindon kami e. Ersadalah arihndu kerina janah erdamelah. Janah Dibata si dem keleng ate dingen kemalemen ate ras kam gelah.”
“ Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu!”
Renungan
Kita hidup dalam kemajemukan aganma-agama. Dan setiap orang yang percaya kepada Tuhan Yesus Kristus dipanggil, diperlengkapi dan diutus untuk memberitakan Kabar Baik tentang Tuhan Yesus Kristus. Gereja merupakan salah satu tempat bagi orang percaya untuk meneguhkan panggilannya, diperlengkapi dan diutus. Gereja yang demikian sangat ditentukan oleh suasana di dalam Gereja itu. Kita dapat belajar dari apa yang dikatakan Paulus kepada Jemaat Korintus.
Dalam penutup surat 2 Korintus ini, Paulus menyatakan harapan, himbauan dan permohonannya. Paulus mengharapkan jemaat Korintus hidup dalam sukacita, mejuah-juah. Paulus menghimbau jemaat Korintus untuk memperbaiki kehidupan mereka. Jemaat Korintus hendaknya hidup sehati sepikir dan hidup dalam damai sejahtera. Paulus memohon agar Allah yang menjadi sumber kasih dan damai sejahtera menyertai jemaat Korintus. Inilah ketiga hal yang dikatakan Paulus, yaitu jemaat hidup dengan sukacita, jemaat hidup sehati sepikir dan Allah yang menyertai Jamaat.
Pertama, jemaat yang hidup penuh dengan sukacita. Setiap jemaat merasakan adanya sukacita dalam kehadirannya di tengah-tengah jemaat itu. Sukacita karena dia merasa berada bersama-sama orang percaya lainnya dalam sebuah ikatan keluarga yang memperaktekkan cinta kasih Tuhan Yesus Kristus. Dalam bahasa Paulus, disebutkan kesatuan tubuh. “Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. (1 Kor 12:26) Kedua, jemaat yang terus berusaha untuk mewujudkan, membangun dan memelihara hidup yang sehati sepikir dan hidup dalam damai sejahtera. Dalam 2 Korintus 12:20, Paulus telah menyatakan kekuatirannya. Dikatakannya, “Sebab aku kuatir, bahwa apabila aku datang aku mendapati kamu tidak seperti yang kuinginkan dan kamu mendapati aku tidak seperti yang kamu inginkan. Aku kuatir akan adanya perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, fitnah, bisik-bisikan, keangkuhan, dan kerusuhan.” Oleh karena itu Paulus menghimbau jemaat untuk memperbaiki keadaan kehidupan jemaat ini. Ketiga, adanya penyertaan Allah. Paulus meyakini bahwa Allah memberkati harapannya dan himbauannya terhadap jemaat Korintus
Ketiga hal yang dikatakan Paulus ini merupakan contoh bagaimana suasana kehidupan Gereja yang menjadi tempat untuk peneguhan jemaat dalam mengakui panggilannya, menerima perlengkapan dan pengutusam dirinya. Dengan adanya ketiga hal ini, menjadikan jemaat itu sebagai tempat pemeliharaan dan penerusan iman bagi jemaatnya. Adanya perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, fitnah, bisik-bisikan, keangkuhan, dan kerusuhan, seperti yang diungkapkan Paulus, akan membuat gereja sibuk menyelesaikan persoalan di dalam rumah tangganya sendiri. Erkiteken Gereja sibuk “ndungi persoalan ibas jabu” piah dungna dahin i juma “i darat jabu” enggo iperjumai kalak.
Oleh karena itu, mari masing-masing kita memakaikan talenta kita untuk menjadikan gereja kita sebagai tempat hidup dalam suasana sukacita, hidup sehati sepikir dan hidup dalam damai sejahtera. Kita yakin, Allah menyertai kehidupan GerejaNya. Dengan demikian, panggilan jemaat semakin diteguhkan, diperlengkapi dan diutus memberitakan kabar baik tentang Tuhan Yesus Kristus.
Melalui ibadah minggu esok, mari kita menerima peneguhan, perlengkapan dan pengutusan kita untuk memberitakan kabar baik tentang Tuhan Yesus Kristus. Amin.
- Ertoto kenca renungen
- Rende KEE GBKP No. 217:1,2
- Meriahlah ukurta mujikenca, Dibata Raja mblin si mulia, peb’linken min gelarNa si Badia, ban Ia ngerajaisa sinasana. Maka bujur nge Dibata man pujin, nai-nai nari genduari seh pagin. Ban tandaiNa kita k’rina si suin, sembah Ia me madin.
- Dagena mari pujilah Dibata, si inget min kerina pemereNa. ‘Lah tetap ras megegeh pe tendinta, mehuli me jadina k’rajang jelma. Maka bujur nge Dibata …
- Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.
Pdt. Tanda Pinem
GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan