Renungan Malam 28 Juni 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 451:1,2.
    1. Malerlah pasu-pasuNdu, bagi ni padankenNdu. Gegeh ras ukur si paguh tetap ib’rekenNdu. Pasu-pasuNdu em ulu gegeh kami. Enggo kap maler me tuhu si ‘ndemi geluh kami.
    2. Malerlah pasu-pasuNdu g’luh kami jadi mbaru. Sorana bagi lau maler mpeteneng ukur kami. Pasu-pasuNdu em ulu gegeh kami. Enggo kap maler me tuhu si ‘ndemi geluh kami.
  2. Ertoto
  3. Pengogen Kata Dibata Mazmur 12:7
    “ Padan TUHAN terteki kap sabab tulen bali ras pirak si nggo pitu kali iane ”.
    Renungen
    Ibas sada penggejapenna Ayub ngerana nina, “Apakah kekuatanku, sehingga aku sanggup bertahan, dan apakah masa depanku, sehingga aku harus bersabar? Apakah kekuatanku seperti kekuatan batu? Apakah tubuhku dari tembaga?” Penderitaan yang dialami Ayub sungguh luar biasa. Karena beratnya penderitaannya, Ayub sudah mempertanyakan kemampuannya untuk bertahan. Apakah tubuhnya masih kuat untuk menahankan beratnya penderitannya ? Tidak hanya tubuhnya yang dia rasakan tidak kuat lagi, tetapi dia juga sudah merasakan bahwa tidak ada lagi masa depannya. Dia tidak lagi melihat adanya pemulihan terhadap keadaannya sehingga untuk apa lagi bersabar menunggu masa depannya.
    Masing-masing kita juga punya pengalaman penderitaan. Dan tiap-tiap kita, mungkin merasa penderitaan kita yang paling berat. Namun, dalam penderitaan itu apakah kita tetap meyakini janji Tuhan ?
    Dalam Mazmur 12 ini, Daud menghadapi situasi di mana orang-orang benar sudah habis (1) sedangkan orang-orang jahat sudah merajalela (8). Orang-orang menyombongkan mulutnya dan mengganggap bahwa dengan mulutnya mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan (5). Dalam situasi seperti ini, di mana kejahatan sudah merajalela, Daud tetap punya pengharapan bahwa Kuasa Tuhan akan membungkan mulut yang congkak itu. Daud percaya Tuhan melihat penderitaan orang miskin dan yang tertindas dan memberikan ketenangan kepada yang miskin dan tertindas. Daud meyakini bahwa Tuhan akan melakukan pemulihan itu. Daud yakin karena dalam pengalamannya dia sudah berulangkali menyaksikan bagaimana Allah senantiasa menepati janjinya. Daud mengungkapnya, “bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan…”.
    Pengalaman hidup kita juga mengatakan bahwa sejak dari kita dapat mengingat dan merasakan, Kuasa Tuhan-lah yang menopang hidup kita. Berbagai situasi sudah kita lalui di mana Kasih Allah nyata dalam hidup kita. Namun, di saat kesulitan hidup melanda kita, bisa jadi hati dan pikiran terfokus kepada kesulitan itu. Kita lebih memikirkan hal-hal buruk yang dapat terjadi sebagai akibat kesulitan itu. Kita sulit mengingat dan meyakini pertolongan Allah dalam hidup kita. Dalam situasi yang seperti ini, nyanyian Daud meneguhkan kita untuk percaya bahwa janji Allah tetap dapat diharapkan. Syair Lagu Pelengkap Kidung Jemaat 164, “Jalan hidup tak selalu tanpa kabut yang pekat, namun Kasih Tuhan nyata pada waktu yang tepat. Mungkin langit tak terlihat oleh awan yang tebal, diatasnyalah membusur p’langi kasih yang kekal. Habis hujan tampak p’langi, bagai kasih yang teguh. Dibalik duka menanti p’langi kasih Tuhanmu”. Amin.
  4. Ertoto
  5. Rende KEE GBKP No. 414:1,2
    1. ‘Ndiko ulina padan Tuhan e, nandangi k’rina isi jabu pe. Sangap kal jabu si malang baNdu, si nggeluh ngikutken perentahNdu. Kam Dibata si ngkelengi tetap, pasu-pasuNdu simpar tetap.
    2. ‘Ndiko ulina padan Tuhan e, nandangi k’rina isi jabu e. Sialoken ulih kelatihenta, mehuli me si kerajangenta. Kam Dibata si ngkelengi tetap, pasu-pasuNdu simpar tetap.
  6. Pertoton Syafaat ras Pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 27 Juni 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 339:1
    1. Mari surak, puji Tuhan endeken nde enden m’riah o surge doni ersurak kerina. Mari rende muji Ia alu ukur si meriah, puji gelarNa si Badia. La ngadi-ngadi kupuji Kam Tuhan, bas k’rina dampar kegeluhen. Ersurak m’riah pusuhku ibas Kam, terpuji Tuhan rasa lalap.
  2. Ertoto
  3. Pengogen Kata Dibata Ulangan 12:7.
    “ Di sanalah kamu makan di hadapan TUHAN, Allahmu, dan bersukaria, kamu dan seisi rumahmu, karena dalam segala usahamu engkau diberkati oleh TUHAN, Allahmu”.
    Renungen.
    Ibas kegeluhen Kalak Karo lit kebiasaan erbahan acara man ras-ras ope entah kenca dung sada-sada dahin. Secara khusus, acara man ras-ras ilakoken ibas upacara purpur sage. Purpur sage adalah upacara perdamaian antara orang yang berseteru. Tujuan upacara ini adalah untuk mengadakan perdamaian atau pemulihan keadaan yang telah terganggu karena adanya perselisihan tersebut baik bersifat duniawi maupun rohani. Salah satu bentuk pelaksanaan purpursage ini adalah dengan melaksanakan makan bersama dari satu piring yang sama. Hal ini mengambarkan kebiasaan makan bersama merupakan satu hal yang penting dalam kehidupan masyarakat Karo.
    Dalam renungan malam ini kita dapat melihat bagaimana makan bersama mendapatkan tempat yang penting dalam peribadahan orang Israel. Dibandingken dengan kebiasaan agama sekitar Israel, yang menjadikan penyembahan tugu-tugu, tiang-tiang dan patung-patung sebagai sarana pendekatan kepada allah mereka (Ulangen 12:3), bangsa Israel memperlihatkan penyembahannya kepada Allah dengan berbagai jenis korban(Ulangen12:6). Inti persembahen korban ini adalah bersukaria karena berkat-berkat Tuhan. Bangsa Israel mengakui bahwa Tuhan adalah sumber segala kesuburan dan kemakmuran alam, sehingga kesejahteraan manusia tergantung kepada Allah. Hasil berkat Allah itu nampak dalam tersedianya makanan bagi mereka. Oleh karena itu umat Tuhan bergembira memperlihatkan berkat Tuhan itu. Kegembiraan ini juga dinampakkan dalam makan bersama di hadapan Allah. Makan bersama merupakan cara pengesahan atau pembaruan perjanjian yang sangat kuno dalam kehidupan bangsa Israel. Dengan demikian persekutuan semakin diteguhkan.
    Dalam kehidupan ibadah kita saat ini, terkhusus ibadah dalam rumah tangga kita, kita tetap mengingat dan mengakui bahwa Tuhan-lah yang telah memberkati pekerjaan kita dan memberi hasil bagi kita. Kita merasakan, terkhusus makanan yang dapat kita makan bersama merupakan gambaran dari berkat Allah. Kita makan bersama dengan se isi rumah kita dengan penuh sukaria merupakan bagian ungkapan syukur kita kepada Allah. Hal ini juga akan memperteguh persekutuan kita dengan se isi rumah kita. Amin.
  4. Ertoto
  5. Rende KEE GBKP No. 354:1,2.
    1. Kam si mbelin, Kam terb’rita, Kam kap si termulia. Mehuli Kam dingen erkuasa, Kam si mada k’rina si nasa. Sinalsal keleng ate Tuhan, bagi emas si labo luntur, rejin tuhu dolatndu Tuhan, ngarak-ngarak kegeluhen.
    2. Erta-erta kebayaken, ibas Kam nari rehen. Kam merentah alu kuasa, ras gegehNdu Tuhan Dibata. Sinalsal …
  6. Pertoton Syafaat ras Pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 26 Juni 2020

  1. Rende KEE GBKP No.333:1,5
    1. Tuhan e tuhu melias perkuah. Ia ‘rbanca kita mejuah-juah. Ia me si erbanca ukur m’riah, Yesus e sinjadiken kita ‘rbuah.
    2. Si tegu k’rina temanta si kote, sibaba ku Tuhan ukurna jore. Damai biri-biri la ibas karang, taruhken ku rarasen jumpa senang.
  2. Ertoto
  3. Pengogen Kata Dibata Amsal 27:10
    “ Jangan kautinggalkan temanmu dan teman ayahmu. Jangan datang di rumah saudaramu pada waktu engkau malang. Lebih baik tetangga yang dekat dari pada saudara yang jauh”.
    Renungen
    Mungkin pernah si begi entah si idah tulisen nina, “ Mama …. la man sampaten”. Mungkin dia merasa sendirian, karena disaat dia membutuhkan pertolongan dari seseorang yang dia yakini dan dia harapkan dapat menolong dia, namun dia tidak mendapatkannya, sehingga dia mengatakan aku tidak butuh lagi pertolonganmu. Namun, kenyataannya sejak dari kandungan sampai akhir hidup kita, ada orang-orang yang berperan serta mendukung kehidupan kita, apakah mereka itu saudara sedarah atau bukan. Di dalam perjuangan hidup ini, kita menyadari bahwa kita tidak sendirian dalam memperoleh hasil yang kita terima. Ada berkat Allah yang memampukan kita, ada kerja keras yang kita lakukan dan ada teman-teman yang mendukung perjuangan kita.
    Bacaan yang menjadi renungan malam ini mengungkapkan kepada kita tentang arti sebuah pertemanan, sebuah perintah yang kita lakukan bagi mereka yang telah mendukung perjuangan hidup kita. Ini adalah perintah yang harus kita lakukan sebagai orang takut akan Allah. Perilaku orang yang berhikmat, orang yang takut akan Allah adalah mengingat teman-teman yang telah mendukung kehidupan mereka. Kita menyakini dan mensyukuri bahwa berkat Allah-lah yang telah menempatkan teman-teman yang mendukung perjuangan hidup kita. Kita mengingat kebaikan-kebaikan yang mereka lakukan dalam mendukung kehidupan kita. Sebaliknya, jangan kita meremehkan dan mengabaikan perbuatan mereka. Seakan-akan mengganggap yang mereka lakukan tidak mempunyai pengaruh dalam hidup kita. Kita dapat membayangkan pentingnya pertemanan itu di saat penderitaan. Teman dekat, bukan sekedar jarak, tetapi teman karena hubungan sosial dan emosional yang dekat, akan segera tergerak hatinya dan cepat memberi pertolongan kepada kita. Hal ini dibandingkan dengan saudara, baik dari segi jarak, hubungan sosial dan emosional, yang jauh akan susah tergerak hatinya dan lambat memberi pertolongan. Oleh karena itu, perintah ini mengatakan jangan tinggalkan teman kita, bahkan teman orang tua kita. Kita ada seperti saat ini kita adanya karena orang tua kita. Dalam kehidupan orang tua kita, untuk membesarkan kita, mereka juga memiliki teman. Dengan demikian, teman dari orang tua kita juga turut mendukung keberadaan kita sehingga kita ada seperti sekarang ini kita adanya. Kita tetap mempertahankan dan memelihara hubangan baik dengan teman-teman yang telah mendukung kehidupan kita.
    Terlebih di saat-saat ini, untuk kehadiran seorang teman dekat merupakan pendukung bagi kita untuk menjalani perjuangan hidup kita. Kita mengingat dan menjaga pertemanan kita Amin.
  4. Ertoto
  5. Rende KEE GBKP No. 175:1,4
    1. Bage pedah Tuhan, sikeleng-kelengen. Ersada ukur tetaplah, sisampat-sampaten.
    2. Bas senang tah susah, pujilah gelarNa. Ras ibas toto pindolah, tentu isampatNa.
  6. Pertoton Syafaat ras Pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 25 Juni 2020

  1. Rende KEE GBKP No.377:1,2
    1. Kuakuken me dosangku, ilebe Tuhan. Megati aku lalar bas kegeluhenku. Keleng ateNdu pengarapenku. Iteruh perkuahNdu malem me pusuhku. Keleng ateNdu pengarapenku. Iteruh perkuahNdu malem me pusuhku.
    2. Erlebuh aku baNdu o Yesus Tuhanku. Alemi min o Bapa salah ras lepakku. Keleng ateNdu pengarapenku. Tedeh ‘teku ngidah belinna perkuahNdu. Keleng ateNdu pengarapenku. Tedeh ‘teku ngidah belinna perkuahNdu.
  2. Ertoto
  3. Pengogen Kata Dibata Ratapan 3:40-41.
    “ Marilah kita menyelidiki dan memeriksa hidup kita, dan berpaling kepada TUHAN. Marilah kita mengangkat hati dan tangan kita kepada Allah di sorga”.
    Renungen
    Dalam perjalanan kehidupan ini, kita seringkali menghadapi rintangan-rintangan. Kita dapat mengatakannya bahwa rintangan ini berasal dari luar diri kita, tetapi juga mungkin berasal dari dalam diri kita. Dampak covid19 yang terjadi saat ini tidak pernah kita duga. Pandemi covid19 benar-benar memperberat kondisi kehidupan kita, baik secara ekonomi, sosial, budaya, kesehatan fisik dan mental, dan kerohanian kita. Namun demikian, kita juga perlu melihat ke dalam diri kita agar dampak covid19 dapat kita tanggung dan kita tetap bergerak maju.
    Bacaan Firman Tuhan malam hari ini berasal dari Kitab Ratapan. Latar berlakang Kitab Ratapan ini adalah kehancuran Yerusalem. “Terkenanglah Yerusalem, pada hari-hari sengsara dan penderitaannya, akan segala harta benda yang dimilikinya dahulu kala; tatkala penduduknya jatuh ke tangan lawan, dan tak ada penolong baginya, para lawan memandangnya, dan tertawa karena keruntuhannya”(Ratapan 1:7). Dalam kondisi kehancuran itu, tetap ada iman dalam diri mereka. Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya (Ratapan 3:22-24). Karena mengenal Allah yang mengasihi, maka tetap terbuka kesempatan untuk mendapatkan kembali kehidupan yang telah hancur. “Karena tidak untuk selama-lamanya Tuhan mengucilkan. Karena walau Ia mendatangkan susah, Ia juga menyayangi menurut kebesaran kasih setia-Nya”(Ratapan 3:31-32). Karena tetap terbuka bagi kita kesempatan untuk mendapatkan kasih Allah, marilah kita menyelidiki dan memeriksa hidup kita. Kita melihat kembali perjalanan hidup kita untuk menemukan tindakan-tindakan yang tidak berkenan kepada Allah. Kita mengakui kesalahan kita dan kembali menyelaraskannya dengan kehendak Allah.
    Demikian juga dalam kehidupan kita, kita tetap perlu mengevaluasi perjalanan kehidupan kita. Kita mau terbuka menyelidiki dan memeriksa hidup kita. Kita tetap mengenal hati dan pikiran kita. Kita menyelidiki jalan kita apakah tetap seperti kehendak Allah. Kita memeriksa hidup kita apakah kita tetap pada tujuan yang diinginkan Allah dalam hidup kita. Pandemi covid19 memang memberatkan hidup kita, tetapi bukan berarti kita harus kehilangan harapan, arah dan pegangan hidup kita. Kegagalan dalam hidup dapat terjadi bukan semata karena covid, tetapi bisa juga terjadi karena orang tersebut sudah kehilangan harapan dalam hidupnya. Walaupun perjuangan kita ditekan oleh pandemi ini, kita tetap bisa bergerak maju, karena tetap ada iman dan harapan akan kasih setia Tuhan yang tiada habis-habisnya. Amin.
  4. Ertoto
  5. Rende KEE GBKP No. 307:1
    1. Tuhanku, Kam me permakanku, emaka la kekurangen aku. Ku mbal mbal meratah aku babaNdu, ipesenang-senangNdu geluhku. Permakanku si njayan geluhku, malem ateku, senang tuhu. KelengNdu tetap maler man bangku. Kam me Tuhanku permakanku.
  6. Pertoton Syafaat ras Pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 24 Juni 2020

  1. Rende KEE GBKP No.71:1
    Teman si sada perukur, sindarami senang je. Kubas Yesus legi ukur, maka jumpa dame e. Ia kapen ikutenta, kita kap ngawanNa e. Tuhan Yesus kap Gurunta, kita ‘jar-ajarNa e.
  2. Ertoto
  3. Pengogen Kata Dibata I Petrus 3:8
    “Dage kedungenna ersada min ukurndu ras ersada min penggejapenndu. Sikeleng-kelengen min kam bagi ersenina dingen mesayang janah meteruk min ukurndu sekalak nandangi si debanna”.
    Renungen
    Kepada Jemaat Korintus, Paulus harus menegaskan tentang makna pemberian karunia-karunia rohani. “Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama”(1 Kor.12:7). Ternyata karunia rohani yang mereka miliki membuat seorang merasa dirinya bukan bagian tubuh (I Kor.12:15), dan yang lainnya malah mengucilkan orang dari tubuh(I Kor.12:21). Mereka mempersoalkan kepemilikan karunia-karunia rohani sebagai keutamaan kehidupan Kristen. Yang menjadi bacaan renungan malam kita ini mungkin jarang dianggap sebagai keutamaan kehidupan Kristen sehingga jarang “diperebutkan” atau “diperjuangkan”.
    Nasihat dalam surat Petrus ini bertujuan untuk menyemangati orang-orang Kristen menghadapi masalah-masalah yang nyata dan krisis yang menyerang kehidupan mereka setiap harinya. Misalnya dalam 1 Petrus 2:12, “Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka”. Cara hidup yang baik ini didasarkan pada karya Tuhan Yesus Kristus. “Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil”(I Petrus 2:23). Cara hidup baik itu adalah “ersada min ukurndu ras ersada min penggejapenndu. Sikeleng-kelengen min kam bagi ersenina dingen mesayang janah meteruk min ukurndu sekalak nandangi si debanna”.
    Saat pandemi ini, perjuangan kita untuk mendapatkan berbagai macam hal yang kita anggap sebagai hal yang utama untuk mendukung kehidupan kita terasa semakin berat. Dengan berbagai jalan kita berusaha mempertahankan kesehatan kita, usaha kita, pekerjaan kita, pencarian kita, jabatan kita, kekayaan kita, dan nama baik kita. Dapatkah kita membayangkannya, apabila segala perjuangan ini toh akan terasa hampa ketika di rumah yang ada malah caki maki, ancaman dan perbantahan. Oleh karena itu kata “kedungenna” perlu kita renungan lebih dalam. Artinya, segala perjuangan kita demi keutamaan hidup ini, pada akhirnya akan kita rasakan, pertama, dalam keluarga inti kita. Bersimpati terhadap perjuangan anggota keluarga, dapat merasakan suka duka perjuangan anggota keluarga, memberikan dorongan kasih sayang, dan saling menghargai. Jadikanlah kebersamaan menjadi modal dan kekuatan dalam menghadapi permasalahan hidup. Kebersamaan dalam keluarga membuat perjuangan yang sulit sekalipun dapat dilalui. Home sweet home
  4. Ertoto
  5. Rende KEE GBKP No. 342:1,2
    1. Yesus lape-lape tendingku, Ia njagai kita. Mberat pe si man tangkelenta, Ia njagai kita. Tuhan njagai kita, paksa senang ‘ntah mesera. Ia njagai kita. Tuhan njagai kita.
    2. Ibas melala perbebenta, Ia njagai kita. Dalan gelap arah lebenta, Ia njagai kita. Tuhan ..
  6. Pertoton Syafaat ras Pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 23 Juni 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 302:1
    1. Nginget perkuah Dibata si mbelin, siisehkenNa man banta k’rina kin. Ibas kerina dampar kegeluhen, i doni si dem alu keguluten. Endeskenlah kulanta man Dibata, kerinana si lit ibas geluhta. Selaku persembahennta si nggeluh, em persembahen si ngena ateNa.
  2. Ertoto
  3. Pengogen Kata Dibata Roma 12:3
    “ Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing”.
    Renungen
    Saat ini kita sering melihat lomba-lomba pencarian bakat bermunculan. Demikian juga, media sosial seakan-akan menjadi alat atau arena diluar lomba-lomba pencarian bakat itu untuk memperlihatkan kemampuan-kemampuan yang mereka miliki. Terkadang hal itu dapat memicu semangat kita untuk meraih cita-cita kita, tetapi hal itu juga dapat membuat seseorang menjadi minder. Bagaimana kita memahami perbedaan-perbedaan yang ada dalam kehidupan kita ini ?
    Pasal 12 dalam Kitab Roma ini berbicara tentang “memanfaatkan dengan baik karunia-karunia rohani”. Sebagai orang yang telah menerima anugerah keselamatan maka orang-orang percaya hendaklah mempersembahken diri mereka sebagai korban kepada Allah, tidak menjadi serupa dengan dunia ini, dan memberikan diri kita diperbaharui Roh Allah. Ketiga hal ini diperlihatkan dalam memahami dan mempergunakan karunia-karunia rohani yang dimiliki oleh Jemaat Roma. Pada saat itu, berkembang pola pikir tentang kehormatan seseorang. Kehormatan dicapai dengan mengorbankan kehormatan orang lain. Terjadi perlombaan dalam memperoleh dan mempertahankan kehormatan. Karunia-karunia rohani yang dimiliki jemaat dapat saja dijadiken seperti mencari kehormatan. Hal ini dapat mengakibatkan kecemburuan yang picik, rasa rendah diri dan penghormatan yang salah terhadap orang-orang terkemuka. Oleh karena itu Paulus mengajak jemaat Roma untuk menilai semua itu berdasarkan ukuran Iman. Artinya kita menyadari bahwa diri kita adalah orang yang telah diselamatkan Allah dari hukuman dosa. Dan kepada orang yang diselamatkan itu, Allah telah memberikan karunia rohani menurut pemberian Allah. Kesadaran ini akan membuat kita rendah hati. Kita tidak rendah diri dengan yang kita miliki. Atau sebaliknya merendahkan orang lain. Setiap orang di dalam jemaat hendaklah mempunyai pemahaman bahwa setiap orang itu mempunyai peranannya dan partisipasinya di dalam “tubuh”. Dengan demikian kita dapat sehati-sepikir, satu jiwa dan satu tujuan.
    Demikianlah dalam hidup kita, walaupun terdapat banyak perbedaan kemampuan. Kita terima itu dalam iman. Apa yang ada pada kita tidaklah membuat kita rendah diri. Kita tidak memiliki kecemburuan picik atau menaruh penghormatan berlebihan kepada orang yang kita anggap lebih dari kita. Kita meyakini Allah telah memberikan sesuatu dalam kehidupan masing-masing orang menurut pemberian Allah. Amin.
  4. Ertoto
  5. Rende KEE GBKP No. 334:1,2
    1. Tuhan kap si empuna geluhta, gegehta Ia simerekenca. Kiniteken pe ras pemetehta e pe Ia sinjujurkenca. Ia kap erbanca kita sanggap, tetaplah man Ia kita ngarap. ‘Di reh susah b’reNa serpang pulah, tendi kula mejuah-juah.
    2. Dage tetaplah bulat ukurta, geluhta pe lalap min erguna. Lagu langkah pe la sia-sia, gelar Tuhanlah ermulia. Adi jumpa kita si mesera, pengarapen ula kal min pera. Kune riah ukur kita jumpa, nehken bujur ula kal lupa.
  6. Pertoton Syafaat ras Pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 22 Juni 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 249:1,4.
    1. Ajar aku o Tuhanku, make Kata ras PedahNdu, kueteh payo ras sentudu, kuikutken bas geluhku. Singikut pedah Dibata, daten kerembakenNa. Pedah kata tangkas k’rina, em jadi gelementa.
    2. Kalak si tegu Dibata, em si lembab kin ukurna. Man si nembah rusur baNa, ukum ajarkenNa banta. Singikut pedah Dibata, daten kerembakenNa. Pedah kata tangkas k’rina, em jadi gelementa.
  2. Ertoto
  3. Pengogen Kata Dibata Amsal 17:27/ Kuan-Kuanen 17:27.
    “ Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin”.
    “ Kalak si beluh rukur iangkarna nge ngerana, kalak si saber ukurna ia kap kalak si pentarna ”.
    Renungen
    Dalam suasana pandemi saat ini kita seringkali mengalami keletihan ganda. Keletihan tubuh ditambah lagi dengan keletihan kejiwaan kita. Dalam suasana pergerakan yang terbatas, kita mengerjakan pekerjaan kita. Kita mengganggap tempat-tempat yang selama ini kita kunjungi untuk memulihkan keletihan fisik dan jiwa kita masih diliputi kecemasan. Orang-orang yang biasa kita temui untuk berbagi cerita, melepaskan keletihan dan mendapatkan sukacita, belum bebas kita jumpai. Akhirnya semua ini dapat saja membuat cara berpikir kita menjadi terganggu. Apa yang kita rasakan tidak lagi sempat diolah oleh akal pikiran kita. Misalnya, kita merasa cemas ketika anggota keluarga kita tidak melakukan aturan kesehatan. Rasa cemas ini berubah menjadi rasa marah karena kita khawatir akan terjadi sesuatu bagi anggota keluarga kita ini. Rasa marah yang tidak dipikirkan ini dapat berubah menjadi kata-kata yang meledak-ledak yang akhirnya menyakitkan anggota keluarga kita. Dalam situasi ini, mari kita mengingat Firman Tuhan yang menjadi renungan kita malam ini.
    Bagian Amsal yang menjadi renungan kita merupakan bagian dari ajaran bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari untuk mencapai keberhasilan hidup dan kesejahteraan bersama, khususnya dalam keluarga. Yang menjadi kata kunci dari ayat ini adalah “berpengetahuan”. Pada ayat ini, kata berpengetahuan dihubungkan dengan kepala dingin. Hal itu berarti orang yang berpengetahuan memiliki kemampuan untuk mempertimbangkan terlebih dahulu kebenaran-kebenaran yang ada. Orang yang berpengetahuan dapat mengendalikan hati, pikirannya. Orang yang berpengetahuan akan memikirkan dampak yang akan dia katakan terhadap anggota keluarganya yang mendengarkan perkataannya. Dia tidak terburu-buru untuk mengeluarkan apa yang ada dalam hatinya. Dia mampu untuk memilih kata-kata yang jelas dan dapat dimengerti orang yang mendengarnya. Kata-katanya tidak akan membangkitkan sakit hati, amarah anggota keluarganya. Kemampuan kita berpengetahuan atau berkepala dingin akan membawa kesejahteraan buat keluarga kita.
    Kita mampu “berpengetahuan” atau “kepala dingin” karena kita “takut akan Tuhan”. Artinya kita memberi waktu kita bagi Tuhan untuk membimbing kita mengendalikan segala hati dan pikiran kita. Berpengetahuan atau berkepala dingin dalam mensikapi setiap kejadian dalam hidup kita, sehingga ada kebahagian dalam kehidupan keluarga kita. Amin.
  4. Ertoto
  5. Rende KEE GBKP No. 200:1,3
    1. O Tuhan babai min dalanku bas doni, labuh ras la kesah gegehku. SoraNdu ku begi man bangku nemani. Lalap Kam me kuban temanku.
    2. O Tuhan bengketi, pusuhku min gelah. Maka kualoken kataNdu. PedahNdu lalap min kugelem la pulah. Lalap Kam me kuban temanku.
  6. Pertoton Syafaat ras Pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 21 Juni 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 182:1,2.
    1. O Tuhan Kam tetap, tedehku man baNdu. Arap ku lalap Kam nemani geluhku. O Tuhan rasa lalap. Geluhku temani. Ola tadingken aku ras Kam tetap.
    2. O Tuhan Kam tetap, ajarilah aku, lah kai pe si kuban, mehuli man baNdu. O Tuhan rasa lalap. Geluhku temani. Ola tadingken aku ras Kam tetap.
  2. Ertoto
  3. Pengogen Kata Dibata Amsal 20:27.
    “ Ibereken TUHAN man banta pusuh peraten, gelah banci si tandai dirinta jine ”.

Renungen
Beberapa tahun yang lalu ada lagu yang berjudul Panggung Sandiwara. Syairnya berbunyi “Dunia ini panggung sandiwara. Ceritanya mudah berubah. Kisah Mahabrata atau tragedi dari Yunani. Setiap kita dapat satu peranan yang harus kita mainkan. Ada peran wajar, dan ada peran berpura-pura. Mengapa kita bersandiwara ? Mengapa kita bersandiwara ?”. Penungkunen arah syair enda nuduhken kengasupen manusia guna nimbak pusuh perukurenna. Lain kata nibelas ras kai si lit ibas pusuh. Enda me “kengasupan” manusia.
Arah pengogen Kata Dibata enda, isingetken man banta kerna litna pusuh peraten siibereken Dibata ibas dirinta. Mengapa kita harus mengenal diri kita ?
Tuhan mbereken pusuh peraten ibas dirinta segelah kita banci nulih kubas dirinta atau menyelidiki lubuk hati kita. Enda me dalan siibereken Dibata segelah kita banci ngukuri dingen ngangkai perbahanen Dibata ibas kegeluhenta. Kita dapat belajar tentang karya Allah dengan memikirkan kejadian-kejadian dalam hidup kita.
Dengan adanya pusuh peraten yang diberikan Allah dalam diri kita, kita dapat mengenal kekuatan-kekuatan kita. Kita tahu bersyukur dan tahu mempergunakannya seturut dengan maksud Allah memberikan kekuatan itu. Arah pusuh peraten siibereken Dibata ku bas kegeluhennta kita pe banci nandai kelemahan-kelemahennta. Arah e kita ibabai guna ngerembakken diri man Dibata, mindo man Dibata dingen mpengasup kita guna mpeteruk ukurta.
Hati pikiran kita mengajari kita untuk mengenal motivasi, tujuan, cita-cita, dan harapan-harapan kita. Dengan demikian kita tahu arah kehidupan kita tahu apa yang mau kita perjuangkan. Kita tahu apa yang menyenangkan hati kita. Dengan mengenali diri kita, kita bisa menempatkan diri kita dalam menjalin relasi atau komunikasi dengan orang lain. Pusuh peraten si lit ibas kita si pake guna ngangkai pusuh peraten kalak si deban. Misalna, ibas kita lit emosi. Emosi si lit ibas kita sipake guna nandai emosi kalak si deban.
Kita menyelidiki lubuk hati kita sehingga kita bisa memperbaiki diri kita ketika kita melenceng dari pusuh peratennta. Allah telah memberikan lubuk hati kita sehingga kita dapat hidup seturut kehendak Allah. Kita dapat menolak keinginan-keinginan hidup bersandiwara. Amin.

  1. Ertoto
  2. Rende KEE GBKP No. 381:1,3.
    1. Sura-sura Yesus bangku ersinalsal tetap. Nggeluh bujur ras mehuli si ngena ateNa. Ersinalsal terang em sinisuraken Yesus. Ersinalsal terang, ku tetap ersinalsal.
    2. Kupindo Yesus nampati njaga pusuhku e. gelah ngasup ersinalsal ngikutken Tuhan e. Ersinalsal terang em sinisuraken Yesus. Ersinalsal terang, ku tetap ersinalsal.
  3. Pertoton Syafaat ras Pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 20 Juni 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 227:1,2
    1. Katakenlah man pusuhku, pepankenlah bas ukurku, idemiNdu kegeluhenku, tetapknelah pengarapenku. Pegaralah kinitekenku, alu Kesah ras KataNdu.
    2. Si ingetlah wari Tuhan, pedahNa e sipakeken. B’ritaken Kata Dibatanta man k’rina bekas tinepaNa. Pegaralah kinitekenku, alu Kesah ras KataNdu.
  2. Ertoto
  3. Pengogen Kata Dibata Roma 7:6
    “ Tapi genduari kita enggo bebas ibas undang-undang e nari, sebab adi inehen arah segi hubungennta ras undang-undang si mpenjaraken kita e kita engo mate. Erkiteken si e pendahinta man Dibata lanai bo sidalanken alu perukuren si dekah, eme erpalasken kepatuhen nandangi aturen-aturen si tersurat saja nge ngenca, tapi dahin Dibata e sidalanken alu sikap si mbaru, eme kap alu pusuh si ersuruh “.
    Renungen
    Saat ini kita berlatih untuk membiasakan diri menjaga jarak sosial, memakai masker, cuci tangan. Dalam membiasakan diri ini, mungkin kita merasa terganggu, stress, panic dan sulit untuk menyesuaikan diri kita dengan kebiasaan ini. Mengapa sulit bagi kita untuk menyesuaikan diri ? Hal itu dikarenakan sikap atau pandangan kita terhadap kebiasaan ini. Kita merasakan kebiasaan ini merupakan beban berat. Kita memandang aturan ini menekan, memaksa, membelenggu kebebasan kita selama ini.
    Dalam menjalani kehidupan kita saat ini, kita dapat belajar dari apa yang dikataken Paulus kepada jemaat Roma. Paulus menerangkan bahwa karena kasih Kristus, kita telah dibebaskan. Kebebasan ini membuat sikap kita dalam hidup ini tidak lagi demi “kepatuhen nandangi aturen-aturen si tersurat saja”, tetapi sikap kita adalah “ alu pusuh si ersuruh”.
    Dalam sikap yang pertama kita menjalani kehidupan demi kepatuhan terhadap peraturan. Misalnya, di lampu merah, kita patuh mengikuti rambu-rambu lalu lintas karena ada polisi yang berjaga atau karena ada kamera CCTV yang memantau. Atau seorang suami, yang patuh mengikuti aturan dietnya sebab sedang makan bersama istrinya. Seandainya tidak ada yang memantau, apakah dia tetap patuh ? Ini memperlihatkan bahwa dia hidup dalam kondisi ditekan, dibelenggu oleh pihak luar yang mengharuskan dia mengikuti aturan tersebut. Jika tidak ada tekanan, mungkin dia tidak patuh.
    Sikap yang kedua, “alu pusuh si ersuruh”. Sikap ini memperlihatkan bahwa kesadaran diri tentang kebutuhan dari dalam dirinyalah yang membuat dia melakukan hal itu. Misalnya, kepada kita telah diberikan Allah rasa sayang dan kasih. Dan kebutuhan kita adalah menyalurkan rasa sayang dan kasih tersebut. Bila kita telah menemukan orangnya, maka kita merasa senang memberikan sayang dan kasih kita itu, walaupun kita harus berkorban. Mengapa ? Kita merasa senang sebab kebutuhan kita telah terpenuhi. Rasa sayang dan kasih kita telah tersampaikan. Demikian juga dalam sikap beribadah kita saat ini. Kita ibadah mandiri di rumah kita masing-masing. Dengan sikap “alu pusuh si ersuruh” kita menyiapkan semua kebutuhan kita seperti kita akan beribadah di Gereja, walaupun tidak orang lain yang memantau kita. Kita merasa senang dan bersukacita melaksanakannya, sebab itu adalah kebutuhan dari dalam diri kita. Amin.
  4. Ertoto
  5. Rende KEE GBKP No.194:1,2.
    1. Senang adi ras Yesus, malem ateta pe. Sidahilah Penebus, jedat kita dame e. Begiken pendiloNa, marilah kam kerina, silatih bas geluhna maka kam senang kap. Senang adi …
    2. Senang adi ras Yesus, malem ateta pe. Alu ukur si tutus, si ikutkenlah dage. Tah kai pe si terjadi, lit me kap si nampati. Araplah I adage, tetaplah ukur e. Senang adi …
  6. Pertoton Syafaat ras Pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan