Renungan Malam 27 Juli 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 221:1
    1. Pesikaplah ukurta, adi ndahi Dibata. Ukur si serbut, si lit bas kita endeskenlah man baNa. Ban Ia si mereken pengadin, makana kita dorek min terkelin, ‘di Yesus lah si bahan man temannta e tentu malem kal ateta.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Yesaya 49 : 4,6.
    “ Tapi ningku, “Enggo latih kuakap erdahin, tapi sia-sia kerina; enggo kupekeri gegehku tapi la lit bekasna.” Amin bage gia tek aku maka ibela TUHAN nge perkarangku, iberekenNa nge upahku i bas kerina kelatihenku. Nina TUHAN man bangku, “O suruh-suruhenKu, lit denga dahin siterbeliden bandu; la terjeng iulihken kam Israel si tading denga, ras ngulihken kehagan man bana, tapi Kubahan ka pe kam jadi terang man bangsa-bangsa, gelah keselamaten seh man bangsa doni kerina.”
    Renungen
    Ibas awal tahun, pemimpin bangsanta enggo erbahan target pertumbuhan ekonominta plus 5 %. Pemerintahta pe enggo erbahan tindakan gelah tercapai target enda. Tapi genduari, rikutken peridiksi IMF, pertumbuhen ekonominta minus 0,3%. Enda jadi erkiteken faktor bencana non alam si terjadi i belang-belang doni enda.
    Ibas dampar kegeluhen pribadinta pe banci jadi kai si rencanaken kita la bage hasilna. Ninta ibas ukurta, “aku enggo kupekeri kal ukur, gegeh, ras kebeluhenku guna ndahikenca, tapi kinatana la ku dat ulihna bagi si kurencanaken.” Kinata si bagenda banci jadi erbahanca bene semangatta guna berjuang mulihi. Kuga kita ngukuri keadaan sibagenda rupa ?
    Enda ka me sinisehken ibas renungennta ibas berngi sendah. Dibata enggo milih persuruhenNa guna negu bangsaNa mulih ibas ingan si marpar merap nari. Asa gegeh kengasupen persuruhen e enggo idahikenna dahin e. Tetapi kenyataannya, hamba Allah itu tidak membawa hasil. Mungkin kita membayangkan betapa pahitnya kegagalan dan besarnya tekanan batin yang dialami hamba itu. Namun demikian, justru yang dikatakan hamba Allah itu adalah keyakinannya akan berkat Allah. Hamba Allah itu tetap yakin bahwa Tuhan akan memberi hasil pekerjaannya. Selanjutnta, kita juga membaca bahwa Allah memberi tanggung jawab yang lebih besar kepada hambaNya itu. Allah meluaskan tangung jawab hamba itu dari membawa bangsaNya pulang menjadi terang bagi bangsa-bangsa, sehingga keselamatan tidak hanya milik bangsaNya tetapi juga milik segenap bangsa dunia ini.
    Dari pemahaman bacaan renungan ini kita melihat kebijaksanaan Allah. Allah tidak hanya melihat hasil pekerjaan kita. Allah memperhitungkan kesungguhan dan ketekunan perjuangan hidup kita, terlebih lagi apabila keyakinan kita akan berkat Allah tidak hilang, walaupun kita sendiri tidak melihat hasil pekerjaan kita pada saat itu. Kita percaya Allah tetap mempercayakan kita untuk meneruskan dan mengembangkan pekerjaan kita.
    Di dalam kehidupan kita, ada berbagai macam faktor yang menentukan keberhasilan kita. Misalnya faktor semangat, ketekunan, kesungguhan kita dalam bekerja, juga faktor lingkungan dan faktor orang lain. Ketika kita sudah bersungguh-sungguh dalam mengupayakan pekerjaan kita, namun toh kita belum berhasil, hal itu janganlah melemahkan semangat kita. Akan menjadi kepahitan dan tekanan batin yang berat ketika ketidakberhasilan itu justru karena faktor diri kita sendiri. Hal ini akan menimbulkan penyesalan dalam diri kita. Sebaliknya, kita melihat kebaikan Allah bagi mereka yang tetap yakin akan berkat Allah bagi mereka yang terus bersemangat dalam menjalani kehidupannya walaupun pada saat itu hasilnya juga belum kelihatan. Allah memberi tangung jawab lebih bagi mereka.
  4. Ertoto kenca renungen
  5. Rende KEE GBKP No. 299:1,3.
    1. Ngikut Tuhan kin atendu persan silang. Ola sangsi ola mbiar ikutkenlah. Persan saja min silangndu ikut terus. Mulia kal me upahndu tetap tutus.
    2. Kune susah tah mesera, megenggenglah. Tuhan Yesus usihenta, ikut gelah. Persan saja ..
  6. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 26 Juli 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 329:1,3.
    1. Tuhan Yesus penampatku, Ia penalemenku. Kuikutken me dalanNdu, Kam me kegeluhenku. Tenang tetap tendingku, paguh kinitekenku. Lanai lit kebiarenku. Tan Tuhan ku me negu.
    2. Tuhan Yesus penampatku, nimbak p’raten dagingku. Suari berngi Kam kulebuh, pengarapenku nteguh. Teneng tetap tendingku …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Amsal 14 : 26 – 27.
    Dalam takut akan TUHAN ada ketenteraman yang besar, bahkan ada perlindungan bagi anak-anak-Nya. Takut akan TUHAN adalah sumber kehidupan sehingga orang terhindar dari jerat maut.

Renungen
Salah satu yang kita upayakan dalam hidup ini adalah ketentraman. Kita mendambakan keadaan hidup yang aman, tidak ada kekacauan, tenang hati dan pikiran. Dan untuk mendapatkannya, kita seringkali mengandalkan fisik (kekuatan, kecantikan, kesehatan), keberadaan (kiniliten), ketrampilan dan sanak saudara kita. Hal ini memang membantu kita untuk memperjuangkan kebutuhan dan keinginan kita. Tetapi bagi penulis Amsal ini, ketentraman hidup ada dalam takut akan TUHAN.
Takut akan TUHAN adalah sebuah karakter moral, suatu cara menjalani kehidupan sehari-hari. Takut akan TUHAN bukan sekedar perasaan tetapi juga adalah tindakan. Dikatakan dalam Amsal 8:13, “Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat.” Khususnya dalam Amsal 14 ini, takut akan TUHAN berarti sikap, kata-kata dan perilaku yang jujur dalam kehidupan setiap hari. Penulis Amsal 14 meyakini bahwa dalam sikap, kata-kata dan perilaku yang jujur terdapat ketenangan hati dan pikiran, keamanan, dan kedamaian hidup. Mengapa penulis mengatakan dalam takut akan TUHAN ada ketenteraman besar ?
Penulis Amsal percaya bahwa TUHAN itu baik. TUHAN melindungi seperti seorang bapa yang melindungi anak-anaknya.
Orang yang takut akan TUHAN menjauhi kejahatan. Dengan kasih dan kesetiaan, kesalahan diampuni, karena takut akan TUHAN orang menjauhi kejahatan. (Amsal 16:6). Dengan demikian mereka merasa aman, tidak memiliki ancaman dan ketakutan terhadap pembalasan orang lain.
Orang yang takut akan TUHAN hidup dalam kebenaran dan kebaikan. Kebenaran dan kebaikan merupakan dasar pembangunan relasi usaha yang baik. Dengan adanya relasi usaha yang baik maka tercapai kesejahteraan. Kebenaran dan kebaikan merupakan kebutuhan untuk mencapai kesejateraan bersama. Dikatakan dalam Amsal 22:4, “Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan.” Benarlah dikatakan “takut akan TUHAN adalah sumber kehidupan.”
Tuhan senang dengan mereka yang takut akan TUHAN. Dikatakan dalam Mazmur 147:11, “TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya.”
Kita tetap menjalani aktivitas kita dengan takut akan TUHAN. Kita semakin mampu membangun kerjasama dalam berbagai segi kehidupan kita. Kita percaya ada ketenteraman dalam kehidupan kita.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No.202:1,2
    1. Ernalem gelah man Yesus, kula ukur tendingku. Endesken geluhndu baNa keleng ateNa bandu. Ernalem gelah, tutus min gelah. O Yesusku bahan aku ernalem gelah.
    2. Kita k’rina bas geluhta, p’raten daging simbak min. Pindo lebe gegeh baNa maka kita erdahin. Ernalem gelah …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 25 Juli 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 424:1,3.
    1. Ipuji kami Kam Dibata si mbelin, alu ende enden si meriah. Suari ras berngi kawali kami min, segelah la celus bas percubaan. Sangap kap kalak si ‘rnalem baNdu e, daten tuah ras kesangapen pe.
    2. O kam si latih ras si maba beraten, dahi Bapa ib’reNa pengadin. Bas kesusahen kam pegegehiNa pe. Ras Yesus Tuhanta la kam bene. Sangap kap kalak …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata 2 Korintus 7 : 5 – 6.
    Bahkan ketika kami tiba di Makedonia, kami tidak beroleh ketenangan bagi tubuh kami. Di mana-mana kami mengalami kesusahan: dari luar pertengkaran dan dari dalam ketakutan. Tetapi Allah, yang menghiburkan orang yang rendah hati, telah menghiburkan kami dengan kedatangan Titus.
    Renungen
    Sekitar tahun 1981 muncul istilah generasi sandwich. Istilah ini merujuk kepada situasi terhimpitnya kehidupan seseorang di antara generasi orang tua dan generasi anak. Orang ini harus memenuhi kebutuhan ekonomi orang tuanya dan juga memenuhi kehidupan ekonomi anak-anaknya. Dalam situasi kita saat ini, kita merasakan himpitan yang berasal dari segala arah. Kekhawatiran tentang kehidupan ekonomi kita, kesehatan kita, hubungan sosial kita, pikiran, perasaan dan kehidupan rohani kita menghimpit perjuangan hidup kita. Lalu bagaimana kita menghadapinya ?
    Pengalaman himpitan di mana – mana juga dapat kita lihat dalam pelayanan Paulus. Paulus merasakan himpitan baik dari luar maupun dari dalam. Salah persepsi orang tentang pelayanan Paulus, yang telah menyebabkan terjadinya pertengkaran, membuat himpitan yang kuat bagi Paulus. Paulus menuliskan pengalaman dalam 2 Korintus 4:7-10, “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami”. Paulus juga merasa tidak tenang ketika memikirkan keselamatan Titus yang terpisah pelayanannya dengan Paulus. Di katakan Paulus dalam 2 Korintus 2:12-13, “Ketika aku tiba di Troas untuk memberitakan Injil Kristus, aku dapati, bahwa Tuhan telah membuka jalan untuk pekerjaan di sana. Tetapi hatiku tidak merasa tenang, karena aku tidak menjumpai saudaraku Titus. Sebab itu aku minta diri dan berangkat ke Makedonia.” Inilah himpitan hidup yang dirasakan Paulus dalam pelayanannya. Namun demikian, di balik himpitan itu, Paulus merasakan penghiburan Allah. Paulus merasakan penghiburan Allah dengan kedatangan Titus. Di tengah – tengah himpitan itu tetap ada penghiburan yang diberikan Allah.
    Dari pengalaman Paulus ini, kita juga meyakini bahwa Allah tetap memberikan penghiburan di tengah-tengah himpitan hidup ini. Oleh karena itu, kita harus terus berjuang menjalani kehidupan kita. Kita berjuang sambil terus menaruh kepercayaan kita kepada kuasa Allah. Ini juga yang dilakukan Daud ketika menghadapi tekanan dari rakyat Ziklag yang kota mereka telah habis dibakar tentara Amalek. Dikatakan dalam I Samuel 30:6, “Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya.”
    Kita menaruh kepercayaan kita kepada Allah, bahwa Allah tetap memberikan penghiburan di tengah-tengah himpitan hidup ini. Mari kita persiapkan tubuh, roh, jiwa, pikiran dan perasaan kita untuk beribadah kepada Allah. Melalui ibadah minggu esok hari, kita letakkan keyakinan dan pengharapan kita kepada penghiburan Allah. Amin.
  4. Ertoto kenca renungen
  5. Rende KEE GBKP No. 249:1,4.
    1. Ajar aku o Tuhanku, make kata ras pedahNdu. Kueteh payo ras sentudu, kuikutken bas geluhku. Singikut pedah Dibata daten me kerembakenNa. Pedah kata tangkas k’rina em jadi gelementa.
    2. Kalak si tegu Dibata em si lembab kin ukurna. Man si nembah rusur baNa, ukum ajarkenNa banta. Singikut pedah Dibata …
  6. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 24 Juli 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 282:1,2
    1. Ku kataken bujur baNdu, o Kam Tuhan penebus. Aku enggo s’lamatkenNdu arah lias ateNdu. Keleng kal ateNdu aku, simpar kap ngaruhNdu bangku. Lias ateNdu lanai terpilasi, kupuji Kam teptep wari.
    2. Tergejap pasu-pasuNdu i bas kegeluhenku. Rejeki arah dalinku icurcurkenNdu bangku. Keleng kal ateNdu aku, ..
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Roma 5:21
    “ Dage, bagi nai dosa erkuasa desken sekalak raja si maba manusia ku bas kematen, bage me pe lias ate Dibata genduari enggo erkuasa desken sekalak raja si ngerembakken manusia kempak Dibata, janah mabai kita ku bas kegeluhen si tuhu – tuhu si rasa lalap arah Jesus Kristus Tuhanta”.
    Renungen
    Pada satu ketika, saya ikut ke kebun seorang teman. Saya melihat kebunnya yang luas dan sudah berbuah. Saya berkata, “meriah nari ukurndu genduari enda me”. Lalu jawabnya, “Si genduari e saja nge idahndu e, kuga nai ma la angkandu”. Memang benar, terkadang yang menjadi perhatian kita adalah bagaimana sekarang seseorang itu hidup. Tetapi bagaimana dia dahulu hidup sehingga dia bisa hidup seperti sekarang ini, mungkin jarang mendapat perhatian kita. Kita juga tidak tahu bagaimana kehidupannya di masa depan.
    Kepada masing-masing kita, Allah memberikan tiga rentang waktu kehidupan, yaitu masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Bagaimana kehidupan kita sekarang ini, tidak terlepas dari bagaimana kehidupan masa lalu kita. Bagaimana masa depan kita turut ditentukan oleh bagaimana kita hidup sekarang ini. Tiga rentang waktu ini tetap perlu kita perhatian agar kita bisa berhasil dalam menjalani kehidupan kita.
    Renungan malam ini juga memperlihatkan tiga rentang waktu dalam kehidupan kita. Paulus mengingatkan kepada jemaat Roma tentang bagaimana mereka dahulu. Pada masa lalu mereka hidup dikuasai dosa. Dosa berkuasa seperti seorang raja yang memimpin kepada kematian. Namun sekarang, oleh kasih Allah, mereka dipimpin kepada persekutuan dengan Allah. Dan oleh karunia itu juga, mereka akan dipimpin menuju masa depan yaitu kehidupan kekal.
    Dari pemahaman Paulus ini kita melihat makna diberitakannya tiga rentang waktu kehidupan itu. Tiga rentang waktu dalam hidup kita diberitakan agar kita tahu perubahan apa yang telah terjadi dalam hidup kita. Masa lalu diingatkan agar kita tahu bagaimana bertindak pada masa kini. Seperti yang tertulis dalam Keluaren 22:21 “Ola kam erbahan si la bujur ntah nindas kalak pertandang; inget maka kam pe kalak pertandang nge nai i Mesir”. Demikian juga, masa depan diingatkan agar kita tahu tindakan yang harus kita lakukan agar kita sampai seperti yang kita harapkan terjadi di masa depan. Itulisken ibas Roma 6: 22, “Tapi genduari kam enggo ibebasken ibas dosa nari, janah kam enggo jadi ‘budak’ Dibata. Asilna man bandu e me kap, kam nggeluh khusus guna Dibata. Si enda mabai kam ku kegeluhen si tuhu-tuhu si rasa lalap”.
    Dengan mengingat tiga rentang waktu ini, kita dibimbing untuk menjalani hidup yang penuh kesulitan. Kesulitan yang terjadi tidak mengacaukan hati, pikiran dan tindakan kita. Kita tetap dapat menjalani kehidupan kita dalam jalan yang dikehendaki Allah. Amin.
  4. Ertoto kenca renungen
  5. Rende KEE GBKP No. 303:1,2
    1. O Yesus Kam terang geluhku, Kam me si ngkelini tendingku, la kap lit si man kebiarenku. O Yesus, Kam me kap bentengku, e makana la lit gentarku, amin lit si jahat nderpa aku. O Bapa dengkeh pemindonku. Lit kap sada sura-surangku. Atan min aku ibas rumahNdu sedekah geluhku.
    2. O Yesus Kam terang geluhku. Kam me si engkawali aku ibas paksa lit kesusahenku. O Yesus ajari min aku, gelah nggeluh ngikut p’ratenNdu arah dalan salang babai aku. O Bapa
  6. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 23 Juli 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 374:1,2
    1. Yesus ulu kegeluhenku, Kam me ngenca pengendesenku. Lalap tedeh ate tendingku. Kupehaga Kam bas geluhku. O Tuhan pernehen pusuhku, si ertedeh ate man baNdu. Kugelem pedah ras padanNdu, kusembah Kam ibas geluhku.
    2. Kusembah Tuhan penebusku, si mereken kekelengenNa. Alu tutus reh aku Tuhan ras kerina isi jabungku. O Tuhan pernehen …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Kejadin 5:29
    “ Janah nina, “Anak enda me si mereken kemalemen ate man banta i bas kelatihennta erdahin ngusahai taneh si enggo isumpahi TUHAN.” E maka ibahanna gelar anak e Nuah.”

Renungen.
Kehadiran anak di tengah keluarga adalah kebahagian keluarga itu. Misalnya, setelah letih bekerja seharian di luar rumah, ketika sampai di rumah di sambut oleh anak yang berlarian mengejar ayahnya, lalu sang ayah juga dengan sukacita memeluk anaknya. Di saat yang seperti ini, hilanglah rasa letih si ayah.
Bacaan renungan ini adalah ungkapan Lamekh ketika anaknya lahir. Lamekh meyakini bahwa anaknya ini menjadi penghiburan dalam kehidupannya yang penuh penderitaan. Dari beberapa ayat sebelumnya kita mencoba melihat situasi yang terjadi pada saat itu. Dalam Kejadian 3 ayat 17, dikatakan, “ Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu:” Setelah manusia melanggar perintah Allah, maka manusia harus menghadapi penderitaan untuk memperoleh kehidupannya. Penderitaan dalam mencari keperluan hidup juga dibarengi dengan meningkatnya kekerasan dalam hidup itu. Dikatakan dalam Kejadian 4:24, “Adi man kalak si munuh Kain pitu kalak ibunuh jadi balasna, maka man kalak si munuh aku pitu puluh kalak ibunuh.” Dalam penderitaan dan kekerasan hidup ini, Lamekh meyakini dan memiliki pengharapan bahwa kehadiran anaknya akan menjadi penghiburan bagi kehidupannya. Pemberian nama Nuh itu juga mengungkapkan keyakinan dan pengharapan Lamekh. Secara harafiah nama Nuh berarti beristirahat atau penghiburan. Nama Nuh yang berarti penghiburan ini menjadi nyata setelah bencana air bah. Setelah bencana air bah, Nuh mempersembahken korban yang menenangkan bencana itu. Ini menjadi penghiburan bagi manusia karena Tuhan tidak mengutuk bumi ini lagi karena perbuatan manusia (Kejadin 8:21). Demikianlah keyakinan dan pengharapan Lamekh bahwa kehadiran Nuh akan menjadi penghiburan atau beristirahatnya penderitaan yang terjadi dalam kehidupannya.
Hari ini kita memperingati Hari Anak Nasional. Hal ini untuk mengingatkan pentingnya perlindungan hak anak. Kehadiran anak dalam keluarga menjadi keyakinan dan pengharapan akan adanya penghiburan bagi masa depan keluarga itu. Oleh karena itu, menjadi tugas kita untuk melindungi hak anak-anak ini sehingga benarlah masa depannya menjadi sukacita bagi kita. Kita mau berletih dan bersusah payah, salah satunya demi masa depan dan kebahagaian anak-anak kita. Segala keletihan kita dalam memperjuangkan kehidupan ini berubah menjadi kebahagaian setelah kita mendapati anak-anak yang takut akan Tuhan. Seperti yang tertulis dalam Amsal 23:24-25, “ Malem me ate bapa adi anakna erkemalangen man Dibata; ersurak pusuhna adi pentar anakna. Bahanlah maka megah iakap nande bapandu; malemlah ate diberu si mupusken kam.” Selamat Hari Anak Nasional.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 124:3
    1. Meriah kal iakap orang tua, adi anakna ngikut ajar e. E malem ukur si mesui lupa, ‘di la njuruken lagu anak e. Senangna e di Tuhan si perkuah, rembak kin rusur ras dahinna e. ipasu-pasu Tuhan daten tuah, je malem-malem me ukurna e.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 22 Juli 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 325:1,2
    1. Tuhan itengah-tengahta m’reken pasu-pasuNa. Maler desken lau si mbelin, lanai lit si terulin. Usekenlah min KesahNdu, temani geluh kami. Gegeh kami plimbarui, k’rina jadi mehuli.
    2. Tuhan itengah-tengahta, reh riahna ukurta. Reh tenengna pertendinta, reh damena pusuhta. Usekenlah min KesahNdu …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Ulangan 30 : 9 – 10
    “TUHAN, Allahmu, akan melimpahi engkau dengan kebaikan dalam segala pekerjaanmu, dalam buah kandunganmu, dalam hasil ternakmu dan dalam hasil bumimu, sebab TUHAN, Allahmu, akan bergirang kembali karena engkau dalam keberuntunganmu, seperti Ia bergirang karena nenek moyangmu dahulu, apabila engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dengan berpegang pada perintah dan ketetapan-Nya, yang tertulis dalam kitab Taurat ini dan apabila engkau berbalik kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu.”

Renungen
Di akhir sebuah acara ibadah, dilakukanlah acara lucky draw. Hampir semua peserta acara ibadah masih menunggu acara lucky draw, walaupun acara ibadahnya sudah selesai. Hal ini menunjukkan bahwa kita memang senang keberuntungan. Terlebih dalam situasi yang sulit, kita berharap mendapatkan keberuntungan. Seperti keberuntungan yang didapatkan Egi Sandi dan Mujenih yang akhirnya diangkat menjadi pegawai tetap PT. KCI karena mengembalikan uang Rp. 500 juta dalam plastik yang mereka temukan.
Bacaan Firman Tuhan yang menjadi renungan malam ini juga berbicara tentang keberuntungan. Bangsa Israel akan kembali menikmati kebaikan atas hasil pekerjaan mereka. Sebagai bangsa yang hidup dari peternakan dan pertanian, inilah gambaran keberuntungan mereka. Mereka memiliki keturunan, mendapatkan hasil ternak dan bumi. Allah-lah yang dapat menjadikan bangsa Israel kembali menikmati kebaikan atas hasil pekerjaan mereka, bukan dengan kekuatan bangsa Israel sendiri. Inilah kegirangan Allah yaitu memberikan kebaikan bagi bangsaNya. Inilah keberuntungan bangsa Israel yaitu dapat menikmati kehidupannya kembali. Namun untuk sampai kepada keberuntungan itu ada iman dan tindakan yang harus mereka lakukan. Bangsa Israel harus taat kepada Allah dengan segenap hati dan jiwa mereka. Taat dengan segenap hati dan segenap jiwa memperlihatkan ketaatan itu bukanlah suatu paksaan, tetapi memperlihatkan hubungan kasih.
Dari perjalanan kehidupan bangsa Israel ini kita dapat mengimani dan meyakini bahwa Allah sangat bergirang memberikan berkatnya. Kita tetap mengharapkan keberuntungan dari Allah. Yang menjadi penting bagi kita sekarang adalah kita juga taat kepada Allah dengan segenap hati dan segenap jiwa kita. Ada tanggungjawab yang harus kita perlihatkan dalam hidup ini. Kasih yang diberikan Allah haruslah ditanggapi dengan kasih juga.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 334:1,2
    1. Tuhan kam si empuna geluhta, gegehta Ia si merekenca. Kiniteken pe ras pemetehta, e pe Ia sinjujurkenca. Ia kap erbanca kita sangap, tetaplah man Ia kita ngarap. ‘Di reh susah b’reNa serpang pulah, tendi kula mejuah-juah.
    2. Dage tetaplah bulat ukurta. Geluhta pe lalap min erguna. Lagu langkah pe la sia-sia, gelar Tuhanlah ermulia. Adi jumpa kita si mesera, pengarapen ula kal min pera. Kune riah ukur kita jumpa, nehken bujur ula kal lupa.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 21 Juli 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 274:1,3.
    1. Kupuji Kam o Tuhanku, perban keleng ateNdu. Ateku nggeluh badia, ngelawan kuasa dosa. Bage me sura-surangku, bere gegeh ras kuasa, gelah tetap perjingkangku.
    2. Madin ernalem man Tuhan, asang man doni enda. La lit si tetap kai pe lang, bas Tuhan Jesus ngenca. Reh kami ngadap man baNdu, aloken kami o Tuhan, kami si nggo tebusiNdu.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Amsal 19:11
    “ Akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran.”

Renungen
Allah telah memberikan akal budi kepada manusia. Akal budi sangat berperanan dalam membangun relasi yang harmonis dan sejahtera antar manusia. Namun di saat pandemi ini, keharmonisan dan kesejateraan dalam rumah tangga sering kali terabaikan. Konflik antar sesama anggota keluarga menjadi sering terjadi. Hal ini disebabkan perasaan khwatir, lelah dan takut lebih mendominasi ketimbang pikiran kita.
Bahan renungan kita, Amsal 19:11, berbicara tentang pentingnya akal budi dalam membangun relasi yang harmonis dan sejahtera. Orang yang mempergunakan akal budinya akan membuat orang itu panjang sabar. Orang itu akan memakai akal budinya untuk memahami situasi dan kondisi yang memicu terjadinya peristiwa itu. Dia berupaya melihat peristiwa itu dari berbagai sudut pandang. Setelah memahami duduk permasalahannya, dia juga akan mempertimbangkan dampak baik-buruk dan benar-salahnya tindakan yang akan dia ambil terhadap keharmonisan dan kesejahteran sesama anggota keluarga. Setelah mendapatkan tindakan yang baik dan benar, dia juga berusaha mengendalikan perkataannya. Sedapat mungkin dia menghindari pertengkaran di dalam keluarga. Dengan demikian akal budinya-lah yang menuntun tingkah lakunya. Dia sabar dalam menjalani proses berpikir ini. Dia tidak terburu-buru dalam mengambil sebuah kesimpulan dan tindakan. Dia sanggup mengendalikan emosinya untuk membuat suatu tindakan.
Orang yang telah sanggup memahami sebuah peristiwa dan orang yang mengupayakan tindakan demi keharmonisan dan kesejahteraan dalam keluarganya akan bersedia memaafkan. Dia tidak dengan mudah menghukum sesama anggota keluarganya yang bersalah. Di sinilah terletak kemuliaan seseorang. Akal budi membentuk karakter seseorang.
Allah memberkati manusia dengan akal budi agar dengan akal budinya manusia dapat membangun relasi yang harmonis dan sejahtera. Kita mengucap syukur atas berkat Allah ini dan tetap berusaha untuk membangun keharmonisan dan kesejahteraan keluarga kita di tengah-tengah pandemi covid-19 ini. Kasih setia Allah memampukan kita untuk mempergunakan akal budi kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 323:1,2.
    1. Sura-sura daging, lawanlah tetap, je di la kam talu, tambah gegehndu. Sura-sura jahat simbaklah tetap, ngaraplah man Yesus tentu kam menang. Pindo gegeh man Tuhan, gelah kam lalap paguh, ib’reNa kita menang, menahang ras senang.
    2. Tadingken si jahat, olangi dosa. Ukurndu meciho la ercinengga. Pake kebenaren nggeluh bas terang, ngaraplah man Yesus tentu kam menang. Pindo gegeh man Tuhan.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 20 Juli 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 292:1,3
    1. Manusia enggo erdosa, meluat mekelesa. Pusuh labo lit damena, ‘disirang ras Dibata. Begikenlah pendiloNa, ikutkenlah kataNa. Geluh pelimbaruiNa, rembak kita ras Ia.
    2. Di kita la mediate man teman ras jabunta. I j ape la malem ate dirang ras Dibata. Begikenlah pendiloNa, usih perbahanenNa. Sampati turang senina, dame senang ukurta.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Kejadian 3 : 12 – 13.
    “ Erjabab dilaki e nina, “Diberu siitamakenNdu ras aku i jenda kap merekenca man bangku, e maka ku pan.” Isungkun TUHAN DIbata ka si diberu nina, “Engkai maka bage perbahanenndu?” Erjabab diberu ndai, “Nipe si ngajar-ngajar aku maka ku pan.”

Renungen.
Allah menciptkan manusia sebagai mahkluk sosial. Sebagai mahkluk sosial, maka untuk menghadapi perjuangan hidupnya, manusia membutuhkan relasi dengan manusia lainnya. Namun demikian, ketika manusia menghadapi persoalan dalam hidupnya, manusia sering mengorbankan relasi itu demi membela dirinya. Ada kebiasaan dalam diri manusia untuk tidak mau menanggung sendirian kesalahan dan akibat kesalahannya. Dia merasa bahwa kesalahan yang dia lakukan disebabkan oleh orang lain, sehingga akibatnya juga harus ditanggung orang lain juga.
Bacaan ini memperlihatkan peristiwa yang terjadi di taman Eden. Ketika Allah memberikan perempuan itu sebagai penolong hidupnya, laki-laki itu mengatakan, “ Nina manusia e, “Enda nge maka enggo payo; Tulanna i bas tulanku nari, janah jukutna i bas jukutku nari. “Diberu’ gelarna perbahan ia ibuat i bas dilaki nari”(Kejadin 2:23). Namun ketika laki-laki dan perempuan itu telah memakan buah yang dilarang Allah untuk dimakan, maka laki-laki menyalahkan perempuan dan perempuan menyalahkan ular sebagai penyebab mereka melakukan yang dilarang Allah.
Menyalahkan orang lain atas kesalahan yang kita lakukan merupakan kelemahan dalam memperjuangkan hidup kita. Hal ini kita sebut kelemahan karena seakan-akan kita mengganggap Allah tidak dapat melihat dan mengambil keputusan atas kesalahan yang kita lakukan. Dengan menyalahkan orang lain berarti kita menyerahkan hidup kita kepada keadaan atau tindakan orang lain. Dalam hidup kita, kita-lah yang mengambil keputusan atas hidup kita. Karena kita yang mengambil keputusan, maka tanggungjawab sepenuhnya ada pada diri kita. Dengan menyalahkan salah seorang dalam rumah tangga kita sebagai penyebab kesalahan kita maka hal itu akan melukai perasaan anggota keluarga kita tersebut. Ada perasaan tidak enak dan akhirnya dapat membuat jarak di antara se isi keluarga itu. Kebahagiaan yang kita perjuangan untuk keluarga itu akhirnya menjadi perasaan tidak nyaman karena menyalahkan orang lain sebagai penyebab kesalahan kita. Seperti yang tertulis dalam Amsal 28:13, “Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi.” Kebahagian keluarga kita juga ditentukan oleh kemampuan kita untuk mengakui dan meninggalkan pelanggaran kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 200:1,2
    1. O Tuhan babai min dalanku bas doni, labuh ras la kesah gegehku. SoraNdu terbegi man bangku nemani. Lalap Kam me kuban temanku.
    2. O Tuhan sampatlah geluhku gundari. Ola Kam erleka bas aku. Kawali geluhku suari ras berngi, lalap Kam me kuban temanku
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan