Renungan Malam 9 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 233:1,2
    1. Si bas dosa kin ercebah, olanai min dage pedekah-dekah. Tuhan Yesus ‘nggo ertenah, itimaiNa me kam wari sendah. Minter dahi Tuhan Yesus si melias, je turiken k’rina dosa alu telkas, ‘lah darehNa mbersihkenca seh melikas, maka baNa enggo kelas.
    2. Gia ‘nggo luka iban dosa, ibas Tuhan ‘nggo lit me kap tawarna. Ia ban si pekenasa,gelah ola pagi jumpa kelesa. Minter dahi Tuhan Yesus …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Yesaya 30:18
    “ Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia! ”

Renungan

Hidup saat ini dapat kita bayangkan seperti perahu berada di tengah deru ombak besar. Pada saat ini, kita pasti menanti-nantikan pertolongan datang menyelamatkan kita. Firman Tuhan yang menjadi renungan kita berbicara tentang Allah yang menanti-nantikan saatnya menolong umatNya. Pertanyaan sederhananya, mengapa harus “menanti-nantikan”, tidak langsung saja dikasihi ?
Hal ini tidak terlepas dari kehidupan politik yang terjadi dalam kehidupan bangsa Israel. Bangsa Israel telah terpecah menjadi dua kerajaan, kerajaan Israel Utara dan kerajaan Israel Selatan (Yehuda). Pada saat itu kerajaan Asyur telah berkembang menjadi bangsa yang kuat. Raja Israel Utara dan Raja Aram sudah bersepakat untuk melawan Asyur. Kedua raja ini ingin menambah kekuatan mereka dengan mengandeng Kerajaan Israel Selatan. Terjadilah peperangan di antara Kerajaan Israel Utara dan Kerajaan Israel Selatan. Kerajaan Israel Selatan meminta bantuan Asyur. Kerajaan Asyur menghancurkan kerajaan Israel Utara sedangkan kerajaan Israel selatan ada dibawah perlindungan kerajaan Asyur. Lama kelamaan Kerajaan Israel Selatan, Yehuda ingin lepas dari Asyur dengan meminta bantuan kepada Mesir. Dalam hal inilah Nabi Yesaya mengecam rencana pemimpin kerajaan Selatan ini. Nabi Yesaya mengatakan, “Sebab beginilah firman Tuhan ALLAH, Yang Mahakudus, Allah Israel: “Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.” Tetapi kamu enggan,” (Yesaya 30:15). Artinya kerajaan Yehuda tidak boleh mencari bantuan kepada Mesir. Mencari bantuan ke Mesir justru akan membuat kehancuran pada kerajaan Selatan seperti yang telah terjadi pada kerajaan Utara. Yang penting bagi mereka adalah mereka harus bertobat dan menerima kenyataan bahwa mereka menderita dibawah kerajaan Asyur.
Kerajaan Selatan harus dapat menerima kenyataan bahwa penderitaan mereka dibawah kerajaan Asyur adalah karena penghukuman terhadap dosa-dosa mereka. Inilah proses pendidikan yang harus mereka jalani. Dari proses ini mereka dapat memahami dan menerima kenyataan bahwa benar mereka memang wajar dihukum. Kesadaran ini yang membawa kepada pertobatan, kembali kepada Allah. Inilah proses yang harus dijalani kerajaan Selatan. Allah menantikan proses yang dijalani bangsa Israel, mulai dari penghukuman, menerima kenyataan dan pertobatan, sehingga tibalah waktunya Allah mengasihi bangsaNya. Apa yang dilakukan Allah ini menunjukkan keadilan Allah. Allah menghukum kesalahan namun juga mengasihi umatNya.
Memang, terkadang kita merasa kitalah yang menanti-nantikan kasih setia Allah. Tetapi sesungguhnya, melalui renungan ini, kita mengetahui bahwa Allah juga menanti-nantikan kita melewati proses menemukan kesadaran diri sampai memohon belas kasihan Allah, sehingga kita benar-benar merasakan dan mengagungkan kasih setia Allah. Kita mengingat cerita tentang anak bungsu yang hilang. (Lukas 15:11-23) Ketika dia memfoya-foyakan harta bapaknya sehingga akhirnya menderita. Lalu muncul kesadaran diri dan keinginan untuk kembali kepada bapaknya. “Lalu ia menyadari keadaannya, katanya: Betapa banyaknya orang upahan bapaku yang berlimpah-limpah makanannya, tetapi aku di sini mati kelaparan. Aku akan bangkit dan pergi kepada bapaku dan berkata kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa,”(Luk 15:17-18)
Memang ada proses kehidupan yang harus kita lewati. Dan terasa lama rasanya ketika menjalani dan menantikan proses kehidupan berlalu. Namun demikian, kita tetap meyakini bahwa Allah juga menanti-nantikan saatnya, Allah mengasihi kita. Allah tetap mengasihi kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 388:1,2.
    1. Tupun tayang aku nginget Kam, gedang berngi kuukuri Kam. Sabab Kam si nampati aku, o Dibata tedeh ‘teku Kam. O Dibata , Kam kap Dibatangku, kudahi tedeh ateku Kam. Mesikel aku nandangi Kam desken taneh si enggo kerah. Bage me muasna tendingku, man baNdu Tuhan Dibatangku.
    2. Sabab Kam si nampati aku teruh kabengNdu rende aku. ‘Di ras Kam meriah ukurku o Dibata Kam sekawalku. O Dibata, Kam …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 8 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No.197:1,4.
    1. Kesah Tuhan nusurlah, kubas perpulungenNdu. Ukurna petetaplah, ernalem saja baNdu. IdiloNa perdosa, nina kapen man bana : kam si latih ras mberat, Aku bandu penampat.
    2. Kesah Tuhan erkuasa, la tersipati kita. arah e pe Dibata, nemani geluh enda. mari oge Pustaka, je ngerana Dibata : kam si latih ras mberat, Aku bandu penampat.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Job 33:14 – 16.
    “Si tuhuna labo erngadi-ngadi Dibata ngerana, aminna gia la iperdiateken manusia. Tupung manusia tunduh berngi, DIbata ngerana arah pengenehenen ras nipi. IpedengkehkenNa kataNa man manusia, janah isingetiNa manusia e lau pertenget siiberekenNa.”

Renungan

Allah memakai berbagai cara untuk menyatakan maksudnya bagi manusia. Pemazmur memahami kemulian Allah dan mengetahui pekerjaan Allah melalui ciptaan Allah. Dikatakan dalam Mazmur 19:2-3, “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam.” Pekerjaan Tuhan diketahui melalui pemberitaan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ibas Mazmur 22:31-32, nina, “Kesusuren si nandangi reh ersembah man TUHAN, ersundut-sundut IA iberitaken. Man si langa tubuh pe enggo ituriken, maka “TUHAN enggo ngkelini BangsaNa.” Kita juga dapat mengetahui pekerjaan Allah melalui kesaksian orang-orang yang telah merasakan pertolongan Allah. “Marilah, dengarlah, hai kamu sekalian yang takut akan Allah, aku hendak menceritakan apa yang dilakukan-Nya terhadap diriku.” (Mazmur 66:16). Bahkan Tuhan menerangkan maksudnya dengan berada dalam hati kita. “Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku.” (Mazmur 16:7) “Ibunikenna Undang-Undang TUHAN ibas pusuhna, la ia pernah nilah i jenari.” (Mazmur 37:31) Demikianlah kesaksian Firman Tuhan yang memperlihatkan bagaimana Allah memakai berbagai cara untuk menyatakan maksudNya.
Memang, benar seperti yang diungkapkan Paulus dalam Roma 11:33, “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” Kita memang sulit untuk menyelidiki dan menyelami kebijaksanaan Allah. Namun demikian, Allah telah memberikan Roh Kudus yang membukakan rahasia itu kepada kita. “tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.” (Johanes 14:26) Jadi persoalannya, adalah kita yang tidak mau memperhatikannya dan yang merasa tidak mampu menanggung resiko dalam menjalankan apa yang dikehendaki Allah itu. Kita merasa terlalu berat untuk melakukannya. Paulus mengatakan kesaksiannya, “Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku.” (Roma 7:21-23)
Dalam situasi saat ini, kita percaya Allah tetap berbicara bagi kita untuk menyatakan maksudNya. Oleh karena itu, mari kita terus membuka hati dan pikiran kita, dipimpin Roh Kudus untuk memahami kehendak Allah. Kita dapat belajar dari ciptaan Allah, dari kesaksian iman orang lain, bahkan ketika kita menyelidiki hati dan pikiran kita, kita dapat memahami kehendak Allah. Kita juga memohon agar kuasa Roh Kudus menguatkan kita untuk melakukan kehendak Allah itu.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 309:1,3.
    1. Pengasup kami o Tuhan gelah pedahNdu banci idalanken, em kap tendang kami bas kegeluhen. KataNdu si man gelemen. Gelah tangkas kata ras perbahanen, ban min kami tetap bas kebujuren. SurgaNdu kap perayaken.
    2. Kawali kami o Tuhan, alu gegeh ras kuasaNdu si mbelin. Olangilah kami idur si setan si atena encedaken. DameNdu gelah tetap kuarapken. Ban kelengNdu ngenca kap kami atan, bengket ku bas kesangapen.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 7 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 264:1,3
    1. Ateku tedeh man baNdu o Tuhan, malem me ateku jumpa si erkuasa. Aku megegeh, ‘di ras Kam o Tuhan, sabab Kam me kapen ulu sin asana. Kubegi KataNdu, kata si tuhu – tuhu, keke me ukurku nehken peratenNdu.
    2. Ib’reNdu pedah, kuakap pe megah. Tambah pengertin, ‘dat kiniulin. Tambah pemeteh, turah kapen gegeh. PemereNdu sampur, ras kukataken bujur. Kubegi KataNdu …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Yesaya 12 : 1 – 2.
    “ Reh me warina maka rende kalak nina, “Kupuji Kam, o TUHAN, sabab iapuliNdu aku. Mbarenda nembeh AteNdu aku, tapi genduari lanai AteNdu merawa. Dibata kap keselamatenku, man BaNa aku ernalem, emaka la aku mbiar. TUHAN kap si mereken kuasa ras keriahen man bangku; IA kap keselamatenku.”

Renungan

Terkadang kesulitan yang terjadi kita anggap benar-benar kesulitan yang hanya akan menghancurkan kehidupan kita. Kita tidak dapat lagi melihat adanya kebaikan dari kesulitan hidup ini. Namun demikian, bagaimana kita memandang kesulitan yang terjadi dalam hidup kita ?
Bangsa Israel mengalami pembuangan ke Babel. Sebagai bangsa pilihan Allah, tentunya sulit bagi bangsa ini untuk menerima kenyataan bahwa mereka dijajah dan dibuang ke Babel. Mereka meyakini bahwa Allah yang mereka sembah adalah Allah Pencipta alam semesta. Allah yang gagah perkasa, berkuasa atas bangsa-bangsa. Tetapi kenyataannya, mereka di buang ke Babel. Ini menimbulkan pertanyaan besar. Mengapa mereka dapat dijajah dan dibuang ke Babel, suatu bangsa yang menyembah berhala-hala? Yesaya 12 ini memperlihatkan jawaban atas pertanyaan ini. Penjajahan dan pembuangan yang mereka alami adalah akibat kesalahan mereka. Tuhan Allah-lah yang menghukum mereka. Penjajahan dan pembuangan yang mereka alami bukan menunjukkan Allah yang kalah, yang lemah yang tidak berkuasa atas bangsa-bangsa lain. Pengalaman bangsa Israel ini menunjukkan bangsa Israel harus menerima kenyataan bahwa Tuhan menghukum kesalahan mereka. Namun demikian, mereka meyakini bahwa bukan untuk selama-lamanya Allah menghukum mereka. Mereka meyakini hukuman Allah ini bukan untuk menghancurkan mereka tetapi memimpin kepada keselamatan. Keyakinan Yesaya bahwa ada waktunya TUHAN sendiri yang menghibur umatNya. Memahami hal ini, menuntun bangsa untuk percaya kepada Allah. Allah adalah kekuatan yang menyelamatkan. Ada sukacita karena keselamatan yang dari Allah. Karena itu mereka merasa tidak perlu takut menghadapi penderitaan itu.
Pengalaman bangsa Israel ini juga dapat menguatkan iman kita. Kita meyakini tidak ada peristiwa yang diluar pemeliharaan Allah. Bahkan penderitaan sekalipun dapat membawa kita kepada keselamatan. Inilah yang membuat kita mempercayakan dan berserah kepada pemeliharaan Allah. Dengan menerima keadaan kita dalam rancangan pemeliharaan Allah maka kita dapat melihat hal-hal baik, bahkan dalam penderitaan sekalipun. Seperti tebing gersang di Purwakarta ini. Mungkin awalnya, banyak orang berpikir apa manfaatnya tebing curam seperti ini. Tidak dapat ditanami atau di tambang. Intinya, tidak dapat menghasilkan apa-apa. Tetapi jika kita meyakini bahwa Allah memelihara hidup kita, maka muncul pemikiran-pemikiran untuk memanfaatkan setiap keadaan untuk kebaikan hidup kita. Maka jadilah Skylodge tertinggi di dunia dengan sewa 4 juta rupiah perhari. Demikianlah kita meyakini pemeliharaan Allah tetap dalam hidup kita. Allah memimpin kita kepada keselamatan melalui penderitaan hidup ini. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 168:1,3
    1. Tegu aku o Tuhanku, ibas dalan mesera. La lit ngasup ras gegehku, b’re min tanNdu negusa. Roti surga, roti surge, tetap b’reken man bangku. Tetap b’reken man bangku.
    2. Aru ate bas geluhku, Kam me si nampatisa. Lalap Kam me si negu aku, gelah seh pe ku surga. Kam penampat, Kam penampat, lalap seh rasa lalap, lalap seh rasa lalap.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 6 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 305:1,2
    1. O Tuhan, Kam  me penampat ibas geluhku. O Tuhan Kam me cicionku, bas aru ateku. Angin meter, udan meder, Kam me kubunku. O Tuhan Kam me ikutenku, segedang geluhku.
    2. Enterem imbang-imbangku bas pertibi e. Si atena nirangkenku ras Kam kap Tuhanku. Kawali min, cikeplah min, lah la ku bene. O Tuhan Kam me pengarapen segedang geluhku.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Ibrani 4: 15 – 16.

“ Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.”

Renungan

Dalam bagian ini, kepada kita diperhadapkan  tentang Kebesaran Tuhan Yesus Kristus sebagai Imam Besar. Tuhan Yesus  adalah Imam Besar yang sempurna karena Dialah sepenuhnya Allah dan sepenuhnya manusia. Dia mewakili manusia di hadapan Allah dan mewakili Allah dihadapan manusia. KebesaranNya disebutkan karena sebagai Allah, Tuhan Yesus juga merasakan kelemahan kita. Kehadiran Allah yang merasakan kelemahan manusia merupakan hal yang merubah cara pandang agama-agama terhadap keilahian Allah. Bagi orang Yahudi, Allah penuh kasih karena Allah melihat, mengetahui, mendengarkan seruan bangsa pilihanNya. Namun demikian, Allah itu suci, berbeda dengan manusia. Bagi pemahaman Yunani, pemahaman tentang “Allah yang merasakan” juga dianggap tidak mungkin. Dalam pemahaman Stoa, allah disebut apatheia atau yang tidak dapat merasakan apa-apa. Sebab, jika Allah merasakan apa-apa maka berarti ada yang dapat mempengaruhi dirinya. Dalam pemikiran Efikuros, allah itu hidup dalam kesenangan yang sempurna yang terpisah total dengan manusia.  Dalam pemahaman iman Kristen, Allah, dalam Yesus Kristus adalah Allah yang merasakan kelemahan-kelemahan sebagai manusia, namun demikian Yesus tidak berdosa. Inilah kebesaran Tuhan Yesus Kristus sebagai Imam Besar.

Kita percaya bahwa Yesus adalah Allah sejati dan manusia sejati. Yesus telah merasakan betapa dalam dan  betapa berat tekanannya, betapa hebat serangan pencobaan yang IA alami. Oleh karena itu kita percaya bahwa Yesus juga mengetahui dan merasakan pergumulan yang kita hadapi saat ini. Kita percaya bahwa Yesus mengetahui dan merasakan segala kekhawatiran, segala kecemasan, segala ketakutan, segala kesedihan, segala penderitaan dan segala pengharapan kita. Sebagai manusia sejati, Dia juga merasakan kelemahan kita, seperti yang telah dibuktikanNya, dengan hidup sebagai manusia. Kita percaya bahwa Yesus juga hadir dalam setiap pergumulan kita saat ini. Dia, yang memahami dan merasakan penderitaan kita, Dialah yang mewakili kita dihadapan Allah. Oleh karena itu, kita datang dengan penuh keberanian ke tahta kasih karunia agar kita menerima rahmat dan kasih karunia pada waktunya.

Hal inilah yang meneguhkan perjuangan hidup kita. Kita tidak sendirian berjuang karena ada Allah yang turut merasakan pergumulan hidup kita. Ada Allah yang terus bertindak menolong kita. Seperti, bibit pohon yang ada di tangan Allah, tetap ada harapan untuk tumbuh dan berbuah, demikianlah kita terus berharap akan pertolongan Allah. Tuhan Yesus memahami dan merasakan pergumulan hidup kita, dan kita yakin Tuhan Yesus menolong kita untuk menjalani pergumulan hidup kita. Kita terus bertumbuh dan berbuah. Amin.        

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 187:1,3.
    1. Gegeh kuasa Kesah Si Badia, ib’re Tuhan bangku tiap jam. Katawari pe itemaniNa, iidahNa kai pe si kuban. Perdalanku pe itemaniNa, setan iblis ipelawesNa. Kuasa doni la ergegeh bangku, Tuhan saja man ikutenku.
    2. Tiap wari Tuhan kap ras aku, pemereNa nge geluhku e. IangkatNa adi guling aku, talukenNa iblis jahat. Malem kal ateku itemaniNa. Keleng ate dem kap bas IA. Tah ndekah tah kentisik pe gia, la ateku sirang ras Ia.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 5 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 165:1,2.
    1. Bas IA ngenca lit kepe kek’lengen si mbelin. Yesus tersilang seh mate ‘lah aku terkelin. Tetap ukurku, tek aku baNa. Keleng ateNa mbelin kuasaNa. IA njayamsa geluhku k’rina malemna dir as IA.
    2. Man baNa ernalem dage, begiken KataNa. ‘Di meriah tah gulut pe, tetap temaniNa. Tetap ukurta, tek ..
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Keluaran 31:12-13.
    “ Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Katakanlah kepada orang Israel, demikian: Akan tetapi hari-hari Sabat-Ku harus kamu pelihara, sebab itulah peringatan antara Aku dan kamu, turun-temurun, sehingga kamu mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, yang menguduskan kamu.”

Renungan

Di dalam perjalanan setelah dibebaskan Allah dari tanah perbudakan Mesir, bangsa Israel dipersiapkan Allah menjadi satu bangsa yang khusus bagi Allah. Allah memerintahkan bangsa Israel untuk memelihara hari Sabat. Makna hari sering dihubungkan dengan waktu perhentian atau istirahat. “Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu.” (Keluaran 20:8-10) Peringatan hari Sabat juga dihubungkan dengan penciptaan. “Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya.” (Keluaran 20:11). Namun dalam pasal 31 ini, hari Sabbat diperingati sebagai sebagai tanda dan pengakuan ikatan perjanjian Allah dengan bangsa Israel. Allah adalah pencipta langit dan bumi. Segala bangsa adalah ciptaan Allah tetapi Allah mengkhususkan satu bangsa pilihannya, bangsa yang dikuduskan bagi Allah. Allah menjadi Allah bangsa Israel dan Israel menjadi umatnya. Dikatakan dalam kitab Keluaran 19:5-6, “ Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel.” Dengan memelihara hari Sabbat, hal itu menjadi tanda yang terus menerus diulang-ulang untuk menjadi peringatan bagi bangsa Israel akan perjanjian Allah dengan bangsa Israel.
Demikianlah kita merayakan ibadah minggu kita agar kita terus menerus diingatkan tentang jati diri kita dan hubungan kita dengan Allah. Allah telah menyelamatkan kita dan memberikan anugerah keselamatan bagi kita. Kita ini adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus. “Sebab kamu semua adalah anak-anak Allah karena iman di dalam Yesus Kristus.” (Galatia 3:27). Dengan demikian, kita adalah milik Kristus yang berhak menerima janji Allah. “Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.”(Galatia 3:29). Inilah jati diri kita, yaitu milik kepunyaan Allah yang berhak menerima janji Allah. Kita beribadah pada hari minggu agar kita terus menerus diingatkan tentang jati diri kita. Dengan mengingat jati diri kita, kita tidak akan tersesat, khawatir dan bimbang dengan berbagai macam persoalan hidup kita. Kita memiliki keteguhan hati dalam menghadapi persoalan hidup kita sebab kita menyadari dan yakin bahwa kita ini adalah milik Allah yang berhak menerima janji Allah.
Kita persiapkan tubuh, hati, pikiran, jiwa dan iman untuk memelihara ibadah minggu kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 221:1,2.
    1. Pesikaplah ukurta adi ndahi Dibata. Pusuh si serbut si lit bas kita endeskenlah man baNa. Ban IA si mereken pengadin makana kita dorek min terkelin, ‘di Yesuslah sibahan man temannta e tentu malem kal ateta.
    2. Pesalanglah pusuhta, adi nembah man baNa. Pusuh si gulut, si ndongkelisa, totokenlah ku IA. Ban IA si mereken…
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 4 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 263:1,2.
    1. Adi kuidah ampar bintang terang, ras sora lenggur guntar kubegi. O Tuhanku ije ukurku mamang, ngidah b’linna k’rina tinepaNdu. Maka pusuhku e pehaga Kam, mbelin me Kam o Tuhanku. Maka pusuhku e pehaga Kam. O Tuhanku mehaga Kam.
    2. Tuhanku, di k’rina e kuukurken, perkuah ‘teNdu nebusi aku. Tuhan me kap man bangku nggo ib’reken, alu dareh Yesus si badia. Maka pusuhku e pehaga Kam…
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata

Renungan

Dalam Mazmur ini, kekuataan TUHAN Allah tidak dinyatakan melalui pembebasan yang dilakukan Allah terhadap umatNya dari tanah Mesir, tidak melalui Firman Tuhan, seperti di lakukan Allah di gunung Sinai, atau melalui penggangkatan raja pilihan Allah. Kekuataan Allah justru dinyatakan melalui kuasa Allah atas kekuatan alam. Salah satu kekuatan alam itu dapat kita lihat melalui badai petir di lautan.
Seperti gambar ini, badai memiliki kekuatan yang dahsyat. Kekuatan petir dari atas, kekuatan laut yang bergelora benar-benar memiliki daya penghancur. Lautan yang bergelora diterpa badai petir tidaklah menjadi tempat hidup yang baik bagi manusia. Dalam situasi ini, tidak ada tempat aman bagi manusia untuk berlindung.
Namun bagi pemazmur, kekuatan badai petir itu ada di bawah kuasa Allah. Dikatakan dalam ayat 3, “Suara TUHAN di atas air, Allah yang mulia mengguntur, TUHAN di atas air yang besar.” Pemazmur meyakini kekuatan Allah berada di atas kekuatan badai petir ini. Kekuataan Allah atas alam itu, kekuataan itu jugalah yang diberikan kepada umatNya. Kekuataan yang mampu mendatangkan sejahetera. Bila kekuatan badai petir itu menghancurkan kehidupan, namun kuasa kekuatan Allah justru mendatangkan kesejahteraan bagi umatNya.
Hal inilah yang diyakini pemazmur. Oleh karena itu pemazmur mengajak segenap umat untuk memuji Allah. Dikatakan dalam Mazmur 29 : 2, “Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, sujudlah kepada TUHAN dengan berhiaskan kekudusan!”
Melalui kesaksian pemazmur ini, kita tidak hanya kagum, hormat dan takut akan kekuatan kuasa Allah, tetapi juga menjadi penghiburan bagi kita untuk menjalani kehidupan kita. Kekuataan kuasa Allah-lah yang menjadi kekuatan yang mendatangkan kesejahteraan bagi kita. Di dalam situasi badai kesulitan hidup sekalipun, kita meyakini Allah berkuasa atas badai kesulitan hidup ini. Allah tetap berkuasa mendatangkan kesejahteraan bagi kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 201:1,2.
    1. Malem ate tuhu-tuhu si ernalem man bandu, Kam Dibata sinjadiken langit ras doni enda. SalsaliNdu pusuh kami, maka t’rangNdu tergejap. Kalak si tek la kap bene, ban kelengNdu e tetap.
    2. Matawari, bulan, bintang, Kam nepasa jadi t’rang. Doni enda dem isina, labo kai pe si kurang. K’rina si erkesah gia, nggeluh i doni enda. bagi si ngerana nina : “ Kam Tuhan si madasa.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 1 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 249:1,5.
    1. Ajar aku o Tuhanku, make Kata ras PedahNdu. Kueteh payo ras sentudu, kuikutken bas geluhku. Singikut Pedah Dibata, daten me kerembakenNa. Pedah Kata tangkas k’rina em jadi gelementa.
    2. Mata ukur nare baNa, gelah peratenNa siangka. Adi g’luhta ikepkepNa, tentu malem kal ateta. Singikut Pedah Dibata…
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata : Lukas 5:36
    “Ia mengatakan juga suatu perumpamaan kepada mereka: “Tidak seorang pun mengoyakkan secarik kain dari baju yang baru untuk menambalkannya pada baju yang tua. Jika demikian, yang baru itu juga akan koyak dan pada yang tua itu tidak akan cocok kain penambal yang dikoyakkan dari yang baru itu.”

Renungen.
Allah telah memberi hikmat bagi setiap kita. Dengan hikmat itu, kita mencoba memahami dan memilih mana tindakan-tindakan yang ‘masuk akal’ bagi kita.
Unsur ‘kemasuk-akalan’ merupakan salah satu pendorong bagi kita untuk bertingkah laku. Kita mau melakukan tindakan itu karena bagi kita tindakan itu masuk akal bagi kira.
Melalui perumpamaan ini, Yesus membuat suatu perbandingan yang masuk akal untuk menjelaskan tindakan yang dilakukan murid-muridNya. Ya, jelas tidak masuk akal apabila ada orang yang merobek baju barunya untuk dijadikan kain penambal pada baju yang sudah tua. Jika ingin menambal, ya, paling tidak orang mencari pakaian yang sama tuanya, dicari bagian yang masih terpakai, dikoyakkan dan dijadikan penambal. Atau logikanya, jika ada pakaian baru, mengapa mengoyakkannya, langsung saja pakaian baru itu yang dipakai.
Dalam hidup ini, memang ada unsur ‘kemasuk-akalan’, tetapi kenyataannya, terkadang unsur masuk akal itu tidak dijalankan. Misalnya, para ahli dan tenaga kesehatan, sudah sepakat bahwa merokok dapat merusak kesehatan dan ekonomi. Ini jelas masuk akal. Tetapi ternyata ada faktor lain yang lebih dominanan daripada tindakan yang masuk akal itu yang mengendalikan tindakan kita.
Melalui renungan ini, Tuhan Yesus menawarkan kepada kita untuk memakai ‘unsur kemasuk-akalan’ dalan melakukan tindakan kita. Kita diingatkan bahwa salah satu saringan dasar tindakan kita adalah ‘kemasuk-akalan’. Dasar tindakan dan hubungan dalam keluarga, perpulungen dan masyarakat kita, dijalankan dan dibina berdasarkan tindakan yang masuk akal. Inilah yang terlebih dahulu kita pakai untuk memilih dan menetapkan tindakan kita. Iman kepada Tuhan Yesus memampukan kita, pertama, untuk bertindak masuk akal. Amin.

  1. Ertoto
  2. Rende KEE GBKP No. 286:1,4.
    1. Kuikutken me dalanNdu, dalan dame man bangku. Terkelin me kap geluhku, itebusi darehNdu. Kuikutken me dalanNdu, kuendesken geluhku. Bas Kam o Jurus’lamatku, dame senang tendingku.
    2. Kupetetap me ukurku, nggeluh bujur ras tuhu. B’reNdu usihen man bangku, puji sembahku baNdu. Kuikutken me …
  3. Pertoton Syafaat ras Pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 31 Agustus 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 59:1,3.
    1. Keleng ateNdu tangkas bangku, sikupujiken lalap min. Kam Tuhan Yesus me Rajangku, si erkeleng man bangku kin. Madin keleng ateNdu kuinget, asang k’rajang ku me tersinget.
    2. Ku teh Kam nari pengarapen. Di sirang kita e medu. Lit gia kuasa lain tetapen. ukurku e di Kam negu. Lah saber ate keranjangku. Kuinget lalap Kam Tuhanku.
  2. Ertoto.
  3. Ngoge Pustaka Si Badia.
    Mazmur 52:10
    ” Tetapi aku ini seperti pohon zaitun yang menghijau di dalam rumah Allah; aku percaya akan kasih setia Allah untuk seterusnya dan selamanya. “

Renungen.
Peristiwa peristiwa sulit terus menerus terjadi dalam kehidupan dunia ini. Peristiwa yang juga mengkenai dan berdampak dalam kehidupan kita.
Dalam situasi sulit, kita seringkali mendapakan dukungan dari orang lain dan alam sekitar kita. Namun demikian, dukungan itu juga terbatas. Kekuatan fisik kita juga dapat melemah dalam menanggung beban hidup ini. Kekuatan hati kita juga terbatas. Ruang dalam hati kita tidak mampu lagi menampung semua perasaan yang berkecamuk dalam hati kita. Pikiran kita juga terkadang tidak dapat menjangkau dan memahami semua peristiwa dalam kehidupan kita.
Namun demikian yang harus tetap ada dan bekerja adalah iman percaya kita kepada Allah. Kita tetap percaya kepada kasih setia Allah. Terus menerus kita mempercayakan diri kita kepada kasih setia Allah. Kita menyandarkan hidup kita kepada batu karang yang teguh. Kita berlindung di balik batu karang yang teguh dari terpaan angin badai yang menerjang hidup kita.
Inilah kekuatan kita. Kasih setia Allah-lah yang memberi kekuatan bagi hidup kita. Kita percaya pada pemulihan kehidupan yang diberikan Allah bagi kita. Walaupun saat ini kita belum melihat perkembangan pemulihan hidup kita itu, kita terus menerus percaya akan kasih setia Allah.
Kita akan seperti pohon zaitun. Sekalipun tinggal pangkal akarnya, namun dari pangkal akar itu tetap dapat tumbuh tunas tunas baru. Akar pohon zaitun dapat menebus tanah se dalam 6 meter, sehingga ketika batangnya di potong sekalipun, dari pangkal akarnya ini tetap dapat tumbuh tunas tunas baru. Demikianlah iman oercaya kita yang dalam berakar pada kasih setia Allah. Pemulihan Allah membuat tunas pohon zaitun berdaun hijau krmbali. Hidup kita dipulihkan Allah kembali. Amin.

  1. Ertoto.
  2. Rende KEE GBKP No. 288:2,3.
    1. Bas pahsa kesusahenku, pusuhku la gentar. Kam kap penalenku. La kal aju mbiar. Mbelin keleng ateNdu sinjayam geluhku. Snang kal kap ras Tuhan, ersurak tendingku.
    2. TemaniNdu kap aku bas dalan geluhku. CikepNdu tetap tanku, k’leng ateNdu tuhu. Alu kuasa kesahNdu pengasupNdu aku. E maka la aku lupa peb’linken gelarNdu.
  3. Pertoton Syafaat Ras Pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan