Renungan Malam 3 Juli 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 368:1,2
    1. Si puji Tuhan Dibatanta, kataken bujur baNa. Sabab Ia si merekenca, pasu-pasu man banta. Mbelin ras mulia kekelengen Tuhan ibas doni enda. Ajari o Tuhan kami k’rina anakNdu, naksiken kerina perbahanenNdu.
    2. Geluh kami meriah tuhu, k’rina si k’rajangenNdu. Sabab kalak si nembah baNdu datken pasu-pasuNdu. Mbelin ras mulia kekelengen Tuhan ibas doni enda. Ajari o Tuhan kami k’rina anakNdu, naksiken kerina perbahanenNdu.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Ulangan 7:13
    “ Ia akan mengasihi engkau, memberkati engkau dan membuat engkau banyak; Ia akan memberkati buah kandunganmu dan hasil bumimu, gandum dan anggur serta minyakmu, anak lembu sapimu dan anak kambing dombamu, di tanah yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepadamu”.

Renungen
Kita hidup dalam dunia yang terus berubah. Kita tidak dapat memastikan apa yang kita hadapi di masa depan. Kita pasti mengharapkan yang terbaik terus terjadi dalam hidup kita. namun, kita juga tidak dapat menghindar dari saat-saat yang tidak menyenangkan dalam hidup ini. Kita menjalani hidup dalam situasi yang seperti ini. Namun demikian, kita mempunyai kekuatan dalam menjalani hidup kita itu.
Allah-lah yang menciptakan dunia ini dengan segala isinya. Dia mengetahui dan mengenal semua ciptaanNya. Dia memelihara seluruh ciptaanNya. Dia mengetahui akhir segala sesuatu. Allah mengenal dan mengetahui ketidakpastian yang dialami manusia dalam perjuangan hidup itu. Allah mengtahui bahwa kita membutuhkan berkat Allah. Oleh karena itu Allah memberikan KasihNya kepada kita. Karena Allah-lah yang menciptakan segala sesuatu, maka di dalam KasihNya terkandung semua yang kita butuhkan untuk hidup. Dalam KasihNya, Allah memberikan lebih dari yang kita tahu, yang kita butuhkan. Sedangkan kita meminta sejauh yang kita tahu hal itu kita butuhkan. Allah memberikan berkat keturuan agar tetap terjamin keberlangsungan kehidupan hidup manusia di dunia ini. Allah memberikan berkat atas pekerjaan agar kita dapat memenuhi kebutuhan hidup dan menikmati hari-hari yang diberikan Allah kepada manusia. Allah memberikan berkat tempat tinggal agar jerih payah kita mempunyai tempat istirahatnya.
Inilah yang menjadi keyakinan dan kekuatan kita dalam menghadapi perubahan yang terus terjadi dalam kehidupan kita. Walaupun perubahan terus terjadi, tetapi Allah kita tetap. Allah telah memperlengkapi kita untuk menjalani kehidupan ini. Allah tetap mengasihi dan memberkati kita. Kita menetapkan hati, pikiran, tubuh, jiwa dan roh kita untuk menjalani tugas-tugas kita. Kita tidak khwatir sebab kita bersandar pada batu karang yang teguh dalam arus perubahan dunia ini. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 164:1,2
    1. Batu mamak si nteguh, Kam kubunku si paguh. K’rina gia musuhku, la tergejap man baNdu. Tuhan Yesus ku kebuh, kawaliNdu lah aku.
    2. Labo perban gegehku, labo ban ulina ka. Tapi ban perkuahNdu, ndilo aku la lah jera. Maka dosa itebus, arah Yesus Penebus.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 2 Juli 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 168:1,2
    1. Tegu aku o Tuhanku ibas dalan mesera. La lit ngasup ras gegehku, b’re min tanNdu negusa. Roti surga, roti surga, tetap b’reken man bangku. Tetap b’reken man bangku.
    2. Lau si nggeluh b’re min elah maka aku megegeh. ‘Tah kai jadi bas geluhku, Kamlah arah lebengku. O Tuhanku, O Tuhanku, Kam me kap sekawalku, Kam me kap sekawalku.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata I Raja – Raja 2 : 3.
    “ Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan-Nya, seperti yang tertulis dalam hukum Musa, supaya engkau beruntung dalam segala yang kaulakukan dan dalam segala yang kautuju,”
    Renungen
    Kata kewajiban sering kali berkonotasi tidak menyenangkan. Misalnya, saat ini kita wajib memakai masker, wajib menjaga jarak dan wajib mencuci tangan. Hal ini mengindikasikan pengekangan kebebasan kita, menjadi beban tambahan bagi kita. Benarkah demikian ?
    Dalam renungan ini Daud mengingatkan agar Salomo menjalankan kewajibannya dengan setia kepada TUHAN, Allah. Yang menjadi kewajiban Salomo adalah hidup menurut jalan yang ditunjukkan Allah, mengikuti ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan Allah. Mengapa Daud mengingatkan agar Salomo melaksanakan kewajibannya dengan setia ? Dikatakan dalam ayat 3 ini, supaya engkau beruntung ( sangap) dalam segala yang kau lakukan dan dalam segala yang kau tuju. Ternyata menjalankan kewajiban dengan setia dapat mendatangkan keberuntungan (kesangapen). Mengapa penting keberuntungan bagi Salomo ? Kewajiban yang dilaksanakan Salomo tidak hanya berdampak kepada dirinya saja tetapi juga berdampak bagi orang lain. Tentunya, sebagai Raja yang akan menggantikan bapaknya, Daud, keberuntungan yang dialami Salomo akan turut berdampak dalam kehidupan rakyatnya, bangsa Israel. Ini sangat penting agar rakyat dalam pemerintahan Salomo merasakan kesejahteraan.
    Kewajiban jangan hanya kita lihat sebagai sebuah pengekangan terhadap kebebasan kita. Kewajiban itu seperti sebuah cara yang membentuk kita supaya berkembang. Dengan melaksanakan kewajiban berarti ada yang menjadi pengendali terhadap perjalanan kehidupan kita. Kita sejak dini dapat menghindarkan diri dari hal-hal yang merusak perjalanan hidup kita. Dengan melakukan kewajiban, kita berusaha memakai semua yang kita miliki agar terlaksana apa yang menjadi kewajiban kita itu. Dengan melaksanakan kewajiban berarti kita ikut bertanggungjawab terhadap kehidupan yang lain. Dengan cara seperti inilah kita melihat kewajiban dalam hidup kita. Termasuk pe ibas ndalanken kai siipedahken Dibata man banta. Kita tidak lagi mengganggap kewajiban melakukan Perintah Allah Dibata sebagai beban tetapi kita merasakan kewajiban itu untuk membimbing kita menuju keberuntungan hidup (kesangapen). Amin.
  4. Ertoto kenca renungen
  5. Rende KEE GBKP No. 379:1,2
    1. Tuhan tetap nemani geluhku dingen mereken dalan man bangku. Ernalem gelah tetap ras ertoto man baNa. Tuhan tetap nemani geluhku.
    2. Tuhan tetap nemani geluhku. Dingen mereken dalan man bangku. Tedeh ate tendingku ngidah kemulianNdu. Tuhan tetap nemani geluhku.
  6. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 1 Juli 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 369:1,2
    1. O Dibata Kam pengarapenku, malem kal ateku ibahanNdu. Perban e kupuji Kam Tuhanku, rasa lalap seh rasa lalap.
    2. O Tuhan, Kam me kap kecionku. Tupung aku ‘bas kiniseranku. Perban e kupuji Kam Tuhanku, rasa lalap seh rasa lalap.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata : Yesaya 20:5-6
    “ Maka orang akan terkejut dan malu karena Etiopia, pokok pengharapan mereka, dan karena Mesir, kebanggaan mereka. Dan penduduk tanah pesisir ini akan berkata pada waktu itu: Lihat, beginilah nasib orang-orang yang kami harapkan, kepada siapa kami melarikan diri minta pertolongan supaya diselamatkan dari raja Asyur. Bagaimana mungkin kami terluput?”

Renungen
Seseorang menceritakan pengalamannya saat gagal masuk Perguruan Tinggi. Setelah tamat SMA, dia mengikuti ujian masuk perguruan tinggi jurusan D3 Perbankan. Selama ini, dia harus bekerja di sawah di bawah terik matahari setelah selesai jam sekolah. Bayangannya, bila dia lulus D3 Perbankan, maka dia akan bekerja di bank, duduk-duduk dalam ruangan ber-AC, tidak lagi di sawah di bawah terik matahari. Tetapi, ternyata dia gagal masuk jurusan D3 Perbankan. Pada saat itu dia merasa kehilangan harapan. Namun, pada saat ini dia sangat berbahagia dengan pekerjaannya. Mungkin banyak dari kita yang mengalami saat di mana sesuatu yang diharapkan itu tidak terwujud dan sesuatu yang kita banggakan malah mengecewakan kita. Bagaimana rasanya? Tentunya sangat menyedihkan.
Inilah yang dialami bangsa Israel. Mereka mengharapkan pertolongan dari negara Etopia dan Mesir untuk melepaskan mereka dari kekuasaan Asyur. Mereka meyakini kekuatan perang Etopia dan Mesir sanggup mengalahkan kekuatan perang Asyur. Dengan demikian, jika mereka bergabung dengan kekuatan Etopia dan Mesir, bangsa Israel akan bebas dari Asyur. Namun yang terjadi malah bangsa Etopia dan Mesir yang kalah dari Asyur. Hal ini bukan saja mengecewakan tapi juga menakutkan sebab mengancam keselamatan nyawa mereka. Kemungkinannya Asyur akan melakukan tindakan yang lebih keji, lebih menghancurkan bangsa Israel. Di balik pengharapan yang yang memalukan dan menakutkan itu, justru yang terjadi lebih mengherankan mereka. Tanpa bantuan Etopia dan Mesir, bangsa Israel terluput dari Asyur.
Apa yang kita peroleh dalam hidup ini sering mencenggangkan kita. Kita berpikir pekerjaan ini akan menjadi penopang kehidupan kita. Maka ketika pekerjaan itu gagal, kita merasa seluruh hidup kita juga gagal. Namun, pada saat yang seperti ini kita merasa keanehan hidup. Kita mendapati hidup kita masih bisa bertahan, melanjutkan hidup dan mendapatkan sesuatu yang melebihi harapan kita. Ini bukanlah kebetulan atau keberuntungan hidup. Inilah kekuasaan Allah yang tidak terduga. Firman Allah dalam Roma 11:33, “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” Hal ini yang menjadikan kita tidak berputusasa dalam hidup ini. Kita tetap berpengharapan kepada Allah. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen
  2. Rende KEE GBKP No. 335:1,2
    1. Tuhanku si ngaturkenca, Tuhanku si ngajarisa, Tuhanku jadi gurungku, ibas kerina geluhku.
    2. La lit ngasup ras gegehku, ndalani wari-waringku, tundalenku kap Dibata si perkuah ras erkuasa.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 30 Juni 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 290:1,2
    1. Labo erkiteken beluhku. Labo erkiteken pentarku. Tapi perbahan penampatndu. Mbelin tergejap bas geluhku.
    2. Labo erkiteken dahinku. Labo erkiteken pangkatku. Tapi perbahan perkuahNdu. Malem ateku tuhu-tuhu.
  2. Ertoto
  3. Pengogen Kata Dibata Pengerana 9:11
    “ Lit denga si kuidah i bas doni enda eme : i bas perlumbaan labo lalap si meter kiam si menang, i bas pertempuren labo lalap kalak si megegeh si menang. Labo kalak pentar lalap si jumpa pencarin, janah labo kalak cerdik rusur ndatken kebayaken. Bage pe labo kalak si mbages pemetehna si terberita. Tapi kerina nge kalak banci kena sial”.
    Renungen
    Sepertinya tidak ada manusia yang menginginkan kegagalan. Manusia berusaha mendapatkan keberhasilan dalam hidupnya. Manusia membuat perhitungan sebaik mungkin dan berhati-hati dalam mengambil keputusan. Namun sehebat apa pun perhitungan dan kehati-hatian manusia, kegagalan dapat saja terjadi. Ada saja fakto-faktor di luar jangkau perkiraan manusia yang mengakibatkan kegagalan dalam hidup ini. Misalnya, pandemi covid-19 yang terjadi saat ini, benar-benar di luar jangkauan perkiraan kita. Rencana-rencana yang telah kita perhitungkan, keputusan-keputusan yang kita buat dengaan hati-hati, ternyata tidak dapat mencegah berantakannya pekerjaan kita. Inilah yang diungkapkan dalam Kitab Pengkotbah 9:11.
    Bacaan kita malam ini memperlihatkan salah satu kenyataan hidup. Kita tidak dapat memastikan apa yang akan terjadi pada masa depan hidup kita. Kita tidak dapat memastikan apa yang akan kita dapatkan dengan mengandalkan kecepatan, kekuatan, kepintaran, hikmat, kecerdasan dan cerdik. Jangkauan otak kita tidak dapat menghitung semua hal yang turut berproses dalam hidup kita. Kita tidak tahu kapan waktunya kita akan mengalami kegagalan. Ada banyak bahaya yang mengancam dan mengagalkan usaha kita. Jika demikian keadaannya, lalu bagaimana lagi kita menjalani hidup ini ?
    Sepintas apa yang dinyatakan dalam bacaan ini dapat saja membuat kita pesimis dalam hidup ini. Kita bertanya, untuk apa kita mengusahakan kecepatan, kekuatan, kepintaran, hikmat, kecerdasan dan cerdik, kalau ternyata kita bisa juga gagal. Apa yang diungkapkan Pengkotbah ini bukannya untuk membuat kita pesimis. Pernyataan membuat kita sadar bahwa manusia adalah mahkluk yang terbatas. Manusia bisa saja gagal dalam hidupnya. Jika kita telah mengerahkan kecepatan, kekuatan, kepintaran, hikmat, kecerdasan dan cerdik, namun kita tetap mengalami kegagalan, inilah kenyataan bahwa manusia makhluk terbatas. Kenyataan ini, justru membuat kita harus memiliki “tempat aman” bila semua itu terjadi. “Tempat” yang dapat membuat kita menerima kenyataan bahwa kita mengalami kegagalan namun kita tetap memiliki semangat untuk terus berjuang dalam hidup ini. Tempat itu adalah persekutuan dengan Allah. Dengan persekutuan dengan Allah kita mampu berserah diri dan menerima kenyataan ini. Persekutuan dengan Allah memberi pengharapan baru bagi kita, bahwa ada kuasa Allah yang tetap bertindak dalam hidup kita. Amin.
  4. Ertoto
  5. Rende KEE GBKP No. 334:1
    1. Tuhan kap si empuna geluhta, gegehta Ia si merekenca. Kiniteken pe ras pemetehta, e pe Ia si njujurkenca. Ia ka psi erbanca kita sangap, tetaplah man ia kita ngarap. ‘Di reh susah b’rena dalan pulah, tendi kula mejuah-juah.
    2. Dage tetaplah bulat ukurta. Geluhta pe lalap min erguna. Lagu langkah pe la sia-sia. Gelar Tuhanlah ermulia. Adi jumpa kita si mesera, pengarapen ula kel min pera. Kune riah ukur kita jumpa, nehken bujur ula kel lupa.
  6. Pertoton Syafaat ras Pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 29 Juni 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 212:1,4
    1. Perkuah ate si mbelin. Nemani geluhku. Ije me aku erdalin. Teruh perkuahNdu.
    2. Perkuah ate si mbelin. Si mahan dame e. Bengketi pusuh kami min. ‘Lah kami senang je.
  2. Ertoto
  3. Pengogen Kata Dibata Mazmur 63 :7-8
    “ Tupung aku tayang i das ingan medemku, kuinget Kam, gedang-gedang berngi rukur aku kerna Kam. Sabab Kam kap si nggo nampati aku, iteruh kabengNdu rende aku perban riahna”.
    Renungen.
    Sebagai makhluk yang diberikan Allah akal pikiran, maka ada saja yang kita pikirkan dalam hidup ini. Terkadang kita tidak dapat mengendalikan pikiran kita. Ninta ibas ukurta, “ah, lanai gia padah ku ukurken”, tetapi kenyataannya, sampai tengah malam pikiran itu tetap bertahan dalam otak kita. Ketika banyak persoalan membebani pikiran kita, seringkali yang kita lakukan adalah mendaftarkan persoalan-persoalan kita. Kita membayangkan dan menambahkan akibat-akibat yang menyeramkan yang mungkin terjadi bila persoalan itu benar-benar terjadi atau permasalahan itu tidak dapat diselesaikan.
    Melalui renungan malam ini, kita diingatkan untuk lebih memikirkan pertolongan Allah dalam hidup kita. Daud mengatakan, “Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau”( Mazmur 63:4) Daud begitu menghargai kasih setia Allah itu. Karena begitu berharganya kasih setia Allah itu, sehingga persoalan-persoalan yang dia hadapi tidak dapat membuatnya lupa akan kasih setia Allah dalam hidupnya. Daud menaikkan puji-pujian bagi Allah. Lebih dari itu, Daud membawa ingatan akan kasih setia Allah itu ke tempat tidur. Sepanjang malam dia memikirkan keajaiban dari kasih setia Allah.
    Apa yang dilakukan Daud ini bukan sekedar pengisi waktu di saat mata belum bisa terpejam. Yang dilakukan Daud merupakan cara dalam menghadapi kehidupan ini. Ketimbang kita memikirkan hal-hal yang menakutkan diri kita, yang sebenarnya itu juga masih sebatas reka-rekaan otak kita saja, lebih baik kita memikirkan kasih Allah di tempat tidur kita. Kasih setia Allah yang telah nyata mengasihi perjalanan hidup kita, kita imani bahwa kasih setia Allah itu akan tetap dinyatakannya bagi kita. Dengan mengingat kasih setia Allah, kita punya pengharapan bahwa Allah tetap mengasihi kita. Dengan mengingat dan memikirkan kasih setia Allah maka jiwa, roh dan tubuh kita akan disegarkan. Bangun pagi, tubuh akan terasa segar dan penuh semangat. Sebaliknya, pikiran-pikiran yang menakutkaan akan menguras energi kita, membuat kita lemas dan kehilangan gairah dalam kehidupan ini. Dengan mengingat kasih setia Allah, kita di pimpin untuk lebih mengasihi si pemberi dari pada apa yang diberikan kepada kita. Dengan demikian, apa pun yang menjadi persoalan hidup kita, tidak akan dapat membuat kita lupa kepada Allah. Apakah kita mendapatkan yang kita inginkan atau kita tidak mendapatkan yang kita inginkan, kita tetap mengingat kasih setia Allah. Hal ini membawa kita kepada pengakuan, “kekelengenNdu si tetap ergan asangken kesah”. Amin.
  4. Ertoto
  5. Rende KEE GBKP No. 388:1,2
    1. Tupung tayang aku nginget kam, gedang berngi kuukuri Kam, sabab Kam si nampati aku. O Dibata tedeh teku Kam. O Dibata , Kam kap Dibatangku, kudahi tedeh ateku Kam. Mesikel aku nandangi Kam, desken taneh si enggo kerah, bage me muasna tendingku man baNdu Tuhan Dibatangku.
    2. Sabab Kam si nampati aku, teruh kabengNdu rende aku. ‘di ras Kam meriah ukurku, o Dibata Kam sekawalku. O Dibata , Kam kap Dibatangku, kudahi tedeh ateku Kam. Mesikel aku nandangi Kam, desken taneh si enggo kerah, bage me muasna tendingku man baNdu Tuhan Dibatangku.
  6. Pertoton Syafaat ras Pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 28 Juni 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 451:1,2.
    1. Malerlah pasu-pasuNdu, bagi ni padankenNdu. Gegeh ras ukur si paguh tetap ib’rekenNdu. Pasu-pasuNdu em ulu gegeh kami. Enggo kap maler me tuhu si ‘ndemi geluh kami.
    2. Malerlah pasu-pasuNdu g’luh kami jadi mbaru. Sorana bagi lau maler mpeteneng ukur kami. Pasu-pasuNdu em ulu gegeh kami. Enggo kap maler me tuhu si ‘ndemi geluh kami.
  2. Ertoto
  3. Pengogen Kata Dibata Mazmur 12:7
    “ Padan TUHAN terteki kap sabab tulen bali ras pirak si nggo pitu kali iane ”.
    Renungen
    Ibas sada penggejapenna Ayub ngerana nina, “Apakah kekuatanku, sehingga aku sanggup bertahan, dan apakah masa depanku, sehingga aku harus bersabar? Apakah kekuatanku seperti kekuatan batu? Apakah tubuhku dari tembaga?” Penderitaan yang dialami Ayub sungguh luar biasa. Karena beratnya penderitaannya, Ayub sudah mempertanyakan kemampuannya untuk bertahan. Apakah tubuhnya masih kuat untuk menahankan beratnya penderitannya ? Tidak hanya tubuhnya yang dia rasakan tidak kuat lagi, tetapi dia juga sudah merasakan bahwa tidak ada lagi masa depannya. Dia tidak lagi melihat adanya pemulihan terhadap keadaannya sehingga untuk apa lagi bersabar menunggu masa depannya.
    Masing-masing kita juga punya pengalaman penderitaan. Dan tiap-tiap kita, mungkin merasa penderitaan kita yang paling berat. Namun, dalam penderitaan itu apakah kita tetap meyakini janji Tuhan ?
    Dalam Mazmur 12 ini, Daud menghadapi situasi di mana orang-orang benar sudah habis (1) sedangkan orang-orang jahat sudah merajalela (8). Orang-orang menyombongkan mulutnya dan mengganggap bahwa dengan mulutnya mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan (5). Dalam situasi seperti ini, di mana kejahatan sudah merajalela, Daud tetap punya pengharapan bahwa Kuasa Tuhan akan membungkan mulut yang congkak itu. Daud percaya Tuhan melihat penderitaan orang miskin dan yang tertindas dan memberikan ketenangan kepada yang miskin dan tertindas. Daud meyakini bahwa Tuhan akan melakukan pemulihan itu. Daud yakin karena dalam pengalamannya dia sudah berulangkali menyaksikan bagaimana Allah senantiasa menepati janjinya. Daud mengungkapnya, “bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan…”.
    Pengalaman hidup kita juga mengatakan bahwa sejak dari kita dapat mengingat dan merasakan, Kuasa Tuhan-lah yang menopang hidup kita. Berbagai situasi sudah kita lalui di mana Kasih Allah nyata dalam hidup kita. Namun, di saat kesulitan hidup melanda kita, bisa jadi hati dan pikiran terfokus kepada kesulitan itu. Kita lebih memikirkan hal-hal buruk yang dapat terjadi sebagai akibat kesulitan itu. Kita sulit mengingat dan meyakini pertolongan Allah dalam hidup kita. Dalam situasi yang seperti ini, nyanyian Daud meneguhkan kita untuk percaya bahwa janji Allah tetap dapat diharapkan. Syair Lagu Pelengkap Kidung Jemaat 164, “Jalan hidup tak selalu tanpa kabut yang pekat, namun Kasih Tuhan nyata pada waktu yang tepat. Mungkin langit tak terlihat oleh awan yang tebal, diatasnyalah membusur p’langi kasih yang kekal. Habis hujan tampak p’langi, bagai kasih yang teguh. Dibalik duka menanti p’langi kasih Tuhanmu”. Amin.
  4. Ertoto
  5. Rende KEE GBKP No. 414:1,2
    1. ‘Ndiko ulina padan Tuhan e, nandangi k’rina isi jabu pe. Sangap kal jabu si malang baNdu, si nggeluh ngikutken perentahNdu. Kam Dibata si ngkelengi tetap, pasu-pasuNdu simpar tetap.
    2. ‘Ndiko ulina padan Tuhan e, nandangi k’rina isi jabu e. Sialoken ulih kelatihenta, mehuli me si kerajangenta. Kam Dibata si ngkelengi tetap, pasu-pasuNdu simpar tetap.
  6. Pertoton Syafaat ras Pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 27 Juni 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 339:1
    1. Mari surak, puji Tuhan endeken nde enden m’riah o surge doni ersurak kerina. Mari rende muji Ia alu ukur si meriah, puji gelarNa si Badia. La ngadi-ngadi kupuji Kam Tuhan, bas k’rina dampar kegeluhen. Ersurak m’riah pusuhku ibas Kam, terpuji Tuhan rasa lalap.
  2. Ertoto
  3. Pengogen Kata Dibata Ulangan 12:7.
    “ Di sanalah kamu makan di hadapan TUHAN, Allahmu, dan bersukaria, kamu dan seisi rumahmu, karena dalam segala usahamu engkau diberkati oleh TUHAN, Allahmu”.
    Renungen.
    Ibas kegeluhen Kalak Karo lit kebiasaan erbahan acara man ras-ras ope entah kenca dung sada-sada dahin. Secara khusus, acara man ras-ras ilakoken ibas upacara purpur sage. Purpur sage adalah upacara perdamaian antara orang yang berseteru. Tujuan upacara ini adalah untuk mengadakan perdamaian atau pemulihan keadaan yang telah terganggu karena adanya perselisihan tersebut baik bersifat duniawi maupun rohani. Salah satu bentuk pelaksanaan purpursage ini adalah dengan melaksanakan makan bersama dari satu piring yang sama. Hal ini mengambarkan kebiasaan makan bersama merupakan satu hal yang penting dalam kehidupan masyarakat Karo.
    Dalam renungan malam ini kita dapat melihat bagaimana makan bersama mendapatkan tempat yang penting dalam peribadahan orang Israel. Dibandingken dengan kebiasaan agama sekitar Israel, yang menjadikan penyembahan tugu-tugu, tiang-tiang dan patung-patung sebagai sarana pendekatan kepada allah mereka (Ulangen 12:3), bangsa Israel memperlihatkan penyembahannya kepada Allah dengan berbagai jenis korban(Ulangen12:6). Inti persembahen korban ini adalah bersukaria karena berkat-berkat Tuhan. Bangsa Israel mengakui bahwa Tuhan adalah sumber segala kesuburan dan kemakmuran alam, sehingga kesejahteraan manusia tergantung kepada Allah. Hasil berkat Allah itu nampak dalam tersedianya makanan bagi mereka. Oleh karena itu umat Tuhan bergembira memperlihatkan berkat Tuhan itu. Kegembiraan ini juga dinampakkan dalam makan bersama di hadapan Allah. Makan bersama merupakan cara pengesahan atau pembaruan perjanjian yang sangat kuno dalam kehidupan bangsa Israel. Dengan demikian persekutuan semakin diteguhkan.
    Dalam kehidupan ibadah kita saat ini, terkhusus ibadah dalam rumah tangga kita, kita tetap mengingat dan mengakui bahwa Tuhan-lah yang telah memberkati pekerjaan kita dan memberi hasil bagi kita. Kita merasakan, terkhusus makanan yang dapat kita makan bersama merupakan gambaran dari berkat Allah. Kita makan bersama dengan se isi rumah kita dengan penuh sukaria merupakan bagian ungkapan syukur kita kepada Allah. Hal ini juga akan memperteguh persekutuan kita dengan se isi rumah kita. Amin.
  4. Ertoto
  5. Rende KEE GBKP No. 354:1,2.
    1. Kam si mbelin, Kam terb’rita, Kam kap si termulia. Mehuli Kam dingen erkuasa, Kam si mada k’rina si nasa. Sinalsal keleng ate Tuhan, bagi emas si labo luntur, rejin tuhu dolatndu Tuhan, ngarak-ngarak kegeluhen.
    2. Erta-erta kebayaken, ibas Kam nari rehen. Kam merentah alu kuasa, ras gegehNdu Tuhan Dibata. Sinalsal …
  6. Pertoton Syafaat ras Pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 26 Juni 2020

  1. Rende KEE GBKP No.333:1,5
    1. Tuhan e tuhu melias perkuah. Ia ‘rbanca kita mejuah-juah. Ia me si erbanca ukur m’riah, Yesus e sinjadiken kita ‘rbuah.
    2. Si tegu k’rina temanta si kote, sibaba ku Tuhan ukurna jore. Damai biri-biri la ibas karang, taruhken ku rarasen jumpa senang.
  2. Ertoto
  3. Pengogen Kata Dibata Amsal 27:10
    “ Jangan kautinggalkan temanmu dan teman ayahmu. Jangan datang di rumah saudaramu pada waktu engkau malang. Lebih baik tetangga yang dekat dari pada saudara yang jauh”.
    Renungen
    Mungkin pernah si begi entah si idah tulisen nina, “ Mama …. la man sampaten”. Mungkin dia merasa sendirian, karena disaat dia membutuhkan pertolongan dari seseorang yang dia yakini dan dia harapkan dapat menolong dia, namun dia tidak mendapatkannya, sehingga dia mengatakan aku tidak butuh lagi pertolonganmu. Namun, kenyataannya sejak dari kandungan sampai akhir hidup kita, ada orang-orang yang berperan serta mendukung kehidupan kita, apakah mereka itu saudara sedarah atau bukan. Di dalam perjuangan hidup ini, kita menyadari bahwa kita tidak sendirian dalam memperoleh hasil yang kita terima. Ada berkat Allah yang memampukan kita, ada kerja keras yang kita lakukan dan ada teman-teman yang mendukung perjuangan kita.
    Bacaan yang menjadi renungan malam ini mengungkapkan kepada kita tentang arti sebuah pertemanan, sebuah perintah yang kita lakukan bagi mereka yang telah mendukung perjuangan hidup kita. Ini adalah perintah yang harus kita lakukan sebagai orang takut akan Allah. Perilaku orang yang berhikmat, orang yang takut akan Allah adalah mengingat teman-teman yang telah mendukung kehidupan mereka. Kita menyakini dan mensyukuri bahwa berkat Allah-lah yang telah menempatkan teman-teman yang mendukung perjuangan hidup kita. Kita mengingat kebaikan-kebaikan yang mereka lakukan dalam mendukung kehidupan kita. Sebaliknya, jangan kita meremehkan dan mengabaikan perbuatan mereka. Seakan-akan mengganggap yang mereka lakukan tidak mempunyai pengaruh dalam hidup kita. Kita dapat membayangkan pentingnya pertemanan itu di saat penderitaan. Teman dekat, bukan sekedar jarak, tetapi teman karena hubungan sosial dan emosional yang dekat, akan segera tergerak hatinya dan cepat memberi pertolongan kepada kita. Hal ini dibandingkan dengan saudara, baik dari segi jarak, hubungan sosial dan emosional, yang jauh akan susah tergerak hatinya dan lambat memberi pertolongan. Oleh karena itu, perintah ini mengatakan jangan tinggalkan teman kita, bahkan teman orang tua kita. Kita ada seperti saat ini kita adanya karena orang tua kita. Dalam kehidupan orang tua kita, untuk membesarkan kita, mereka juga memiliki teman. Dengan demikian, teman dari orang tua kita juga turut mendukung keberadaan kita sehingga kita ada seperti sekarang ini kita adanya. Kita tetap mempertahankan dan memelihara hubangan baik dengan teman-teman yang telah mendukung kehidupan kita.
    Terlebih di saat-saat ini, untuk kehadiran seorang teman dekat merupakan pendukung bagi kita untuk menjalani perjuangan hidup kita. Kita mengingat dan menjaga pertemanan kita Amin.
  4. Ertoto
  5. Rende KEE GBKP No. 175:1,4
    1. Bage pedah Tuhan, sikeleng-kelengen. Ersada ukur tetaplah, sisampat-sampaten.
    2. Bas senang tah susah, pujilah gelarNa. Ras ibas toto pindolah, tentu isampatNa.
  6. Pertoton Syafaat ras Pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan