Renungan Malam 3 Agustus 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 291:1,3
    1. M’riah ukur kami o Bapa, nembah ‘rjimpuh ertoto baNdu. Kam o Tuhan ipuji kami, ermulia gelarNdu. Bengket kami o Tuhan, ngadap kulebeNdu. Reh kami muji-muji gelarNdu Tuhan si Badia.
    2. Bujur ning kami baNdu, ban keleng ateNdu. IcukupiNdu k’rina si perlu. Mbelin kal kuasaNdu. Bengket kami o Tuhan …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Mazmur 69: 31-33
    “Aku akan memuji-muji nama Allah dengan nyanyian, mengagungkan Dia dengan nyanyian syukur; pada pemandangan Allah itu lebih baik dari pada sapi jantan, dari pada lembu jantan yang bertanduk dan berkuku belah. Lihatlah, hai orang-orang yang rendah hati, dan bersukacitalah; kamu yang mencari Allah, biarlah hatimu hidup kembali!”

Renungan

Pertolongan Tuhan Allah tetap nyata dalam kehidupan kita. Tetap saja ada jalan terbuka bagi kita untuk bertahan dan memperjuangkan hidup kita di tengah – tengah pandemi ini. Kita tidak pernah membayangkan kesulitan yang kita hadapi akan seperti sekarang ini. Namun demikian, Tuhan Allah tetap memberi kemampuan bagi kita untuk menghadapinya, bahkan saat ini sudah memasuki bulan ke lima. Kita mengimani bahwa ini semua adalah berkat pertolongan Tuhan.

Di dalam Mazmur 69 ini, Daud mengungkapkan pengalamannya di saat penderitaan menerpa kehidupannya. Di dalam ayat 2-3, Daud melukiskan penderitaannya dengan mengatakan, “Aku tenggelam ke dalam rawa yang dalam, tidak ada tempat bertumpu; aku telah terperosok ke air yang dalam, gelombang pasang menghanyutkan aku. Lesu aku karena berseru-seru, kerongkonganku kering; mataku nyeri karena mengharapkan Allahku.” Penderitaan fisik ini juga mengakibatkan penderitaan hatinya. Dia mengatakan, “Cela itu telah mematahkan hatiku, dan aku putus asa; aku menantikan belas kasihan, tetapi sia-sia, menantikan penghibur-penghibur, tetapi tidak kudapati (21). Dalam kesesakkannya ini, Daud memohon pertolongan Allah. Daud mengimani bahwa Allah mendengarkan doanya. “Sebab TUHAN mendengarkan orang-orang miskin, dan tidak memandang hina orang-orang-Nya dalam tahanan (34).

Keyakinan inilah yang membuat hati Daud bangkit kembali. Daud dimampukan untuk memuji-muji Nama Allah, mengagungkan Allah dengan nyanyian syukur. Daud percaya bahwa hati yang bangkit, hati yang memuji-muji Allah dan hati yang penuh dengan nyanyian syukur adalah persembahan yang berkenan kepada Allah. Di mata Daud, hati yang bangkit dan penuh pujian syukur lebih baik dihadapan Allah daripada persembahan korban sapi dan lembu.

Demikian juga dalam perjuangan hidup kita, yang berkenan kepada Allah adalah semangat juang. Allah mengasihi dengan memberikan diriNya hadir dalam kehidupan kita. Di dalam Yesaya 57:15, dikatakan, “Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: “Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk.” Kita merasakan kehadiran Allah dalam hidup kita. Kehadiran Allah membangkitkan kembali semangat yang telah patah. Dengan bangkitnya semangat hidup kita, berarti kita menjalankan arti kehadiran kasih Allah di dalam dunia ini. Dengan kita tetap memiliki semangat dalam menghadapi tantangan hidup ini, hal ini merupakan ungkapan syukur kita atas kehadiran Allah dalam hidup kita. Seperti gambar di atas, walaupun banjir sudah hampir sampai ke mulutnya, tetap si bapak mampu tersenyum dan membawa beban. Kita jalani hidup kita dengan semangat. Itu adalah ungkapan syukur kita atas pertolongan Allah.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 311:1,3
    1. Pujilah tendingku, pujilah Tuhan. Segedang-gedang geluhku. Ateku ersembah rasa lalap, ban keleng ateNdu tetap. IjujuriNdu geluhku. Dage kupuji Kam Tuhan. Haleluya. Haleluya.
    2. Kam me kap o Tuhan Penampatku. Malem kal ateku banNdu. IbegikenNdu kap pertotonku sabab setia Kam tuhu. Kam kap si nepa k’rinana. Kam me tetap si njayamsa. Haleluya. Haleluya.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 2 Agustus 2020

  1. Rende KEE GBKP No.274:1,2.
    1. Kupuji Kam o Tuhanku, perban keleng ateNdu. Ateku nggeluh badia, ngelawan kuasa dosa. Bage me sura-surangku, bere gegeh ras kuasa, gelah tetap perjingkangku.
    2. Kam saja patut dat pujin, bas kegeluhen kami. Ban Kam Tuhan si perkeleng, si nasap dosa kami. Siberitaken me dage perbahanenNa si mbelin, ‘lah doni pe muji Tuhan.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata 2 Korintus 10 : 3 – 4.
    “ Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng.”

Renungan

Gambar ini memperlihatkan kemampuan tenaga bulldozer untuk menyorong tanah. Tenaga yang besar yang dimiliki bulldozer merupakan senjata untuk meratakan tanah yang berbukit-bukit. Tetapi senjata apa yang harus kita pakai untuk menghadapi kesombongan, penghinaan dan fitnah terhadap diri kita ? Tentunya kita tidak bertindak seperti bulldozer ‘mendorong dan meratakan’ semua yang menyakiti hati kita. Dalam hal ini kita dapat belajar dari pengalaman Paulus.

Dalam pelayanan pekabaran Injil-nya, Paulus menghadapi tuduhan bahwa Paulus bersikap pengecut dan tidak konsisten, berani ketika dia tidak di Korintus, tetapi pengecut dan lembek ketika hadir secara fisik di Korintus (2 Korintus 10:1-2). Orang – orang Korintus mengatakan bahwa Paulus terlalu menonjolkan diri (2 Korintus 10:12-18), tidak hebat sebagai pembicara (2 Korintus 11:6), dan lemah dibandingkan tokoh-tokoh lainnya (2 Korintus 10:10). Dalam menghadapi fitnah ini, Paulus mengatakan bahwa dia tidak memakai cara-cara duniawi. Umumnya, cara kita menghadapinya adalah melakukan pembalasan yang melebihi rasa sakit yang kita alami. Nyanyian Lamekh mengatakan, “Berkatalah Lamekh kepada kedua isterinya itu: “Ada dan Zila, dengarkanlah suaraku: hai isteri-isteri Lamekh, pasanglah telingamu kepada perkataanku ini: Aku telah membunuh seorang laki-laki karena ia melukai aku, membunuh seorang muda karena ia memukul aku sampai bengkak; sebab jika Kain harus dibalaskan tujuh kali lipat, maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat.” (Kejadian 4:23-24). Lamekh meningkatkan perlakukan kekerasannya untuk memperlihatkan pembalasan terhadap sakit yang dialaminya. Ini cara yang umum dilakukan manusia dalam menerima perlakuan tidak menyenangkan. Namun Paulus mengatakan bahwa dia tidak berjuang secara duniawi.

Paulus berjuang dengan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah. Dalam 2 Korintus 6:6-7, Paulus membicarakan tentang senjata yang dia pakai, yaitu “dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan kasih yang tidak munafik; dalam pemberitaan kebenaran dan kekuasaan Allah; dengan menggunakan senjata-senjata keadilan untuk menyerang ataupun untuk membela.” Paulus mengatakan senjata yang dia pakai adalah kemurnian hati atau ketulusan hati. Hati, pikiran, dan perkataannya tidak bercabang. Paulus tidak memiliki maksud tersembunyi dalam mengabarkan Injil. Kepada Jemaat Filipi, Paulus menceritakan tentang adanya maksud orang dalam memberitakan Injil. “Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik.”(Filipi 1:15) Paulus diberi pengetahuan untuk memahami dan memperhitungkan tindakan dan perkataan yang tepat. Dengan adanya kemurnian hati dan pengetahuan, Paulus memiliki kesabaran untuk menanggung semua penderitaan yang dia alami. Roh Kudus memurnikan kasihnya sehingga tidak ada kemunafikan dalam tindakan dan perkataannya. Dengan demikian Paulus hanya memberitakan kebenaran dan kuasa Allah. Dalam hal menjadi nyata apa yang dikatakan Paulus dalam Roma 12:21, “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!” Senjata yang diperlengkapi kuasa Allah-lah yang mampu melawan orang-orang memperlakukan kita dengan tidak menyenangkan.

Persoalan hidup tidak hanya berkenaan dengan pekerjaan atau kesulitan ekonomi, tetapi persoalan hidup juga dapat berasal dari hubungan sosial kita dengan keluarga besar, tetangga maupun lingkungan kerja. Oleh karena itu, sebagai orang yang telah menerima kasih karunia Allah, kita memakai senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah dalam menghadapi konflik hubungan sosial. Jangan di bulldozer mereka yang memperlakukan kita dengan tidak menyenangkan.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 182:1,2.
    1. Tuhan Kam tetap, tedeh ku man baNdu. Arapku lalap Kam nemani geluhku. O Tuhan rasa lalap, geluhku temani, ola tadingken aku, ras Kam tetap.
    2. Tuhan Kam tetap, ajarilah aku. Lah kai pe si kuban, mehuli man baNdu. O Tuhan rasa lalap, geluhku temani, …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 1 Agustus 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 344:1,3
    1. Kam o Yesus, Juru s’lamat, sampat kami genduari. Pulah ibas dosa nari, si naban kami e. Tergejap latihna, nggeluh ibas dosa. Lanai kami ngasup ‘rdalin ibas gelap. Ku Kam Juru s’lamat kupindo penampat, gelah kami pulah, ibas dalin mberat.
    2. Kam o Yesus si perkeleng, cidahken min kek’lengenNdu. Bahan pusuh kami teneng, ‘di gulut ukurku. Tergejap latihna …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Matius 11 : 28 – 30.
    “ Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.”

Renungan
Hidup dapat kita bayangkan seperti gelombang ombak. Ombak yang terus menerus menghempas pantai. Kadang ombak itu kecil dan membuat indah kehidupan, tetapi terkadang gelombang ombak itu begitu dahsyatnya sehingga dapat mengikis kehidupan kita. Demikian juga dalam kehidupan ini. Kita terus menerus diperhadapkan dengan gelombang permasalahan kehidupan ini. Permasalahan yang membuat kita tidak dapat melihat jalan keluar. Beban yang menekan kita begitu berat sehingga kita tidak mampu lagi melangkah.

Allah mengetahui beban berat yang harus kita pikul dan mengasihi kita. Yesus adalah bukti kasih Allah bagi dunia ini. Oleh karena itu Tuhan Yesus mengundang kita untuk ikut dalam kasih Allah. Yesus mengundang semua yang letih lesu dan berbeban berat agar mendapatkan kelegaan. Bagaimana caranya kita mendapatkan kelegaan itu ?
Yesus mengatakan, pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku. Hal ini berarti bahwa Tuhan Yesus bukannya melepaskan kita dari permasalahan hidup. Memang permasalahan hidup tidak akan hilang selama kita masih memiliki kebutuhan dan keinginan dalam kehidupan ini. Sebaliknya Yesus meminta kita memakai kuk yang dipasangNya. Hal ini berarti Yesus memberikan diriNya agar kita bersama-sama menghadapi masalah hidup kita. Kita tidak sendirian dalam memandang pergumulan hidup ini. Cara manusia memandang pergumulan hidup ini justru membuat kita semakin khawatir, takut dan hilang harapan. Kita membutuhkan cara pandang ilahi untuk memandang kehidupan ini. Dalam Matius 6:25, Yesus memperlihatkan bahwa manusia sering kali khawatir akan banyak hal, misalnya makanan dan pakaian. Dalam situasi seperti ini Tuhan Yesus memberikan pandangan agar kita mampu menghadapi kehidupan ini. Yesus mengatakan dalam Matius 6:33-34, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Lebih lagi, Yesus tidak hanya memberi cara memandang hidup, tetapi Yesus menjadikan diriNya sebagai cara memandang pergumulan kehidupan ini. Di dalam Ibrani 12:3, dikatakan, “Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.”
Oleh karena itu, marilah kita datang kepada Yesus dan belajar kepadaNya. Dari nubuatan tentang Yesus, peristiwa kelahiranNya, pengajaranNya, mujizatnya, penderitaanNya, kematianNya, kebangkitanNya dan kenaikanNya ke Surga merupakan pelajaran yang memperlihatkan kelemahlembutan dan kerendahan hati Tuhan Yesus. Inilah kasih Allah yang memberikan ketenangan kepada jiwa manusia. Dengan belajar dan menjadikan kehidupan Tuhan Yesus sebagai cara pandang perjuangan kehidupan kita, kita akan mampu menghadapi setiap pergumulan hidup ini.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 286:1,2.
    1. Kuikutken me dalanNdu, dalan dame man bangku. Terkelin me kap geluhku, itebusi darehNdu. Kuikutken me dalanNdu, kuendesken geluhku. Bas Kam o Juru s’lamatku, dame senang tendingku.
    2. Mesera gia dalanku, padanNdu kap enteguh. Ngelawan kuasa gelap, di ras Kam menang tuhu. Kuikutken me dalanNdu. ..
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 31 Juli 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 325:1,2.
    1. Tuhan itengah-tengahta, m’reken pasu-pasuNa. Maler desken lau si mbelin, lanai lit si terulin. Usekenlah min KesahNdu, temani geluh kami. Gegeh kami p’limbarui, k’rina jadi mehuli.
    2. Tuhan itengah-tengahta, reh riahna ukurta. Reh tenengna pertendinta, reh damena pusuhta. Usekenlah min KesahNdu …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata 2 Raja – Raja 5 : 13
    “ Tapi reh suruh – suruhenna ndeheri ia nina man Naaman, “ Tuan, adi isuruh nabi e min ndai kam ngelakoken sada – sada dahin si mesera, tentu enggo ilakokenndu e. Genduari ngkai maka la banci kam ridi saja gelah malem ?”

Renungen
Sekali waktu, seorang dokter bercerita tentang pengalamannya memberi obat kepada pasiennya. Setelah selesai memeriksa pasiennya, si dokter memberi obat kepada pasien dan mengatakan harga obatnya Rp. 30.000,-. Si pasien langsung berkata, “obat yang paten sajalah, dokter.”. Mungkin si pasien beranggapan bahwa obat yang murah tidak paten, obat yang mahal baru paten.
Melekat dalam pikiran kita bahwa semakin sulit untuk mendapatkannya maka semakin tinggi nilainya, seperti emas dan permata. Semakin sulit untuk melakukannya maka semakin tinggi prestasinya. Orang seringkali mengukur keberhasilan seseorang berdasarkan tingkat kerumitan suatu pekerjaan. Namun prinsip ini tidakl-ah dapat diterapkan kepada semua hal. Pemikiran ini dapat membuat kita meremehkan hal-hal kecil dan sederhana tetapi justru berdampak besar dalam kehidupan kita. Misalnya, protokol kesehatan yang saat ini kita terapkan. Para ahli mengatakan untuk menjaga kesehatan maka kita memakan makanan sehat, berpikir positip, rajin berolah raga, rajin cuci tangan, memakai masker, menjaga jarak dan berserah kepada Tuhan. Hal – hal ini merupakan tindakan sederhana yang dapat mencegah penularan covid-19. Namun demikian, karena sederhana dan tidak ada bedanya dengan kebiasaan sehari-hari, orang menggangap sepele tindakan ini. Mungkin orang berpikir, kalau sudah diinfus, dipasang selang ventilator, baru mengganggap penyakit ini berbahaya.
Hal demikian yang kita lihat dalam pikiran Naaman. Ketika Nabi Elisa menyuruh Naaman mandi di sungai Yordan, Naaman merasa terhina. Dia pergi sambil marah-marah. Dia mengganggap mandi bukan jalan kesembuhannya. sebab itu hal yang biasa dilakukan manusia. Dia mengharapkan tindakan yang luar biasa seperti Nabi Elisa berdoa, meletakkan tangannya di atas sakitnya lalu terjadi kesembuhan. Terlebih lagi jikakalau hanya untuk mandi saja maka air sungai di kampungnya lebih bersih ketimbang air sungai Yordan. Lalu hambanya meminta Naaman mempertimbangkan kembali perkataan Nabi Elisa. Jikalau Nabi menyuruh tindakan yang berat, pastilah Naaman melakukannya, tetapi mengapa mandi saja tidak dapat dilakukan Naaman.
Dari perkataan hamba ini kita dapat memahami bahwa yang terutama dalam hal ini adalah mengikutkan perkataan Nabi Tuhan, yang berarti mengikutkan perkataan Tuhan sendiri. Seringkali Tuhan bekerja dalam hal-hal sederhana, namun berdampak besar. Hal ini untuk menujukkan bahwa kuasa Allah tidak bergantung kepada besarnya tindakan manusia. Dengan demikian, kita tidak boleh meremehkan hal-hal sederhana. Yang terpenting adalah kita dapat melihat ada kehendak Allah dalam tindakan kita yang sederhana itu. Dalam kehidupan kita, dalam pekerjaan kita, kita tidak mengganggap suatu tindakan yang besar, yang luar biasa dan wah, hal itu baru sebagai benar-benar sebuah tindakan. Seperti seorang petani, dia dapat melihat ada kehendak Allah dalam pekerjaannya. Hal ini akan berdampak besar dalam kehidupannya dan keluarganya.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 388:1,2.
    1. Tupung tayang aku nginget Kam. Gedang berngi kuukuri Kam. Sabab Kam si nampati aku, o Dibata tedeh ‘teku Kam. O Dibata Kam kap Dibatangku, kudahi tedeh ateku Kam. Mesikel aku nandangi Kam, desken taneh si enggo kerah. Bage me muasna tendingku. Man baNdu Tuhan Dibatangku.
    2. Sabab Kam si nampati aku, teruh kabengNdu rende aku. ‘di ras Kam meriah ukurku. O Dibata Kam sekawalku. O Dibata Kam kap …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 30 Juli 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 324:1,3.
    1. Tuhan kap penalemenku, Ia si njayam geluhku. Ia kap sekawalku, la nggo kekurangen aku. Tuhan si mada si nasa. Tuhan saja sipehaga. Muliakenlah gelarNa, mari puji sembah Ia.
    2. Nggo terkelin jine aku, arah perkuah ateNdu. peratenNdu kudalanken, g’luhku e kupersembahken. Tuhan saja si mada si nasa.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Habakuk 2 : 14
    “ Tapi doni enda dem me alu penandai kerna kemulian TUHAN bali ras lawit dem alu lau”.

Renungen.
Logikanya : orang yang melakukan kesalahan pasti akan mendapatkan hukuman. Tapi siapa yang rela menerima hukuman jika yang menghukum itu lebih bersalah lagi dari pada yang dihukum ? Mungkin kita tidak rela dan mengganggap hal itu ketidakadilan.
Hal inilah yang dipertanyakankan Habakuk kepada Allah. Habakuk mempertanyakan mengapa Allah membiarkan ketidakadilan berlaku di tengah-tengah bangsaNya. Orang-orang Yehuda melakukan penindasan terhadap sesama bangsanya. “Engkai maka ipediatNdu kuidah kejahaten ? Uga maka ngasup Kam natap-natap kelepaken e bage kelekna ? Encedai, sigegeh-gegeh kerina i sekelewetku; perubatan ras perjengilen i japa pe. Undang-undang la ergegeh, la erguna, janah keadilen la pernah idalanken. Ketamburenn kalak bujur ibahan kalak jahat, e maka keadilen enggo iputar-balikken” (Habakuk1:3-4). Terhadap pengaduan Habakuk tersebut, lalu Allah menjawab Habakuk. “ Kupekeke me bangsa Babilon jadi si erkuasa, bangsa si merawa dingen la banci kem. Isiarna me ku belang-belang doni enda naluken negeri-negeri si deban” (Habakuk 1:6). Lalu masalahnya semakin besar. Habakuk kembali mempertanyakan tindakan Allah ini. “ Tapi uga maka tahan Kam ngidah kalak penipu dingen jahat enda ? Si Tuhuna mataNdu si badia labo ngasup ngidah kejahaten, janah labo ternehenNdu kalak si ngelakoken kesalahan. Dage engkai maka Kam sinik saja tupung ikernepkenna bangsa si bujuren asangken ia ?” (Habakuk 1:13). Habakuk meyakini Allah adalah Allah yang adil. Habakuk dapat menerima bila Allah menghukum bangsanya yang melakukan ketidakadilan. Tetapi dia merasa tidak adil ketika bangsanya, yang berlaku tidak adil, justru ditindas oleh bangsa yang lebih tidak adil lagi.
Jawaban Allah terhadap pertanyaan Habakuk ini disebutkan dalam dalam Habakuk 2:4, “Janah enda me berita e : Kalak jahat labo pulah, tapi kalak bujur la banci lang nggeluh erkiteken tetap ia ernalem man Dibata”. Dari jawaban Allah ini kita diingatkan untuk meyakini bahwa orang yang hidup benar, yang menaruh percayanya kepada Allah, akan tetap hidup. Kita tidak perlu meragukan tindakan Allah terhadap perilaku ketidakadilan yang dilakukan orang lain. Yang perlu kita perhatikan adalah cara hidup kita yang benar. Orang benar hidup karena percayanya. Tindakan penghukuman Allah terhadap orang yang berlaku tidak adil dan orang benar yang hidup karena percayanya, menjadi penanda kemuliaan TUHAN.
Terkadang kita merasa ada ketidakadilan dalam hidup ini. Kita membandingkan hasil tindakan yang kita terima dengan hasil tindakan yang dilakukan orang lain. Namun melalui pembacaan Firman Tuhan malam ini, kita diingatkan untuk lebih memusatkan perhatian kita kepada cara hidup benar. Kita mengimani bahwa orang benar akan hidup karena percayanya. Inilah pertanda kemuliaan Allah.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No.416:1,2.
    1. Teridahlah Tuhan kemulianNdu, subuk paksa susah ‘ntah pe senang. Teridahlah Tuhan kemulianNdu, bas kerina paksa kegeluhen. Labo kap itadingkenNdu anakNdu, gegeh kami reh ibas Kam nari kap. Kuikutken lalap Tuhan kataNdu rasa lalap seh rasa lalap.
    2. Keke lah kerina bangsa Tuhan sabab kemulianNa ersinalsal. Amin sekelewet dem keg’lapen, ibabo bangsaNa tetap terang. Labo kap …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 29 Juli 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 168:1,3.
    1. Tegu aku o Tuhanku ibas dalan mesera. La lit ngasup ras gegehku, b’re min tanNdu negusa. Roti surga, roti surga, tetap b’reken man bangku. Tetap b’reken man bangku.
    2. Aru ate bas geluhku, Kam me sinampatisa. Lalap Kam me negu aku, gelah seh pe ku surga. Kam penampat, Kam penampat, lalap seh rasa lalap. Lalap seh rasa lalap.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Amsal 3 : 21 – 26.
    Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu, maka itu akan menjadi kehidupan bagi jiwamu, dan perhiasan bagi lehermu. Maka engkau akan berjalan di jalanmu dengan aman, dan kakimu tidak akan terantuk. Jikalau engkau berbaring, engkau tidak akan terkejut, tetapi engkau akan berbaring dan tidur nyenyak. Janganlah takut kepada kekejutan yang tiba-tiba, atau kepada kebinasaan orang fasik, bila itu datang. Karena Tuhanlah yang akan menjadi sandaranmu, dan akan menghindarkan kakimu dari jerat.

Renungen
Setiap harinya banyak yang kita butuhkan. Kita berusaha mencukupkan kebutuhan makanan, pakaian, biaya pendidikan dan banyak lainnya. Dalam mencari kebutuhan hidup itu kita juga harus berjaga-jaga. Dalam 1 Petrus 5:8, dikatakan situasi kehidupan di dunia ini, “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” Oleh karena kita tidak hanya memerlukan keterampilan untuk mencari kebutuhan hidup kita, tetapi kita juga memerlukan hikmat untuk menghadapi situasi ini.
Bahan renungan ini memperlihatkan perintah bagi kita untuk memelihara hikmat/ pertimbangan dan kebijaksanaan. Yang dimaksud dengan hikmat/pertimbangan adalah kemampuan berpikir logis, khususnya dalam membedakan antara pengaruh buruk dan pengaruh yang baik. Kita mengingat permintaan Raja Salomo dalam I Raja-Raja 3:9, “ Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?” Yang dimaksud dengan kebijaksanaan adalah pemahaman yang benar tentang cara menghadapi dan menyelesaikan masalah. Orang yang memelihara pertimbangan dan kebijaksanaan akan memperoleh berkat dalam hidup fisik, psikis dan rohani. Inilah yang memberi ketenangan pada jiwa. Mereka tidak menjadi lemah, tetapi bersemangat dan tetap mampu mengeluarkan potensi hidupnya. Ditengah –tengah jebakan iblis yang membuat buruk kehidupan, mereka yang memelihara pertimbangan dan kebijaksanaan justru memperlihatkan karakter yang indah seperti perhiasan di leher manusia. Mereka hidup tenang, aman, dapat tidur nyenyak dan tidak memiliki ketakutan terhadap malapeteka ketidakadilan dan kejahatan. Mereka tidak gentar terhadap adanya peristiwa yang mendatangkan bahaya dengan tiba-tiba. Lebih dari hal itu, orang yang menjaga dan memelihara hikmat tidak saja dipelihara dan dijaga hikmat, tetapi juga dipelihara oleh Tuhan sendiri. Tuhan yang menjadi kekuatan dan penuntun kehidupan kita.
Allah adalah sumber hikmat dan kebijaksanaan. Sama seperti permintaan Raja Salomo, kita juga meminta kepada Allah agar memberi hikmat dan kebijaksanaan bagi kita. Dengan demikian, di saat kita mencari kebutuhan hidup kita, kita terhindar tipu muslihat iblis yang ingin memperburuk keadaan kita. Sebaliknya orang yang memelihara pertimbangan dan kebijaksanaan, yang mendapatkan pemeliharaan Allah akan tetap bersemangat menghadapi kehidupan ini.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 288:1,2
    1. Ku ‘ndesken k’rina geluhku, anem melket aku. Tuhan penalemenku, tetap me ukurku. Ku simbak p’raten doni, ‘lah metunggung aku. Gegeh kuasaNdu ndemi, lah malem ateku.
    2. Bas paksa kesusahen pusuhku la gentar. Kam me kap penalemen, la kal aku mbiar. Mbelin keleng ateNdu si njayam geluhku. Senang kal kap ras Tuhan, ersurak tendingku.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 28 Juli 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 301:1,2.
    1. Nggo sikap kami k’rina, ndengkehken kataNdu. KesahNdu si Badia, nampati anakNdu. PedahNdu kap gegehku bage pe tendingku. Penampat bas geluhku, ndat kepentatenNdu.
    2. Pengasup kami k’rina ndengkehken kataNdu, lah tutus megikenca ajar ras pedahNdu. Kula tedingku ngada ku Kam o Tuhanku, kataNdu kap o Bapa pematang geluhku.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Daniel 2 : 20
    Berkatalah Daniel : “ Terpujilah nama Allah dari selama-lamanya sampai selama-lamanya, sebab dari Dialah hikmat dan kekuatan!”
    Renungen
    Kita hidup dalam sebuah mata rantai kehidupan. Ada ikatan yang menghubungkan seseorang dengan orang lainnya. Dalam sebuah keluarga, ada ikatan darah. Dalam sebuah jemaat ada ikatan sesama orang yang telah diselamatkan. Ada ikatan sesama satu suku. Dalam pertemanan ada ikatan emosional. Dalam sebuah pekerjaan ada ikatan tanggung jawab pekerjaan. Yang paling luas adalah ikatan sebagai sesama mahkluk ciptaan Allah yang tinggal di bumi yang satu. Sebagai suatu mata rantai kehidupan maka apa yang dialami salah seorang anggota keluarga, pasti berdampak terhadap seluruh anggota keluarga.
    Daniel ada dalam lingkungan pemerintahan Nebukadnezar. Dia harus mengikuti pelatihan selama 3 tahun untuk dapat bekerja di istana Nebukadnezar (1:5). Namun pada tahun ke dua pemerintahan Nebukadnezar, terjadilah maka raja Nebukadnezar bermimpi dan hal itu membuat dia gelisah dan tidak dapat tidur (2:1). Raja meminta agar orang berilmu di seluruh Babel menceritakan apa mimpi dan makna mimpinya tersebut. Terhadap permintaan Raja tersebut, para orang berilmu berkata bahwa tidak seorang pun yang dapat memberitahukan mimpi dan arti mimpi raja selain dari dewa-dewa (2:11). Mendengar hal itu maka raja menjadi geram dan murka dan memerintahkan untuk melenyapkan semua orang bijaksana di Babel (2:12). Daniel dan teman-temannya yang masih dalam masa pendidikan di istana Babel juga merasa terancam akan dibunuh (2:13). Inilah contoh mata rantai kehidupan. Ketika raja yang gelisah, tidak bisa tidur, geram dan murka, tetapi orang lain yang ikut merasakan dampaknya. Terhadap situasi ini, Daniel dan teman-temannya memohon kepada Allah agar membukakan rahasia itu. Lalu Allah menyingkapkan rahasia itu kepada Daniel. Ayat renungan kita adalah ungkupan syukur Daniel kepada Allah. Daniel mengakui bahwa pada Allah ada hikmat dan kekuatan.
    Apa maknanya perkataan Daniel ini ? Dalam ungkapannya, Daniel mengakui bahwa bukan karena kepintarannya dan bukan karena pendidikan Babel, yang masih dijalaninya 2 tahun dari 3 tahun masa pendidikannya, maka Daniel memiliki kemampuan untuk mengetahui mimpi dan makna mimpi raja. Ini semua adalah hikmat Allah. Dari makna mimpi raja Nebukadnezar, Daniel tahu bahwa hanya Allah saja yang membuat kekuasaan raja Nebukadnezar, yang dilambangkan dengan patung berkepala emas, akan hancur.
    Dari pengalaman Daniel ini kita dapat merenungkan bahwa dalam hidup ini, kita harus ikut bertanggungjawab pada dampak yang diakibatkan orang yang memiliki pertalian dengan kehidupan kita. Walaupun secara langsung mungkin kita tidak turut dalam perbuatan itu, tetapi dampak yang dialami oleh yang orang yang memiliki ikatan dengan kita pasti turut kita rasakan. Kita tidak dapat mengatakan, itu bukan salahku, aku tidak ada hubungannya dengan peristiwa itu. Yang kita lakukan adalah memohon kepada Allah, sumber hikmat dan kekuatan, agar memberi kemampuan kepada kita untuk memberi solusi terhadap permasalahan itu. Allah memberi hikmat dan kekuatan bagi kita untuk menghadapi persoalan di mana kita memiliki ikatan dengan orang tersebut. Amin.
  4. Ertoto kenca renungen
  5. Rende KEE GBKP No. 338:3
    1. Pasu-pasu surga nari, kugejap tiap wari. Kepentaren berekenNdu, nehken sura-suraNdu. Pakeken lah min aku, jadi persuruhenNdu, jenda aku suruh kau, nehken kekelengenNdu.
  6. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan