Renungan Malam 14 November 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 291:1,3
    1. M’riah ukur kami o Bapa, nembah ‘rjimpuh ertoto baNdu. Kam o Tuhan ipuji kami, ermulia gelarNdu. Bengket kami o Tuhan, ngadap kulebeNdu. Reh kami muji-muji gelarNdu Tuhan si Badia.
    2. Bujur ning kami baNdu, ban keleng ateNdu. IcukupiNdu k’rina si perlu. Mbelin kal kuasaNdu. Bengket kami o Tuhan …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata I Samuel 12 : 24
    “ Hanya takutlah akan TUHAN dan setialah beribadah kepada-Nya dengan segenap hatimu, sebab ketahuilah, betapa besarnya hal-hal yang dilakukan-Nya di antara kamu.”

Renungan

Allah menciptakan kita memiliki rasa takut. Seberani-beraninya manusia, mereka juga memiliki ketakutan. Hanya saja terkadang rasa takut itu ditempatkan pada hal-hal yang tidak pada tempatnya. Ada orang yang pada peluru dia tidak takut, tetapi melihat jarum suntik dia gemataran. Menghadapi orang banyak banyak, dia berani tetapi melompat ketika melihat kecoa. Kita lebih takut akan perkiraan kita ketimbang pada kuasa yang mengatur kehidupan kita. Dalam hal ini kita melihat dalam hal apa kita seharusnya takut.
Bagian bacaan Firman Tuhan yang menjadi renungan malam hari ini merupakan bagian dari perikop pidato perpisahan Samuel. Samuel sudah menyelesaikan tugasnya. Bangsa Israel sekarang telah memiliki seorang raja. Rajalah yang akan memimpin mereka. Nina Samuel, “Kerina pagi erdalan alu mehuli adi ipahagandu TUHAN Dibatandu, isembahndu IA, ibegikenndu KataNa, ras ipatuhindu kerina PedahNa, bage pe kam adi kam ras rajandu ngikutken IA.” (I Samuel 12:14). Oleh karena itu Samuel menegaskan agar bangsa Israel dan raja mereka harus takut akan Allah dan menyembah Allah. Hal ini juga karena mengingat kebaikan yang telah dilakukan Allah dalam kehidupan mereka.
Dari apa yang dikatakan Samuel ini kita melihat ada dua hal. Pertama, takut dan menyembah Allah karena banyak yang telah dilakukan Allah dalam kehidupan mereka. Kedua, takut dan menyembah Allah merupakan jaminan masa depan yang baik dalam kehidupan mereka.
Demikian juga dalam kehidupan kita saat ini, kita takut akan Allah dan menyembah Allah. Ketika rasa takut meliputi manusia maka biasanya manusia menjauh atau menghindari sesuatu yang menakutkan itu. Takut kepada Allah justru membuat manusia datang kepada Allah. Dalam takut dan menyembah Allah ada rasa takjub dan hormat. Allah-lah pencipta kita. Allah memiliki kita dan berkuasa atas kehidupan kita. Takut dan menyembah Allah karena kita merasakan betapa banyak kebaikan Allah dalam hidup kita dan di dalam Allah kita memperoleh jaminan kebaikan hidup masa depan kita. Kita datang dengan kerendahan hati dan memasrahkan diri kepadaNya. Mengimani dan mengamini Tuhan sebagai Juruselamat. Memahami murka Allah terhadap dosa dan betapa dahsyatnya penghakimanNya terhadap dosa. Mendorong kita hidup berkenan kepadaNya, mengikuti jalanNya, melayaniNya dan mengasihiNya. Takut akan Allah berarti mempercayai dan mengakui kuasa Allah dalam hati, pikiran, perkataan dan perbuatan kita.
Mari kita persiapkan diri kita dalam ibadah minggu kita pada esok hari. Ibadah kita merupakan salah satu bagian dari takut akan Allah dan menyembah Allah. Kita persiapkan tubuh, roh dan jiwa kita untuk beribadah minggu esok hari. Tuhan Yesus memberkati kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 334:1,2
    1. Tuhan kap si empuna geluhta, gegehta pe IA simerekenca. Kiniteken pe ras pemetehta e pe IA sinjujurkenca. IA kap erbanca kita sanggap, tetaplah man IA kita ngarap. ‘Di reh susah b’reNa erpang luah, tendi kula mejuah-juah.
    2. Dage tetaplah bulat ukurta, geluhta pe lalap min erguna. Lagu langkah pe la sia-sia, gelar Tuhanlah ermulia. Adi jumpa kita si mesera, pengarapen ula kal min pera. Kune riah ukur kita jumpa, nehken bujur ula kal lupa.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 13 November 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 263:1,2
    1. Adi kuidah ampar bintang terang, ras sora lenggur guntar kubegi. O Tuhan-ku ije ukurku mamang, ngidah b’linna k’rina tinepaNdu. Maka pusuhku e pehaga Kam, mbelin me Kam o Tuhanku. Maka pusuhku e pehaga Kam, o Tuhanku mehaga Kam.
    2. O Tuhanku, ‘di k’rina ‘kuukurken, perkuah ‘teNdu nebusi aku. Tuhan me kap man bangku nggo ib’reken, alu dareh Yesus si badia. Maka pusuhku e pehaga Kam,
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Mazmur 19 : 2 – 5.
    “ Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari, “

Renungan

Allah sungguh mahakuasa dalam memelihara kehidupan kita. Di tengah-tengah kesulitan hidup kita dan rutinitas hidup yang melelahkan ini, Allah tetap memelihara kehidupan kita. Allah memelihara kehidupan kita dengan memberikan pengertian-pengertian yang berguna untuk membangun kehidupan kita. Walaupun bukan melalui kata-kata seperti yang keluar dari mulut manusia, walaupun “dia” tidak bersuara, tetapi melalui peranannya, “dia” telah memberikan kebijaksanaan hidup bagi manusia. Inilah yang dilakukan alam ciptaan Allah dalam kehidupan manusia. Kita dapat memahami peranan alam ini melalui ungkapan Pemazmur ini.
Pemazmur mengajak kita sejenak melihat alam ciptaan Allah. Banyak hal yang dapat kita pelajari dari alam ini. Alam ini merupakan ciptaan Allah. Sebagai ciptaan Allah, maka di dalam alam ini kita juga dapat melihat kemuliaan dan kemahakuasaan Allah. Kita dapat memahami kemulian dan kemahakuasaan Allah melalui alam ini, khususnya melalui benda-benda di langit.
Pemazmur menekankan bahwa langit menceritakan kemulian Allah. Berita tentang kemulian Allah yang diceritakan oleh alam bukan melalui kata-kata seperti yang keluar dari mulut manusia. Namun berita itu terus menerus diberitakan melalui benda-benda penerang di langit yang melakukan fungsi dan tugasnya dengan teratur. Melalui benda-benda penerang di langit kita dapat memahami adanya keteraturan, kebijaksanaan dan hukum. Kita dapat menentukan masa-masa dalam kehidupan kita, misalnya waktu untuk bekerja, waktu untuk beristirahat dan sebagainya. Tentunya semua itu adalah kehendak Allah. Dia-lah Allah yang memiliki keteraturan, kebijaksanaan dan hukum. Di dalam alam kita melihat keindahan yang menyegarkan hati, pikiran dan tubuh kita. Allah-lah sumber dan pemilik yang menyegarkan hati, pikiran dan tubuh kita. Alam memberi manfaat besar dalam kehidupan kita, Allah yang menciptakan alam itu, Dia-lah sumber kehidupan kita. Matahari membantu kehidupan manusia dalam hal kesehatan, pertanian, penerangan dan banyak hal lainnya. Allah-lah Pencipta matahari dan sumber kebaikan matahari.
Walaupun kita diundang untuk melihat alam, tetapi kita melihat alam bukan untuk memuja alam. Kita melihat alam untuk menghargai dan memelihara alam ini. Alam ini merupakan ciptaan Allah dan Allah telah memberikan kebijaksanaan, keteraturan dan peranan bagi ciptaannya tersebut. Kita melihat alam, terutama untuk membawa kita lebih dekat dan mempercayakan diri kepada Sang Pencipta alam. Melalui alam ciptaan Allah ini, kita mendapatkan pemahaman- pengertian yang berguna untuk menyembah Allah dan menjalani kehidupan kita. Kita jalani kehidupan kita dengan sukacita, ketetapan hati dan ketenangan jiwa, sebab Allah telah dan tetap memelihara kita dengan membukakan makna alam ini dalam kehidupan manusia. Tuhan Allah memberkati kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 388:1,3
    1. Tupung tayang aku nginget Kam, gedang berngi ‘ku ukuri Kam. Sabab Kam si nampati aku, o Dibata tedeh ‘teku Kam. O Dibata Kam kap Dibatangku, kudahi tedeh ateku Kam. Mesikel aku nandangi Kam, desken taneh si enggo kerah. Bage me muasna tendingku, man baNdu Tuhan Dibatangku.
    2. Nteguh cikep tanku o Tuhan, teneng ukurku adi ras Kam. La mbiar jumpa percubaan, malem ate ‘di rembak ras Kam. O Dibata, Kam kap Dibatangku …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 12 November 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 342:1,2
    1. Yesus lape-lape tendingku, Ia njagai kita. Mberat pe si man tangkelenta, Ia njagai kita. Tuhan njagai kita, paksa senang ‘ntah mesera. Ia njagai kita. Tuhan njagai kita.
    2. Ibas melala perbebenta, Ia njagai kita. Dalan gelap arah lebenta, Ia njagai kita. Tuhan ..
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Mazmur 18 : 33 – 34.
    “ Ia me Dibata si erbahanca aku megegeh, si erbahanca maka i bas dalanku la lit kebiaren. IpegegehiNa nahengku bagi nahe belkih, ipedauhna kebiarenku i das deleng-deleng.”

Renungan

Terkadang kita sendiri heran dengan keberadaan kita saat ini. Ada saat di mana kita benar-benar sudah kehabisan akal dan kemampuan, tetapi secara tidak kita duga ada pertolongan yang membuat kita lepas dari permasalahan itu. Contoh lain. Kita mengingat bagaimana situasi kita yang dahulu, kesusahan dan kesulitan hidup yang kita hadapi, namun seiring perjalanan waktu, sekarang kita sudah mendapati kehidupan kita dalam keadaan baik. Dalam semua itu, kesimpulan apakah yang dapat kita buat ?
Mazmur 18 ini merupakan sebuah nyanyian syukur, nyanyian bagi kemulian Tuhan. Raja Daud mengingat perjalanan kehidupannya. Khususnya, pada bagian renungan malam hari ini, Daud mengakui kemahakuasaan Allah dalam menolong dirinya di medan peperangan. Pada saat itu, raja sedang terancam nyawanya dan tidak berdaya lagi. Namun Tuhan menolong dia. Tuhan menguatkan raja, Tuhan memberi ketakutan kepada musuhnya dan akhirnya Tuhan memberi kemenangan bagi raja dan pasukannya. Daud merasakan kemahakuasaan Allah menolong dirinya seperti tujuan Allah menciptakan kaki rusa. Seekor rusa tidak memiliki bisa, cakar, taring, belitan dan tenaga yang besar untuk melawan dan mengalahkan musuh-musuhnya. Justru Allah membuat kaki rusa kecil dan lentur. Dengan kaki yang kecil dan lentur ini maka rusa dapat melompat-lompat di atas bukit-bukit. Kakinya yang kecil dan lentur sesuai dengan kebutuhan situasi perbukitan. Kondisi perbukitan tidak lagi menjadi tantangan bagi rusa, tetapi justru menjadi lahan perlindungan yang cocok dengan keberadaan kakinya. Oleh karena kakinya yang kecil justru membuat dia berdiri kokoh di atas bukit atau mendapatkan keselamatan.
Demikianlah Daud memuji dan memuliakan Allah yang dengan kemahakuasaanNya dan kebijaksanaanya telah menyelamatkan Daud. Melalui nyanyian ini Daud mengajak umat untuk tetap hati untuk menghadapi semua situasi kehidupannya.
Kita juga merasakan bahwa karena pertolongan Allah-lah maka kita dapat melalui perjuangan kehidupan kita. Kita mengakui bahwa kemahakuasaan Allah sungguh tak terselami dalam menolong kehidupan kita sehingga kita bisa ada seperti sekarang ini kita berada.
Sama seperti nyanyian syukur Daud ini, hal ini juga menjadi peneguh perjuangan hidup kita. Allah yang dahulu telah menyelamatkan umatNya, sekarang dan pada masa datang tetap menyelamatkan kehidupan kita. Kita percaya Allah mahakuasa dan mahabijaksana dalam menolong hidup kita. Pengaturan Allah sungguh tidak terjangkau akal pikiran kita. Firman Tuhan berkata dalam Roma 11 : 33, “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” Demikian juga dalam Pilipi 4 : 7, “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”
Iman percaya kita tetap teguh dan kuat dalam terus menjalani kehidupan kita, dengan tetap yakin kemahakuasaan dan kebijaksanaan Allah. Tuhan Allah memberkati kita kehidupan kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 334:1,2
    1. Tuhan kap si empuna geluhta, gegehta Ia simerekenca. Kiniteken pe ras pemetehta e pe Ia sinjujurkenca. Ia kap erbanca kita sanggap, tetaplah man Ia kita ngarap. ‘Di reh susah b’reNa serpang pulah, tendi kula mejuah-juah.
    2. Dage tetaplah bulat ukurta, geluhta pe lalap min erguna. Lagu langkah pe la sia-sia, gelar Tuhanlah ermulia. Adi jumpa kita si mesera, pengarapen ula kal min pera. Kune riah ukur kita jumpa, nehken bujur ula kal lupa.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 11 November 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 290:1,2
    1. Labo erkiteken beluhku. Labo erkiteken pentarku. Tapi perbahan penampatndu. Mbelin tergejap bas geluhku.
    2. Labo erkiteken dahinku. Labo erkiteken pangkatku. Tapi perbahan perkuahNdu. Malem ateku tuhu-tuhu.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Bilangen 11 : 4 – 5.
    “Lit piga-piga kalak asing ikut i bas perdalanen ras bangsa Israel e. Lanai kal lang-lang rincuhna ia man daging, janah bangsa Israel jine pe enggo mulai jungut-jungut nina, “Lit kin min daging man panganta ! Adi i Mesir biasa kita rate-ate man nurung, janah la nukur pe. Ma siinget denga kin biasa lit i bas kita cimen, mandike, pere, pia, lasuna?”

Renungan

Bukan hanya covid-19 yang menular, keinginan pun juga dapat menular. Misalnya, ketika kita berjalan di supermarket, kita melihat banyak orang yang berkerumun membeli suatu barang. Dari rumah, sebenarnya barang itu tidak ada di daftar kebutuhan atau keinginan kita. Tetapi ketika kita melihat banyak orang antri ingin membeli barang itu, bisa jadi muncul juga keinginan dan kita rela antri kita untuk membelinya. Hal inilah yang terjadi dalam perjalanan bangsa Israel.
Dalam Kitab Bilangan 11 ini, dikisahkan bangsa Israel yang telah bebas dari Mesir dan sedang dalam perjalanan di gurun pasir meninggalkan gunung Sinai. Bersama-sama bangsa Israel ada orang asing yang juga ikut keluar dari tanah Mesir. Pada awalnya, orang-orang asing inilah yang mengingini makan daging. Kemudian, keingian orang asing itu menular kepada bangsa Israel. Dalam diri bangsa Israel keinginan itu telah berubah menjadi sungut-sungut. Dalam sungut-sungutnya mereka mulai membanding-bandingkan keadaan mereka. Mereka membandingken ketidakadaan daging yang mereka alami di gurun pasir dengan keadaan mereka yang dapat makan ikan sepusnya di Mesir. Mereka mengingat ketika di Mesir mereka dapat memakan ikan sepuasnya dan memiliki mentimun, semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih untuk dimakan. Hal ini menunjukkan penyesalan mereka bebas dari Mesir. Dikatakan dalam Bilangan 12 :20, “menangis di hadapan-Nya dengan berkata: Untuk apakah kita keluar dari Mesir?”
Dapat kita katakana bahwa bangsa Israel tidak lagi mengingat dan menghargai anugrah besar yang telah diberikan kepada mereka hanya karena persoalan tertular keinginan. Sebelum tertular, mereka tidak menggangap itu kebutuhan penting. Tetapi setelah tertular, keinginan itu berubah menjadi kebutuhan utama, yang akhirnya membuat mereka mengganggap remeh dan tidak lagi menghargai anugrah kebebasan yang telah ada pada mereka. Kitab Bilangan 12 : 20 menyimpulkan sikap bangsa Israel ini dengan mengatakan, “kamu telah menolak TUHAN yang ada di tengah-tengah kamu”.
Pengalaman bangsa Israel ini dapat menjadi alat evaluasi perjalanan hidup kita. Keselamatan dan penebusan dosa yang telah dianugrahkan Allah kepada kita tidak dapat digantikan dengan apapun juga. Kesulitan hidup saat ini memanglah besar. Mungkin banyak kebutuhan atau keinginan kita yang tidak atau belum terpenuhi. Terkadang kita merasa tertekan dan hal itu dapat membuat emosi kita meledak-ledak, perasaan kita campur aduk, marah-marah dan berkata kasar. Dalam situasi seperti ini, mari kita mengingat kembali anugrah besar yang telah kita terima. Kita tetap mengingat dan mensyukuri anugrah Allah ini. Dengan hal inilah kita mengisi dan mengendalikan perasaan kita. Kita lebih mengingat dan menghargai keselamatan kita ketimbang dengan keinginan-keinginan kita yang belum terpenuhi. Inilah yang menguatkan kita dalam menghadapi kehidupan kita. Tuhan memberkati kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 212:1,4
    1. Perkuah ate si mbelin. Nemani geluhku. Ije me aku erdalin. Teruh perkuahNdu.
    2. Perkuah ate si mbelin. Si mahan dame e. Bengketi pusuh kami min. ‘Lah kami senang je.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 10 November 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 369:1,2
    1. O Dibata Kam pengarapenku, malem kal ateku ibahanNdu. Perban e kupuji Kam Tuhanku, rasa lalap seh rasa lalap.
    2. O Tuhan, Kam me kap kecionku. Tupung aku ‘bas kiniseranku. Perban e kupuji Kam Tuhanku, rasa lalap seh rasa lalap.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Mazmur 40 : 6
    “ Banyaklah yang telah Kaulakukan, ya TUHAN, Allahku, perbuatan-Mu yang ajaib dan maksud-Mu untuk kami. Tidak ada yang dapat disejajarkan dengan Engkau! Aku mau memberitakan dan mengatakannya, tetapi terlalu besar jumlahnya untuk dihitung.”

Renungan

Banyak pekerjaan besar menanti kita. Seperti pak tani ini, dia baru memulai pekerjaan pengolahan sawahnya. Banyak pekerjaan besar menantinya untuk dikerjakan. Demikian juga dalam kehidupan kita, banyak pekerjaan yang harus kita kerjakan. Dapat saja, karena melihat banyaknya pekerjaan yang menanti, orang menjadi lemah duluan, kurang bersemangat dan patah hati. Oleh karena itu kita memang membutuhkan penyemangat dalam hidup ini. Dalam hal ini kita dapat belajar dari pengalaman Pemazmur dalam Mazmur 40.
Mazmur 40 ini berisi pengakuan dan sekaligus pujian Pemazmur bagi kebaikan Allah. Pemazmur mengakui bahwa dia telah banyak merasakan kebaikan Allah. Salah satunya diungkapkan Pemazmur dalam Mazmur 40 : 3, “Ia mengangkat aku dari lobang kebinasaan, dari lumpur rawa; Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku,” Dan bukan hanya Pemazmur saja yang merasakan banyaknya kebaikan Allah itu tetapi juga banyak orang yang mengalami kebaikan Allah yang banyak itu. Dalam ayat 6 ini, Pemazmur mengatakan “kami”. Pemamzur menyadari bahwa cara Allah menyelamatkan mereka sungguh ajaib, tak terselami maksud Allah bagi mereka. Tidak ada yang dapat disejajarkan dengan Allah. Kebaikan Allah yang begitu banyak dan ajaib ini mendesak Pemazmur untuk memberitakan kebaikan Allah itu. Namun Pemazmur menyadari bahwa kebaikan Allah itu terlalu besar jumlah sehingga tidak dapat dihitung.
Mengingat semua kebaikan Allah itu, Pemazmur datang kepada Allah memohon pertolongan Allah. “ Sebab malapetaka mengepung aku sampai tidak terbilang banyaknya. Aku telah terkejar oleh kesalahanku, sehingga aku tidak sanggup melihat; lebih besar jumlahnya dari rambut di kepalaku, sehingga hatiku menyerah. Berkenanlah kiranya Engkau, ya TUHAN, untuk melepaskan aku; TUHAN, segeralah menolong aku!” (Mazmur 40:12-13 ITB)
Dalam pemahaman yang seperti ini kita datang kepada Allah. Kita mengingat kebaikan Allah yang banyak itu di dalam hidup kita. Kita percaya bahwa cara Allah memperlihatkan kebaikannya sungguh ajaib, tidak terselami manusia. Dengan demikian kita tetap memohon pertolongan Allah dan berserah kepada cara Allah menunjukkan kebaikannya kepada kita.
Demikianlah dalam penderitaan hidup yang kita alami, kita datang kepada Allah memohon pertolongan Allah. Kita yakin akan pertolongan Allah sebagaimana Allah telah banyak menolong hidup kita di masa-masa yang lalu. Dengan keyakinan ini kita jalani hidup kita dengan ketenangan, kesabaran dan ketekunan. Dengan mengingat dan yakin Tuhan mendengar permohonan kita dan Allah memberi pertolonganNya, hal inilah yang menjadi penyemangat dalam hidup kita. Tuhan Yesus memberkati kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 168:1,2
    1. Tegu aku o Tuhanku ibas dalan mesera. La lit ngasup ras gegehku, b’re min tanNdu negusa. Roti surga, roti surga, tetap b’reken man bangku. Tetap b’reken man bangku.
    2. Lau si nggeluh b’re min elah maka aku megegeh. ‘Tah kai jadi bas geluhku, Kamlah arah lebengku. O Tuhanku, O Tuhanku, Kam me kap sekawalku, Kam me kap sekawalku.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 9 November 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 205:1,2.
    1. Rehlah min o Tuhan, sikap kami k’rina ersembah man baNdu jenda. Nusurlah min Tuhan bahan sikap k’rina, ukur kami pebadia. O Bapa, b’re gelah daten pasu-pasu kami k’rina enda.
    2. Tuhan Dibatanta lit bas rumah enda, nembah kita k’rina baNa. Alu kehamaten mungkuklah man baNa, kula, tendi pe kerina. Aloken KataNa ras Pasu-pasuNa, usekenNa banta.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Mazmur 20 : 2 – 3.
    “ Dibatalah si mperdiateken kam tupung i bas kiniseran. Dibata nu Jakuplah si ngkawali kam ! IsampatiNalah kam i bas RumahNa si badia nari, iberekenNalah penampat i deleng Sion nari.”

Renungan

Kita menyadari bahwa kita memiliki keterbatsan, misalnya dalam hal kebijaksanaan, pemahaman, kemampuan dan kekuatan. Kita memang membutuhkan bantuan untuk menghadapi kehidupan ini. Bantuan itu dapat berasal dari keluarga kita, persekutuan kita, persahabatan kita dan lingkungan kita. Namun bantuan ini juga memiliki kebeterbatasannya. Oleh karena itu kita memang membutuhkan “kuasa” dari yang menciptakan kita, yang mengerti kita dan yang kuasanya yang tidak terbatas.
Hal inilah yang kita pahami dari doa permohonan Pemazmur ini. Pemazmur menyampaikan permohonannya kepada Allah untuk raja. Seorang raja tentunya memiliki kuasa yang besar. Dia memiliki kuasa atas hukum, kekuatan “tidak terbatas” atas rakyatnya dan dapat mengerahkan seluruh pejabatnya, tenaga ahlinya, dan kekuatan rakyatnya untuk membantu dirinya. Walaupun raja memiliki kekuatau besar, namun Pemazmur menyadari bahwa kekuatan raja itu juga terbatas. Seorang raja yang memiliki kekuasaan sekalipun tetap membutuhkan berkat dalam menjalankan pemerintahannya. Oleh karena itu Pemazmur memohon berkat kepada Allah.
Permohonan Pemazmur ‘agar Allah memberkati raja’ menunjukkan bahwa di atas kekuasaan raja ada kuasa yang lebih berkuasa atas seorang raja itu. Permohonan ini sekaligus juga menunjukkan bahwa Allah yang berkuasa atas kehidupan dan kepemimpinan seorang Raja. Atas kehendak Allah-lah maka seorang raja dapat memimpin rakyatnya.
Pemazmur memohon berkat Allah agar Allah memperhatikan seruan raja pada waktu kesesakannya. Pemazmur memohon perlindungan Allah dan pertolongan Allah. Keyakinan Pemamzur untuk memohon berkat Allah ini diperkuat dari pengalaman nenek moyang mereka. Bahwa Allah-lah yang menjadikan Jakup dan keturunannya menjadi bangsa yang besar. Demikian juga Pemazmur meyakini bahwa karena kuasa Allah maka raja dapat memimpin rakyatnya yang besar.
Demikian juga-lah kehidupan kita saat ini. Kita menyadari keterbatasan kita, terlebih ketika saat ini kita diperhadapkan dengan kesulitan yang besar dan berkepanjangan di masa pandemi ini. Seorang raja yang berkuasa pun tetap membutuhkan berkat, apalagi kita yang terbatas kebijaksanaan, pemahaman, kemampuan dan kekuatan kita. Oleh karena itu tetaplah kita memohon berkat- berkat Allah dalam kehidupan kita. Allah-lah yang memperhatikan seruan kita, membentengi dan menolong kita.
Kita jalani kehidupan kita dengan memaksimalkan kebijaksanaan, pemahaman, kemampuan dan kekuatan kita. Kita hidup dalam suasana saling memperhatikan, saling mendukung dan saling membangun di antara keluarga, persekutuan dan lingkungan kita. Dan di atas semuanya itu, kita percaya dan memohon bahwa oleh karena berkat Allah-lah kita mampu menjalani kehidupan kita. Tuhan memberkati kehidupan kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 204:1.3.
    1. Pasu pasu ni Tuhanta , si nemani geluhta. Tiap wari seh man banta, la ersibar ngaruhna. Aku pe, aku pe, pasu-pasu aku pe.
    2. I ja ndia si ndarami si ngkawali geluh e. Yesus ngenca si nampati, maka kita la bene. Aku pe, aku pe, sampatilah aku pe.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan