Renungan Malam 21 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 329:1,3.
    1. Tuhan Yesus penampatku, Ia penalemenku. Kuikutken me dalanNdu, Kam me kegeluhenku. Tenang tetap tendingku, paguh kinitekenku. Lanai lit kebiarenku. Tan Tuhan ku me negu.
    2. Tuhan Yesus penampatku, nimbak p’raten dagingku. Suari berngi Kam kulebuh, pengarapenku nteguh. Teneng tetap tendingku …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Jeremia 32 : 43-44.
    “ Orang akan membeli ladang lagi di negeri ini yang kamu katakan: Itu adalah tempat tandus tanpa manusia dan hewan; itu telah diserahkan ke dalam tangan orang-orang Kasdim! Orang akan membeli ladang-ladang dengan perak, menulis surat pembelian, memeteraikannya dan memanggil saksi-saksi di daerah Benyamin, di sekitar Yerusalem, di kota-kota Yehuda, di kota-kota Pegunungan, di kota-kota Daerah Bukit dan di kota-kota Tanah Negeb. Sebab Aku akan memulihkan keadaan mereka, demikianlah firman TUHAN.”

Renungan

Seperti petani ini, tetap semangat dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Saat ini kita memang membutuhkan keteguhan hati untuk menjalani kerasnya perjuangan hidup ini. dalam menjalani perjuangan hidup ini, terkadang kita harus mengambil tindakan yang di luar logika ekonomi kita. Misalnya, ketika terjadi konflik di suatu daerah, maka biasanya, sebelum orang mengungsi, maka orang-orang akan berupaya menjual aset mereka agar aset itu tidak hilang sama sekali. Namun karena semua orang ingin menjual asetnya, maka bisa jadi tidak ada yang mau membeli aset itu. situasi. Namun demikian, tohk ada juga orang yang membeli aset.
Inilah situasi yang dihadapi Jeremia. “Pada waktu itu tentara raja Babel mengepung Yerusalem, dan nabi Yeremia ditahan di pelataran penjagaan yang ada di istana raja Yehuda. (Jer 32:2) Dalam situasi ini datanglah Hanameel menjenguk Jeremia dan menawarkan tanahnya kepada Jeremia. “ Kemudian, sesuai dengan firman TUHAN, datanglah Hanameel, anak pamanku, kepadaku di pelataran penjagaan, dan mengusulkan kepadaku: Belilah ladangku yang di Anatot di daerah Benyamin itu, sebab engkaulah yang mempunyai hak milik dan hak tebus; belilah itu! Maka tahulah aku, bahwa itu adalah firman TUHAN. Jadi aku membeli ladang yang di Anatot itu dari Hanameel, anak pamanku, dan menimbang uang baginya: tujuh belas syikal perak. (Jer 32:8-9) Secara logika ekonomi, tentunya sulit untuk menerima tindakan Jeremia ini. Yeremia lagi dipenjarakan, Yerusalem sedang dikepung tentara Babel dan harga beli yang mahal menurut ukuran pada saat itu. Kita mungkin bertanya, untuk apalah membeli tanah, tokh Jeremia tidak bisa mengusahakannya, baik karena dia dipenjara dan situasi pengepungan tentara Babel ? Benar secara logika ekonomi, sulit menerima tindakan Jeremia. Pada awalnya Jeremia juga merasa binggung. Dikatakan dalam Jeremia 32 : 17, “ Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya, Engkaulah yang telah menjadikan langit dan bumi dengan kekuatan-Mu yang besar dan dengan lengan-Mu yang terentang. Tiada suatu apapun yang mustahil untuk-Mu! Namun, akhirnya Jeremia bertindak berdasarkan firman Allah. Dikatakannya, “Namun Engkau, ya Tuhan ALLAH, telah berfirman kepadaku: Belilah ladang itu dengan perak dan panggillah saksi-saksi! padahal kota itu telah diserahkan ke dalam tangan orang-orang Kasdim.” (Jer 32:25)
Tindakan Jeremia ini merupakan tindakan simbolis yang dilakukan Allah untuk menandakan pemulihan Jerusalem oleh Allah. Allah akan memulihkan keadaan Yerusalem kembali setelah penderitaan yang mereka alami. Setelah pemulihan itu, maka kehidupan akan berjalan kembali. Perputaran ekonomi terjadi lagi. Akan terjadi jual-beli tanah di berbagai tempat, tempat yang mungkin untuk kehidupan atau tempat tidak memungkinkan kehidupan, semua tempat itu dibeli, di materaikan, disyahkan oleh saksi-saksi.
Demikian juga dalam kehidupan kita. Kita tetap yakin, Allah memulihkan keadaan kita. Seperti pengakuan Jeremia, “Tiada suatu apapun yang mustahil untuk-Mu!”, kita jalani perputaran ekonomi kita. Mungkin saat ini, kita mengalami kesulitan dalam menjalankan kehidupan ekonomi kita. Namun kita tetap yakin, bahwa Allah memulihkan keadaan kehidupan dunia ini. Inilah yang menguatkan dan meneguhkan kita dalam menjalani hari-hari kita. Tuhan memampukan kita untuk tetap tekun mengikuti perputaran kehidupan ekonomi ini Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 334:1,2
    1. Tuhan kam si empuna geluhta, gegehta Ia si merekenca. Kiniteken pe ras pemetehta, e pe Ia sinjujurkenca. Ia kap erbanca kita sangap, tetaplah man Ia kita ngarap. ‘Di reh susah b’reNa serpang pulah, tendi kula mejuah-juah.
    2. Dage tetaplah bulat ukurta. Geluhta pe lalap min erguna. Lagu langkah pe la sia-sia, gelar Tuhanlah ermulia. Adi jumpa kita si mesera, pengarapen ula kal min pera. Kune riah ukur kita jumpa, nehken bujur ula kal lupa.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 20 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 291:1,3
    1. M’riah ukur kami o Bapa, nembah ‘rjimpuh ertoto baNdu. Kam o Tuhan ipuji kami, ermulia gelarNdu. Bengket kami o Tuhan, ngadap kulebeNdu. Reh kami muji-muji gelarNdu Tuhan si Badia.
    2. Bujur ning kami baNdu, ban keleng ateNdu. IcukupiNdu k’rina si perlu. Mbelin kal kuasaNdu. Bengket kami o Tuhan …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Mazmur 33 : 18 – 22.
    “ Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya, untuk melepaskan jiwa mereka dari pada maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan. Jiwa kita menanti-nantikan TUHAN. Dialah penolong kita dan perisai kita! Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya. Kasih setia-Mu, ya TUHAN, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu.”
    Renungan.

Esok hari kita akan memasuki hari pertama di minggu ini. Masih panjang perjalanan yang harus kita tempuh. Seperti gambar ini, kita belum dapat memastikan ujung perjalanan hidup kita. Di balik bukit, di balik gunung, dan setelah lembah, masih ada jalan yang harus kita tempuh. Dan kita tidak dapat memastikan apa yang akan terjadi dalam perjalanan itu. Kita membutuhkan ketetapan hati untuk menjalani perjalanan hidup kita ini.
Di dalam 33 ini, Pemazmur mengingatkan dan merenungkan usaha manusia untuk menjamin kehidupannya. Pemazmur menemukan bahwa kekuasaan raja, kekuatan pahlawan dan ketangkasan kuda tidak berguna menjamin kehidupan manusia. “ Seorang raja tidak akan selamat oleh besarnya kuasa; seorang pahlawan tidak akan tertolong oleh besarnya kekuatan. Kuda adalah harapan sia-sia untuk mencapai kemenangan, yang sekalipun besar ketangkasannya tidak dapat memberi keluputan.” (Maz. 33:16-17) Sebaliknya, Pemazmur sadar dan meyakini bahwa hanya Tuhan Allah-lah yang mengaruniakan dan memelihara hidup mereka yang takut kepadaNya, yang menghormatiNya dan yang menantikan segala sesuatu yang disediakanNya dalam kasih setiaNya. Di dalam penantian akan pemeliharaan Allah-lah maka manusia dapat bersukacita. Pemamzur percaya bahwa Allah adalah Penolong dan Perisai dalam hidupnya. Dengan iman seperti ini, Pemazmur yakin dan berharap akan penyertaan Tuhan dalam perjalanan hidupnya.
Di dalam ibadah minggu ini, kita kembali diingatkan dan merenungkan kasih pendamaian yang telah diberikan Allah kepada kita melalui Tuhan Yesus Kristus. Kita meyadari dan meyakini Allah penuh kasih setia dalam hidup kita. Oleh karena itu, kita jalani hari – hari hidup kita di minggu ini dengan takut akan Allah, menghormati namaNya dan tekun menanti-nantikan pertolongan Allah. Inilah yang menjadi sukacita dan kekuatan bagi kita untuk menjalani hari –hari kita. Kita hadapi hari demi hari di minggu ini dengan keyakinan bahwa hidup kita ada dalam pemeliharaan Allah. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 307:1,2
    1. O Tuhanku Kam me permakanku, emaka la kekurangen aku. Ku mbal-mbal mratah aku babaNdu, ipesenang-senangNdu geluhku. Permakanku si njayam geluhku, malem ateku senang tuhu. KelengNdu tetap maler man bangku. Kam me Tuhanku, permakanku.
    2. IteguNdu kempak lau si maler, ibahanNdu ateku nggo malem. E maka tedeh ate tendingku, kempak keg’luhen sisikapkenNdu. Permakanku …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 19 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 338:1,3.
    1. Ulu tuah Kam kusembah, ajar aku megelah. “lah nurihi pujin kami, lalap la ‘rgadi-ngadi. Lias ras keleng ateNdu, jujurkenNdu man bangku. Nteguh paguh, la terundu, kuasa ras muliaNdu.
    2. Pasu-pasu surga nari, kugejap tiap wari. Kepentaren berekenNdu, nehken sura-suraNdu. PakekenNdu lah min aku, jadi persuruhenNdu, jenda aku suruh aku, nehken kekelengenNdu.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Mazmur 77 :12 – 15.
    “ Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala. Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu. Ya Allah, jalan-Mu adalah kudus! Allah manakah yang begitu besar seperti Allah kami? Engkaulah Allah yang melakukan keajaiban; Engkau telah menyatakan kuasa-Mu di antara bangsa-bangsa.”

Renungan.

Gambar ini merupakan salah satu fenomena alam yang kita anggap ajaib. Kita mengganggapnya ajaib karena sulit bagi kita untuk memahami kejadiannya. Ada banyak hal dalam hidup kita di mana kita juga merasa sulit untuk memahami dan menerimanya. Kita telah menghadapi persoalan hidup dengan mengandalkan ketrampilan dan kekuatan pikiran dan tubuh kita. Kita juga telah mengupayakannya dengan mencari pertolongan kepada Allah. Namun demikian, persoalan-persoalan hidup itu tidak juga kunjung selesai. Hal ini dapat saja membuat kita salah memahami kehidupan ini.
Pemamzmur juga mengalami situasi yang seperti ini. Dikatakan dalam Mazmur 77:3, “Pada hari kesusahanku aku mencari Tuhan; malam-malam tanganku terulur dan tidak menjadi lesu, jiwaku enggan dihiburkan.” Namun ketika hal ini juga belum menunjukkan hasil, bisa jadi kita mempertanyakan kasih setia Allah dan mengambil kesimpulan yang keliru tentang Allah. “Untuk selamanyakah Tuhan menolak dan tidak kembali bermurah hati lagi? Sudah lenyapkah untuk seterusnya kasih setia-Nya, telah berakhirkah janji itu berlaku turun-temurun? Sudah lupakah Allah menaruh kasihan, atau ditutup-Nyakah rahmat-Nya karena murka-Nya?” Sela Maka kataku: “Inilah yang menikam hatiku, bahwa tangan kanan Yang Mahatinggi berubah.” (Maz. 77: 8 – 11)
Dan memang inilah yang menyesakkan hati kita ketika kita keliru memahami perbuatan Allah. Allah yang awalnya kita pahami penuh belas kasihan, tetapi sekarang kita menganggap Allah sudah berubah, tidak mengasihi kita lagi. Pemazmur menyadari kekeliruan kesimpulan yang telah dia ambil dan tidak mempertahankan kesimpulan itu. Sebaliknya Pemamzur berusaha mengingat dan merenungkan kembali perbuatan Allah itu. Lalu Pemzmur menemukan terang kesimpulan yang baru. Pemazmur mengakui bahwa jalan Tuhan adalah kudus. Allah melakukan keajaiban dalam menyelamatkan bangsaNya. Benar, jalan Tuhan adalah kudus dan ajaib perbuatanNya. Sulit bagi kita untuk memahami dan mengerti cara dan waktu Tuhan untuk menyelamatkan hidup kita. Namun demikian, dengan mengingat dan merenungkan perbuatan Allah, Pemazmur menemukan terang kebenaran ini.
Apa yang menjadi kesimpulan pemazmur ini merupakan penghiburan dan kekuatan kita dalam menjalani kehidupan kita. Dalam kesesakan hidup kita, kita juga dapat saja keliru dalam memahami Allah dan perbuatan Allah. Terkadang, kita merasa Allah membiarkan kita dalam penderitaan ini. Kita merasa bahwa Allah tidak mengasihi kita lagi. Dan ternyata, semakin kita membuat kesimpulan bahwa Allah jauh dari kita, maka semakin sakit hatilah kita. Oleh karena itu, langkah yang diambil pemazmur merupakan jalan terbaik bagi kita dalam menghadapi persoalan hidup kita. Kita mengingat dan merenungkan kembali perbuatan-perbuatan Allah sepanjang sejarah kehidupan kita. Sejarah hidup kita adalah sejarah kasih Allah. Dengan pertolongan Roh Kudus kita akan menemukan jalan Tuhan yang kudus dan ajaib dalam menyelamatkan hidup kita.
Ibadah minggu kita merupakan kesempatan bagi kita untuk mengingat dan merenungkan jalan Tuhan yang kudus dan ajaib dalam hidup kita. Mari kita persiapkan tubuh, hati, pikiran, roh dan jiwa kita untuk mengingat dan merenungkan perbuatan Tuhan dalam hidup kita. Tuhan, dengan kuasa Roh KudusNya melayakkan kita untuk menemukan penghiburan dan kekuatan dalam menjalani kehidupan kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 227:1,2.
    1. Katakenlah man pusuhku, pepankenlah bas geluhku, idemiNdu kegeluhenku, tetapkenlah pengarapenku. Pegaralah kinitekenku, alu Kesah ras KataNdu.
    2. Si ingetlah wari Tuhan, pedahNa e si pakeken. B’ritaken Kata Dibatanta man k’rina bekas tinepaNa. Pegaralah kinitekenku alu Kesah ras KataNdu.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 18 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 302:1,2.
    1. Nginget perkuah Dibata si mbelin, siisehkenNa man banta kr’ina kin. Ibas kerina dampar kegeluhen, i doni s idem alu keguluten. Endeskenlah kulanta man Dibata, kerinana si lit ibas geluhta. Selaku persembahennta si nggeluh, em persembahen si ngena ateNa.
    2. Sabab bage kin arusna kita kin, ersembah man Dibatanta si mejin. Si nggo m’reken man banta manusia, keg’luhen si mehuli ras badia. Endeskenlah …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata I Korinti 1:4-5
    “ La erngadi ngadi kukataken bujur man Dibatangku kerna kam, erdandanken lias ate si nggo iberekenNa man bandu arah Kristus Jesus. Sabab ibas persadanndu ras Kristus, kam enggo ipebayak i bas kai pe, i bas pengeranandu bage pe i bas pemetehndu.”

Renungan.

Sering kita mendengar pepatah, “seperti kacang lupa kulitnya”. Pepatah ini menggambarkan perilaku orang yang tidak tahu diri atau tidak lagi mengingat siapa dirinya. Dia tidak mengingat arti perubahan yang telah terjadi dalam dirinya. Tentunya, ada makna perubahan yang telah terjadi di dalam hidup kita. Apa makna perubahan dalam hidup kita ?
Paulus mengucap syukur atas perubahan hidup yang diterima orang Korintus setelah menerima Tuhan Yesus Kristus. Orang Korintus telah mengalami perubahan keadaan kehidupan dalam persekutuan dengan Tuhan Yesus Kristus. Paulus mengingatkan keadaan orang Korintus sebelum menerima Tuhan Yesus Kristus. Dalam 1 Korintus 1: 26, dikatakan tentang keadaan orang Korintus dahulu, “Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang.” Namun sekarang, karena persekutuan dengan Tuhan Yesus Kristus mereka telah diperkaya dalam perkataan dan pengetahuan. Mereka telah memiliki hikmat, hikmat yang tidak dimiliki oleh orang-orang yang berhikmat sekalipun. “Di manakah orang yang berhikmat? Di manakah ahli Taurat? Di manakah pembantah dari dunia ini? Bukankah Allah telah membuat hikmat dunia ini menjadi kebodohan? Oleh karena dunia, dalam hikmat Allah, tidak mengenal Allah oleh hikmatnya, maka Allah berkenan menyelamatkan mereka yang percaya oleh kebodohan pemberitaan Injil (1 Kor. 1:20-21)
Namun demikian, Paulus melihat arah perubahan itu justru menjadi perpecahan. Oleh karena itu mengingatkan agar perubahan yang telah diberikan Kristus kepada orang-orang Korintus tidak menjadi sumber perpecahaan di dalam kehidupan mereka. “Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir. Sebab, saudara-saudaraku, aku telah diberitahukan oleh orang-orang dari keluarga Kloe tentang kamu, bahwa ada perselisihan di antara kamu. Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus.”(1Kor 1:10-12)
Dari situasi yang terjadi dalam kehidupan jemaat Korintus ini kita dapat merenungkan arti perubahan hidup yang telah diberikan Kristus kepada kita. Kita harus tetap mengingat anugerah perubahan hidup yang telah diberikan Allah kepada kita. Perubahan kehidupan yang diberikan Allah janganlah itu menjadi sumber perpecahaan di antara kita. Justru hendaklah perbedaan yang ada dipergunakan untuk saling membangun. “Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama. Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. (1Kor. 12:7-8). Tetaplah siinget maka kita enggo ipebayak. Janah sura-sura Dibata ibas mereken pemereNa emekap guna kerinana. Kita pakaikan anugerah perubahan hidup untuk kepentingan bersama jemaat Tuhan. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 402:1,3
    1. Perban kekelengenNdu, tebusiNdu dosangku, alu mambur darehNdu, geluhku jadi mbaru. Asa ngasup gegehku, kuikutken kataNdu. Yesus Kam si perkuah, kupuji ras ku sembah.
    2. Perban kekelengenNdu jadikenNdu geluhku meherga ras erguna desken batu permata. Asa ngasup gegehku…
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 17 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 279:1,2
    1. Kam kap Dibatangku, Kam inganku cicio, tegu-tegu aku, begiken pertotonku. Ernalem man baNdu, Kam pengarapenku. Kidekah geluhku, kupuji Kam Tuhan.
    2. Bere gegeh bangku, mekuah ateNdu min. Labuh kal tendingku, sampatiNdu aku min. ernalem man baNdu, Kam pengarapenku. Kidekah geluhku, kupuji Kam Tuhan.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata 2 Korintus 1:3-4.
    “ Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan, yang menghibur kami dalam segala penderitaan kami, sehingga kami sanggup menghibur mereka, yang berada dalam bermacam-macam penderitaan dengan penghiburan yang kami terima sendiri dari Allah.”

Renungan

Gambar ini memperlihatkan keceriaan dan semangat hidup dalam diri orang-orang muda. Bukan berarti tidak ada penderitaan yang menantinya. Benar masih panjang perjalanan hidup dan banyak persoalan yang harus dihadapinya. Bagaimana kita menghadapi penderitaan hidup ini sehingga kita tetap memiliki keceriaan dan semangat hidup ?
Kita menginginkan agar penderitaan lenyap dari kehidupan kita. Kita merasa bahwa kita akan dapat mengucap syukur manakala penderitaan itu benar-benar telah lenyap dari kehidupan kita. Dalam hal ini, Paulus memperlihatkan kemampuannya untuk tetap mengucap syukur walaupun itu penderitaan itu tidak hilang dari pelayanannya. Bagaimana Paulus dapat mengucap syukur dalam penderitaannya itu.
Di dalam 2 Korintus 1, Paulus menceritakan bahwa dirinya telah mengalami penderitaan yang mengerikan. Dia mengatakan bahwa karena begitu mengerikannya penderitaan itu, dia merasa telah putus asa dan mati. Namun demikian, Allah telah menyelamatkan Paulus. Paulus juga meyakini bahwa Allah akan menyelamatkannya lagi. Dikatakan dalam 2 Kor.1:10, “ Dari kematian yang begitu ngeri Ia telah dan akan menyelamatkan kami: kepada-Nya kami menaruh pengharapan kami, bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi.” Hal inilah yang membuat Paulus sanggup mengucap syukur karena dia telah melihat pertolongan Allah dalam hidupnya dan Allah akan tetap menyelamatkannya. Paulus juga merasakan ada kekuatan bagi dirinya karena penghiburan yang diberikan jemaat Tuhan. “Dan pengharapan kami akan kamu adalah teguh, karena kami tahu, bahwa sama seperti kamu turut mengambil bagian dalam kesengsaraan kami, kamu juga turut mengambil bagian dalam penghiburan kami. (2 Kor. 1: 7). Jemaat yang mengambil bagian dalam penderitaannya, juga merupakan sumber pengiburan bagi Paulus.
Dalam renungan ini, kepada kita juga diperlihatkan makna lain dari penderitaan dan penghiburan. Paulus mengimani Allah adalah Allah yang penuh belas kasihan. Allah adalah sumber penghiburan. Paulus sanggup melihat ada kebaikan dalam penderitan-penghiburan yang telah diterimanya. Allah sebagai sumber penghiburan telah menghibur Paulus dan Paulus meyakini penghiburan berguna sebagai penghiburan bagi orang lain.
Pada saat ini, kita juga mengalami banyak penderitaan. Penderitaan yang belum kita tahu kapan berakhirnya. Namun demikian, bukan berarti kita tidak dapat memuji Allah. Kita tetap dapat memuji Allah, penuh keceriaan dan semangat ketika kita tetap mampu mengimani bahwa Allah adalah sumber penghiburan dan tetap mampu melihat belas kasihan Allah dalam hidup kita. Allah mengasihi kita dengan tetap memberikan kemampuan bertahan bagi kita. Ada jalan penghiburan yang menguatkan kita untuk terus berjuang. Kita tetap memiliki semangat berjuang. Kita juga menemukan hal-hal baru yang membuka jalan bagi kita untuk memperoleh kebutuhan hidup kita. Kita juga merasakan adanya kebersamaan kita dengan menghadapi penderitaan ini. Allah sumber penghiburan senantiasa menghibur kita. Amin

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 379:1,2
    1. Tuhan tetap nemani geluhku dingen mereken dalan man bangku. Ernalem gelah tetap ras ertoto man baNa. Tuhan tetap nemani geluhku.
    2. Tuhan tetap nemani geluhku. Dingen mereken dalan man bangku. Tedeh ate tendingku ngidah kemulianNdu. Tuhan tetap nemani geluhku.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 16 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 181:1,2.
    1. Segedang-gedang geluhku, itemani penebus. Labo kai pe lit si kurang adi tanNa negu t’rus. Dame surga lit bas aku, iusekenNa bangku. Kegeluhen jadi senang, labo kai pe lit si kurang. Kegeluhen jadi senang kai pe lit si kurang.
    2. Segedang-gedang geluhku, kubentasi k’rina e. ‘Di si mberat reh man bangku, IA penahangisa. Labo pediatNa ndabuh, minter kal iangkatNa. Lalap ijagaiNa aku iban keleng ateNa. Lalap ijagaiNa kau, iban keleng ateNa.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Kolose 3 : 13
    “ Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian.”

Renungan

Salah satu yang dibutuhkan untuk dapat berjalan beriringan adalah kesabaran. Tidak semua hal yang kita harapkan dari teman kita dapat terpenuhinya. Ada saja hal-hal yang tidak menyukakan hati kita. Tetapi dengan adanya kesabaran, hal itu tidak akan memisahkan hubungan di antara mereka. Demikian juga dalam kehidupan bersama di dalam jemaat, kita sangat membutuhkan kesabaran.
Di dalam Kolose 3:12-17 merupakan daftar kebajikan hidup sebagai orang-orang pilihan Allah, yang dikuduskanNya dan dikasihiNya. Ketiga nama yang khas milik orang Yahudi. Tetapi di dalam Yesus Kristus tiada lagi yang khas milik orang Yahudi. Dikatakan dalam Kolose 3:11, “dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.” Sebagai orang pilihan Allah, maka ada kebajikan hidup yang harus kita lakukan. Kebajikan hidup ini, terutama bukan dalam hal ketrampilan mencari makan, ketrampilan membaca tanda-tanda jaman dan kemampuan menghindar dari bahaya atau bahkan ketrampilan memuji Tuhan. Kebijaksanaan yang dimaksud adalah kebijaksanaan dalam hubungan antar pribadi. Benarlah, bahwa iman Kristen memang memperbaharui hubungan antar pribadi menjadi hubungan yang baik, benar, saling membangun dan mendatangkan kedamaian.
Khususnya, yang menjadi renungan kita malam ini berbicara tentang kesabaran. Sabar dalam hubungan antar pribadi berarti kita mampu untuk menjadi sahabat dalam setiap musim kehidupan. Saling mengingatkan, menasehati, mendukung untuk kemajuan bersama. Bahkan sanggup menerima kekurangan dan kelebihan sahabat kita. Seorang sahabat yang sabar tidak menjadi sinis dan berputus asa ketika sang sahabat lambat dalam perubahan. Tidak meninggalkan sang sahabat ketika sang sahabat belum memperlihatkan perubahan ke arah kehidupan yang baik dan benar. Tetapi dengan sabar mendampingi dan membimbing sang sahabat untuk terus menjalankan perubahannya sehingga sang sahabat benar-benar hidup dalam kebaikan dan kebenaran. Kesabaran yang muncul karena adanya pengakuannya bahwa Tuhan Yesus Kristus juga telah memperlihatkan kesabaranNya dalam kehidupan kita, mau mengampuni dan memberikan kehidupan baru bagi kita.
Dua hari sebelumnya, kita telah merenungkan arti mengakukan salah-memberi pengampuan dan mengejar kerukunan. Dalam hal ini, ketika orang lain berbuat salah, kita juga harus sabar dalam menanti pengakuan salah dan ketika tiba saatnya sahabat itu mengakukan salah, maka kita juga dengan sabar memberi maaf kepadanya. Demikian juga dalam mengejar kerukunan. Kita sabar mengupayakan dan menunggu sampai kerukunan itu nyata dalam kehidupan bersama kita. Tuhan sumber kesabaran memberi kekuatan bagi kita untuk sabar. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 254:1,2.
    Reff.
    Isuruh Dibata sikeleng-kelengen, si sampat-sampaten asa kengasupen. Mbue me kap tuhu si man bahanenta, radu ras kerina kita ndahikenca.
    1. Palasta nampati em ate mekuah, ngusih Tuhan Yesus enggo kap nampati. Meriah ukurta adi teman pulah, masap kebiaren ‘je dat ate jadi. Reff.
    2. Kalak si ngikutken kata Tuhan Yesus terangina doni ras k’rina isina. Tegulah temannta gelah ola celus, si tuduhken dalin gelah ola mampa. Reff.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 15 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 264:1,2
    1. Ateku tedeh man baNdu o Tuhan, malem me ateku jumpa si erkuasa. Aku megegeh di ras Kam o Tuhan, sabab Kam me kapen ulu sinasana. Kubegi KataNdu, kata si tuhu-tuhu, keke me ukurku nehken peratenNdu.
    2. Terang kataNdu, nerangi pusuhku. Pusuh jadi senang, ergiah ukurku. Gegeh si mbaru, berekenNdu bangku. Labo aku talu, meriah ukurku. Kubegi KataNdu …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Roma 14 : 19.
    “ Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun.”

Renungan

Warga Soerang Maros mempertahankan tradisi gotong royong pindah rumah”. Rumah yang begitu besar dapat dipindahkan karena adanya kerukunan di antara masyarakat yang ada. Kerukunan merupakan modal dalam menghadapi tantangan hidup. Kerukunan juga yang dibutuhkan dalam kehidupan bersama di dalam jemaat.
Walaupun kita hidup dalam kebersamaan di dalam satu jemaat, konflik selalu saja ada. Salah satu penyebab konflik adalah adanya perbedaan dalam hidup kita. Kita memiliki perbedaan dalam hal latar belakang kehidupan, cara berpikir, dan yang kita anggap penting. Oleh karena itu, konflik dapat saja terjadi dalam kehidupan bersama. Jangankan dalam kehidupan bersama, dalam kehidupan batiniah kita sendiri, kita sering kali mengalami konflik batin. Namun demikian, bukan berarti kita membiasakan diri berkonflik, membiarkan konflik sebab “bage kin biakku” atau mencari cari konflik (ibas ribut e kin datna keriahen). Justru sebaliknya, Firman Tuhan ini mengingatkan kita untuk berusaha mendatangkan kerukunan. Hal itu berarti, terlebih dahulu ada perjuangan dalam diri kita sendiri untuk menguasai atau mengendalikan diri kita sendiri. Ada pembaharuan dalam diri kita dalam melihat dan memaknai setiap persoalan hidup kita. Di dalam setiap persoalan yang ada kita dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Seperti tertulis dalam Roma 12 : 2, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Artinya, kita tidak membiarkan “naluri konflik” itu menguasai kita. Kita mampu mengendalikan naluri konflik. Sebaliknya, naluri kita adalah naluri kerukunan. Dengan telah adanya naluri kerukunan itu, maka selanjutnya kita memeriksa sumber daya, akal, kemampuan yang kita miliki dan kita berusaha sekuat tenaga memakainya untuk mendatangkan kerukunan di dalam jemaat Tuhan.
Di dalam kerukunanlah maka kita dapat saling membangun. Artinya, akal, kemampuan dan energi kita janganlah habis hanya untuk terus menerus mendamaikan, merukunkan orang-orang berkonflik sehingga kita tidak bisa membangun. Ada tujuan lain yang harus kita kejar dalam persekutuan jemaat. Jemaat yang hidup dengan saling menopang iman, akan membuat jemaat itu kuat dalam menghadapi tantangan hidup ini. Jemaat yang yang saling membangun akan mampu bersaksi bagi dunia ini. Tuhan menuntun kita untuk mengejar damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 271:1,3
    1. I doni “nda mbue kesusahen, bage pe lit ka nge perubaten, reh lah min kinirajanNdu. I Gereja si arus ersada, maka tangkas keg’luhen si mbaru, reh lah min kinirajanNdu. Reh lah min, reh lah min, reh lah min kinirajanNdu.
    2. Bas pusuh, kata ras perbahanen, kekelengen rasp e kebenaren. Reh lah min kinirajanNdu. Kam me kapen si mada si nasa, ibas Kristus bangsaNdu ersembah, reh lah min kinirajanNdu. Reh lah min …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 14 September 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 319:1,2
    1. Sada soranta muji Dibatanta, Ia jine si njayam keg’luhenta. Lalap Ia ‘ngkelengi tinepaNa, maler me kap tetap pasu-pasuNa.
    2. Sada soranta muji Dibatanta, s’lamat kita ban perkuah ateNa. AlokenNa kita jadi anakNa. Maler me kap tetap pasu-pasuNa.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Kejadian 50 : 17 – 19.
    “ Beginilah harus kamu katakan kepada Yusuf: Ampunilah kiranya kesalahan saudara-saudaramu dan dosa mereka, sebab mereka telah berbuat jahat kepadamu. Maka sekarang, ampunilah kiranya kesalahan yang dibuat hamba-hamba Allah ayahmu.” Lalu menangislah Yusuf, ketika orang berkata demikian kepadanya. Juga saudara-saudaranya datang sendiri dan sujud di depannya serta berkata: “Kami datang untuk menjadi budakmu.” Tetapi Yusuf berkata kepada mereka: “Janganlah takut, sebab aku inikah pengganti Allah? “

Renungan

Ketika mengambil keputusan untuk melakukan satu tindakan, terkadang kita tidak sampai memikirkan apa yang terjadi di masa depan. Masa lalu lebih menguasai kita, mengendalikan keputusan kita. Misalnya, kebencian atau amarah yang kita rasakan membuat kita membalas dengan amarah dan kebencian juga. Kita tidak memikirkan apa dampaknya di masa depan ketika membalaskan amarah kita itu. Kita memikirkan dampaknya bagi masa depan kita setelah terasa berat penderitaan yang kita rasakan sekarang, akibat perbuatan masa lalu kita. Pada saat itulah, baru terpikirkan dan muncul ketakutan bagi masa depan kita.
Inilah pengalaman yang dapat kita pelajari dari kehidupan anak-anak Yakup. Ada kebencian anak-anak Yakup terhadap saudaranya sendiri Jusuf. Kebencian yang memuncak pada rencana pembunuhan. Tetapi akhirnya mereka sepakat menjual Jusuf ke pedagang Mesir. Dalam perjalanan hidup, Jusuf menjadi orang penting, yang mengaturkan pembelian, penyimpanan dan penjualan gandum. Pada saat itu, terjadilah kelaparan, yang mengharuskan saudara-saudara Jusuf membeli gandum ke Jusuf. Tidak pernah terbayangkan bahwa adik mereka, Jusuf yang telah menjadi orang penting, yang mereka jumpai di Mesir. Setelah saling mengenal kembali, justru muncul ketakutan pada diri saudara-saudara Jusuf akan pembalasan yang dapat saja dilakukan Jusuf. Oleh karena itu, muncul kesadaran diri mereka untuk memohon ampunan kepada Jusuf. Mereka mendasarkan permohonan ampunan dengan mengatasnamakan ayah mereka dan sebagai hamba Allah. Dan Jusuf juga menjadi dirinya bukan pengganti Allah yang berhak menuntut balas dan menghukum.
Betapa indahnya, bila terjadi perdamaian yang seperti ini. Masalahnya, yang sering kali justru terjadi adalah tidak ada yang sadar diri telah membuat kesalahan dan juga tidak ada yang mau memberi maaf. Sada pe la nggit surut. Maju terus ibas penggejapen kebenarenna. Piah dungna ibaba ku pengadilen. Iarapken keputusen pengadilen mereken perdamen ras mpersadaken. Ibas keputusen pengadilen ugapa pe lit si menang lit si talu. Janah biasannya, la lit si nggit talu. Emaka amin gia enggo ndarat keputusen pengadilen, lalap nge la puas ibas pusuh si talu. Enda me si erbahanca la banci erdame ibas pusuh ras ersada mulihi ibas kegeluhen. Si tatap mulihi kegeluhen Jusuf ras senina Jusuf. Lit kesadaren diri, sadar ia salah, nggit mindo ampunen, janah pihak si debannya ula erpengakap ia Dibata si berhak mereken penghukuman. Keputusen pengadilen, hanya netapken ise si benar ibas perkara e tapi labo ndameken ras mpersadaken. Ngasup ngataken salah ras nggit ngalemi e me si mpersadaken kita. Inilah yang dikehendaki Allah sebagai kita hamba-hamba Allah. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 209:1,2
    1. Perpulungen ersadalah ngikutken pedahNa, bas kiniteken tetaplah man Tuhan Dibata. Bas si mehuli ayaklah, si sampat-sampaten. Bage kap pedah Dibata si keleng-kelengen.
    2. Gereja Kristen sikaplah, ersada paguhlah. Ersada ukur min ibas Dibata Bapanta. Peturah kiniteken pe ras dame k’rinalah. Ras sikeleng-kelengenlah, nikutken Tuhanta.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan