Renungan Malam 29 Juli 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 168:1,3.
    1. Tegu aku o Tuhanku ibas dalan mesera. La lit ngasup ras gegehku, b’re min tanNdu negusa. Roti surga, roti surga, tetap b’reken man bangku. Tetap b’reken man bangku.
    2. Aru ate bas geluhku, Kam me sinampatisa. Lalap Kam me negu aku, gelah seh pe ku surga. Kam penampat, Kam penampat, lalap seh rasa lalap. Lalap seh rasa lalap.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Amsal 3 : 21 – 26.
    Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu, maka itu akan menjadi kehidupan bagi jiwamu, dan perhiasan bagi lehermu. Maka engkau akan berjalan di jalanmu dengan aman, dan kakimu tidak akan terantuk. Jikalau engkau berbaring, engkau tidak akan terkejut, tetapi engkau akan berbaring dan tidur nyenyak. Janganlah takut kepada kekejutan yang tiba-tiba, atau kepada kebinasaan orang fasik, bila itu datang. Karena Tuhanlah yang akan menjadi sandaranmu, dan akan menghindarkan kakimu dari jerat.

Renungen
Setiap harinya banyak yang kita butuhkan. Kita berusaha mencukupkan kebutuhan makanan, pakaian, biaya pendidikan dan banyak lainnya. Dalam mencari kebutuhan hidup itu kita juga harus berjaga-jaga. Dalam 1 Petrus 5:8, dikatakan situasi kehidupan di dunia ini, “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.” Oleh karena kita tidak hanya memerlukan keterampilan untuk mencari kebutuhan hidup kita, tetapi kita juga memerlukan hikmat untuk menghadapi situasi ini.
Bahan renungan ini memperlihatkan perintah bagi kita untuk memelihara hikmat/ pertimbangan dan kebijaksanaan. Yang dimaksud dengan hikmat/pertimbangan adalah kemampuan berpikir logis, khususnya dalam membedakan antara pengaruh buruk dan pengaruh yang baik. Kita mengingat permintaan Raja Salomo dalam I Raja-Raja 3:9, “ Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?” Yang dimaksud dengan kebijaksanaan adalah pemahaman yang benar tentang cara menghadapi dan menyelesaikan masalah. Orang yang memelihara pertimbangan dan kebijaksanaan akan memperoleh berkat dalam hidup fisik, psikis dan rohani. Inilah yang memberi ketenangan pada jiwa. Mereka tidak menjadi lemah, tetapi bersemangat dan tetap mampu mengeluarkan potensi hidupnya. Ditengah –tengah jebakan iblis yang membuat buruk kehidupan, mereka yang memelihara pertimbangan dan kebijaksanaan justru memperlihatkan karakter yang indah seperti perhiasan di leher manusia. Mereka hidup tenang, aman, dapat tidur nyenyak dan tidak memiliki ketakutan terhadap malapeteka ketidakadilan dan kejahatan. Mereka tidak gentar terhadap adanya peristiwa yang mendatangkan bahaya dengan tiba-tiba. Lebih dari hal itu, orang yang menjaga dan memelihara hikmat tidak saja dipelihara dan dijaga hikmat, tetapi juga dipelihara oleh Tuhan sendiri. Tuhan yang menjadi kekuatan dan penuntun kehidupan kita.
Allah adalah sumber hikmat dan kebijaksanaan. Sama seperti permintaan Raja Salomo, kita juga meminta kepada Allah agar memberi hikmat dan kebijaksanaan bagi kita. Dengan demikian, di saat kita mencari kebutuhan hidup kita, kita terhindar tipu muslihat iblis yang ingin memperburuk keadaan kita. Sebaliknya orang yang memelihara pertimbangan dan kebijaksanaan, yang mendapatkan pemeliharaan Allah akan tetap bersemangat menghadapi kehidupan ini.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 288:1,2
    1. Ku ‘ndesken k’rina geluhku, anem melket aku. Tuhan penalemenku, tetap me ukurku. Ku simbak p’raten doni, ‘lah metunggung aku. Gegeh kuasaNdu ndemi, lah malem ateku.
    2. Bas paksa kesusahen pusuhku la gentar. Kam me kap penalemen, la kal aku mbiar. Mbelin keleng ateNdu si njayam geluhku. Senang kal kap ras Tuhan, ersurak tendingku.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 28 Juli 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 301:1,2.
    1. Nggo sikap kami k’rina, ndengkehken kataNdu. KesahNdu si Badia, nampati anakNdu. PedahNdu kap gegehku bage pe tendingku. Penampat bas geluhku, ndat kepentatenNdu.
    2. Pengasup kami k’rina ndengkehken kataNdu, lah tutus megikenca ajar ras pedahNdu. Kula tedingku ngada ku Kam o Tuhanku, kataNdu kap o Bapa pematang geluhku.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Daniel 2 : 20
    Berkatalah Daniel : “ Terpujilah nama Allah dari selama-lamanya sampai selama-lamanya, sebab dari Dialah hikmat dan kekuatan!”
    Renungen
    Kita hidup dalam sebuah mata rantai kehidupan. Ada ikatan yang menghubungkan seseorang dengan orang lainnya. Dalam sebuah keluarga, ada ikatan darah. Dalam sebuah jemaat ada ikatan sesama orang yang telah diselamatkan. Ada ikatan sesama satu suku. Dalam pertemanan ada ikatan emosional. Dalam sebuah pekerjaan ada ikatan tanggung jawab pekerjaan. Yang paling luas adalah ikatan sebagai sesama mahkluk ciptaan Allah yang tinggal di bumi yang satu. Sebagai suatu mata rantai kehidupan maka apa yang dialami salah seorang anggota keluarga, pasti berdampak terhadap seluruh anggota keluarga.
    Daniel ada dalam lingkungan pemerintahan Nebukadnezar. Dia harus mengikuti pelatihan selama 3 tahun untuk dapat bekerja di istana Nebukadnezar (1:5). Namun pada tahun ke dua pemerintahan Nebukadnezar, terjadilah maka raja Nebukadnezar bermimpi dan hal itu membuat dia gelisah dan tidak dapat tidur (2:1). Raja meminta agar orang berilmu di seluruh Babel menceritakan apa mimpi dan makna mimpinya tersebut. Terhadap permintaan Raja tersebut, para orang berilmu berkata bahwa tidak seorang pun yang dapat memberitahukan mimpi dan arti mimpi raja selain dari dewa-dewa (2:11). Mendengar hal itu maka raja menjadi geram dan murka dan memerintahkan untuk melenyapkan semua orang bijaksana di Babel (2:12). Daniel dan teman-temannya yang masih dalam masa pendidikan di istana Babel juga merasa terancam akan dibunuh (2:13). Inilah contoh mata rantai kehidupan. Ketika raja yang gelisah, tidak bisa tidur, geram dan murka, tetapi orang lain yang ikut merasakan dampaknya. Terhadap situasi ini, Daniel dan teman-temannya memohon kepada Allah agar membukakan rahasia itu. Lalu Allah menyingkapkan rahasia itu kepada Daniel. Ayat renungan kita adalah ungkupan syukur Daniel kepada Allah. Daniel mengakui bahwa pada Allah ada hikmat dan kekuatan.
    Apa maknanya perkataan Daniel ini ? Dalam ungkapannya, Daniel mengakui bahwa bukan karena kepintarannya dan bukan karena pendidikan Babel, yang masih dijalaninya 2 tahun dari 3 tahun masa pendidikannya, maka Daniel memiliki kemampuan untuk mengetahui mimpi dan makna mimpi raja. Ini semua adalah hikmat Allah. Dari makna mimpi raja Nebukadnezar, Daniel tahu bahwa hanya Allah saja yang membuat kekuasaan raja Nebukadnezar, yang dilambangkan dengan patung berkepala emas, akan hancur.
    Dari pengalaman Daniel ini kita dapat merenungkan bahwa dalam hidup ini, kita harus ikut bertanggungjawab pada dampak yang diakibatkan orang yang memiliki pertalian dengan kehidupan kita. Walaupun secara langsung mungkin kita tidak turut dalam perbuatan itu, tetapi dampak yang dialami oleh yang orang yang memiliki ikatan dengan kita pasti turut kita rasakan. Kita tidak dapat mengatakan, itu bukan salahku, aku tidak ada hubungannya dengan peristiwa itu. Yang kita lakukan adalah memohon kepada Allah, sumber hikmat dan kekuatan, agar memberi kemampuan kepada kita untuk memberi solusi terhadap permasalahan itu. Allah memberi hikmat dan kekuatan bagi kita untuk menghadapi persoalan di mana kita memiliki ikatan dengan orang tersebut. Amin.
  4. Ertoto kenca renungen
  5. Rende KEE GBKP No. 338:3
    1. Pasu-pasu surga nari, kugejap tiap wari. Kepentaren berekenNdu, nehken sura-suraNdu. Pakeken lah min aku, jadi persuruhenNdu, jenda aku suruh kau, nehken kekelengenNdu.
  6. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 27 Juli 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 221:1
    1. Pesikaplah ukurta, adi ndahi Dibata. Ukur si serbut, si lit bas kita endeskenlah man baNa. Ban Ia si mereken pengadin, makana kita dorek min terkelin, ‘di Yesus lah si bahan man temannta e tentu malem kal ateta.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Yesaya 49 : 4,6.
    “ Tapi ningku, “Enggo latih kuakap erdahin, tapi sia-sia kerina; enggo kupekeri gegehku tapi la lit bekasna.” Amin bage gia tek aku maka ibela TUHAN nge perkarangku, iberekenNa nge upahku i bas kerina kelatihenku. Nina TUHAN man bangku, “O suruh-suruhenKu, lit denga dahin siterbeliden bandu; la terjeng iulihken kam Israel si tading denga, ras ngulihken kehagan man bana, tapi Kubahan ka pe kam jadi terang man bangsa-bangsa, gelah keselamaten seh man bangsa doni kerina.”
    Renungen
    Ibas awal tahun, pemimpin bangsanta enggo erbahan target pertumbuhan ekonominta plus 5 %. Pemerintahta pe enggo erbahan tindakan gelah tercapai target enda. Tapi genduari, rikutken peridiksi IMF, pertumbuhen ekonominta minus 0,3%. Enda jadi erkiteken faktor bencana non alam si terjadi i belang-belang doni enda.
    Ibas dampar kegeluhen pribadinta pe banci jadi kai si rencanaken kita la bage hasilna. Ninta ibas ukurta, “aku enggo kupekeri kal ukur, gegeh, ras kebeluhenku guna ndahikenca, tapi kinatana la ku dat ulihna bagi si kurencanaken.” Kinata si bagenda banci jadi erbahanca bene semangatta guna berjuang mulihi. Kuga kita ngukuri keadaan sibagenda rupa ?
    Enda ka me sinisehken ibas renungennta ibas berngi sendah. Dibata enggo milih persuruhenNa guna negu bangsaNa mulih ibas ingan si marpar merap nari. Asa gegeh kengasupen persuruhen e enggo idahikenna dahin e. Tetapi kenyataannya, hamba Allah itu tidak membawa hasil. Mungkin kita membayangkan betapa pahitnya kegagalan dan besarnya tekanan batin yang dialami hamba itu. Namun demikian, justru yang dikatakan hamba Allah itu adalah keyakinannya akan berkat Allah. Hamba Allah itu tetap yakin bahwa Tuhan akan memberi hasil pekerjaannya. Selanjutnta, kita juga membaca bahwa Allah memberi tanggung jawab yang lebih besar kepada hambaNya itu. Allah meluaskan tangung jawab hamba itu dari membawa bangsaNya pulang menjadi terang bagi bangsa-bangsa, sehingga keselamatan tidak hanya milik bangsaNya tetapi juga milik segenap bangsa dunia ini.
    Dari pemahaman bacaan renungan ini kita melihat kebijaksanaan Allah. Allah tidak hanya melihat hasil pekerjaan kita. Allah memperhitungkan kesungguhan dan ketekunan perjuangan hidup kita, terlebih lagi apabila keyakinan kita akan berkat Allah tidak hilang, walaupun kita sendiri tidak melihat hasil pekerjaan kita pada saat itu. Kita percaya Allah tetap mempercayakan kita untuk meneruskan dan mengembangkan pekerjaan kita.
    Di dalam kehidupan kita, ada berbagai macam faktor yang menentukan keberhasilan kita. Misalnya faktor semangat, ketekunan, kesungguhan kita dalam bekerja, juga faktor lingkungan dan faktor orang lain. Ketika kita sudah bersungguh-sungguh dalam mengupayakan pekerjaan kita, namun toh kita belum berhasil, hal itu janganlah melemahkan semangat kita. Akan menjadi kepahitan dan tekanan batin yang berat ketika ketidakberhasilan itu justru karena faktor diri kita sendiri. Hal ini akan menimbulkan penyesalan dalam diri kita. Sebaliknya, kita melihat kebaikan Allah bagi mereka yang tetap yakin akan berkat Allah bagi mereka yang terus bersemangat dalam menjalani kehidupannya walaupun pada saat itu hasilnya juga belum kelihatan. Allah memberi tangung jawab lebih bagi mereka.
  4. Ertoto kenca renungen
  5. Rende KEE GBKP No. 299:1,3.
    1. Ngikut Tuhan kin atendu persan silang. Ola sangsi ola mbiar ikutkenlah. Persan saja min silangndu ikut terus. Mulia kal me upahndu tetap tutus.
    2. Kune susah tah mesera, megenggenglah. Tuhan Yesus usihenta, ikut gelah. Persan saja ..
  6. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 26 Juli 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 329:1,3.
    1. Tuhan Yesus penampatku, Ia penalemenku. Kuikutken me dalanNdu, Kam me kegeluhenku. Tenang tetap tendingku, paguh kinitekenku. Lanai lit kebiarenku. Tan Tuhan ku me negu.
    2. Tuhan Yesus penampatku, nimbak p’raten dagingku. Suari berngi Kam kulebuh, pengarapenku nteguh. Teneng tetap tendingku …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Amsal 14 : 26 – 27.
    Dalam takut akan TUHAN ada ketenteraman yang besar, bahkan ada perlindungan bagi anak-anak-Nya. Takut akan TUHAN adalah sumber kehidupan sehingga orang terhindar dari jerat maut.

Renungen
Salah satu yang kita upayakan dalam hidup ini adalah ketentraman. Kita mendambakan keadaan hidup yang aman, tidak ada kekacauan, tenang hati dan pikiran. Dan untuk mendapatkannya, kita seringkali mengandalkan fisik (kekuatan, kecantikan, kesehatan), keberadaan (kiniliten), ketrampilan dan sanak saudara kita. Hal ini memang membantu kita untuk memperjuangkan kebutuhan dan keinginan kita. Tetapi bagi penulis Amsal ini, ketentraman hidup ada dalam takut akan TUHAN.
Takut akan TUHAN adalah sebuah karakter moral, suatu cara menjalani kehidupan sehari-hari. Takut akan TUHAN bukan sekedar perasaan tetapi juga adalah tindakan. Dikatakan dalam Amsal 8:13, “Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat.” Khususnya dalam Amsal 14 ini, takut akan TUHAN berarti sikap, kata-kata dan perilaku yang jujur dalam kehidupan setiap hari. Penulis Amsal 14 meyakini bahwa dalam sikap, kata-kata dan perilaku yang jujur terdapat ketenangan hati dan pikiran, keamanan, dan kedamaian hidup. Mengapa penulis mengatakan dalam takut akan TUHAN ada ketenteraman besar ?
Penulis Amsal percaya bahwa TUHAN itu baik. TUHAN melindungi seperti seorang bapa yang melindungi anak-anaknya.
Orang yang takut akan TUHAN menjauhi kejahatan. Dengan kasih dan kesetiaan, kesalahan diampuni, karena takut akan TUHAN orang menjauhi kejahatan. (Amsal 16:6). Dengan demikian mereka merasa aman, tidak memiliki ancaman dan ketakutan terhadap pembalasan orang lain.
Orang yang takut akan TUHAN hidup dalam kebenaran dan kebaikan. Kebenaran dan kebaikan merupakan dasar pembangunan relasi usaha yang baik. Dengan adanya relasi usaha yang baik maka tercapai kesejahteraan. Kebenaran dan kebaikan merupakan kebutuhan untuk mencapai kesejateraan bersama. Dikatakan dalam Amsal 22:4, “Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan.” Benarlah dikatakan “takut akan TUHAN adalah sumber kehidupan.”
Tuhan senang dengan mereka yang takut akan TUHAN. Dikatakan dalam Mazmur 147:11, “TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya.”
Kita tetap menjalani aktivitas kita dengan takut akan TUHAN. Kita semakin mampu membangun kerjasama dalam berbagai segi kehidupan kita. Kita percaya ada ketenteraman dalam kehidupan kita.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No.202:1,2
    1. Ernalem gelah man Yesus, kula ukur tendingku. Endesken geluhndu baNa keleng ateNa bandu. Ernalem gelah, tutus min gelah. O Yesusku bahan aku ernalem gelah.
    2. Kita k’rina bas geluhta, p’raten daging simbak min. Pindo lebe gegeh baNa maka kita erdahin. Ernalem gelah …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 25 Juli 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 424:1,3.
    1. Ipuji kami Kam Dibata si mbelin, alu ende enden si meriah. Suari ras berngi kawali kami min, segelah la celus bas percubaan. Sangap kap kalak si ‘rnalem baNdu e, daten tuah ras kesangapen pe.
    2. O kam si latih ras si maba beraten, dahi Bapa ib’reNa pengadin. Bas kesusahen kam pegegehiNa pe. Ras Yesus Tuhanta la kam bene. Sangap kap kalak …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata 2 Korintus 7 : 5 – 6.
    Bahkan ketika kami tiba di Makedonia, kami tidak beroleh ketenangan bagi tubuh kami. Di mana-mana kami mengalami kesusahan: dari luar pertengkaran dan dari dalam ketakutan. Tetapi Allah, yang menghiburkan orang yang rendah hati, telah menghiburkan kami dengan kedatangan Titus.
    Renungen
    Sekitar tahun 1981 muncul istilah generasi sandwich. Istilah ini merujuk kepada situasi terhimpitnya kehidupan seseorang di antara generasi orang tua dan generasi anak. Orang ini harus memenuhi kebutuhan ekonomi orang tuanya dan juga memenuhi kehidupan ekonomi anak-anaknya. Dalam situasi kita saat ini, kita merasakan himpitan yang berasal dari segala arah. Kekhawatiran tentang kehidupan ekonomi kita, kesehatan kita, hubungan sosial kita, pikiran, perasaan dan kehidupan rohani kita menghimpit perjuangan hidup kita. Lalu bagaimana kita menghadapinya ?
    Pengalaman himpitan di mana – mana juga dapat kita lihat dalam pelayanan Paulus. Paulus merasakan himpitan baik dari luar maupun dari dalam. Salah persepsi orang tentang pelayanan Paulus, yang telah menyebabkan terjadinya pertengkaran, membuat himpitan yang kuat bagi Paulus. Paulus menuliskan pengalaman dalam 2 Korintus 4:7-10, “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa; kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami”. Paulus juga merasa tidak tenang ketika memikirkan keselamatan Titus yang terpisah pelayanannya dengan Paulus. Di katakan Paulus dalam 2 Korintus 2:12-13, “Ketika aku tiba di Troas untuk memberitakan Injil Kristus, aku dapati, bahwa Tuhan telah membuka jalan untuk pekerjaan di sana. Tetapi hatiku tidak merasa tenang, karena aku tidak menjumpai saudaraku Titus. Sebab itu aku minta diri dan berangkat ke Makedonia.” Inilah himpitan hidup yang dirasakan Paulus dalam pelayanannya. Namun demikian, di balik himpitan itu, Paulus merasakan penghiburan Allah. Paulus merasakan penghiburan Allah dengan kedatangan Titus. Di tengah – tengah himpitan itu tetap ada penghiburan yang diberikan Allah.
    Dari pengalaman Paulus ini, kita juga meyakini bahwa Allah tetap memberikan penghiburan di tengah-tengah himpitan hidup ini. Oleh karena itu, kita harus terus berjuang menjalani kehidupan kita. Kita berjuang sambil terus menaruh kepercayaan kita kepada kuasa Allah. Ini juga yang dilakukan Daud ketika menghadapi tekanan dari rakyat Ziklag yang kota mereka telah habis dibakar tentara Amalek. Dikatakan dalam I Samuel 30:6, “Dan Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu. Seluruh rakyat itu telah pedih hati, masing-masing karena anaknya laki-laki dan perempuan. Tetapi Daud menguatkan kepercayaannya kepada TUHAN, Allahnya.”
    Kita menaruh kepercayaan kita kepada Allah, bahwa Allah tetap memberikan penghiburan di tengah-tengah himpitan hidup ini. Mari kita persiapkan tubuh, roh, jiwa, pikiran dan perasaan kita untuk beribadah kepada Allah. Melalui ibadah minggu esok hari, kita letakkan keyakinan dan pengharapan kita kepada penghiburan Allah. Amin.
  4. Ertoto kenca renungen
  5. Rende KEE GBKP No. 249:1,4.
    1. Ajar aku o Tuhanku, make kata ras pedahNdu. Kueteh payo ras sentudu, kuikutken bas geluhku. Singikut pedah Dibata daten me kerembakenNa. Pedah kata tangkas k’rina em jadi gelementa.
    2. Kalak si tegu Dibata em si lembab kin ukurna. Man si nembah rusur baNa, ukum ajarkenNa banta. Singikut pedah Dibata …
  6. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 24 Juli 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 282:1,2
    1. Ku kataken bujur baNdu, o Kam Tuhan penebus. Aku enggo s’lamatkenNdu arah lias ateNdu. Keleng kal ateNdu aku, simpar kap ngaruhNdu bangku. Lias ateNdu lanai terpilasi, kupuji Kam teptep wari.
    2. Tergejap pasu-pasuNdu i bas kegeluhenku. Rejeki arah dalinku icurcurkenNdu bangku. Keleng kal ateNdu aku, ..
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Roma 5:21
    “ Dage, bagi nai dosa erkuasa desken sekalak raja si maba manusia ku bas kematen, bage me pe lias ate Dibata genduari enggo erkuasa desken sekalak raja si ngerembakken manusia kempak Dibata, janah mabai kita ku bas kegeluhen si tuhu – tuhu si rasa lalap arah Jesus Kristus Tuhanta”.
    Renungen
    Pada satu ketika, saya ikut ke kebun seorang teman. Saya melihat kebunnya yang luas dan sudah berbuah. Saya berkata, “meriah nari ukurndu genduari enda me”. Lalu jawabnya, “Si genduari e saja nge idahndu e, kuga nai ma la angkandu”. Memang benar, terkadang yang menjadi perhatian kita adalah bagaimana sekarang seseorang itu hidup. Tetapi bagaimana dia dahulu hidup sehingga dia bisa hidup seperti sekarang ini, mungkin jarang mendapat perhatian kita. Kita juga tidak tahu bagaimana kehidupannya di masa depan.
    Kepada masing-masing kita, Allah memberikan tiga rentang waktu kehidupan, yaitu masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Bagaimana kehidupan kita sekarang ini, tidak terlepas dari bagaimana kehidupan masa lalu kita. Bagaimana masa depan kita turut ditentukan oleh bagaimana kita hidup sekarang ini. Tiga rentang waktu ini tetap perlu kita perhatian agar kita bisa berhasil dalam menjalani kehidupan kita.
    Renungan malam ini juga memperlihatkan tiga rentang waktu dalam kehidupan kita. Paulus mengingatkan kepada jemaat Roma tentang bagaimana mereka dahulu. Pada masa lalu mereka hidup dikuasai dosa. Dosa berkuasa seperti seorang raja yang memimpin kepada kematian. Namun sekarang, oleh kasih Allah, mereka dipimpin kepada persekutuan dengan Allah. Dan oleh karunia itu juga, mereka akan dipimpin menuju masa depan yaitu kehidupan kekal.
    Dari pemahaman Paulus ini kita melihat makna diberitakannya tiga rentang waktu kehidupan itu. Tiga rentang waktu dalam hidup kita diberitakan agar kita tahu perubahan apa yang telah terjadi dalam hidup kita. Masa lalu diingatkan agar kita tahu bagaimana bertindak pada masa kini. Seperti yang tertulis dalam Keluaren 22:21 “Ola kam erbahan si la bujur ntah nindas kalak pertandang; inget maka kam pe kalak pertandang nge nai i Mesir”. Demikian juga, masa depan diingatkan agar kita tahu tindakan yang harus kita lakukan agar kita sampai seperti yang kita harapkan terjadi di masa depan. Itulisken ibas Roma 6: 22, “Tapi genduari kam enggo ibebasken ibas dosa nari, janah kam enggo jadi ‘budak’ Dibata. Asilna man bandu e me kap, kam nggeluh khusus guna Dibata. Si enda mabai kam ku kegeluhen si tuhu-tuhu si rasa lalap”.
    Dengan mengingat tiga rentang waktu ini, kita dibimbing untuk menjalani hidup yang penuh kesulitan. Kesulitan yang terjadi tidak mengacaukan hati, pikiran dan tindakan kita. Kita tetap dapat menjalani kehidupan kita dalam jalan yang dikehendaki Allah. Amin.
  4. Ertoto kenca renungen
  5. Rende KEE GBKP No. 303:1,2
    1. O Yesus Kam terang geluhku, Kam me si ngkelini tendingku, la kap lit si man kebiarenku. O Yesus, Kam me kap bentengku, e makana la lit gentarku, amin lit si jahat nderpa aku. O Bapa dengkeh pemindonku. Lit kap sada sura-surangku. Atan min aku ibas rumahNdu sedekah geluhku.
    2. O Yesus Kam terang geluhku. Kam me si engkawali aku ibas paksa lit kesusahenku. O Yesus ajari min aku, gelah nggeluh ngikut p’ratenNdu arah dalan salang babai aku. O Bapa
  6. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 23 Juli 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 374:1,2
    1. Yesus ulu kegeluhenku, Kam me ngenca pengendesenku. Lalap tedeh ate tendingku. Kupehaga Kam bas geluhku. O Tuhan pernehen pusuhku, si ertedeh ate man baNdu. Kugelem pedah ras padanNdu, kusembah Kam ibas geluhku.
    2. Kusembah Tuhan penebusku, si mereken kekelengenNa. Alu tutus reh aku Tuhan ras kerina isi jabungku. O Tuhan pernehen …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Kejadin 5:29
    “ Janah nina, “Anak enda me si mereken kemalemen ate man banta i bas kelatihennta erdahin ngusahai taneh si enggo isumpahi TUHAN.” E maka ibahanna gelar anak e Nuah.”

Renungen.
Kehadiran anak di tengah keluarga adalah kebahagian keluarga itu. Misalnya, setelah letih bekerja seharian di luar rumah, ketika sampai di rumah di sambut oleh anak yang berlarian mengejar ayahnya, lalu sang ayah juga dengan sukacita memeluk anaknya. Di saat yang seperti ini, hilanglah rasa letih si ayah.
Bacaan renungan ini adalah ungkapan Lamekh ketika anaknya lahir. Lamekh meyakini bahwa anaknya ini menjadi penghiburan dalam kehidupannya yang penuh penderitaan. Dari beberapa ayat sebelumnya kita mencoba melihat situasi yang terjadi pada saat itu. Dalam Kejadian 3 ayat 17, dikatakan, “ Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu:” Setelah manusia melanggar perintah Allah, maka manusia harus menghadapi penderitaan untuk memperoleh kehidupannya. Penderitaan dalam mencari keperluan hidup juga dibarengi dengan meningkatnya kekerasan dalam hidup itu. Dikatakan dalam Kejadian 4:24, “Adi man kalak si munuh Kain pitu kalak ibunuh jadi balasna, maka man kalak si munuh aku pitu puluh kalak ibunuh.” Dalam penderitaan dan kekerasan hidup ini, Lamekh meyakini dan memiliki pengharapan bahwa kehadiran anaknya akan menjadi penghiburan bagi kehidupannya. Pemberian nama Nuh itu juga mengungkapkan keyakinan dan pengharapan Lamekh. Secara harafiah nama Nuh berarti beristirahat atau penghiburan. Nama Nuh yang berarti penghiburan ini menjadi nyata setelah bencana air bah. Setelah bencana air bah, Nuh mempersembahken korban yang menenangkan bencana itu. Ini menjadi penghiburan bagi manusia karena Tuhan tidak mengutuk bumi ini lagi karena perbuatan manusia (Kejadin 8:21). Demikianlah keyakinan dan pengharapan Lamekh bahwa kehadiran Nuh akan menjadi penghiburan atau beristirahatnya penderitaan yang terjadi dalam kehidupannya.
Hari ini kita memperingati Hari Anak Nasional. Hal ini untuk mengingatkan pentingnya perlindungan hak anak. Kehadiran anak dalam keluarga menjadi keyakinan dan pengharapan akan adanya penghiburan bagi masa depan keluarga itu. Oleh karena itu, menjadi tugas kita untuk melindungi hak anak-anak ini sehingga benarlah masa depannya menjadi sukacita bagi kita. Kita mau berletih dan bersusah payah, salah satunya demi masa depan dan kebahagaian anak-anak kita. Segala keletihan kita dalam memperjuangkan kehidupan ini berubah menjadi kebahagaian setelah kita mendapati anak-anak yang takut akan Tuhan. Seperti yang tertulis dalam Amsal 23:24-25, “ Malem me ate bapa adi anakna erkemalangen man Dibata; ersurak pusuhna adi pentar anakna. Bahanlah maka megah iakap nande bapandu; malemlah ate diberu si mupusken kam.” Selamat Hari Anak Nasional.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 124:3
    1. Meriah kal iakap orang tua, adi anakna ngikut ajar e. E malem ukur si mesui lupa, ‘di la njuruken lagu anak e. Senangna e di Tuhan si perkuah, rembak kin rusur ras dahinna e. ipasu-pasu Tuhan daten tuah, je malem-malem me ukurna e.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 22 Juli 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 325:1,2
    1. Tuhan itengah-tengahta m’reken pasu-pasuNa. Maler desken lau si mbelin, lanai lit si terulin. Usekenlah min KesahNdu, temani geluh kami. Gegeh kami plimbarui, k’rina jadi mehuli.
    2. Tuhan itengah-tengahta, reh riahna ukurta. Reh tenengna pertendinta, reh damena pusuhta. Usekenlah min KesahNdu …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Ulangan 30 : 9 – 10
    “TUHAN, Allahmu, akan melimpahi engkau dengan kebaikan dalam segala pekerjaanmu, dalam buah kandunganmu, dalam hasil ternakmu dan dalam hasil bumimu, sebab TUHAN, Allahmu, akan bergirang kembali karena engkau dalam keberuntunganmu, seperti Ia bergirang karena nenek moyangmu dahulu, apabila engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dengan berpegang pada perintah dan ketetapan-Nya, yang tertulis dalam kitab Taurat ini dan apabila engkau berbalik kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu.”

Renungen
Di akhir sebuah acara ibadah, dilakukanlah acara lucky draw. Hampir semua peserta acara ibadah masih menunggu acara lucky draw, walaupun acara ibadahnya sudah selesai. Hal ini menunjukkan bahwa kita memang senang keberuntungan. Terlebih dalam situasi yang sulit, kita berharap mendapatkan keberuntungan. Seperti keberuntungan yang didapatkan Egi Sandi dan Mujenih yang akhirnya diangkat menjadi pegawai tetap PT. KCI karena mengembalikan uang Rp. 500 juta dalam plastik yang mereka temukan.
Bacaan Firman Tuhan yang menjadi renungan malam ini juga berbicara tentang keberuntungan. Bangsa Israel akan kembali menikmati kebaikan atas hasil pekerjaan mereka. Sebagai bangsa yang hidup dari peternakan dan pertanian, inilah gambaran keberuntungan mereka. Mereka memiliki keturunan, mendapatkan hasil ternak dan bumi. Allah-lah yang dapat menjadikan bangsa Israel kembali menikmati kebaikan atas hasil pekerjaan mereka, bukan dengan kekuatan bangsa Israel sendiri. Inilah kegirangan Allah yaitu memberikan kebaikan bagi bangsaNya. Inilah keberuntungan bangsa Israel yaitu dapat menikmati kehidupannya kembali. Namun untuk sampai kepada keberuntungan itu ada iman dan tindakan yang harus mereka lakukan. Bangsa Israel harus taat kepada Allah dengan segenap hati dan jiwa mereka. Taat dengan segenap hati dan segenap jiwa memperlihatkan ketaatan itu bukanlah suatu paksaan, tetapi memperlihatkan hubungan kasih.
Dari perjalanan kehidupan bangsa Israel ini kita dapat mengimani dan meyakini bahwa Allah sangat bergirang memberikan berkatnya. Kita tetap mengharapkan keberuntungan dari Allah. Yang menjadi penting bagi kita sekarang adalah kita juga taat kepada Allah dengan segenap hati dan segenap jiwa kita. Ada tanggungjawab yang harus kita perlihatkan dalam hidup ini. Kasih yang diberikan Allah haruslah ditanggapi dengan kasih juga.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 334:1,2
    1. Tuhan kam si empuna geluhta, gegehta Ia si merekenca. Kiniteken pe ras pemetehta, e pe Ia sinjujurkenca. Ia kap erbanca kita sangap, tetaplah man Ia kita ngarap. ‘Di reh susah b’reNa serpang pulah, tendi kula mejuah-juah.
    2. Dage tetaplah bulat ukurta. Geluhta pe lalap min erguna. Lagu langkah pe la sia-sia, gelar Tuhanlah ermulia. Adi jumpa kita si mesera, pengarapen ula kal min pera. Kune riah ukur kita jumpa, nehken bujur ula kal lupa.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan