Renungan Malam 29 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 328:1,3.
    1. Teruh kayu silangNdu, ku’ndesken geluhku. Lau sumbul kegeluhen, maler kap man bangku. SilangNdu, silangNdu, e kumuliaken. Seh ku surga me pagin, geluhku terkelin.
    2. Teruh kayu silangndu, liasNdu kuinget. Ibas dalin geluhku, kelengNdu tersinget. SilangNdu …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Mazmur 143:4-6
    “ Semangatku lemah lesu dalam diriku, hatiku tertegun dalam tubuhku. Aku teringat kepada hari-hari dahulu kala, aku merenungkan segala pekerjaan-Mu, aku memikirkan perbuatan tangan-Mu. Aku menadahkan tanganku kepada-Mu, jiwaku haus kepada-Mu seperti tanah yang tandus. Sela ”

“ Enggo labuh kal aku, bene kal ukurku. Kupeinget-inget wari-wari si enggo lepas, kuukuri kerina perbahanenNdu, kukusur-kusur i bas pusuhku kai si enggo ilakokenNdu. Kuangkat tanku ertoto aku man baNdu, desken taneh kelegon, muas aku man baNdu.”

Renungan.

Ada saat di mana beban hidup yang begitu berat menekan hidup kita. Kita merasa tidak tahu harus berkata-kata atau mengerjakan apa lagi. Seakan-akan semua pekerjaan yang kita kerjakan tidak membuahkan hasil, sia-sia semuanya. Bahkan hidup semakin sulit saja setiap harinya. Secara fisik, mungkin kita tidak tahu harus berbuat apa lagi, namun demikian, bukan berarti tidak ada yang dapat kita lakukan. Masih ada yang dapat kita lakukan. Kita dapat belajar dari kondisi Pemazmur ini.
Pemazmur menyadari keadaannya benar-benar butuh pertolongan. Pemazmur ngatakenca ‘enggo bene kal ukurku”, semangatku lemah lesu, tertegun, atau tidak dapat berkata-kata lagi. Demikianlah beratnya penderitaan yang dialami Pemazmur. Walaupun dalam situasi yang demikian berat, Pemazmur tetap mempunyai upaya. Ada dua hal yang dilakukan Pemazmur. Pertama, Pemazmur merenungkan segala pekerjaan TUHAN dan memikirkan perbuatan tangan TUHAN. Kedua, Pemazmur mengangkat tangannya berdoa kepada Tuhan.
Memang inilah yang penting kita lakukan ketika beban berat itu telah membuat semangat kita lemah lesu, tidak ada lagi kata-kata yang terucapkan. Kita merenungkan dan mengingat perbuatan-perbuatan Allah yang telah dilakukanNya dalam hidup kita. Bagaimana Allah memelihara hidup kita, melepaskan kita dari berbagai macam kesulitan hidup. Semua hal-hal baik yang dilakukan Allah, tetap perlu kita ingat-ingat. Hal ini akan membangkitkan pengharapan kita, kekuatan kita dan semangat kita. Dalam situasi yang sulit, kita mengingat-ingat hal yang baik agar muncul pengharapan yang baik dan semangat untuk merasakannya kembali. Sebaliknya, bila dalam keadaan sulit, kita terus menerus mengingat hal-hal buruk, justru akan membuat kita semakin takut bahwa kejadian buruk itu benar-benar terjadi dalam hidup kita.
Proses merenungkan dan meningat akan membangkitkan keyakinan kita akan pertolongan Allah. Inilah yang mendasari doa-doa kita. Kita tidak menjadikan doa sebagai alat uji coba. Seakan-akan berkata, berdoa sajalah, mana tahu di dengar Tuhan. Kalau di dengar, ya, puji Tuhan, kalau tidak di dengar, maka tidak ada penyesalan lagi, “jangan-jangan karena aku tidak berdoa”. Kita berdoa karena ada pengharapan dan keyakinan akan pertolongan Allah. Seperti tanah yang tandus merindukan air, demikianlah jiwa kita benar-benar yakin dan berharap akan pertolongan TUHAN. Tetap ada yang dapat kita lakukan. Tuhan melihat dan memberkati kehidupan kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 200:1,2
    1. O Tuhan babai min dalanku bas doni, labuh ras la kesah gegehku. SoraNdu terbegi man bangku nemani. Lalap Kam me kuban temanku.
    2. O Tuhan sampatlah geluhku gundari. Ola Kam erleka bas aku. Kawali geluhku suari ras berngi, lalap Kam me kuban temanku
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 28 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 282:1,2
    1. Ku kataken bujur baNdu, o Kam Tuhan Penebus. Aku enggo s’lamatkenNdu arah lias ateNdu. Keleng kal ateNdu aku, simpar kap ngaruhNdu bangku. Lias ateNdu lanai terpilasi, kupuji tep-tep wari.
    2. Tergejap pasu-pasuNdu ibas kegeluhenku. Rejeki arah dalinku, icurcurkenNdu bangku. …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Markus 4:27
    “ Paksa berngi tunduh ia, suari idahina dahinna. Kidekah si e benih ndai ersuli, turah pe. Tapi kuga carana turah labo ieteh perjuma ndai.”

“Lalu pada malam hari ia tidur dan pada siang hari ia bangun, dan benih itu mengeluarkan tunas dan tunas itu makin tinggi, bagaimana terjadinya tidak diketahui orang itu.”

Renungan

Ketika penderitaan datang menerpa kehidupan kita, biasanya pertanyaan pertama yang muncul adalah “mengapa”. Hal ini adalah wajar. Sebagai makhluk yang diberikan akal, pikiran, maka kita mencoba mencari penjelasan mengapa hal itu terjadi dalam hidup kita. Kata mengapa memang perlu agar kita dapat menganalisa dan menemukan apa yang perlu dilakukan kedepannya. Namun demikian, pertanyaan “mengapa” ini juga harus dibarengi pertanyaan “bagaimana”. Pada pertanyaan inilah kita memfokuskan perhatian kita. Bagaimana kita menghadapi kehidupan kita ini ?
Di dalam Markus 4:26-29, Tuhan Yesus memberikan perumpamaan tentang benih yang tumbuh. Dengan perumpamaan ini, Tuhan Yesus menjelaskan tentang pertumbuhan dan perkembangan Kerajaan Allah di bumi. Seperti petani yang tidak dapat mengamati bagaimana pertumbuhan benih itu, demikianlah hal Kerajaan Allah terus bertumbuh tanpa dapat kita pahami cara pertumbuhan dan perkembangannya. Itu semua adalah kemahakuasaan Allah.
Namun perumpamaan ini juga dapat kita pakai untuk melihat kebijaksanaan hidup kita.
Kehidupan kita memang memiliki rahasia pertumbuhan dan perkembangannya. Banyak hal yang tidak dapat kita mengerti dan jelaskan. Ada banyak unsur yang ikut berproses dalam kehidupan kita, namun tidak semua proses itu dapat kita kendalikan. Seperti seorang petani, dia mampu menyiapkan lahan, memilih benih, menanam dan merawatnya. Tetapi untuk mendapatkan hasil yang baik, kerja keras petani tersebut juga tergantung pada faktor cuaca, faktor hama, faktor keamanan dan faktor pembeli. Kita sendirian tidak dapat mengendalikan faktor-faktor ini. Demikian juga dalam kehidupan kita. Semakin besar hasil yang kita inginkan, maka biasanya semakin banyak faktor yang terlibat dan berarti semakin banyak faktor yang di luar kendali kita. Hal ini menyadarkan kita akan keterbatasan kita dalam mengendalikan kehidupan kita. Oleh karena itu, kita dengan rendah hati menerima keadaan ini.
Inilah rahasia kehidupan. Seperti tumbuhnya bibit, jikalau diamati terus, justru kita tidak dapat melihat perbedaan pertumbuhannya. Tetapi, ketika ada selang waktu pengamatan, pada saat itulah baru dapat melihat perbedaan pertumbuhannya. Seorang petani, ketika dia selesai menaburkan benihnya, dia meninggalkannya untuk beberapa hari. Hari pertama, hari kedua dan mungkin sampai hari ketiga, tidak terlihat perbedaan di tanah di mana bibit ini ditaburkan. Tetapi petani itu, yakin pastilah ada pertumbuhan bibit itu walaupun dia tidak melihat bagaimana pertumbuhan bibit itu. Setelah beberapa hari kemudian, barulah petani itu dapat melihat perbedaannya. Demikian juga dalam pekerjaan kita, mungkin kita tidak dapat melihat langsung hasilnya dalam kehidupan ini. Tetapi kita yakin, pasti ada pertumbuhan dan perkembangannya dalam kehidupan kita.
Dalam situasi di mana kita tidak mampu mengendalikan semua bagian dalam proses kehidupan kita dan adanya rahasia pertumbuhan dan perkembangan kehidupan ini, yang dapat terus kita lakukan adalah terus bertanggungjawab mengerjakan bagian kita dan meyakini dan berserah kepada Allah. Dalam berkat Allah, kita meyakini tetap ada pertumbuhan dan perkembangan dalam kehidupan kita, walaupun mungkin kita tidak dapat langsung merasakan dan melihat perbedaannya. Setelah mengerjakan pekerjaan kita, kita berserah kepada Allah sehingga kita dapat beristirahat dengan nyaman dan aman. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 307:1,2
    1. O Tuhanku, Kam me permakanku, emaka la kekurangen aku. Ku mbal-mbal m’ratah aku babaNdu, ipesenang senangNdu geluhku. Permakanku sinjayam geluhku. Malem ateku senang tuhu. KelengNdu tetap maler man bangku, Kam me Tuhanku, Permakanku.
    2. IteguNdu kempak lau si maler, ibahanNdu ateku nggo malem. E maka tedeh ate tendingku kempak keg’luhen si sikapkenNdu. Permakanku sinjayam geluhku. Malem ateku senang tuhu. KelengNdu tetap maler man bangku, Kam me Tuhanku, Permakanku.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 27 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 196:1,4.
    1. Pujilah Dibata Bapa, pujilah man AnakNa. Pujilah Kesah Badia, Dibata telu sada. Haleluya, Haleluya ! Dibata telu sada.
    2. Puji alu ukur tutus, bulat dage ukurta. Tuhan si jadi Penebus, k’rina anak Dibata. Haleluya, Haleluya, k’rina anak Dibata.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Mazmur 88:2-3.
    “ Ya TUHAN, Allah yang menyelamatkan aku, siang hari aku berseru-seru, pada waktu malam aku menghadap Engkau. Biarlah doaku datang ke hadapan-Mu, sendengkanlah telinga-Mu kepada teriakku;”

Renungan

Kita akan memulai lagi perjalanan hidup kita dalam minggu ini. Kita memulai lagi segala aktivitas kehidupan kita. Bisa jadi yang lebih terbayang dalam diri kita adalah kesulitan-kesulitan hidup ini, ketimbang sukacita kita. Mengingat kerja keras saja sudah membuat kita jenuh, apalagi membayangkan bagaimana kita harus bekerja keras sambil dibayangi kekhawatiran akan protokol kesehatan kita. Hidup semakin terbeban karena di hari liburpun, kita tidak bisa kemana-mana melepas kejenuhan hari-hari kita. Lengkaplah rasanya beban yang harus kita pikul. Bagaimana kita menghadapi situasi ini ?
Dalam bacaan renungan malam ini, diperlihatkan kepada kita tindakan-tindakan Pemazmur. Pemazmur sendiri menyebut tindakannya, yaitu berseru-seru, menghadap dan berteriak. Dan hal itu dilakukannya siang dan malam. Hal ini menunjukkan bahwa pemazmur mengalami penderitaan yang berat. Dalam 4 ayat saja, mulai ayat 4-7, pemazmur menyebutkan 4 kali keadaannya sudah dekat dengan kematian. Demikianlah Pemazmur memang menghadapi penderitaan yang berat. Di dalam keadaan penderitaan ini, kita dapat melihat apa yang ada diri Pemazmur.
Di dalam penderitaannya, Pemazmur tetap memiliki keyakinan. Pemazmur tetap yakin bahwa Allah adalah penyelematnya. Pemazmur tetap yakin bahwa Allah tetap berkuasa atas situasi penderitaan yang dia hadapi. Pemazmur yakin Allah berkuasa untuk melepaskannya dari penderitaan itu.
Di dalam penderitaannya, Pemazmur memiliki “seseorang” sebagai tempat dia mengadukan semua penderitaannya. Dia berseru, menghadap dan berteriak. Seberat apapun penderitaannya, Pemazmur tidak memendam, menanggung sendirian penderitaan itu atau melupakan Allah. Pemazmur tetap datang kepada Allah untuk mengadukan penderitaannya siang dan malam. Artinya, mungkin pertolongan itu belum juga muncul, tetapi hal itu tidak membuat Pemazmur berhenti berseru, menghadap dan berteriak kepada Allah.
Hal ini jugalah yang harus kita miliki dan lakukan dalam menghadapi hari-hari kita di minggu ini. Kita tetap memiliki keyakinan akan kuasa Allah, memiliki tempat mengadukan semua penderitaan kita dan terus menerus berdoa kepada Allah. Perjuangan kita belum berakhir, masih panjang perjalanan yang harus kita tempuh dan banyak hal yang harus kita hadapi. Namun demikian, dengan tetap memiliki keyakinan, tempat mengadu dan berdoa terus menerus, kita dimampukan untuk menghadapi perjalanan hidup kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 331:1,2.
    1. Tegu aku anakNdu, ibas perdalan geluhku. ‘Di paksa aku labuh, ambatilah musuhku. Tegu aku, ibas perdalanenku. Kam me ngenca ku lebuh, cikepNdu tanku nteguh.
    2. Kam bentengku si paguh, gia musuhku ngupuh. Amin mara reh nderpa, la aku bera-bera. Tegu aku,..
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 26 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 399:1,2
    1. Mari surak puji Tuhan endeken nde enden m’riah, o surga doni kerina. Mari rende muji Ia alu ukur si meriah, puji gelarNa si Badia. La ‘ngadi-ngadi ku puji Kam Tuhan, bas k’rina dampar kegeluhen. Ersurak m’riah, pusuhku ibas Kam. Terpuji Tuhan rasa lalap.
    2. Mari k‘rina manusia si puji dage Dibata, rendelah ersuraklah kita k’rina. Ersadalah ukurta e mujiken gelar Dibata, ersurak dage kita k’rian. La ‘ngadi-ngadi …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Mazmur 119 : 107-109.
    “ Mekelek kal kiniseranku, jagai min geluhku sue ras si nggo IpadankenNdu. O TUHAN, aloken pertoton pengataken bujur, jenari ajarkan man bangku AturenNdu. Geluhku tetap i bas kebiaren, tapi la pernah ku lupaken Undang-UndangNdu.”

Renungan.

Puji TUHAN, kita telah tiba di hari Sabtu malam. Telah kita lalui lagi hari-hari kita di minggu ini. Hari-hari yang kita lalui, tidak hanya dipenuhi kerja keras, tapi juga kerja keras diliputi kekhawatiran akan kesehatan tubuh kita, diiringi dengan banyak pertanyaan tentang hidup ini. Ada pekerjaan yang dapat kita selesaikan dengan hasil yang mengembirakan kita, ada hasil lebih diluar dugaan kita, ada harapan kita yang tidak tercapai. Namun dalam situasi itu semua, kita telah melaluinya. Walaupun kita dalam kesulitan hidup, kita tetap dapat melaluinya. Saat ini kita telah tiba di Sabtu malam ini.
Seperti ungkapan Pemazmur dalam bacaan renungan ini, “mekelek kiniseranku, geluhku ibas kebiaren”. Walaupun Pemazmur menjalani hidupnya dalam “kiniseran” dan “kebiaren”, Pemazmur meyakini bahwa TUHAN Allah yang telah menolong hidupnya untuk dapat melalui itu semua. Pemazmur dimampukan TUHAN untuk hidup seturut Firman TUHAN. Oleh karena itu Pemazmur mempersembahkan korban syukurnya melalui nyanyian pujian. Dalam hal ini Pemazmur mempersembahkan hati, pikiran dan tubuhnya melalui nyanyian pujian sebagai korban syukurnya. Tidak hanya mempersembahkan korban syukur, Pemazmur tetap memohon perlindungan TUHAN dan pengajaran Firman TUHAN. Hal ini memperlihatkan bahwa “kiniseran” dan “kebiaren” tidak hilang sama sekali. Bukan berarti tidak ada lagi “kiniseran” dan “kebiaren” di masa depan. Tetapi, sebagaimana TUHAN telah melindunginya di hari – hari yang lalu, Pemazmur yakin dan terus berharap akan perlindungan dan pengajaran Firman TUHAN untuk hari-hari kedepannya. Oleh karena perlindungan dan pengajaran Firman TUHAN-lah maka Pemazmur tetap dapat melakukan kehendak Allah.
Berdasarkan pengalaman Pemazmur ini, di Sabtu malam ini, kita mengingat kembali hari-hari yang telah kita lalui. Kita mengingat bagaimana TUHAN telah menolong kita untuk melalui “kiniseran” dan “kebiaren” hidup kita. Apapun hasil yang kita peroleh sampai hari ini, kita ada seperti hari ini kita adanya, itu karena pertolongan Allah. Oleh karena itu, dengan segenap hati, pikiran kita yang terdalam, kita mengakui anugerah pertolongan Allah dalam hidup kita. Dan melalui tubuh kita, kita naikkan nyanyian syukur kita dengan segenap hati dan segenap jiwa kita. Ini juga merupakan persembahan korban syukur kita. Kita persiapkanlah tubuh, jiwa dan roh kita untuk menaikkan korban syukur kita melalui ibadah minggu kita besok. Dalam doa kita tetaplah memohon perlindungan dan pengajaran Firman TUHAN, sehingga kita tetap dimampukan TUHAN untuk melakukan Firman Tuhan di hari-hari yang akan diberikan Allah bagi kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 202:1,2
    1. Ernalem gelah man Yesus, kula ukur tendingku. Endesken geluhndu baNa, keleng ateNa bandu. Ernalem gelah, tutus min gelah. O Yesus ku bahan aku ernalem gelah.
    2. Kita k’rina bas geluhta, p’raten daging simbak min. Pindo lebe gegeh baNa, maka kita erdahin. Ernalem gelah …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 25 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 368:1,2
    1. Si puji Tuhan Dibatanta, kataken bujur baNa. Sabab Ia si merekenca, pasu-pasu man banta. Mbelin ras mulia kekelengen Tuhan ibas doni enda. Ajari o Tuhan kami k’rina anakNdu, naksiken kerina perbahanenNdu.
    2. Geluh kami meriah tuhu, k’rina si k’rajangenNdu. Sabab kalak si nembah baNdu datken pasu-pasuNdu. Mbelin ras mulia kekelengen Tuhan ibas doni enda. Ajari o Tuhan kami k’rina anakNdu, naksiken kerina perbahanenNdu.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata 2 Samuel 1:14
    “ Kemudian berkatalah Daud kepadanya: “Bagaimana? Tidakkah engkau segan mengangkat tanganmu memusnahkan orang yang diurapi TUHAN?”

Renungan

Beberapa waktu lalu kita kita sering mendengar istilah SMS, yaitu Senang Melihat orang Susah atau Susah Melihat orang Senang, terutama hal itu ditujukan kepada orang yang dianggapnya musuhnya. Dan bergosip tentang kesusahan orang yang menyakiti hatinya dapat memakan waktu berjam-jam. Ternyata, keadaan ini tidak selamanya demikian.
Suatu ketika, Daud didatangi seorang pemuda yang mengabarkan kematian Raja Saul. Dia mengatakan dirinya adalah orang yang telah lolos dari tentara Israel. Lalu anak muda ini menjelaskan bagaimana cara Raja Saul meninggal. “Lalu katanya kepadaku: Datanglah ke mari dan bunuhlah aku, sebab kekejangan telah menyerang aku, tetapi aku masih bernyawa. Aku datang ke dekatnya dan membunuh dia, sebab aku tahu, ia tidak dapat hidup terus setelah jatuh. Aku mengambil jejamang yang ada di kepalanya, dan gelang yang ada pada lengannya, dan inilah dia kubawa kepada tuanku.” (2 Sam 1:9-10)
Dengan mengatakan dirinya sebagai orang yang telah lolos dari tentatara Israel, orang muda ini menunjukkan dirinya sebagai orang yang sama-sama mengalami keadaan seperti yang dialami Daud. Tentara Israel, adalah tentara Raja Saul yang mengejar Daud. Dan selama ini Daud dan orang-orangnya telah lolos dari kejaran tentara Raja Saul. Begitu juga orang muda ini mengakui membunuh orang yang selama ini berusaha membunuh Daud dan membawa jejaman Raja Saul untuk mendukung pengakuannya. Dari apa yang dilakukan orang muda ini kita dapat mengatakan bahwa orang muda ini berusaha untuk menyenangkan hati Daud dan mendapat perhatian dari Daud. Kita dapat mengatakannya demikian,sebab dalam 1 Samuel 31:1-6, diceritakan bagaimana kematian Raja Saul. Orang muda ini hanya mengaku-ngaku sebagai pembunuh Raja Saul. Anak muda ini menganggap orang yang memusuhi Daud adalah musuh Daud. Dia menyangka bahwa Daud senang mendengar cerita kematian orang yang berusaha membunuh Daud. Tapi masalahnya Daud tidak menganggap orang itu adalah musuhnya. Daud melihat hubungan Raja Saul dengan orang Allah sebagai orang yang diurapi TUHAN. Daud sendiri menghindar untuk menjauhkan dirinya melakukan yang jahat terhadap “orang yang diurapi Tuhan”. Orang muda ini salah sangka terhadap Daud, dan akhinya, orang muda ini mendapatkan akibat buruk atas perbuatannya tersebut.
Dari pengalaman Daud ini, kita melihat bahwa orang lain dapat saja mengganggap kita musuhnya. Tetapi bila kita menghubungkan seseorang itu dengan Allah, maka hal itu dapat merubah pandangan kita terhadap orang yang memusuhi kita itu. Kita sanggup untuk tidak mengganggap orang itu sebagai musuh kita dan menghindarkan diri kita dari berbuat jahat terhadap orang tersebut. Misalnya, kita menghubungkan kita dan dirinya sebagai citaaan Tuhan yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah. Kita dapat mengatakan kepada diri kita, “Siapakah aku ini sehingga aku berhak menghakimi sesama ciptaan Allah yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah?”. Dikatakan dalam Jakobus 4:12, “Hanya ada satu Pembuat hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?”
Kita tidak senang mendengar kabar tentang orang yang menyakiti kita sedang mengalami kesusahan dan kita tidak bersusah hati ketika kita melihat orang yang menyakiti hati kita mendapatkan kesenangan dalam hidupnya. Kita juga dapat mengindarkan diri dari keinginan untuk disenangi dan dianggap sebagai teman dengan cara membawa kabar buruk tentang orang yang kita pikir itu adalah musuh teman kita. Tuhan memampukan kita untuk melihat hubungan kita dan diri orang lain dengan Tuhan. Aku dan Engkau sama-sama ciptaan Allah. Hidup bersama sebagai ciptaan Allah membuat hidup semakin hidup dan indah. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 281:1,2
    1. Kek’lengen Yesus kempak manusia desken Dibata engkelengi Ia. KekelengenNa maler kap man banta adi si pakelah pedahNa. Min sikeleng-kelengen kita k’rina bagi pedahken Yesus bas pustaka. Sababna kai sipindo bas gelarNa, ib’re Dibata man banta.
    2. Ngasamken kesah nggit me kepe Ia, gelah terkelin kita manusia. Dage dalanken si ni pedahkenNa kempak temanta ise gia. Min sikeleng-kelengen …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 24 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 279:1,4
    1. Kam kap Dibatangku, Kam inganku cicio. Tegu-tegu aku, begiken pertotonku. Ernalem man baNdu, Kam pengarapenku. Kidekah geluhku, kupuji Kam Tuhan.
    2. Ku puji Kam Tuhan, rende aku man baNdu. Sabab seh ulina perbahanenNdu bangku. Ernalem man baNdu…
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata I Samuel 27 : 1.
    “ Tetapi Daud berpikir dalam hatinya: “Bagaimanapun juga pada suatu hari aku akan binasa oleh tangan Saul. Jadi tidak ada yang lebih baik bagiku selain meluputkan diri dengan segera ke negeri orang Filistin; maka tidak ada harapan bagi Saul untuk mencari aku lagi di seluruh daerah Israel dan aku akan terluput dari tangannya.”

Renungan

Rasanya sulit juga harus merelakan sesuatu yang menjadi juga kita inginkan kepada orang lain. Tetapi untuk menghindarkan kita dari melakukan yang buruk terhadap orang lain, lebih baik kita mengalah. Inilah yang kita lihat dari pengalaman Daud ini.
Dalam hidupnya, sebelum Daud menetap menjadi Raja bangsa Israel, Duad harus mengalami pengembaraan hidup. Raja Saul telah berikhtiar membunuh Daud. “Lalu Saul berikhtiar menancapkan Daud ke dinding dengan tombaknya, tetapi Daud mengelakkan tikaman Saul, sehingga Saul mengenai dinding dengan tombak itu. Sesudah itu Daud melarikan diri dan luputlah ia pada malam itu.” (1Sam 19:10). Setelah itu hidup Daud harus berpindah-pindah tempat untuk menghindari Raja Saul. Daud harus berpindah-pindah tempat karena ada saja yang mengadu kepada Raja Saul tentang persembunyian Daud. “Ketika Saul pulang sesudah memburu orang Filistin itu, diberitahukanlah kepadanya, demikian: “Ketahuilah, Daud ada di padang gurun En-Gedi.” Kemudian Saul mengambil tiga ribu orang yang terpilih dari seluruh orang Israel, lalu pergi mencari Daud dan orang-orangnya di gunung batu Kambing Hutan.”(1Sam. 24:1-2). Begitu juga ketika Daud bersembunyi di bukit Hakhila, orang Zif mengadukan keberadaan Daud kepada Raja Saul. “Datanglah orang Zif kepada Saul di Gibea serta berkata: “Daud menyembunyikan diri di bukit Hakhila di padang belantara.” (1Sa 26:1). Melihat situasi ini, akhirnya Daud memutuskan diri untuk meninggalkan negeri sendiri dan menetap di negeri musuh.
Daud menghindar bukan karena dia tidak berdaya, tetapi Daud memang tidak mau menyakiti “orang yang diurapiTUHAN”. “ Lalu berkatalah orang-orangnya kepada Daud: “Telah tiba hari yang dikatakan TUHAN kepadamu: Sesungguhnya, Aku menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, maka perbuatlah kepadanya apa yang kaupandang baik.” Maka Daud bangun, lalu memotong punca jubah Saul dengan diam-diam. Kemudian berdebar-debarlah hati Daud, karena ia telah memotong punca Saul; lalu berkatalah ia kepada orang-orangnya: “Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi TUHAN, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN.” (1Sa 24:4-6 ITB)
Apa yang dilakukan Daud merupakan keputusan yang sulit. Dia harus meninggalkan negeri sendiri dan menetap di negeri musuh Israel, daerah Filistin. Ia dianggap pembelot dan tidak dipercayai oleh panglima-panglima tentara Filistin. (1Sam 29:3-4)
Dari yang dilakukan Daud ini, kita dapat membayangkan betapa letihnya harus hidup mengembara bahkan harus berdiam di negeri musuh. Namun demi menghindarkan diri dari menyakiti orang yang dianggapnya diurapi Tuhan, Daud harus rela terus mengembara. Demikianlah dalam hidup kita, ada saatnya jalan yang terbaik adalah tidak berkonfrontasi langsung dengan orang yang kita kasihi ketimbang menyakiti mereka. Demi “agar jangan sampai kita melakukan yang buruk terhadap orang lain”, lebih baik kita mengalah. Tuhan memampukan kita untuk menghindarkan kita dari berbuat buruk terhadap orang yang kita kasihi. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 381:1,2.
    1. Sura – sura Yesus bangku ersinalsal tetap. Nggeluh bujur ras mulia, si ngena ateNa. Ersinalsal terang, em sinisuraken Yesus. Ersinalsal terang, ku tetap ersinalsal.
    2. Sura – sura Yesus Kristus nandangi geluhku, mpehaga turang senina si sampat – sampaten. Ersinalsal terang…
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 23 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 182:1,2.
    1. O Tuhan Kam tetap, tedehku man baNdu. Arap ku lalap Kam nemani geluhku. O Tuhan rasa lalap. Geluhku temani. Ola tadingken aku ras Kam tetap.
      O Tuhan Kam tetap, ajarilah aku, lah kai pe si kuban, mehuli man baNdu. O Tuhan rasa lalap. Geluhku temani. Ola tadingken aku ras Kam tetap.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Nehemia 2 : 17 – 18.
    “ Berkatalah aku kepada mereka: “Kamu lihat kemalangan yang kita alami, yakni Yerusalem telah menjadi reruntuhan dan pintu-pintu gerbangnya telah terbakar. Mari, kita bangun kembali tembok Yerusalem, supaya kita tidak lagi dicela.” Ketika kuberitahukan kepada mereka, betapa murahnya tangan Allahku yang melindungi aku dan juga apa yang dikatakan raja kepadaku, berkatalah mereka: “Kami siap untuk membangun!” Dan dengan sekuat tenaga mereka mulai melakukan pekerjaan yang baik itu.”
    Renungan

Bencana seringkali menimbulkan luka mendalam. Tidak hanya karena kehilangan keluarga, kerugian materi, tetapi bencana juga dapat membuat kehilangan harapan hidup. Kita dapat saja kehilangan semangat untuk melanjutkan hidup kita. Kita merasa apa yang telah kita perjuangkan, peroleh dan lindungi dengan kerja keras akhirnya hilang dalam sekejap mata. Sia-sia semua perjuangan hidup kita. Dalam hal ini memang kita membutuhkan penyemangat dalam hidup ini.
Di dalam kitab Ezra, dikatakan bahwa Rumah Pertoton telah selesai dibangun pada tanggal 12 Maret 515 SM. “Maka selesailah rumah itu pada hari yang ketiga bulan Adar, yakni pada tahun yang keenam zaman pemerintahan raja Darius. Maka orang Israel, para imam, orang-orang Lewi dan orang-orang lain yang pulang dari pembuangan, merayakan pentahbisan rumah Allah ini dengan sukaria.” (Ezra 6:15-16)
Lama berselang, tahun 445 SM( + 70 tahun kemudian) Nehemia mendapat laporan bahwa bangsa Israel yang telah kembali dari pembuangan Babel mengalami banyak penderitaan. “ Iturikenna man bangku maka kalak si nggeluh denga dingen enggo mulih ku negeri kami sangana i bas kiniseran si mbelin janah bangsa-bangsa si deban si tading i sekelewetna megombang man bana. Iturikenna ka pe maka tembok kuta Jerusalem enggo ka sontar janah pintu-pintu gerbangna langa ipekena kenca kin iciluk.”(Nehemia 1:3) Ternyata bangsa Israel tidak lagi bersemangat untuk membangun kembali tembok Jerusalem. Oleh karena itu, Nehemia bertekad untuk kembali ke Jerusalem. Di dalam berkat Allah, Nehemia mendapat perkenan raja Artaserses untuk kembali ke Jerusalem. Setelah tiga hari, secara diam-diam Nehemia menyelidiki kadaan kota Jerusalem. Setelah melihat semua keadaan itu, maka Nehemia memberitahukan maksud kedatangannya ke Jerusalem. Nehemia mengajak rakyat Jerusalem untuk membangun kembali tembok Jerusalem. Nehemia membangkitkan semangat penduduk Jerusalem dengan menyaksikan bagaimana Tuhan telah memberkati perjalanannya dan bagaimana raja juga setuju dengan rencananya itu. Mendengar kesaksian Nehemia ini, penduduk Jerusalem akhirnya menyatakan kesiapannya untuk membangun kembali tembok Jerusalem, “berkatalah mereka: “Kami siap untuk membangun!”
Dalam situasi saat ini, jadilah kita penyemangat-penyemangat hidup. Kita saling menyemangati untuk terus membangun kehidupan ini. Dengan saling berbagi pengalaman-pengalaman iman dan pengalaman menghadapi kesulitan ini, kita bekerja sama membangun kembali kehidupan kita yang dilanda pandemik ini. Seperti gambar di atas, kita bekerjasama untuk membangun rumah yang telah rusak. Allah membangkitkan semangat dalam diri kita untuk saling membantu menghadapi kesulitan hidup ini. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 296:1,2
    1. Man baNdu Yesus Tuhanku, kuendesken geluhku. Nggeluh si keleng-kelengen, nggit si sampat-sampaten. Erbuah Kata ni suan, bas kita anak Tuhan. Erbuah Kata ni suan bas kita anak Tuhan.
    2. Nggeluh si tatang-tatangen, kita radu megegeh. Nggit kita ngalemi salah, pusuh dame meriah. Erbuah Kata ni suan …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 22 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 331:1,2
    1. Tegu aku anakNdu, bas perdalan geluhku. ‘Di aku paksa labuh, ambatilah musuhku. Tegu aku ibas perdalanenku, Kam me ngenca ku lebuh, cikepNdu tanku nteguh.
    2. Kam bentengku si paguh, gia musuhku ngupuh. Amin mara reh nderpa, la aku bera-bera. Tegu aku ibas …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Jesaya 26 : 7 – 9.
    “ O TUHAN, dalan kalak benar mesai ibahanNdu, dalan si man bentasenna kendit tuhu-tuhu. PeratenNdu ikutken kami, Kam ngenca pengarapen kami, Kam ngenca sura-sura pusuh kami. Ibas berngi si mbages tedeh ateku Kam, alu ate tutus tendingku tetap terdaram-daram. Adi irungguiNdu pagi doni ras manusia si ngianisa, kebujuren si tuhu-tuhu, i je me pagi maka iantusina.”

Renungan.

Pernahkah kita salah jalan ? Suatu ketika kami dalam perjalanan dari Medan ke Pekan Baru. Awalnya saya yang menjadi sopir. Pada tengah malam, si sebuah SPBU kami bergantian menjadi sopir. Setelah beberapa waktu, saya terbangun dan melihat km penunjuk daerah itu bertambah besar. Seharusnya, ketika berjalan ke Pekan Baru, maka km penunjuk daerah itu bertambah kecil. Ternyata benar, teman ini salah memutar arah di SPBU. Dia mengambil jalan kembali ke Medan. Setelah sekian lama kita berjalan, ternyata jalan yang kita tempuh salah. Rasanya letih, kesal dan mau marah. Tetapi kita masih bisa berputar arah dan hanya kehilangan waktu. Tetapi bagaimana bila kita salah dalam mengambil keputusan dan hal itu berdampak buruk terhadap jalan hidup kita selanjutnya ?
Yesaya 26 ini merupakan nyanyian pujian ketika Allah memberi kelepasan kepada bangsaNya. Tuhan Allah membimbing orang benar sehingga mereka berjalan di jalan yang tepat untuk sampai kepada kelepasan, damai sejahtera dan kehidupan baru. Berbeda dengan pemimpin Israel yang mencari pertolongan kepada Mesir. Tuhan mengingatkan bahwa pertolongan Mesir tidak akan berfaedah. “sekaliannya akan mendapat malu karena bangsa itu tidak dapat memberi faedah kepada mereka, dan tidak dapat memberi pertolongan atau faedah; melainkan hanya memalukan, bahkan mengaibkan mereka.” (Jesaya 30:5). Jalan yang ditempuh pemimpin Israel adalah jalan yang salah sebab jalan itu akan menghancurkan kehidupan bangsa Israel. Sebaliknya Allah menunjukkan jalan yang menuju kepada keselamatan. “Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” Tetapi kamu enggan, kamu berkata: “Bukan, kami mau naik kuda dan lari cepat,” maka kamu akan lari dan lenyap. Katamu pula: “Kami mau mengendarai kuda tangkas,” maka para pengejarmu akan lebih tangkas lagi. (Jesaya 30:15-16) Yesaya memuji Allah yang menuntun orang-orang benar kepada keselamatan. Oleh karena itu, Jesaya menyatakan pengakuan dan kerinduannya. Dikatakannya, “PeratenNdu ikutken kami, Kam ngenca pengarapen kami, Kam ngenca sura-sura pusuh kami. Ibas berngi si mbages tedeh ateku Kam, alu ate tutus tendingku tetap terdaram-daram.”
Di dalam hidup kita, jalan yang dikehendaki Allah-lah yang tetap kita jalankan. Kita percaya, jalan yang dikehendaki Allah adalah jalan yang tepat untuk sampai kepada kelepasan, damai sejahtera dan kehidupan baru. Walaupun tawaran-tawaran jalan di dunia ini memperlihatkan kekuatan, kecepatan dan ketangkasan dalam memperoleh materi kehidupan, tetapi ketika hal itu tidak sejalan dengan kehendak Allah, kita dapat menghindarinya. Sebab kesalahan dalam mengambil keputusan ini tidak hanya dapat diatasi dengan memutar arah tetapi berdampak ke dalam seluruh kehidupan kita selanjutnya. Tetaplah kita mengikuti kehendak Allah dan mencarinya siang dan malam. Tuhan tetap menunjukkan jalan yang membawa kelepasan, damai sejahtera dan kehidupan baru bagi kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 388:1,2.
    1. Tupung tayang aku nginget Kam, gedang berngi kuukuri Kam. Sabab Kam si nampati aku, o Dibata tedeh ‘teku Kam. O Dibata Kam kap Dibatangku, kudahi tedeh ateku Kam. Mesikel aku nandangi Kam, desken taneh si enggo kerah. Bage me muasna tendingku, man baNdu Tuhan Dibatangku.
    2. Sabab Kam si nampati aku teruh kabengNdu rende aku. ‘Di ras Kam meriah ukurku, o Dibata Kam sekawalku. O Dibata Kam kap Dibatangku …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan