Renungan Malam 24 Agustus 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 291:1,3.
    Reff. M’riah ukur kami o, Bapa, nembah ‘rjimpuh ertoto baNdu. Kam o Tuhan ipuji kami, ermulia gelarNdu.
    1. Bengket kami o Tuhan, ngadap ku lebeNdu. Reh kami muji muji gelarNdu, Tuhan si Badia. Reff.
    2. Bujur ning kami baNdu ban keleng ateNdu. IcukupiNdu k’rina si perlu, mbelin kal kuasaNdu. Reff.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Roma 2 : 7.
    “ Man kalak si ndarami kemulian, kehamaten, labo guna kegeluhen si genduari enda saja, tapi pe guna kegeluhen si reh, e me alu la erleja-leja erbahan si mehuli, man kalak si bage ibereken Dibata kegeluhen si tuhu – tuhu si la ermasap – masap.”

Renungan

Dalam kehidupan sehari-hari, apabila kita merasa telah berbuat banyak, tetapi hasilnya tetap kurang baik, maka kita mengganggap kesalahan itu terletak pada orang lain yang kurang berbuat banyak. Kita merasa lebih baik dan cenderung menghakimi perbuatan orang lain. Kebiasaan ini justru dapat membuat keadaan menjadi tidak lebih baik bahkan merusak hubungan di antara kita.
Mulai Roma 1 : 18-32. Paulus berbicara tentang hukuman. “Pernembeh ate Dibata ipetangkas i surga nari ndabuh ku kerina kejahaten manusia si la nggit nembah man Dibata. Erkiteken kejahatenna, manusia encekak ketuhu-tuhun e.” (Roma 1:18) Paulus mengatakan bahwa Allah menghukum semua orang yang tidak menyembah Allah. Demikian juga Orang Yahudi Kristen mengganggap Allah juga akan menghukum orang yang percaya apabila mereka tidak mengikuti aturan-aturan keyahudian. Orang Yahudi Kristen menghakimi orang percaya bahwa orang percaya itu akan dihukum Allah karena orang percaya itu tidak melakukan aturan-aturan Yahudi. Namun demikian, Paulus mengingatkan bahwa baik orang yang tidak percaya dan juga orang Yahudi Kristen yang mengganggap kafir orang percaya yang tidak mengikuti keyahudian, mereka ini semua juga akan menerima penghukuman Allah. Dalam hal keselamatan di dalam Yesus Kristus tidak berlaku hak istimewa Yahudi Kristen. Karena memiliki hak istimewa, orang Yahudi Kristen merasa hukuman tidak berlaku bagi mereka. Dalam hal keselamatan bukanlah persoalan kafir atau Yahudi Kristen, tapi persoalan “yang la erleja-leja erbahan si mehuli’. Dalam hal ini kita perlu mengingat bahwa bukan karena perbuatan baik maka kita selamat. Tetapi keselamatan yang telah diberikan Kristus kepada kita memotivasi, mendorong, dan menggerakkan kita untuk “tidak mudah putus asa, memiliki kemauan keras untuk mencapai tujuan dan cita-cita kita; ketabahan, ketahanan berjuang dan ketekunan dalam menjalankan kebaikan.” Bagi mereka ini, Allah menganugerahkan kemulian, kehormatan dan ketidakbinasaan.
Cara hidup yang sering menghakimi orang lain, dan jarang mengevaluasi diri merupakan kebiasaan yang dapat melumpuhkan iman kita. Kita perlu membalikkan kebiasan ini. Kita lebih sering mengevaluasi diri dan semakin jarang menghakimi orang lain. Kita mengevaluasi diri kita apakah kita telah sungguh-sungguh berjuang. Keselamatan yang telah diberikan Kristus kepada kita memotivasi, mendorong, dan menggerakkan kita untuk “tidak mudah putus asa, memiliki kemauan keras untuk mencapai tujuan dan cita-cita kita; ketabahan, ketahanan berjuang dan ketekunan dalam menjalankan kebaikan. Inilah yang lebih membangun hubungan di antara kita. Hubungan hidup di antara kita semakin baik.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 329:1,2.
    1. Tuhan Yesus penampatku, Ia penalemenku. Kuikutken me dalanNdu, Kam me kegeluhenku. Teneng tetap tendingku, paguh kinitekenku, lanai lit kebiarenku, tan Tuhanku me negu.
    2. Tuhan Yesus penampatku, Kam me kapen gegehku, layasiNdu kap ukurku. La teralang uliNdu. Teneng tetap tendingku.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 23 Agustus 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 200:1,2
    1. Tuhan babai min dalan ku bas doni, labuh ras la kesah gegehku. SoraNdu terbegi man bangku nemani. Lalap Kam me kuban temanku.
    2. Tuhan sampatlah geluhku gundari, ola Kam erleka ras aku. Kawali geluhku, suari ras berngi, lalap Kam me kuban temanku.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Ulangan 1: 6 – 7.
    “TUHAN, Allah kita, telah berfirman kepada kita di Horeb, demikian: Telah cukup lama kamu tinggal di gunung ini. Majulah, berangkatlah, pergilah ke pegunungan orang Amori dan kepada semua tetangga mereka di Araba-Yordan, di Pegunungan, di Daerah Bukit, di Tanah Negeb dan di tepi pantai laut, yakni negeri orang Kanaan, dan ke gunung Libanon sampai Efrat, sungai besar itu. Ketahuilah, Aku telah menyerahkan negeri itu kepadamu; masukilah, dudukilah negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka dan kepada keturunannya.”
    Renungan

Saya melihat foto ini sebagai keengganan berjalan menghadapi kehidupan ini. Jikalau kita bisa memilih, khan lebih baik untuk tidak terus berjalan menghadapi kegersangan perjalanan ini. Atau apabila memang harus bergerak, khan lebih baik bila di gendong saja. Namun memang, kita masing-masing harus terus berjalan. Siap atau tidak siap, selesai atau tidak selesai pekerjaan kita, hari ini akan berlalu dan hari baru akan kita jalani. Keberhasilan atau kegagalan dalam kehidupan kita tidak dapat membuat kita berlama-lama dalam situasi itu. Selalu saja ada perjuangan baru yang menanti kita, bahkan mungkin perjuangan itu lebih sulit lagi. Namun kita memang harus terus menjalaninya,
Allah mengatakan kepada bangsa Israel, melalui perantaraan Musa, bahwa mereka telah cukup lama tinggal di gunung Horeb. Setelah mengalahkan Sihon dan Og, bangsa Israel berdiam di gunung Horeb. Bangsa Israel mengganggap gunung Horeb sebagai tempat “kediaman Allah di bumi”. Keadaan ini membuat bangsa Israel enggan meninggalkan gunung Horeb. Tetapi, Allah menyuruh bangsa Israel meneruskan perjalanan mereka sebab tujuan perjanjian itu belum digenapi. Permasalahannya, perjalanan yang akan ditempuh, juga tidak kalah sulitnya, bahkan lebih sulit lagi. Namun demikian, Allah telah memberi jaminan bahwa bangsa Israel akan menduduiki tanah perjanjian ini.
Dalam hidup kita, ada saja yang membuat kita “berat” untuk meneruskan perjuangan kita. Apabila kita berhasil, keberhasilan itu membuat kita ingin berlama-lama menikmati keherhasilan itu, apalagi bila kita mengetahui ada tantangan berikutnya yang harus kita hadapi. Apabila kita mengalami kegagalan, hal itu dapat saja menjadikan kita merasa berat untuk melangkah, kita ‘dibelenggu” keletihan pikiran kita dan dibayangi kekhawatiran akan gagal lagi. Memang, masa lalu dapat membelenggu kita dan masa depan dapat mengkhawatirkan kita. Namun demikian, masing-masing kita harus meneruskan perjalanan hidup kita. Apapun masa lalu kita, dan seberat apapun masa depan kita, kita harus mempersiapkan diri kita menjalaninya. Allah-lah yang menguatkan dan meneguhkan keyakinan kita dengan janjiNya, sehingga kita tetap mampu terus berjalan. Kita persiapan diri kita memasuki aktivitas kita di minggu ini, dengan keyakinan dan pengharapan akan janji penyertaan Allah. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 238:1,2.
    1. Ibas ndalani perdalanen geluh, kiniseran per eh megati ngupuh. Si cengkal ukur, ras si mambur iluh, bereNdu teneng gelah banci tunduh. Kesah ras daging rikut pe ras tendi kempak DIbata k’rina ndesken kami. E maka Kam lah tetap singkawali, ‘lah daging bugis bas medak pepagi.
    2. Segedang wari kami enggo latih, paksana medem enggo ka me kap seh. IkawaliNdu min sangana tunduh, ‘lah suang gegeh adi baNdu badeh. Kesah ras daging …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 22 Agustus 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 280:1,2.
    1. Keg’luhen doni, Tuhan si ngaturkenca, labo tersipati, Ia si mada kuasa. Tah kai pe jadi, leben enggo ietehNa, la lit si terbuni ilebe-lebeNa. La lit si terbuni ilebe-lebeNa.
    2. Man Tuhan pindo k’rina si perlukenndu. Sehken arah toto, la bo perlu kam aru. Lah tetap ukur arapen la erkusur. Kekelengen Tuhan tetap labo luntur. Kekelengen Tuhan tetap labo luntur
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Matius 16: 8 – 11.
    “ Tapi ieteh Yesus kai si icakapken ajar – ajar e, e maka nina, “Engkai maka kerna la lit roti icakapkenndu ? Kurang kal tuhu kinitekenndu. Lenga kin lalap iangkandu ? La kin ingetndu asum Kucepik-cepik roti si lima ngkibul guna lima ribu kalak ? Piga sumpit asum si e ipepulung ibana ? Bage pe kerna roti si pitu ngkibul guna empat ribu kalak, piga sumpit asum si e ipepulung ibana ? Kuga maka la iangkandu, maka si Kukataken man bandu e labo kerna roti ? Metengetlah kam nandangi ragi kalak Parisi ras kalak Saduki !”

Renungan

Ketika kita melihat mendung yang semakin gelap, dalam hati kita berkata, “jangan-jangan hujan badai segera datang.” Lalu terbayanglah hal-hal buruk yang terjadi ketika hujan badai datang. Kita menggerutu, mengomel dan mencemaskan mengapakah hujan badai akan datang. Pertanyannya bagi kita adalah apakah kita mampu mengatur turunnya hujan badai atau tidak ? Hal ini khan tidak dapat kita atur. Oleh karena itu yang perlu kita perhatikan adalah apakah kita tetap mampu melakukan yang dikehendaki Allah dalam hujan badai ini ? Terkadang sangat berbeda apa yang seharusnya kita cemaskan dan apa yang sering kita cemaskan.
Yesus mengajar murid – murid yang mencemaskan roti yang lupa mereka bawa dalam perjalanan menyeberangi danau. Sebagai orang Yahudi, mereka masih memegang aturan makanan najis atau tercemar. Ketika mereka di seberang danau, di tempat yang bukan orang Yahudi, mereka khawatir tidak dapat membeli makanan yang sesuai aturan tidak tercemar. Oleh karena itu mereka mempersoalkan dimanakah mereka akan mendapatkan makanan yang tidak tercemar. Pikiran murid-murid terfokus kepada makanan, sehingga Yesus memperingatkan apa yang seharusnya mereka cemaskan. Yesus mengingatkan murid-murid tentang mujijat pemberian makan 5000 orang dengan hanya lima buah roti dan masih ada sisanya. Begitu juga pemberian makan 4000 orang dengan 7 buah roti dan juga masih ada sisanya. Ini semua menunjukkan bahwa Yesus mampu mencukupkan kebutuhan mereka. Dengan demikian, jika soal makanan, seharusnya murid-murid tidak perlu mencemaskannya. Dari situasi ini kita dapat merenungkan bahwa mereka mencemaskan hal yang mampu Yesus lakukan. Hal ini didasarkan kepada ketidakmampuan mereka untuk memahami kehendak Allah dan lemahnya iman mereka akan kuasa Yesus Kristus. Kehendak Allah agar murid-murid tidak terjebak dalam memandang agama sebagai sebuah ritual, kelengkapan dan kerunutan peribadahan. Yesus mengecam kebiasaan peribadahan orang Farisi yang mengatakan bahwa apa yang kuberikan kepada orang tuaku telah kupersembahkan kepada Allah. Agama yang seperti ini hanya agama mulut, bukan agama hati (Matius 15 :1-9)
Dari bacaan kita ini, yang perlu kita perjuangkan lebih dalam lagi adalah mencari apa yang dikehendaki Allah dalam hidup kita. Sejalanlah apa yang dikehendaki Allah dengan yang kita lakukan. Dan juga, berhentilah mencemaskan apa yang telah terbukti ada dalam kuasa Allah. Kita berserah kepada Allah yang berkuasa memelihara hidup kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 201:1,4.
    1. Malem ate tuhu-tuhu, si ernalem man baNdu. Kam Dibata sinjadiken langit ras doni enda. SalsaliNdu pusuh kami, maka t’rangndu tergejap. Kalak si tek la kap bene, ban kelengNdu e tetap.
    2. Aloken Kamlah o Bapa, kuendesken geluhku. KesahNdu min ngajarisa, lah kueteh nembah baNdu. Pasu – pasu min kerina, daging, ukur, tendingku. Gelah arah tan ras kata, ipujina gelarNdu.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 21 Agustus 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 385:1,3.
    1. Kam me o Tuhan pematang g’luhku, Kam empuna tendingku. Tedeh ateku sikel ukurku rembak tetap min ras Kam. RembakkenNdu aku ku kayu persilangNdu. RembakNdu aku, rembakkenNdulah ku lebeNdu o Tuhan.
    2. Seh kal senangna seh kal riahna rembak ras Kam o Bapa, sanga ertoto entah ersembah ukur pusuh ermegah. RembakkenNdu aku …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata 2 Korintus 10: 16 – 18.
    “Ya, kami hidup, supaya kami dapat memberitakan Injil di daerah-daerah yang lebih jauh dari pada daerah kamu dan tidak bermegah atas hasil-hasil yang dicapai orang lain di daerah kerja yang dipatok untuk mereka. “Tetapi barangsiapa bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.” Sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan.”
    Renungan

Lit kuan kuan kalak Karo singatakenca bagi si naka buluh. Sada bagin iangkat, sada bagin nari ipeteruh. Demikianlah dalam hidup bila kita suka membanding-bandingkan, yang satu diangkat dan satu lagi direndahkan. Inilah yang dialami Paulus dengan jemaat Korintus.
Salah satu permasalahan yang dihadapi Paulus dalam pelayanen pekabran injil adalah permasalahan pujian diri. Pelayan-pelayan lainnya telah membuat pujian diri mereka dengan membandingkan pelayanen mereka dengan pelayanan Paulus. Paulus sebenarnya tidak ingin membuat pujian terhadap dirinya sendiri karena mengganggap jemaat Korintus adalah bukti nyata pemilihan Allah terhadap kerasulannya dan pelayanannya. Dikatakannya dalam 2 Korintus 3:1-3, “Adakah kami mulai lagi memujikan diri kami? Atau perlukah kami seperti orang-orang lain menunjukkan surat pujian kepada kamu atau dari kamu? Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang. Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.” Demikian juga dalam 2 Korintus 5: 12, dikatakan “Dengan ini kami tidak berusaha memuji-muji diri kami sekali lagi kepada kamu, tetapi kami mau memberi kesempatan kepada kamu untuk memegahkan kami, supaya kamu dapat menghadapi orang-orang yang bermegah karena hal-hal lahiriah dan bukan batiniah.” Namun kenyataanya, pemahaman jemaat korintus telah digerogoti perlombaan pemujian diri ini. Dituliskan dalam 2 Korintus 11:3 “Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.” Oleh karena itu, Paulus mengajarkan kepada jemaat Korintus untuk melihat kembali pelayanan Paulus dan pemahaman Paulus.
Tujuan hidup Paulus adalah memberitakan Injil. Dan Paulus menyadari bahwa Allah telah memilihnya untuk memberitakan Injil kepada orang bukan Yahudi. Dikatakan dalam Galatia 1:15-16, “Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaatpun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia;” Kemegahannya bukan berasal dari pujian dari manusia tetapi Paulus bermegah karena dia meyakini Allah telah memilihnya sejak dalam kandungan untuk memberitakan Injil kepada orang bukan Yahudi. Paulus mengerjakan anugerah pelayanen pekabaran Injil ini dengan bersungguh-sungguh. Paulus percaya bahwa pelayanan dan kekuatan untuk melaksanakannya adalah anugerah Allah. Oleh karena itu Paulus menghindari pemujian diri. Dia sudah sangat bermegah dengan anugerah Allah.
Demikian juga dalam kehidupan kita saat ini pemujian diri dapat mengakibatkan penyombongan diri. Penyombongan diri dapat membuat orang menggangkat yang satu dan merendahkan pihak lainnya. Pemujian diri mendatangkan tuntutan – tuntutan yang berlebih-lebihan. Hidup menjadi semacam pertandingan yang melelahkan dan tidak ada ujungnya. Oleh karena itu, yang terutama bagi kita saat ini adalah merasakan hidup kita ini adalah anugerah Allah dan kita bersungguh-sungguh dalam melaksanakan tanggungjawab dari anugerah itu. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 255:1,4
    1. Talenta sinib’reken Dibatana, jadi min erlipat ganda, tutus ateta ndahiken dahinNa, amin pe mberat tapina ermulia. Kalak si malang nandangi Tuhan, lakap nggit nimbak labo nggit nogan. Maka dahikenlah alu tutus, ola lakoken alu mekarus.
    2. Ulihta lit kap bas Tuhan Dibata, mulia rikut mehaga. Adi perkisat la kel lit gunana, jelma mejingkat maka ngena ateNa. Kalak si malang …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 20 Agustus 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 424:1,2.
    1. Ipuji kami Kam, Dibata si mbelin, alu ende-enden si meriah. Suari ras berngi, kawali min, segelah la celus bas percubaan. Sangap kap kalak, si ‘rnalem baNdu e, daten tuah ras kesenangen pe.
    2. Dibata sajalah tetap si man pujin. Endeskenlah g’luhta man baNa min. Tetap Ia si mperdiateken kita min. KelengNa man banta la erkerin. Sangap kap kalak ….
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata I Korintus 6:11
    “Dan beberapa orang di antara kamu demikianlah dahulu. Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.”

Renungan

Kita hidup dalam perubahan. Seperti dalam gambar ini, ulat berubah menjadi kepompong dan kepompong berubah menjadi kupu-kupu. Demikian juga dalam kehidupan ini, kita selalu menjalani perubahan waktu, perubahan kekuatan, dam sebagainya. Perubahan bisa hanya seperti ganti baju, kulit luarnya saja, statusnya saja, tetapi pola pikir dan tingkah lakumya tidak berubah. Perubahan dapat juga terjadi sampai kedalaman iman, hati, pikiran dan akhirnya perilaku. Salah satu perubahan yang diharapkan dari kita adalah kemampuan kita dalam menghadapi dan menyelesaikan konflik. Perbedaan pendapat, perselisihan, konflik, perseteruan adalah yang sering terjadi dalam kehidupan kita. Bagaimana orang-orang percaya menyelesaikan konflik di antara mereka ?
Dalam I Korintus 6: 1-11, Paulus membicarakan cara jemaat Korintus menyelesaikan konflik yang terjadi di antara mereka. Jemaat Korintus menyelesaikan konflik di antara mereka dengan cara membawa permasalahan itu ke pengadilan umum. Dalam menghadapi situasi ini Paulus mengajak jemaat Korintus untuk merenungkan atau memikirkan ulang tindakan mereka itu. Paulus bertanya sampai 6 kali, “Tidak tahukah kamu”. Paulus membuat pertanyaan retoris ini agar jemaat Korintus berpikir dan menarik kesimpulan sendiri. Seharusnya jemaat Korintus sudah mengetahui jawabannya dan tinggal melaksanakannya. Tetapi itu lah kenyataannya bahwa jemaat Korintus membawa konflik di antara mereka ke pengadilan umum, yang dipimpin oleh orang yang tidak percaya kepada Kristus dan dasar pertimbangannya juga bukan iman Kristen. Oleh karena itu, Paulus mengingatkan kepada jemaat Korintus tentang perubahan yang telah dilakukan Allah dalam hidup mereka. Paulus mengatakan bahwa “kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah”. Dengan peristiwa penyucian, pengkudusan dan pembenaran ini, maka jemaat Korintus telah memulai perubahan sampai kedalaman hidupnya. Dengan mengimani hal ini, maka bukan hanya status orang Korintus saja yang berubah tetapi juga pola pikir dan perilaku mereka. Dengan demikian, seharusnya mereka dapat menyelesaikan konflik di antara mereka tanpa harus membawa konflik itu ke pengadilan yang dipimpin oleh orang yang tidak percaya kepada Kristus. Paulus mendesak jemaat Korintus untuk dapat menyelesaikan konflik di antara mereka oleh orang yang percaya itu sendiri.
Di pengadilan, para hakim akan mendengar, menimbang dan memutuskan. Namanya saja sudah memutuskan, maka hasilnya memang dapat saja memutuskan tali persaudaraan. Di dalam keputusan itu ada yang menang ada yang kalah. Setiap pihak berharap pihaknya yang memenangkan perkara itu. Namun kenyataannya tidak semua pihak yang dimenangkan. Yang menang merasa keputusan itu adil dan yang kalah merasa keputusan itu tidak adil. Maka benar-benarlah hasil pertimbangan itu memutuskan hubungan ke dua belah pihak. Oleh karena itu, sebagai orang telah disucikan, dikuduskan dan dibenarkan Yesus Kristus, maka teladan yang dilakukan Yesus Kritus benar-benar menjadi inspirasi dan motivasi yang mengubah cara pikir dan perilaku kita. Yesus adalah pendamai antara Allah dengan manusia. Dengan adanya pendamaian itu maka hubungan Allah dengan manusia kembali menyatu. Inilah yang ditawarkan iman kita dalam menyelesaikan setiap konflik yang terjadi dalam hidup kita. Perdamaian menyatukan kedua pihak yang berkonflik. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 381:1,2.
    1. Sura-sura Yesus bangku ersinalsal tetap. Nggeluh bujur ras mehuli, si ngena ateNa. Ersinalsal terang em sinisuraken Yesus. Ersinalsal terang, ku tetap ersinalsal.
    2. Sura-sura Yesus Kristus nandangi geluhku. Mpehaga turang senina sisampat-sampaten. Ersinalsal terang …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 18 Agustus 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 164:1,4.
    1. Batu mamak si nteguh, Kam kubunku si paguh. K’rina gia musuhku, la tergejap, man baNdu. Tuhan Yesus ku lebuh, kawaliNdu lah aku.
    2. Yesus kap gelemenku, la erleka ras aku. Kam me pengarapenku, ibas kegeluhenku. Tuhan tetap min gelah, bas Kam aku la pulah.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata I Korintus 10:31 – 33.
    “Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah. Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah. Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat.”

Renungan.

Foto ini memperlihatkan dua ekor hewan peliharaan Cynthia Bennett. Si anjing bernama henry dan si kucing bernama ballo. Cynthia mengatakan bahwa kedua hewan peliharaannya ini hidup saling berbagi. Seperti tampak dalam foto ini, mereka tertidur dalam kantung tidur yang sama. Padahal dalam kehidupan biasa, anjing bermusuhan dengan kucing. Dengan adanya sifat permusuhan ini, maka kantung tidur itu dapat saja menjadi milik si henry ini. Tetapi si henry mau berbagi kantung tidur dengan si ballo. Dalam hal ini, kita dapat melihat sisi lain dari kemerdekaan.

Di dalam I Korintus 10:23 – 11: 1, kita diperhadapkan tentang bagaimana kemerdekaan orang Kristen itu dilaksanakan. Kemerdekaan orang Kristen berorientasi membangun iman komunitas Kristen. Kepentingan dan kesejahteraan semua orang menjadi keprihatinan utama orang Kristen. Masing-masing orang Kristen harus dapat mengambil bagian untuk membangun dan memperkuat iman komunitas. Masing-masing orang Kristen tidak dapat mencari kebaikan pribadi sendiri dengan mengorbankan orang lain. Hal ini dijelaskan Paulus dalam hal memakan makanan. Sebagai orang yang percaya kepada Allah, kita mengakui bahwa bumi serta segala isinya adalah milik Tuhan. Apa yang berasal dari tangan Sang Pencipta, di dalam dirinya, selalu baik. Tidak satupun yang najis di dalam dirinya sendiri. Inilah yang menjadi dasar kemerdekaan orang Kristen untuk memakan apa saja. Dalam hal ini termasuk daging yang sudah dipersembahkan kepada berhala. Tetapi permasalahannya adalah ketika dalam melaksanakan kebebasan kita untuk memakan makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala itu, ada orang lain yang memiliki keberatan hati nurani.

Dalam hal ini Paulus memberi penjelasannya. Bila kita tidak memakan makanan yang telah dipersembahkan kepada berhala, hal itu bukan berarti hati nuraini orang lain membatasi kemerdekaan kita untuk memakan apa saja. Kita tidak hidup dibawah penghakiman orang lain. Kita bebas untuk memakan apa saja yang atas makanan itu kita sudah mengucap syukur. Namun demikian, hati nurani kita melihat hal yang lebih utama, yaitu kemulian Tuhan. Hal inilah yang menggerakkan hati nurani kita untuk bertindak berdasarkan keprihatinan yang penuh kasih terhadap orang lain, kita tidak menjadi batu sandungan atau menyakiti hati nurani saudara kita. Kita memakai kemerdekaan hati nurani kita untuk kepentingan yang lebih utama yaitu “supaya mereka beroleh selamat”.
Demikianlah kita memakai kemerdekaan kita. Kita tidak merasa kebebasan kita terkungkung atau dikekang apabila kita tidak mempergunakan kebebasan itu. Kita melhat ada kepentingan yang lebih utama, lebih besar dalam mempergunakan kemerdekaan kita, yaitu keselamatan orang lain dan kemuliaan Tuhan Allah. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 388:1,3
    1. Tupung tayang aku ninget Kam, gedang berngi kuukuri Kam. Sabab Kam si nampati aku, o Dibata tedeh ‘teku Kam. O Dibata Kam kap Dibatangku, kudahi tedeh ateku Kam. Mesikel aku jumpa ras Kam, desken taneh si enggo kerah. Bage me muasna tendingku, man baNdu Tuhan Dibatangku.
    2. Nteguh cikep tanku o Tuhan, teneng ukurku adi ras Kam. La ‘ku mbiar jumpa percubaan, malem ate ‘di rembak ras Kam. O Dibata Kam kap ….
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 17 Agustus 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 275:1,3.
    1. Kam Tuhan sekawalku, la lit kebiarenku. Amin gulut ukurku, ernalem tetap baNdu. Galumbang si merawa, jadi ibas geluhku. Lalap kau erpengendes, sebab Kam kap bentengku
    2. ‘Di bage nina Tuhan, ula pedekah-dekah, sidahilah gundari, Tuhanta si perkeleng. Ikutkenlah kataNa, ula pekulah-kulah, pengarapen ib’rekenNa, em gegeh bas geluhta.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Kisah Para Rasul 15:16-18
    “ Kemudian Aku akan kembali dan membangunkan kembali pondok Daud yang telah roboh, dan reruntuhannya akan Kubangun kembali dan akan Kuteguhkan, supaya semua orang lain mencari Tuhan dan segala bangsa yang tidak mengenal Allah, yang Kusebut milik-Ku demikianlah firman Tuhan yang melakukan semuanya ini, yang telah diketahui dari sejak semula.”

Renungan

Foto ini memperlihatkan dua orang yang beradu argumen tentang angka yang mereka tunjuk. Orang yang sebelah kiri mengatakan angka ini adalah angka 6, sedangkan orang yang sebelah kanan mengatakan angka ini adalah angka 9. Angkah berapakah sebenarnya yang ditunjuk oleh kedua orang ini ? Pertanyaan ini dapat saja membuat yang berargumen bukan hanya di dalam foto itu, tetapi berlanjut kepada kita yang mau memperdebatkannya. Demikianlah hidup, ada saja perbedaan pendapat di antara kita. Hal itu karena kita masing-masing memiliki perbedaan dalam hal kepribadian, latar belakang, pengasuhan, nilai yang kita pegang, sudut pandang, harapan dan tujuan yang ingin kita capai. Yang penting bagi kita adalah bagaimana kita menerima kenyataan ini dan menghadapinya. Inilah yang kita lihat dalam kehidupan jemaat pertama.

Kisah Rasul-Rasul 15 ini menceritakan perbedaan pendapat antara orang Kristen keturunan Yahudi dan orang Kristen bukan keturunan Yahudi. Mereka memperdebatkan tentang apakah orang Kristen yang bukan Yahudi harus di sunat ketika mereka menjadi Kristen ? Orang Kristen Yahudi mengatakan, “Jikalau kamu tidak disunat menurut adat istiadat yang diwariskan oleh Musa, kamu tidak dapat diselamatkan.”(Kisah 15:1) “Tetapi Paulus dan Barnabas dengan keras melawan dan membantah pendapat mereka itu.” (Kisah15:2). Oleh karena itu dibawalah permasalahan ini ke Sidang di Yerusalem. Setelah lama beradu argumen akhirnya, Jakup memberikan jawabannya dengan mengungkapkan makna pembangunan kembali Rumah Tuhan. Rumah Tuhan dibangun agar orang semua orang dapat mencari Tuhan, segala bangsa yang telah dipanggil Tuhan menjadi milik Tuhan. Kita dapat mengatakan bahwa Jakup memahami jika Allah-lah yang memanggil semua bangsa untuk menjadi milikNya. Lalu mengapa kita menimbulkan kesulitan kepada orang yang bukan Yahudi untuk datang kepada Allah ? Dari hal ini, yang terutama adalah berbalik kepada Tuhan atau erpengendes man Dibata. Oleh karena itu Jakup menyarankan agar jangan menambah kesulitan orang bukan Yahudi dengan aturan sunat. Demikianlah perbedaan pendapat itu diselesaikan di dalam Sidang di Yerusalem itu.

Dari situasi ini kita dapat memahami bahwa kita hidup dalam banyak perbedaan. Kita harus mampu memahami, menghargai dan menghormati perbedaan itu. Masing-masing kita memiliki sudut pandang yang berbeda, apa yang kita anggap sebagai nilai kebenaran utama. Di dalam kehidupan bersama, kita memang harus memiliki nilai kebenaran yang tertinggi untuk menuntun, mengarahkan dan melindungi kita dari hal-hal yang membinggungkan kita dalam menimbang dan memutuskan segala sesuatu. Namun apa yang kita anggap benar, janganlah kita paksakan untuk dianut dan ikuti orang lain. Kita jangan menambah beban orang lain dengan mengharuskan orang lain melakukan apa yang kita lakukan. Inilah sisi lain dari kemerdekaan yang telah diberikan kepada kita, namun juga harus tetap kita pelihara, jaga dan perjuangkan dalam kehidupan kita setiap harinya. Dalam hidup bersama, kita tidak goyah dengan kebenaran yang kita miliki, tetapi kita juga tidak memaksakan kehendak kita kepada orang lain. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 238:1,2.
    1. Ibas ndalani perdalanen nggeluh, kiniseran pe reh megati ngupuh. Si cengkal ukur ras si mambur iluh. BereNdu teneng gelah banci tunduh. Kesah ras daging rikut pe ras tendi. Kempak Dibata k’rina ‘ndesken kami. Emaka Kam lah tetap si ngkawali, ‘lah daging bugis bas medak pe pagi.
    2. Segedang wari kami enggo labuh, paksana medem enggo me kap she. IkawaliNdu min sangana tunduh, ‘lah suang gegeh adi baNdu badeh. Kesah ras daging …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 16 Agustus 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 344:1,3.
    1. Kam o Yesus Jurus’lamat, sampat kami genduari. Pulah ibas dosa nari, si naban kami e. tergejap latihna, nggeluh ibas dosa. Lanai kami ngasup ‘rdalan ibas gelap. Ku Kam Jurus’lamat, kupindo penampat, gelah kami pulah ibas dalin mberat.
    2. Kam o Yesus si perkeleng, cidahken min kek’lengenNdu. Bahan pusuh kami teneng ‘di gulut ukurku. Tergejap latihna …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Roma 6:12 – 13.
    “ E maka olanai pelepas dosa ngerajai kulandu si la banci lang mate e, gelah ola iikutkenndu kinirincuhenna. Bage pe ola pelepas ringringndu ipake dosa guna ndalanken si jahat. Tapi endeskenlah dirindu man Dibata, bagi kalak si ipekeke i bas si mate nari”.

Renungan

Kita dapat mengatakan makna pengibaran bendera merah putih di pagi hari di atas puncak bukit ini sebagai tetap adanya harapan baru bagi bangsa Indonesia untuk hidup lebih baik lagi. Sebagai rakyat Indonesia, bersama-sama dengan masyarakat dunia ini, kita sedang menghadapi tantangan berat akibat pandemi covid-19. Dampak pandemi ini telah menimbulkan permasalahan kesehatan, permasalahan ekonomi dan permasalahan kehidupan sosial. Sebagai akibatnya kita mengalami tekanan hidup yang semakin berat. Dalam situasi tekanan yang semakin berat ini, “perangkap dosa” juga semakin banyak tersebar. Oleh karena itu kita membutuhkan ketetapan hati, ketenangan, kesabaran, ketekunan dan pengharapan yang kuat agar terhindar dari “perangkap dosa”. Ini semua telah diberikan Allah kepada kita.

Dalam Roma 6 ini Paulus menjelaskan bahwa dalam Baptisan Kudus kita telah merdeka. “Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.” (Roma 6:3-4 ) Walaupun kita telah dibebaskan dan hidup dalam hidup baru, tetapi dosa masih memiliki daya tariknya. Dengan tipu muslihatnya, dosa dapat saja berkuasa kembali, seperti seorang raja, mengendalikan kehidupan kita. Dosa dapat saja kembali memperalat anggota tubuh kita untuk melakukan yang jahat. Hati, pikiran, mulut, tangan, kaki bahkan kemampuan dan ketrampilan manusia dapat saja dipakai dosa untuk merusak kehidupan kita. Oleh karena itu, Paulus mengingatkan orang yang telah bebas itu untuk terus menerus berjuang melawan daya tarik dosa itu. Kita harus menyerahkan hidup kita dalam pimpinan Tuhan. Tuhan-lah yang mengendalikan, menuntun dan membimbing hati, pikiran dan perbuatan kita. Kita menyerahkan anggota-anggota tubuh kita untuk dipakai Allah menjadi senjata kebenaran. Benar, Allah telah membebaskan kita dari kuasa dosa, namun demikian, kita juga harus terus menerus berjuang melawan daya tarik dosa itu.

Allah telah memberikan kemerdakaan kepada bangsa Indonesia. Namun demikian hal itu bukan berarti kita bebas dari permasalahan hidup. Kita harus terus menerus berjuang menghadapi permasalahan-permasalahan yang ada. Permasalahan-permasalahan itu janganlah membuat kita terjebak dalam daya tarik dosa. Dalam menghadapi permasalahan itu, kita harus tetap memberikan hidup kita atau anggota-anggota tubuh kita, dikendalikan, dituntun dan dibimbing Allah. Seperti berkibarnya bendera merah putih di pagi hari di puncak bukit, demikian juga kita tetap memiliki pengharapan dalam perjuangan kita. Sekarang kita berjuang dalam persekutuan kita dengan Tuhan Yesus Kristus. Kita telah dipersekutukan dengan kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. Inilah yang membuat kita memiliki ketetapan hati, ketenangan, kesabaran, ketekunan dan pengharapan yang kuat. Kita jalani kemerdekaan bangsa kita dengan ketetapan hati, ketenangan, kesabaran, ketekunan dan pengharapan yang kuat. Dalam situasi permasalahan hidup sekalipun, kita tetap mampu menyerahkan anggota-anggota tubuh kita dipakai Allah sebagai senjata kebenaran. Amin. Selamat Ulang Tahun Negaraku INDONESIA .

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 460:1,2
    1. Malem kal ateku tuhu jumpa ras Tuhanku. Nggo p’limbaruina pusuhku lanai aku labuh. Ku kataken bujur baNdu si ‘ngkilini geluhku. Terpuji Kam bas geluhku. Nginget perkuahNdu.
    2. Kubegi kataNdu Tuhan nerangi geluhku. KesahNdu e simpepanken bas pusuhku ringan. Ateku min kupakeken ibas kegeluhen. Je aku dat keriahen ndauh kebiaren.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 15 Agustus 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 330:1,2.
    1. Tuhan, Kam me si permakan, kami biri-biriNdu. Kami tetap kap ngejapken b’linna keleng ateNdu. Tuhan Jesus Juru Selamat, kami sik’rajangenNdu. Tuhan Jesus Juru Selamat, kami si k’rajangenNdu.
    2. Kam pengawal si setia, Kam sekawal geluhku. Kam pedauhkne k’rina dosa, ndilo kalak si lalar. Tuhan Jesus Juru Selamat, ngendes kami man baNdu. Tuhan Jesus Juru Selamat, ngendes kami man baNdu.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Ulangan 32:7
    “Ingatlah kepada zaman dahulu kala, perhatikanlah tahun-tahun keturunan yang lalu, tanyakanlah kepada ayahmu, maka ia memberitahukannya kepadamu, kepada para tua-tuamu, maka mereka mengatakannya kepadamu.”

Renungan

Dari foto ini kita dapat melihat cara atau kebiasaan berpakaian para orang tua kalak Karo pada masa lalu. Tentunya cara berpakaian mereka sudah berbeda dengan cara berpakaian kita saat ini. Setiap generasi tentunya memiliki sejarahnya masing-masing sehingga masing-masing generasi menampilkan cara atau kebiasan berpakaian mereka. Mungkin generasi yang terkemudian mengganggap aneh atau tidak cocok lagi cara berpakaian generasi sebelumnya. Mungkin bukan hanya dari segi berpakaian saja, tetapi dalam banyak hal bisa saja generasi yang kemudian mengganggap generasi sebelumnya tidak lagi mempunyai arti. Misalnya dalam cara berpikir, kebutuhan hidup, kesenangan dan sebagainya. Namun, benarkah demikian ?
Bacaan Firman Tuhan yang menjadi renungan kita malam ini memperlihatkan arti kehidupan para orang tua. Pada jaman Musa itu, di tengah-tengah kehidupan angkatan muda, terdapat cara kehidupan yang tidak setia kepada Allah. Dikatakan dalam Ulangan 32:5, “Berlaku busuk terhadap Dia, mereka yang bukan lagi anak-anak-Nya, yang merupakan noda, suatu angkatan yang bengkok dan belat-belit.” Oleh karena cara hidup yang tidak setia ini, angkatan ini disuruh untuk belajar kepada angkatan orang tuanya. Dengan kata lain, Musa melihat dalam kehidupan angkatan orang tua ada pengalaman iman. Para angkatan orang tua ini telah menyaksikan perbuatan Allah. Mereka memiliki pengalaman dan kesaksian tentang pemeliharaan Allah. Oleh karena itu, Musa meminta orang muda untuk bertanya kepada orang tua mereka dan mendengarkan kesaksian orang tua mereka. Bagaimana orang tua mereka telah melihat kasih Allah dalam kehidupan mereka. Dikatakan dalam Ulangan 32:8-10, “Ketika Sang Mahatinggi membagi-bagikan milik pusaka kepada bangsa-bangsa, ketika Ia memisah-misah anak-anak manusia, maka Ia menetapkan wilayah bangsa-bangsa menurut bilangan anak-anak Israel. Tetapi bagian TUHAN ialah umat-Nya, Yakub ialah milik yang ditetapkan bagi-Nya. Didapati-Nya dia di suatu negeri, di padang gurun, di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya.” Demikianlah kasih Allah yang telah dinyatakanNya kepada orang tua mereka. Orang muda tetap perlu meminta kesaksian dari orang tua dan orang tua harus terus menerus memperdengarkan kesaksian tentang pemeliharaan Allah agar angkatan muda setia kepada Allah.
Hari ini, 15 Agustus, kita warga GBKP merayakan hari ulang tahun Zaitun ke 29. Dalam peringatan ulang tahun Zaitun, kita kembali diingatkan bahwa orang tua kita tetap memiliki hal yang berharga dan penting bagi kita angkatan muda. Walaupun dalam hal fashion atau kesenangan hidup, orang tua kita berbeda dengan kita angkatan muda. Oleh karena itu kita tetap belajar dari pengalaman iman orang tua kita agar kita tetap setia kepada Allah dalam situasi hidup kita saat ini. Selamat Ulang Tahun Zaitun. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 296:1,2.
    1. Man baNdu Jesus Tuhanku, kuendesken geluhku. Nggeluh sikeleng-kelengen nggit si sampat-sampaten. Erbuah kata ni suan bas kita anak Tuhan. Erbuah kata ni suan, bas kita anak Tuhan.
    2. Nggeluh sitatang-tatangen, kita radu megegeh. Nggit kita ngalemi salah pusuh dame meriah. Erbuah kata ni suan. ..
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan