Renungan Malam 30 Juni 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 290:1,2
    1. Labo erkiteken beluhku. Labo erkiteken pentarku. Tapi perbahan penampatndu. Mbelin tergejap bas geluhku.
    2. Labo erkiteken dahinku. Labo erkiteken pangkatku. Tapi perbahan perkuahNdu. Malem ateku tuhu-tuhu.
  2. Ertoto
  3. Pengogen Kata Dibata Pengerana 9:11
    “ Lit denga si kuidah i bas doni enda eme : i bas perlumbaan labo lalap si meter kiam si menang, i bas pertempuren labo lalap kalak si megegeh si menang. Labo kalak pentar lalap si jumpa pencarin, janah labo kalak cerdik rusur ndatken kebayaken. Bage pe labo kalak si mbages pemetehna si terberita. Tapi kerina nge kalak banci kena sial”.
    Renungen
    Sepertinya tidak ada manusia yang menginginkan kegagalan. Manusia berusaha mendapatkan keberhasilan dalam hidupnya. Manusia membuat perhitungan sebaik mungkin dan berhati-hati dalam mengambil keputusan. Namun sehebat apa pun perhitungan dan kehati-hatian manusia, kegagalan dapat saja terjadi. Ada saja fakto-faktor di luar jangkau perkiraan manusia yang mengakibatkan kegagalan dalam hidup ini. Misalnya, pandemi covid-19 yang terjadi saat ini, benar-benar di luar jangkauan perkiraan kita. Rencana-rencana yang telah kita perhitungkan, keputusan-keputusan yang kita buat dengaan hati-hati, ternyata tidak dapat mencegah berantakannya pekerjaan kita. Inilah yang diungkapkan dalam Kitab Pengkotbah 9:11.
    Bacaan kita malam ini memperlihatkan salah satu kenyataan hidup. Kita tidak dapat memastikan apa yang akan terjadi pada masa depan hidup kita. Kita tidak dapat memastikan apa yang akan kita dapatkan dengan mengandalkan kecepatan, kekuatan, kepintaran, hikmat, kecerdasan dan cerdik. Jangkauan otak kita tidak dapat menghitung semua hal yang turut berproses dalam hidup kita. Kita tidak tahu kapan waktunya kita akan mengalami kegagalan. Ada banyak bahaya yang mengancam dan mengagalkan usaha kita. Jika demikian keadaannya, lalu bagaimana lagi kita menjalani hidup ini ?
    Sepintas apa yang dinyatakan dalam bacaan ini dapat saja membuat kita pesimis dalam hidup ini. Kita bertanya, untuk apa kita mengusahakan kecepatan, kekuatan, kepintaran, hikmat, kecerdasan dan cerdik, kalau ternyata kita bisa juga gagal. Apa yang diungkapkan Pengkotbah ini bukannya untuk membuat kita pesimis. Pernyataan membuat kita sadar bahwa manusia adalah mahkluk yang terbatas. Manusia bisa saja gagal dalam hidupnya. Jika kita telah mengerahkan kecepatan, kekuatan, kepintaran, hikmat, kecerdasan dan cerdik, namun kita tetap mengalami kegagalan, inilah kenyataan bahwa manusia makhluk terbatas. Kenyataan ini, justru membuat kita harus memiliki “tempat aman” bila semua itu terjadi. “Tempat” yang dapat membuat kita menerima kenyataan bahwa kita mengalami kegagalan namun kita tetap memiliki semangat untuk terus berjuang dalam hidup ini. Tempat itu adalah persekutuan dengan Allah. Dengan persekutuan dengan Allah kita mampu berserah diri dan menerima kenyataan ini. Persekutuan dengan Allah memberi pengharapan baru bagi kita, bahwa ada kuasa Allah yang tetap bertindak dalam hidup kita. Amin.
  4. Ertoto
  5. Rende KEE GBKP No. 334:1
    1. Tuhan kap si empuna geluhta, gegehta Ia si merekenca. Kiniteken pe ras pemetehta, e pe Ia si njujurkenca. Ia ka psi erbanca kita sangap, tetaplah man ia kita ngarap. ‘Di reh susah b’rena dalan pulah, tendi kula mejuah-juah.
    2. Dage tetaplah bulat ukurta. Geluhta pe lalap min erguna. Lagu langkah pe la sia-sia. Gelar Tuhanlah ermulia. Adi jumpa kita si mesera, pengarapen ula kel min pera. Kune riah ukur kita jumpa, nehken bujur ula kel lupa.
  6. Pertoton Syafaat ras Pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 29 Juni 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 212:1,4
    1. Perkuah ate si mbelin. Nemani geluhku. Ije me aku erdalin. Teruh perkuahNdu.
    2. Perkuah ate si mbelin. Si mahan dame e. Bengketi pusuh kami min. ‘Lah kami senang je.
  2. Ertoto
  3. Pengogen Kata Dibata Mazmur 63 :7-8
    “ Tupung aku tayang i das ingan medemku, kuinget Kam, gedang-gedang berngi rukur aku kerna Kam. Sabab Kam kap si nggo nampati aku, iteruh kabengNdu rende aku perban riahna”.
    Renungen.
    Sebagai makhluk yang diberikan Allah akal pikiran, maka ada saja yang kita pikirkan dalam hidup ini. Terkadang kita tidak dapat mengendalikan pikiran kita. Ninta ibas ukurta, “ah, lanai gia padah ku ukurken”, tetapi kenyataannya, sampai tengah malam pikiran itu tetap bertahan dalam otak kita. Ketika banyak persoalan membebani pikiran kita, seringkali yang kita lakukan adalah mendaftarkan persoalan-persoalan kita. Kita membayangkan dan menambahkan akibat-akibat yang menyeramkan yang mungkin terjadi bila persoalan itu benar-benar terjadi atau permasalahan itu tidak dapat diselesaikan.
    Melalui renungan malam ini, kita diingatkan untuk lebih memikirkan pertolongan Allah dalam hidup kita. Daud mengatakan, “Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau”( Mazmur 63:4) Daud begitu menghargai kasih setia Allah itu. Karena begitu berharganya kasih setia Allah itu, sehingga persoalan-persoalan yang dia hadapi tidak dapat membuatnya lupa akan kasih setia Allah dalam hidupnya. Daud menaikkan puji-pujian bagi Allah. Lebih dari itu, Daud membawa ingatan akan kasih setia Allah itu ke tempat tidur. Sepanjang malam dia memikirkan keajaiban dari kasih setia Allah.
    Apa yang dilakukan Daud ini bukan sekedar pengisi waktu di saat mata belum bisa terpejam. Yang dilakukan Daud merupakan cara dalam menghadapi kehidupan ini. Ketimbang kita memikirkan hal-hal yang menakutkan diri kita, yang sebenarnya itu juga masih sebatas reka-rekaan otak kita saja, lebih baik kita memikirkan kasih Allah di tempat tidur kita. Kasih setia Allah yang telah nyata mengasihi perjalanan hidup kita, kita imani bahwa kasih setia Allah itu akan tetap dinyatakannya bagi kita. Dengan mengingat kasih setia Allah, kita punya pengharapan bahwa Allah tetap mengasihi kita. Dengan mengingat dan memikirkan kasih setia Allah maka jiwa, roh dan tubuh kita akan disegarkan. Bangun pagi, tubuh akan terasa segar dan penuh semangat. Sebaliknya, pikiran-pikiran yang menakutkaan akan menguras energi kita, membuat kita lemas dan kehilangan gairah dalam kehidupan ini. Dengan mengingat kasih setia Allah, kita di pimpin untuk lebih mengasihi si pemberi dari pada apa yang diberikan kepada kita. Dengan demikian, apa pun yang menjadi persoalan hidup kita, tidak akan dapat membuat kita lupa kepada Allah. Apakah kita mendapatkan yang kita inginkan atau kita tidak mendapatkan yang kita inginkan, kita tetap mengingat kasih setia Allah. Hal ini membawa kita kepada pengakuan, “kekelengenNdu si tetap ergan asangken kesah”. Amin.
  4. Ertoto
  5. Rende KEE GBKP No. 388:1,2
    1. Tupung tayang aku nginget kam, gedang berngi kuukuri Kam, sabab Kam si nampati aku. O Dibata tedeh teku Kam. O Dibata , Kam kap Dibatangku, kudahi tedeh ateku Kam. Mesikel aku nandangi Kam, desken taneh si enggo kerah, bage me muasna tendingku man baNdu Tuhan Dibatangku.
    2. Sabab Kam si nampati aku, teruh kabengNdu rende aku. ‘di ras Kam meriah ukurku, o Dibata Kam sekawalku. O Dibata , Kam kap Dibatangku, kudahi tedeh ateku Kam. Mesikel aku nandangi Kam, desken taneh si enggo kerah, bage me muasna tendingku man baNdu Tuhan Dibatangku.
  6. Pertoton Syafaat ras Pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 28 Juni 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 451:1,2.
    1. Malerlah pasu-pasuNdu, bagi ni padankenNdu. Gegeh ras ukur si paguh tetap ib’rekenNdu. Pasu-pasuNdu em ulu gegeh kami. Enggo kap maler me tuhu si ‘ndemi geluh kami.
    2. Malerlah pasu-pasuNdu g’luh kami jadi mbaru. Sorana bagi lau maler mpeteneng ukur kami. Pasu-pasuNdu em ulu gegeh kami. Enggo kap maler me tuhu si ‘ndemi geluh kami.
  2. Ertoto
  3. Pengogen Kata Dibata Mazmur 12:7
    “ Padan TUHAN terteki kap sabab tulen bali ras pirak si nggo pitu kali iane ”.
    Renungen
    Ibas sada penggejapenna Ayub ngerana nina, “Apakah kekuatanku, sehingga aku sanggup bertahan, dan apakah masa depanku, sehingga aku harus bersabar? Apakah kekuatanku seperti kekuatan batu? Apakah tubuhku dari tembaga?” Penderitaan yang dialami Ayub sungguh luar biasa. Karena beratnya penderitaannya, Ayub sudah mempertanyakan kemampuannya untuk bertahan. Apakah tubuhnya masih kuat untuk menahankan beratnya penderitannya ? Tidak hanya tubuhnya yang dia rasakan tidak kuat lagi, tetapi dia juga sudah merasakan bahwa tidak ada lagi masa depannya. Dia tidak lagi melihat adanya pemulihan terhadap keadaannya sehingga untuk apa lagi bersabar menunggu masa depannya.
    Masing-masing kita juga punya pengalaman penderitaan. Dan tiap-tiap kita, mungkin merasa penderitaan kita yang paling berat. Namun, dalam penderitaan itu apakah kita tetap meyakini janji Tuhan ?
    Dalam Mazmur 12 ini, Daud menghadapi situasi di mana orang-orang benar sudah habis (1) sedangkan orang-orang jahat sudah merajalela (8). Orang-orang menyombongkan mulutnya dan mengganggap bahwa dengan mulutnya mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan (5). Dalam situasi seperti ini, di mana kejahatan sudah merajalela, Daud tetap punya pengharapan bahwa Kuasa Tuhan akan membungkan mulut yang congkak itu. Daud percaya Tuhan melihat penderitaan orang miskin dan yang tertindas dan memberikan ketenangan kepada yang miskin dan tertindas. Daud meyakini bahwa Tuhan akan melakukan pemulihan itu. Daud yakin karena dalam pengalamannya dia sudah berulangkali menyaksikan bagaimana Allah senantiasa menepati janjinya. Daud mengungkapnya, “bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan…”.
    Pengalaman hidup kita juga mengatakan bahwa sejak dari kita dapat mengingat dan merasakan, Kuasa Tuhan-lah yang menopang hidup kita. Berbagai situasi sudah kita lalui di mana Kasih Allah nyata dalam hidup kita. Namun, di saat kesulitan hidup melanda kita, bisa jadi hati dan pikiran terfokus kepada kesulitan itu. Kita lebih memikirkan hal-hal buruk yang dapat terjadi sebagai akibat kesulitan itu. Kita sulit mengingat dan meyakini pertolongan Allah dalam hidup kita. Dalam situasi yang seperti ini, nyanyian Daud meneguhkan kita untuk percaya bahwa janji Allah tetap dapat diharapkan. Syair Lagu Pelengkap Kidung Jemaat 164, “Jalan hidup tak selalu tanpa kabut yang pekat, namun Kasih Tuhan nyata pada waktu yang tepat. Mungkin langit tak terlihat oleh awan yang tebal, diatasnyalah membusur p’langi kasih yang kekal. Habis hujan tampak p’langi, bagai kasih yang teguh. Dibalik duka menanti p’langi kasih Tuhanmu”. Amin.
  4. Ertoto
  5. Rende KEE GBKP No. 414:1,2
    1. ‘Ndiko ulina padan Tuhan e, nandangi k’rina isi jabu pe. Sangap kal jabu si malang baNdu, si nggeluh ngikutken perentahNdu. Kam Dibata si ngkelengi tetap, pasu-pasuNdu simpar tetap.
    2. ‘Ndiko ulina padan Tuhan e, nandangi k’rina isi jabu e. Sialoken ulih kelatihenta, mehuli me si kerajangenta. Kam Dibata si ngkelengi tetap, pasu-pasuNdu simpar tetap.
  6. Pertoton Syafaat ras Pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Bahan PJJ 28 Juni – 4 Juli 2020

Bahan Ogen : I Kronika 26: 29 – 32.
Tema : Ndahiken Dahin Pelayanen (Periodesasi Kepengurusan)

Shalom, Mejuah-juah.
Tema PJJnta minggu enda emekap “Ndahiken Dahin Pelayanen”. Tema enda ipalasken kubas situasi si jadi ibas kegeluhen Raja Daud. Lit dua situasi si jadi ibas pemerintahan Raja Daud.
Si pemena emekap Daud la ibere Tuhan guna mbangun rumah pertoton. Ikataken Ibas 1 Kronika 22 : 6-10, “ Kemudian dipanggilnya Salomo, anaknya, dan diberinya perintah kepadanya untuk mendirikan rumah bagi TUHAN, Allah Israel, kata Daud kepada Salomo: “Anakku, aku sendiri bermaksud hendak mendirikan rumah bagi nama TUHAN, Allahku, tetapi firman TUHAN datang kepadaku, demikian: Telah kautumpahkan sangat banyak darah dan telah kaulakukan peperangan yang besar; engkau tidak akan mendirikan rumah bagi nama-Ku, sebab sudah banyak darah kautumpahkan ke tanah di hadapan-Ku. Sesungguhnya, seorang anak laki-laki akan lahir bagimu; ia akan menjadi seorang yang dikaruniai keamanan. Aku akan mengaruniakan keamanan kepadanya dari segala musuhnya di sekeliling. Ia akan bernama Salomo; sejahtera dan sentosa akan Kuberikan atas Israel pada zamannya. Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan dialah yang akan menjadi anak-Ku dan Aku akan menjadi Bapanya; Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya atas Israel sampai selama-lamanya”. Daud mereken pedah man Salomo ibas Salomo ndahiken dahin e. Nina Daud, “ Erdahinlah guna TUHAN Dibatandu asa ukurndu lit ras tendindu lit…”( I Kronika 22:19).
Sipeduaken eme umur Daud si enggo metua. Ibas 1 Kronika 23:1-2, ikataken, “ Setelah Daud menjadi tua dan lanjut umur, maka diangkatnya Salomo menjadi raja atas Israel. Ia mengumpulkan segala pembesar Israel, juga para imam dan orang-orang Lewi”.
Sinimaksud “pembesar Israel” eme kepala keluarga bangsa Israel ras pegawai sin gurus dahin kerajaan. “ Adapun orang Israel, inilah daftar para kepala puak, para panglima pasukan seribu dan pasukan seratus dan para pengatur yang melayani raja dalam segala hal mengenai rombongan orang-orang yang bertugas dan libur, bulan demi bulan, sepanjang tahun. Setiap rombongan berjumlah dua puluh empat ribu orang”. (1Kronika 27:1)
Sinimaksud imam-imam eme kesusuren Harun, senina Musa. “ Maka semuanya itu haruslah kaukenakan kepada abangmu Harun bersama-sama dengan anak-anaknya, kemudian engkau harus mengurapi, mentahbiskan dan menguduskan mereka, sehingga mereka dapat memegang jabatan imam bagi-Ku. (Keluaren 28:41)
Sinimaksud orang-orang Lewi eme kalak siitetapken Musa guna nampati dahin imam si jadi kerajangen kesusuren Harun. Turi-turi Musa netapken Kalak Lewi erdahin tersurat ibas Keluaren 32:25-29. “ Maka berdirilah Musa di pintu gerbang perkemahan itu serta berkata: “Siapa yang memihak kepada TUHAN datanglah kepadaku!” Lalu berkumpullah kepadanya seluruh bani Lewi. Berkatalah ia kepada mereka: “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Baiklah kamu masing-masing mengikatkan pedangnya pada pinggangnya dan berjalanlah kian ke mari melalui perkemahan itu dari pintu gerbang ke pintu gerbang, dan biarlah masing-masing membunuh saudaranya dan temannya dan tetangganya.” Bani Lewi melakukan seperti yang dikatakan Musa dan pada hari itu tewaslah kira-kira tiga ribu orang dari bangsa itu. Kemudian berkatalah Musa: “Baktikanlah dirimu mulai hari ini kepada TUHAN, masing-masing dengan membayarkan jiwa anaknya laki-laki dan saudaranya yakni supaya kamu diberi berkat pada hari ini.”
Bage ibas Bilangen 3:6-9, ikataken, “ “Suruhlah suku Lewi mendekat dan menghadap imam Harun, supaya mereka melayani dia. Mereka harus mengerjakan tugas-tugas bagi Harun dan bagi segenap umat Israel di depan Kemah Pertemuan dan dengan demikian melakukan pekerjaan jabatannya pada Kemah Suci. Mereka harus memelihara segala perabotan Kemah Pertemuan, dan mengerjakan tugas-tugas bagi orang Israel dan dengan demikian melakukan pekerjaan jabatannya pada Kemah Suci. Orang Lewi harus kauserahkan kepada Harun dan anak-anaknya; dari antara orang Israel haruslah orang-orang itu diserahkan kepadanya dengan sepenuhnya”.

Ibas paksa pemerintahen Daud, kalak si enggo itetapken Musa guna erdahin ibas Kemah Perjumpaan, genduari iaturken Daud erdahin ibas Rumah Pertoton si nandangi ibangun e. Erkiteken si e, Daud netapken pembagian tugas subuk guna peribadahan bage pe pemerintahen.
Ibas bahan ogen PJJnta ikataken pendahin kalak Lewi si deban.
Ibas kesusuren Ishar ndahiken tugas administrasi; muniken surat-surat ras mberesken perkara bangsa Israel.
Ibas kesusuren Hebron eme Hasabia jadi kepala administrasi agama ras perkara-perkara rayat Israel arah Barat Lau Jordan.
Ibas Keluarga Jeria jadi kepala pengurus kerina soal agama ras perkara rayat i Israela arah Timur Lau Jordan.
Arah enda banci si nehen maka kalak si erdahin enda eme kesusuren Harun ras Kesusuren Kalak Lewi.
Ibas kegeluhennta genduari enda, salah sada ulih pendahin Yesus Kristus erbahanca maka kerina kalak si tek enggo bali i adep-adepen Dibata.
Ibas Kolose 3:11, ikataken, “ Dalam hal ini tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu”.
Ibas Galatia 3:28, ikataken, “ Dalam hal ini tidak ada orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu di dalam Kristus Yesus”.
Ibas I Petrus 2:9, ikataken, “ Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib:”.
Erkiteken si e maka kerina kalak si tek idilo guna muat bagin ndahiken dahin pelayanen e. Genduari enda, kerina kalak si tek eme si jadi imam-imam Raja, si ipilih Dibata guna meritaken perbahanen-perbahanen Dibata si mbelin. Emaka tugasta eme “ untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus, sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus”. (Epesus 4:12-13 ).
Bagenda me kita enggo ngaloken hak ras tanggungjawabta guna ndahiken dahin pelayanen e. ibas kita ndahiken dahin e, siingetlah sinikataken Daud man anakna Salomo ibas ndahiken dahin e, nina, “ Erdahinlah guna TUHAN Dibatandu asa ukurndu lit ras tendindu lit…”

Bujur, Selamat Melayani.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 27 Juni 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 339:1
    1. Mari surak, puji Tuhan endeken nde enden m’riah o surge doni ersurak kerina. Mari rende muji Ia alu ukur si meriah, puji gelarNa si Badia. La ngadi-ngadi kupuji Kam Tuhan, bas k’rina dampar kegeluhen. Ersurak m’riah pusuhku ibas Kam, terpuji Tuhan rasa lalap.
  2. Ertoto
  3. Pengogen Kata Dibata Ulangan 12:7.
    “ Di sanalah kamu makan di hadapan TUHAN, Allahmu, dan bersukaria, kamu dan seisi rumahmu, karena dalam segala usahamu engkau diberkati oleh TUHAN, Allahmu”.
    Renungen.
    Ibas kegeluhen Kalak Karo lit kebiasaan erbahan acara man ras-ras ope entah kenca dung sada-sada dahin. Secara khusus, acara man ras-ras ilakoken ibas upacara purpur sage. Purpur sage adalah upacara perdamaian antara orang yang berseteru. Tujuan upacara ini adalah untuk mengadakan perdamaian atau pemulihan keadaan yang telah terganggu karena adanya perselisihan tersebut baik bersifat duniawi maupun rohani. Salah satu bentuk pelaksanaan purpursage ini adalah dengan melaksanakan makan bersama dari satu piring yang sama. Hal ini mengambarkan kebiasaan makan bersama merupakan satu hal yang penting dalam kehidupan masyarakat Karo.
    Dalam renungan malam ini kita dapat melihat bagaimana makan bersama mendapatkan tempat yang penting dalam peribadahan orang Israel. Dibandingken dengan kebiasaan agama sekitar Israel, yang menjadikan penyembahan tugu-tugu, tiang-tiang dan patung-patung sebagai sarana pendekatan kepada allah mereka (Ulangen 12:3), bangsa Israel memperlihatkan penyembahannya kepada Allah dengan berbagai jenis korban(Ulangen12:6). Inti persembahen korban ini adalah bersukaria karena berkat-berkat Tuhan. Bangsa Israel mengakui bahwa Tuhan adalah sumber segala kesuburan dan kemakmuran alam, sehingga kesejahteraan manusia tergantung kepada Allah. Hasil berkat Allah itu nampak dalam tersedianya makanan bagi mereka. Oleh karena itu umat Tuhan bergembira memperlihatkan berkat Tuhan itu. Kegembiraan ini juga dinampakkan dalam makan bersama di hadapan Allah. Makan bersama merupakan cara pengesahan atau pembaruan perjanjian yang sangat kuno dalam kehidupan bangsa Israel. Dengan demikian persekutuan semakin diteguhkan.
    Dalam kehidupan ibadah kita saat ini, terkhusus ibadah dalam rumah tangga kita, kita tetap mengingat dan mengakui bahwa Tuhan-lah yang telah memberkati pekerjaan kita dan memberi hasil bagi kita. Kita merasakan, terkhusus makanan yang dapat kita makan bersama merupakan gambaran dari berkat Allah. Kita makan bersama dengan se isi rumah kita dengan penuh sukaria merupakan bagian ungkapan syukur kita kepada Allah. Hal ini juga akan memperteguh persekutuan kita dengan se isi rumah kita. Amin.
  4. Ertoto
  5. Rende KEE GBKP No. 354:1,2.
    1. Kam si mbelin, Kam terb’rita, Kam kap si termulia. Mehuli Kam dingen erkuasa, Kam si mada k’rina si nasa. Sinalsal keleng ate Tuhan, bagi emas si labo luntur, rejin tuhu dolatndu Tuhan, ngarak-ngarak kegeluhen.
    2. Erta-erta kebayaken, ibas Kam nari rehen. Kam merentah alu kuasa, ras gegehNdu Tuhan Dibata. Sinalsal …
  6. Pertoton Syafaat ras Pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 26 Juni 2020

  1. Rende KEE GBKP No.333:1,5
    1. Tuhan e tuhu melias perkuah. Ia ‘rbanca kita mejuah-juah. Ia me si erbanca ukur m’riah, Yesus e sinjadiken kita ‘rbuah.
    2. Si tegu k’rina temanta si kote, sibaba ku Tuhan ukurna jore. Damai biri-biri la ibas karang, taruhken ku rarasen jumpa senang.
  2. Ertoto
  3. Pengogen Kata Dibata Amsal 27:10
    “ Jangan kautinggalkan temanmu dan teman ayahmu. Jangan datang di rumah saudaramu pada waktu engkau malang. Lebih baik tetangga yang dekat dari pada saudara yang jauh”.
    Renungen
    Mungkin pernah si begi entah si idah tulisen nina, “ Mama …. la man sampaten”. Mungkin dia merasa sendirian, karena disaat dia membutuhkan pertolongan dari seseorang yang dia yakini dan dia harapkan dapat menolong dia, namun dia tidak mendapatkannya, sehingga dia mengatakan aku tidak butuh lagi pertolonganmu. Namun, kenyataannya sejak dari kandungan sampai akhir hidup kita, ada orang-orang yang berperan serta mendukung kehidupan kita, apakah mereka itu saudara sedarah atau bukan. Di dalam perjuangan hidup ini, kita menyadari bahwa kita tidak sendirian dalam memperoleh hasil yang kita terima. Ada berkat Allah yang memampukan kita, ada kerja keras yang kita lakukan dan ada teman-teman yang mendukung perjuangan kita.
    Bacaan yang menjadi renungan malam ini mengungkapkan kepada kita tentang arti sebuah pertemanan, sebuah perintah yang kita lakukan bagi mereka yang telah mendukung perjuangan hidup kita. Ini adalah perintah yang harus kita lakukan sebagai orang takut akan Allah. Perilaku orang yang berhikmat, orang yang takut akan Allah adalah mengingat teman-teman yang telah mendukung kehidupan mereka. Kita menyakini dan mensyukuri bahwa berkat Allah-lah yang telah menempatkan teman-teman yang mendukung perjuangan hidup kita. Kita mengingat kebaikan-kebaikan yang mereka lakukan dalam mendukung kehidupan kita. Sebaliknya, jangan kita meremehkan dan mengabaikan perbuatan mereka. Seakan-akan mengganggap yang mereka lakukan tidak mempunyai pengaruh dalam hidup kita. Kita dapat membayangkan pentingnya pertemanan itu di saat penderitaan. Teman dekat, bukan sekedar jarak, tetapi teman karena hubungan sosial dan emosional yang dekat, akan segera tergerak hatinya dan cepat memberi pertolongan kepada kita. Hal ini dibandingkan dengan saudara, baik dari segi jarak, hubungan sosial dan emosional, yang jauh akan susah tergerak hatinya dan lambat memberi pertolongan. Oleh karena itu, perintah ini mengatakan jangan tinggalkan teman kita, bahkan teman orang tua kita. Kita ada seperti saat ini kita adanya karena orang tua kita. Dalam kehidupan orang tua kita, untuk membesarkan kita, mereka juga memiliki teman. Dengan demikian, teman dari orang tua kita juga turut mendukung keberadaan kita sehingga kita ada seperti sekarang ini kita adanya. Kita tetap mempertahankan dan memelihara hubangan baik dengan teman-teman yang telah mendukung kehidupan kita.
    Terlebih di saat-saat ini, untuk kehadiran seorang teman dekat merupakan pendukung bagi kita untuk menjalani perjuangan hidup kita. Kita mengingat dan menjaga pertemanan kita Amin.
  4. Ertoto
  5. Rende KEE GBKP No. 175:1,4
    1. Bage pedah Tuhan, sikeleng-kelengen. Ersada ukur tetaplah, sisampat-sampaten.
    2. Bas senang tah susah, pujilah gelarNa. Ras ibas toto pindolah, tentu isampatNa.
  6. Pertoton Syafaat ras Pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 25 Juni 2020

  1. Rende KEE GBKP No.377:1,2
    1. Kuakuken me dosangku, ilebe Tuhan. Megati aku lalar bas kegeluhenku. Keleng ateNdu pengarapenku. Iteruh perkuahNdu malem me pusuhku. Keleng ateNdu pengarapenku. Iteruh perkuahNdu malem me pusuhku.
    2. Erlebuh aku baNdu o Yesus Tuhanku. Alemi min o Bapa salah ras lepakku. Keleng ateNdu pengarapenku. Tedeh ‘teku ngidah belinna perkuahNdu. Keleng ateNdu pengarapenku. Tedeh ‘teku ngidah belinna perkuahNdu.
  2. Ertoto
  3. Pengogen Kata Dibata Ratapan 3:40-41.
    “ Marilah kita menyelidiki dan memeriksa hidup kita, dan berpaling kepada TUHAN. Marilah kita mengangkat hati dan tangan kita kepada Allah di sorga”.
    Renungen
    Dalam perjalanan kehidupan ini, kita seringkali menghadapi rintangan-rintangan. Kita dapat mengatakannya bahwa rintangan ini berasal dari luar diri kita, tetapi juga mungkin berasal dari dalam diri kita. Dampak covid19 yang terjadi saat ini tidak pernah kita duga. Pandemi covid19 benar-benar memperberat kondisi kehidupan kita, baik secara ekonomi, sosial, budaya, kesehatan fisik dan mental, dan kerohanian kita. Namun demikian, kita juga perlu melihat ke dalam diri kita agar dampak covid19 dapat kita tanggung dan kita tetap bergerak maju.
    Bacaan Firman Tuhan malam hari ini berasal dari Kitab Ratapan. Latar berlakang Kitab Ratapan ini adalah kehancuran Yerusalem. “Terkenanglah Yerusalem, pada hari-hari sengsara dan penderitaannya, akan segala harta benda yang dimilikinya dahulu kala; tatkala penduduknya jatuh ke tangan lawan, dan tak ada penolong baginya, para lawan memandangnya, dan tertawa karena keruntuhannya”(Ratapan 1:7). Dalam kondisi kehancuran itu, tetap ada iman dalam diri mereka. Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya (Ratapan 3:22-24). Karena mengenal Allah yang mengasihi, maka tetap terbuka kesempatan untuk mendapatkan kembali kehidupan yang telah hancur. “Karena tidak untuk selama-lamanya Tuhan mengucilkan. Karena walau Ia mendatangkan susah, Ia juga menyayangi menurut kebesaran kasih setia-Nya”(Ratapan 3:31-32). Karena tetap terbuka bagi kita kesempatan untuk mendapatkan kasih Allah, marilah kita menyelidiki dan memeriksa hidup kita. Kita melihat kembali perjalanan hidup kita untuk menemukan tindakan-tindakan yang tidak berkenan kepada Allah. Kita mengakui kesalahan kita dan kembali menyelaraskannya dengan kehendak Allah.
    Demikian juga dalam kehidupan kita, kita tetap perlu mengevaluasi perjalanan kehidupan kita. Kita mau terbuka menyelidiki dan memeriksa hidup kita. Kita tetap mengenal hati dan pikiran kita. Kita menyelidiki jalan kita apakah tetap seperti kehendak Allah. Kita memeriksa hidup kita apakah kita tetap pada tujuan yang diinginkan Allah dalam hidup kita. Pandemi covid19 memang memberatkan hidup kita, tetapi bukan berarti kita harus kehilangan harapan, arah dan pegangan hidup kita. Kegagalan dalam hidup dapat terjadi bukan semata karena covid, tetapi bisa juga terjadi karena orang tersebut sudah kehilangan harapan dalam hidupnya. Walaupun perjuangan kita ditekan oleh pandemi ini, kita tetap bisa bergerak maju, karena tetap ada iman dan harapan akan kasih setia Tuhan yang tiada habis-habisnya. Amin.
  4. Ertoto
  5. Rende KEE GBKP No. 307:1
    1. Tuhanku, Kam me permakanku, emaka la kekurangen aku. Ku mbal mbal meratah aku babaNdu, ipesenang-senangNdu geluhku. Permakanku si njayan geluhku, malem ateku, senang tuhu. KelengNdu tetap maler man bangku. Kam me Tuhanku permakanku.
  6. Pertoton Syafaat ras Pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 24 Juni 2020

  1. Rende KEE GBKP No.71:1
    Teman si sada perukur, sindarami senang je. Kubas Yesus legi ukur, maka jumpa dame e. Ia kapen ikutenta, kita kap ngawanNa e. Tuhan Yesus kap Gurunta, kita ‘jar-ajarNa e.
  2. Ertoto
  3. Pengogen Kata Dibata I Petrus 3:8
    “Dage kedungenna ersada min ukurndu ras ersada min penggejapenndu. Sikeleng-kelengen min kam bagi ersenina dingen mesayang janah meteruk min ukurndu sekalak nandangi si debanna”.
    Renungen
    Kepada Jemaat Korintus, Paulus harus menegaskan tentang makna pemberian karunia-karunia rohani. “Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama”(1 Kor.12:7). Ternyata karunia rohani yang mereka miliki membuat seorang merasa dirinya bukan bagian tubuh (I Kor.12:15), dan yang lainnya malah mengucilkan orang dari tubuh(I Kor.12:21). Mereka mempersoalkan kepemilikan karunia-karunia rohani sebagai keutamaan kehidupan Kristen. Yang menjadi bacaan renungan malam kita ini mungkin jarang dianggap sebagai keutamaan kehidupan Kristen sehingga jarang “diperebutkan” atau “diperjuangkan”.
    Nasihat dalam surat Petrus ini bertujuan untuk menyemangati orang-orang Kristen menghadapi masalah-masalah yang nyata dan krisis yang menyerang kehidupan mereka setiap harinya. Misalnya dalam 1 Petrus 2:12, “Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka”. Cara hidup yang baik ini didasarkan pada karya Tuhan Yesus Kristus. “Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil”(I Petrus 2:23). Cara hidup baik itu adalah “ersada min ukurndu ras ersada min penggejapenndu. Sikeleng-kelengen min kam bagi ersenina dingen mesayang janah meteruk min ukurndu sekalak nandangi si debanna”.
    Saat pandemi ini, perjuangan kita untuk mendapatkan berbagai macam hal yang kita anggap sebagai hal yang utama untuk mendukung kehidupan kita terasa semakin berat. Dengan berbagai jalan kita berusaha mempertahankan kesehatan kita, usaha kita, pekerjaan kita, pencarian kita, jabatan kita, kekayaan kita, dan nama baik kita. Dapatkah kita membayangkannya, apabila segala perjuangan ini toh akan terasa hampa ketika di rumah yang ada malah caki maki, ancaman dan perbantahan. Oleh karena itu kata “kedungenna” perlu kita renungan lebih dalam. Artinya, segala perjuangan kita demi keutamaan hidup ini, pada akhirnya akan kita rasakan, pertama, dalam keluarga inti kita. Bersimpati terhadap perjuangan anggota keluarga, dapat merasakan suka duka perjuangan anggota keluarga, memberikan dorongan kasih sayang, dan saling menghargai. Jadikanlah kebersamaan menjadi modal dan kekuatan dalam menghadapi permasalahan hidup. Kebersamaan dalam keluarga membuat perjuangan yang sulit sekalipun dapat dilalui. Home sweet home
  4. Ertoto
  5. Rende KEE GBKP No. 342:1,2
    1. Yesus lape-lape tendingku, Ia njagai kita. Mberat pe si man tangkelenta, Ia njagai kita. Tuhan njagai kita, paksa senang ‘ntah mesera. Ia njagai kita. Tuhan njagai kita.
    2. Ibas melala perbebenta, Ia njagai kita. Dalan gelap arah lebenta, Ia njagai kita. Tuhan ..
  6. Pertoton Syafaat ras Pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan