Renungan Malam 20 Agustus 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 424:1,2.
    1. Ipuji kami Kam, Dibata si mbelin, alu ende-enden si meriah. Suari ras berngi, kawali min, segelah la celus bas percubaan. Sangap kap kalak, si ‘rnalem baNdu e, daten tuah ras kesenangen pe.
    2. Dibata sajalah tetap si man pujin. Endeskenlah g’luhta man baNa min. Tetap Ia si mperdiateken kita min. KelengNa man banta la erkerin. Sangap kap kalak ….
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata I Korintus 6:11
    “Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu. Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.”

Renungan

Kita hidup dalam perubahan. Seperti dalam gambar ini, ulat berubah menjadi kepompong dan kepompong berubah menjadi kupu-kupu. Demikian juga dalam kehidupan ini, kita selalu menjalani perubahan waktu, perubahan kekuatan, dam sebagainya. Perubahan bisa hanya seperti ganti baju, kulit luarnya saja, statusnya saja, tetapi pola pikir dan tingkah lakumya tidak berubah. Perubahan dapat juga terjadi sampai kedalaman iman, hati, pikiran dan akhirnya perilaku. Salah satu perubahan yang diharapkan dari kita adalah kemampuan kita dalam menghadapi dan menyelesaikan konflik. Perbedaan pendapat, perselisihan, konflik, perseteruan adalah yang sering terjadi dalam kehidupan kita. Bagaimana orang-orang percaya menyelesaikan konflik di antara mereka ?
Dalam I Korintus 6: 1-11, Paulus membicarakan cara jemaat Korintus menyelesaikan konflik yang terjadi di antara mereka. Jemaat Korintus menyelesaikan konflik di antara mereka dengan cara membawa permasalahan itu ke pengadilan umum. Dalam menghadapi situasi ini Paulus mengajak jemaat Korintus untuk merenungkan atau memikirkan ulang tindakan mereka itu. Paulus bertanya sampai 6 kali, “Tidak tahukah kamu”. Paulus membuat pertanyaan retoris ini agar jemaat Korintus berpikir dan menarik kesimpulan sendiri. Seharusnya jemaat Korintus sudah mengetahui jawabannya dan tinggal melaksanakannya. Tetapi itu lah kenyataannya bahwa jemaat Korintus membawa konflik di antara mereka ke pengadilan umum, yang dipimpin oleh orang yang tidak percaya kepada Kristus dan dasar pertimbangannya juga bukan iman Kristen. Oleh karena itu, Paulus mengingatkan kepada jemaat Korintus tentang perubahan yang telah dilakukan Allah dalam hidup mereka. Paulus mengatakan bahwa “kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah”. Dengan peristiwa penyucian, pengkudusan dan pembenaran ini, maka jemaat Korintus telah memulai perubahan sampai kedalaman hidupnya. Dengan mengimani hal ini, maka bukan hanya status orang Korintus saja yang berubah tetapi juga pola pikir dan perilaku mereka. Dengan demikian, seharusnya mereka dapat menyelesaikan konflik di antara mereka tanpa harus membawa konflik itu ke pengadilan yang dipimpin oleh orang yang tidak percaya kepada Kristus. Paulus mendesak jemaat Korintus untuk dapat menyelesaikan konflik di antara mereka oleh orang yang percaya itu sendiri.
Di pengadilan, para hakim akan mendengar, menimbang dan memutuskan. Namanya saja sudah memutuskan, maka hasilnya memang dapat saja memutuskan tali persaudaraan. Di dalam keputusan itu ada yang menang ada yang kalah. Setiap pihak berharap pihaknya yang memenangkan perkara itu. Namun kenyataannya tidak semua pihak yang dimenangkan. Yang menang merasa keputusan itu adil dan yang kalah merasa keputusan itu tidak adil. Maka benar-benarlah hasil pertimbangan itu memutuskan hubungan ke dua belah pihak. Oleh karena itu, sebagai orang telah disucikan, dikuduskan dan dibenarkan Yesus Kristus, maka teladan yang dilakukan Yesus Kritus benar-benar menjadi inspirasi dan motivasi yang mengubah cara pikir dan perilaku kita. Yesus adalah pendamai antara Allah dengan manusia. Dengan adanya pendamaian itu maka hubungan Allah dengan manusia kembali menyatu. Inilah yang ditawarkan iman kita dalam menyelesaikan setiap konflik yang terjadi dalam hidup kita. Perdamaian menyatukan kedua pihak yang berkonflik. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 381:1,2.
    1. Sura-sura Yesus bangku ersinalsal tetap. Nggeluh bujur ras mehuli, si ngena ateNa. Ersinalsal terang em sinisuraken Yesus. Ersinalsal terang, ku tetap ersinalsal.
    2. Sura-sura Yesus Kristus nandangi geluhku. Mpehaga turang senina sisampat-sampaten. Ersinalsal terang …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 18 Agustus 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 164:1,4.
    1. Batu mamak si nteguh, Kam kubunku si paguh. K’rina gia musuhku, la tergejap, man baNdu. Tuhan Yesus ku lebuh, kawaliNdu lah aku.
    2. Yesus kap gelemenku, la erleka ras aku. Kam me pengarapenku, ibas kegeluhenku. Tuhan tetap min gelah, bas Kam aku la pulah.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata I Korintus 10:31 – 33.
    “Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah. Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat.”

Renungan.

Foto ini memperlihatkan dua ekor hewan peliharaan Cynthia Bennett. Si anjing bernama henry dan si kucing bernama ballo. Cynthia mengatakan bahwa kedua hewan peliharaannya ini hidup saling berbagi. Seperti tampak dalam foto ini, mereka tertidur dalam kantung tidur yang sama. Padahal dalam kehidupan biasa, anjing bermusuhan dengan kucing. Dengan adanya sifat permusuhan ini, maka kantung tidur itu dapat saja menjadi milik si henry ini. Tetapi si henry mau berbagi kantung tidur dengan si ballo. Dalam hal ini, kita dapat melihat sisi lain dari kemerdekaan.

Di dalam I Korintus 10:23 – 11: 1, kita diperhadapkan tentang bagaimana kemerdekaan orang Kristen itu dilaksanakan. Kemerdekaan orang Kristen berorientasi membangun iman komunitas Kristen. Kepentingan dan kesejahteraan semua orang menjadi keprihatinan utama orang Kristen. Masing-masing orang Kristen harus dapat mengambil bagian untuk membangun dan memperkuat iman komunitas. Masing-masing orang Kristen tidak dapat mencari kebaikan pribadi sendiri dengan mengorbankan orang lain. Hal ini dijelaskan Paulus dalam hal memakan makanan. Sebagai orang yang percaya kepada Allah, kita mengakui bahwa bumi serta segala isinya adalah milik Tuhan. Apa yang berasal dari tangan Sang Pencipta, di dalam dirinya, selalu baik. Tidak satupun yang najis di dalam dirinya sendiri. Inilah yang menjadi dasar kemerdekaan orang Kristen untuk memakan apa saja. Dalam hal ini termasuk daging yang sudah dipersembahkan kepada berhala. Tetapi permasalahannya adalah ketika dalam melaksanakan kebebasan kita untuk memakan makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala itu, ada orang lain yang memiliki keberatan hati nurani.

Dalam hal ini Paulus memberi penjelasannya. Bila kita tidak memakan makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala, hal itu bukan berarti hati nuraini orang lain membatasi kemerdekaan kita untuk memakan apa saja. Kita tidak hidup dibawah penghakiman orang lain. Kita bebas untuk memakan apa saja yang atas makanan itu kita sudah mengucap syukur. Namun demikian, hati nurani kita melihat hal yang lebih utama, yaitu kemulian Tuhan. Hal inilah yang menggerakkan hati nurani kita untuk bertindak berdasarkan keprihatinan yang penuh kasih terhadap orang lain, kita tidak menjadi batu sandungan atau menyakiti hati nurani saudara kita. Kita memakai kemerdekaan hati nurani kita untuk kepentingan yang lebih utama yaitu “supaya mereka beroleh selamat”.
Demikianlah kita memakai kemerdekaan kita. Kita tidak merasa kebebasan kita terkungkung atau dikekang apabila kita tidak mempergunakan kebebasan itu. Kita melhat ada kepentingan yang lebih utama, lebih besar dalam mempergunakan kemerdekaan kita, yaitu keselamatan orang lain dan kemuliaan Tuhan Allah. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 388:1,3
    1. Tupung tayang aku ninget Kam, gedang berngi kuukuri Kam. Sabab Kam si nampati aku, o Dibata tedeh ‘teku Kam. O Dibata Kam kap Dibatangku, kudahi tedeh ateku Kam. Mesikel aku jumpa ras Kam, desken taneh si enggo kerah. Bage me muasna tendingku, man baNdu Tuhan Dibatangku.
    2. Nteguh cikep tanku o Tuhan, teneng ukurku adi ras Kam. La ‘ku mbiar jumpa percubaan, malem ate ‘di rembak ras Kam. O Dibata Kam kap ….
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 17 Agustus 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 275:1,3.
    1. Kam Tuhan sekawalku, la lit kebiarenku. Amin gulut ukurku, ernalem tetap baNdu. Galumbang si merawa, jadi ibas geluhku. Lalap kau erpengendes, sebab Kam kap bentengku
    2. ‘Di bage nina Tuhan, ula pedekah-dekah, sidahilah gundari, Tuhanta si perkeleng. Ikutkenlah kataNa, ula pekulah-kulah, pengarapen ib’rekenNa, em gegeh bas geluhta.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Kisah Para Rasul 15:16-18
    “ Kemudian Aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan, supaya semua orang lain mencari Tuhan dan segala bangsa yang tidak mengenal Allah, yang Kusebut milik-Ku demikianlah firman Tuhan yang melakukan semuanya ini, yang telah diketahui dari sejak semula.”

Renungan

Foto ini memperlihatkan dua orang yang beradu argumen tentang angka yang mereka tunjuk. Orang yang sebelah kiri mengatakan angka ini adalah angka 6, sedangkan orang yang sebelah kanan mengatakan angka ini adalah angka 9. Angkah berapakah sebenarnya yang ditunjuk oleh kedua orang ini ? Pertanyaan ini dapat saja membuat yang berargumen bukan hanya di dalam foto itu, tetapi berlanjut kepada kita yang mau memperdebatkannya. Demikianlah hidup, ada saja perbedaan pendapat di antara kita. Hal itu karena kita masing-masing memiliki perbedaan dalam hal kepribadian, latar belakang, pengasuhan, nilai yang kita pegang, sudut pandang, harapan dan tujuan yang ingin kita capai. Yang penting bagi kita adalah bagaimana kita menerima kenyataan ini dan menghadapinya. Inilah yang kita lihat dalam kehidupan jemaat pertama.

Kisah Rasul-Rasul 15 ini menceritakan perbedaan pendapat antara orang Kristen keturunan Yahudi dan orang Kristen bukan keturunan Yahudi. Mereka memperdebatkan tentang apakah orang Kristen yang bukan Yahudi harus di sunat ketika mereka menjadi Kristen ? Orang Kristen Yahudi mengatakan, “Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan.”(Kisah 15:1) “Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu.” (Kisah15:2). Oleh karena itu dibawalah permasalahan ini ke Sidang di Yerusalem. Setelah lama beradu argumen akhirnya, Jakup memberikan jawabannya dengan mengungkapkan makna pembangunan kembali Rumah Tuhan. Rumah Tuhan dibangun agar orang semua orang dapat mencari Tuhan, segala bangsa yang telah dipanggil Tuhan menjadi milik Tuhan. Kita dapat mengatakan bahwa Jakup memahami jika Allah-lah yang memanggil semua bangsa untuk menjadi milikNya. Lalu mengapa kita menimbulkan kesulitan kepada orang yang bukan Yahudi untuk datang kepada Allah ? Dari hal ini, yang terutama adalah berbalik kepada Tuhan atau erpengendes man Dibata. Oleh karena itu Jakup menyarankan agar jangan menambah kesulitan orang bukan Yahudi dengan aturan sunat. Demikianlah perbedaan pendapat itu diselesaikan di dalam Sidang di Yerusalem itu.

Dari situasi ini kita dapat memahami bahwa kita hidup dalam banyak perbedaan. Kita harus mampu memahami, menghargai dan menghormati perbedaan itu. Masing-masing kita memiliki sudut pandang yang berbeda, apa yang kita anggap sebagai nilai kebenaran utama. Di dalam kehidupan bersama, kita memang harus memiliki nilai kebenaran yang tertinggi untuk menuntun, mengarahkan dan melindungi kita dari hal-hal yang membinggungkan kita dalam menimbang dan memutuskan segala sesuatu. Namun apa yang kita anggap benar, janganlah kita paksakan untuk dianut dan ikuti orang lain. Kita jangan menambah beban orang lain dengan mengharuskan orang lain melakukan apa yang kita lakukan. Inilah sisi lain dari kemerdekaan yang telah diberikan kepada kita, namun juga harus tetap kita pelihara, jaga dan perjuangkan dalam kehidupan kita setiap harinya. Dalam hidup bersama, kita tidak goyah dengan kebenaran yang kita miliki, tetapi kita juga tidak memaksakan kehendak kita kepada orang lain. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 238:1,2.
    1. Ibas ndalani perdalanen nggeluh, kiniseran pe reh megati ngupuh. Si cengkal ukur ras si mambur iluh. BereNdu teneng gelah banci tunduh. Kesah ras daging rikut pe ras tendi. Kempak Dibata k’rina ‘ndesken kami. Emaka Kam lah tetap si ngkawali, ‘lah daging bugis bas medak pe pagi.
    2. Segedang wari kami enggo labuh, paksana medem enggo me kap she. IkawaliNdu min sangana tunduh, ‘lah suang gegeh adi baNdu badeh. Kesah ras daging …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 16 Agustus 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 344:1,3.
    1. Kam o Yesus Jurus’lamat, sampat kami genduari. Pulah ibas dosa nari, si naban kami e. tergejap latihna, nggeluh ibas dosa. Lanai kami ngasup ‘rdalan ibas gelap. Ku Kam Jurus’lamat, kupindo penampat, gelah kami pulah ibas dalin mberat.
    2. Kam o Yesus si perkeleng, cidahken min kek’lengenNdu. Bahan pusuh kami teneng ‘di gulut ukurku. Tergejap latihna …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Roma 6:12 – 13.
    “ E maka olanai pelepas dosa ngerajai kulandu si la banci lang mate e, gelah ola iikutkenndu kinirincuhenna. Bage pe ola pelepas ringringndu ipake dosa guna ndalanken si jahat. Tapi endeskenlah dirindu man Dibata, bagi kalak si ipekeke i bas si mate nari”.

Renungan

Kita dapat mengatakan makna pengibaran bendera merah putih di pagi hari di atas puncak bukit ini sebagai tetap adanya harapan baru bagi bangsa Indonesia untuk hidup lebih baik lagi. Sebagai rakyat Indonesia, bersama-sama dengan masyarakat dunia ini, kita sedang menghadapi tantangan berat akibat pandemi covid-19. Dampak pandemi ini telah menimbulkan permasalahan kesehatan, permasalahan ekonomi dan permasalahan kehidupan sosial. Sebagai akibatnya kita mengalami tekanan hidup yang semakin berat. Dalam situasi tekanan yang semakin berat ini, “perangkap dosa” juga semakin banyak tersebar. Oleh karena itu kita membutuhkan ketetapan hati, ketenangan, kesabaran, ketekunan dan pengharapan yang kuat agar terhindar dari “perangkap dosa”. Ini semua telah diberikan Allah kepada kita.

Dalam Roma 6 ini Paulus menjelaskan bahwa dalam Baptisan Kudus kita telah merdeka. “Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Roma 6:3-4 ) Walaupun kita telah dibebaskan dan hidup dalam hidup baru, tetapi dosa masih memiliki daya tariknya. Dengan tipu muslihatnya, dosa dapat saja berkuasa kembali, seperti seorang raja, mengendalikan kehidupan kita. Dosa dapat saja kembali memperalat anggota tubuh kita untuk melakukan yang jahat. Hati, pikiran, mulut, tangan, kaki bahkan kemampuan dan ketrampilan manusia dapat saja dipakai dosa untuk merusak kehidupan kita. Oleh karena itu, Paulus mengingatkan orang yang telah bebas itu untuk terus menerus berjuang melawan daya tarik dosa itu. Kita harus menyerahkan hidup kita dalam pimpinan Tuhan. Tuhan-lah yang mengendalikan, menuntun dan membimbing hati, pikiran dan perbuatan kita. Kita menyerahkan anggota-anggota tubuh kita untuk dipakai Allah menjadi senjata kebenaran. Benar, Allah telah membebaskan kita dari kuasa dosa, namun demikian, kita juga harus terus menerus berjuang melawan daya tarik dosa itu.

Allah telah memberikan kemerdakaan kepada bangsa Indonesia. Namun demikian hal itu bukan berarti kita bebas dari permasalahan hidup. Kita harus terus menerus berjuang menghadapi permasalahan-permasalahan yang ada. Permasalahan-permasalahan itu janganlah membuat kita terjebak dalam daya tarik dosa. Dalam menghadapi permasalahan itu, kita harus tetap memberikan hidup kita atau anggota-anggota tubuh kita, dikendalikan, dituntun dan dibimbing Allah. Seperti berkibarnya bendera merah putih di pagi hari di puncak bukit, demikian juga kita tetap memiliki pengharapan dalam perjuangan kita. Sekarang kita berjuang dalam persekutuan kita dengan Tuhan Yesus Kristus. Kita telah dipersekutukan dengan kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Inilah yang membuat kita memiliki ketetapan hati, ketenangan, kesabaran, ketekunan dan pengharapan yang kuat. Kita jalani kemerdekaan bangsa kita dengan ketetapan hati, ketenangan, kesabaran, ketekunan dan pengharapan yang kuat. Dalam situasi permasalahan hidup sekalipun, kita tetap mampu menyerahkan anggota-anggota tubuh kita dipakai Allah sebagai senjata kebenaran. Amin. Selamat Ulang Tahun Negaraku INDONESIA .

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 460:1,2
    1. Malem kal ateku tuhu jumpa ras Tuhanku. Nggo p’limbaruina pusuhku lanai aku labuh. Ku kataken bujur baNdu si ‘ngkilini geluhku. Terpuji Kam bas geluhku. Nginget perkuahNdu.
    2. Kubegi kataNdu Tuhan nerangi geluhku. KesahNdu e simpepanken bas pusuhku ringan. Ateku min kupakeken ibas kegeluhen. Je aku dat keriahen ndauh kebiaren.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 15 Agustus 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 330:1,2.
    1. Tuhan, Kam me si permakan, kami biri-biriNdu. Kami tetap kap ngejapken b’linna keleng ateNdu. Tuhan Jesus Juru Selamat, kami sik’rajangenNdu. Tuhan Jesus Juru Selamat, kami si k’rajangenNdu.
    2. Kam pengawal si setia, Kam sekawal geluhku. Kam pedauhkne k’rina dosa, ndilo kalak si lalar. Tuhan Jesus Juru Selamat, ngendes kami man baNdu. Tuhan Jesus Juru Selamat, ngendes kami man baNdu.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Ulangan 32:7
    “Ingatlah kepada zaman dahulu kala, perhatikanlah tahun-tahun keturunan yang lalu, tanyakanlah kepada ayahmu, maka ia memberitahukannya kepadamu, kepada para tua-tuamu, maka mereka mengatakannya kepadamu.”

Renungan

Dari foto ini kita dapat melihat cara atau kebiasaan berpakaian para orang tua kalak Karo pada masa lalu. Tentunya cara berpakaian mereka sudah berbeda dengan cara berpakaian kita saat ini. Setiap generasi tentunya memiliki sejarahnya masing-masing sehingga masing-masing generasi menampilkan cara atau kebiasan berpakaian mereka. Mungkin generasi yang terkemudian mengganggap aneh atau tidak cocok lagi cara berpakaian generasi sebelumnya. Mungkin bukan hanya dari segi berpakaian saja, tetapi dalam banyak hal bisa saja generasi yang kemudian mengganggap generasi sebelumnya tidak lagi mempunyai arti. Misalnya dalam cara berpikir, kebutuhan hidup, kesenangan dan sebagainya. Namun, benarkah demikian ?
Bacaan Firman Tuhan yang menjadi renungan kita malam ini memperlihatkan arti kehidupan para orang tua. Pada jaman Musa itu, di tengah-tengah kehidupan angkatan muda, terdapat cara kehidupan yang tidak setia kepada Allah. Dikatakan dalam Ulangan 32:5, “Berlaku busuk terhadap Dia, mereka yang bukan lagi anak-anak-Nya, yang merupakan noda, suatu angkatan yang bengkok dan belat-belit.” Oleh karena cara hidup yang tidak setia ini, angkatan ini disuruh untuk belajar kepada angkatan orang tuanya. Dengan kata lain, Musa melihat dalam kehidupan angkatan orang tua ada pengalaman iman. Para angkatan orang tua ini telah menyaksikan perbuatan Allah. Mereka memiliki pengalaman dan kesaksian tentang pemeliharaan Allah. Oleh karena itu, Musa meminta orang muda untuk bertanya kepada orang tua mereka dan mendengarkan kesaksian orang tua mereka. Bagaimana orang tua mereka telah melihat kasih Allah dalam kehidupan mereka. Dikatakan dalam Ulangan 32:8-10, “Ketika Sang Mahatinggi membagi-bagikan milik pusaka kepada bangsa-bangsa, ketika Ia memisah-misah anak-anak manusia, maka Ia menetapkan wilayah bangsa-bangsa menurut bilangan anak-anak Israel. Tetapi bagian TUHAN ialah umat-Nya, Yakub ialah milik yang ditetapkan bagi-Nya. Didapati-Nya dia di suatu negeri, di padang gurun, di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya.” Demikianlah kasih Allah yang telah dinyatakanNya kepada orang tua mereka. Orang muda tetap perlu meminta kesaksian dari orang tua dan orang tua harus terus menerus memperdengarkan kesaksian tentang pemeliharaan Allah agar angkatan muda setia kepada Allah.
Hari ini, 15 Agustus, kita warga GBKP merayakan hari ulang tahun Zaitun ke 29. Dalam peringatan ulang tahun Zaitun, kita kembali diingatkan bahwa orang tua kita tetap memiliki hal yang berharga dan penting bagi kita angkatan muda. Walaupun dalam hal fashion atau kesenangan hidup, orang tua kita berbeda dengan kita angkatan muda. Oleh karena itu kita tetap belajar dari pengalaman iman orang tua kita agar kita tetap setia kepada Allah dalam situasi hidup kita saat ini. Selamat Ulang Tahun Zaitun. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 296:1,2.
    1. Man baNdu Jesus Tuhanku, kuendesken geluhku. Nggeluh sikeleng-kelengen nggit si sampat-sampaten. Erbuah kata ni suan bas kita anak Tuhan. Erbuah kata ni suan, bas kita anak Tuhan.
    2. Nggeluh sitatang-tatangen, kita radu megegeh. Nggit kita ngalemi salah pusuh dame meriah. Erbuah kata ni suan. ..
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 14 Agustus 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 271:2,3
    1. Gelah talu gelap kemusilen, cidahkenlah terang keadilen. Rehlah min kinirajanNdu. I bas lawit i deleng i juma, i dalan, i tiga, ras i kota. Rehlah min kinirajanNdu. Reh lah min. Reh lah min. Reh lah min kinirajanNdu.
    2. Bas pusuh, kata ras perbahanen, kekelengen ras pe kebenaren. Reh la min kinirajanNdu. Kam me kapen si mada si nasa, i bas Kristus bangsaNdu ersembah. Reh lah min kinirajanNdu. Reh lah. Reh lah min. Reh lah min kinirajanNdu.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Mazmur 90 : 16 – 17
    “ Biarlah kelihatan kepada hamba-hamba-Mu perbuatan-Mu, dan semarak-Mu kepada anak-anak mereka. Kiranya kemurahan Tuhan, Allah kami, atas kami, dan teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya, perbuatan tangan kami, teguhkanlah itu.”

Renungan

Banyak yang kita butuhkan dalam hidup ini. Salah satunya adalah kebutuhan air bersih. Namun untuk mendapatkan air bersih itu sangat sulit. Bahkan, bagi sebagian orang, untuk mendapatkan air saja pun sudah cukup sulit. Foto ini menggambarkan penderitaan manusia yang mencari air di bekas galian tanah. Ini hanya sebagian gambaran dari kenyataan hidup manusia. Bagaimana kita menghadapi kenyataan hidup ini ?
Mazmur 90 ini merupakan jawaban kita atas kenyataan hidup manusia. Dalam Mazmur 90 ini digambarkan dua kenyataan hidup yang dihadapi manusia. Pertama, manusia diperhadapkan dengan kenyataan hidup bahwa manusia hidup dalam keterbatasan waktu. Manusia tidak hidup selama-lamanya. Manusia berasal dari debu dan kembali ke debu. “Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: “Kembalilah, hai anak-anak manusia!” (Maz. 90:3) Ada batas waktu hidup manusia. Kedua, manusia tidak hanya menjalani hidup dalam keterbatasan waktu, tetapi manusia juga mengalami penderitaan akibat murka Allah atas dosa-dosa yang dilakukan manusia. “Engkau menaruh kesalahan kami di hadapan-Mu, dan dosa kami yang tersembunyi dalam cahaya wajah-Mu. Sungguh, segala hari kami berlalu karena gemas-Mu, kami menghabiskan tahun-tahun kami seperti keluh.” (Maz. 90:8-9).
Sadar akan situasi ini yang dihadapi manusia ini, pemamzur menyatakan permohonannya kepada Allah. Pada ayat 12 dikatakan, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Ada orang yang memaknai kenyataan ini dengan hidup berfoya-foya, tanpa aturan hidup, dan hidup sesuka hatinya. Dari permohonan pemazmur ini kita dapat belajar untuk memakai kesempatan yang ada dengan baik dan benar. Bagi kita, kenyataan ini justru membuat kita mensyukuri dan menghargai setiap waktu yang masih diberikan Tuhan kepada kita. Kita memakai setiap kesempatan yang ada dengan bijaksana.
Pemazmur juga memohon agar Allah memberikan sukacita kepada mereka. Pemazmur meyakini bahwa Tuhan-lah yang sanggup mengembalikan dan mengenyangkan mereka dengan sukacita. Oleh karena itu pemamzur agar Tuhan memberikan sukacita bagi mereka. “Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami.” (Maz. 90:14) Di tengah-tengah kenyataan hidup ini, Pemazmur meyakini bahwa mereka masih dapat bersukacita dan bersorak-sorai karena kuasa dan kekuatan Tuhan Allah memungkin semua itu terjadi. Kasih setia Allah itu tampak dalam perbuatan tangan Allah yang memberkati perbuatan tangan manusia. Pemamzur meyakini bahwa dengan kemurahan dan kasih setia Allah-lah maka pekerjaan manusa dapat berhasil dan bertahan. Inilah yang membuat mereka bersukacita bahkan anak cucu mereka juga merasakan semarak kasih setia Tuhan.
Kita hadapi kenyataan hidup kita dengan memohon kepada Allah untuk mengajari kita memakai waktu dan kesempatan hidup dengan bijaksana. Kita juga memohon agar Allah memberkati perbuatan tangan kita. Inilah yang dapat membuat kita bersukacita bahkan anak cucu kita juga merasakan semarak kemahakuasaan dan kemuliaan Allah. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 379:1,2.
    1. Tuhan tetap nemani geluhku, dingen mereken dalam man bangku. Ernalem gelah tetap ras ertoto man baNa. Tuhan tetap nemani geluhku.
    2. Tuhan tetap nemani geluhku. Dingen mereken dalan man bangku. Tedeh ate tendingku ngidah kemulianNdu. Tuhan tetap nemani geluhku.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 13 Agustus 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 368:1,2.
    1. Si puji Tuhan Dibatanta, kataken bujur baNa, sabab Ia si merekenca pasu-pasu man banta. Mbelin ras mulia kekelengen Tuhan ibas doni enda. Ajari o Tuhan kami anakNdu naksikan kerina perbahanenNdu.
    2. Geluh kami meriah tuhu, k’rina si k’rajangenNdu. Sabab kalak si nembah baNdu, datken pasu-pasuNdu. Mbelin ras mulia…
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Mazmur 117:1-2.
    “ Pujilah TUHAN, hai segala bangsa, megahkanlah Dia, hai segala suku bangsa! Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. Haleluya!”

Renungan

Dalam kesulitan yang kita alami, kita tetap merasakan kasih Allah menuntun kehidupan kita. Allah tidak membiarkan kita larut dalam kesulitan hidup ini. Allah tetap memberi kemampuan bagi kita untuk bertahan, menemukan jalan keluar dan mengatasi persoalan hidup kita. Kasih Allah ini bukan hanya untuk keselamatan pribadi kita, tetapi ada maksud Allah terhadap dunia ini. Apa makna kasih yang kita terima ?
Kitab Mazmur 117 ini merupakan undangan bagi segala bangsa untuk memuji Allah. Mengapa segala bangsa diundang memuji Allah ? Bangsa Israel mengakui bahwa Allah-lah yang meciptakan dunia dan memelihara kehidupan dunia ini. Kekuasaan Tuhan Allah meliputi seluruh dunia ini. Tuhan berkuasa mengasihi dan menghakimi dunia ini. Salah satu contohnya adalah berita yang tertulis dalam Kitab Yesaya. Di dalam Yesaya 9:8-21, dituliskan tentang penghukuman Allah terhadap bangsaNya, Israel. Allah menghukum bangsaNya dengan membangkitkan Raja Asyur (Yesaya 10:5-19). Namun demikian, pada waktunya, Allah juga akan menghukum Raja Asyur (Yesaya 10:24-27). Berita ini menunjukkan kekuasaan Allah untuk menghukum atau membebaskan bangsa-bangsa di dunia. Terkhusus, bangsa Israel memahami penghukuman dan pembebasan yang dilakukan Allah terhadap bangsa Israel melebihi kewajiban perjanjian Allah. Semenjak keluar dari tanah perbudakan Mesir, bangsa Israel berulang kali jatuh ke dalam dosa, namun Allah terus menerus mengasihi bangsa Israel. Inilah yang diagungkan bangsa Israel dengan mengatakan “Sebab TUHAN itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya, dan kesetiaan-Nya tetap turun-temurun.” (Mazmur 100:5) Kasih setia Allah tetap dirasakan turun temurun oleh bangsa Israel walaupun mereka seringkali melanggar perjanjian dengan Allah. Pengalaman kasih setia Allah yang turun temurun inilah yang menggerakkan hati bangsa Israel untuk mengundang segala bangsa untuk memuji Tuhan Allah. Bangsa Israel meyakini bahwa kasih Allah juga diberikan kepada segala bangsa. Kasih setia Allah yang tetap terhadap bangsa Israel merupakan bukti dan alat untuk menunjukkan kasih Allah terhadap dunia ini, terhadap segala bangsa. Kasih yang dialami bangsa Israel menjadi jalan untuk menyatakan kemulianNya atas bumi ini.
Demikian juga dalam kehidupan kita saat ini, kasih Allah yang kita rasakan merupakan pendorong bagi kita untuk menyatakan kemulianNya. Inilah yang kita pahami sebagai rancangan Allah dengan memberikan kasihNya bagi kita. Kasih Allah yang kita rasakan merupakan panggilan atau tanggung jawab untuk menyaksikannya bagi kehidupan di sekitar kita. Seperti gambar di atas. Keselamatan yang telah kita terima di dalam Yesus Kristus, mendorong atau memotivasi segala suku bangsa untuk datang memuliakan Allah. Kasih yang kita rasakan menjadi sukacita bagi kita dan menjadi motivasi untuk menyatakan bagi dunia ini. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 295:1,2.
    1. Meriah kal ukurku m’ritaken gelarNa. Berita kerna Yesus ras keleng ateNa. Meriah kal ukurku nuriken si benar. Peturah kiniteken ukurku tergintar. Pembarkenlah kataNa, kempak kerina jelma. Kerna Yesus Tuhanta ras keleng ateNa.
    2. Meriah kal ukurku m’ritaken gelarNa. Ergan kuasa gelarNa asang doni enda. meriah kal ukurku nuriken man bandu. Enda b’rita si mbelin si ‘rbanca terkelin. Pembarkenlah …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 12 Agustus 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 202:1,2
    1. Ernalem gelah man Yesus, kula ukur tendingku. Endesken geluhndu baNa, keleng ateNa bandu. Ernalem gelah, tutus min gelah. O Yesus ku bahan aku ernalem gelah.
    2. Kita k’rina bas geluhta, p’raten daging simbak min. Pindo lebe gegeh baNa, maka kita erdahin. Ernalem gelah …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata
    Diperintahkannyalah kepada yang paling di muka: “Apabila Esau, kakakku, bertemu dengan engkau dan bertanya kepadamu: Siapakah tuanmu? dan ke manakah engkau pergi? dan milik siapakah ternak yang di depanmu itu? jawablah: milik hambamu Yakub; inilah persembahan yang dikirim kepada tuanku Esau, dan Yakub sendiripun ada di belakang kami.” Begitulah diperintahkannya baik kepada yang kedua maupun kepada yang ketiga dan kepada sekalian orang yang berjalan menggiring kumpulan hewan itu, katanya: “Seperti perkataanku tadilah kamu katakan kepada Esau, apabila kamu berjumpa dengan dia; dan kamu harus mengatakan juga: Hambamu Yakub sendiri ada di belakang kami.” Sebab pikir Yakub: “Baiklah aku mendamaikan hatinya dengan persembahan yang diantarkan lebih dahulu, kemudian barulah aku akan melihat mukanya; mungkin ia akan menerima aku dengan baik.”

Renungan

Hidup membutuhkan strategi. Seperti permainan sepak bola, setiap pelatih akan menganalisa kemampuan yang dimiliki oleh timnya, mengukur kemampuan lawan dan menyusun strategi dalam menghadapi lawan. Demikian juga dalam kehidupan kita. Kita tidak hanya mampu memahami kemampuan yang kita miliki atau tantangan yang harus kita hadapi, tetapi kita juga membutuhkan strategi. Kita harus memiliki strategi agar kita dapat memaksimalkan kemampuan yang kita miliki untuk menyelesaikan tantangan yang kita hadapi.

Inilah yang dilakukan Jakup dalam menghadapi perjalanan hidupnya. Dalam Kejadian 31:1-2, dikatakan, “Kedengaranlah kepada Yakub anak-anak Laban berkata demikian: “Yakub telah mengambil segala harta milik ayah kita dan dari harta itulah ia membangun segala kekayaannya.” Lagi kelihatan kepada Yakub dari muka Laban, bahwa Laban tidak lagi seperti yang sudah-sudah kepadanya. Lalu berdasarkan petunjuk Allah, maka Jakup meninggalkan Laban dengan membawa istrinya, anak-anaknya dan semua harta miliknya yang diperolehnya selama bekerja pada Laban. Jakup kembali negeri nenek moyangnya dan kepada kaumnya (Kejadian 31:3). Di tengah perjalanannya, Laban mengejar Jakup dan menemukan Jakup di pegunungan Gilead. Setelah berdamai dengan Laban, Jakup harus menghadapi pertemuannya dengan Esau, kakak kandungnya tang telah ditipunya. Untuk itu Jakup menyusun strategi. Jakup mengirim utusan kepada Esau agar Jakup mendapat belas kasihan Esau. Tetapi para utusan itu membawa berita bahwa Esau juga sedang berjalan menemui Jakup dengan diiringi 400 orang. “ Lalu sangat takutlah Yakub dan merasa sesak hati; maka dibaginyalah orang-orangnya yang bersama-sama dengan dia, kambing dombanya, lembu sapi dan untanya menjadi dua pasukan. Sebab pikirnya: “Jika Esau datang menyerang pasukan yang satu, sehingga terpukul kalah, maka pasukan yang tinggal akan terluput.” (Kej. 32:7-8) Jakup membagi hambanya dan harta miliknya menjadi tiga kelompok. Dan Jakup berharap agar masing-masing kelompok dapat menjadi persembahan yang dapat menenangkan hati kakaknya Esau.
Namun demikian apa yang diperkirakan Jakup jauh dari kenyataan yang terjadi. Ketika Jakup dan Esau bertemu, maka yang terjadi adalah, “Dan ia sendiri berjalan di depan mereka dan ia sujud sampai ke tanah tujuh kali, hingga ia sampai ke dekat kakaknya itu. Tetapi Esau berlari mendapatkan dia, didekapnya dia, dipeluk lehernya dan diciumnya dia, lalu bertangis-tangisanlah mereka. (Kej. 33:3-4 )
Kita memang membutuhkan strategi dalam menghadapi kehidupan kita. Kita harus mampu mengenali kemampuan kita dan dan memahami persoalan yang kita hadapi. Tetapi hal itu tidaklah menjadi ketakutan apabila hasil analisa kita mengatakan bahwa kita tidak akan mampu menghadapi tantangan. Atau sebaliknya kita merasa jumawa, karena kita merasa kemampuan kita berada di atas tantangan yang kita hadapi. Masih ada faktor yang lain, yang sangat menentukan perjuangan kehidupan kita. Faktor itu adalah faktor kuasa dan kasih Allah. Allah-lah yang berkuasa untuk menentukkan yang terbaik dalam kehidupan kita. Sebaik apapun strategi hidup kita, tetaplah berserah kepada kehendak Allah. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 179:1,2.
    1. ‘Di nggo reh ben wari, pekesahken ka. Bage tetap wari, puji Dibata.
    2. Tuhan sikawalta, ibas berngi e. endesken man baNa, kula tendi pe.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan