Renungan Malam 27 November 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 324:1,2.
    1. Tuhan kap penalemenku, IA si njayam geluhku. IA kap pe sekawalku la nggo kekurangen aku. Tuhan si mada si nasa. Tuhan saja si pehaga. Muliakenlah gelarNa, mari puji sembah IA.
    2. Kune jumpa si mesera, kiniteken labo pera. Tetap aku sampatiNa, k’leng ateNa la erleka. Tuhan si mada si nasa.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Efesus 3 : 16
    “ Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu,”

Renungan

Lit istilah nina, “Bayak tapi nggeluh musil.” Istilah enda labo guna nuduhken kerendahaan hati, hidup sederhana. Tapi istilah ini lebih memperlihatkan orang yang memiliki banyak hal tetapi tidak menyadarinya dan tidak memakai apa yang pada dirinya untuk menghadapi permasalahan hidupnya sehingga tetap mengalami kesulitan hidup. Kita perlu tetap diingatkan untuk menyadari modal itu dan memakainya dalam menghadapi kehidupan kita.
Dalam bacaan renungan malam hari ini, kita mendengarkan doa Paulus kepada Allah Bapa. Paulus berdoa agar Allah Bapa menguatkan dan meneguhkan batin orang-orang percaya di Efesus. Hal ini berarti kepada setiap orang percaya telah diberikan “batin”. Namun permasalahannya, yang dilihat Paulus, adalah kurang kuat dan teguhnya kita mempergunakan batin itu. Allah sudah memberikan modal dalam kehidupan kita, hanya saja modal itu terkadang tidak kita kembangkan. Lalu apa yang dimaksud dengan “batin”. Kata “batin” menujuk kepada tiga hal. Pertama. Kata batin menujuk kepada akal budi; Akal budi berarti kemampuan untuk membedakan mana yang baik-buruk dan benar-salah, memahami situasi yang ada dan melihat solusi dari setiap permasalahan. Kedua. Kata batin merujuk kepada kesadaran, hati dan pikiran yang lebih sensitif terhadap keadaan diri sendiri, kepada hati dan pikiran orang lain dan kesadaran akan situasi lingkungan hidup kita. Ketiga. Kata batin juga berarti adanya kemauan. Kita memiliki akal budi dan kesadaran diri, tetapi terkadang kemauan kita kurang kuat menopang kita untuk melakukannya. Oleh karena itu Paulus memohon kiranya Roh Allah berdiam dalam diri orang percaya sehingga orang percaya dikuatkan dan ditenguhkan dalam mempergunakan akal budi, kesadaran dan kemauan dalam menjalani kehidupan kita.
Demikian juga dalam kehidupan kita. Kesulitan yang kita alami sering bertambah besar, bukan karena tidak adanya modal, tetapi lebih karena tidak dipakainya modal itu dalam menghadapi kesulitan itu. Terlalu besar perhatian kita terhadap permasalahan hidup kita sehingga lupa modal yang ada dalam hidup kita. Misalnya, karena semakin binggungnya kita, maka kacamata yang ada dikepala kita, tidak kita ingat dan kita cari di tempat-tempat lain. Tetaplah kita memohon agar dalam kekayaan kemulianNya, kita dipenuhi oleh RohNya sehingga kita dikuatkan dan diteguhkan untuk memakai modal yang telah diberikan Allah bagi kita. Tuhan memberkati kita semua. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 451:1,2.
    1. Malerlah pasu-pasuNdu bagi nipadankenNdu. Gegeh ras ukur si paguh, tetap iberekenNdu. Pasu-pasuNdu em ulu gegeh kami. enggo kap maler me tuhu. Si ndemi geluh kami.
    2. Malerlah pasu-pasuNdu g’luh kami jadi baru. Sorana bagi lau maler mpeteneng ukur kami. Pasu-pasu Ndu…
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 26 November 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 368:1,2
    1. Si puji Tuhan Dibatanta, kataken bujur baNa. Sabab Ia si merekenca, pasu-pasu man banta. Mbelin ras mulia kekelengen Tuhan ibas doni enda. Ajari o Tuhan kami k’rina anakNdu, naksiken kerina perbahanenNdu.
    2. Geluh kami meriah tuhu, k’rina si k’rajangenNdu. Sabab kalak si nembah baNdu datken pasu-pasuNdu. Mbelin ras mulia kekelengen Tuhan ibas doni enda. Ajari o Tuhan kami k’rina anakNdu, naksiken kerina perbahanenNdu.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Pengkotbah 1:5-8
    “Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali. Angin bertiup ke selatan, lalu berputar ke utara, terus-menerus ia berputar, dan dalam putarannya angin itu kembali. Semua sungai mengalir ke laut, tetapi laut tidak juga menjadi penuh; ke mana sungai mengalir, ke situ sungai mengalir selalu. Segala sesuatu menjemukan, sehingga tak terkatakan oleh manusia; mata tidak kenyang melihat, telinga tidak puas mendengar.

Renungan

Kita mengejar impian kita dengan sekuat tenaga. Banyak yang kita korbankan demi tercapainya impian kita tersebut. Lalu kita berhasil dan mendapatkan sukacita itu. Tentunya ada kebahagiaan besar karena keberhasilan kita. Berhari-hari kita menikmati kebahagiaan itu, minggu seminggu atau dua minggu. Lalu setelah itu, kebahagiaan itu mulai menyusut nikmat bahagianya. Dan terlebih lagi, bila kita diperhadapkan dengan permasalahan lain, maka bisa jadi hilanglah rasa bahagia itu. Kita lupa rasanya bahagia, karena sekarang kita sibuk memikirkan masalah kita dan mencoba mengejar kebahagiaan lagi. Sepertinya, hidup tidak pernah selesai-selesai; selalu mengejar kebahagiaan, kebahagiaan di dapat, kebahagian berlalu, mengejar kebahagiaan lagi. Apabila seperti ini cara kita memahami kehidupan ini, tentunya kehidupan ini sangat membosankan.
Hal inilah yang diungkapkan Pengkotbah ini. Pengkotbah menunjukkan ada orang yang memahami kehidupan ini membosankan. Seperti perjalanan matahari yang terus menerus, tidak henti-hentinya, perjalanan angin yang berputar-putar dan aliran air ke laut yang tidak tidak pernah berhenti tetapi laut tidak menjadi penuh. Demikianlah perjalan kehidupan manusia. Pekerjaan manusia tidak pernah selesai-selesai, tetapi manusia tidak pernah mampu melengkapi semua kebutuhannya dan mempertahankan semua yang ada pada dirinya. Manusia tidak pernah puas, tidak pernah kenyang. Artinya, manusia hanya “pernah” puas dan kenyang, tetapi manusia tidak pernah puas dan kenyang selama-lamanya. Setelah manusia puas dan kenyang, maka manusia butuh dan lapar lagi. Demikian terus menerus kehidupan manusia, tiada hentinya, sampai benar-benar berhenti.
Dari yang diungkapkan Pengkhotbah ini, kita dapat belajar beberapa hal :

  • Jangan menyesali kehidupan yang ada dan menggerutu dengan perjuangan yang harus kita jalani. Memang perjuangan manusia tiada hentinya. La padah ninta, “latih nari nggeluh enda”. Kita bisa menerimanya, “nggeluh latih kin.” Dengan demikian kita mampu menghargai kehidupan yang ada.
  • Kita tahu bahwa diri kita bisa saja mengalami kebosanan. Dengan demikian, kita diingatkan untuk mampu mengelola kebosanan itu sehingga kebosanan itu tidak menjerumuskan kita kepada perbuatan-perbuatan yang justru membuat kita tidak dapat menikmati kebahagiaan lebih lama lagi. “Mesera kentisik la ngasup piah dungna terpaksa mesera rasa lalap.” Misalnya ada orang yang menghilangkan kebosanan dengan minum-minuman keras atau narkoba yang pada gilirannya akan membuat dia sakit, mengalami ketergantungan dan penderitaan yang berkepanjangan.
  • Kita semakin mencintai kehidupan kita dan menikmati kebahagian, selagi ada kesempatan untuk berbahagia. Di dalam Pengkhotbah 2: 24-25, dikatakan, “Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa inipun dari tangan Allah. Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia?”
    Akibat pandemi ini, bisa jadi hidup kita dalam situasi sulit dan menjemukan. Namun demikian, kesulitan dan kebosanan itu jangan membuat kita kehilangan kesetian iman dan daya juang kita. Di dalam situasi yang seperti sekarang ini, mari kita jalani kehidupan dengan tetap menghargai kehidupan yang diberikan Allah kepada kita, mengelola kebosanan kita dengan benar dan menikmati setiap kesempatan yang ada untuk berbahagia. Tuhan Allah memberi kita hikmat untuk menjalani kehidupan kita. Amin.
  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 399:1,2
    1. Mari surak puji Tuhan endeken nde enden m’riah, o surga doni kerina. Mari rende muji Ia alu ukur si meriah, puji gelarNa si Badia. La ‘ngadi-ngadi ku puji Kam Tuhan, bas k’rina dampar kegeluhen. Ersurak m’riah, pusuhku ibas Kam. Terpuji Tuhan rasa lalap.
    2. Mari k’rina manusia si puji dage Dibata, rendelah ersuraklah kita k’rina. Ersadalah ukurta e mujiken gelar Dibata, ersurak dage kita k’rian. La ‘ngadi-ngadi …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 25 November 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 202:1,5
    1. Ernalem gelah man Yesus, kula ukur tendingku. Endesken geluhndu baNa, keleng ateNa bandu. Ernalem gelah, tutus min gelah. O Yesusku bahan aku ernalem gelah.
    2. Ibas picet, kesusahen, mungkuk ku adepenNa. Ola gegeh ipenalem, tapi pasu-pasuNa. Ernalem gelah, tutus min gelah. O Yesusku bahan aku ernalem gelah.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Ulangan 5 : 32-33
    “ Maka lakukanlah semuanya itu dengan setia, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri. Segenap jalan, yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, haruslah kamu jalani, supaya kamu hidup, dan baik keadaanmu serta lanjut umurmu di negeri yang akan kamu duduki.”
    Renungan

Lit istilah kalak Karo nina, “mberat la erbaban”. Artinya, seseorang yang merasakan beban yang berat, tetapi bukan karena ada benda berat yang dibawanya, tetapi lebih karena hati dan pikiran yng tertekan berat. Mungkin istilah sesuai dengan situasi yang kita hadapi saat ini. Hati dan pikiran kita ditekan berat. kesulitan-kesulitan hidup yang kita alami, membuat berkurang kekuatan, kemampuan dan akal pikiran kita untuk berkembang. Langsung lemah semangat dan buntu akal pikiran kita untuk melihat hal lain yang harus kita kerjakan untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Di pihak lain, kebutuhan kita semakin mendesak untuk dipenuhi. Ayub mengambarkan penderitannya dengan mengtakannya dalam Ayub 33:19-20, “Dengan penderitaan ia ditegur di tempat tidurnya, dan berkobar terus-menerus bentrokan dalam tulang-tulangnya; perutnya bosan makanan, hilang nafsunya untuk makanan yang lezat-lezat;” Di tempat tidurpun dia tidak bisa tenang, hati dan pikirannya terus menerus bentrok dan dia kehilangan nafsu makan. Apa yang harus kita lakukan ?
Firman Tuhan yang kita baca malam hari ini merupakan penegasan Allah kepada bangsa Israel yang telah bebas dari tanah Mesir. Bangsa Israel saat itu berada di daerah gunung Sinai menerima sepuluh perintah Allah. Inilah ketetapan yang diberikan Allah kepada bangsa Israel. Dengan ketetapan ini maka Allah mengikatkan diriNya dalam sebuah perjianjian bahwa Allah menjadi Allah bangsa Israel dan bangsa Israel menjadi milik khusus Allah. Bangsa Israel haruslah tetap setia menjalankan ketetapan Allah. Dengan demikian Allah tetap hadir memberkati kehidupan bangsa Israel. Berkat inilah yang membuat bangsa Israel dapat hidup, baik keadaannya dan tetap meenmpati tanah yang dijanjikan Allah bagi mereka. Bangsa Israel tidak boleh menyimpang ke kanan atau ke kiri. Justru dengan tetap melakukan kehendak Allah maka bangsa Israel dapat hidup, baik keadaannya dan tetap menempati tanah perjanjian itu.
Firman Tuhan yang dikatakan Allah kepada bangsa Israel, tetap berlaku bagi kita saat ini. Di dalam Tuhan Yesus Kristus, kita telah dijadikan Allah menjadi anak-anakNya, bangsa yang khusus menjadi milik Allah. Oleh karena itu, ketetapan Allah yang berlaku atas bangsa Israel juga berlaku bagi kita. Allah adalah kita dan kita adalah umat Allah. Dari pihak kita, kita harus memperlihatkan kesetian kita melakukan kehendak Allah. Dengan demikian, Allah tetap hadir dalam kehidupan kita, memberkati kehidupan kita. Demikianlah kita jalani kehidupan kita. Walaupun, mungkin kita telah kehilangan kekuatan, kemampuan dan akal pikiran untuk menemukan jalan lain memenuhi kebutuhan hidup kita, satu hal yang tetap kita percayai adalah tetap setia melakukan yang dikehendaki Allah. Justru hal inilah yang membuat kita hidup, baik keadaan kita dan lama waktu kita menikmati berkat-berkat Allah.
Kita teruskan perjuangan kita, walaupun pergerakan hidup kita terasa melambat, walaupun perlahan, tetapi tetaplah setia melakukan kehendak Allah. Tuhan Allah memberkati kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 168:1,2
    1. Tegu aku o Tuhanku ibas dalan mesera. La lit ngasup ras gegehku, b’re min tanNdu negusa. Roti surga, roti surga, tetap b’reken man bangku. Tetap b’reken man bangku.
    2. Lau si nggeluh b’re min elah maka aku megegeh. ‘Tah kai jadi bas geluhku, Kamlah arah lebengku. O Tuhanku, O Tuhanku, Kam me kap sekawalku, Kam me kap sekawalku.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 24 November 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 360:1 (3x)
    Ibas Tuhan aku megegeh, Tuhan me kupujiken. Tuhan me jadi gegehku, ibas IA lit kesenangen. Ibas IA lit kesenangen.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Mazmur 103 : 5 – 6.
    “ Dia yang memuaskan hasratmu dengan kebaikan, sehingga masa mudamu menjadi baru seperti pada burung rajawali. TUHAN menjalankan keadilan dan hukum bagi segala orang yang diperas.”

Renungan

Perjanjian Lama sering memaknai kehidupan berdasarkan gambaran burung rajawali. Burung rajawali dilihat dari segi ketangkasannya menyambar buruannya, kecepatannya, kekuatannya mendukung anak-anaknya. Dengan tidak perlu banyak mengepakkan sayapnya, tetapi dengan tetap menahan kepakan sayap yang terbuka, burung rajawali mendapat bantuan udara untuk terbang lebih tinggi lagi. Demikianlah Kitab Jesaya 40:31 menggambarkan kekuatan baru bangsanya, semakin lama semakin tinggi, seperti rajawali yang terbang naik dengan kekuatan sayapnya. Bacaan renungan malam hari ini juga memperlihatkan kepada kita kehidupan umat Tuhan yang diperbaharui Allah, seperti burung rajawali.
Di dalam Mazmur 103 ini, Pemazmur mengundang jemaat memuji Allah. Pemazmur mengungkapkan alasannya berdasarkan pengalamannya dan pengalaman bangsa Tuhan. Di dalam ayat 2-5, Pemamzur merasakan Allah telah mengampuni, menyembuhkan, menebus, memahkotai dan memenuhi hasratnya. Di dalam ayat 6 – 19, Pemazmur berbicara tentang belas kasihan Allah secara umum terhadap bangsaNya dan dunia ini.
Khususnya, pada ayat 5, Pemazmur mengakui bahwa karena pertolongan Allah-lah sehingga dia merasakan hari-hari hidupnya dipenuhi dengan kebaikan. Selama ini Pemazmur mengalami sakit parah yang membawa dia dekat pada lubang kubung. Hasratnya dipenuhi dengan kerinduan akan kesembuhan dan kebaikan hidup. Dan sekarang hasratnya itu telah dipenuhi Allah dengan memberikan hari-hari baik dalam hidupnya. Allah telah mengampuni dosa-dosanya, menyembuhkannya dari sakit, menebusnya dari lubang kubur dan memahkotai dirinya dengan kasih setia dan rahmat. Hari-harinya sekarang kembali hidup lagi. Keadaan ini membuat Pemazmur seakan muda kembali. Semangat, harapan dan kekuatan masa muda meliputi jiwanya, seperti burung rajawali.
Pengalaman dirinya di kasih Allah juga merupakan pengalaman bangsaNya dan orang-orang yang takut akan Allah. Pemazmur menunjukkan bahwa Allah itu baik, bagi dirinya, bangsaNya dan dunia ini. Pengalaman dirinya dan pengalaman bangsaNya-lah yang mendorong Pemazmur mengundang jemaat memuji Allah.
Seturut dengan pengalaman Pemazmur ini, tetaplah kita yakin bahwa TUHAN itu baik bagi kita, bagi dunia ini. Hasrat kita untuk merasakan kebaikan Allah tetap akan dipenuhi Allah. Oleh karena kasih dan kebaikan Allah maka kita akan merasakan hari-hari kita “kembali hidup lagi”. Semangat, harapan dan kekuatan kita dipulihkan Allah kembali. Kita teruskan perjalanan hidup kita dengan keyakinan kasih dan kebaikan TUHAN tetap nyata dalam hidup kita. Tuhan Yesus memberkati kehidupan kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 307:1,2
    1. O Tuhanku, Kam me permakanku, emaka la kekurangen aku. Ku mbal-mbal m’ratah aku babaNdu, ipesenang senangNdu geluhku. Permakanku sinjayam geluhku. Malem ateku senang tuhu. KelengNdu tetap maler man bangku, Kam me Tuhanku, Permakanku.
    2. IteguNdu kempak lau si maler, ibahanNdu ateku nggo malem. E maka tedeh ate tendingku kempak keg’luhen si sikapkenNdu. Permakanku sinjayam geluhku. Malem ateku senang tuhu. KelengNdu tetap maler man bangku, Kam me Tuhanku, Permakanku.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 23 November 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 201:1,4.
    1. Malem ate tuhu-tuhu, si ernalem man baNdu. Kam Dibata sinjadiken langit ras doni enda. SalsaliNdu pusuh kami, maka t’rangndu tergejap. Kalak si tek la kap bene, ban kelengNdu e tetap.
    2. Aloken Kamlah o Bapa, kuendesken geluhku. KesahNdu min ngajarisa, lah kueteh nembah baNdu. Pasu – pasu min kerina, daging, ukur, tendingku. Gelah arah tan ras kata, ipujina gelarNdu.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Mazmur
    “Tujukanlah pandanganmu kepada-Nya, maka mukamu akan berseri-seri, dan tidak akan malu tersipu-sipu.”

Renungan

Kita hidup di tengah situasi yang menuntut keteguhan hati dan kekuatan pikiran. Kita sedang menghadapi beratnya beban hati dan pikiran kita. Kita menghadapi tantangan, baik secara ekonomi, tantangan kesehatan dan ketenteramen dalam keluarga kita. Terlebih dalam mengelola hati dan pikiran di saat kita menyaksikan orang-orang yang kembali kepada Allah akibat pandemi covid-19 ini. Kita beranggapan situasi sudah mulai membaik, karena kita melihat banyak orang sudah semakin “bebas” beraktivitas tanpa mematuhi protokol kesehatan. Situasi belumlah membaik. Oleh karena itu kita terus membutuhkan kekuatan dalam menghadapi tantangan ini.
Mazmur 34 ini bertemakan ucapan syukur Pemazmur atas pembebasan yang dilakukan Allah dalam hidupnya. “Aku telah mencari TUHAN, lalu Ia menjawab aku, dan melepaskan aku dari segala kegentaranku.” (Mazmur 34:5) Pengalaman pembebasan ini memberikan hikmat bagi Pemazmur tentang cara hidup yang baik dan mendorong Pemazmur untuk mengajak orang lain memandang Allah, berharap kepada Allah.
Pemazmur mengajak orang lain untuk menujukan pandangannya kepada Allah dengan penuh perhatian, mencari perlindungan kepada Allah dan menanti-nantikan pertolongan Allah. Pemazmur telah mengalaminya dan dia tidak mendapat malu karena berharap kepada Allah. Allah telah menjawab seruannya dan melepaskannya dari segala kegentarannya. “Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya. Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka.” (Maz. 34:7-8) Oleh karena itu Pemazmur mengajak orang lain untuk memuliakan Allah. “Muliakanlah TUHAN bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memasyhurkan nama-Nya!” (Maz. 34:4 ITB)
Berdasarkan pengalaman pembebasan Allah ini, Pemazmur juga mengajarkan cara hidup yang baik kepada orang lain. “Marilah anak-anak, dengarkanlah aku, takut akan TUHAN akan kuajarkan kepadamu! Siapakah orang yang menyukai hidup, yang mengingini umur panjang untuk menikmati yang baik? Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu; jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya!” (Maz.34:12-15) Mengapa Pemazmur mengajarkan hal ini ? Pemazmur mengimani bahwa “Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong; Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya” (Maz. 34:15;17)
Kita teruskan perjalanan kehidupan kita dengan pandangan yang tertuju kepada Allah dan hidup takut akan Allah. Kita percaya Allah memahami semua kegundahan hati dan pikiran kita dan Allah mendengar seruan permohonan kita. Kita menjadi kuat, tidak akan mendapat malu dan bahkan akan merasakan kebahagiaan karena kebaikan Tuhan, ketika kita berharap kepada Allah. Sebab Allah mendengarkan seruan permohonan orang yang takut akan Allah. Tuhan Allah memberkati kita. Amin.

  1. Rende KEE GBKP No. 238:1,2.
    1. Ibas ndalani perdalanen geluh, kiniseran pe reh megati ngupuh. Si cengkal ukur, ras si mambur iluh, bereNdu teneng gelah banci tunduh. Kesah ras daging rikut pe ras tendi kempak DIbata k’rina ndesken kami. E maka Kam lah tetap singkawali, ‘lah daging bugis bas medak pepagi.
    2. Segedang wari kami enggo latih, paksana medem enggo ka me kap seh. IkawaliNdu min sangana tunduh, ‘lah suang gegeh adi baNdu badeh. Kesah ras daging …
  2. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 22 November 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 335:1,2
    1. Tuhanku si ngaturkenca, Tuhanku si ngajarisa, Tuhanku jadi gurungku, ibas kerina geluhku.
    2. La lit ngasup ras gegehku, ndalani wari-waringku, tundalenku kap Dibata si perkuah ras erkuasa.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Mazmur 84 : 12 – 13.
    “ Sabab TUHAN Dibata kap matawari ras ampang-ampang si enteguh, iberekenNa man banta kehamaten ras lias ateNa. La ia rahan-ahan mereken si mehuli, man kalak si ngelakoken si ngena ateNa. O TUHAN si Mada Kuasa, malem kal ate kalak si tek baNdu.”

Renungan

Kita jalani kembali aktivitas kita di minggu ini. Setelah pada hari Kamis, 19 November, seluruh jemaat GBKP menghadapi kenyataan bahwa Ketua Moderamen GBKP periode 2015-2020 telah kembali ke hadapan TUHAN Allah. Ada rasa kehilangan yang mendalam dan dalam keterkejutan kita, serasa terhenti sejenak kehidupan kita. Dalam situasi ini, kita tetap percaya Allah memerlihara dan melindungi kita. Kita dapat belajar dari ungkapan Pemazmur dalam renungan malam hari ini.
Mazmur ini merupakan nyanyian kerinduan akan tempat kehadiran Tuhan. Alasan kerinduan itu ditemukan pada Tuhan sendiri. Pemazmur meyakini dan merasakan kehadiran dan perbuatan Tuhan itu seperti kehadiran matahari dan sebagai perisai. Demikianlah Pemazmur menggambarkan Kasih dan Kuasa Allah itu. Karena kuasa dan kasih Allah-lah yang menerangi semua mahkluk maka semua mahkluk memperoleh kehidupan. Kuasa dan Kasih Allah-lah yang mengatur paksa-paksa kehidupan semua ciptaan Allah. Kuasa dan Kasih Allah tetap di dalam dunia ini. kuasa dan Kasih Allah menjadi sumber kebaikan hidup semua mahkluk. Pemazmur meyakini dan merasakan Allah adalah perisai yang melindungi kehidupannya dari bahaya. TUHAN adalah perlindungan dalam bahaya.
Pemazmur juga merasakan kebaikan Allah terus menerus dalam kehidupannya. Allah tidak setengah-setengah dalam mengasihi kehidupannya. Pemazmur merasakan bahwa Allah tidak menunda-nunda kebaikanNya di setiap pergumulan kehidupan Pemazmur. Oleh karena itu, Pemazmur mengatakan bahwa kebahagiaannya ada di dalam TUHAN. Pemazmur mengungkapkan berbahagialah mereka yang percaya kepada Allah.
Berdasarkan pengalaman iman Pemazmur ini, kita diajak untuk terus mempercayakan perjalanan kehidupan kita kepada kuasa dan kasih Allah. Kasih dan Kuasa Allah itu dapat kita gambarkan seperti matahari dan perisai dalam kehidupan kita. Allah memberi kehidupan kepada kita, menentukan dan mengatur waktu kehidupan kita, sumber kebaikan hidup kita dan melindungi kita dalam bahaya. Allah tetap mengasihi kita dan tidak berlambat-lambat dalam memelihara kehidupan kita.
Enda ka me pengarapennta maka kuasa ras keleng ate Dibata tetap ngarak kegeluhen Nora Pdt. Agustinus Purba, anak-anak, Thea, Louis, Pascal, kerina keluarga bage pe perpulungen GBKP enda. Dalam keyakinan TUHAN adalah matahari dan perisai kita, kita percaya TUHAN Allah tetap memelihara dan melindungi Nora Pdt. Agustinus Purba, anak-anak, keluarga dan jemaat GBKP.
Kita juga meyakini dan mempercayakan hidup kita kepada Allah. Kita jalani kembali kehidupan kita dalam minggu ini dalam penyerahan diri pada pemeliharaan dan perlindungan TUHAN Allah. Bersama TUHAN Allah-lah maka kita dapat merasakan kebahagiaan dalam kehidupan kita.
Tuhan Allah memberkati kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 369:1,2
    1. O Dibata Kam pengarapenku, malem kal ateku ibahanNdu. Perban e kupuji Kam Tuhanku, rasa lalap seh rasa lalap.
    2. O Tuhan, Kam me kap kecionku. Tupung aku ‘bas kiniseranku. Perban e kupuji Kam Tuhanku, rasa lalap seh rasa lalap.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 14 November 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 291:1,3
    1. M’riah ukur kami o Bapa, nembah ‘rjimpuh ertoto baNdu. Kam o Tuhan ipuji kami, ermulia gelarNdu. Bengket kami o Tuhan, ngadap kulebeNdu. Reh kami muji-muji gelarNdu Tuhan si Badia.
    2. Bujur ning kami baNdu, ban keleng ateNdu. IcukupiNdu k’rina si perlu. Mbelin kal kuasaNdu. Bengket kami o Tuhan …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata I Samuel 12 : 24
    “ Hanya takutlah akan TUHAN dan setialah beribadah kepada-Nya dengan segenap hatimu, sebab ketahuilah, betapa besarnya hal-hal yang dilakukan-Nya di antara kamu.”

Renungan

Allah menciptakan kita memiliki rasa takut. Seberani-beraninya manusia, mereka juga memiliki ketakutan. Hanya saja terkadang rasa takut itu ditempatkan pada hal-hal yang tidak pada tempatnya. Ada orang yang pada peluru dia tidak takut, tetapi melihat jarum suntik dia gemataran. Menghadapi orang banyak banyak, dia berani tetapi melompat ketika melihat kecoa. Kita lebih takut akan perkiraan kita ketimbang pada kuasa yang mengatur kehidupan kita. Dalam hal ini kita melihat dalam hal apa kita seharusnya takut.
Bagian bacaan Firman Tuhan yang menjadi renungan malam hari ini merupakan bagian dari perikop pidato perpisahan Samuel. Samuel sudah menyelesaikan tugasnya. Bangsa Israel sekarang telah memiliki seorang raja. Rajalah yang akan memimpin mereka. Nina Samuel, “Kerina pagi erdalan alu mehuli adi ipahagandu TUHAN Dibatandu, isembahndu IA, ibegikenndu KataNa, ras ipatuhindu kerina PedahNa, bage pe kam adi kam ras rajandu ngikutken IA.” (I Samuel 12:14). Oleh karena itu Samuel menegaskan agar bangsa Israel dan raja mereka harus takut akan Allah dan menyembah Allah. Hal ini juga karena mengingat kebaikan yang telah dilakukan Allah dalam kehidupan mereka.
Dari apa yang dikatakan Samuel ini kita melihat ada dua hal. Pertama, takut dan menyembah Allah karena banyak yang telah dilakukan Allah dalam kehidupan mereka. Kedua, takut dan menyembah Allah merupakan jaminan masa depan yang baik dalam kehidupan mereka.
Demikian juga dalam kehidupan kita saat ini, kita takut akan Allah dan menyembah Allah. Ketika rasa takut meliputi manusia maka biasanya manusia menjauh atau menghindari sesuatu yang menakutkan itu. Takut kepada Allah justru membuat manusia datang kepada Allah. Dalam takut dan menyembah Allah ada rasa takjub dan hormat. Allah-lah pencipta kita. Allah memiliki kita dan berkuasa atas kehidupan kita. Takut dan menyembah Allah karena kita merasakan betapa banyak kebaikan Allah dalam hidup kita dan di dalam Allah kita memperoleh jaminan kebaikan hidup masa depan kita. Kita datang dengan kerendahan hati dan memasrahkan diri kepadaNya. Mengimani dan mengamini Tuhan sebagai Juruselamat. Memahami murka Allah terhadap dosa dan betapa dahsyatnya penghakimanNya terhadap dosa. Mendorong kita hidup berkenan kepadaNya, mengikuti jalanNya, melayaniNya dan mengasihiNya. Takut akan Allah berarti mempercayai dan mengakui kuasa Allah dalam hati, pikiran, perkataan dan perbuatan kita.
Mari kita persiapkan diri kita dalam ibadah minggu kita pada esok hari. Ibadah kita merupakan salah satu bagian dari takut akan Allah dan menyembah Allah. Kita persiapkan tubuh, roh dan jiwa kita untuk beribadah minggu esok hari. Tuhan Yesus memberkati kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 334:1,2
    1. Tuhan kap si empuna geluhta, gegehta pe IA simerekenca. Kiniteken pe ras pemetehta e pe IA sinjujurkenca. IA kap erbanca kita sanggap, tetaplah man IA kita ngarap. ‘Di reh susah b’reNa erpang luah, tendi kula mejuah-juah.
    2. Dage tetaplah bulat ukurta, geluhta pe lalap min erguna. Lagu langkah pe la sia-sia, gelar Tuhanlah ermulia. Adi jumpa kita si mesera, pengarapen ula kal min pera. Kune riah ukur kita jumpa, nehken bujur ula kal lupa.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan