Renungan Malam 5 Agustus 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 333:1,2
    1. Tuhan e tuhu melias perkuah, Ia ‘rbanca kita mejuah-juah. Ia me si erbanca ukur m’riah. Yesus e si njadiken kita erbuah.
    2. Yesus e teman suari berngi, kuasaNa labo kapen tersibari. BiakNa bali me kap nderbih gundari. Yesus e si nampati ras ngkawali.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Mazmur 21:7
    “ Ya. Engkau membuat dia menjadi berkat untuk seterusnya; Engkau memenuhi dia dengan sukacita dihadapanMu.”

Renungan

Pohon pisang berkembang biak dengan tunasnya. Lalu untuk apa buahnya ? Yang jelas, buah pisang bukan untuk kembang biak pohon pisang itu sendiri. Pohon pisang berbuah untuk keperluan yang lain, bisa untuk manusia dan hewan. Inilah gambaran tentang makna anugerah berkat dalam kehidupan kita. Kita diberkati untuk menjadi berkat.

Mazmur 21 adalah sebuah nyanyian syukur atas berkat yang diberikan Allah kepada raja. Pada ayat 2, pemazmur mengakui bahwa Tuhanlah sumber berkat yang dia terima. Berbagai berkat Tuhan disebutkan mulai dari ayat 2-6. Berkat itu berupa sukacita, kegirangan karena kemenangan, keingian hati yang terpenuhi, memahkotainya dengan emas tua, memberikan umur panjang, kemuliaan dan keagungan. Pada ayat 7, dinyatakan bahwa tindakan Allah memberikan berkat-berkatNya bagi raja agar raja juga menjadi berkat.

Dari pernyataan ini, kita dapat memahami bahwa berkat tidak dapat dijadikan milik pribadi saja. Berkat menuntut tanggung jawab. Ada rancangan Allah dengan memberikan berkatNya bagi kita. Oleh karena itu berkat itu haruslah dipergunakan sesuai dengan kehendak Allah. Di dalam 1 Petrus 4:10-11, dikatakan tentang makna berkat yang kita terima. Kita adalah seorang pengurus berkat yang diberikan Allah. Firman Tuhan, “ Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah. Jika ada orang yang berbicara, baiklah ia berbicara sebagai orang yang menyampaikan firman Allah; jika ada orang yang melayani, baiklah ia melakukannya dengan kekuatan yang dianugerahkan Allah, supaya Allah dimuliakan dalam segala sesuatu karena Yesus Kristus. Ialah yang empunya kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya! Amin.”

Kita memandang ke dalam kehidupan kita, walaupun kita dalam masa pandemic covid-19, banyak berkat yang diberikan Allah ke dalam kehidupan kita. Sampai saat ini kita tetap bertahan menghadapi dampak pandemi covid-19. Tuhan memberikan kesehatan, pekerjaan dan rejeki untuk mencukupi kebutuhan hidup kita, anak-anak kita telah memasuki tahun ajaran baru, dan sebagainya. Kita mengucap syukur atas berkat yang diberikan Tuhan ke dalam hidup kita. Kita memakai kesempatan yang masih diberikan Allah untuk menjadi berkat bagi orang lain. Kita saling meneguhkan iman, saling memotivasi, saling memberi semangat bagi senina dingen turangta. Pengalaman-pengalaman iman yang dapat kita pelajari selama pandemi ini menjadi penghiburan bagi orang lain. Kita diberkati Allah agar kita dapat memakai berkat itu sesuai dengan kehendak Allah bagi kebaikan orang lain. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 451:1,2.
    1. Malerlah pasu-pasuNdu bagi nipadankenNdu. Gegeh ras ukur si paguh, tetap iberekenNdu. Pasu-pasuNdu em ulu gegeh kami. enggo kap maler me tuhu. Si ndemi geluh kami.
    2. Malerlah pasu-pasuNdu g’luh kami jadi baru. Sorana bagi lau maler mpeteneng ukur kami. Pasu-pasu Ndu…
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 4 Agustus 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 283:1,3
    1. Kata ni Dibata, bagi cirus udan. Nusur ku doni enda peturah sinuan. O langit ras doni, kam pe o pertibi. Begiken soraNa, jadi erpemegi.
    2. Nggeluh i bas doni lalap lit si kurang. ‘Di nadingken Tuhan, geluh kin pe kurang. I bas Tuhan ngenca, ulu pengarapen. Si ernalem baNa, ndatken kesangapen.
  2. Ertoto
  3. Pembacaan Firman Tuhan : 2 Petrus 3 : 18.
    “Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.”

Renungan

Selain musim buah-buahan, di Indonesia kita mengenal dua musim, yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Berdasarkan ramalan cuaca, maka saat ini kita memasuki musim kemarau. Namun ada juga saat di mana musimnya tidak menentu. Apapun musim yang terjadi, tumbuhan harus mampu terus bertumbuh. Demikian juga dalam kehidupan orang Kristen. Tugas orang Kristen adalah terus bertumbuh apapun musim kehidupannya. Mengapa kita mampu terus bertumbuh di setiap musim kehidupan ini ?

Dalam 2 Petrus 3 : 18, kita dapat melihat 2 hal. Yang pertama adalah tugas pertumbuhan dan yang kedua adalah dasar pertumbuhan.
Kehidupan orang Kristen terus berkembang. Di dalam 2 Petrus 1:5-7, dituliskan tentang tugas pertumbuhan kehidupan orang Kristen. Dikatakan, “Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepada pengetahuan penguasaan diri, kepada penguasaan diri ketekunan, dan kepada ketekunan kesalehan, dan kepada kesalehan kasih akan saudara-saudara, dan kepada kasih akan saudara-saudara kasih akan semua orang.” Dalam situasi saat pandemi ini, kita tetap mampu menjalankan iman, kebajikan, pengetahuan, penguasaan diri, ketekunan, kasalehan, kasih kepada saudara dan kasih kepada semua orang.
Hal ini dimungkinkan karena kita bertumbuh dalam kasih karunia dan pengenalan akan Tuhan Yesus Kristus. Artinya, yang menjadi dasar pertumbuhan kehidupan kita adalah kasih karunia dan pengenalan akan Tuhan Yesus Kristus. Di dalam 2 Petrus 1:3 dikatakan, “Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia, yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib.” Tuhan Allah memberikan anugerahNya kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup saleh, yaitu “janji-janji yang berharga dan sangat besar sehingga kita boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia.” ( 2 Petrus 1:4) Anugerah ini juga didasarkan pada pengenalan akan Tuhan Yesus Kristus. Khusus dalam Kitab 2 Petrus, Allah Bapa memperkenalkan Tuhan Yesus dengan mengatakan, “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan.” (2Petrus 1:17). Kepada penerima Surat 2 Petrus ini diingatkan bahwa pengenalan akan Tuhan Yesus ini akan diperhadapkan dengan pengajaran guru – guru palsu untuk mengikuti cara hidup yang dikuasai hawa nafsu (2 Petrus 2:2). Akan muncul juga pengejek-pengejek yang mempertanyakan janji kedatangan Tuhan Yesus (2 Petrus 3:4). Namun demikian bagi yang mengenal Tuhan Yesus, kita mengimani bahwa “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. (2 Petrus 3:9). Kita mengimani bahwa Tuhan Yesus pasti datang kembali. Belum datangnya Tuhan Yesus kembali adalah anugerah kesempatan bagi dunia ini untuk berbalik dan bertobat.
Pohon durian dalam pertumbuhannya harus menghadapi musim yang terus berganti. Kemampuan pohon durian yang terus bertumbuh dalam setiap perubahan musim, pada waktunya akan menghasilkan buah yang baik. Demikian juga dalam kehidupan kita, kita mampu bertumbuh karena anugerah Allah dan tetap setia akan pengenalan Tuhan Yesus Kristus. Dengan demikian, dalam segala musim kehidupan, kita tetap memperlihatkan buah kesalehen hidup.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 288:1,3
    1. Ku ‘ndesken k’rina geluhku, anem melket aku. Tuhan penalemenku, tetap me ukurku. Ku simbak p’raten doni, ‘lah metunggung aku. Gegeh kuasaNdu ‘ndemi, lah malem ateku.
    2. TemaniNdu kap aku bas dalin geluhku. CikepNdu tetap tanku, k’leng ateNdu tuhu. Alu kuasa KesahNdu, pengasupNdu aku. E maka la ‘ku lupa, peb’linken gelarNdu.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 3 Agustus 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 291:1,3
    1. M’riah ukur kami o Bapa, nembah ‘rjimpuh ertoto baNdu. Kam o Tuhan ipuji kami, ermulia gelarNdu. Bengket kami o Tuhan, ngadap kulebeNdu. Reh kami muji-muji gelarNdu Tuhan si Badia.
    2. Bujur ning kami baNdu, ban keleng ateNdu. IcukupiNdu k’rina si perlu. Mbelin kal kuasaNdu. Bengket kami o Tuhan …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Mazmur 69: 31-33
    “Aku akan memuji-muji nama Allah dengan nyanyian, mengagungkan Dia dengan nyanyian syukur; pada pemandangan Allah itu lebih baik dari pada sapi jantan, dari pada lembu jantan yang bertanduk dan berkuku belah. Lihatlah, hai orang-orang yang rendah hati, dan bersukacitalah; kamu yang mencari Allah, biarlah hatimu hidup kembali!”

Renungan

Pertolongan Tuhan Allah tetap nyata dalam kehidupan kita. Tetap saja ada jalan terbuka bagi kita untuk bertahan dan memperjuangkan hidup kita di tengah – tengah pandemi ini. Kita tidak pernah membayangkan kesulitan yang kita hadapi akan seperti sekarang ini. Namun demikian, Tuhan Allah tetap memberi kemampuan bagi kita untuk menghadapinya, bahkan saat ini sudah memasuki bulan ke lima. Kita mengimani bahwa ini semua adalah berkat pertolongan Tuhan.

Di dalam Mazmur 69 ini, Daud mengungkapkan pengalamannya di saat penderitaan menerpa kehidupannya. Di dalam ayat 2-3, Daud melukiskan penderitaannya dengan mengatakan, “Aku tenggelam ke dalam rawa yang dalam, tidak ada tempat bertumpu; aku telah terperosok ke air yang dalam, gelombang pasang menghanyutkan aku. Lesu aku karena berseru-seru, kerongkonganku kering; mataku nyeri karena mengharapkan Allahku.” Penderitaan fisik ini juga mengakibatkan penderitaan hatinya. Dia mengatakan, “Cela itu telah mematahkan hatiku, dan aku putus asa; aku menantikan belas kasihan, tetapi sia-sia, menantikan penghibur-penghibur, tetapi tidak kudapati (21). Dalam kesesakkannya ini, Daud memohon pertolongan Allah. Daud mengimani bahwa Allah mendengarkan doanya. “Sebab TUHAN mendengarkan orang-orang miskin, dan tidak memandang hina orang-orang-Nya dalam tahanan (34).

Keyakinan inilah yang membuat hati Daud bangkit kembali. Daud dimampukan untuk memuji-muji Nama Allah, mengagungkan Allah dengan nyanyian syukur. Daud percaya bahwa hati yang bangkit, hati yang memuji-muji Allah dan hati yang penuh dengan nyanyian syukur adalah persembahan yang berkenan kepada Allah. Di mata Daud, hati yang bangkit dan penuh pujian syukur lebih baik dihadapan Allah daripada persembahan korban sapi dan lembu.

Demikian juga dalam perjuangan hidup kita, yang berkenan kepada Allah adalah semangat juang. Allah mengasihi dengan memberikan diriNya hadir dalam kehidupan kita. Di dalam Yesaya 57:15, dikatakan, “Sebab beginilah firman Yang Mahatinggi dan Yang Mahamulia, yang bersemayam untuk selamanya dan Yang Mahakudus nama-Nya: “Aku bersemayam di tempat tinggi dan di tempat kudus tetapi juga bersama-sama orang yang remuk dan rendah hati, untuk menghidupkan semangat orang-orang yang rendah hati dan untuk menghidupkan hati orang-orang yang remuk.” Kita merasakan kehadiran Allah dalam hidup kita. Kehadiran Allah membangkitkan kembali semangat yang telah patah. Dengan bangkitnya semangat hidup kita, berarti kita menjalankan arti kehadiran kasih Allah di dalam dunia ini. Dengan kita tetap memiliki semangat dalam menghadapi tantangan hidup ini, hal ini merupakan ungkapan syukur kita atas kehadiran Allah dalam hidup kita. Seperti gambar di atas, walaupun banjir sudah hampir sampai ke mulutnya, tetap si bapak mampu tersenyum dan membawa beban. Kita jalani hidup kita dengan semangat. Itu adalah ungkapan syukur kita atas pertolongan Allah.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 311:1,3
    1. Pujilah tendingku, pujilah Tuhan. Segedang-gedang geluhku. Ateku ersembah rasa lalap, ban keleng ateNdu tetap. IjujuriNdu geluhku. Dage kupuji Kam Tuhan. Haleluya. Haleluya.
    2. Kam me kap o Tuhan Penampatku. Malem kal ateku banNdu. IbegikenNdu kap pertotonku sabab setia Kam tuhu. Kam kap si nepa k’rinana. Kam me tetap si njayamsa. Haleluya. Haleluya.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 2 Agustus 2020

  1. Rende KEE GBKP No.274:1,2.
    1. Kupuji Kam o Tuhanku, perban keleng ateNdu. Ateku nggeluh badia, ngelawan kuasa dosa. Bage me sura-surangku, bere gegeh ras kuasa, gelah tetap perjingkangku.
    2. Kam saja patut dat pujin, bas kegeluhen kami. Ban Kam Tuhan si perkeleng, si nasap dosa kami. Siberitaken me dage perbahanenNa si mbelin, ‘lah doni pe muji Tuhan.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata 2 Korintus 10 : 3 – 4.
    “ Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi, karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng.”

Renungan

Gambar ini memperlihatkan kemampuan tenaga bulldozer untuk menyorong tanah. Tenaga yang besar yang dimiliki bulldozer merupakan senjata untuk meratakan tanah yang berbukit-bukit. Tetapi senjata apa yang harus kita pakai untuk menghadapi kesombongan, penghinaan dan fitnah terhadap diri kita ? Tentunya kita tidak bertindak seperti bulldozer ‘mendorong dan meratakan’ semua yang menyakiti hati kita. Dalam hal ini kita dapat belajar dari pengalaman Paulus.

Dalam pelayanan pekabaran Injil-nya, Paulus menghadapi tuduhan bahwa Paulus bersikap pengecut dan tidak konsisten, berani ketika dia tidak di Korintus, tetapi pengecut dan lembek ketika hadir secara fisik di Korintus (2 Korintus 10:1-2). Orang – orang Korintus mengatakan bahwa Paulus terlalu menonjolkan diri (2 Korintus 10:12-18), tidak hebat sebagai pembicara (2 Korintus 11:6), dan lemah dibandingkan tokoh-tokoh lainnya (2 Korintus 10:10). Dalam menghadapi fitnah ini, Paulus mengatakan bahwa dia tidak memakai cara-cara duniawi. Umumnya, cara kita menghadapinya adalah melakukan pembalasan yang melebihi rasa sakit yang kita alami. Nyanyian Lamekh mengatakan, “Berkatalah Lamekh kepada kedua isterinya itu: “Ada dan Zila, dengarkanlah suaraku: hai isteri-isteri Lamekh, pasanglah telingamu kepada perkataanku ini: Aku telah membunuh seorang laki-laki karena ia melukai aku, membunuh seorang muda karena ia memukul aku sampai bengkak; sebab jika Kain harus dibalaskan tujuh kali lipat, maka Lamekh tujuh puluh tujuh kali lipat.” (Kejadian 4:23-24). Lamekh meningkatkan perlakukan kekerasannya untuk memperlihatkan pembalasan terhadap sakit yang dialaminya. Ini cara yang umum dilakukan manusia dalam menerima perlakuan tidak menyenangkan. Namun Paulus mengatakan bahwa dia tidak berjuang secara duniawi.

Paulus berjuang dengan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah. Dalam 2 Korintus 6:6-7, Paulus membicarakan tentang senjata yang dia pakai, yaitu “dalam kemurnian hati, pengetahuan, kesabaran, dan kemurahan hati; dalam Roh Kudus dan kasih yang tidak munafik; dalam pemberitaan kebenaran dan kekuasaan Allah; dengan menggunakan senjata-senjata keadilan untuk menyerang ataupun untuk membela.” Paulus mengatakan senjata yang dia pakai adalah kemurnian hati atau ketulusan hati. Hati, pikiran, dan perkataannya tidak bercabang. Paulus tidak memiliki maksud tersembunyi dalam mengabarkan Injil. Kepada Jemaat Filipi, Paulus menceritakan tentang adanya maksud orang dalam memberitakan Injil. “Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik.”(Filipi 1:15) Paulus diberi pengetahuan untuk memahami dan memperhitungkan tindakan dan perkataan yang tepat. Dengan adanya kemurnian hati dan pengetahuan, Paulus memiliki kesabaran untuk menanggung semua penderitaan yang dia alami. Roh Kudus memurnikan kasihnya sehingga tidak ada kemunafikan dalam tindakan dan perkataannya. Dengan demikian Paulus hanya memberitakan kebenaran dan kuasa Allah. Dalam hal menjadi nyata apa yang dikatakan Paulus dalam Roma 12:21, “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!” Senjata yang diperlengkapi kuasa Allah-lah yang mampu melawan orang-orang memperlakukan kita dengan tidak menyenangkan.

Persoalan hidup tidak hanya berkenaan dengan pekerjaan atau kesulitan ekonomi, tetapi persoalan hidup juga dapat berasal dari hubungan sosial kita dengan keluarga besar, tetangga maupun lingkungan kerja. Oleh karena itu, sebagai orang yang telah menerima kasih karunia Allah, kita memakai senjata yang diperlengkapi dengan kuasa Allah dalam menghadapi konflik hubungan sosial. Jangan di bulldozer mereka yang memperlakukan kita dengan tidak menyenangkan.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 182:1,2.
    1. Tuhan Kam tetap, tedeh ku man baNdu. Arapku lalap Kam nemani geluhku. O Tuhan rasa lalap, geluhku temani, ola tadingken aku, ras Kam tetap.
    2. Tuhan Kam tetap, ajarilah aku. Lah kai pe si kuban, mehuli man baNdu. O Tuhan rasa lalap, geluhku temani, …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 1 Agustus 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 344:1,3
    1. Kam o Yesus, Juru s’lamat, sampat kami genduari. Pulah ibas dosa nari, si naban kami e. Tergejap latihna, nggeluh ibas dosa. Lanai kami ngasup ‘rdalin ibas gelap. Ku Kam Juru s’lamat kupindo penampat, gelah kami pulah, ibas dalin mberat.
    2. Kam o Yesus si perkeleng, cidahken min kek’lengenNdu. Bahan pusuh kami teneng, ‘di gulut ukurku. Tergejap latihna …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Matius 11 : 28 – 30.
    “ Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan.”

Renungan
Hidup dapat kita bayangkan seperti gelombang ombak. Ombak yang terus menerus menghempas pantai. Kadang ombak itu kecil dan membuat indah kehidupan, tetapi terkadang gelombang ombak itu begitu dahsyatnya sehingga dapat mengikis kehidupan kita. Demikian juga dalam kehidupan ini. Kita terus menerus diperhadapkan dengan gelombang permasalahan kehidupan ini. Permasalahan yang membuat kita tidak dapat melihat jalan keluar. Beban yang menekan kita begitu berat sehingga kita tidak mampu lagi melangkah.

Allah mengetahui beban berat yang harus kita pikul dan mengasihi kita. Yesus adalah bukti kasih Allah bagi dunia ini. Oleh karena itu Tuhan Yesus mengundang kita untuk ikut dalam kasih Allah. Yesus mengundang semua yang letih lesu dan berbeban berat agar mendapatkan kelegaan. Bagaimana caranya kita mendapatkan kelegaan itu ?
Yesus mengatakan, pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku. Hal ini berarti bahwa Tuhan Yesus bukannya melepaskan kita dari permasalahan hidup. Memang permasalahan hidup tidak akan hilang selama kita masih memiliki kebutuhan dan keinginan dalam kehidupan ini. Sebaliknya Yesus meminta kita memakai kuk yang dipasangNya. Hal ini berarti Yesus memberikan diriNya agar kita bersama-sama menghadapi masalah hidup kita. Kita tidak sendirian dalam memandang pergumulan hidup ini. Cara manusia memandang pergumulan hidup ini justru membuat kita semakin khawatir, takut dan hilang harapan. Kita membutuhkan cara pandang ilahi untuk memandang kehidupan ini. Dalam Matius 6:25, Yesus memperlihatkan bahwa manusia sering kali khawatir akan banyak hal, misalnya makanan dan pakaian. Dalam situasi seperti ini Tuhan Yesus memberikan pandangan agar kita mampu menghadapi kehidupan ini. Yesus mengatakan dalam Matius 6:33-34, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Lebih lagi, Yesus tidak hanya memberi cara memandang hidup, tetapi Yesus menjadikan diriNya sebagai cara memandang pergumulan kehidupan ini. Di dalam Ibrani 12:3, dikatakan, “Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa.”
Oleh karena itu, marilah kita datang kepada Yesus dan belajar kepadaNya. Dari nubuatan tentang Yesus, peristiwa kelahiranNya, pengajaranNya, mujizatnya, penderitaanNya, kematianNya, kebangkitanNya dan kenaikanNya ke Surga merupakan pelajaran yang memperlihatkan kelemahlembutan dan kerendahan hati Tuhan Yesus. Inilah kasih Allah yang memberikan ketenangan kepada jiwa manusia. Dengan belajar dan menjadikan kehidupan Tuhan Yesus sebagai cara pandang perjuangan kehidupan kita, kita akan mampu menghadapi setiap pergumulan hidup ini.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 286:1,2.
    1. Kuikutken me dalanNdu, dalan dame man bangku. Terkelin me kap geluhku, itebusi darehNdu. Kuikutken me dalanNdu, kuendesken geluhku. Bas Kam o Juru s’lamatku, dame senang tendingku.
    2. Mesera gia dalanku, padanNdu kap enteguh. Ngelawan kuasa gelap, di ras Kam menang tuhu. Kuikutken me dalanNdu. ..
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 31 Juli 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 325:1,2.
    1. Tuhan itengah-tengahta, m’reken pasu-pasuNa. Maler desken lau si mbelin, lanai lit si terulin. Usekenlah min KesahNdu, temani geluh kami. Gegeh kami p’limbarui, k’rina jadi mehuli.
    2. Tuhan itengah-tengahta, reh riahna ukurta. Reh tenengna pertendinta, reh damena pusuhta. Usekenlah min KesahNdu …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata 2 Raja – Raja 5 : 13
    “ Tapi reh suruh – suruhenna ndeheri ia nina man Naaman, “ Tuan, adi isuruh nabi e min ndai kam ngelakoken sada – sada dahin si mesera, tentu enggo ilakokenndu e. Genduari ngkai maka la banci kam ridi saja gelah malem ?”

Renungen
Sekali waktu, seorang dokter bercerita tentang pengalamannya memberi obat kepada pasiennya. Setelah selesai memeriksa pasiennya, si dokter memberi obat kepada pasien dan mengatakan harga obatnya Rp. 30.000,-. Si pasien langsung berkata, “obat yang paten sajalah, dokter.”. Mungkin si pasien beranggapan bahwa obat yang murah tidak paten, obat yang mahal baru paten.
Melekat dalam pikiran kita bahwa semakin sulit untuk mendapatkannya maka semakin tinggi nilainya, seperti emas dan permata. Semakin sulit untuk melakukannya maka semakin tinggi prestasinya. Orang seringkali mengukur keberhasilan seseorang berdasarkan tingkat kerumitan suatu pekerjaan. Namun prinsip ini tidakl-ah dapat diterapkan kepada semua hal. Pemikiran ini dapat membuat kita meremehkan hal-hal kecil dan sederhana tetapi justru berdampak besar dalam kehidupan kita. Misalnya, protokol kesehatan yang saat ini kita terapkan. Para ahli mengatakan untuk menjaga kesehatan maka kita memakan makanan sehat, berpikir positip, rajin berolah raga, rajin cuci tangan, memakai masker, menjaga jarak dan berserah kepada Tuhan. Hal – hal ini merupakan tindakan sederhana yang dapat mencegah penularan covid-19. Namun demikian, karena sederhana dan tidak ada bedanya dengan kebiasaan sehari-hari, orang menggangap sepele tindakan ini. Mungkin orang berpikir, kalau sudah diinfus, dipasang selang ventilator, baru mengganggap penyakit ini berbahaya.
Hal demikian yang kita lihat dalam pikiran Naaman. Ketika Nabi Elisa menyuruh Naaman mandi di sungai Yordan, Naaman merasa terhina. Dia pergi sambil marah-marah. Dia mengganggap mandi bukan jalan kesembuhannya. sebab itu hal yang biasa dilakukan manusia. Dia mengharapkan tindakan yang luar biasa seperti Nabi Elisa berdoa, meletakkan tangannya di atas sakitnya lalu terjadi kesembuhan. Terlebih lagi jikakalau hanya untuk mandi saja maka air sungai di kampungnya lebih bersih ketimbang air sungai Yordan. Lalu hambanya meminta Naaman mempertimbangkan kembali perkataan Nabi Elisa. Jikalau Nabi menyuruh tindakan yang berat, pastilah Naaman melakukannya, tetapi mengapa mandi saja tidak dapat dilakukan Naaman.
Dari perkataan hamba ini kita dapat memahami bahwa yang terutama dalam hal ini adalah mengikutkan perkataan Nabi Tuhan, yang berarti mengikutkan perkataan Tuhan sendiri. Seringkali Tuhan bekerja dalam hal-hal sederhana, namun berdampak besar. Hal ini untuk menujukkan bahwa kuasa Allah tidak bergantung kepada besarnya tindakan manusia. Dengan demikian, kita tidak boleh meremehkan hal-hal sederhana. Yang terpenting adalah kita dapat melihat ada kehendak Allah dalam tindakan kita yang sederhana itu. Dalam kehidupan kita, dalam pekerjaan kita, kita tidak mengganggap suatu tindakan yang besar, yang luar biasa dan wah, hal itu baru sebagai benar-benar sebuah tindakan. Seperti seorang petani, dia dapat melihat ada kehendak Allah dalam pekerjaannya. Hal ini akan berdampak besar dalam kehidupannya dan keluarganya.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 388:1,2.
    1. Tupung tayang aku nginget Kam. Gedang berngi kuukuri Kam. Sabab Kam si nampati aku, o Dibata tedeh ‘teku Kam. O Dibata Kam kap Dibatangku, kudahi tedeh ateku Kam. Mesikel aku nandangi Kam, desken taneh si enggo kerah. Bage me muasna tendingku. Man baNdu Tuhan Dibatangku.
    2. Sabab Kam si nampati aku, teruh kabengNdu rende aku. ‘di ras Kam meriah ukurku. O Dibata Kam sekawalku. O Dibata Kam kap …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 30 Juli 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 324:1,3.
    1. Tuhan kap penalemenku, Ia si njayam geluhku. Ia kap sekawalku, la nggo kekurangen aku. Tuhan si mada si nasa. Tuhan saja sipehaga. Muliakenlah gelarNa, mari puji sembah Ia.
    2. Nggo terkelin jine aku, arah perkuah ateNdu. peratenNdu kudalanken, g’luhku e kupersembahken. Tuhan saja si mada si nasa.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Habakuk 2 : 14
    “ Tapi doni enda dem me alu penandai kerna kemulian TUHAN bali ras lawit dem alu lau”.

Renungen.
Logikanya : orang yang melakukan kesalahan pasti akan mendapatkan hukuman. Tapi siapa yang rela menerima hukuman jika yang menghukum itu lebih bersalah lagi dari pada yang dihukum ? Mungkin kita tidak rela dan mengganggap hal itu ketidakadilan.
Hal inilah yang dipertanyakankan Habakuk kepada Allah. Habakuk mempertanyakan mengapa Allah membiarkan ketidakadilan berlaku di tengah-tengah bangsaNya. Orang-orang Yehuda melakukan penindasan terhadap sesama bangsanya. “Engkai maka ipediatNdu kuidah kejahaten ? Uga maka ngasup Kam natap-natap kelepaken e bage kelekna ? Encedai, sigegeh-gegeh kerina i sekelewetku; perubatan ras perjengilen i japa pe. Undang-undang la ergegeh, la erguna, janah keadilen la pernah idalanken. Ketamburenn kalak bujur ibahan kalak jahat, e maka keadilen enggo iputar-balikken” (Habakuk1:3-4). Terhadap pengaduan Habakuk tersebut, lalu Allah menjawab Habakuk. “ Kupekeke me bangsa Babilon jadi si erkuasa, bangsa si merawa dingen la banci kem. Isiarna me ku belang-belang doni enda naluken negeri-negeri si deban” (Habakuk 1:6). Lalu masalahnya semakin besar. Habakuk kembali mempertanyakan tindakan Allah ini. “ Tapi uga maka tahan Kam ngidah kalak penipu dingen jahat enda ? Si Tuhuna mataNdu si badia labo ngasup ngidah kejahaten, janah labo ternehenNdu kalak si ngelakoken kesalahan. Dage engkai maka Kam sinik saja tupung ikernepkenna bangsa si bujuren asangken ia ?” (Habakuk 1:13). Habakuk meyakini Allah adalah Allah yang adil. Habakuk dapat menerima bila Allah menghukum bangsanya yang melakukan ketidakadilan. Tetapi dia merasa tidak adil ketika bangsanya, yang berlaku tidak adil, justru ditindas oleh bangsa yang lebih tidak adil lagi.
Jawaban Allah terhadap pertanyaan Habakuk ini disebutkan dalam dalam Habakuk 2:4, “Janah enda me berita e : Kalak jahat labo pulah, tapi kalak bujur la banci lang nggeluh erkiteken tetap ia ernalem man Dibata”. Dari jawaban Allah ini kita diingatkan untuk meyakini bahwa orang yang hidup benar, yang menaruh percayanya kepada Allah, akan tetap hidup. Kita tidak perlu meragukan tindakan Allah terhadap perilaku ketidakadilan yang dilakukan orang lain. Yang perlu kita perhatikan adalah cara hidup kita yang benar. Orang benar hidup karena percayanya. Tindakan penghukuman Allah terhadap orang yang berlaku tidak adil dan orang benar yang hidup karena percayanya, menjadi penanda kemuliaan TUHAN.
Terkadang kita merasa ada ketidakadilan dalam hidup ini. Kita membandingkan hasil tindakan yang kita terima dengan hasil tindakan yang dilakukan orang lain. Namun melalui pembacaan Firman Tuhan malam ini, kita diingatkan untuk lebih memusatkan perhatian kita kepada cara hidup benar. Kita mengimani bahwa orang benar akan hidup karena percayanya. Inilah pertanda kemuliaan Allah.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No.416:1,2.
    1. Teridahlah Tuhan kemulianNdu, subuk paksa susah ‘ntah pe senang. Teridahlah Tuhan kemulianNdu, bas kerina paksa kegeluhen. Labo kap itadingkenNdu anakNdu, gegeh kami reh ibas Kam nari kap. Kuikutken lalap Tuhan kataNdu rasa lalap seh rasa lalap.
    2. Keke lah kerina bangsa Tuhan sabab kemulianNa ersinalsal. Amin sekelewet dem keg’lapen, ibabo bangsaNa tetap terang. Labo kap …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan