Renungan Malam 4 Desember 2020
- Rende KEE GBKP No. 365:1,4
- Kudahi Kam Tuhan Dibatangku, ku penangkih totoku man baNdu. Kukataken bujur ermengkah ukurku, ibas ngaloken perkuah ateNdu. Nggo tangkas peratenNdu bas geluhku, bujur o Bapa nggo malem ateku
- AlokenNdu min puji sembahku, begikenlah totoku man baNdu. T’rangiNdu ‘lah min pusuh ras peratenku, kuikutken Kam segedang geluhku. Nggo tangkas peratenNdu.
- Ertoto
- Ngoge Kata Dibata Mazmur 91 : 1 – 2.
“ Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa akan berkata kepada TUHAN: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.”
Renungan
Di tengah-tengah pergumulan hidup ini, kita mengharapkan ada “tempat” berlindung yang aman, bukan hanya untuk fisik, tetapi juga untuk hati dan pikiran kita. Inilah yang menjadi penghibur dan peneguh hati, pikiran dan tubuh kita dalam menghadapi perjuangan hidup kita. Dalam renungan malam hari ini, kita mendengarkan undangan Pemazmur 91 ini.
Mazmur 91 merupakan suatu undangan untuk meneguhkan hati pendengarnya. Mereka diundang untuk berlindung kepada Allah. Di dalam tantangan yang berat sekalipun, mereka akan selamat karena berlindung pada Allah. Mereka ini di gambarkan sebagai orang yang duduk dan orang yang bermalam. Gambaran orang duduk memperlihatkan posisi tinggal diam, tidak berbuat apa-apa lagi, menunggu, berharap. Mungkin karena beratnya beban hati dan pikirannya sehingga orang ini sudah “terduduk”. Seperti ungkapan Pemazmur 137:1 “ Di tepi sungai-sungai Babel, di sanalah kita duduk sambil menangis, apabila kita mengingat Sion.” Gambaran orang bermalam memperlihatkan orang yang mau tinggal di suatu tempat karena dia merasa tempat itu membuat dia aman, bebas dari rasa takut dan selamat dari, baik dari ancaman penjahat, binatang buas dan dinginnya malam. Seperti yang dikatakan dalam mazmur 91 : 5, “Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang,” Orang-orang yang demikian, ketika menaruh harapannya dan menjadikan Yang Mahatinggi dan Yang Mahakuasa menjadi pelindung dan tempat bernaung, mereka akan selamat. Mereka akan mengakui bahwa Tuhan adalah tempat perlindungan mereka dan kubu pertahanan mereka, yang terus menerus mereka percayai. Oleh karena itu Pemazmur mengajak dan meneguhkan hati pendengar-pendengarnya untuk percaya dan berlindung kepada Allah.
Dalam situasi saat ini, mungkin kita sudah “terduduk” akibat beratnya beban pikiran dan hati kita. Kita mungkin juga kita tidak tahu lagi di mana tempat ‘bermalam’ yang aman bagi hati dan pikiran kita. Namun dari ungkapan Pemazmur ini, kita datang dan meyakini bahwa Tuhan-lah Pelindung dan tempat kita bernaung. Dalam perlindungan dan naungan Tuhan Allah kita akan selamat melewati ancaman baik masalah kesehatan, masalah pekerjaan, masalah kebutuhan hidup, masalah keharmonisan rumah tangga dan permasalahan lainnya.
Kita menjadikan Allah tempat perlindungan dan kubu pertahanan kita.
Tuhan Allah memberkati kita. Amin.
- Ertoto kenca renungen.
- Rende KEE GBKP No. 302:1,2.
- Nginget perkuah Dibata si Mbelin, siisehkenNa man banta kin, ibas kerina dampar kegeluhen, i doni si dem keguluten. Endeskenlah kulanta man Dibata. Kerina si lit ibas geluhta, selaku persembahennta si nggeluh, em persembahen si ngena ateNa.
- Sabab bage me arusna kita kin ersembah man Dibatanta si mejin. Si nggo m’reken man banta manusia keg’luhen si mehuli ras badia. Endeskenlah kulanta man Dibata …
- Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.
Pdt. Tanda Pinem
GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan
Renungan Malam 2 Desember 2020
- Rende KEE GBKP No. 274:1,3.
- Kupuji Kam o Tuhanku, perban keleng ateNdu. Ateku nggeluh badia, ngelawan kuasa dosa. Bage me sura-surangku, bere gegeh ras kuasa, gelah tetap perjingkangku.
- Madin ernalem man Tuhan asang man doni enda. La lit si tetap kai pe lang, bas Tuhan Jesus ngenca. Reh kami ngadap man baNdu, aloken kami o Tuhan. Kami si nggo tebusiNdu.
- Ertoto
- Ngoge Kata Dibata Mazmur 113 : 4 – 7
“TUHAN tinggi mengatasi segala bangsa, kemuliaan-Nya mengatasi langit. Siapakah seperti TUHAN, Allah kita, yang diam di tempat yang tinggi, yang merendahkan diri untuk melihat ke langit dan ke bumi? Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur,”
Renungan
Salah satu tantangan hidup saat ini adalah merendahkan hati. Orang orang sudah terbiasa berlomba memperlihatkan dan mengangkat dirinya. Permasalahannya, ada orang yang berlomba dengan cara merendahkan atau melupakan hidup orang lain. Dalam situasi seperti ini, masa-masa Advent justru memperlihatkan kepada kita sikap merendahkan diri, bukan sekedar merendahkan hati. Merendahkan diri memperlihatkan hati, pikiran, sikap dan tindakan (keseluruhan hidup) seseorang yang walaupun memiliki kedudukan tinggi tetapi demi hidup sama seperti orang-orang yang rendah, maka dia meninggalkan kedudukannya tersebut. Inilah yang kita lihat dalam Mazmur 113 ini.
Di dalam Mazmur 113 ini diungkapkan pujian kepada Allah. Beberapa ukuran dipakai untuk mengambarkan kemasyhuran Allah. Yang pertama dipakai ukuran masa “sekarang ini dan selama-lamanya.” (Maz. 113:2) Yang kedua dipakai ukuran waktu, “Dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari” (Maz. 113:3) Yang ketiga dipakai ukuran tempat, “TUHAN tinggi mengatasi segala bangsa” (Maz 113:4). Dan yang keempat dipakai ukuran tinggi, kemuliaan-Nya mengatasi langit” (Maz. 113:4).
Hal ini memperlihatkan kepada kita betapa agung dan mulianya Tuhan Allah. Dia berkuasa di sepanjang masa, di segala tempat, di segala waktu dan berada di tempat yang tertinggi. Yang lebih mengherankan bagi kita dan yang membedakan Allah dari allah-allah lain adalah Allah yang berkuasa, agung dan mulia itu, merendahkan diri untuk menatap ke bumi. Allah merendahkan diri untuk “menegakkan orang yang hina dari debu dan menggangkat yang miskin dari lumpur.” Dalam hal ini disebutkan tempat hidup orang-orang yang hina dan miskin ini yaitu di debu dan lumpur. Mereka yang awalnya hidup di debu dan lumpur, tetapi karena Allah yang merendahkan diri maka sekarang Allah “mendudukkan dia bersama-sama dengan para bangsawan, bersama-sama dengan para bangsawan bangsanya.” (Maz. 113:8)
Dari ungkapan Pemazmur ini kita dapat memahami bahwa Allah bertindak dalam kasihNya bagi dunia ini. Demi kasihNya bagi dunia ini, Allah merendahkan diriNya dengan menatap dunia ini. Di dalam Tuhan Yesus Kristus, Allah merendahkan diriNya dengan hidup sebagai manusia. Tuhan Yesus Kristus mendampingi dan memperlihatkan kepada kita bagaimana kita hidup dalam kasih Allah. Petrus memperlihatkan salah satu makna kehadiran Tuhan Yesus Kristus dalam dunia ini. “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya.”(1Pet. 2:21)
Kita rayakan Minggu Advent dengan mengingat betapa besar kasihNya bagi dunia ini. Demi kasihNya, Allah merendahkan diri, hidup sama seperti manusia dengan maksud mengangkat hidup manusia itu. Kita juga merayakan Advent dengan memberlakukan kasih dalam hidup kita. Untuk memberlakukan kasih itu, di tengah-tengah perlombaan diri saat ini, justru kita diingatkan untuk merendahkan diri. Energi, inspirasi dan motivasi kita dalam merendahkan diri adalah kehidupan Tuhan Yesus itu sendiri.
Tuhan Allah memberkati kita dalam merayakan minggu-minggu Advent ini.
- Ertoto kenca renungen.
- Rende KEE GBKP No. 263:1,2.
- Adi kuidah ampar bintang terang, ras sora lenggur guntar kubegi. O Tuhanku ije ukurku mamang, ngidah b’linna k’rina tinepaNdu. Maka pusuhku e pehaga Kam, mbelin me Kam o Tuhanku. Maka pusuhku e pehaga Kam. O Tuhanku mehaga Kam.
- O Tuhanku, di k’rina ‘ku ukurken, perkuah ‘teNdu nebusi aku. Tuhan me kap man bangku nggo ib’reken, alu dareh Yesus si badia. Maka pusuhku e pehaga Kam…
- Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.
Pdt. Tanda Pinem
GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan
Renungan Malam 1 Desember 2020
- Rende KEE GBKP No. 205:1,2
- Rehlah min o Tuhan, sikap kami k’rina ersembah man baNdu jenda. Nusurlah min o Tuhan, bahan sikap k’rina, ukur kami pe badia. O Bapa, b’re gelah, daten pasu-pasu kami k’rina enda.
- Tuhan Dibatanta lit bas rumah enda, nembah kita k’rina baNa. Alu kehamaten mungkuklah man baNa, kula, tendi pe kerina. Aloken KataNa ras pasu-pasuNa, usekenNa banta.
- Ertoto
- Ngoge Kata Dibata Imamat 26 : 12
“ Tetapi Aku akan hadir di tengah-tengahmu dan Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku.”
Renungan
Kehadiran sangat penting dalam membangun sebuah relasi. Inilah yang dinyatakan oleh Firman Tuhan dalam renungan malam hari ini. Firman Tuhan ini memperlihatkan dua hal bagi kita. Pertama, Tuhan Allah menyatakan berkatNya melalui kehadiranNya di dalam kehidupan kita. Kehadiran seseorang dapat ditunjukkan melalui kehadiran fisik dan kehadiran psikologis. Tuhan Yesus telah menyatakan kehadiran Allah secara fisik dalam dunia ini. Allah hadir sebagai manusia, lahir di kandang domba, dengan orang tua tukang kayu, melayani baik, dengan pengajaranNya, mujizatNya, bahkan melalui kematianNya di kayu salib. KebangkitanNya, KenaikanNya ke Surga dan turunnya Roh Kudus. Hal ini benar-benar memperlihatkan kehadiran Allah secara fisik di dalam dunia ini. Dan dengan pertolongan Roh Kudus, kehadiran fisik pada masa yang lampau sekarang menjadi kehadiran secara psikologis. Melalui Kuasa Roh Kudus, kehidupan Tuhan Yesus menjadi energi, inspirasi dan motivasi bagi kita dalam memperjuangkan kehidupan kita. Tuhan Yesus hadir secara psikologis di dalam kehidupan kita. Kedua. Firman Tuhan di atas mengatakan bahwa “Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku.” Hal ini menyatakan kepada kita bahwa Allah-lah yang menjadi sumber inisiatif untuk membangun relasi antara Allah dengan manusia. Manusia telah jatuh ke dalam dosa dan dibawah kuasa kematian. Namun demikian, karena besar kasihNya, Allah hadir dalam diri Tuhan Yesus Kristus untuk menyelamatkan manusia dari kematian kekal akibat dosa. Demikianlah, maka dapat dikatakan bahwa kehadiran Tuhan Allah dalam dunia untuk membangun relasi dan menguatkan relasi Allah dengan manusia. Relasi yang sudah hancur akibat dosa, kini dibangun kembali dan dipelihara Tuhan Allah. Allah menyatakan kembali bahwa Dia adalah Tuhan bagi kita dan kita menjadi umat Tuhan. Dengan adanya relasi ini, maka Allah menyatakan bahwa Allah memberikan berkat-berkatNya bagi kehidupan kita. Relasi ini juga menuntut tanggung jawab kesetian dari pihak manusia. Ada tanggung jawab dari pihak manusia yang harus dilakukanNya kepada Allah. Manusia hidup menyembah Allah, hidup seturut dengan kehendak Allah dan melakukan Firman Allah.
Kita jalani minggu-minggu Advent ini dengan menyadari bahwa Allah benar-benar hadir dalam kehidupan kita. Allah telah membangun kembali relasiNya dengan manusia. Dengan demikian ada berkat Allah dalam hidup kita dan ada tanggup jawab kesetian dari manusia. seperti Firman Allah dalam Mazmur 85: 12, “Kesetiaan akan tumbuh dari bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit.” Kehadiran Allah yang menbangun relasi dengan kita menjadi energi, inspirasi dan motivasi bagi kita dalam menjadi kehidupan manusia.
Tuhan Allah memberkati kita. Amin.
- Ertoto kenca renungen.
- Rende KEE GBKP No. 271:1,3
- I doni “nda mbue kesusahen, bage pe lit ka nge perubaten, reh lah min kinirajanNdu. I Gereja si arus ersada, maka tangkas keg’luhen si mbaru, reh lah min kinirajanNdu. Reh lah min, reh lah min, reh lah min kinirajanNdu.
- Bas pusuh, kata ras perbahanen, kekelengen rasp e kebenaren. Reh lah min kinirajanNdu. Kam me kapen si mada si nasa, ibas Kristus bangsaNdu ersembah, reh lah min kinirajanNdu. Reh lah min …
- Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.
Pdt. Tanda Pinem
GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan
Renungan Malam 30 November 2020
- Rende KEE GBKP No. 165:1,2.
- Bas IA ngenca lit kepe kek’lengen si mbelin. Yesus tersilang seh mate ‘lah aku terkelin. Tetap ukurku, tek aku baNa. Keleng ateNa mbelin kuasaNa. IA njayamsa geluhku k’rina malemna di ras IA.
- Man baNa ernalem dage, begiken KataNa. ‘Di meriah tah gulut pe, tetap temaniNa. Tetap ukurta, tek aku baNa. Keleng ateNa mbelin kuasaNa. IA njayamsa geluhku k’rina malemna di ras IA.
- Ertoto
- Ngoge Kata Dibata I Korintus 1 : 5 – 8.
“ Sebab di dalam Dia kamu telah menjadi kaya dalam segala hal: dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan, sesuai dengan kesaksian tentang Kristus, yang telah diteguhkan di antara kamu. Demikianlah kamu tidak kekurangan dalam suatu karuniapun sementara kamu menantikan penyataan Tuhan kita Yesus Kristus. Ia juga akan meneguhkan kamu sampai kepada kesudahannya, sehingga kamu tak bercacat pada hari Tuhan kita Yesus Kristus.”
Renungan
Sering kita mendengar istilah, ‘menunggu adalah pekerjaan membosankan”. Menunggu menjadi pekerjaan membosankan kaena kita di dalam posisi “berdiam diri”, tidak melakukan apa-apa, sedangkan tubuh kita memang dirancang untuk beraktivitas. Oleh karena itu modal menunggu adalah kesabaran. Terlebih lagi, ketika kita menunggu pertolongan untuk mengatasi persoalan kita. Menuggu bukan hanya persoalan membosankan tetapi juga telah menjadi persoalan kecemasan dan kekuatiran. Kita menunggu sambil merasakan ketakutan dan menganggap semua serba salah.
Dalam renungan malam hari ini, kita diingatkan tentang bagaimana kita menghadapi situasi “menunggu” itu. Paulus menyatakan kepada Jemaat Korinti, bahwa Tuhan Yesus Kristus akan datang kembali. Dalam menantikan kedatangan Tuhan Yesus Kristus kembali, Allah telah memberikan modal bagi Jemaat Korintus. Paulus menegaskan bahwa Tuhan Allah telah memperkaya Jemaat Korintus dalam segala hal, khususnya dalam segala macam perkataan dan segala macam pengetahuan. Artinya, pengenalan terhadap Tuhan Yesus Kristus telah membuat perubahan kehidupan dalam diri mereka. Paulus mengingatkan keadaan jemaat Krintus sebelum mereka dipanggil dan dipilih Allah. “ Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang.” (1 Kor 1:26) Jemaat Korintus telah diperlengkapi Allah dalam menantikan kedatangan Tuhan Yesus kembali. Dengan demikian,Jemaat Korinti tidak kekurangan dalam suatu karunia dalam menantikan pernyataan Tuhan Yesus Kristus.
Demikian juga halnya saat ini kita menunggu kedatangan Tuhan kembali. Tuhan Yesus telah datang ke dunia ini dalam rupa manusia . Dan Dia akan datang kembali pada waktu yang tidak dapat diketahui manusia. Saat ini kita merasakan bahwa waktu antara kehidupan kita dengan kedatanganNya, banyak peristiwa hidup yang terjadi. Seperti saat ini, kita mengalami kesulitan besar akibat pandemi ini. Misalnya kesulitan dalam hal kesehatan, ekonomi, persekutuan, keharmonisan rumah tangga dan sebagainya. Kesulitan-kesulitan hidup yang diperhadapkan dengan semakin mendekatnya perayaan-perayaan Natal dan Tahun Baru. Bertambah sedihlah hati kita ketika kita tidak dapat melakukan perayaan-perayaan Nayal dan Tahun Baru seperti selama ini.
Namun demikian, Allah bukannya membiarkan kita menunggu tanpa perlengkapan. Seperti Firman Tuhan ini, di dalam Tuhan Yesus Kristus, kita telah menjadi kaya dalam segala hal. Allah telah memberikan sukacita terbesar dalam hidup kita, yatu keselamatan dalam Tuhan Yesus Kristus. Tidak ada sukacita yang dapat melebihi sukacita karena keselamatan oleh anugrah Tuhan Yesus Kristus. Hidup kita dilengkapkan dengan kehadiran Tuhan Yesus dalam perjuangan hidup kita. Kita juga diperlengkapi dengan kebijaksana, kemampuan dan pengertian. Demikian juga, Allah memperlengkapi kita dengan memberikan jemaat Tuhan sebagai saudara-saudara kita.
Demikianlah kita menjalani masa-masa Advent ini dengan terus mengingat dan meyakini bahwa Allah telah memberikan perlengkapan bagi kita sehingga kita tidak berkekurangan dalam menantikan kedatangan Tuhan Yesus Kristus kembali. Dengan perlengkapan itu kita hadapi perjuangan hidup kita. dengan demikian, menunggu tidak menjadi membosankan dan mengkuatirkan. Tetapi kita menantikan kedatanganNya dengan sukacita. Tuhan Allah memberkati kita. Amin.
- Ertoto kenca renungen.
- Rende KEE GBKP No. 305:1,2
- O Tuhan, Kam me penampat ibas geluhku. O Tuhan Kam me cicionku, bas aru ateku. Angin meter, udan meder, Kam me kubunku. O Tuhan Kam me ikutenku, segedang geluhku.
- Enterem imbang-imbangku bas pertibi e. Si atena nirangkenku ras Kam kap Tuhanku. Kawali min, cikeplah min, lah la ku bene. O Tuhan Kam me pengarapen segedang geluhku.
- Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.
Pdt. Tanda Pinem
GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan
Renungan Malam 29 November 2020
- Rende KEE GBKP No. 324:1,3.
- Tuhan kap penalemenku, Ia si njayam geluhku. Ia kap sekawalku, la nggo kekurangen aku. Tuhan si mada si nasa. Tuhan saja sipehaga. Muliakenlah gelarNa, mari puji sembah Ia.
- Nggo terkelin jine aku, arah perkuah ateNdu. peratenNdu kudalanken, g’luhku e kupersembahken. Tuhan saja si mada si nasa.
- Ertoto
- Ngoge Kata Dibata Jesaya 57 : 15
“ Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: “Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk.”
Renungan
Kita telah memasuki peringatan Minggu-Minggu Advent tahun ini dalam suasana pandemi covid-19 yang masih meningkat. Dalam suasana ini, jelas sudah terbayang, perayaan Advent dan Natal tahun ini tidak akan “semeriah” tahun lalu. Terbayang dalam pikiran kita, tidak ada kemeriahan pesta, sukacita berkumpul dengan keluarga besar dan jemaat, tidak ada “makan-makan” dan tidak ada “belanja-belanja” Natal, dan tidak ada liburan natal. Mungkin ini semua sulit untuk kita wujudkan dalam tahun ini. Di dalam situasi ini, hilangkah sukacita natal dan semangat natal dalam diri kita ?
Melalui bacaan renungan malam hari ini kepada kita disampaikan kembali tentang tindakan kasih Allah. Demi kasihNya terhadap umatNya, Allah merendahkan diriNya. Allah yang bersemayam di tempat yang tinggi dan kudus, namun Allah juga ada bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati. Dalam hal ini kita melihat dua kondisi manusia. Orang orang yang remuk adalah orang yang menderita karena keadaan kemiskinan mereka. Orang yang – orang yang remuk ini juga adalah orang-orang yang rendah hati, orang – orang yang sabar di dalam menghadapi kesengsaraan mereka. Allah melihat keberadaan mereka ini dan Allah hadir di tengah-tengah kehidupan mereka. Allah hadir untuk menghidupkan semangat orang yang rendah hati. Allah akan memberikan kedamaian berupa penyelamatan, ketenangan batin, dan membangkitkan harapan mereka yang rendah hati. Allah juga memberikan kesejahteraan kepada mereka remuk.
Di dalam Kitab Filipi, Paulus menyatakan kembali tindakan Allah ini di dalam Tuhan Yesus Kristus. “ yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (Filipi 2:6-8)
Inilah tindakan Allah untuk mengasihi kita, umat manusia. Demi KasihNya, Tuhan Allah telah menjadi sama dengan manusia, di dalam rupa Tuhan Yesus Kristus. Allah tidak hanya berkarya dari tempat yang tinggi dan kudus, tetapi Allah hadir bersama manusia, merasakan penderitaan sebagai manusia, berjuang bersama manusia dan membebaskan manusia. Tindakan Allah ini-lah yang memberi semangat bagi kita untuk berjuang menghadapi keadaan remuk karena ketidakcukupan yang kita miliki. Dengan KehadiranNya di dalam dunia ini, kita tidak sendirian, tetapi ada “sahabat” yang memberi ketenangan hati bagi kita. Tindakan Allah ini haruslah tetap kita ingat dan rayakan. Advent ini kita peringati untuk meneguhkan iman, hati dan pikiran kita, bahwa di dalam Yesus Kristus, Allah telah bersama dengan manusia. Dengan kata lain, melalui peringatan Minggu Advent, kepada kita diingatkan, ditegaskan kembali dan diyakinkan kembali bahwa kasih Allah nyata dalam diri Tuhan Yesus Kristus. Sehingga, di dalam Hari Natal, kita sungguh-sungguh merayakan dengan penuh sukacita dan bersemangat sebab kita sungguh yakin bahwa Tuhan Yesus Kristus adalah Tuhan Allah yang hadir di dalam dunia ini. Dan yang paling utama melalui perayaan Natal ini adalah sukacita dan semangat dalam memperjuangkan kehidupan kita. Tuhan Allah memberikan sukacita dan semangat melalui peringatan Advent dan Natal tahun ini. Tuhan Allah memberkati kita. Amin.
- Ertoto kenca renungen.
- Rende KEE GBKP No. 325:1,2
- Tuhan itengah-tengahta m’reken pasu-pasuNa. Maler desken lau si mbelin, lanai lit si terulin. Usekenlah min KesahNdu, temani geluh kami. Gegeh kami plimbarui, k’rina jadi mehuli.
- Tuhan itengah-tengahta, reh riahna ukurta. Reh tenengna pertendinta, reh damena pusuhta. Usekenlah min KesahNdu …
- Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.
Pdt. Tanda Pinem
GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan
Renungan Malam 28 November 2020
- Rende KEE GBKP No. 374:1,2.
- Yesus ulu kegeluhenku, Kam me ngenca pengendesenku. Lalap tedeh ate pusuhku, kupehaga Kam bas geluhku. O Tuhan pernehen pusuhku, si ertedeh ate man baNdu. Kugelem pedah ras padanNdu, kusembah Kam ibas geluhku.
- Ku sembah Tuhan Penebusku, si mereken kekelengenNa. Alu tutus reh aku Tuhan ras kerina isi jabungku. O Tuhan pernehen pusuhku, si ertedeh ate man baNdu. Kugelem pedah ras padanNdu, kusembah Kam ibas geluhku.
- Ertoto
- Ngoge Kata Dibata 1 Petrus 3:15.
“Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat,”
Renungan
Kita telah tiba minggu akhir di bulan November ini. Pengalaman demi pengalaman hidup terus berlanjut. Dalam hal ini permasalahan-permasalahan hidup juga terus menerus menerpa kehidupan kita. Kita tidak lepas dari permasalahan hidup. Walaupun demikian keadaan hidup ini, kita tidak perlu menyesali kehidupan kita. Kita dapat memahami penderitaan hidup berdasarkan iman Petrus di dalam Kitab I Petrus ini.
Di dalam Kitab I Petrus ini, kita dapat melihat dua alasan yang menyebabkan penderitaan. Yang pertama adalah penderitaan karena sifat alamiah kemanusian kita. Dalam I Petrus 2 : 20 berbicara tentang penderitaan sebagai budak. Dalam kehidupan kita saat ini, kita menderita kesedihan, pikiran yang kacau, keletihan, penyakit. Yang kedua adalah penderitaan karena keimanan kita sebagai pengikut Ktistus. Di dalam 1 Petrus 3 : 14, Petrus berbicara tentang penderitaan karena melakukan kebaikan sebagai perintah iman. Dalam kehidupan kita saat ini keimanan kita sebagai orang Kristen dapat saja membawa penderitaan seperti di cemooh, diskriminasi dalam pekerjaan dan pendirian rumah ibadah.
Dalam situasi ini, salah satu jawaban Petrus adalah dengan menguduskan Kristus dalam hati. Kata “kuduskan” berarti menempatkan Kristus sebagai penentu keputusan-keputusan kita. Kehidupan, pengajaran dan tindakan Yesus Kristus menjadi dasar pertimbangan-pertimbangan kita dalam mengambil keputusan. Kata hati merujuk kepada pusat kehendak. Dengan demikian menguduskan Kristus dalam hati berarti kehidupan, pengajaran dan tindakan Yesus berada di pusat kehendak untuk menuntun kita dalam mengambil keputusan kita. Hal ini tampak ketika kita lebih memilih memberikan jawaban dengan lemah lembut dan hormat kepada mereka yang mencemooh kita. Kita memahami perkataan lemah lembut dan hormat berdaasarkan pandangan Petrus dalam I Petrus 2: 12, yaitu, “Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.” Kata lemah lembut juga dapat kita pahami berdasarkan 1 Petrus 3:9, yang berkata, “dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci maki dengan caci maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat…”
Walaupun saat ini kita mengalami penderitaan, kita hadapi itu dengan menempatkan Kristus di pusat kehendak kita. Dengan demikian, keputusan-keputusan kita dalam menghadapi penderitaan itu tetap dibimbing oleh Tuhan Yesus Kristus. Kita akan memilih cara menghadapi penderitaan hidup dengan tetap melakukan kebaikan dan menjadikan hidup kita sebagai kesaksian tentang Yesus Kristus bagi orang lain.
Di dalam ibadah minggu esok, kita terus datang kehadapan Tuhan Allah dan memohon tuntunan Allah dalam menghadapi kehidupan kita. Kita menguduskan Tuhan Yesus dalam hati kita. Mari kita persiapkan tubuh, roh dan jiwa kita menyembah Allah.
Tuhan Allah memberkati kita. Amin.
- Ertoto kenca renungen.
- Rende KEE GBKP No. 321:1,3
- Si sembahlah min, Tuhan si mbelin, endekenlah min, enden-nden pujin. Tuhan Dibatanta ingan cicio, sembahlah Ia ola kita menggo.
- Seh kal ulina penjayamenNdu, terang ras gelap e nuduhkenca. Udan ras lego k’rina kap ndatkenca. Kuasa kekelengenNa mbelin tuhu.
- Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.
Pdt. Tanda Pinem
GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan
Liturgi Ibadah Minggu 29 November 2020
Renungan Malam 27 November 2020
- Rende KEE GBKP No. 324:1,2.
- Tuhan kap penalemenku, IA si njayam geluhku. IA kap pe sekawalku la nggo kekurangen aku. Tuhan si mada si nasa. Tuhan saja si pehaga. Muliakenlah gelarNa, mari puji sembah IA.
- Kune jumpa si mesera, kiniteken labo pera. Tetap aku sampatiNa, k’leng ateNa la erleka. Tuhan si mada si nasa.
- Ertoto
- Ngoge Kata Dibata Efesus 3 : 16
“ Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu,”
Renungan
Lit istilah nina, “Bayak tapi nggeluh musil.” Istilah enda labo guna nuduhken kerendahaan hati, hidup sederhana. Tapi istilah ini lebih memperlihatkan orang yang memiliki banyak hal tetapi tidak menyadarinya dan tidak memakai apa yang pada dirinya untuk menghadapi permasalahan hidupnya sehingga tetap mengalami kesulitan hidup. Kita perlu tetap diingatkan untuk menyadari modal itu dan memakainya dalam menghadapi kehidupan kita.
Dalam bacaan renungan malam hari ini, kita mendengarkan doa Paulus kepada Allah Bapa. Paulus berdoa agar Allah Bapa menguatkan dan meneguhkan batin orang-orang percaya di Efesus. Hal ini berarti kepada setiap orang percaya telah diberikan “batin”. Namun permasalahannya, yang dilihat Paulus, adalah kurang kuat dan teguhnya kita mempergunakan batin itu. Allah sudah memberikan modal dalam kehidupan kita, hanya saja modal itu terkadang tidak kita kembangkan. Lalu apa yang dimaksud dengan “batin”. Kata “batin” menujuk kepada tiga hal. Pertama. Kata batin menujuk kepada akal budi; Akal budi berarti kemampuan untuk membedakan mana yang baik-buruk dan benar-salah, memahami situasi yang ada dan melihat solusi dari setiap permasalahan. Kedua. Kata batin merujuk kepada kesadaran, hati dan pikiran yang lebih sensitif terhadap keadaan diri sendiri, kepada hati dan pikiran orang lain dan kesadaran akan situasi lingkungan hidup kita. Ketiga. Kata batin juga berarti adanya kemauan. Kita memiliki akal budi dan kesadaran diri, tetapi terkadang kemauan kita kurang kuat menopang kita untuk melakukannya. Oleh karena itu Paulus memohon kiranya Roh Allah berdiam dalam diri orang percaya sehingga orang percaya dikuatkan dan ditenguhkan dalam mempergunakan akal budi, kesadaran dan kemauan dalam menjalani kehidupan kita.
Demikian juga dalam kehidupan kita. Kesulitan yang kita alami sering bertambah besar, bukan karena tidak adanya modal, tetapi lebih karena tidak dipakainya modal itu dalam menghadapi kesulitan itu. Terlalu besar perhatian kita terhadap permasalahan hidup kita sehingga lupa modal yang ada dalam hidup kita. Misalnya, karena semakin binggungnya kita, maka kacamata yang ada dikepala kita, tidak kita ingat dan kita cari di tempat-tempat lain. Tetaplah kita memohon agar dalam kekayaan kemulianNya, kita dipenuhi oleh RohNya sehingga kita dikuatkan dan diteguhkan untuk memakai modal yang telah diberikan Allah bagi kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.
- Ertoto kenca renungen.
- Rende KEE GBKP No. 451:1,2.
- Malerlah pasu-pasuNdu bagi nipadankenNdu. Gegeh ras ukur si paguh, tetap iberekenNdu. Pasu-pasuNdu em ulu gegeh kami. enggo kap maler me tuhu. Si ndemi geluh kami.
- Malerlah pasu-pasuNdu g’luh kami jadi baru. Sorana bagi lau maler mpeteneng ukur kami. Pasu-pasu Ndu…
- Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.
Pdt. Tanda Pinem
GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan
Renungan Malam 26 November 2020
- Rende KEE GBKP No. 368:1,2
- Si puji Tuhan Dibatanta, kataken bujur baNa. Sabab Ia si merekenca, pasu-pasu man banta. Mbelin ras mulia kekelengen Tuhan ibas doni enda. Ajari o Tuhan kami k’rina anakNdu, naksiken kerina perbahanenNdu.
- Geluh kami meriah tuhu, k’rina si k’rajangenNdu. Sabab kalak si nembah baNdu datken pasu-pasuNdu. Mbelin ras mulia kekelengen Tuhan ibas doni enda. Ajari o Tuhan kami k’rina anakNdu, naksiken kerina perbahanenNdu.
- Ertoto
- Ngoge Kata Dibata Pengkotbah 1:5-8
“Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali. Angin bertiup ke selatan, lalu berputar ke utara, terus-menerus ia berputar, dan dalam putarannya angin itu kembali. Semua sungai mengalir ke laut, tetapi laut tidak juga menjadi penuh; ke mana sungai mengalir, ke situ sungai mengalir selalu. Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar.
Renungan
Kita mengejar impian kita dengan sekuat tenaga. Banyak yang kita korbankan demi tercapainya impian kita tersebut. Lalu kita berhasil dan mendapatkan sukacita itu. Tentunya ada kebahagiaan besar karena keberhasilan kita. Berhari-hari kita menikmati kebahagiaan itu, minggu seminggu atau dua minggu. Lalu setelah itu, kebahagiaan itu mulai menyusut nikmat bahagianya. Dan terlebih lagi, bila kita diperhadapkan dengan permasalahan lain, maka bisa jadi hilanglah rasa bahagia itu. Kita lupa rasanya bahagia, karena sekarang kita sibuk memikirkan masalah kita dan mencoba mengejar kebahagiaan lagi. Sepertinya, hidup tidak pernah selesai-selesai; selalu mengejar kebahagiaan, kebahagiaan di dapat, kebahagian berlalu, mengejar kebahagiaan lagi. Apabila seperti ini cara kita memahami kehidupan ini, tentunya kehidupan ini sangat membosankan.
Hal inilah yang diungkapkan Pengkotbah ini. Pengkotbah menunjukkan ada orang yang memahami kehidupan ini membosankan. Seperti perjalanan matahari yang terus menerus, tidak henti-hentinya, perjalanan angin yang berputar-putar dan aliran air ke laut yang tidak tidak pernah berhenti tetapi laut tidak menjadi penuh. Demikianlah perjalan kehidupan manusia. Pekerjaan manusia tidak pernah selesai-selesai, tetapi manusia tidak pernah mampu melengkapi semua kebutuhannya dan mempertahankan semua yang ada pada dirinya. Manusia tidak pernah puas, tidak pernah kenyang. Artinya, manusia hanya “pernah” puas dan kenyang, tetapi manusia tidak pernah puas dan kenyang selama-lamanya. Setelah manusia puas dan kenyang, maka manusia butuh dan lapar lagi. Demikian terus menerus kehidupan manusia, tiada hentinya, sampai benar-benar berhenti.
Dari yang diungkapkan Pengkhotbah ini, kita dapat belajar beberapa hal :
- Jangan menyesali kehidupan yang ada dan menggerutu dengan perjuangan yang harus kita jalani. Memang perjuangan manusia tiada hentinya. La padah ninta, “latih nari nggeluh enda”. Kita bisa menerimanya, “nggeluh latih kin.” Dengan demikian kita mampu menghargai kehidupan yang ada.
- Kita tahu bahwa diri kita bisa saja mengalami kebosanan. Dengan demikian, kita diingatkan untuk mampu mengelola kebosanan itu sehingga kebosanan itu tidak menjerumuskan kita kepada perbuatan-perbuatan yang justru membuat kita tidak dapat menikmati kebahagiaan lebih lama lagi. “Mesera kentisik la ngasup piah dungna terpaksa mesera rasa lalap.” Misalnya ada orang yang menghilangkan kebosanan dengan minum-minuman keras atau narkoba yang pada gilirannya akan membuat dia sakit, mengalami ketergantungan dan penderitaan yang berkepanjangan.
- Kita semakin mencintai kehidupan kita dan menikmati kebahagian, selagi ada kesempatan untuk berbahagia. Di dalam Pengkhotbah 2: 24-25, dikatakan, “Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa inipun dari tangan Allah. Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia?”
Akibat pandemi ini, bisa jadi hidup kita dalam situasi sulit dan menjemukan. Namun demikian, kesulitan dan kebosanan itu jangan membuat kita kehilangan kesetian iman dan daya juang kita. Di dalam situasi yang seperti sekarang ini, mari kita jalani kehidupan dengan tetap menghargai kehidupan yang diberikan Allah kepada kita, mengelola kebosanan kita dengan benar dan menikmati setiap kesempatan yang ada untuk berbahagia. Tuhan Allah memberi kita hikmat untuk menjalani kehidupan kita. Amin.
- Ertoto kenca renungen.
- Rende KEE GBKP No. 399:1,2
- Mari surak puji Tuhan endeken nde enden m’riah, o surga doni kerina. Mari rende muji Ia alu ukur si meriah, puji gelarNa si Badia. La ‘ngadi-ngadi ku puji Kam Tuhan, bas k’rina dampar kegeluhen. Ersurak m’riah, pusuhku ibas Kam. Terpuji Tuhan rasa lalap.
- Mari k’rina manusia si puji dage Dibata, rendelah ersuraklah kita k’rina. Ersadalah ukurta e mujiken gelar Dibata, ersurak dage kita k’rian. La ‘ngadi-ngadi …
- Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.
Pdt. Tanda Pinem
GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan