Renungan Malam 17 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 279:1,2
    1. Kam kap Dibatangku, Kam inganku cicio, tegu-tegu aku, begiken pertotonku. Ernalem man baNdu, Kam pengarapenku. Kidekah geluhku, kupuji Kam Tuhan.
    2. Bere gegeh bangku, mekuah ateNdu min. Labuh kal tendingku, sampatiNdu aku min. ernalem man baNdu, Kam pengarapenku. Kidekah geluhku, kupuji Kam Tuhan.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata 2 Korintus 1:3-4.
    “ Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.”

Renungan

Gambar ini memperlihatkan keceriaan dan semangat hidup dalam diri orang-orang muda. Bukan berarti tidak ada penderitaan yang menantinya. Benar masih panjang perjalanan hidup dan banyak persoalan yang harus dihadapinya. Bagaimana kita menghadapi penderitaan hidup ini sehingga kita tetap memiliki keceriaan dan semangat hidup ?
Kita menginginkan agar penderitaan lenyap dari kehidupan kita. Kita merasa bahwa kita akan dapat mengucap syukur manakala penderitaan itu benar-benar telah lenyap dari kehidupan kita. Dalam hal ini, Paulus memperlihatkan kemampuannya untuk tetap mengucap syukur walaupun itu penderitaan itu tidak hilang dari pelayanannya. Bagaimana Paulus dapat mengucap syukur dalam penderitaannya itu.
Di dalam 2 Korintus 1, Paulus menceritakan bahwa dirinya telah mengalami penderitaan yang mengerikan. Dia mengatakan bahwa karena begitu mengerikannya penderitaan itu, dia merasa telah putus asa dan mati. Namun demikian, Allah telah menyelamatkan Paulus. Paulus juga meyakini bahwa Allah akan menyelamatkannya lagi. Dikatakan dalam 2 Kor.1:10, “ Dari kematian yang begitu ngeri Ia telah dan akan menyelamatkan kami: kepada-Nya kami menaruh pengharapan kami, bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi.” Hal inilah yang membuat Paulus sanggup mengucap syukur karena dia telah melihat pertolongan Allah dalam hidupnya dan Allah akan tetap menyelamatkannya. Paulus juga merasakan ada kekuatan bagi dirinya karena penghiburan yang diberikan jemaat Tuhan. “Dan pengharapan kami akan kamu adalah teguh, karena kami tahu, bahwa sama seperti kamu turut mengambil bagian dalam kesengsaraan kami, kamu juga turut mengambil bagian dalam penghiburan kami. (2 Kor. 1: 7). Jemaat yang mengambil bagian dalam penderitaannya, juga merupakan sumber pengiburan bagi Paulus.
Dalam renungan ini, kepada kita juga diperlihatkan makna lain dari penderitaan dan penghiburan. Paulus mengimani Allah adalah Allah yang penuh belas kasihan. Allah adalah sumber penghiburan. Paulus sanggup melihat ada kebaikan dalam penderitan-penghiburan yang telah diterimanya. Allah sebagai sumber penghiburan telah menghibur Paulus dan Paulus meyakini penghiburan berguna sebagai penghiburan bagi orang lain.
Pada saat ini, kita juga mengalami banyak penderitaan. Penderitaan yang belum kita tahu kapan berakhirnya. Namun demikian, bukan berarti kita tidak dapat memuji Allah. Kita tetap dapat memuji Allah, penuh keceriaan dan semangat ketika kita tetap mampu mengimani bahwa Allah adalah sumber penghiburan dan tetap mampu melihat belas kasihan Allah dalam hidup kita. Allah mengasihi kita dengan tetap memberikan kemampuan bertahan bagi kita. Ada jalan penghiburan yang menguatkan kita untuk terus berjuang. Kita tetap memiliki semangat berjuang. Kita juga menemukan hal-hal baru yang membuka jalan bagi kita untuk memperoleh kebutuhan hidup kita. Kita juga merasakan adanya kebersamaan kita dengan menghadapi penderitaan ini. Allah sumber penghiburan senantiasa menghibur kita. Amin

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 379:1,2
    1. Tuhan tetap nemani geluhku dingen mereken dalan man bangku. Ernalem gelah tetap ras ertoto man baNa. Tuhan tetap nemani geluhku.
    2. Tuhan tetap nemani geluhku. Dingen mereken dalan man bangku. Tedeh ate tendingku ngidah kemulianNdu. Tuhan tetap nemani geluhku.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 16 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 181:1,2.
    1. Segedang-gedang geluhku, itemani penebus. Labo kai pe lit si kurang adi tanNa negu t’rus. Dame surga lit bas aku, iusekenNa bangku. Kegeluhen jadi senang, labo kai pe lit si kurang. Kegeluhen jadi senang kai pe lit si kurang.
    2. Segedang-gedang geluhku, kubentasi k’rina e. ‘Di si mberat reh man bangku, IA penahangisa. Labo pediatNa ndabuh, minter kal iangkatNa. Lalap ijagaiNa aku iban keleng ateNa. Lalap ijagaiNa kau, iban keleng ateNa.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Kolose 3 : 13
    “ Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”

Renungan

Salah satu yang dibutuhkan untuk dapat berjalan beriringan adalah kesabaran. Tidak semua hal yang kita harapkan dari teman kita dapat terpenuhinya. Ada saja hal-hal yang tidak menyukakan hati kita. Tetapi dengan adanya kesabaran, hal itu tidak akan memisahkan hubungan di antara mereka. Demikian juga dalam kehidupan bersama di dalam jemaat, kita sangat membutuhkan kesabaran.
Di dalam Kolose 3:12-17 merupakan daftar kebajikan hidup sebagai orang-orang pilihan Allah, yang dikuduskanNya dan dikasihiNya. Ketiga nama yang khas milik orang Yahudi. Tetapi di dalam Yesus Kristus tiada lagi yang khas milik orang Yahudi. Dikatakan dalam Kolose 3:11, “dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.” Sebagai orang pilihan Allah, maka ada kebajikan hidup yang harus kita lakukan. Kebajikan hidup ini, terutama bukan dalam hal ketrampilan mencari makan, ketrampilan membaca tanda-tanda jaman dan kemampuan menghindar dari bahaya atau bahkan ketrampilan memuji Tuhan. Kebijaksanaan yang dimaksud adalah kebijaksanaan dalam hubungan antar pribadi. Benarlah, bahwa iman Kristen memang memperbaharui hubungan antar pribadi menjadi hubungan yang baik, benar, saling membangun dan mendatangkan kedamaian.
Khususnya, yang menjadi renungan kita malam ini berbicara tentang kesabaran. Sabar dalam hubungan antar pribadi berarti kita mampu untuk menjadi sahabat dalam setiap musim kehidupan. Saling mengingatkan, menasehati, mendukung untuk kemajuan bersama. Bahkan sanggup menerima kekurangan dan kelebihan sahabat kita. Seorang sahabat yang sabar tidak menjadi sinis dan berputus asa ketika sang sahabat lambat dalam perubahan. Tidak meninggalkan sang sahabat ketika sang sahabat belum memperlihatkan perubahan ke arah kehidupan yang baik dan benar. Tetapi dengan sabar mendampingi dan membimbing sang sahabat untuk terus menjalankan perubahannya sehingga sang sahabat benar-benar hidup dalam kebaikan dan kebenaran. Kesabaran yang muncul karena adanya pengakuannya bahwa Tuhan Yesus Kristus juga telah memperlihatkan kesabaranNya dalam kehidupan kita, mau mengampuni dan memberikan kehidupan baru bagi kita.
Dua hari sebelumnya, kita telah merenungkan arti mengakukan salah-memberi pengampuan dan mengejar kerukunan. Dalam hal ini, ketika orang lain berbuat salah, kita juga harus sabar dalam menanti pengakuan salah dan ketika tiba saatnya sahabat itu mengakukan salah, maka kita juga dengan sabar memberi maaf kepadanya. Demikian juga dalam mengejar kerukunan. Kita sabar mengupayakan dan menunggu sampai kerukunan itu nyata dalam kehidupan bersama kita. Tuhan sumber kesabaran memberi kekuatan bagi kita untuk sabar. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 254:1,2.
    Reff.
    Isuruh Dibata sikeleng-kelengen, si sampat-sampaten asa kengasupen. Mbue me kap tuhu si man bahanenta, radu ras kerina kita ndahikenca.
    1. Palasta nampati em ate mekuah, ngusih Tuhan Yesus enggo kap nampati. Meriah ukurta adi teman pulah, masap kebiaren ‘je dat ate jadi. Reff.
    2. Kalak si ngikutken kata Tuhan Yesus terangina doni ras k’rina isina. Tegulah temannta gelah ola celus, si tuduhken dalin gelah ola mampa. Reff.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 15 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 264:1,2
    1. Ateku tedeh man baNdu o Tuhan, malem me ateku jumpa si erkuasa. Aku megegeh di ras Kam o Tuhan, sabab Kam me kapen ulu sinasana. Kubegi KataNdu, kata si tuhu-tuhu, keke me ukurku nehken peratenNdu.
    2. Terang kataNdu, nerangi pusuhku. Pusuh jadi senang, ergiah ukurku. Gegeh si mbaru, berekenNdu bangku. Labo aku talu, meriah ukurku. Kubegi KataNdu …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Roma 14 : 19.
    “ Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun.”

Renungan

Warga Soerang Maros mempertahankan tradisi gotong royong pindah rumah”. Rumah yang begitu besar dapat dipindahkan karena adanya kerukunan di antara masyarakat yang ada. Kerukunan merupakan modal dalam menghadapi tantangan hidup. Kerukunan juga yang dibutuhkan dalam kehidupan bersama di dalam jemaat.
Walaupun kita hidup dalam kebersamaan di dalam satu jemaat, konflik selalu saja ada. Salah satu penyebab konflik adalah adanya perbedaan dalam hidup kita. Kita memiliki perbedaan dalam hal latar belakang kehidupan, cara berpikir, dan yang kita anggap penting. Oleh karena itu, konflik dapat saja terjadi dalam kehidupan bersama. Jangankan dalam kehidupan bersama, dalam kehidupan batiniah kita sendiri, kita sering kali mengalami konflik batin. Namun demikian, bukan berarti kita membiasakan diri berkonflik, membiarkan konflik sebab “bage kin biakku” atau mencari cari konflik (ibas ribut e kin datna keriahen). Justru sebaliknya, Firman Tuhan ini mengingatkan kita untuk berusaha mendatangkan kerukunan. Hal itu berarti, terlebih dahulu ada perjuangan dalam diri kita sendiri untuk menguasai atau mengendalikan diri kita sendiri. Ada pembaharuan dalam diri kita dalam melihat dan memaknai setiap persoalan hidup kita. Di dalam setiap persoalan yang ada kita dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Seperti tertulis dalam Roma 12 : 2, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Artinya, kita tidak membiarkan “naluri konflik” itu menguasai kita. Kita mampu mengendalikan naluri konflik. Sebaliknya, naluri kita adalah naluri kerukunan. Dengan telah adanya naluri kerukunan itu, maka selanjutnya kita memeriksa sumber daya, akal, kemampuan yang kita miliki dan kita berusaha sekuat tenaga memakainya untuk mendatangkan kerukunan di dalam jemaat Tuhan.
Di dalam kerukunanlah maka kita dapat saling membangun. Artinya, akal, kemampuan dan energi kita janganlah habis hanya untuk terus menerus mendamaikan, merukunkan orang-orang berkonflik sehingga kita tidak bisa membangun. Ada tujuan lain yang harus kita kejar dalam persekutuan jemaat. Jemaat yang hidup dengan saling menopang iman, akan membuat jemaat itu kuat dalam menghadapi tantangan hidup ini. Jemaat yang yang saling membangun akan mampu bersaksi bagi dunia ini. Tuhan menuntun kita untuk mengejar damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 271:1,3
    1. I doni “nda mbue kesusahen, bage pe lit ka nge perubaten, reh lah min kinirajanNdu. I Gereja si arus ersada, maka tangkas keg’luhen si mbaru, reh lah min kinirajanNdu. Reh lah min, reh lah min, reh lah min kinirajanNdu.
    2. Bas pusuh, kata ras perbahanen, kekelengen rasp e kebenaren. Reh lah min kinirajanNdu. Kam me kapen si mada si nasa, ibas Kristus bangsaNdu ersembah, reh lah min kinirajanNdu. Reh lah min …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 14 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 319:1,2
    1. Sada soranta muji Dibatanta, Ia jine si njayam keg’luhenta. Lalap Ia ‘ngkelengi tinepaNa, maler me kap tetap pasu-pasuNa.
    2. Sada soranta muji Dibatanta, s’lamat kita ban perkuah ateNa. AlokenNa kita jadi anakNa. Maler me kap tetap pasu-pasuNa.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Kejadian 50 : 17 – 19.
    “ Beginilah harus kamu katakan kepada Yusuf: Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa mereka, sebab mereka telah berbuat jahat kepadamu. Maka sekarang, ampunilah kiranya kesalahan yang dibuat hamba-hamba Allah ayahmu.” Lalu menangislah Yusuf, ketika orang berkata demikian kepadanya. Juga saudara-saudaranya datang sendiri dan sujud di depannya serta berkata: “Kami datang untuk menjadi budakmu.” Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: “Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? “

Renungan

Ketika mengambil keputusan untuk melakukan satu tindakan, terkadang kita tidak sampai memikirkan apa yang terjadi di masa depan. Masa lalu lebih menguasai kita, mengendalikan keputusan kita. Misalnya, kebencian atau amarah yang kita rasakan membuat kita membalas dengan amarah dan kebencian juga. Kita tidak memikirkan apa dampaknya di masa depan ketika membalaskan amarah kita itu. Kita memikirkan dampaknya bagi masa depan kita setelah terasa berat penderitaan yang kita rasakan sekarang, akibat perbuatan masa lalu kita. Pada saat itulah, baru terpikirkan dan muncul ketakutan bagi masa depan kita.
Inilah pengalaman yang dapat kita pelajari dari kehidupan anak-anak Yakup. Ada kebencian anak-anak Yakup terhadap saudaranya sendiri Jusuf. Kebencian yang memuncak pada rencana pembunuhan. Tetapi akhirnya mereka sepakat menjual Jusuf ke pedagang Mesir. Dalam perjalanan hidup, Jusuf menjadi orang penting, yang mengaturkan pembelian, penyimpanan dan penjualan gandum. Pada saat itu, terjadilah kelaparan, yang mengharuskan saudara-saudara Jusuf membeli gandum ke Jusuf. Tidak pernah terbayangkan bahwa adik mereka, Jusuf yang telah menjadi orang penting, yang mereka jumpai di Mesir. Setelah saling mengenal kembali, justru muncul ketakutan pada diri saudara-saudara Jusuf akan pembalasan yang dapat saja dilakukan Jusuf. Oleh karena itu, muncul kesadaran diri mereka untuk memohon ampunan kepada Jusuf. Mereka mendasarkan permohonan ampunan dengan mengatasnamakan ayah mereka dan sebagai hamba Allah. Dan Jusuf juga menjadi dirinya bukan pengganti Allah yang berhak menuntut balas dan menghukum.
Betapa indahnya, bila terjadi perdamaian yang seperti ini. Masalahnya, yang sering kali justru terjadi adalah tidak ada yang sadar diri telah membuat kesalahan dan juga tidak ada yang mau memberi maaf. Sada pe la nggit surut. Maju terus ibas penggejapen kebenarenna. Piah dungna ibaba ku pengadilen. Iarapken keputusen pengadilen mereken perdamen ras mpersadaken. Ibas keputusen pengadilen ugapa pe lit si menang lit si talu. Janah biasannya, la lit si nggit talu. Emaka amin gia enggo ndarat keputusen pengadilen, lalap nge la puas ibas pusuh si talu. Enda me si erbahanca la banci erdame ibas pusuh ras ersada mulihi ibas kegeluhen. Si tatap mulihi kegeluhen Jusuf ras senina Jusuf. Lit kesadaren diri, sadar ia salah, nggit mindo ampunen, janah pihak si debannya ula erpengakap ia Dibata si berhak mereken penghukuman. Keputusen pengadilen, hanya netapken ise si benar ibas perkara e tapi labo ndameken ras mpersadaken. Ngasup ngataken salah ras nggit ngalemi e me si mpersadaken kita. Inilah yang dikehendaki Allah sebagai kita hamba-hamba Allah. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 209:1,2
    1. Perpulungen ersadalah ngikutken pedahNa, bas kiniteken tetaplah man Tuhan Dibata. Bas si mehuli ayaklah, si sampat-sampaten. Bage kap pedah Dibata si keleng-kelengen.
    2. Gereja Kristen sikaplah, ersada paguhlah. Ersada ukur min ibas Dibata Bapanta. Peturah kiniteken pe ras dame k’rinalah. Ras sikeleng-kelengenlah, nikutken Tuhanta.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 13 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 290:1,2
    1. Labo erkiteken beluhku, labo erkiteken pentarku. Tapi perbahan penampatNdu, mbelin tergejap bas ngasupku.
    2. Labo erkiteken dahinku, labo erkiteken pangkatku, tapi perbahan perkuahNdu malem ateku tuhu-tuhu.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Amsal 3: 24 – 26.
    “ Jikalau engkau berbaring, engkau tidak akan terkejut, tetapi engkau akan berbaring dan tidur nyenyak. Janganlah takut kepada kekejutan yang tiba-tiba, atau kepada kebinasaan orang fasik, bila itu datang. Karena Tuhanlah yang akan menjadi sandaranmu, dan akan menghindarkan kakimu dari jerat.”

Renungan

Pengunggah photo ini memberi judul “ potret para tukang becak tertidur di tengah kerasnya perjuangan mereka”. Banyak orang yang mendambakan kualitas tidur yang baik. Orang mendambakan tidur yang nyenyak karena mengganggap hal itu adalah salah satu yang menghibur manusia di dalam kerasnya hidup ini. Di kalangan tertentu ada istilah, adi enggo sikap perpan, sikap pertunduh, ras sikap perkuture, enggo me jore geluh enda, ( nikmat makan, tidur nyenyak dan lancar b a b). Dan memangg, tidur yang nyenyak tidak tergantung sepenuhnya pada tempat tidur. Ada banyak yang dapat membuat orang tertidur nyenyak, misalnya keletihan fisik, ketenangan psikis atau keamanan financial.
Dalam bacaan renungan malam ini disebutkan tentang orang yang tidur nyenyak. Apa yang membuat orang itu dapat tertidur nyenyak ? Dalam Kitab Amsal 3:21-26 disebutkan dua hal, yaitu tugas manusia untuk memelihara hikmat dan pemeliharaan Allah terhadap orang yang memelihara hikmat itu. Guru hikmat mendesak muridnya untuk memelihara hikmat dan kebijaksanaan. Mengapa guru hikmat mendesaknya muridnya memelihara hikmat ? Salah satu alasannya adalah yang menjadi renungan kita. Orang yang memelihara hikmat maka dalam tidurnya, mereka tidak akan merasa takut terhadap kehidupannya. Kita dapat mengartikannya demikian. Di saat kita tidur kita tidak mengetahui apa yang terjadi di sekitar kita. Kita tidak mengetahui apa yang direncanakan orang dan apa akan yang dilakukan orang lain terhadap kita. Di saat tertidur, kita tidak menyadari dari mana datang musuh dan celaka yang dapat saja menimpa kita. Namun demikian, mereka yang memelihara hikmat, yang hidup dalam keadilan dan kebenaran, yakin akan terhindar dari perangkap yang menjatuhkan atau mencelakakan dirinya. Berbeda dengan orang bodoh atau orang fasik yang akan dikejar penghukuman. Hal ini yang membuat dia tidak gentar dalam tidur sekalipun. Alasan kedua yaitu pemeliharaan Tuhan. Mereka yang memelihara hikmat, maka Tuhan akan memelihara hidup mereka. Tuhan melindungi mereka dan menjauhkan mereka dari jerat.
Kita membaringkan diri kita dan tidur nyenyak setiap malamnya karena hikmat yang telah kita lakukan dan pemeliharaan Allah. Esok hari kita jalani aktivitas kita di minggu ini dengan tubuh yang segar dan hati dan pikiran yang tenang, sebab kita aman dalam perlindungan Allah. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 202:1,4
    1. Ernalem gelah man Yesus, kula ukur tendingku. Endesken geluhndu baNa keleng ateNa bandu. Ernalem gelah. Tutus min gelah. O Yesus ku bahan aku ernalem gelah.
    2. Maka aku lit bas dame, Kam empuna geluhku. Riah ukur susah ate, kuendesken man baNdu. Ernalem gelah …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 12 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 173:1,3.
    1. O, Tuhan mari, wari enggo ben, gelap me wari, Kam ku ban teman. La lit nampati di la Kam Tuhan. Mari gundari marilah Tuhan.
    2. Kam kesikelku, katawari pe, Kam gelemenku bas percuban e. Kam me dalinku. Kam kap ngenca e. mari gundari, marilah Tuhan.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Mazmur 68 : 20
    “ Pujilah TUHAN tep-tep wari IA si maba babanta si mberat. IA kap Dibata si engkelini kita.”

Renungan

Gambar ini memperlihatkan suasana sore hari di tepi pantai. Hari berganti hari, ombak terus menerus menerpa pantai. Demikian juga kehidupan kita, hari demi hari kita lalui. Kita telah tiba di hari Sabtu. Banyak hal yang telah terjadi dalam hidup kita sampai saat ini. Ada waktu kita merasa bersemangat, namun terkadang kita juga mereka lemas. Ada masanya kita bersukacita, tetapi kita juga merasakan kesedihan yang mendalam. Ada saatnya kita merasa diri kita sangat sehat, tetapi sering juga kita merasa lemah. Namun demikian, kita masih mampu menjalaninya, bertahan dan terus maju.
Bagi pemamzur, inilah yang membuat dia kagum. Dia meyakini bahwa Allah yang menanggung beban hidup bangsaNya hari demi hari. BangsaNya telah melewati berbagai situasi hidup, mulai dari tanah Mesir sampai ke tanah Kanaan. Allah telah menanggung beban kehidupan bangsaNya di padang gurun, membimbing bangsaNya melalui pemberian Undang-Undang di Gunung Sinai, memimpin bangsaNya dalam peperangan yang hebat untuk menaklukkan penduduk dari negeri yang dijanjikan Allah. Pemamzmur meyakini bahwa Allah adalah Penyelamat, yang memelihara kehidupan bangsaNya.
Adanya kesadaran akan Allah yang menjadi Penyelamat dan yang menanggung beban hidup bangsaNya hari demi hari, mendorong pemazmur mengajak bangsa Tuhan untuk memuji Allah.
Kita juga memikirkan perjalanan hidup kita hari demi hari. Dan kita mendapati bahwa kita mampu bertahan dan terus berjalan, walaupun kita sering kali menghadapi tantangan yang berat. Kita telah tiba di hari Sabtu ini. Kita menyadari bahwa oleh karena kuasa Allah-lah maka kita dapat menjalani hari hari kita. Hari demi hari, Tuhan menanggung beban perjuangan hidup kita.
Oleh karena itu, mari kita persiapkan tubuh, hati, pikiran, roh dan jiwa kita untuk menaikkan pujian kita pada kebaktian minggu esok hari. Kita merasakan penyelamatan Allah setiap harinya. Allah telah menuntun kita melewati berbagai situasi hidup kita. Bersama keluarga kita, kita naikkan pujian bagi Allah.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 307:1,2.
    1. O Tuhanku Kam me permakanku, e maka la kekurangen aku. Ku mbal-mbal m’ratah aku babaNdu, ipesenang-senangNdu geluhku. Permakanku si njayam geluhku, malem ateku senang tuhu. KelengNdu tetap maler man bangku, Kam me Tuhanku permakanku.
    2. IteguNdu kempak lau si maler, ibahanNdu ateku nggo malem. Emaka tedeh ate tendingku, kempak keg’luhen si sikapkenNdu. Permakanku si njayam …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 11 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 249:1,4.
    1. Ajar aku o Tuhanku, make Kata ras PedahNdu, kueteh payo ras sentudu, kuikutken bas geluhku. Singikut pedah Dibata, daten me kerembakenNa. Pedah Kata tangkas k’rina em jadi gelementa.
    2. Kalak si tegu Dibata em si lembab kin ukurna, man si nembah rusur baNa, ukum ajarkenNa banta. Singikut pedah Dibata …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Mazmur 119 : 33 – 36.
    “O TUHAN, ajarken bangku pengertin undang-undangNdu, gelah kuikutken seh kedungenna. Terangken bangku undang-undangNdu, maka kuikutken, kudalanken alu bulat ukurku. Bahan maka kuerti dingen kupatuhi undang-undangNdu, sabab ibas matuhisa dat aku kemalemen ate. Bereken bangku kerincuhen ngikutken undang-undangNdu, lebihen asangken kerincuhen jadi kalak bayak.”
    Renungan

Semasa kuliah S1 dulu, setiap akhir bulan, kami mengirim surat kepada orang tua yang berisi permintaan uang kebutuhan hidup dan kuliah. Saya membayangkannya, ketika orang tua menerima surat di akhir bulan itu pastilah terasa berat untuk membacanya dan memenuhinya. Mungkin tidak jauh berbeda dengan situasi saat ini, ketika si anak berkata, “bapak, mamak, aku perlu ini …” mungkin orang tua langsung berpikir, “enggo ka me mberat sekali enda”. Apalagi permintaan itu dibarengi dengan acara ngambek, merajuk, dan tidak mau diajak berbicara dan bertimbang, maka semakin pusinglah orang tua. Kira-kira, apa ya, permintaan anak yang membuat orang tua bahagia ?
Yang menjadi bacaan renungan malam hari ini, merupakan bagian dari Mazmur 119. Mazmur 119 adalah suatu renungan tentang undang-undang Tuhan yang dipuji sebagai anugerah Tuhan yang paling berharga. Dalam hal ini, undang-undang Tuhan ini dapat dimengerti sebagai petunjuk yang diberikan ibu atau orang tua yang berwibawa kepada anak kecil atau orang muda yang belum berpengalaman. Dengan pengetahuan itu maka orang muda dapat hidup bijaksana, tahu adat, sanggup membawa diri dengan baik dalam kehidupannya dan berjalan di jalan yang benar. Dalam Mazmur 119 ayat 33-36 ini diperlihatkan tentang 4 hal yang dimintakan pemazmur ini. Keempat hal itu adalah diajari, diterangkan, dibuat mengerti, diberikan kerinduan melakukan undang-undang Tuhan. Kemudian juga dijelaskan tentang 4 hal yang menjadi alasan pemamur meminta diajari undang –undang Tuhan, yaitu agar dia mengikutkannya sampai berhasil, melakukannya dengan segenap hati, memperoleh kedamaian, dan memiliki kerinduan melakuan undang undang Tuhan yang melebihi kerinduan menjadi kaya.
Tentunya, ketika orang tua mengetahui hal inilah yang dimintakan anak-anak kepada Tuhan, maka tentunya, berbahagialah orang tuanya. Anak meminta agar diajari, diterangkan, dibuat mengerti, dan memiliki kerinduan melakukan undang-undang Tuhan. Kerinduan anak untuk melakukan undang-undang Tuhan yang melebihi kerinduan mengejar keuntungan. Anak sudah mengetahui bahwa dalam menjalankan undang-undang Tuhan terdapat kedamaian, melebihi kedamaian yang dapat diberikan uang. Tentunya, inilah permintaan anak yang menyenangkan orang tua. Benar demikian, ya ?
Inilah juga yang menjadi tanggung jawab kita orang tua untuk mengenalkan pemahaman ini sejak dini kepada anak-anak kita. Anak-anak dari dirinya sendiri meminta diajari dan diterangkan tentang jalan yang dikehendaki Allah. Suatu keinginan yang melebihi keingian mendapatkan keuntungan. Tuhan memampukan kita mengenalkan kehendak Tuhan itu kepada anak-anak kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 350:1,2.
    1. Kelengi kebenaren, pedauhlah si jahat. Pakeken Kata Tuhan tahan rasa lalap. Nggeluhlah alu bujur meteruk ukur kin. Dalanken kebenaren maka ukur teneng. Erjaga jagalah reh me wari Tuhan. Ersikap sikaplah pake Kata Tuhan.
    2. Darami si mehuli peaduh min si ilat. Megermet bas keg’luhen make pedah Tuhan. Lakokenlah si adil bas kegeluhen, bage me pedahTuhan tetap si dalanken. Erjaga – jagalah
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 10 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 320:1,2.
    1. Susah entah senang gia, ibas geluh enda. Amin kita bas perbeben, ernalem man baNa. Nggeluh bas Tuhan malem ateta, sibegiken pedahNa. Pindo gegeh ras pasu-pasuNa, ib’rekenna man banta.
    2. Aminna latih mesera gegeh ib’rekenNa. Tetap ernalem man baNa kidekah geluhta. Mejingkatlah ndahiken dahinna, g’lah meriah ukurta. Sangap kalak si rembak ras Ia, terpujilah gelarNa.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Yesaya 43: 1 – 4.
    “ O Israel, bagenda nina TUHAN si nepa kam, “Ula kam mbiar, sabab la banci lang Kukelini kam. Kudilo kam alu gelarndu; Aku kap sinjadiken kam, janah kam sikerajangenKu. Adi ikeparindu lau si mbages, Aku ras kam; la kam gedap ibas kesusahen si mesangat. Adi ibentasindu api si gurlah, la meseng kam; la kam talu ibas percubaan si mberat. Sabab Aku kap TUHAN Dibatandu, Dibata si Badia nu Israel, si Engkelinindu. Mesir Kubereken jadi tebusndu, Sudan ras Seba jadi gancihndu. Perban meherga kal Kuakap kam; medolat, janah keleng ateKu kam, emaka Kubereken kalak si deban jadi gancihndu, janah bangsa-bangsa si deban jadi gancih kesahndu. ”

Renungan.

Setiap harinya kita hidup dibawah baying-bayang kehancuran massal. Gambar ini memperlihatkan kekuatan senjata nuklir yang merupakan senjata pemusnah massal. Perlombaan negara-negara super power dalam mengembangkan senjata nuklir ini merupakan salah satu ancaman dalam kehidupan manusia. Ancaman yang nyata bagi kita saat ini adalah pandemi covid-19. Bagaimana kita menjalani hidup yang berada di bawah bayang-bayang ancaman ini ?
Firman Tuhan yang menjadi renungan kita malam hari ini merupakan bagian dari janji keselamatan yang diberikan Allah kepada bangsa Israel. Setelah melewati masa penghukumannya, maka tibalah masanya, Allah akan membebaskan bangsaNya dari penjajahan bangsa lain. Oleh karena perlindungan Allah ini maka bangsa Israel tidak perlu lagi takut. Ibas pengkelini Dibata maka bangsa Israel “ la gedap ibas kesusahen si mesangat bage pe la talu ibas percubaan si mberat.”
Dalam bacaan Firman Tuhan ini dijelaskan tentang alasan tindakan Tuhan Allah itu. Si jadi alasenna nina, “Perban meherga kal Kuakap kam; medolat, janah keleng ateKu kam”. Allah memandang bangsa Israel berharga dan mulia. Dimanakah letak berharga dan mulianya bangsa Israel ? Dikatakan dalam Yesaya 42 bahwa bangsa Israel adalah bangsa yang tidak mau mendengar dan tidak mau melihat firman dan perbuatan Allah. “Engkau melihat banyak, tetapi tidak memperhatikan, engkau memasang telinga, tetapi tidak mendengar.” (Yesaya 42:20). Maka dapat dikatakan bahwa jika dilihat dari diri bangsa Israel sendiri maka bangsa ini adalah bangsa yang tidak patuh kepada Allah. Namun demikian, oleh karena keinginan Allah untuk mengasihi bangsa Israel maka Allah memandang bangsa Israel itu berharga dan mulia.
Demikianlah kita juga meyakini bahwa oleh karena KasihNya, Allah memelihara kehidupan kita. Kita sadar bahwa diri kita adalah orang berdosa, sering jatuh dalam dosa. Tetapi Allah memandang kita berharga dan mulia. Oleh kuasa-kasih Allah maka kita tidak akan tenggelam dalam kesusahan dan tidak akan kalah dalam pencobaan yang berat. Dengan keyakinan akan pemeliharaan dan perlindungan Allah ini, kita jalani hidup ini penuh keberanian. Walaupun saat ini bahaya kehidupan sedang mengancam kita, kita memiliki hati yang tenang dan teguh. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 203:1,6.
    1. Pasu-pasu ni Tuhanta, si nemani geluhta. Tiap wari seh man banta, la ersibar ngaruhNa. Aku pe, aku pe. Pasu–pasu aku pe.
    2. Yesus reh ku doni, maka terang man banta. Nusur kap ku manusia, maka malem ateta. Aku pe, aku pe, nusur min man bangku pe.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan