Renungan Malam 3 Oktober 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 369:1,2
    1. O Dibata Kam pengarapenku, malem kal ateku ibahanNdu. Perban e kupuji Kam Tuhanku, rasa lalap seh rasa lalap.
    2. O Tuhan Kam me kap kecionku, Tupung aku ‘bas kiniseranku. Perban e kupuji Kam Tuhanku, rasa lalap seh rasa lalap.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Mazmur 31:22-23.
    “ Terpujilah TUHAN, sebab kasih setia-Nya ditunjukkan-Nya kepadaku dengan ajaib pada waktu kesesakan! Aku menyangka dalam kebingunganku: “Aku telah terbuang dari hadapan mata-Mu.” Tetapi sesungguhnya Engkau mendengarkan suara permohonanku, ketika aku berteriak kepada-Mu minta tolong.

Renungan

Salah duga adalah ciri kehidupan manusia. Manusia terbatas dalam mengetahui dan memahami kejadian-kejadian di masa depan. Kita hanya dapat memperkirakan apa yang akan terjadi. Biasanya yang banyak menjadi perkiraan kita adalah perkiraan peristiwa-peristiwa yang menakutkan kita. Pikiran kita meyakinkan kita bahwa perkirakan itu akan benar-benar menjadi kenyataan. Inilah yang kemudian menjadi ketakutan dalam hidup kita. Hal ini bukan berarti ancaman dan tantangan itu tidak nyata. Ancaman dan tantangan hidup selalu saja ada dalam hidup kita. Tetapi yang sering kita salah menduganya bahwa ancaman dan tantangan itu benar-benar akan membuat kita hancur. Terkadang kita lupa bahwa ada kuasa yang berkuasa atas kehidupan di dunia ini. Inilah yang diakukan Pemamzur dalam bacaan renungan kita malam hari ini.
Pemazmur mengakui bahwa ada bahaya yang mengancam hidupnya. Dalam Mazmur 31:14, dikatakan “Sebab aku mendengar banyak orang berbisik-bisik, ada kegentaran dari segala pihak! mereka bersama-sama bermufakat mencelakakan aku, mereka bermaksud mencabut nyawaku.” Situasi ini membuat Pemazmur mengalami kesesakan dan menjadi bingung. Dia menyangka, hidupnya telah terbuang dari hadapan Allah. Dia mengatakannya, “Aku menyangka dalam kebingunganku: “Aku telah terbuang dari hadapan mata-Mu.” Tapi ternyata Tuhan mendengarkan teriakannya. Inilah yang menjadi alasan Pemazmur menaikkan pujian bagi Allah. “Pujilah TUHAN. Andiko belinna keleng ate si icidahkenNa.”
Bersama dengan ungkapan Pemazmur ini, pada Sabtu malam hari ini kita diundang untuk mengingat dan merasakan pertolongan Allah dalam hidup kita. Mungkin sudah beberapa kali kali kita sudah binggung, ada dalam kesesakan dan menyangka hidup kita sudah terbuang. Namun, ternyata karena pertolongan Tuhan, kita dapat melewatinya, mendapatkan keselamatan dan kita bisa ada seperti sekarang ini kita adanya. Inilah yang kita ingat dan membawa kita kepada pengakun, “Pujilah TUHAN ! Andiko belinna keleng ate si icidahkenNa man kami”. Kita persiapkan tubuh, roh, jiwa, hati dan pikiran kita untuk menaikkan pujian syukur kita kepada Allah dalam ibadah minggu kita esok hari. Berkenanlah Tuhan Allah akan penyembahan dan pujian syukur kita. Tuhan memberkati kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 321:1,3
    1. Si sembahlah min, Tuhan si mbelin, endekenlah min, enden-nden pujin. Tuhan Dibatanta ingan cicio, sembahlah Ia ola kita menggo.
    2. Seh kal ulina penjayamenNdu, terang ras gelap e nuduhkenca. Udan ras lego k’rina kap ndatkenca. Kuasa kekelengenNa mbelin tuhu.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 2 Oktober 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 374:1,2.
    1. Yesus ulu kegeluhenku, Kam me ngenca pengendesenku. Lalap tedeh ate pusuhku, kupehaga Kam bas geluhku. O Tuhan pernehen pusuhku, si ertedeh ate man baNdu. Kugelem pedah ras padanNdu, kusembah Kam ibas geluhku.
    2. Ku sembah Tuhan Penebusku, si mereken kekelengenNa. Alu tutus reh aku Tuhan ras kerina isi jabungku. O Tuhan pernehen pusuhku, si ertedeh ate man baNdu. Kugelem pedah ras padanNdu, kusembah Kam ibas geluhku.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Amsal 16 : 20
    “ Siapa memperhatikan firman akan mendapat kebaikan, dan berbahagialah orang yang percaya kepada TUHAN.”

Renungan

Setiap kita, tentunya mendambakan kebahagiaan hidup sampai usia lanjut. Kita berharap agar kita bisa berbahagia, tetap berbahagia seumur hidup kita. Dan ditengah-tengah situasi pandemi ini, ditengah-tengah kesulitan hidup ini, keyakinan dan harapan untuk memperoleh kebaikan dan kebahagiaan hidup tetaplah menyala-nyala. Mengapa kita yakin bahwa kebaikan dan kebahagiaan itu tetap diberikan Allah kepada kita ?
Bacaan renungan malam ini mengingatkan kita tentang pentingnya dan berharganya didikan Allah dan percaya kepada Allah. Selain mengganggap penting didikan hikmat, manusia juga harus memperhatikan firman Allah. Bersama dan melalui Firman, Allah menciptakan, menyelenggarakan, memelihara dan menuntun kehidupan dunia ini. Kita menyadari bahwa hikmat manusia terbatas dalam usaha kita mengejar kebaikan dan kebagaian hidup. Oleh karena itu, orang berhikmat juga mengetahui bahwa untuk memperoleh kebaikan dan kebahagiaan hidup, mereka juga harus memperhatikan Firman Allah. Oleh karena itu kita harus selalu mencari kehendak Allah dengan cara memperhatikan Firman.
Demikianlah, Allah memberikan kebaikan dan kebahagiaan hidup, ketika kita juga memperhatikan Firman Allah. Bagi kita saat ini, Alkitab merupakan pernyataan Allah yang mengungkapkan kebijaksanaan Allah dalam menciptakan, menyelenggarakan, memelihara dan menuntun kehidupan dunia ini. Hendaklah ketekunan kita dalam memperhatikan Firman Allah itu seperti ketekunan yang diingatkan Allah kepada Josua. Dalam Josua 1 : 8, dikatakan, “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.” Kita tekun memperhatikan Firman Allah yang tertulis di dalam Alkitab sebab Firman Allah itu diberikan Allah bagi kita untuk membimbing kita. Seperti yang difirmankan bagi kita dalam 2 Timotius 3: 16-17, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.
Demikian juga manusia harus mempercayakan hidupnya kepada Tuhan. Kita percaya bahwa Tuhan Allah maha bijak dalam menciptakan, menyelenggarakan, memelihara dan menuntun kehidupan dunia ini. Kita percaya bahwa Allah menuntun kita kepada kepada kebaikan dan kebahagiaan hidup kita.
Kita tetap yakin Allah memberikan kebaikan dan kebahagian dalam hidup kita, walaupun saat ini kita menjalani masa-masa sulit, sebab kita tetap bertekun memperhatikan Firman Allah dan percaya kepada pemeliharaan Allah. Allah memberkati kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 307:1,2
    1. O Tuhanku, Kam me permakanku, emaka la kekurangen aku. Ku mbal-mbal m’ratah aku babaNdu, ipesenang senangNdu geluhku. Permakanku sinjayam geluhku. Malem ateku senang tuhu. KelengNdu tetap maler man bangku, Kam me Tuhanku, Permakanku.
    2. IteguNdu kempak lau si maler, ibahanNdu ateku nggo malem. E maka tedeh ate tendingku kempak keg’luhen si sikapkenNdu. Permakanku sinjayam geluhku. Malem ateku senang tuhu. KelengNdu tetap maler man bangku, Kam me Tuhanku, Permakanku.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 1 Oktober 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 168:1,2
    1. Tegu aku o Tuhanku ibas dalan mesera. La lit ngasup ras gegehku, b’re min tanNdu negusa. Roti surga, roti surga, tetap b’reken man bangku. Tetap b’reken man bangku.
    2. Lau si nggeluh b’re min elah maka aku megegeh. ‘Tah kai jadi bas geluhku, Kamlah arah lebengku. O Tuhanku, O Tuhanku, Kam me kap sekawalku, Kam me kap sekawalku.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata I Petrus 5 : 6
    “ Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.”

Renungan

Kita sudah memasuki bulan Oktober. Kita mengucap syukur kepada Tuhan Allah kita yang telah menuntun kita dalam menjalani hari-hari kita. Paling tidak, kita sudah dimampukan Tuhan Allah menjalani situasi pandemi covid-19 memasuki bulan ke-7.
Sampai ini, berbagai macam pikiran dan perasaan kita. Mungkin ada yang merasa sudah sangat letih, baik dalam hati, pikiran dan fisiknya. Ada juga yang mungkin sudah dapat menerima dan menyesuaikan hati, pikiran dan aktivitas fisiknya dengan situasi ini. Atau mungkin, ada juga yang terheran-heran karena pada awal masa pandemi ini dia sudah merasa tidak sanggup, tetapi justru sekarang dia merasa hidupnya lebih baik lagi.
Hari-hari belakangan ini, Menteri Keuangan memastikan kita akan memasuki situasi resesi. Walaupun belum tentu kita memasuki masa krisis, tetapi persoalan ekonomi di hari-hari mendatang tetapnya berat. Apa yang dapat kita maknai dalam situasi ini ?
Kitab 1 Petrus 5, khususnya ayat 6-11, berbicara tentang bagaimana tingkah laku kehidupan orang Kristen. Lebih khusus lagi, yang menjadi bacaan renungan kita malam ini berbicara tentang merendahkan diri di bawah tangan Tuhan yang kuat. Istilah tangan Tuhan yang kuat merujuk kepada pengalaman bangsa Israel keluar dari Mesir. Mereka mengakui bahwa karena tangan Tuhan yang kuatlah sehingga mereka dapat keluar dari Mesir. Dikatakan dalam Kitab Keluaran 13:16, “Hal itu harus menjadi tanda pada tanganmu dan menjadi lambang di dahimu, sebab dengan kekuatan tangan-Nya TUHAN membawa kita keluar dari Mesir.” Demikian juga dikatakan dalam Kitab Ulangan 3:24, “Ya, Tuhan ALLAH, Engkau telah mulai memperlihatkan kepada hamba-Mu ini kebesaran-Mu dan tangan-Mu yang kuat; sebab allah manakah di langit dan di bumi, yang dapat melakukan perbuatan perkasa seperti Engkau?” Bangsa Israel menyadari bahwa bukan karena kemampuan dan kekuatan mereka sehingga mereka memperoleh kebebasan. Bangsa Israel mengakui kebebasan mereka dari Mesir adalah oleh karena tangan Tuhan yang kuat. Dengan latar belakang pemahaman inilah Kitab Petrus mengingatkan orang percaya untuk merendahkan diri di bawah tangan Tuhan yang kuat. Artinya kita mengetahui bahwa memang besar dan berat-lah tantangan yang akan kita hadapi. Kita sadar bahwa kita memiliki keterbatasan untuk menghadapi tantangan itu. Namun demikian, kita percaya akan kuasa dan kekuatan Allah. Kita percaya akan pengaturan dan pimpinan Allah. Dengan kesadaran dan kepercayaan ini, kita dengan setia menyerahkan hidup kita kepada pimpinan dan pengaturan Allah.
Kita hadapi dan jalani hari-hari kita di bulan Oktober ini dengan merendahkan hati kita dibawah tangan Tuhan yang kuat. Kita yakin Tuhan Allah memberkati kita, meninggikan kehidupan kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 335:1,2
    1. Tuhanku si ngaturkenca, Tuhanku si ngajarisa, Tuhanku jadi gurungku, ibas kerina geluhku.
    2. La lit ngasup ras gegehku, ndalani wari-waringku, tundalenku kap Dibata si perkuah ras erkuasa.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 30 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 399:1,3
    1. Mari surak puji Tuhan endeken nde enden m’riah, o surga doni kerina. Mari rende muji Ia alu ukur si meriah, puji gelarNa si Badia. La ‘ngadi-ngadi ku puji Kam Tuhan, bas k’rina dampar kegeluhen. Ersurak m’riah, pusuhku ibas Kam. Terpuji Tuhan rasa lalap.
    2. Mari surak puji Tuhan alu ukur ras tendinta, sabab Kam mehuli kap o Dibata. PulahiNdu aku ibas kiniseran doni enda. Kupuji Tuhan haleluya. La ‘ngadi-ngadi …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Mazmur 92:2-5.
    “ Adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada TUHAN, dan untuk menyanyikan mazmur bagi nama-Mu, ya Yang Mahatinggi, untuk memberitakan kasih setia-Mu di waktu pagi dan kesetiaan-Mu di waktu malam, dengan bunyi-bunyian sepuluh tali dan dengan gambus, dengan iringan kecapi. Sebab telah Kaubuat aku bersukacita, ya TUHAN, dengan pekerjaan-Mu, karena perbuatan tangan-Mu aku akan bersorak-sorai.”

Renungan.

Esok hari kita akan memasuki bulan Oktober. Sudah jalan 7 bulan pandemi ini kita jalani. Kesulitan-kesulitan hidup belum juga beranjak dari kehidupan kita. Lalu, bagaimana kita menghadapinya dan terus bertahan dalam kesulitan hidup ini ?
Di tengah-tengah situasi yang sulit ini, kita diajak untuk menaikkan pujian syukur kita kepada Allah. Hal ini bukan untuk mengingkari atau menolak kenyataan kesulitan yang sedang kita alami. Kita dapat melihat hal baik dari menyanyikan pujian syukur kepada Allah.
Bacaan yang menjadi renungan malam ini mengundang kita untuk menyanyikan pujian syukur kepada Allah. Pada ayat 5, Pemazmur mengungkapkan motif ucapan syukurnya. Dari hal ini, kita dapat memahami bahwa sebelum menyanyikan ungkapan syukur itu ada proses mengingat, merenungkan dan menemukan kebaikan perbuatan tangan Tuhan yang dilakukan Pemazmur. Hasilnya, Pemazmur mengatakan bahwa karena perbuatan tangan Allah maka dia bersukacita, bersorak-sorai. Berdasarkan hasil ini, Pemazmur menyatakan adalah baik untuk menyanyikan syukur, menyanyikan mazmur, dan memberitakan kasih setia Tuhan.
Mengapa Pemazmur menganggap baik menyanyikan syukur, menyanyikan mazmur, dan memberitakan kasih setia Tuhan ?
Ketika kita menyanyikan syukur, menyanyikan mazmur, dan memberitakan kasih setia Tuhan, perbuatan ini adalah perbuatan yang menyenangkan hati dan pikiran kita. Berdasarkan Mazmur 119:108, nyanyian syukur kita dapat juga menjadi persembahan korban kita. “Kiranya persembahan sukarela yang berupa puji-pujian berkenan kepada-Mu, ya TUHAN, dan ajarkanlah hukum-hukum-Mu kepadaku.”
Dengan menyanyikan syukur, menyanyikan mazmur, dan memberitakan kasih setia Tuhan maka kita akan memperoleh pemulihan terhadap hati, pikiran, tubuh, roh dan jiwa kita. Dengan bernyanyi maka perasaan kita ikut terbawa ke dalam hubungan yang erat dengan Allah. Kita mendekatkan hidup kita kepada Allah. Dengan bernyanyi maka jiwa kita akan dipenuhi dengan kehadiran Allah.
Dengan menyanyikan syukur, menyanyikan mazmur, dan memberitakan kasih setia Tuhan maka hal itu akan memperkuat keyakinan kita kepada kuasa dan kasih Allah.
Dengan menyanyikan syukur, menyanyikan mazmur, dan memberitakan kasih setia Tuhan, maka hati, pikiran dan perkataan diisi dengan hal-hal yang baik. Kita akan memiliki pikiran positip, memiliki percaya diri, dan semangat juang. Kita menjadi pribadi yang gembira. Hal ini akan meningkatkan kualitas relasi kita di dalam keluarga atau di manapun kita berada.
Dengan menyanyikan syukur, menyanyikan mazmur dan memberitakan kasih setia Tuhan, ini adalah tindakan yang menyenangkan hati Tuhan. Kita percaya Tuhan senang dengan pribadi yang menyenangkan, yang mempersembahkan syukur, yang mendekatkan dirinya kepada Allah, yang semakin yakin akan kuasa dan kasih Allah, yang berpikir positip dan bersemangat dalam hidup.
Di dalam situasi sulit, kita memohon agar Tuhan membukakan pikiran kita untuk dapat melihat perbuatan Allah dalam hidup kita dan menyanyikan syukur kepada Allah. Tuhan memberkati kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 217:1,2
    1. Meriahlah ukurta mujikenca, Dibata Raja Mbelin si Mulia, peb’linken min gelarNa si Badia, ban Ia ngerajaisa sinasana. Maka bujur nge Dibata man pujin, nai nai nari genduari seh pagin. Ban tandaiNa kita k’rina si suin, sembah Ia me madin.
    2. Dagena mari pujilah Dibata si inget min kerina pemereNa. ‘lah tetap ras megegeh pe tendinta, mehuli me jadi k’rajang jelma. Maka bujur nge Dibata…
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 29 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 328:1,3.
    1. Teruh kayu silangNdu, ku’ndesken geluhku. Lau sumbul kegeluhen, maler kap man bangku. SilangNdu, silangNdu, e kumuliaken. Seh ku surga me pagin, geluhku terkelin.
    2. Teruh kayu silangndu, liasNdu kuinget. Ibas dalin geluhku, kelengNdu tersinget. SilangNdu …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Mazmur 143:4-6
    “ Semangatku lemah lesu dalam diriku, hatiku tertegun dalam tubuhku. Aku teringat kepada hari-hari dahulu kala, aku merenungkan segala pekerjaan-Mu, aku memikirkan perbuatan tangan-Mu. Aku menadahkan tanganku kepada-Mu, jiwaku haus kepada-Mu seperti tanah yang tandus. Sela ”

“ Enggo labuh kal aku, bene kal ukurku. Kupeinget-inget wari-wari si enggo lepas, kuukuri kerina perbahanenNdu, kukusur-kusur i bas pusuhku kai si enggo ilakokenNdu. Kuangkat tanku ertoto aku man baNdu, desken taneh kelegon, muas aku man baNdu.”

Renungan.

Ada saat di mana beban hidup yang begitu berat menekan hidup kita. Kita merasa tidak tahu harus berkata-kata atau mengerjakan apa lagi. Seakan-akan semua pekerjaan yang kita kerjakan tidak membuahkan hasil, sia-sia semuanya. Bahkan hidup semakin sulit saja setiap harinya. Secara fisik, mungkin kita tidak tahu harus berbuat apa lagi, namun demikian, bukan berarti tidak ada yang dapat kita lakukan. Masih ada yang dapat kita lakukan. Kita dapat belajar dari kondisi Pemazmur ini.
Pemazmur menyadari keadaannya benar-benar butuh pertolongan. Pemazmur ngatakenca ‘enggo bene kal ukurku”, semangatku lemah lesu, tertegun, atau tidak dapat berkata-kata lagi. Demikianlah beratnya penderitaan yang dialami Pemazmur. Walaupun dalam situasi yang demikian berat, Pemazmur tetap mempunyai upaya. Ada dua hal yang dilakukan Pemazmur. Pertama, Pemazmur merenungkan segala pekerjaan TUHAN dan memikirkan perbuatan tangan TUHAN. Kedua, Pemazmur mengangkat tangannya berdoa kepada Tuhan.
Memang inilah yang penting kita lakukan ketika beban berat itu telah membuat semangat kita lemah lesu, tidak ada lagi kata-kata yang terucapkan. Kita merenungkan dan mengingat perbuatan-perbuatan Allah yang telah dilakukanNya dalam hidup kita. Bagaimana Allah memelihara hidup kita, melepaskan kita dari berbagai macam kesulitan hidup. Semua hal-hal baik yang dilakukan Allah, tetap perlu kita ingat-ingat. Hal ini akan membangkitkan pengharapan kita, kekuatan kita dan semangat kita. Dalam situasi yang sulit, kita mengingat-ingat hal yang baik agar muncul pengharapan yang baik dan semangat untuk merasakannya kembali. Sebaliknya, bila dalam keadaan sulit, kita terus menerus mengingat hal-hal buruk, justru akan membuat kita semakin takut bahwa kejadian buruk itu benar-benar terjadi dalam hidup kita.
Proses merenungkan dan meningat akan membangkitkan keyakinan kita akan pertolongan Allah. Inilah yang mendasari doa-doa kita. Kita tidak menjadikan doa sebagai alat uji coba. Seakan-akan berkata, berdoa sajalah, mana tahu di dengar Tuhan. Kalau di dengar, ya, puji Tuhan, kalau tidak di dengar, maka tidak ada penyesalan lagi, “jangan-jangan karena aku tidak berdoa”. Kita berdoa karena ada pengharapan dan keyakinan akan pertolongan Allah. Seperti tanah yang tandus merindukan air, demikianlah jiwa kita benar-benar yakin dan berharap akan pertolongan TUHAN. Tetap ada yang dapat kita lakukan. Tuhan melihat dan memberkati kehidupan kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 200:1,2
    1. O Tuhan babai min dalanku bas doni, labuh ras la kesah gegehku. SoraNdu terbegi man bangku nemani. Lalap Kam me kuban temanku.
    2. O Tuhan sampatlah geluhku gundari. Ola Kam erleka bas aku. Kawali geluhku suari ras berngi, lalap Kam me kuban temanku
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 28 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 282:1,2
    1. Ku kataken bujur baNdu, o Kam Tuhan Penebus. Aku enggo s’lamatkenNdu arah lias ateNdu. Keleng kal ateNdu aku, simpar kap ngaruhNdu bangku. Lias ateNdu lanai terpilasi, kupuji tep-tep wari.
    2. Tergejap pasu-pasuNdu ibas kegeluhenku. Rejeki arah dalinku, icurcurkenNdu bangku. …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Markus 4:27
    “ Paksa berngi tunduh ia, suari idahina dahinna. Kidekah si e benih ndai ersuli, turah pe. Tapi kuga carana turah labo ieteh perjuma ndai.”

“Lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu.”

Renungan

Ketika penderitaan datang menerpa kehidupan kita, biasanya pertanyaan pertama yang muncul adalah “mengapa”. Hal ini adalah wajar. Sebagai makhluk yang diberikan akal, pikiran, maka kita mencoba mencari penjelasan mengapa hal itu terjadi dalam hidup kita. Kata mengapa memang perlu agar kita dapat menganalisa dan menemukan apa yang perlu dilakukan kedepannya. Namun demikian, pertanyaan “mengapa” ini juga harus dibarengi pertanyaan “bagaimana”. Pada pertanyaan inilah kita memfokuskan perhatian kita. Bagaimana kita menghadapi kehidupan kita ini ?
Di dalam Markus 4:26-29, Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang benih yang tumbuh. Dengan perumpamaan ini, Tuhan Yesus menjelaskan tentang pertumbuhan dan perkembangan Kerajaan Allah di bumi. Seperti petani yang tidak dapat mengamati bagaimana pertumbuhan benih itu, demikianlah hal Kerajaan Allah terus bertumbuh tanpa dapat kita pahami cara pertumbuhan dan perkembangannya. Itu semua adalah kemahakuasaan Allah.
Namun perumpamaan ini juga dapat kita pakai untuk melihat kebijaksanaan hidup kita.
Kehidupan kita memang memiliki rahasia pertumbuhan dan perkembangannya. Banyak hal yang tidak dapat kita mengerti dan jelaskan. Ada banyak unsur yang ikut berproses dalam kehidupan kita, namun tidak semua proses itu dapat kita kendalikan. Seperti seorang petani, dia mampu menyiapkan lahan, memilih benih, menanam dan merawatnya. Tetapi untuk mendapatkan hasil yang baik, kerja keras petani tersebut juga tergantung pada faktor cuaca, faktor hama, faktor keamanan dan faktor pembeli. Kita sendirian tidak dapat mengendalikan faktor-faktor ini. Demikian juga dalam kehidupan kita. Semakin besar hasil yang kita inginkan, maka biasanya semakin banyak faktor yang terlibat dan berarti semakin banyak faktor yang di luar kendali kita. Hal ini menyadarkan kita akan keterbatasan kita dalam mengendalikan kehidupan kita. Oleh karena itu, kita dengan rendah hati menerima keadaan ini.
Inilah rahasia kehidupan. Seperti tumbuhnya bibit, jikalau diamati terus, justru kita tidak dapat melihat perbedaan pertumbuhannya. Tetapi, ketika ada selang waktu pengamatan, pada saat itulah baru dapat melihat perbedaan pertumbuhannya. Seorang petani, ketika dia selesai menaburkan benihnya, dia meninggalkannya untuk beberapa hari. Hari pertama, hari kedua dan mungkin sampai hari ketiga, tidak terlihat perbedaan di tanah di mana bibit ini ditaburkan. Tetapi petani itu, yakin pastilah ada pertumbuhan bibit itu walaupun dia tidak melihat bagaimana pertumbuhan bibit itu. Setelah beberapa hari kemudian, barulah petani itu dapat melihat perbedaannya. Demikian juga dalam pekerjaan kita, mungkin kita tidak dapat melihat langsung hasilnya dalam kehidupan ini. Tetapi kita yakin, pasti ada pertumbuhan dan perkembangannya dalam kehidupan kita.
Dalam situasi di mana kita tidak mampu mengendalikan semua bagian dalam proses kehidupan kita dan adanya rahasia pertumbuhan dan perkembangan kehidupan ini, yang dapat terus kita lakukan adalah terus bertanggungjawab mengerjakan bagian kita dan meyakini dan berserah kepada Allah. Dalam berkat Allah, kita meyakini tetap ada pertumbuhan dan perkembangan dalam kehidupan kita, walaupun mungkin kita tidak dapat langsung merasakan dan melihat perbedaannya. Setelah mengerjakan pekerjaan kita, kita berserah kepada Allah sehingga kita dapat beristirahat dengan nyaman dan aman. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 307:1,2
    1. O Tuhanku, Kam me permakanku, emaka la kekurangen aku. Ku mbal-mbal m’ratah aku babaNdu, ipesenang senangNdu geluhku. Permakanku sinjayam geluhku. Malem ateku senang tuhu. KelengNdu tetap maler man bangku, Kam me Tuhanku, Permakanku.
    2. IteguNdu kempak lau si maler, ibahanNdu ateku nggo malem. E maka tedeh ate tendingku kempak keg’luhen si sikapkenNdu. Permakanku sinjayam geluhku. Malem ateku senang tuhu. KelengNdu tetap maler man bangku, Kam me Tuhanku, Permakanku.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 27 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 196:1,4.
    1. Pujilah Dibata Bapa, pujilah man AnakNa. Pujilah Kesah Badia, Dibata telu sada. Haleluya, Haleluya ! Dibata telu sada.
    2. Puji alu ukur tutus, bulat dage ukurta. Tuhan si jadi Penebus, k’rina anak Dibata. Haleluya, Haleluya, k’rina anak Dibata.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Mazmur 88:2-3.
    “ Ya TUHAN, Allah yang menyelamatkan aku, siang hari aku berseru-seru, pada waktu malam aku menghadap Engkau. Biarlah doaku datang ke hadapan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepada teriakku;”

Renungan

Kita akan memulai lagi perjalanan hidup kita dalam minggu ini. Kita memulai lagi segala aktivitas kehidupan kita. Bisa jadi yang lebih terbayang dalam diri kita adalah kesulitan-kesulitan hidup ini, ketimbang sukacita kita. Mengingat kerja keras saja sudah membuat kita jenuh, apalagi membayangkan bagaimana kita harus bekerja keras sambil dibayangi kekhawatiran akan protokol kesehatan kita. Hidup semakin terbeban karena di hari liburpun, kita tidak bisa kemana-mana melepas kejenuhan hari-hari kita. Lengkaplah rasanya beban yang harus kita pikul. Bagaimana kita menghadapi situasi ini ?
Dalam bacaan renungan malam ini, diperlihatkan kepada kita tindakan-tindakan Pemazmur. Pemazmur sendiri menyebut tindakannya, yaitu berseru-seru, menghadap dan berteriak. Dan hal itu dilakukannya siang dan malam. Hal ini menunjukkan bahwa pemazmur mengalami penderitaan yang berat. Dalam 4 ayat saja, mulai ayat 4-7, pemazmur menyebutkan 4 kali keadaannya sudah dekat dengan kematian. Demikianlah Pemazmur memang menghadapi penderitaan yang berat. Di dalam keadaan penderitaan ini, kita dapat melihat apa yang ada diri Pemazmur.
Di dalam penderitaannya, Pemazmur tetap memiliki keyakinan. Pemazmur tetap yakin bahwa Allah adalah penyelematnya. Pemazmur tetap yakin bahwa Allah tetap berkuasa atas situasi penderitaan yang dia hadapi. Pemazmur yakin Allah berkuasa untuk melepaskannya dari penderitaan itu.
Di dalam penderitaannya, Pemazmur memiliki “seseorang” sebagai tempat dia mengadukan semua penderitaannya. Dia berseru, menghadap dan berteriak. Seberat apapun penderitaannya, Pemazmur tidak memendam, menanggung sendirian penderitaan itu atau melupakan Allah. Pemazmur tetap datang kepada Allah untuk mengadukan penderitaannya siang dan malam. Artinya, mungkin pertolongan itu belum juga muncul, tetapi hal itu tidak membuat Pemazmur berhenti berseru, menghadap dan berteriak kepada Allah.
Hal ini jugalah yang harus kita miliki dan lakukan dalam menghadapi hari-hari kita di minggu ini. Kita tetap memiliki keyakinan akan kuasa Allah, memiliki tempat mengadukan semua penderitaan kita dan terus menerus berdoa kepada Allah. Perjuangan kita belum berakhir, masih panjang perjalanan yang harus kita tempuh dan banyak hal yang harus kita hadapi. Namun demikian, dengan tetap memiliki keyakinan, tempat mengadu dan berdoa terus menerus, kita dimampukan untuk menghadapi perjalanan hidup kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 331:1,2.
    1. Tegu aku anakNdu, ibas perdalan geluhku. ‘Di paksa aku labuh, ambatilah musuhku. Tegu aku, ibas perdalanenku. Kam me ngenca ku lebuh, cikepNdu tanku nteguh.
    2. Kam bentengku si paguh, gia musuhku ngupuh. Amin mara reh nderpa, la aku bera-bera. Tegu aku,..
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 26 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 399:1,2
    1. Mari surak puji Tuhan endeken nde enden m’riah, o surga doni kerina. Mari rende muji Ia alu ukur si meriah, puji gelarNa si Badia. La ‘ngadi-ngadi ku puji Kam Tuhan, bas k’rina dampar kegeluhen. Ersurak m’riah, pusuhku ibas Kam. Terpuji Tuhan rasa lalap.
    2. Mari k‘rina manusia si puji dage Dibata, rendelah ersuraklah kita k’rina. Ersadalah ukurta e mujiken gelar Dibata, ersurak dage kita k’rian. La ‘ngadi-ngadi …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Mazmur 119 : 107-109.
    “ Mekelek kal kiniseranku, jagai min geluhku sue ras si nggo IpadankenNdu. O TUHAN, aloken pertoton pengataken bujur, jenari ajarkan man bangku AturenNdu. Geluhku tetap i bas kebiaren, tapi la pernah ku lupaken Undang-UndangNdu.”

Renungan.

Puji TUHAN, kita telah tiba di hari Sabtu malam. Telah kita lalui lagi hari-hari kita di minggu ini. Hari-hari yang kita lalui, tidak hanya dipenuhi kerja keras, tapi juga kerja keras diliputi kekhawatiran akan kesehatan tubuh kita, diiringi dengan banyak pertanyaan tentang hidup ini. Ada pekerjaan yang dapat kita selesaikan dengan hasil yang mengembirakan kita, ada hasil lebih diluar dugaan kita, ada harapan kita yang tidak tercapai. Namun dalam situasi itu semua, kita telah melaluinya. Walaupun kita dalam kesulitan hidup, kita tetap dapat melaluinya. Saat ini kita telah tiba di Sabtu malam ini.
Seperti ungkapan Pemazmur dalam bacaan renungan ini, “mekelek kiniseranku, geluhku ibas kebiaren”. Walaupun Pemazmur menjalani hidupnya dalam “kiniseran” dan “kebiaren”, Pemazmur meyakini bahwa TUHAN Allah yang telah menolong hidupnya untuk dapat melalui itu semua. Pemazmur dimampukan TUHAN untuk hidup seturut Firman TUHAN. Oleh karena itu Pemazmur mempersembahkan korban syukurnya melalui nyanyian pujian. Dalam hal ini Pemazmur mempersembahkan hati, pikiran dan tubuhnya melalui nyanyian pujian sebagai korban syukurnya. Tidak hanya mempersembahkan korban syukur, Pemazmur tetap memohon perlindungan TUHAN dan pengajaran Firman TUHAN. Hal ini memperlihatkan bahwa “kiniseran” dan “kebiaren” tidak hilang sama sekali. Bukan berarti tidak ada lagi “kiniseran” dan “kebiaren” di masa depan. Tetapi, sebagaimana TUHAN telah melindunginya di hari – hari yang lalu, Pemazmur yakin dan terus berharap akan perlindungan dan pengajaran Firman TUHAN untuk hari-hari kedepannya. Oleh karena perlindungan dan pengajaran Firman TUHAN-lah maka Pemazmur tetap dapat melakukan kehendak Allah.
Berdasarkan pengalaman Pemazmur ini, di Sabtu malam ini, kita mengingat kembali hari-hari yang telah kita lalui. Kita mengingat bagaimana TUHAN telah menolong kita untuk melalui “kiniseran” dan “kebiaren” hidup kita. Apapun hasil yang kita peroleh sampai hari ini, kita ada seperti hari ini kita adanya, itu karena pertolongan Allah. Oleh karena itu, dengan segenap hati, pikiran kita yang terdalam, kita mengakui anugerah pertolongan Allah dalam hidup kita. Dan melalui tubuh kita, kita naikkan nyanyian syukur kita dengan segenap hati dan segenap jiwa kita. Ini juga merupakan persembahan korban syukur kita. Kita persiapkanlah tubuh, jiwa dan roh kita untuk menaikkan korban syukur kita melalui ibadah minggu kita besok. Dalam doa kita tetaplah memohon perlindungan dan pengajaran Firman TUHAN, sehingga kita tetap dimampukan TUHAN untuk melakukan Firman Tuhan di hari-hari yang akan diberikan Allah bagi kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 202:1,2
    1. Ernalem gelah man Yesus, kula ukur tendingku. Endesken geluhndu baNa, keleng ateNa bandu. Ernalem gelah, tutus min gelah. O Yesus ku bahan aku ernalem gelah.
    2. Kita k’rina bas geluhta, p’raten daging simbak min. Pindo lebe gegeh baNa, maka kita erdahin. Ernalem gelah …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan