Renungan Malam 10 Desember 2020

  1. Rende KEE GBKP No.321:1,3
    1. Si sembahlah min, Tuhan si mbelin, endekenlah min, enden-nden pujin. Tuhan Dibatanta ingan cicio, sembahlah Ia ola kita menggo.
    2. Seh kal ulina penjayamenNdu, terang ras gelap e nuduhkenca. Udan ras lego k’rina kap ndatkenca. Kuasa kekelengenNa mbelin tuhu.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Mazmur 90 : 14
    “ Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami.”

Renungan

Salah satu tindakan kita di pagi hari adalah sarapan pagi. Dengan sarapan pagi kita mendapatkan energi untuk menjalani kegiatan kita. Lalu pada siang hari, kita kembali memakan makanan kita untuk “mengisi ulang” tenaga kita. Dan pada sore hari, kita kembali makan untuk membuat tenaga kita tetap terjaga. Paling tidak, tiga kali sehari kita mengisi tenaga kita. Kita menyadari bahwa kita membutuhkan makanan untuk terus menerus memperbaharui kekuatan kita. hal didasari kekuatan makanan itu hanya bertahan selama 6 jam, dan setelah itu diisi kembali.
Pemazmur membandingkan kebutuhan makanan itu dengan kebutuhan kasih setia Allah. Mengapa Pemazmur memohon kasih setia Allah ? Pemazmur mengakui ada dua kenyataan hidup yang tidak dapat dihindari manusia. Manusia menghadapi kenyataan bahwa waktu hidupnya terbatas dan berada dibawah baying-bayang penderitaan. Oleh karena itu, selain memohon diajari Allah untuk dapat mengelola dengan bijaksana hidup yang terbatas dan selalu dibawah baying-bayang penderitaan itu, Dengan mengenyangkan Pemazmur di pagi hari dengan kasih setia maka hal itu akan membuat pemazmur bersorak sorai semasa hari-harinya. Jika kekuatan makanan hanya bertahan 6 jam, maka kekuatan kasih karunia itu bertahan semasa hari-hari kehidupan Pemazmur. Pemazmur sangat membutuhkan kasih setia Allah agar dia mampu menghadapi kenyataan hidup itu. Pemazmur mengakui bahwa kebutuhan itu hanya dapat dilakukan Allah. Perbuatan Allah yang membebaskan, melindungi dan menuntun bangsaNya memperoleh tanah pusaka mereka, merupakan ingatan akan betapa besarnya kasih Allah dalam hidup bangsaNya. Ingatan akan perbuatan Allah ini menjadi keyakinan akan kuasa dan kasih setia Allah yang akan mengenyangkan Pemazmur dalam menghadapi kenyataan hidup ini.
Hal ini berarti bahwa di dalam hidup yang terbatas dan dibawah bayang – bayang penderitaan, maka hidup itu haruslah diisi dengan sorak sorai dan sukacita. Allah-lah yang berkuasa mengubahkan penderitaan dan mengisi kehidupan kita dengan sorak-sorai dan sukacita. Ini akan membuat hidup ini tidak melulu berada di dalam penderitaan. Sukacita ini menjadi penopang dan kekuatan di tengah tengah penderitaan, sehingga kita tidak mengatakan “adi kiniseran enggo puas, malem ate nari ngenca lenga inanami.” Tapi sebaliknya kita dapat mengatakannya, “labo lalap mesera, lit nge malemna ibereken Dibata. Tetaplah kita memohon kepada Allah untuk mengenyangkan kita dengan kasih setiaNya. Karya Tuhan Allah menuntun jalan hidup kita kepada sukacita dan damai sejahtera.
Tuhan Allah memberkati kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 307:1,2
    1. O Tuhanku, Kam me permakanku, emaka la kekurangen aku. Ku mbal-mbal m’ratah aku babaNdu, ipesenang senangNdu geluhku. Permakanku sinjayam geluhku. Malem ateku senang tuhu. KelengNdu tetap maler man bangku, Kam me Tuhanku, Permakanku.
    2. IteguNdu kempak lau si maler, ibahanNdu ateku nggo malem. E maka tedeh ate tendingku kempak keg’luhen si sikapkenNdu. Permakanku sinjayam geluhku. Malem ateku senang tuhu. KelengNdu tetap maler man bangku, Kam me Tuhanku, Permakanku.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 9 Desember 2020

  1. Rende KEE GBKP No.227:1,2.
    1. Katakenlah man pusuhku, pepankenlah bas geluhku, idemiNdu kegeluhenku, tetapkenlah pengarapenku. Pegaralah kinitekenku, alu Kesah ras KataNdu.
    2. Si ingetlah wari Tuhan, pedahNa e si pakeken. B’ritaken Kata Dibatanta man k’rina bekas tinepaNa. Pegaralah kinitekenku alu Kesah ras KataNdu.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Mazmur 90 : 12
    “ Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”

Renungan

Hidup yang kita jalani, terkadang memang tidak dapat kita perkirakan. Apa yang terjadi dan apa yang kita hadapi seringkali jauh dari apa yang kita bayangkan. Walaupun demikian, bukan berarti kita tidak perlu belajar untuk menghadapi masa depan kehidupan kita. Ada kenyataan-kenyataan dalam hidup ini yang tidak bisa kita hindari. Oleh karena itu memang penting bagi kita untuk belajar tentang kehidupan ini.
Di dalam Mazmur 90 ini disebutkan 2 kenyataan hidup manusia. Kenyataan pertama, adalah adanya batas kehidupan manusia. Apakah panjang umur atau singkat umur manusia, semua hidup manusia ada batasnya. Manusia tidak dapat melebihi batas umur yang telah ditetapkan Allah dalam hidupnya. Apabila manusia telah sampai ke batas umur itu maka semua itu akan terasa singkat dan cepat. Umur 100 tahun sekalipun akan terasa singkat ketika telah sampai ke batasnya. Mazmur 90 : 3-4, berkata, “Engkau mengembalikan manusia kepada debu, dan berkata: “Kembalilah, hai anak-anak manusia!”Sebab di mata-Mu seribu tahun sama seperti hari kemarin, apabila berlalu, atau seperti suatu giliran jaga di waktu malam.” Kenyataan kedua yang dihadapi manusia adalah adanya penderitaan yang diakibatkan murka Allah terhadap dosa manusia. Mazmur 90:8, berkata, “Engkau menaruh kesalahan kami di hadapan-Mu, dan dosa kami yang tersembunyi dalam cahaya wajah-Mu.”
Dari kedua kenyataan ini, Pemazmur memohon kepada Allah untuk memberikan apa yang penting dalam menghadapi kenyataan hidup ini. Pemazmur meminta agar Tuhan mengajari dirinya untuk “menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.” Hal ini memperlihatkan keinginan Pemazmur untuk selalu diingatkan bahwa hari-hari hidupnya terbatas. Orang yang menyadari bahwa hidupnya terbatas akan mempergunakan hidupnya dengan bijaksana, baik dan benar. Kita menghargai dan mensyukuri setiap waktu yang diberikan Allah kepada kita. Kita mempergunakan setiap waktu yang diberikan Allah untuk hidup seperti yang dikehendaki Allah. Hari-hari hidup kita terbatas oleh karena itu janganlah hari-hari yang terbatas itu diisi atau dipergunakan memperburuk keadaan yang ada. Janganlah mengisi hari – hari hidup yang singkat ini dengan meratapi dan menyesali keadaan yang ada sehingga keadaan masa depan akan sama buruknya dengan masa lalu. Oleh karena hari-hari kita singkat maka menjalani hidup dengan bersukacita dengan kehidupan yang ada dan mengupayakan kehidupan yang lebih baik lagi. Ada istilah yang mengatakan “lakukanlah yang baik seakan-akan besok adalah akhir hidup dan jauhkan yang jahat hari ini seakan-akan masih banyak hari lagi.”
Tuhan lah yang mengajari dan memampukan kita untuk memaknai dan mempergunakan kehidupan yang ada. Tuhan memberkati kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 338:1,3.
    1. Ulu tuah Kam kusembah, ajar aku megelah. “lah nurihi pujin kami, lalap la ‘rgadi-ngadi. Lias ras keleng ateNdu, jujurkenNdu man bangku. Nteguh paguh, la terundu, kuasa ras muliaNdu.
    2. Pasu-pasu surga nari, kugejap tiap wari. Kepentaren berekenNdu, nehken sura-suraNdu. PakekenNdu lah min aku, jadi persuruhenNdu, jenda aku suruh aku, nehken kekelengenNdu.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 7 Desember 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 305:1,2
    1. O Tuhan, Kam me penampat ibas geluhku. O Tuhan Kam me cicionku, bas aru ateku. Angin meter, udan meder, Kam me kubunku. O Tuhan Kam me ikutenku, segedang geluhku.
    2. Enterem imbang-imbangku bas pertibi e. Si atena nirangkenku ras Kam kap Tuhanku. Kawali min, cikeplah min, lah la ku bene. O Tuhan Kam me pengarapen segedang geluhku.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Mazmur 18:29
    “ Karena Engkaulah yang membuat pelitaku bercahaya; TUHAN, Allahku, menyinari kegelapanku.”

Renungan

Ada ungkapan yang berkata, “Gelap di siang hari.” Ungkapan ini menujukkan orang yang mengalami kegelapan bukan karena tidak ada cahaya matahari, tetapi dia merasa dunianya menjadi gelap karena hati dan pikirmya sudah tertutup, tidak melihat lagi ada pertolongan yang dapat menolongnya. Dia tidak lagi melihat ada jalan keluar dari masalahnya dan dia meyakini bahwa apa yang dia takutkan akan benar-benar terjadi.
Raja Daud juga merasakan keadaan yang gelap dalam hidupnya. Raja Daud menceritakan pengalamannya, katanya, “Tali-tali maut telah meliliti aku, dan banjir-banjir jahanam telah menimpa aku, tali-tali dunia orang mati telah membelit aku, perangkap-perangkap maut terpasang di depanku. Ketika aku dalam kesesakan, aku berseru kepada TUHAN, kepada Allahku aku berteriak minta tolong. Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, teriakku minta tolong kepada-Nya sampai ke telinga-Nya. Ia menjangkau dari tempat tinggi, mengambil aku, menarik aku dari banjir. Ia melepaskan aku dari musuhku yang gagah dan dari orang-orang yang membenci aku, karena mereka terlalu kuat bagiku.” (Mazmur 18:5-6;17-18)
Atas tindakan Allah ini, Raja Daud memuji dan mengucap syukur kepada Allah. Daud kembali dapat mengucap syukur sebab dia percaya bahwa oleh karena pertolongan Allah-lah maka pelita Raja Daud kembali bercahaya. Artinya kegelapan hidup yang selama ini meliputi Raja Daud telah diubahkan Allah sehingga hidupnya dapat bersinar kembali.
Dari pengalaman Raja Daud ini, kita percaya bahwa karena kuasa dan kasih Allah-lah maka kegelapan sekalipun dapat diterangi Allah. Firman Tuhan dalam Mazmur 139:12, berkata, “maka kegelapanpun tidak menggelapkan bagi-Mu, dan malam menjadi terang seperti siang; kegelapan sama seperti terang.”
Dengan keyakinan iman seperti inilah kita terus maju menghadapi tantangan hidup kita. Bisa jadi karena beratnya persoalan hidup kita, kita tidak lagi dapat melihat jalan keluar, tidak ada lagi harapan atas permasalahan hidup kita, dan kehidupan kita akan benar-benar hancur. Hidup kita benar-benar sudah ada dalam kegelapan. Namun demikian, di tengah-tengah kegelapan ini, tetaplah memiliki keyakinan dan harapan. Tetap ada kuasa dan kasih Allah yang sanggup membuat pelita hidup kita kembali bercahaya. Kegelapan sekalipun tidak dapat menahan terang kasih Allah dalam hidup kita. Kita tetap percaya dan berharap, pelita hidup kita bercahaya. Firman Tuhan berkata, “Bagimu matahari tidak lagi menjadi penerang pada siang hari dan cahaya bulan tidak lagi memberi terang pada malam hari, tetapi TUHAN akan menjadi penerang abadi bagimu dan Allahmu akan menjadi keagunganmu.” (Jesaya 60:19). Tuhan Allah memberkati iman dan pengharapan kita dan membuat pelita hidup kita bercahaya. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 187:1,3.
    1. Gegeh kuasa Kesah Si Badia, ib’re Tuhan bangku tiap jam. Katawari pe itemaniNa, iidahNa kai pe si kuban. Perdalanku pe itemaniNa, setan iblis ipelawesNa. Kuasa doni la ergegeh bangku, Tuhan saja man ikutenku.
    2. Tiap wari Tuhan kap ras aku, pemereNa nge geluhku e. IangkatNa adi guling aku, talukenNa iblis jahat. Malem kal ateku itemaniNa. Keleng ate dem kap bas IA. Tah ndekah tah kentisik pe gia, la ateku sirang ras Ia.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 6 Desember 2020

  1. Rende KEE GBKP No.319:1,2
    1. Sada soranta muji Dibatanta, IA jine si njayam keg’luhenta. Lalap IA ‘ngkelengi tinepaNa, maler me kap tetap pasu-pasuNa.
    2. Sada soranta muji Dibatanta, S’lamat kita ban perkuah ateNa. AlokenNa kita jadi anakNa, Maler me kap tetap pasu-pasuNa.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Jesaya 26:12
    “ Ya TUHAN, Engkau akan menyediakan damai sejahtera bagi kami, sebab segala sesuatu yang kami kerjakan, Engkaulah yang melakukannya bagi kami.”

Renungan

Allah tidak berubah. Pada jaman dahulu, Allah telah memperkenalkan diriNya dengan perbuatan-perbuatan tanganNya. Dengan perbuatan-perbuatan tanganNya kita mengenal dan menyebut nama Allah itu. Misalnya, Pemazmur Allah itu, katanya, “ Tetapi Engkau, ya Tuhan, Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih dan setia.” (Maz. 86:15). Pemazmur menyebut Allah berdasarkan pengalaman hidup bangsaNya, khususnya perbuatan Allah terhadap bangsaNya yang membebaskan dari perbudakan Mesir, menuntun di padang gurun dan memberikan tanah Kanaan menjadi milik bangsaNya. Perbuatan Allah ini sekaligus menunjukkan sifat Allah, dan sifat Allah ini tidak berubah. Hal inilah yang membuat kita saat ini dapat mengimani dan berharap kepada Allah. Jaman berubah, tantangan jaman juga berubah, tetapi Allah tidak berubah dalam perbuatan dan sifatNya.
Demikian juga halnya ketika kepada kita diwartakan tentang Nabi Jesaya yang berbicara tentang Allah yang mendatangkan damai sejahtera bagi bangsaNya. Pada jaman Nabi Jesaya ini, damai sejahtera berarti penghukuman terhadap penjajah bangsaNya, pembebasan terhadap bangsaNya dan pembaharuan hubungan dengan bangsaNya melalui penghapusan dosa bangsaNya. Jesaya menyadari bahwa damai sejahtera ini hanya mungkin terjadi karena kemahakuasan dan kasih Allah.
Dalam kehidupan kita saat ini, kita tetap percaya Allah tetap berkarya demi damai sejahtera umatNya. Seperti dahulu Allah mendatangkan damai sejahtera kepada bangsaNya Israel, demikian juga saat ini Allah tetap menyediakan damai sejahtera kepada umatNya. Benar, situasi kebutuhan bangsa Israel pada waktu itu dan apa yang kita butuhkan saat ini tidaklah sama. Tetapi Allah yang menyediakan damai sejahtera itu tetaplah sama. Allah mengetahui kerinduan kita, kebutuhan kita dan perjuangan kita untuk memperoleh damai sejahtera. Kita mengharapkan agar kita tetap memperoleh damai sejatera di tengah-tengah kesulitan kesehatan, kesulitan ekonomi dan kesulitan akibat bencana saat ini. Dalam hal ini kita mengakui bahwa Allah-lah yang mampu menyediakan damai sejahtera bagi umatNya. Kita menyadari ketidakmampuan dan keterbatasan kita dalam mengupayakan damai sejahtera. Kita sadar bahwa segala kemampuan, ketrampilan dan keahlian manusia memiliki keterbatasannya. Kita meyakini bahwa hanya karena kemahakuasaan dan kasih Allah maka manusia beroleh damai sejahtera. Oleh karena itu, dengan kerendahan hati, kita memohon kepada Allah untuk memberkati kita dengan damai sejahtera.
Kita jalani kehidupan kita di minggu ini dengan tetap memohon berkat damai sejahtera atas perjuangan hidup kita.
Tuhan Allah memberkati kita dengan damai sejahtera. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 325:1,2
    1. Tuhan itengah-tengahta m’reken pasu-pasuNa. Maler desken lau si mbelin, lanai lit si terulin. Usekenlah min KesahNdu, temani geluh kami. Gegeh kami plimbarui, k’rina jadi mehuli.
    2. Tuhan itengah-tengahta, reh riahna ukurta. Reh tenengna pertendinta, reh damena pusuhta. Usekenlah min KesahNdu …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 5 Desember 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 221:1,2
    1. Pesikaplah ukurta, adi ndahi Dibata. Ukur si serbut, si lit bas kita, endeskenlah man baNa. Ban Ia si mereken pengadin, makana kita dorek min terkelin. ‘Di Yesuslah sibahan man temanta, e tentu malem kal ateta.
    2. Pesalanglah pusuhta, adi nembah man baNa. Pusuh si gulut si ndongkelisa totokenlah ku Ia. Ban Ia si mereken…
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Jesaya 40 : 9 – 10.
    “ Hai Sion, pembawa kabar baik, naiklah ke atas gunung yang tinggi! Hai Yerusalem, pembawa kabar baik, nyaringkanlah suaramu kuat-kuat, nyaringkanlah suaramu, jangan takut! Katakanlah kepada kota-kota Yehuda: “Lihat, itu Allahmu!” Lihat, itu Tuhan ALLAH, Ia datang dengan kekuatan dan dengan tangan-Nya Ia berkuasa. Lihat, mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia, dan mereka yang diperoleh-Nya berjalan di hadapan-Nya.”
    Renungan

Saat ini rasa cemas, kuatir dan takut bertambah lagi dengan kehadiran hujan lebat, longsor dan banjir. Rasanya, kecemasan dan kekuatiran dan ketakutan akibat pandemi belum berlalu, sekarang banyak saudara-saudara kita yang mengalami bertambahnya beban hidup mereka. Dalam suasana kecemasan, kekuatiran dan ketakutan ini kita diingatkan kembali akan minggu-minggu Advent, kabar baik kedatangan Allah ke dalam dunia ini.
Di dalam bacaan renungan malam hari ini, diperdengarkan tentang Allah yang menyuruh pembawa kabar baik kepada orang Israel yang sebagian besar masih di dalam masa pembuangan. Sion roboh, Jerusalem runtuh dan kota-kota lain setengah kosong. Karena situasi pembuangan ini maka orang-orang Israel mengalami ketakutan. Mereka kehilangan pengharapan akan kembalinya mereka ke tanah Yehuda. Kepada mereka-lah Allah menyuruh pembawa kabar baik ini bersuara keras-keras. Pembawa kabar baik ini menyampaikan berita dari Allah agar orang Israel jangan takut. Orang Israel jangan lagi merasa takut sebab “Lihat, itu Allahmu!” Lihat, itu Tuhan ALLAH, Ia datang dengan kekuatan dan dengan tangan-Nya Ia berkuasa. Lihat, mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia, dan mereka yang diperoleh-Nya berjalan di hadapan-Nya.” Dalam hal ini, kedatangan Tuhan digambarkan sebagai pahlawan yang menang perang dan membawa orang-orang yang telah dibebaskannya. Kehadiran Tuhan Allah juga digambarkan sebagai seorang gembala yang menuntun kawanan gembalaannya melewati padang gurun. Demikianlah digambarkan kekuatan Allah yang akan membebaskan umatnya dan menuntun mereka kembali ke tanah Yehuda. Oleh karena itu, orang-orang Israel jangan lagi takut.
Di dalam Kitab Perjanjian Baru, Johanes adalah pembawa kabar baik itu. Dan Yesus Kristus adalah Allah yang datang ke dunia ini untuk membebaskan manusia dari kuasa dosa dan menuntun orang-orang percaya kepada keselamatan dan hidup kekal.
Kabar baik ini bukan hanya bagi orang-orang Israel yang mengalami pembebasan dari pembuangan Babel. Kabar Baik ini juga tetap diingatkan kepada kita dan menjadi milik kita pada saat ini. Allah telah datang dan menuntun kita menghadapi kehidupan kita saat ini. Allah bersama-sama dengan kita. Terlebih dalam beberapa hari ini, kita melihat dan merasakan beban hidup kita bertambah berat. Di beberapa tempat terjadi hujan lebat, tanah longsor, banjir. Banyak orang yang terkena bencana alam dan terdampak bencana ini, termasuk keluarga kita, suadara-saudara kita, teman-teman kita dan jemaat Tuhan yang mengalami kecemasan ketakutan bahkan kehilangan materi dan nyawa. Dalam suasana seperti ini, kepedulian kita, doa-doa kita, kebersamaan kita dan “penampatta” dapat memberikan secercah harapan kepada mereka yang terdampak bencana ini. Kita yakin selama tetap ada pengharapan di dalam diri kita dan di dalam diri saudara-saudara kita ini, maka tetap ada kabar baik dalam kehidupan kita. Kabar baik yang menguatkan dan membebaskan mereka dari rasa cemas, kuatir dan takut. Di minggu-minggu Advent ini, kita terus diingatkan tentang kabar baik bahwa Allah telah datang dan tetap menuntun kita. Kita perkuat seruan kabar baik ini melalui ibadah Minggu Advent II pada esok hari. Kabar baik ini jugalah yang kita sampaikan kepada saudara-saudara kita ini. Tuhan Allah memberkati kita semua.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 309:1,3.
    1. Pengasup kami o Tuhan, gelah pedahNdu banci idalanken. Em kap tending kami bas kegeluhen. KataNdu si man gelemen. Gelah tangkas kata ras perbahanen, ban min kami tetap bas kebujuren, surgaNdu kap perayaken.
    2. Kawali kami o Tuhan, alu gegeh ras kuasaNdu si mbelin. Olangilah kami idur si setan si atena encedaken. DameNdu gelah tetap kuarapken, ban kelengNdu ngenca kami atan, bengket ku bas kesangapen.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 4 Desember 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 365:1,4
    1. Kudahi Kam Tuhan Dibatangku, ku penangkih totoku man baNdu. Kukataken bujur ermengkah ukurku, ibas ngaloken perkuah ateNdu. Nggo tangkas peratenNdu bas geluhku, bujur o Bapa nggo malem ateku
    2. AlokenNdu min puji sembahku, begikenlah totoku man baNdu. T’rangiNdu ‘lah min pusuh ras peratenku, kuikutken Kam segedang geluhku. Nggo tangkas peratenNdu.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Mazmur 91 : 1 – 2.
    “ Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.”

Renungan

Di tengah-tengah pergumulan hidup ini, kita mengharapkan ada “tempat” berlindung yang aman, bukan hanya untuk fisik, tetapi juga untuk hati dan pikiran kita. Inilah yang menjadi penghibur dan peneguh hati, pikiran dan tubuh kita dalam menghadapi perjuangan hidup kita. Dalam renungan malam hari ini, kita mendengarkan undangan Pemazmur 91 ini.
Mazmur 91 merupakan suatu undangan untuk meneguhkan hati pendengarnya. Mereka diundang untuk berlindung kepada Allah. Di dalam tantangan yang berat sekalipun, mereka akan selamat karena berlindung pada Allah. Mereka ini di gambarkan sebagai orang yang duduk dan orang yang bermalam. Gambaran orang duduk memperlihatkan posisi tinggal diam, tidak berbuat apa-apa lagi, menunggu, berharap. Mungkin karena beratnya beban hati dan pikirannya sehingga orang ini sudah “terduduk”. Seperti ungkapan Pemazmur 137:1 “ Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion.” Gambaran orang bermalam memperlihatkan orang yang mau tinggal di suatu tempat karena dia merasa tempat itu membuat dia aman, bebas dari rasa takut dan selamat dari, baik dari ancaman penjahat, binatang buas dan dinginnya malam. Seperti yang dikatakan dalam mazmur 91 : 5, “Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang,” Orang-orang yang demikian, ketika menaruh harapannya dan menjadikan Yang Mahatinggi dan Yang Mahakuasa menjadi pelindung dan tempat bernaung, mereka akan selamat. Mereka akan mengakui bahwa Tuhan adalah tempat perlindungan mereka dan kubu pertahanan mereka, yang terus menerus mereka percayai. Oleh karena itu Pemazmur mengajak dan meneguhkan hati pendengar-pendengarnya untuk percaya dan berlindung kepada Allah.
Dalam situasi saat ini, mungkin kita sudah “terduduk” akibat beratnya beban pikiran dan hati kita. Kita mungkin juga kita tidak tahu lagi di mana tempat ‘bermalam’ yang aman bagi hati dan pikiran kita. Namun dari ungkapan Pemazmur ini, kita datang dan meyakini bahwa Tuhan-lah Pelindung dan tempat kita bernaung. Dalam perlindungan dan naungan Tuhan Allah kita akan selamat melewati ancaman baik masalah kesehatan, masalah pekerjaan, masalah kebutuhan hidup, masalah keharmonisan rumah tangga dan permasalahan lainnya.
Kita menjadikan Allah tempat perlindungan dan kubu pertahanan kita.
Tuhan Allah memberkati kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 302:1,2.
    1. Nginget perkuah Dibata si Mbelin, siisehkenNa man banta kin, ibas kerina dampar kegeluhen, i doni si dem keguluten. Endeskenlah kulanta man Dibata. Kerina si lit ibas geluhta, selaku persembahennta si nggeluh, em persembahen si ngena ateNa.
    2. Sabab bage me arusna kita kin ersembah man Dibatanta si mejin. Si nggo m’reken man banta manusia keg’luhen si mehuli ras badia. Endeskenlah kulanta man Dibata …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 2 Desember 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 274:1,3.
    1. Kupuji Kam o Tuhanku, perban keleng ateNdu. Ateku nggeluh badia, ngelawan kuasa dosa. Bage me sura-surangku, bere gegeh ras kuasa, gelah tetap perjingkangku.
    2. Madin ernalem man Tuhan asang man doni enda. La lit si tetap kai pe lang, bas Tuhan Jesus ngenca. Reh kami ngadap man baNdu, aloken kami o Tuhan. Kami si nggo tebusiNdu.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Mazmur 113 : 4 – 7
    “TUHAN tinggi mengatasi segala bangsa, kemuliaan-Nya mengatasi langit. Siapakah seperti TUHAN, Allah kita, yang diam di tempat yang tinggi, yang merendahkan diri untuk melihat ke langit dan ke bumi? Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur,”

Renungan

Salah satu tantangan hidup saat ini adalah merendahkan hati. Orang orang sudah terbiasa berlomba memperlihatkan dan mengangkat dirinya. Permasalahannya, ada orang yang berlomba dengan cara merendahkan atau melupakan hidup orang lain. Dalam situasi seperti ini, masa-masa Advent justru memperlihatkan kepada kita sikap merendahkan diri, bukan sekedar merendahkan hati. Merendahkan diri memperlihatkan hati, pikiran, sikap dan tindakan (keseluruhan hidup) seseorang yang walaupun memiliki kedudukan tinggi tetapi demi hidup sama seperti orang-orang yang rendah, maka dia meninggalkan kedudukannya tersebut. Inilah yang kita lihat dalam Mazmur 113 ini.
Di dalam Mazmur 113 ini diungkapkan pujian kepada Allah. Beberapa ukuran dipakai untuk mengambarkan kemasyhuran Allah. Yang pertama dipakai ukuran masa “sekarang ini dan selama-lamanya.” (Maz. 113:2) Yang kedua dipakai ukuran waktu, “Dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari” (Maz. 113:3) Yang ketiga dipakai ukuran tempat, “TUHAN tinggi mengatasi segala bangsa” (Maz 113:4). Dan yang keempat dipakai ukuran tinggi, kemuliaan-Nya mengatasi langit” (Maz. 113:4).
Hal ini memperlihatkan kepada kita betapa agung dan mulianya Tuhan Allah. Dia berkuasa di sepanjang masa, di segala tempat, di segala waktu dan berada di tempat yang tertinggi. Yang lebih mengherankan bagi kita dan yang membedakan Allah dari allah-allah lain adalah Allah yang berkuasa, agung dan mulia itu, merendahkan diri untuk menatap ke bumi. Allah merendahkan diri untuk “menegakkan orang yang hina dari debu dan menggangkat yang miskin dari lumpur.” Dalam hal ini disebutkan tempat hidup orang-orang yang hina dan miskin ini yaitu di debu dan lumpur. Mereka yang awalnya hidup di debu dan lumpur, tetapi karena Allah yang merendahkan diri maka sekarang Allah “mendudukkan dia bersama-sama dengan para bangsawan, bersama-sama dengan para bangsawan bangsanya.” (Maz. 113:8)
Dari ungkapan Pemazmur ini kita dapat memahami bahwa Allah bertindak dalam kasihNya bagi dunia ini. Demi kasihNya bagi dunia ini, Allah merendahkan diriNya dengan menatap dunia ini. Di dalam Tuhan Yesus Kristus, Allah merendahkan diriNya dengan hidup sebagai manusia. Tuhan Yesus Kristus mendampingi dan memperlihatkan kepada kita bagaimana kita hidup dalam kasih Allah. Petrus memperlihatkan salah satu makna kehadiran Tuhan Yesus Kristus dalam dunia ini. “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.”(1Pet. 2:21)
Kita rayakan Minggu Advent dengan mengingat betapa besar kasihNya bagi dunia ini. Demi kasihNya, Allah merendahkan diri, hidup sama seperti manusia dengan maksud mengangkat hidup manusia itu. Kita juga merayakan Advent dengan memberlakukan kasih dalam hidup kita. Untuk memberlakukan kasih itu, di tengah-tengah perlombaan diri saat ini, justru kita diingatkan untuk merendahkan diri. Energi, inspirasi dan motivasi kita dalam merendahkan diri adalah kehidupan Tuhan Yesus itu sendiri.
Tuhan Allah memberkati kita dalam merayakan minggu-minggu Advent ini.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 263:1,2.
    1. Adi kuidah ampar bintang terang, ras sora lenggur guntar kubegi. O Tuhanku ije ukurku mamang, ngidah b’linna k’rina tinepaNdu. Maka pusuhku e pehaga Kam, mbelin me Kam o Tuhanku. Maka pusuhku e pehaga Kam. O Tuhanku mehaga Kam.
    2. O Tuhanku, di k’rina ‘ku ukurken, perkuah ‘teNdu nebusi aku. Tuhan me kap man bangku nggo ib’reken, alu dareh Yesus si badia. Maka pusuhku e pehaga Kam…
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 1 Desember 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 205:1,2
    1. Rehlah min o Tuhan, sikap kami k’rina ersembah man baNdu jenda. Nusurlah min o Tuhan, bahan sikap k’rina, ukur kami pe badia. O Bapa, b’re gelah, daten pasu-pasu kami k’rina enda.
    2. Tuhan Dibatanta lit bas rumah enda, nembah kita k’rina baNa. Alu kehamaten mungkuklah man baNa, kula, tendi pe kerina. Aloken KataNa ras pasu-pasuNa, usekenNa banta.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Imamat 26 : 12
    “ Tetapi Aku akan hadir di tengah-tengahmu dan Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku.”

Renungan

Kehadiran sangat penting dalam membangun sebuah relasi. Inilah yang dinyatakan oleh Firman Tuhan dalam renungan malam hari ini. Firman Tuhan ini memperlihatkan dua hal bagi kita. Pertama, Tuhan Allah menyatakan berkatNya melalui kehadiranNya di dalam kehidupan kita. Kehadiran seseorang dapat ditunjukkan melalui kehadiran fisik dan kehadiran psikologis. Tuhan Yesus telah menyatakan kehadiran Allah secara fisik dalam dunia ini. Allah hadir sebagai manusia, lahir di kandang domba, dengan orang tua tukang kayu, melayani baik, dengan pengajaranNya, mujizatNya, bahkan melalui kematianNya di kayu salib. KebangkitanNya, KenaikanNya ke Surga dan turunnya Roh Kudus. Hal ini benar-benar memperlihatkan kehadiran Allah secara fisik di dalam dunia ini. Dan dengan pertolongan Roh Kudus, kehadiran fisik pada masa yang lampau sekarang menjadi kehadiran secara psikologis. Melalui Kuasa Roh Kudus, kehidupan Tuhan Yesus menjadi energi, inspirasi dan motivasi bagi kita dalam memperjuangkan kehidupan kita. Tuhan Yesus hadir secara psikologis di dalam kehidupan kita. Kedua. Firman Tuhan di atas mengatakan bahwa “Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku.” Hal ini menyatakan kepada kita bahwa Allah-lah yang menjadi sumber inisiatif untuk membangun relasi antara Allah dengan manusia. Manusia telah jatuh ke dalam dosa dan dibawah kuasa kematian. Namun demikian, karena besar kasihNya, Allah hadir dalam diri Tuhan Yesus Kristus untuk menyelamatkan manusia dari kematian kekal akibat dosa. Demikianlah, maka dapat dikatakan bahwa kehadiran Tuhan Allah dalam dunia untuk membangun relasi dan menguatkan relasi Allah dengan manusia. Relasi yang sudah hancur akibat dosa, kini dibangun kembali dan dipelihara Tuhan Allah. Allah menyatakan kembali bahwa Dia adalah Tuhan bagi kita dan kita menjadi umat Tuhan. Dengan adanya relasi ini, maka Allah menyatakan bahwa Allah memberikan berkat-berkatNya bagi kehidupan kita. Relasi ini juga menuntut tanggung jawab kesetian dari pihak manusia. Ada tanggung jawab dari pihak manusia yang harus dilakukanNya kepada Allah. Manusia hidup menyembah Allah, hidup seturut dengan kehendak Allah dan melakukan Firman Allah.
Kita jalani minggu-minggu Advent ini dengan menyadari bahwa Allah benar-benar hadir dalam kehidupan kita. Allah telah membangun kembali relasiNya dengan manusia. Dengan demikian ada berkat Allah dalam hidup kita dan ada tanggup jawab kesetian dari manusia. seperti Firman Allah dalam Mazmur 85: 12, “Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit.” Kehadiran Allah yang menbangun relasi dengan kita menjadi energi, inspirasi dan motivasi bagi kita dalam menjadi kehidupan manusia.
Tuhan Allah memberkati kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 271:1,3
    1. I doni “nda mbue kesusahen, bage pe lit ka nge perubaten, reh lah min kinirajanNdu. I Gereja si arus ersada, maka tangkas keg’luhen si mbaru, reh lah min kinirajanNdu. Reh lah min, reh lah min, reh lah min kinirajanNdu.
    2. Bas pusuh, kata ras perbahanen, kekelengen rasp e kebenaren. Reh lah min kinirajanNdu. Kam me kapen si mada si nasa, ibas Kristus bangsaNdu ersembah, reh lah min kinirajanNdu. Reh lah min …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan