Renungan Malam 6 Juli 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 249:1,3
    1. Ajar aku o Tuhanku, make Kata ras PedahNdu, kueteh payo ras sentudu, kuikukten bas geluhku. Singikut Pedah Dibata, daten me kerembakenNa. Pedah Kata tangkas k’rina, em jadi gelementa.
    2. Kekelengen ni Dibata la ersibar seh man banta. Anem papak gia kita, dalin jera tuduhkenNa. Singikut Pedah Dibata, daten me kerembakenNa. Pedah Kata tangkas…
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Mazmur 139:23-24
    “ Pepayolah aku o Dibata, tandailah pusuhku, uji dingen datkenlah perukurenku. Pepayolah ntah mawen lepak dalan si kudalani, jenari babailah aku arah dalan si tetap rasa lalap”.
    Renungen.
    Di lemari pakaian kita, kita memiliki beberapa pasang pakaian. Ketika hendak pergi keluar, kita akan mempertimbangkan pakaian mana yang harus kita pakai agar sesuai dengan tujuan kepergian kita, orang-orang yang kita temui, dan situasi kondisi tempat itu.
    Seperti sebuah proses, banyak hal yang terlibat dalam perjalanan kehidupan kita. Banyak yang dipertimbangkan dalam mengambil sebuah keputusan. Terkadang hidup tidak sejelas hitam-putih. Ada yang tampak benar tapi ternyata salah. Ada yang kelihatannya salah, tetapi ternyata itu adalah tindakan yang benar. Oleh karena itu kita perlu tetap melihat ke dalam diri kita untuk menilai motivasi, keputusan, tindakan dan hasil tindakan kita itu.
    Inilah yang dilakukan pemazmur. Dia memohon kepada Allah untuk mengenal hatinya, menguji pikiran-pikirannya, agar dia dapat kembali apabila jalannya telah serong. Bagaimana hal ini kita lakukan dalam hidup kita saat ini ?
    Nina Kata Dibata ibas Amsal 20:27, “Ibereken TUHAN man banta pusuh peraten, gelah banci si tandai dirinta jine”. Hati adalah pusat pemikiran intelektual dan emosional yang terdalam dari manusia. Dengan menaruhkan hati itu, Allah memberikan kemampuan kepada manusia untuk masuk ke dalam lubuk hatinya. Kita dimampukan untuk menguji keputusan dan tindakan yang telah kita ambil. Kita diberi kemampuan untuk mengenali bagian yang paling dalam dari diri manusia, termasuk rencana-rencananya, keputusan-keputusannya, kebahagiannya, kesalahan-kesalahannya, kesedihannya, kekhawatirannya dan ketakutannya. Kita tidak dapat menyembunyikan semua itu dari hadapan Allah, sebab Allah-lah yang memberikan hati ke dalam diri manusia. Yang kita lakukan adalah mengakuinya dan mengujinya. Memohon kepada Allah agar menerangi hati kita sehingga kita dapat bersukacita sebab tetap di jalan Allah dan apa bila kita salah, kita tahu untuk memperbaiki diri dan kembali kepada kehendak Allah.
    Dalam beberapa hari ini kita telah merenungkan bahwa perjuangan hidup kita berdasarkan berkat Allah, “akar” iman kepada Allah, dan dukungen sahabat-sahabat kita. Malam ini kita menambahkan hal menguji pikiran-pikiran kita. Perjuangan hidup kita juga ditentukan oleh kesempatan dan kemauan kita untuk menguji pikiran kita. Dalam dunia yang menawarkan berbagai argumen pembenaran atas tingkah laku manusia, kita tetap menyerahkan pimpinan hidup kita kepada kehendak Allah. Tetaplah perjuangan hidup kita di jalan yang dikehendaki Allah. Amin.
  4. Ertoto kenca renungen.
  5. Rende KEE GBKP No. 365:1,4
    1. Kudahi Kam Tuhan Dibatangku, ku penangkih totoku man baNdu. Kukataken bujur ermengkah ukurku, ibas ngaloken perkuah ateNdu. Nggo tangkas peratenNdu bas geluhku, bujur o Bapa nggo malem ateku
    2. AlokenNdu min puji sembahku, begikenlah totoku man baNdu. T’rangiNdu ‘lah min pusuh ras peratenku, kuikutken Kam segedang geluhku. Nggo tangkas peratenNdu.
  6. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 5 Juli 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 281:1,2
    1. Kek’lengen Yesus kempak manusia desken Dibata engkelengi Ia. KekelengenNa maler kap man banta adi si pakelah pedahNa. Min sikeleng-kelengen kita k’rina bagi pedahken Yesus bas pustaka. Sababna kai sipindo bas gelarNa, ib’re Dibata man banta.
    2. Ngasamken kesah nggit me kepe Ia, gelah terkelin kita manusia. Dage dalanken si ni pedahkenNa kempak temanta ise gia. Min sikeleng-kelengen …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Keluaran 17:12-13
    “ Maka penatlah tangan Musa, sebab itu mereka mengambil sebuah batu, diletakkanlah di bawahnya, supaya ia duduk di atasnya; Harun dan Hur menopang kedua belah tangannya, seorang di sisi yang satu, seorang di sisi yang lain, sehingga tangannya tidak bergerak sampai matahari terbenam. Demikianlah Yosua mengalahkan Amalek dan rakyatnya dengan mata pedang”.
    Renungen.
    Allah mengetahui bahwa manusia membutuhkan berkat Allah. Manusia mengalami keterbatasan dalam hidupnya, baik dalam kemampuan maupun kepastian masa depannya. Berkat Allah itu dinyatakan Allah dengan memberikan sahabat-sahabat dalam kehidupan manusia. Kita dapat melihat hal ini dalam perjalanan bangsa Israel di padang pasir.
    Dalam perjalanan bangsa Israel keluar dari tanah Mesir menuju tanah Kanaan, bangsa Israel diperangi bangsa Amalek. Untuk melawan bangsa Amalek ini, Musa berbagi tugas dengan Yosua. Yosua langsung berhadapan dengan tentara Amalek, sedangkan Musa, Harun dan Hur pergi ke puncak bukit. Allah memerintahkan Musa agar membawa tongkat yang dipakainya untuk memukul sungai Nil. Maka terjadilah, “ apabila Musa mengangkat tangannya, lebih kuatlah Israel, tetapi apabila ia menurunkan tangannya, lebih kuatlah Amalek”. (Keluaran 17:11). Dalam situasi ini, tangan Musa menjadi penat. Oleh karena itu Harun dan Hur berinisiatif untuk mengambil batu sebagai tempat duduk Musa, kemudian Harun dan Hur menopang tangan Musa. Demikianlah Yosua dapat mengalahkan tentara Amalek.
    Dari kisah ini kita dapat melihat, bahwa tindakan Musa yang mengangkat tongkat merupakan saluran berkat yang diberikan Allah untuk menguatkan bangsa Israel. Namun demikian, kekuatan berkat yang begitu besar, tidak sanggup ditanggung Musa sendirian. Harun dan Hur datang untuk menopang tangan Musa sehingga Yosua dan tentara Israel dapat memenangkan perang dengan bangsa Amalek.
    Kita juga membutuhkan kehadiran sahabat-sahabat kita untuk mendukung perjuangan kita. Dalam saat senang atau susah, kita juga membutuhkan sahabat-sahabat. Adi tawa pe, kita butuh teman tawa, sebab la ka bo mehuli ada sekalak ngenca kita tawa. Dalam persoalan yang berat, kita juga membutuhkan sahabat-sahabat untuk berbagi cerita tentang persoalan kita. Kita tidak sendirian menanggung beban, ada teman untuk berbagi keberatan. Kita dapat mengeluarkan pikiran berat itu, kita mendapat pencerahan dari diskusi dengan sahabat itu, dan akhirnya kita mendapat kekuatan untuk menghadapi persoalan kita itu. Dalam Amsal 17:17, dikatakan tentang keberadaan sahabat. “Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran”. Bersyukur dan berbahagia dengan kehadiran sahabat seperti ini. Cari dan jagalah persahabatan kita. Jalan berkat Allah dapat melalui kehadiran sahabat dalam hidup kita.
  4. Ertoto kenca renungen
  5. Rende KEE GBKP No.375:1,4.
    1. O Tuhan ajari kami engkelengi teman kami, si latih kote ras ndele, ngidah p’ratenNa e. Bage kap pedah Tuhanta e, sikeleng-kelengen. Bage kap pedah Tuhanta e, sisampat-sampaten.
    2. O Tuhan pengasup kami, mpegegehi ras nambari kula teman si mesui, gelah tertambari. Bage kap pedah Tuhanta e, sikeleng-kelengen. Bage kap pedah Tuhanta e, sisampat-sampaten.
  6. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 4 Juli 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 386:1,2
    1. Tuhan kap permakan geluhku, maka la kekurangen aku. Itengah mbal-mbal si meratah, geluhku ipesenangkenNdu. O Tuhan Kam penalemenku, temaniNdu ibas dalanku. Tuhu malem ate tendingku, perbahan Tuhan temanku.
    2. Kempak lau si teneng malerna, itegu-teguNa geluhku, pelimbaruiNdu gegehku dalan pinter babaNdu aku. O Tuhan Kam penalemenku …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Jeremia 17:7-8
    “ Tapi kalak si ernalem man bangKu, Kupasu-pasu ia. Ia bali ras batang kayu si turah deher lau maler, uratna njoler seh kempak lau. La aru atena tupung paksa perlego, erkiteken bulungna tetap meratah”.
    Renungen
    Beberapa hari ini kami melihat pucuk-pucuk tanaman di sekitar rumah menjadi layu. Kami berpikir hama apa yang membuat pucuk tanaman itu layu. Kami teringat sudah beberapa hari tidak hujan. Lalu pada sore harinya kami menyiram tanaman itu. Dan pada keesokan harinya, tanaman itu sudah segar kembali.
    Kehidupan manusia sering diumpamakan seperti tumbuh-tumbuhan. Allah telah memberikan potensi kehidupan dalam setiap bibit. Namun bagaimana bibit menjadi besar dan berbuah juga dipengaruhi oleh akarnya. Ketika akarnya langung bertemu dengan batu-batuan maka akar tersebut tidak akan memperoleh “makanan” dan “minuman” untuk pertumbuhannya. Tetapi jika akar bibit itu mencengkaram tanah yang baik, maka akar bibit itu akan meyalurkan “makanan” dan “minuman” bagi tumbuhan itu.
    Dalam Yeremia 17:5-8, diperbandingkan dua jenis cara kehidupan. Ayat 5-6, dikatakan tentang orang yang mengandalkan kekuatan manusia, mengandalkan kekuatannya sendiri, dan hatinya jauh dari pada Tuhan. Mereka ini seperti tanaman yang tumbuh dipadang pasir, tidak dapat menghasilkan yang baik. Sebaliknya, dalam ayat 7-8 disebutkan tentang mereka yang mengandalkan Tuhan. Mereka seperti tanaman yang ditanam di tepi aliran air. Berkat Tuhan itu seperti air yang mengalir setiap saat. Sedangkan urat itu adalah kepercayaan kita yang mengandalkan kuasa Allah. Demikianlah diumpamakan kehidupan orang yang mengandalkan Tuhan. Urat kayu itu mendapatkan “makanan” dan “minuman” dari air yang mengalir setiap saat itu. Dengan demikian, batang kayu itu dapat tumbuh dan berbuah.
    Kita juga dapat memahami fungsi “urat” berdasarkan Lukas 8:15, “Benih si ndabuh ku taneh si mehumur iandingken man kalak si megiken berita e, ibegikenna, ibunikenna ibas ukurna si mehuli dingen tetap, janah megenggeng ia seh erbuah”. Seperti akar tumbuhan yang tumbuh di tepi aliran air, demikianlah kita mendapatkan “makanan” dan “minuman” bagi pertumbuhan hidup kita dengan cara mempercayakan hidup kita kepada Firman Allah. Firman Allah memenuhi hati dan pikiran kita, dan dengan tekun kita menjalankannya sampai akhirnya memperlihatkan buahnya. Inilah jalan kehidupan kita. Berkat Allah turun atas kita dan iman kita naik kepada Allah. Amin.
  4. Ertoto kenca renungen
  5. Rende KEE GBKP No. 202:1,5
    1. Ernalem gelah man Yesus, kula ukur tendingku. Endesken geluhndu baNa, keleng ateNa bandu. Ernalem gelah, tutus min gelah. O Yesusku bahan aku ernalem gelah.
    2. Ibas picet, kesusahen, mungkuk ku adepenNa. Ola gegeh ipenalem, tapi pasu-pasuNa. Ernalem gelah, tutus min gelah. O Yesusku bahan aku ernalem gelah.
  6. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 3 Juli 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 368:1,2
    1. Si puji Tuhan Dibatanta, kataken bujur baNa. Sabab Ia si merekenca, pasu-pasu man banta. Mbelin ras mulia kekelengen Tuhan ibas doni enda. Ajari o Tuhan kami k’rina anakNdu, naksiken kerina perbahanenNdu.
    2. Geluh kami meriah tuhu, k’rina si k’rajangenNdu. Sabab kalak si nembah baNdu datken pasu-pasuNdu. Mbelin ras mulia kekelengen Tuhan ibas doni enda. Ajari o Tuhan kami k’rina anakNdu, naksiken kerina perbahanenNdu.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Ulangan 7:13
    “ Ia akan mengasihi engkau, memberkati engkau dan membuat engkau banyak; Ia akan memberkati buah kandunganmu dan hasil bumimu, gandum dan anggur serta minyakmu, anak lembu sapimu dan anak kambing dombamu, di tanah yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepadamu”.

Renungen
Kita hidup dalam dunia yang terus berubah. Kita tidak dapat memastikan apa yang kita hadapi di masa depan. Kita pasti mengharapkan yang terbaik terus terjadi dalam hidup kita. namun, kita juga tidak dapat menghindar dari saat-saat yang tidak menyenangkan dalam hidup ini. Kita menjalani hidup dalam situasi yang seperti ini. Namun demikian, kita mempunyai kekuatan dalam menjalani hidup kita itu.
Allah-lah yang menciptakan dunia ini dengan segala isinya. Dia mengetahui dan mengenal semua ciptaanNya. Dia memelihara seluruh ciptaanNya. Dia mengetahui akhir segala sesuatu. Allah mengenal dan mengetahui ketidakpastian yang dialami manusia dalam perjuangan hidup itu. Allah mengtahui bahwa kita membutuhkan berkat Allah. Oleh karena itu Allah memberikan KasihNya kepada kita. Karena Allah-lah yang menciptakan segala sesuatu, maka di dalam KasihNya terkandung semua yang kita butuhkan untuk hidup. Dalam KasihNya, Allah memberikan lebih dari yang kita tahu, yang kita butuhkan. Sedangkan kita meminta sejauh yang kita tahu hal itu kita butuhkan. Allah memberikan berkat keturuan agar tetap terjamin keberlangsungan kehidupan hidup manusia di dunia ini. Allah memberikan berkat atas pekerjaan agar kita dapat memenuhi kebutuhan hidup dan menikmati hari-hari yang diberikan Allah kepada manusia. Allah memberikan berkat tempat tinggal agar jerih payah kita mempunyai tempat istirahatnya.
Inilah yang menjadi keyakinan dan kekuatan kita dalam menghadapi perubahan yang terus terjadi dalam kehidupan kita. Walaupun perubahan terus terjadi, tetapi Allah kita tetap. Allah telah memperlengkapi kita untuk menjalani kehidupan ini. Allah tetap mengasihi dan memberkati kita. Kita menetapkan hati, pikiran, tubuh, jiwa dan roh kita untuk menjalani tugas-tugas kita. Kita tidak khwatir sebab kita bersandar pada batu karang yang teguh dalam arus perubahan dunia ini. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 164:1,2
    1. Batu mamak si nteguh, Kam kubunku si paguh. K’rina gia musuhku, la tergejap man baNdu. Tuhan Yesus ku kebuh, kawaliNdu lah aku.
    2. Labo perban gegehku, labo ban ulina ka. Tapi ban perkuahNdu, ndilo aku la lah jera. Maka dosa itebus, arah Yesus Penebus.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 2 Juli 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 168:1,2
    1. Tegu aku o Tuhanku ibas dalan mesera. La lit ngasup ras gegehku, b’re min tanNdu negusa. Roti surga, roti surga, tetap b’reken man bangku. Tetap b’reken man bangku.
    2. Lau si nggeluh b’re min elah maka aku megegeh. ‘Tah kai jadi bas geluhku, Kamlah arah lebengku. O Tuhanku, O Tuhanku, Kam me kap sekawalku, Kam me kap sekawalku.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata I Raja – Raja 2 : 3.
    “ Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan-Nya, seperti yang tertulis dalam hukum Musa, supaya engkau beruntung dalam segala yang kaulakukan dan dalam segala yang kautuju,”
    Renungen
    Kata kewajiban sering kali berkonotasi tidak menyenangkan. Misalnya, saat ini kita wajib memakai masker, wajib menjaga jarak dan wajib mencuci tangan. Hal ini mengindikasikan pengekangan kebebasan kita, menjadi beban tambahan bagi kita. Benarkah demikian ?
    Dalam renungan ini Daud mengingatkan agar Salomo menjalankan kewajibannya dengan setia kepada TUHAN, Allah. Yang menjadi kewajiban Salomo adalah hidup menurut jalan yang ditunjukkan Allah, mengikuti ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan Allah. Mengapa Daud mengingatkan agar Salomo melaksanakan kewajibannya dengan setia ? Dikatakan dalam ayat 3 ini, supaya engkau beruntung ( sangap) dalam segala yang kau lakukan dan dalam segala yang kau tuju. Ternyata menjalankan kewajiban dengan setia dapat mendatangkan keberuntungan (kesangapen). Mengapa penting keberuntungan bagi Salomo ? Kewajiban yang dilaksanakan Salomo tidak hanya berdampak kepada dirinya saja tetapi juga berdampak bagi orang lain. Tentunya, sebagai Raja yang akan menggantikan bapaknya, Daud, keberuntungan yang dialami Salomo akan turut berdampak dalam kehidupan rakyatnya, bangsa Israel. Ini sangat penting agar rakyat dalam pemerintahan Salomo merasakan kesejahteraan.
    Kewajiban jangan hanya kita lihat sebagai sebuah pengekangan terhadap kebebasan kita. Kewajiban itu seperti sebuah cara yang membentuk kita supaya berkembang. Dengan melaksanakan kewajiban berarti ada yang menjadi pengendali terhadap perjalanan kehidupan kita. Kita sejak dini dapat menghindarkan diri dari hal-hal yang merusak perjalanan hidup kita. Dengan melakukan kewajiban, kita berusaha memakai semua yang kita miliki agar terlaksana apa yang menjadi kewajiban kita itu. Dengan melaksanakan kewajiban berarti kita ikut bertanggungjawab terhadap kehidupan yang lain. Dengan cara seperti inilah kita melihat kewajiban dalam hidup kita. Termasuk pe ibas ndalanken kai siipedahken Dibata man banta. Kita tidak lagi mengganggap kewajiban melakukan Perintah Allah Dibata sebagai beban tetapi kita merasakan kewajiban itu untuk membimbing kita menuju keberuntungan hidup (kesangapen). Amin.
  4. Ertoto kenca renungen
  5. Rende KEE GBKP No. 379:1,2
    1. Tuhan tetap nemani geluhku dingen mereken dalan man bangku. Ernalem gelah tetap ras ertoto man baNa. Tuhan tetap nemani geluhku.
    2. Tuhan tetap nemani geluhku. Dingen mereken dalan man bangku. Tedeh ate tendingku ngidah kemulianNdu. Tuhan tetap nemani geluhku.
  6. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 1 Juli 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 369:1,2
    1. O Dibata Kam pengarapenku, malem kal ateku ibahanNdu. Perban e kupuji Kam Tuhanku, rasa lalap seh rasa lalap.
    2. O Tuhan, Kam me kap kecionku. Tupung aku ‘bas kiniseranku. Perban e kupuji Kam Tuhanku, rasa lalap seh rasa lalap.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata : Yesaya 20:5-6
    “ Maka orang akan terkejut dan malu karena Etiopia, pokok pengharapan mereka, dan karena Mesir, kebanggaan mereka. Dan penduduk tanah pesisir ini akan berkata pada waktu itu: Lihat, beginilah nasib orang-orang yang kami harapkan, kepada siapa kami melarikan diri minta pertolongan supaya diselamatkan dari raja Asyur. Bagaimana mungkin kami terluput?”

Renungen
Seseorang menceritakan pengalamannya saat gagal masuk Perguruan Tinggi. Setelah tamat SMA, dia mengikuti ujian masuk perguruan tinggi jurusan D3 Perbankan. Selama ini, dia harus bekerja di sawah di bawah terik matahari setelah selesai jam sekolah. Bayangannya, bila dia lulus D3 Perbankan, maka dia akan bekerja di bank, duduk-duduk dalam ruangan ber-AC, tidak lagi di sawah di bawah terik matahari. Tetapi, ternyata dia gagal masuk jurusan D3 Perbankan. Pada saat itu dia merasa kehilangan harapan. Namun, pada saat ini dia sangat berbahagia dengan pekerjaannya. Mungkin banyak dari kita yang mengalami saat di mana sesuatu yang diharapkan itu tidak terwujud dan sesuatu yang kita banggakan malah mengecewakan kita. Bagaimana rasanya? Tentunya sangat menyedihkan.
Inilah yang dialami bangsa Israel. Mereka mengharapkan pertolongan dari negara Etopia dan Mesir untuk melepaskan mereka dari kekuasaan Asyur. Mereka meyakini kekuatan perang Etopia dan Mesir sanggup mengalahkan kekuatan perang Asyur. Dengan demikian, jika mereka bergabung dengan kekuatan Etopia dan Mesir, bangsa Israel akan bebas dari Asyur. Namun yang terjadi malah bangsa Etopia dan Mesir yang kalah dari Asyur. Hal ini bukan saja mengecewakan tapi juga menakutkan sebab mengancam keselamatan nyawa mereka. Kemungkinannya Asyur akan melakukan tindakan yang lebih keji, lebih menghancurkan bangsa Israel. Di balik pengharapan yang yang memalukan dan menakutkan itu, justru yang terjadi lebih mengherankan mereka. Tanpa bantuan Etopia dan Mesir, bangsa Israel terluput dari Asyur.
Apa yang kita peroleh dalam hidup ini sering mencenggangkan kita. Kita berpikir pekerjaan ini akan menjadi penopang kehidupan kita. Maka ketika pekerjaan itu gagal, kita merasa seluruh hidup kita juga gagal. Namun, pada saat yang seperti ini kita merasa keanehan hidup. Kita mendapati hidup kita masih bisa bertahan, melanjutkan hidup dan mendapatkan sesuatu yang melebihi harapan kita. Ini bukanlah kebetulan atau keberuntungan hidup. Inilah kekuasaan Allah yang tidak terduga. Firman Allah dalam Roma 11:33, “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” Hal ini yang menjadikan kita tidak berputusasa dalam hidup ini. Kita tetap berpengharapan kepada Allah. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 335:1,2
    1. Tuhanku si ngaturkenca, Tuhanku si ngajarisa, Tuhanku jadi gurungku, ibas kerina geluhku.
    2. La lit ngasup ras gegehku, ndalani wari-waringku, tundalenku kap Dibata si perkuah ras erkuasa.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 30 Juni 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 290:1,2
    1. Labo erkiteken beluhku. Labo erkiteken pentarku. Tapi perbahan penampatndu. Mbelin tergejap bas geluhku.
    2. Labo erkiteken dahinku. Labo erkiteken pangkatku. Tapi perbahan perkuahNdu. Malem ateku tuhu-tuhu.
  2. Ertoto
  3. Pengogen Kata Dibata Pengerana 9:11
    “ Lit denga si kuidah i bas doni enda eme : i bas perlumbaan labo lalap si meter kiam si menang, i bas pertempuren labo lalap kalak si megegeh si menang. Labo kalak pentar lalap si jumpa pencarin, janah labo kalak cerdik rusur ndatken kebayaken. Bage pe labo kalak si mbages pemetehna si terberita. Tapi kerina nge kalak banci kena sial”.
    Renungen
    Sepertinya tidak ada manusia yang menginginkan kegagalan. Manusia berusaha mendapatkan keberhasilan dalam hidupnya. Manusia membuat perhitungan sebaik mungkin dan berhati-hati dalam mengambil keputusan. Namun sehebat apa pun perhitungan dan kehati-hatian manusia, kegagalan dapat saja terjadi. Ada saja fakto-faktor di luar jangkau perkiraan manusia yang mengakibatkan kegagalan dalam hidup ini. Misalnya, pandemi covid-19 yang terjadi saat ini, benar-benar di luar jangkauan perkiraan kita. Rencana-rencana yang telah kita perhitungkan, keputusan-keputusan yang kita buat dengaan hati-hati, ternyata tidak dapat mencegah berantakannya pekerjaan kita. Inilah yang diungkapkan dalam Kitab Pengkotbah 9:11.
    Bacaan kita malam ini memperlihatkan salah satu kenyataan hidup. Kita tidak dapat memastikan apa yang akan terjadi pada masa depan hidup kita. Kita tidak dapat memastikan apa yang akan kita dapatkan dengan mengandalkan kecepatan, kekuatan, kepintaran, hikmat, kecerdasan dan cerdik. Jangkauan otak kita tidak dapat menghitung semua hal yang turut berproses dalam hidup kita. Kita tidak tahu kapan waktunya kita akan mengalami kegagalan. Ada banyak bahaya yang mengancam dan mengagalkan usaha kita. Jika demikian keadaannya, lalu bagaimana lagi kita menjalani hidup ini ?
    Sepintas apa yang dinyatakan dalam bacaan ini dapat saja membuat kita pesimis dalam hidup ini. Kita bertanya, untuk apa kita mengusahakan kecepatan, kekuatan, kepintaran, hikmat, kecerdasan dan cerdik, kalau ternyata kita bisa juga gagal. Apa yang diungkapkan Pengkotbah ini bukannya untuk membuat kita pesimis. Pernyataan membuat kita sadar bahwa manusia adalah mahkluk yang terbatas. Manusia bisa saja gagal dalam hidupnya. Jika kita telah mengerahkan kecepatan, kekuatan, kepintaran, hikmat, kecerdasan dan cerdik, namun kita tetap mengalami kegagalan, inilah kenyataan bahwa manusia makhluk terbatas. Kenyataan ini, justru membuat kita harus memiliki “tempat aman” bila semua itu terjadi. “Tempat” yang dapat membuat kita menerima kenyataan bahwa kita mengalami kegagalan namun kita tetap memiliki semangat untuk terus berjuang dalam hidup ini. Tempat itu adalah persekutuan dengan Allah. Dengan persekutuan dengan Allah kita mampu berserah diri dan menerima kenyataan ini. Persekutuan dengan Allah memberi pengharapan baru bagi kita, bahwa ada kuasa Allah yang tetap bertindak dalam hidup kita. Amin.
  4. Ertoto
  5. Rende KEE GBKP No. 334:1
    1. Tuhan kap si empuna geluhta, gegehta Ia si merekenca. Kiniteken pe ras pemetehta, e pe Ia si njujurkenca. Ia ka psi erbanca kita sangap, tetaplah man ia kita ngarap. ‘Di reh susah b’rena dalan pulah, tendi kula mejuah-juah.
    2. Dage tetaplah bulat ukurta. Geluhta pe lalap min erguna. Lagu langkah pe la sia-sia. Gelar Tuhanlah ermulia. Adi jumpa kita si mesera, pengarapen ula kel min pera. Kune riah ukur kita jumpa, nehken bujur ula kel lupa.
  6. Pertoton Syafaat ras Pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 29 Juni 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 212:1,4
    1. Perkuah ate si mbelin. Nemani geluhku. Ije me aku erdalin. Teruh perkuahNdu.
    2. Perkuah ate si mbelin. Si mahan dame e. Bengketi pusuh kami min. ‘Lah kami senang je.
  2. Ertoto
  3. Pengogen Kata Dibata Mazmur 63 :7-8
    “ Tupung aku tayang i das ingan medemku, kuinget Kam, gedang-gedang berngi rukur aku kerna Kam. Sabab Kam kap si nggo nampati aku, iteruh kabengNdu rende aku perban riahna”.
    Renungen.
    Sebagai makhluk yang diberikan Allah akal pikiran, maka ada saja yang kita pikirkan dalam hidup ini. Terkadang kita tidak dapat mengendalikan pikiran kita. Ninta ibas ukurta, “ah, lanai gia padah ku ukurken”, tetapi kenyataannya, sampai tengah malam pikiran itu tetap bertahan dalam otak kita. Ketika banyak persoalan membebani pikiran kita, seringkali yang kita lakukan adalah mendaftarkan persoalan-persoalan kita. Kita membayangkan dan menambahkan akibat-akibat yang menyeramkan yang mungkin terjadi bila persoalan itu benar-benar terjadi atau permasalahan itu tidak dapat diselesaikan.
    Melalui renungan malam ini, kita diingatkan untuk lebih memikirkan pertolongan Allah dalam hidup kita. Daud mengatakan, “Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau”( Mazmur 63:4) Daud begitu menghargai kasih setia Allah itu. Karena begitu berharganya kasih setia Allah itu, sehingga persoalan-persoalan yang dia hadapi tidak dapat membuatnya lupa akan kasih setia Allah dalam hidupnya. Daud menaikkan puji-pujian bagi Allah. Lebih dari itu, Daud membawa ingatan akan kasih setia Allah itu ke tempat tidur. Sepanjang malam dia memikirkan keajaiban dari kasih setia Allah.
    Apa yang dilakukan Daud ini bukan sekedar pengisi waktu di saat mata belum bisa terpejam. Yang dilakukan Daud merupakan cara dalam menghadapi kehidupan ini. Ketimbang kita memikirkan hal-hal yang menakutkan diri kita, yang sebenarnya itu juga masih sebatas reka-rekaan otak kita saja, lebih baik kita memikirkan kasih Allah di tempat tidur kita. Kasih setia Allah yang telah nyata mengasihi perjalanan hidup kita, kita imani bahwa kasih setia Allah itu akan tetap dinyatakannya bagi kita. Dengan mengingat kasih setia Allah, kita punya pengharapan bahwa Allah tetap mengasihi kita. Dengan mengingat dan memikirkan kasih setia Allah maka jiwa, roh dan tubuh kita akan disegarkan. Bangun pagi, tubuh akan terasa segar dan penuh semangat. Sebaliknya, pikiran-pikiran yang menakutkaan akan menguras energi kita, membuat kita lemas dan kehilangan gairah dalam kehidupan ini. Dengan mengingat kasih setia Allah, kita di pimpin untuk lebih mengasihi si pemberi dari pada apa yang diberikan kepada kita. Dengan demikian, apa pun yang menjadi persoalan hidup kita, tidak akan dapat membuat kita lupa kepada Allah. Apakah kita mendapatkan yang kita inginkan atau kita tidak mendapatkan yang kita inginkan, kita tetap mengingat kasih setia Allah. Hal ini membawa kita kepada pengakuan, “kekelengenNdu si tetap ergan asangken kesah”. Amin.
  4. Ertoto
  5. Rende KEE GBKP No. 388:1,2
    1. Tupung tayang aku nginget kam, gedang berngi kuukuri Kam, sabab Kam si nampati aku. O Dibata tedeh teku Kam. O Dibata , Kam kap Dibatangku, kudahi tedeh ateku Kam. Mesikel aku nandangi Kam, desken taneh si enggo kerah, bage me muasna tendingku man baNdu Tuhan Dibatangku.
    2. Sabab Kam si nampati aku, teruh kabengNdu rende aku. ‘di ras Kam meriah ukurku, o Dibata Kam sekawalku. O Dibata , Kam kap Dibatangku, kudahi tedeh ateku Kam. Mesikel aku nandangi Kam, desken taneh si enggo kerah, bage me muasna tendingku man baNdu Tuhan Dibatangku.
  6. Pertoton Syafaat ras Pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan