Renungan Malam 30 November 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 165:1,2.
    1. Bas IA ngenca lit kepe kek’lengen si mbelin. Yesus tersilang seh mate ‘lah aku terkelin. Tetap ukurku, tek aku baNa. Keleng ateNa mbelin kuasaNa. IA njayamsa geluhku k’rina malemna di ras IA.
    2. Man baNa ernalem dage, begiken KataNa. ‘Di meriah tah gulut pe, tetap temaniNa. Tetap ukurta, tek aku baNa. Keleng ateNa mbelin kuasaNa. IA njayamsa geluhku k’rina malemna di ras IA.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata I Korintus 1 : 5 – 8.
    “ Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan, sesuai dengan kesaksian tentang Kristus, yang telah diteguhkan di antara kamu. Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karuniapun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus. Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus.”

Renungan

Sering kita mendengar istilah, ‘menunggu adalah pekerjaan membosankan”. Menunggu menjadi pekerjaan membosankan kaena kita di dalam posisi “berdiam diri”, tidak melakukan apa-apa, sedangkan tubuh kita memang dirancang untuk beraktivitas. Oleh karena itu modal menunggu adalah kesabaran. Terlebih lagi, ketika kita menunggu pertolongan untuk mengatasi persoalan kita. Menuggu bukan hanya persoalan membosankan tetapi juga telah menjadi persoalan kecemasan dan kekuatiran. Kita menunggu sambil merasakan ketakutan dan menganggap semua serba salah.
Dalam renungan malam hari ini, kita diingatkan tentang bagaimana kita menghadapi situasi “menunggu” itu. Paulus menyatakan kepada Jemaat Korinti, bahwa Tuhan Yesus Kristus akan datang kembali. Dalam menantikan kedatangan Tuhan Yesus Kristus kembali, Allah telah memberikan modal bagi Jemaat Korintus. Paulus menegaskan bahwa Tuhan Allah telah memperkaya Jemaat Korintus dalam segala hal, khususnya dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan. Artinya, pengenalan terhadap Tuhan Yesus Kristus telah membuat perubahan kehidupan dalam diri mereka. Paulus mengingatkan keadaan jemaat Krintus sebelum mereka dipanggil dan dipilih Allah. “ Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang.” (1 Kor 1:26) Jemaat Korintus telah diperlengkapi Allah dalam menantikan kedatangan Tuhan Yesus kembali. Dengan demikian,Jemaat Korinti tidak kekurangan dalam suatu karunia dalam menantikan pernyataan Tuhan Yesus Kristus.
Demikian juga halnya saat ini kita menunggu kedatangan Tuhan kembali. Tuhan Yesus telah datang ke dunia ini dalam rupa manusia . Dan Dia akan datang kembali pada waktu yang tidak dapat diketahui manusia. Saat ini kita merasakan bahwa waktu antara kehidupan kita dengan kedatanganNya, banyak peristiwa hidup yang terjadi. Seperti saat ini, kita mengalami kesulitan besar akibat pandemi ini. Misalnya kesulitan dalam hal kesehatan, ekonomi, persekutuan, keharmonisan rumah tangga dan sebagainya. Kesulitan-kesulitan hidup yang diperhadapkan dengan semakin mendekatnya perayaan-perayaan Natal dan Tahun Baru. Bertambah sedihlah hati kita ketika kita tidak dapat melakukan perayaan-perayaan Nayal dan Tahun Baru seperti selama ini.
Namun demikian, Allah bukannya membiarkan kita menunggu tanpa perlengkapan. Seperti Firman Tuhan ini, di dalam Tuhan Yesus Kristus, kita telah menjadi kaya dalam segala hal. Allah telah memberikan sukacita terbesar dalam hidup kita, yatu keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus. Tidak ada sukacita yang dapat melebihi sukacita karena keselamatan oleh anugrah Tuhan Yesus Kristus. Hidup kita dilengkapkan dengan kehadiran Tuhan Yesus dalam perjuangan hidup kita. Kita juga diperlengkapi dengan kebijaksana, kemampuan dan pengertian. Demikian juga, Allah memperlengkapi kita dengan memberikan jemaat Tuhan sebagai saudara-saudara kita.
Demikianlah kita menjalani masa-masa Advent ini dengan terus mengingat dan meyakini bahwa Allah telah memberikan perlengkapan bagi kita sehingga kita tidak berkekurangan dalam menantikan kedatangan Tuhan Yesus Kristus kembali. Dengan perlengkapan itu kita hadapi perjuangan hidup kita. dengan demikian, menunggu tidak menjadi membosankan dan mengkuatirkan. Tetapi kita menantikan kedatanganNya dengan sukacita. Tuhan Allah memberkati kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 305:1,2
    1. O Tuhan, Kam me penampat ibas geluhku. O Tuhan Kam me cicionku, bas aru ateku. Angin meter, udan meder, Kam me kubunku. O Tuhan Kam me ikutenku, segedang geluhku.
    2. Enterem imbang-imbangku bas pertibi e. Si atena nirangkenku ras Kam kap Tuhanku. Kawali min, cikeplah min, lah la ku bene. O Tuhan Kam me pengarapen segedang geluhku.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 29 November 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 324:1,3.
    1. Tuhan kap penalemenku, Ia si njayam geluhku. Ia kap sekawalku, la nggo kekurangen aku. Tuhan si mada si nasa. Tuhan saja sipehaga. Muliakenlah gelarNa, mari puji sembah Ia.
    2. Nggo terkelin jine aku, arah perkuah ateNdu. peratenNdu kudalanken, g’luhku e kupersembahken. Tuhan saja si mada si nasa.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Jesaya 57 : 15
    “ Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: “Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk.”

Renungan

Kita telah memasuki peringatan Minggu-Minggu Advent tahun ini dalam suasana pandemi covid-19 yang masih meningkat. Dalam suasana ini, jelas sudah terbayang, perayaan Advent dan Natal tahun ini tidak akan “semeriah” tahun lalu. Terbayang dalam pikiran kita, tidak ada kemeriahan pesta, sukacita berkumpul dengan keluarga besar dan jemaat, tidak ada “makan-makan” dan tidak ada “belanja-belanja” Natal, dan tidak ada liburan natal. Mungkin ini semua sulit untuk kita wujudkan dalam tahun ini. Di dalam situasi ini, hilangkah sukacita natal dan semangat natal dalam diri kita ?
Melalui bacaan renungan malam hari ini kepada kita disampaikan kembali tentang tindakan kasih Allah. Demi kasihNya terhadap umatNya, Allah merendahkan diriNya. Allah yang bersemayam di tempat yang tinggi dan kudus, namun Allah juga ada bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati. Dalam hal ini kita melihat dua kondisi manusia. Orang orang yang remuk adalah orang yang menderita karena keadaan kemiskinan mereka. Orang yang – orang yang remuk ini juga adalah orang-orang yang rendah hati, orang – orang yang sabar di dalam menghadapi kesengsaraan mereka. Allah melihat keberadaan mereka ini dan Allah hadir di tengah-tengah kehidupan mereka. Allah hadir untuk menghidupkan semangat orang yang rendah hati. Allah akan memberikan kedamaian berupa penyelamatan, ketenangan batin, dan membangkitkan harapan mereka yang rendah hati. Allah juga memberikan kesejahteraan kepada mereka remuk.
Di dalam Kitab Filipi, Paulus menyatakan kembali tindakan Allah ini di dalam Tuhan Yesus Kristus. “ yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Filipi 2:6-8)
Inilah tindakan Allah untuk mengasihi kita, umat manusia. Demi KasihNya, Tuhan Allah telah menjadi sama dengan manusia, di dalam rupa Tuhan Yesus Kristus. Allah tidak hanya berkarya dari tempat yang tinggi dan kudus, tetapi Allah hadir bersama manusia, merasakan penderitaan sebagai manusia, berjuang bersama manusia dan membebaskan manusia. Tindakan Allah ini-lah yang memberi semangat bagi kita untuk berjuang menghadapi keadaan remuk karena ketidakcukupan yang kita miliki. Dengan KehadiranNya di dalam dunia ini, kita tidak sendirian, tetapi ada “sahabat” yang memberi ketenangan hati bagi kita. Tindakan Allah ini haruslah tetap kita ingat dan rayakan. Advent ini kita peringati untuk meneguhkan iman, hati dan pikiran kita, bahwa di dalam Yesus Kristus, Allah telah bersama dengan manusia. Dengan kata lain, melalui peringatan Minggu Advent, kepada kita diingatkan, ditegaskan kembali dan diyakinkan kembali bahwa kasih Allah nyata dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Sehingga, di dalam Hari Natal, kita sungguh-sungguh merayakan dengan penuh sukacita dan bersemangat sebab kita sungguh yakin bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah Tuhan Allah yang hadir di dalam dunia ini. Dan yang paling utama melalui perayaan Natal ini adalah sukacita dan semangat dalam memperjuangkan kehidupan kita. Tuhan Allah memberikan sukacita dan semangat melalui peringatan Advent dan Natal tahun ini. Tuhan Allah memberkati kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 325:1,2
    1. Tuhan itengah-tengahta m’reken pasu-pasuNa. Maler desken lau si mbelin, lanai lit si terulin. Usekenlah min KesahNdu, temani geluh kami. Gegeh kami plimbarui, k’rina jadi mehuli.
    2. Tuhan itengah-tengahta, reh riahna ukurta. Reh tenengna pertendinta, reh damena pusuhta. Usekenlah min KesahNdu …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 28 November 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 374:1,2.
    1. Yesus ulu kegeluhenku, Kam me ngenca pengendesenku. Lalap tedeh ate pusuhku, kupehaga Kam bas geluhku. O Tuhan pernehen pusuhku, si ertedeh ate man baNdu. Kugelem pedah ras padanNdu, kusembah Kam ibas geluhku.
    2. Ku sembah Tuhan Penebusku, si mereken kekelengenNa. Alu tutus reh aku Tuhan ras kerina isi jabungku. O Tuhan pernehen pusuhku, si ertedeh ate man baNdu. Kugelem pedah ras padanNdu, kusembah Kam ibas geluhku.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata 1 Petrus 3:15.
    “Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat,”

Renungan

Kita telah tiba minggu akhir di bulan November ini. Pengalaman demi pengalaman hidup terus berlanjut. Dalam hal ini permasalahan-permasalahan hidup juga terus menerus menerpa kehidupan kita. Kita tidak lepas dari permasalahan hidup. Walaupun demikian keadaan hidup ini, kita tidak perlu menyesali kehidupan kita. Kita dapat memahami penderitaan hidup berdasarkan iman Petrus di dalam Kitab I Petrus ini.
Di dalam Kitab I Petrus ini, kita dapat melihat dua alasan yang menyebabkan penderitaan. Yang pertama adalah penderitaan karena sifat alamiah kemanusian kita. Dalam I Petrus 2 : 20 berbicara tentang penderitaan sebagai budak. Dalam kehidupan kita saat ini, kita menderita kesedihan, pikiran yang kacau, keletihan, penyakit. Yang kedua adalah penderitaan karena keimanan kita sebagai pengikut Ktistus. Di dalam 1 Petrus 3 : 14, Petrus berbicara tentang penderitaan karena melakukan kebaikan sebagai perintah iman. Dalam kehidupan kita saat ini keimanan kita sebagai orang Kristen dapat saja membawa penderitaan seperti di cemooh, diskriminasi dalam pekerjaan dan pendirian rumah ibadah.
Dalam situasi ini, salah satu jawaban Petrus adalah dengan menguduskan Kristus dalam hati. Kata “kuduskan” berarti menempatkan Kristus sebagai penentu keputusan-keputusan kita. Kehidupan, pengajaran dan tindakan Yesus Kristus menjadi dasar pertimbangan-pertimbangan kita dalam mengambil keputusan. Kata hati merujuk kepada pusat kehendak. Dengan demikian menguduskan Kristus dalam hati berarti kehidupan, pengajaran dan tindakan Yesus berada di pusat kehendak untuk menuntun kita dalam mengambil keputusan kita. Hal ini tampak ketika kita lebih memilih memberikan jawaban dengan lemah lembut dan hormat kepada mereka yang mencemooh kita. Kita memahami perkataan lemah lembut dan hormat berdaasarkan pandangan Petrus dalam I Petrus 2: 12, yaitu, “Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.” Kata lemah lembut juga dapat kita pahami berdasarkan 1 Petrus 3:9, yang berkata, “dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat…”
Walaupun saat ini kita mengalami penderitaan, kita hadapi itu dengan menempatkan Kristus di pusat kehendak kita. Dengan demikian, keputusan-keputusan kita dalam menghadapi penderitaan itu tetap dibimbing oleh Tuhan Yesus Kristus. Kita akan memilih cara menghadapi penderitaan hidup dengan tetap melakukan kebaikan dan menjadikan hidup kita sebagai kesaksian tentang Yesus Kristus bagi orang lain.
Di dalam ibadah minggu esok, kita terus datang kehadapan Tuhan Allah dan memohon tuntunan Allah dalam menghadapi kehidupan kita. Kita menguduskan Tuhan Yesus dalam hati kita. Mari kita persiapkan tubuh, roh dan jiwa kita menyembah Allah.
Tuhan Allah memberkati kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 321:1,3
    1. Si sembahlah min, Tuhan si mbelin, endekenlah min, enden-nden pujin. Tuhan Dibatanta ingan cicio, sembahlah Ia ola kita menggo.
    2. Seh kal ulina penjayamenNdu, terang ras gelap e nuduhkenca. Udan ras lego k’rina kap ndatkenca. Kuasa kekelengenNa mbelin tuhu.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 27 November 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 324:1,2.
    1. Tuhan kap penalemenku, IA si njayam geluhku. IA kap pe sekawalku la nggo kekurangen aku. Tuhan si mada si nasa. Tuhan saja si pehaga. Muliakenlah gelarNa, mari puji sembah IA.
    2. Kune jumpa si mesera, kiniteken labo pera. Tetap aku sampatiNa, k’leng ateNa la erleka. Tuhan si mada si nasa.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Efesus 3 : 16
    “ Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu,”

Renungan

Lit istilah nina, “Bayak tapi nggeluh musil.” Istilah enda labo guna nuduhken kerendahaan hati, hidup sederhana. Tapi istilah ini lebih memperlihatkan orang yang memiliki banyak hal tetapi tidak menyadarinya dan tidak memakai apa yang pada dirinya untuk menghadapi permasalahan hidupnya sehingga tetap mengalami kesulitan hidup. Kita perlu tetap diingatkan untuk menyadari modal itu dan memakainya dalam menghadapi kehidupan kita.
Dalam bacaan renungan malam hari ini, kita mendengarkan doa Paulus kepada Allah Bapa. Paulus berdoa agar Allah Bapa menguatkan dan meneguhkan batin orang-orang percaya di Efesus. Hal ini berarti kepada setiap orang percaya telah diberikan “batin”. Namun permasalahannya, yang dilihat Paulus, adalah kurang kuat dan teguhnya kita mempergunakan batin itu. Allah sudah memberikan modal dalam kehidupan kita, hanya saja modal itu terkadang tidak kita kembangkan. Lalu apa yang dimaksud dengan “batin”. Kata “batin” menujuk kepada tiga hal. Pertama. Kata batin menujuk kepada akal budi; Akal budi berarti kemampuan untuk membedakan mana yang baik-buruk dan benar-salah, memahami situasi yang ada dan melihat solusi dari setiap permasalahan. Kedua. Kata batin merujuk kepada kesadaran, hati dan pikiran yang lebih sensitif terhadap keadaan diri sendiri, kepada hati dan pikiran orang lain dan kesadaran akan situasi lingkungan hidup kita. Ketiga. Kata batin juga berarti adanya kemauan. Kita memiliki akal budi dan kesadaran diri, tetapi terkadang kemauan kita kurang kuat menopang kita untuk melakukannya. Oleh karena itu Paulus memohon kiranya Roh Allah berdiam dalam diri orang percaya sehingga orang percaya dikuatkan dan ditenguhkan dalam mempergunakan akal budi, kesadaran dan kemauan dalam menjalani kehidupan kita.
Demikian juga dalam kehidupan kita. Kesulitan yang kita alami sering bertambah besar, bukan karena tidak adanya modal, tetapi lebih karena tidak dipakainya modal itu dalam menghadapi kesulitan itu. Terlalu besar perhatian kita terhadap permasalahan hidup kita sehingga lupa modal yang ada dalam hidup kita. Misalnya, karena semakin binggungnya kita, maka kacamata yang ada dikepala kita, tidak kita ingat dan kita cari di tempat-tempat lain. Tetaplah kita memohon agar dalam kekayaan kemulianNya, kita dipenuhi oleh RohNya sehingga kita dikuatkan dan diteguhkan untuk memakai modal yang telah diberikan Allah bagi kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 451:1,2.
    1. Malerlah pasu-pasuNdu bagi nipadankenNdu. Gegeh ras ukur si paguh, tetap iberekenNdu. Pasu-pasuNdu em ulu gegeh kami. enggo kap maler me tuhu. Si ndemi geluh kami.
    2. Malerlah pasu-pasuNdu g’luh kami jadi baru. Sorana bagi lau maler mpeteneng ukur kami. Pasu-pasu Ndu…
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 26 November 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 368:1,2
    1. Si puji Tuhan Dibatanta, kataken bujur baNa. Sabab Ia si merekenca, pasu-pasu man banta. Mbelin ras mulia kekelengen Tuhan ibas doni enda. Ajari o Tuhan kami k’rina anakNdu, naksiken kerina perbahanenNdu.
    2. Geluh kami meriah tuhu, k’rina si k’rajangenNdu. Sabab kalak si nembah baNdu datken pasu-pasuNdu. Mbelin ras mulia kekelengen Tuhan ibas doni enda. Ajari o Tuhan kami k’rina anakNdu, naksiken kerina perbahanenNdu.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Pengkotbah 1:5-8
    “Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali. Angin bertiup ke selatan, lalu berputar ke utara, terus-menerus ia berputar, dan dalam putarannya angin itu kembali. Semua sungai mengalir ke laut, tetapi laut tidak juga menjadi penuh; ke mana sungai mengalir, ke situ sungai mengalir selalu. Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar.

Renungan

Kita mengejar impian kita dengan sekuat tenaga. Banyak yang kita korbankan demi tercapainya impian kita tersebut. Lalu kita berhasil dan mendapatkan sukacita itu. Tentunya ada kebahagiaan besar karena keberhasilan kita. Berhari-hari kita menikmati kebahagiaan itu, minggu seminggu atau dua minggu. Lalu setelah itu, kebahagiaan itu mulai menyusut nikmat bahagianya. Dan terlebih lagi, bila kita diperhadapkan dengan permasalahan lain, maka bisa jadi hilanglah rasa bahagia itu. Kita lupa rasanya bahagia, karena sekarang kita sibuk memikirkan masalah kita dan mencoba mengejar kebahagiaan lagi. Sepertinya, hidup tidak pernah selesai-selesai; selalu mengejar kebahagiaan, kebahagiaan di dapat, kebahagian berlalu, mengejar kebahagiaan lagi. Apabila seperti ini cara kita memahami kehidupan ini, tentunya kehidupan ini sangat membosankan.
Hal inilah yang diungkapkan Pengkotbah ini. Pengkotbah menunjukkan ada orang yang memahami kehidupan ini membosankan. Seperti perjalanan matahari yang terus menerus, tidak henti-hentinya, perjalanan angin yang berputar-putar dan aliran air ke laut yang tidak tidak pernah berhenti tetapi laut tidak menjadi penuh. Demikianlah perjalan kehidupan manusia. Pekerjaan manusia tidak pernah selesai-selesai, tetapi manusia tidak pernah mampu melengkapi semua kebutuhannya dan mempertahankan semua yang ada pada dirinya. Manusia tidak pernah puas, tidak pernah kenyang. Artinya, manusia hanya “pernah” puas dan kenyang, tetapi manusia tidak pernah puas dan kenyang selama-lamanya. Setelah manusia puas dan kenyang, maka manusia butuh dan lapar lagi. Demikian terus menerus kehidupan manusia, tiada hentinya, sampai benar-benar berhenti.
Dari yang diungkapkan Pengkhotbah ini, kita dapat belajar beberapa hal :

  • Jangan menyesali kehidupan yang ada dan menggerutu dengan perjuangan yang harus kita jalani. Memang perjuangan manusia tiada hentinya. La padah ninta, “latih nari nggeluh enda”. Kita bisa menerimanya, “nggeluh latih kin.” Dengan demikian kita mampu menghargai kehidupan yang ada.
  • Kita tahu bahwa diri kita bisa saja mengalami kebosanan. Dengan demikian, kita diingatkan untuk mampu mengelola kebosanan itu sehingga kebosanan itu tidak menjerumuskan kita kepada perbuatan-perbuatan yang justru membuat kita tidak dapat menikmati kebahagiaan lebih lama lagi. “Mesera kentisik la ngasup piah dungna terpaksa mesera rasa lalap.” Misalnya ada orang yang menghilangkan kebosanan dengan minum-minuman keras atau narkoba yang pada gilirannya akan membuat dia sakit, mengalami ketergantungan dan penderitaan yang berkepanjangan.
  • Kita semakin mencintai kehidupan kita dan menikmati kebahagian, selagi ada kesempatan untuk berbahagia. Di dalam Pengkhotbah 2: 24-25, dikatakan, “Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa inipun dari tangan Allah. Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia?”
    Akibat pandemi ini, bisa jadi hidup kita dalam situasi sulit dan menjemukan. Namun demikian, kesulitan dan kebosanan itu jangan membuat kita kehilangan kesetian iman dan daya juang kita. Di dalam situasi yang seperti sekarang ini, mari kita jalani kehidupan dengan tetap menghargai kehidupan yang diberikan Allah kepada kita, mengelola kebosanan kita dengan benar dan menikmati setiap kesempatan yang ada untuk berbahagia. Tuhan Allah memberi kita hikmat untuk menjalani kehidupan kita. Amin.
  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 399:1,2
    1. Mari surak puji Tuhan endeken nde enden m’riah, o surga doni kerina. Mari rende muji Ia alu ukur si meriah, puji gelarNa si Badia. La ‘ngadi-ngadi ku puji Kam Tuhan, bas k’rina dampar kegeluhen. Ersurak m’riah, pusuhku ibas Kam. Terpuji Tuhan rasa lalap.
    2. Mari k’rina manusia si puji dage Dibata, rendelah ersuraklah kita k’rina. Ersadalah ukurta e mujiken gelar Dibata, ersurak dage kita k’rian. La ‘ngadi-ngadi …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 25 November 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 202:1,5
    1. Ernalem gelah man Yesus, kula ukur tendingku. Endesken geluhndu baNa, keleng ateNa bandu. Ernalem gelah, tutus min gelah. O Yesusku bahan aku ernalem gelah.
    2. Ibas picet, kesusahen, mungkuk ku adepenNa. Ola gegeh ipenalem, tapi pasu-pasuNa. Ernalem gelah, tutus min gelah. O Yesusku bahan aku ernalem gelah.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Ulangan 5 : 32-33
    “ Maka lakukanlah semuanya itu dengan setia, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri. Segenap jalan, yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, haruslah kamu jalani, supaya kamu hidup, dan baik keadaanmu serta lanjut umurmu di negeri yang akan kamu duduki.”
    Renungan

Lit istilah kalak Karo nina, “mberat la erbaban”. Artinya, seseorang yang merasakan beban yang berat, tetapi bukan karena ada benda berat yang dibawanya, tetapi lebih karena hati dan pikiran yng tertekan berat. Mungkin istilah sesuai dengan situasi yang kita hadapi saat ini. Hati dan pikiran kita ditekan berat. kesulitan-kesulitan hidup yang kita alami, membuat berkurang kekuatan, kemampuan dan akal pikiran kita untuk berkembang. Langsung lemah semangat dan buntu akal pikiran kita untuk melihat hal lain yang harus kita kerjakan untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Di pihak lain, kebutuhan kita semakin mendesak untuk dipenuhi. Ayub mengambarkan penderitannya dengan mengtakannya dalam Ayub 33:19-20, “Dengan penderitaan ia ditegur di tempat tidurnya, dan berkobar terus-menerus bentrokan dalam tulang-tulangnya; perutnya bosan makanan, hilang nafsunya untuk makanan yang lezat-lezat;” Di tempat tidurpun dia tidak bisa tenang, hati dan pikirannya terus menerus bentrok dan dia kehilangan nafsu makan. Apa yang harus kita lakukan ?
Firman Tuhan yang kita baca malam hari ini merupakan penegasan Allah kepada bangsa Israel yang telah bebas dari tanah Mesir. Bangsa Israel saat itu berada di daerah gunung Sinai menerima sepuluh perintah Allah. Inilah ketetapan yang diberikan Allah kepada bangsa Israel. Dengan ketetapan ini maka Allah mengikatkan diriNya dalam sebuah perjianjian bahwa Allah menjadi Allah bangsa Israel dan bangsa Israel menjadi milik khusus Allah. Bangsa Israel haruslah tetap setia menjalankan ketetapan Allah. Dengan demikian Allah tetap hadir memberkati kehidupan bangsa Israel. Berkat inilah yang membuat bangsa Israel dapat hidup, baik keadaannya dan tetap meenmpati tanah yang dijanjikan Allah bagi mereka. Bangsa Israel tidak boleh menyimpang ke kanan atau ke kiri. Justru dengan tetap melakukan kehendak Allah maka bangsa Israel dapat hidup, baik keadaannya dan tetap menempati tanah perjanjian itu.
Firman Tuhan yang dikatakan Allah kepada bangsa Israel, tetap berlaku bagi kita saat ini. Di dalam Tuhan Yesus Kristus, kita telah dijadikan Allah menjadi anak-anakNya, bangsa yang khusus menjadi milik Allah. Oleh karena itu, ketetapan Allah yang berlaku atas bangsa Israel juga berlaku bagi kita. Allah adalah kita dan kita adalah umat Allah. Dari pihak kita, kita harus memperlihatkan kesetian kita melakukan kehendak Allah. Dengan demikian, Allah tetap hadir dalam kehidupan kita, memberkati kehidupan kita. Demikianlah kita jalani kehidupan kita. Walaupun, mungkin kita telah kehilangan kekuatan, kemampuan dan akal pikiran untuk menemukan jalan lain memenuhi kebutuhan hidup kita, satu hal yang tetap kita percayai adalah tetap setia melakukan yang dikehendaki Allah. Justru hal inilah yang membuat kita hidup, baik keadaan kita dan lama waktu kita menikmati berkat-berkat Allah.
Kita teruskan perjuangan kita, walaupun pergerakan hidup kita terasa melambat, walaupun perlahan, tetapi tetaplah setia melakukan kehendak Allah. Tuhan Allah memberkati kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 168:1,2
    1. Tegu aku o Tuhanku ibas dalan mesera. La lit ngasup ras gegehku, b’re min tanNdu negusa. Roti surga, roti surga, tetap b’reken man bangku. Tetap b’reken man bangku.
    2. Lau si nggeluh b’re min elah maka aku megegeh. ‘Tah kai jadi bas geluhku, Kamlah arah lebengku. O Tuhanku, O Tuhanku, Kam me kap sekawalku, Kam me kap sekawalku.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 24 November 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 360:1 (3x)
    Ibas Tuhan aku megegeh, Tuhan me kupujiken. Tuhan me jadi gegehku, ibas IA lit kesenangen. Ibas IA lit kesenangen.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Mazmur 103 : 5 – 6.
    “ Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali. TUHAN menjalankan keadilan dan hukum bagi segala orang yang diperas.”

Renungan

Perjanjian Lama sering memaknai kehidupan berdasarkan gambaran burung rajawali. Burung rajawali dilihat dari segi ketangkasannya menyambar buruannya, kecepatannya, kekuatannya mendukung anak-anaknya. Dengan tidak perlu banyak mengepakkan sayapnya, tetapi dengan tetap menahan kepakan sayap yang terbuka, burung rajawali mendapat bantuan udara untuk terbang lebih tinggi lagi. Demikianlah Kitab Jesaya 40:31 menggambarkan kekuatan baru bangsanya, semakin lama semakin tinggi, seperti rajawali yang terbang naik dengan kekuatan sayapnya. Bacaan renungan malam hari ini juga memperlihatkan kepada kita kehidupan umat Tuhan yang diperbaharui Allah, seperti burung rajawali.
Di dalam Mazmur 103 ini, Pemazmur mengundang jemaat memuji Allah. Pemazmur mengungkapkan alasannya berdasarkan pengalamannya dan pengalaman bangsa Tuhan. Di dalam ayat 2-5, Pemamzur merasakan Allah telah mengampuni, menyembuhkan, menebus, memahkotai dan memenuhi hasratnya. Di dalam ayat 6 – 19, Pemazmur berbicara tentang belas kasihan Allah secara umum terhadap bangsaNya dan dunia ini.
Khususnya, pada ayat 5, Pemazmur mengakui bahwa karena pertolongan Allah-lah sehingga dia merasakan hari-hari hidupnya dipenuhi dengan kebaikan. Selama ini Pemazmur mengalami sakit parah yang membawa dia dekat pada lubang kubung. Hasratnya dipenuhi dengan kerinduan akan kesembuhan dan kebaikan hidup. Dan sekarang hasratnya itu telah dipenuhi Allah dengan memberikan hari-hari baik dalam hidupnya. Allah telah mengampuni dosa-dosanya, menyembuhkannya dari sakit, menebusnya dari lubang kubur dan memahkotai dirinya dengan kasih setia dan rahmat. Hari-harinya sekarang kembali hidup lagi. Keadaan ini membuat Pemazmur seakan muda kembali. Semangat, harapan dan kekuatan masa muda meliputi jiwanya, seperti burung rajawali.
Pengalaman dirinya di kasih Allah juga merupakan pengalaman bangsaNya dan orang-orang yang takut akan Allah. Pemazmur menunjukkan bahwa Allah itu baik, bagi dirinya, bangsaNya dan dunia ini. Pengalaman dirinya dan pengalaman bangsaNya-lah yang mendorong Pemazmur mengundang jemaat memuji Allah.
Seturut dengan pengalaman Pemazmur ini, tetaplah kita yakin bahwa TUHAN itu baik bagi kita, bagi dunia ini. Hasrat kita untuk merasakan kebaikan Allah tetap akan dipenuhi Allah. Oleh karena kasih dan kebaikan Allah maka kita akan merasakan hari-hari kita “kembali hidup lagi”. Semangat, harapan dan kekuatan kita dipulihkan Allah kembali. Kita teruskan perjalanan hidup kita dengan keyakinan kasih dan kebaikan TUHAN tetap nyata dalam hidup kita. Tuhan Yesus memberkati kehidupan kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 307:1,2
    1. O Tuhanku, Kam me permakanku, emaka la kekurangen aku. Ku mbal-mbal m’ratah aku babaNdu, ipesenang senangNdu geluhku. Permakanku sinjayam geluhku. Malem ateku senang tuhu. KelengNdu tetap maler man bangku, Kam me Tuhanku, Permakanku.
    2. IteguNdu kempak lau si maler, ibahanNdu ateku nggo malem. E maka tedeh ate tendingku kempak keg’luhen si sikapkenNdu. Permakanku sinjayam geluhku. Malem ateku senang tuhu. KelengNdu tetap maler man bangku, Kam me Tuhanku, Permakanku.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 23 November 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 201:1,4.
    1. Malem ate tuhu-tuhu, si ernalem man baNdu. Kam Dibata sinjadiken langit ras doni enda. SalsaliNdu pusuh kami, maka t’rangndu tergejap. Kalak si tek la kap bene, ban kelengNdu e tetap.
    2. Aloken Kamlah o Bapa, kuendesken geluhku. KesahNdu min ngajarisa, lah kueteh nembah baNdu. Pasu – pasu min kerina, daging, ukur, tendingku. Gelah arah tan ras kata, ipujina gelarNdu.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Mazmur
    “Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu.”

Renungan

Kita hidup di tengah situasi yang menuntut keteguhan hati dan kekuatan pikiran. Kita sedang menghadapi beratnya beban hati dan pikiran kita. Kita menghadapi tantangan, baik secara ekonomi, tantangan kesehatan dan ketenteramen dalam keluarga kita. Terlebih dalam mengelola hati dan pikiran di saat kita menyaksikan orang-orang yang kembali kepada Allah akibat pandemi covid-19 ini. Kita beranggapan situasi sudah mulai membaik, karena kita melihat banyak orang sudah semakin “bebas” beraktivitas tanpa mematuhi protokol kesehatan. Situasi belumlah membaik. Oleh karena itu kita terus membutuhkan kekuatan dalam menghadapi tantangan ini.
Mazmur 34 ini bertemakan ucapan syukur Pemazmur atas pembebasan yang dilakukan Allah dalam hidupnya. “Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku.” (Mazmur 34:5) Pengalaman pembebasan ini memberikan hikmat bagi Pemazmur tentang cara hidup yang baik dan mendorong Pemazmur untuk mengajak orang lain memandang Allah, berharap kepada Allah.
Pemazmur mengajak orang lain untuk menujukan pandangannya kepada Allah dengan penuh perhatian, mencari perlindungan kepada Allah dan menanti-nantikan pertolongan Allah. Pemazmur telah mengalaminya dan dia tidak mendapat malu karena berharap kepada Allah. Allah telah menjawab seruannya dan melepaskannya dari segala kegentarannya. “Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya. Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka.” (Maz. 34:7-8) Oleh karena itu Pemazmur mengajak orang lain untuk memuliakan Allah. “Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya!” (Maz. 34:4 ITB)
Berdasarkan pengalaman pembebasan Allah ini, Pemazmur juga mengajarkan cara hidup yang baik kepada orang lain. “Marilah anak-anak, dengarkanlah aku, takut akan TUHAN akan kuajarkan kepadamu! Siapakah orang yang menyukai hidup, yang mengingini umur panjang untuk menikmati yang baik? Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu; jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya!” (Maz.34:12-15) Mengapa Pemazmur mengajarkan hal ini ? Pemazmur mengimani bahwa “Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong; Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya” (Maz. 34:15;17)
Kita teruskan perjalanan kehidupan kita dengan pandangan yang tertuju kepada Allah dan hidup takut akan Allah. Kita percaya Allah memahami semua kegundahan hati dan pikiran kita dan Allah mendengar seruan permohonan kita. Kita menjadi kuat, tidak akan mendapat malu dan bahkan akan merasakan kebahagiaan karena kebaikan Tuhan, ketika kita berharap kepada Allah. Sebab Allah mendengarkan seruan permohonan orang yang takut akan Allah. Tuhan Allah memberkati kita. Amin.

  1. Rende KEE GBKP No. 238:1,2.
    1. Ibas ndalani perdalanen geluh, kiniseran pe reh megati ngupuh. Si cengkal ukur, ras si mambur iluh, bereNdu teneng gelah banci tunduh. Kesah ras daging rikut pe ras tendi kempak DIbata k’rina ndesken kami. E maka Kam lah tetap singkawali, ‘lah daging bugis bas medak pepagi.
    2. Segedang wari kami enggo latih, paksana medem enggo ka me kap seh. IkawaliNdu min sangana tunduh, ‘lah suang gegeh adi baNdu badeh. Kesah ras daging …
  2. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 22 November 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 335:1,2
    1. Tuhanku si ngaturkenca, Tuhanku si ngajarisa, Tuhanku jadi gurungku, ibas kerina geluhku.
    2. La lit ngasup ras gegehku, ndalani wari-waringku, tundalenku kap Dibata si perkuah ras erkuasa.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Mazmur 84 : 12 – 13.
    “ Sabab TUHAN Dibata kap matawari ras ampang-ampang si enteguh, iberekenNa man banta kehamaten ras lias ateNa. La ia rahan-ahan mereken si mehuli, man kalak si ngelakoken si ngena ateNa. O TUHAN si Mada Kuasa, malem kal ate kalak si tek baNdu.”

Renungan

Kita jalani kembali aktivitas kita di minggu ini. Setelah pada hari Kamis, 19 November, seluruh jemaat GBKP menghadapi kenyataan bahwa Ketua Moderamen GBKP periode 2015-2020 telah kembali ke hadapan TUHAN Allah. Ada rasa kehilangan yang mendalam dan dalam keterkejutan kita, serasa terhenti sejenak kehidupan kita. Dalam situasi ini, kita tetap percaya Allah memerlihara dan melindungi kita. Kita dapat belajar dari ungkapan Pemazmur dalam renungan malam hari ini.
Mazmur ini merupakan nyanyian kerinduan akan tempat kehadiran Tuhan. Alasan kerinduan itu ditemukan pada Tuhan sendiri. Pemazmur meyakini dan merasakan kehadiran dan perbuatan Tuhan itu seperti kehadiran matahari dan sebagai perisai. Demikianlah Pemazmur menggambarkan Kasih dan Kuasa Allah itu. Karena kuasa dan kasih Allah-lah yang menerangi semua mahkluk maka semua mahkluk memperoleh kehidupan. Kuasa dan Kasih Allah-lah yang mengatur paksa-paksa kehidupan semua ciptaan Allah. Kuasa dan Kasih Allah tetap di dalam dunia ini. kuasa dan Kasih Allah menjadi sumber kebaikan hidup semua mahkluk. Pemazmur meyakini dan merasakan Allah adalah perisai yang melindungi kehidupannya dari bahaya. TUHAN adalah perlindungan dalam bahaya.
Pemazmur juga merasakan kebaikan Allah terus menerus dalam kehidupannya. Allah tidak setengah-setengah dalam mengasihi kehidupannya. Pemazmur merasakan bahwa Allah tidak menunda-nunda kebaikanNya di setiap pergumulan kehidupan Pemazmur. Oleh karena itu, Pemazmur mengatakan bahwa kebahagiaannya ada di dalam TUHAN. Pemazmur mengungkapkan berbahagialah mereka yang percaya kepada Allah.
Berdasarkan pengalaman iman Pemazmur ini, kita diajak untuk terus mempercayakan perjalanan kehidupan kita kepada kuasa dan kasih Allah. Kasih dan Kuasa Allah itu dapat kita gambarkan seperti matahari dan perisai dalam kehidupan kita. Allah memberi kehidupan kepada kita, menentukan dan mengatur waktu kehidupan kita, sumber kebaikan hidup kita dan melindungi kita dalam bahaya. Allah tetap mengasihi kita dan tidak berlambat-lambat dalam memelihara kehidupan kita.
Enda ka me pengarapennta maka kuasa ras keleng ate Dibata tetap ngarak kegeluhen Nora Pdt. Agustinus Purba, anak-anak, Thea, Louis, Pascal, kerina keluarga bage pe perpulungen GBKP enda. Dalam keyakinan TUHAN adalah matahari dan perisai kita, kita percaya TUHAN Allah tetap memelihara dan melindungi Nora Pdt. Agustinus Purba, anak-anak, keluarga dan jemaat GBKP.
Kita juga meyakini dan mempercayakan hidup kita kepada Allah. Kita jalani kembali kehidupan kita dalam minggu ini dalam penyerahan diri pada pemeliharaan dan perlindungan TUHAN Allah. Bersama TUHAN Allah-lah maka kita dapat merasakan kebahagiaan dalam kehidupan kita.
Tuhan Allah memberkati kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 369:1,2
    1. O Dibata Kam pengarapenku, malem kal ateku ibahanNdu. Perban e kupuji Kam Tuhanku, rasa lalap seh rasa lalap.
    2. O Tuhan, Kam me kap kecionku. Tupung aku ‘bas kiniseranku. Perban e kupuji Kam Tuhanku, rasa lalap seh rasa lalap.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan