Renungan Malam 25 Juni 2020

  1. Rende KEE GBKP No.377:1,2
    1. Kuakuken me dosangku, ilebe Tuhan. Megati aku lalar bas kegeluhenku. Keleng ateNdu pengarapenku. Iteruh perkuahNdu malem me pusuhku. Keleng ateNdu pengarapenku. Iteruh perkuahNdu malem me pusuhku.
    2. Erlebuh aku baNdu o Yesus Tuhanku. Alemi min o Bapa salah ras lepakku. Keleng ateNdu pengarapenku. Tedeh ‘teku ngidah belinna perkuahNdu. Keleng ateNdu pengarapenku. Tedeh ‘teku ngidah belinna perkuahNdu.
  2. Ertoto
  3. Pengogen Kata Dibata Ratapan 3:40-41.
    “ Marilah kita menyelidiki dan memeriksa hidup kita, dan berpaling kepada TUHAN. Marilah kita mengangkat hati dan tangan kita kepada Allah di sorga”.
    Renungen
    Dalam perjalanan kehidupan ini, kita seringkali menghadapi rintangan-rintangan. Kita dapat mengatakannya bahwa rintangan ini berasal dari luar diri kita, tetapi juga mungkin berasal dari dalam diri kita. Dampak covid19 yang terjadi saat ini tidak pernah kita duga. Pandemi covid19 benar-benar memperberat kondisi kehidupan kita, baik secara ekonomi, sosial, budaya, kesehatan fisik dan mental, dan kerohanian kita. Namun demikian, kita juga perlu melihat ke dalam diri kita agar dampak covid19 dapat kita tanggung dan kita tetap bergerak maju.
    Bacaan Firman Tuhan malam hari ini berasal dari Kitab Ratapan. Latar berlakang Kitab Ratapan ini adalah kehancuran Yerusalem. “Terkenanglah Yerusalem, pada hari-hari sengsara dan penderitaannya, akan segala harta benda yang dimilikinya dahulu kala; tatkala penduduknya jatuh ke tangan lawan, dan tak ada penolong baginya, para lawan memandangnya, dan tertawa karena keruntuhannya”(Ratapan 1:7). Dalam kondisi kehancuran itu, tetap ada iman dalam diri mereka. Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! “TUHAN adalah bagianku,” kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya (Ratapan 3:22-24). Karena mengenal Allah yang mengasihi, maka tetap terbuka kesempatan untuk mendapatkan kembali kehidupan yang telah hancur. “Karena tidak untuk selama-lamanya Tuhan mengucilkan. Karena walau Ia mendatangkan susah, Ia juga menyayangi menurut kebesaran kasih setia-Nya”(Ratapan 3:31-32). Karena tetap terbuka bagi kita kesempatan untuk mendapatkan kasih Allah, marilah kita menyelidiki dan memeriksa hidup kita. Kita melihat kembali perjalanan hidup kita untuk menemukan tindakan-tindakan yang tidak berkenan kepada Allah. Kita mengakui kesalahan kita dan kembali menyelaraskannya dengan kehendak Allah.
    Demikian juga dalam kehidupan kita, kita tetap perlu mengevaluasi perjalanan kehidupan kita. Kita mau terbuka menyelidiki dan memeriksa hidup kita. Kita tetap mengenal hati dan pikiran kita. Kita menyelidiki jalan kita apakah tetap seperti kehendak Allah. Kita memeriksa hidup kita apakah kita tetap pada tujuan yang diinginkan Allah dalam hidup kita. Pandemi covid19 memang memberatkan hidup kita, tetapi bukan berarti kita harus kehilangan harapan, arah dan pegangan hidup kita. Kegagalan dalam hidup dapat terjadi bukan semata karena covid, tetapi bisa juga terjadi karena orang tersebut sudah kehilangan harapan dalam hidupnya. Walaupun perjuangan kita ditekan oleh pandemi ini, kita tetap bisa bergerak maju, karena tetap ada iman dan harapan akan kasih setia Tuhan yang tiada habis-habisnya. Amin.
  4. Ertoto
  5. Rende KEE GBKP No. 307:1
    1. Tuhanku, Kam me permakanku, emaka la kekurangen aku. Ku mbal mbal meratah aku babaNdu, ipesenang-senangNdu geluhku. Permakanku si njayan geluhku, malem ateku, senang tuhu. KelengNdu tetap maler man bangku. Kam me Tuhanku permakanku.
  6. Pertoton Syafaat ras Pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 24 Juni 2020

  1. Rende KEE GBKP No.71:1
    Teman si sada perukur, sindarami senang je. Kubas Yesus legi ukur, maka jumpa dame e. Ia kapen ikutenta, kita kap ngawanNa e. Tuhan Yesus kap Gurunta, kita ‘jar-ajarNa e.
  2. Ertoto
  3. Pengogen Kata Dibata I Petrus 3:8
    “Dage kedungenna ersada min ukurndu ras ersada min penggejapenndu. Sikeleng-kelengen min kam bagi ersenina dingen mesayang janah meteruk min ukurndu sekalak nandangi si debanna”.
    Renungen
    Kepada Jemaat Korintus, Paulus harus menegaskan tentang makna pemberian karunia-karunia rohani. “Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama”(1 Kor.12:7). Ternyata karunia rohani yang mereka miliki membuat seorang merasa dirinya bukan bagian tubuh (I Kor.12:15), dan yang lainnya malah mengucilkan orang dari tubuh(I Kor.12:21). Mereka mempersoalkan kepemilikan karunia-karunia rohani sebagai keutamaan kehidupan Kristen. Yang menjadi bacaan renungan malam kita ini mungkin jarang dianggap sebagai keutamaan kehidupan Kristen sehingga jarang “diperebutkan” atau “diperjuangkan”.
    Nasihat dalam surat Petrus ini bertujuan untuk menyemangati orang-orang Kristen menghadapi masalah-masalah yang nyata dan krisis yang menyerang kehidupan mereka setiap harinya. Misalnya dalam 1 Petrus 2:12, “Milikilah cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa-bangsa bukan Yahudi, supaya apabila mereka memfitnah kamu sebagai orang durjana, mereka dapat melihatnya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka”. Cara hidup yang baik ini didasarkan pada karya Tuhan Yesus Kristus. “Ketika Ia dicaci maki, Ia tidak membalas dengan mencaci maki; ketika Ia menderita, Ia tidak mengancam, tetapi Ia menyerahkannya kepada Dia, yang menghakimi dengan adil”(I Petrus 2:23). Cara hidup baik itu adalah “ersada min ukurndu ras ersada min penggejapenndu. Sikeleng-kelengen min kam bagi ersenina dingen mesayang janah meteruk min ukurndu sekalak nandangi si debanna”.
    Saat pandemi ini, perjuangan kita untuk mendapatkan berbagai macam hal yang kita anggap sebagai hal yang utama untuk mendukung kehidupan kita terasa semakin berat. Dengan berbagai jalan kita berusaha mempertahankan kesehatan kita, usaha kita, pekerjaan kita, pencarian kita, jabatan kita, kekayaan kita, dan nama baik kita. Dapatkah kita membayangkannya, apabila segala perjuangan ini toh akan terasa hampa ketika di rumah yang ada malah caki maki, ancaman dan perbantahan. Oleh karena itu kata “kedungenna” perlu kita renungan lebih dalam. Artinya, segala perjuangan kita demi keutamaan hidup ini, pada akhirnya akan kita rasakan, pertama, dalam keluarga inti kita. Bersimpati terhadap perjuangan anggota keluarga, dapat merasakan suka duka perjuangan anggota keluarga, memberikan dorongan kasih sayang, dan saling menghargai. Jadikanlah kebersamaan menjadi modal dan kekuatan dalam menghadapi permasalahan hidup. Kebersamaan dalam keluarga membuat perjuangan yang sulit sekalipun dapat dilalui. Home sweet home
  4. Ertoto
  5. Rende KEE GBKP No. 342:1,2
    1. Yesus lape-lape tendingku, Ia njagai kita. Mberat pe si man tangkelenta, Ia njagai kita. Tuhan njagai kita, paksa senang ‘ntah mesera. Ia njagai kita. Tuhan njagai kita.
    2. Ibas melala perbebenta, Ia njagai kita. Dalan gelap arah lebenta, Ia njagai kita. Tuhan ..
  6. Pertoton Syafaat ras Pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 23 Juni 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 302:1
    1. Nginget perkuah Dibata si mbelin, siisehkenNa man banta k’rina kin. Ibas kerina dampar kegeluhen, i doni si dem alu keguluten. Endeskenlah kulanta man Dibata, kerinana si lit ibas geluhta. Selaku persembahennta si nggeluh, em persembahen si ngena ateNa.
  2. Ertoto
  3. Pengogen Kata Dibata Roma 12:3
    “ Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing”.
    Renungen
    Saat ini kita sering melihat lomba-lomba pencarian bakat bermunculan. Demikian juga, media sosial seakan-akan menjadi alat atau arena diluar lomba-lomba pencarian bakat itu untuk memperlihatkan kemampuan-kemampuan yang mereka miliki. Terkadang hal itu dapat memicu semangat kita untuk meraih cita-cita kita, tetapi hal itu juga dapat membuat seseorang menjadi minder. Bagaimana kita memahami perbedaan-perbedaan yang ada dalam kehidupan kita ini ?
    Pasal 12 dalam Kitab Roma ini berbicara tentang “memanfaatkan dengan baik karunia-karunia rohani”. Sebagai orang yang telah menerima anugerah keselamatan maka orang-orang percaya hendaklah mempersembahken diri mereka sebagai korban kepada Allah, tidak menjadi serupa dengan dunia ini, dan memberikan diri kita diperbaharui Roh Allah. Ketiga hal ini diperlihatkan dalam memahami dan mempergunakan karunia-karunia rohani yang dimiliki oleh Jemaat Roma. Pada saat itu, berkembang pola pikir tentang kehormatan seseorang. Kehormatan dicapai dengan mengorbankan kehormatan orang lain. Terjadi perlombaan dalam memperoleh dan mempertahankan kehormatan. Karunia-karunia rohani yang dimiliki jemaat dapat saja dijadiken seperti mencari kehormatan. Hal ini dapat mengakibatkan kecemburuan yang picik, rasa rendah diri dan penghormatan yang salah terhadap orang-orang terkemuka. Oleh karena itu Paulus mengajak jemaat Roma untuk menilai semua itu berdasarkan ukuran Iman. Artinya kita menyadari bahwa diri kita adalah orang yang telah diselamatkan Allah dari hukuman dosa. Dan kepada orang yang diselamatkan itu, Allah telah memberikan karunia rohani menurut pemberian Allah. Kesadaran ini akan membuat kita rendah hati. Kita tidak rendah diri dengan yang kita miliki. Atau sebaliknya merendahkan orang lain. Setiap orang di dalam jemaat hendaklah mempunyai pemahaman bahwa setiap orang itu mempunyai peranannya dan partisipasinya di dalam “tubuh”. Dengan demikian kita dapat sehati-sepikir, satu jiwa dan satu tujuan.
    Demikianlah dalam hidup kita, walaupun terdapat banyak perbedaan kemampuan. Kita terima itu dalam iman. Apa yang ada pada kita tidaklah membuat kita rendah diri. Kita tidak memiliki kecemburuan picik atau menaruh penghormatan berlebihan kepada orang yang kita anggap lebih dari kita. Kita meyakini Allah telah memberikan sesuatu dalam kehidupan masing-masing orang menurut pemberian Allah. Amin.
  4. Ertoto
  5. Rende KEE GBKP No. 334:1,2
    1. Tuhan kap si empuna geluhta, gegehta Ia simerekenca. Kiniteken pe ras pemetehta e pe Ia sinjujurkenca. Ia kap erbanca kita sanggap, tetaplah man Ia kita ngarap. ‘Di reh susah b’reNa serpang pulah, tendi kula mejuah-juah.
    2. Dage tetaplah bulat ukurta, geluhta pe lalap min erguna. Lagu langkah pe la sia-sia, gelar Tuhanlah ermulia. Adi jumpa kita si mesera, pengarapen ula kal min pera. Kune riah ukur kita jumpa, nehken bujur ula kal lupa.
  6. Pertoton Syafaat ras Pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 22 Juni 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 249:1,4.
    1. Ajar aku o Tuhanku, make Kata ras PedahNdu, kueteh payo ras sentudu, kuikutken bas geluhku. Singikut pedah Dibata, daten kerembakenNa. Pedah kata tangkas k’rina, em jadi gelementa.
    2. Kalak si tegu Dibata, em si lembab kin ukurna. Man si nembah rusur baNa, ukum ajarkenNa banta. Singikut pedah Dibata, daten kerembakenNa. Pedah kata tangkas k’rina, em jadi gelementa.
  2. Ertoto
  3. Pengogen Kata Dibata Amsal 17:27/ Kuan-Kuanen 17:27.
    “ Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin”.
    “ Kalak si beluh rukur iangkarna nge ngerana, kalak si saber ukurna ia kap kalak si pentarna ”.
    Renungen
    Dalam suasana pandemi saat ini kita seringkali mengalami keletihan ganda. Keletihan tubuh ditambah lagi dengan keletihan kejiwaan kita. Dalam suasana pergerakan yang terbatas, kita mengerjakan pekerjaan kita. Kita mengganggap tempat-tempat yang selama ini kita kunjungi untuk memulihkan keletihan fisik dan jiwa kita masih diliputi kecemasan. Orang-orang yang biasa kita temui untuk berbagi cerita, melepaskan keletihan dan mendapatkan sukacita, belum bebas kita jumpai. Akhirnya semua ini dapat saja membuat cara berpikir kita menjadi terganggu. Apa yang kita rasakan tidak lagi sempat diolah oleh akal pikiran kita. Misalnya, kita merasa cemas ketika anggota keluarga kita tidak melakukan aturan kesehatan. Rasa cemas ini berubah menjadi rasa marah karena kita khawatir akan terjadi sesuatu bagi anggota keluarga kita ini. Rasa marah yang tidak dipikirkan ini dapat berubah menjadi kata-kata yang meledak-ledak yang akhirnya menyakitkan anggota keluarga kita. Dalam situasi ini, mari kita mengingat Firman Tuhan yang menjadi renungan kita malam ini.
    Bagian Amsal yang menjadi renungan kita merupakan bagian dari ajaran bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari untuk mencapai keberhasilan hidup dan kesejahteraan bersama, khususnya dalam keluarga. Yang menjadi kata kunci dari ayat ini adalah “berpengetahuan”. Pada ayat ini, kata berpengetahuan dihubungkan dengan kepala dingin. Hal itu berarti orang yang berpengetahuan memiliki kemampuan untuk mempertimbangkan terlebih dahulu kebenaran-kebenaran yang ada. Orang yang berpengetahuan dapat mengendalikan hati, pikirannya. Orang yang berpengetahuan akan memikirkan dampak yang akan dia katakan terhadap anggota keluarganya yang mendengarkan perkataannya. Dia tidak terburu-buru untuk mengeluarkan apa yang ada dalam hatinya. Dia mampu untuk memilih kata-kata yang jelas dan dapat dimengerti orang yang mendengarnya. Kata-katanya tidak akan membangkitkan sakit hati, amarah anggota keluarganya. Kemampuan kita berpengetahuan atau berkepala dingin akan membawa kesejahteraan buat keluarga kita.
    Kita mampu “berpengetahuan” atau “kepala dingin” karena kita “takut akan Tuhan”. Artinya kita memberi waktu kita bagi Tuhan untuk membimbing kita mengendalikan segala hati dan pikiran kita. Berpengetahuan atau berkepala dingin dalam mensikapi setiap kejadian dalam hidup kita, sehingga ada kebahagian dalam kehidupan keluarga kita. Amin.
  4. Ertoto
  5. Rende KEE GBKP No. 200:1,3
    1. O Tuhan babai min dalanku bas doni, labuh ras la kesah gegehku. SoraNdu ku begi man bangku nemani. Lalap Kam me kuban temanku.
    2. O Tuhan bengketi, pusuhku min gelah. Maka kualoken kataNdu. PedahNdu lalap min kugelem la pulah. Lalap Kam me kuban temanku.
  6. Pertoton Syafaat ras Pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 21 Juni 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 182:1,2.
    1. O Tuhan Kam tetap, tedehku man baNdu. Arap ku lalap Kam nemani geluhku. O Tuhan rasa lalap. Geluhku temani. Ola tadingken aku ras Kam tetap.
    2. O Tuhan Kam tetap, ajarilah aku, lah kai pe si kuban, mehuli man baNdu. O Tuhan rasa lalap. Geluhku temani. Ola tadingken aku ras Kam tetap.
  2. Ertoto
  3. Pengogen Kata Dibata Amsal 20:27.
    “ Ibereken TUHAN man banta pusuh peraten, gelah banci si tandai dirinta jine ”.

Renungen
Beberapa tahun yang lalu ada lagu yang berjudul Panggung Sandiwara. Syairnya berbunyi “Dunia ini panggung sandiwara. Ceritanya mudah berubah. Kisah Mahabrata atau tragedi dari Yunani. Setiap kita dapat satu peranan yang harus kita mainkan. Ada peran wajar, dan ada peran berpura-pura. Mengapa kita bersandiwara ? Mengapa kita bersandiwara ?”. Penungkunen arah syair enda nuduhken kengasupen manusia guna nimbak pusuh perukurenna. Lain kata nibelas ras kai si lit ibas pusuh. Enda me “kengasupan” manusia.
Arah pengogen Kata Dibata enda, isingetken man banta kerna litna pusuh peraten siibereken Dibata ibas dirinta. Mengapa kita harus mengenal diri kita ?
Tuhan mbereken pusuh peraten ibas dirinta segelah kita banci nulih kubas dirinta atau menyelidiki lubuk hati kita. Enda me dalan siibereken Dibata segelah kita banci ngukuri dingen ngangkai perbahanen Dibata ibas kegeluhenta. Kita dapat belajar tentang karya Allah dengan memikirkan kejadian-kejadian dalam hidup kita.
Dengan adanya pusuh peraten yang diberikan Allah dalam diri kita, kita dapat mengenal kekuatan-kekuatan kita. Kita tahu bersyukur dan tahu mempergunakannya seturut dengan maksud Allah memberikan kekuatan itu. Arah pusuh peraten siibereken Dibata ku bas kegeluhennta kita pe banci nandai kelemahan-kelemahennta. Arah e kita ibabai guna ngerembakken diri man Dibata, mindo man Dibata dingen mpengasup kita guna mpeteruk ukurta.
Hati pikiran kita mengajari kita untuk mengenal motivasi, tujuan, cita-cita, dan harapan-harapan kita. Dengan demikian kita tahu arah kehidupan kita tahu apa yang mau kita perjuangkan. Kita tahu apa yang menyenangkan hati kita. Dengan mengenali diri kita, kita bisa menempatkan diri kita dalam menjalin relasi atau komunikasi dengan orang lain. Pusuh peraten si lit ibas kita si pake guna ngangkai pusuh peraten kalak si deban. Misalna, ibas kita lit emosi. Emosi si lit ibas kita sipake guna nandai emosi kalak si deban.
Kita menyelidiki lubuk hati kita sehingga kita bisa memperbaiki diri kita ketika kita melenceng dari pusuh peratennta. Allah telah memberikan lubuk hati kita sehingga kita dapat hidup seturut kehendak Allah. Kita dapat menolak keinginan-keinginan hidup bersandiwara. Amin.

  1. Ertoto
  2. Rende KEE GBKP No. 381:1,3.
    1. Sura-sura Yesus bangku ersinalsal tetap. Nggeluh bujur ras mehuli si ngena ateNa. Ersinalsal terang em sinisuraken Yesus. Ersinalsal terang, ku tetap ersinalsal.
    2. Kupindo Yesus nampati njaga pusuhku e. gelah ngasup ersinalsal ngikutken Tuhan e. Ersinalsal terang em sinisuraken Yesus. Ersinalsal terang, ku tetap ersinalsal.
  3. Pertoton Syafaat ras Pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 20 Juni 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 227:1,2
    1. Katakenlah man pusuhku, pepankenlah bas ukurku, idemiNdu kegeluhenku, tetapknelah pengarapenku. Pegaralah kinitekenku, alu Kesah ras KataNdu.
    2. Si ingetlah wari Tuhan, pedahNa e sipakeken. B’ritaken Kata Dibatanta man k’rina bekas tinepaNa. Pegaralah kinitekenku, alu Kesah ras KataNdu.
  2. Ertoto
  3. Pengogen Kata Dibata Roma 7:6
    “ Tapi genduari kita enggo bebas ibas undang-undang e nari, sebab adi inehen arah segi hubungennta ras undang-undang si mpenjaraken kita e kita engo mate. Erkiteken si e pendahinta man Dibata lanai bo sidalanken alu perukuren si dekah, eme erpalasken kepatuhen nandangi aturen-aturen si tersurat saja nge ngenca, tapi dahin Dibata e sidalanken alu sikap si mbaru, eme kap alu pusuh si ersuruh “.
    Renungen
    Saat ini kita berlatih untuk membiasakan diri menjaga jarak sosial, memakai masker, cuci tangan. Dalam membiasakan diri ini, mungkin kita merasa terganggu, stress, panic dan sulit untuk menyesuaikan diri kita dengan kebiasaan ini. Mengapa sulit bagi kita untuk menyesuaikan diri ? Hal itu dikarenakan sikap atau pandangan kita terhadap kebiasaan ini. Kita merasakan kebiasaan ini merupakan beban berat. Kita memandang aturan ini menekan, memaksa, membelenggu kebebasan kita selama ini.
    Dalam menjalani kehidupan kita saat ini, kita dapat belajar dari apa yang dikataken Paulus kepada jemaat Roma. Paulus menerangkan bahwa karena kasih Kristus, kita telah dibebaskan. Kebebasan ini membuat sikap kita dalam hidup ini tidak lagi demi “kepatuhen nandangi aturen-aturen si tersurat saja”, tetapi sikap kita adalah “ alu pusuh si ersuruh”.
    Dalam sikap yang pertama kita menjalani kehidupan demi kepatuhan terhadap peraturan. Misalnya, di lampu merah, kita patuh mengikuti rambu-rambu lalu lintas karena ada polisi yang berjaga atau karena ada kamera CCTV yang memantau. Atau seorang suami, yang patuh mengikuti aturan dietnya sebab sedang makan bersama istrinya. Seandainya tidak ada yang memantau, apakah dia tetap patuh ? Ini memperlihatkan bahwa dia hidup dalam kondisi ditekan, dibelenggu oleh pihak luar yang mengharuskan dia mengikuti aturan tersebut. Jika tidak ada tekanan, mungkin dia tidak patuh.
    Sikap yang kedua, “alu pusuh si ersuruh”. Sikap ini memperlihatkan bahwa kesadaran diri tentang kebutuhan dari dalam dirinyalah yang membuat dia melakukan hal itu. Misalnya, kepada kita telah diberikan Allah rasa sayang dan kasih. Dan kebutuhan kita adalah menyalurkan rasa sayang dan kasih tersebut. Bila kita telah menemukan orangnya, maka kita merasa senang memberikan sayang dan kasih kita itu, walaupun kita harus berkorban. Mengapa ? Kita merasa senang sebab kebutuhan kita telah terpenuhi. Rasa sayang dan kasih kita telah tersampaikan. Demikian juga dalam sikap beribadah kita saat ini. Kita ibadah mandiri di rumah kita masing-masing. Dengan sikap “alu pusuh si ersuruh” kita menyiapkan semua kebutuhan kita seperti kita akan beribadah di Gereja, walaupun tidak orang lain yang memantau kita. Kita merasa senang dan bersukacita melaksanakannya, sebab itu adalah kebutuhan dari dalam diri kita. Amin.
  4. Ertoto
  5. Rende KEE GBKP No.194:1,2.
    1. Senang adi ras Yesus, malem ateta pe. Sidahilah Penebus, jedat kita dame e. Begiken pendiloNa, marilah kam kerina, silatih bas geluhna maka kam senang kap. Senang adi …
    2. Senang adi ras Yesus, malem ateta pe. Alu ukur si tutus, si ikutkenlah dage. Tah kai pe si terjadi, lit me kap si nampati. Araplah I adage, tetaplah ukur e. Senang adi …
  6. Pertoton Syafaat ras Pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 19 Juni 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 201:1,2.
    1. Malem ate tuhu-tuhu, si ernalem man baNdu. Kam Dibata sinjadiken langit ras doni enda. SalsaliNdu pusuh kami, maka t’rangNdu tergejap. Kalak si tek la kap bene ban kelengNdu e tetap.
    2. Matawari, bulan, bintang, Kam nepasa jadi t’rang. Doni enda dem isina labo kai pe lit si kurang. K’rina si erkesah gia nggeluh i doni enda. Bagi si ngerana nina, “Kam Tuhan si Madasa”
  2. Ertoto
  3. Pengogen Kata Dibata Keluaren 4:10
    “ Tapi nina Musa, “Lang, Tuhan, ula kal suruh Kam aku. Aku labo kalak si beluh ngerana, nai pe lang, genduari kenca Kam ngerana ras aku pe lang, sabab mberat babahku, mberat dilahku”.
    Renungen
    Mungkin kita pernah berkata, “maaf, saya tidak mampu”. Ingatkah kita alasan-alasan yang mendasari kata-kata, “saya tidak mampu”. Apakah karena, setelah dipertimbangkan dari berbagai aspek, kita merasa benar-benar tidak mampu. Atau kita hanya menghaluskan jawaban untuk menolak tanggung jawab itu. Kita merasa tidak punya waktu dan tidak mampu setengah-setengah bertanggungjawab. Kita ingin fokus terhadap satu pekerjaan. Atau kita mengalami ketakutan gagal, ketakutan menghadapi resiko. Apakah hambatan masa lalu yang membuat kita menutup diri untuk menerima tanggung jawab itu ?
    Pada saat Allah memanggil Musa untuk memimpin orang-orang Israel keluar dari Mesir, Musa juga memberi alasannya. Musa berkata “saya tidak pandai berbicara”. Ini bukan alasan pertama. Pada Keluaren 4 ayat 1 dikatakan, “Lalu Musa menjawab kepada TUHAN, “Tetapi bagaimana andaikata orang-orang Israel tidak mau percaya dan tidak mau mempedulikan kata-kata saya? Apa yang harus saya lakukan andaikata mereka berkata bahwa TUHAN tidak menampakkan diri kepada saya?” Jawaban Musa ini memperlihatkan yang menjadi dasar alasannya adalah tanggapan orang lain terhadap perkataannya. Lalu Allah memperlihatkan tanda-tanda ajaib untuk meyakinkan Musa bahwa orang-orang Israel akan percaya. Kemudian Musa mengalihkan alasannya pada ketidakmampuan dirinya berbicara. Pada ayat 11, Allah memberikan dorongan kepada Musa dengan mengatakan bahwa Allah-lah yang menciptakan manusia dengan kemampuan-kemampuannya.
    Dari kisah ini kita dapat memahami bahwa Allah memperlengkapi manusia dengan potensi-potensi diri. Namun berbagai peristiwa dapat saja membuat manusia tidak mengenali dan tidak lagi yakin dengan potensi yang diberikan Allah daalam dirinya. Di saat pandemi covid-19, mari kita melihat kembali potensi diri kita yang selama ini terpendam atau yang tidak kita yakini. Baik untuk memberikan sukacita bagi diri kita bahkan untuk pengembangan ekonomi kita. Jangan katakan “saya tidak mampu”, sebab Allah telah memberikan potensi dalam hidup kita . Allah memperlengkapi kita dengan berbagai kemampuan bahkan untuk saat-saat yang sulit sekalipun.Amin.
  4. Ertoto
  5. Rende KEE GBKP No. 238;1,2
    1. Ibas ndalani perdalanen nggeluh, kiniseran pe reh megati ngupuh, si cengkal ukur ras si mambur iluh, bereNdu teneng gelah banci tunduh. Kesah ras daging rikut pe ras tendi, kempak Dibata k’rina endesken kami. Emaka Kamlah tetap singkawali, lah daging bugis bas medak pepagi.
    2. Segedang wari kami enggo labuh, paksana medem enggo ka me kap seh. IkawaliNdu min sangana tunduh, ‘lah suang gegeh adi banNdu badeh. Kesah ras daging …
  6. Pertoton Syafaat ras Pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 18 Juni 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 263:1,2
    1. Adi kuidah ampar bintang terang, ras lenggur guntar kubegi. O Tuhanku ije ukurku mamang, nidah belinna k’rina tinepaNdu. Maka pusuhku e pehaga Kam, mbelin me Kam o Tuhanku. Maka pusuhku e pehaga kam, o Tuhanku mehaga Kam.
    2. O Tuhanku, ‘di k’rina kuukurken, perkuah ‘tendu nebusi aku, Tuhan me kap man bangku nggo ib’reken alu dareh Yesus si badia. Maka pusuhku …
  2. Ertoto
  3. Pengogen Kata Dibata Daniel 9:7.
    “ O Tuhan, Kam tetap ngaloken si bujur, tapi tetap ipekitik kami diri kami jine. Si enda kerina nge kami ngelakokenca, subuk si ringan i taneh Juda ras Jerusalem, bage pe kerina kalak Israel siikerapkenNdu ku negeri-negeri si ndauh ras si ndeher erkiteken la ia erkemalangen man baNdu ”.

Renungen.
Melalui berbagai cara, manusia berusaha membuat dirinya “besar”. Misalnya, dengan memiliki kekayaan, jabatan, kekuasaan dan ketrampilan khusus maka manusia itu berharap memperoleh “harga diri” yang tinggi. Sulit rasanya menemukan manusia yang secara sadar dan sengaja ingin direndahkan “harga dirinya”. Namun demikian, tanpa kita sadari, “harga diri” yang ingin kita tinggikan justru kita sendiri yang membuat “harga diri” kita kecil. Inilah yang dikatakan dalam bacaan kita malam ini.
Allah menciptakan manusia menurut gambar dan rupa Allah. Ikataken ibas Mazmur 8:6, “IbahanNdu ia teruhen asangken Kam ngenca, itangkuhkenNdu ia alu kemulian ras kehamatan”. Hal itu berarti Allah telah memberikan “harga diri” yang besar dalam diri setiap manusia. Ketika kita memandang setiap manusia, apapun suku, bangsa, ras dan warna kulitnya, kita memandangnya dengan “harga diri” yang sama. Walaupun manusia telah jatuh ke dalam dosa, Allah tetap melakukan yang baik dalam kehidupan manusia. Ibas Kitab Daniel 9:5, ikataken, “ Kami enggo erdosa, jahat, dingen salah perbahanen kami. La ilakoken kami siiperentahkenNdu man kami, janah isilahken kami si bujur siicidahkenNdu man kami”. Perbuatan manusia yang melakukan dosa, yang jahat dan yang salah inilah yang memperlihatkan manusia itu mengecilkan dirinya sendiri. Tindakan Allah tetap baik tetapi manusia menjawabnya dengan tindakan ketidaksetiaan terhadap Allah. Perbahanen enda me gelarna “kami mpekitik diri kami jine”.
Dalam kehidupan kita saat ini, “kemulian dan kehormatan’ yang telah diberikan Allah kepada kita, haruslah tetap kita jaga. Sijaga kemulian ras kehamaten sienggo ibereken Dibata alu tetap erkemalangen man Dibata. Bisa jadi, bukan orang lain yang pertama kali mengecilkan diri kita, tetapi tindakan-tindakan kita sendirilah yang mengecilkan diri kita. Orang lain hanya menegasken kembali apa yang telah kita lakukan. Erkiteken si e, ibas kita ngayaki kai sinisuraken kita, tetaplah kita ngelakokenca alu sentudu bagi si ngena ate Dibata. Amin.

  1. Ertoto
  2. Rende KEE GBKP No. 350:1,2.
    1. Kelengi kebenaren, pedauhlah si jahat. Pakeken Kata Tuhan tahan rasa lalap. Nggeluhlah alu bujur meteruk ukur kin. Dalanken kebenaren maka ukur teneng. Erjaga-jagalah , reh me wari tuhan. Ersikap-sikaplah, pake Kata Tuhan.
    2. Darami si mehuli pedauh min si ilat. Megermet bas keg’luhen make pedah Tuhan. Lakokenlah si adil ibas kegeluhen. Bage me pedah Tuhan tetap si dalanken. Erjaga-jagalah.
  3. Pertoton Syafaat ras Pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 17 Juni 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 56:1,2
    1. Bapa si perkuah, b’re min kami tuah. Ibas t’rang ayoNdu min, kami ‘rdalin erdahin.
    2. B’re min teptep wari dame bas Kam nari. Aku ban KesahNdu e, rembak min ku Kristus pe.
  2. Ertoto
  3. Pengogen Kata Dibata I Samuel 3:8-9.
    “ Dan TUHAN memanggil Samuel sekali lagi, untuk ketiga kalinya. Iapun bangunlah, lalu pergi mendapatkan Eli serta katanya: “Ya, bapa, bukankah bapa memanggil aku?” Lalu mengertilah Eli, bahwa Tuhanlah yang memanggil anak itu.
    Sebab itu berkatalah Eli kepada Samuel: “Pergilah tidur dan apabila Ia memanggil engkau, katakanlah: Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar.” Maka pergilah Samuel dan tidurlah ia di tempat tidurnya ”.
    Renungen
    Kita telah tiba di hari Rabu malam. Berarti hari sebelumnya adalah hari selasa dan besok adalah hari kamis. Kita setiap harinya menjalani perjalanan hidup kita. Malam hari kita beristirahat, pagi-pagi kita bangun, bekerja dari pagi sampai sore, lalu tiba lagi pada malam hari. Hidup seperti roda berputar, dari satu titik, kembali lagi ke titik itu tanpa ada ujungnya. Terlebih seperti saat pandemi covid19 ini, sudah tiga bulan kita mengalami pembatasan sosial. Pergerakan kita terbatas. Pekerjaan kita terbatas dan orang-orang yang kita temui juga terbatas. Pikiran juga terasa terbatas. Kita mungkin sudah kehabisan karya dan bahan untuk diperbincangkan. Ini dapat membuat perasaan bosan dan jenuh. Emosi kita menumpuk dan bercampur aduk. Akhirnya kita gampang marah. Ini karena kita mengganggap semua hari sama. Pemahaman dan pengertian kita-lah yang membuat semua itu menjadi baru. Inilah yang dapat kita lihat dalam kehidupan Samuel.
    Pada tengah malam, Samuel mendengar namanya dipanggil. Dia datang kepada Imam Eli sebab menyangka Imam Eli-lah yang memanggil dia. Namun Imam Eli tidak memanggil Samuel. Untuk kedua kalinya Samuel mendengar namanya dipanggil. Kemudian dia datang lagi kepada Imam Eli. Ternyata Imam Eli tidak memanggil Samuel. Lalu untuk ketiga kalinya Samuel mendengar lagi nama dipanggil dan dia tetap datang kepada Imam Eli. Kita dapat membayangkan sampai tiga kali Samuel dipanggil dan dia merasa Imam Eli-lah yang memanggil dia. Dia merasa panggilan itu sama-sama berasal dari Imam Eli. Dia tidak dapat membedakan panggilan itu. Mengapa ? Pada ayat 6-7, dikatakan “La ietehna maka TUHAN kepe si erdilo e, sebab ope denga si e Tuhan langa pernah ngerana man bana”. Baru setelah panggilan ketiga, Imam Eli memahami bahwa Tuhan-lah yang memanggil Samuel. Pemahaman ini membuat suasana baru dalam kehidupan Samuel. Samuel dapat menjawab langsung panggilan Allah itu.
    Kehidupan kita adalah jawab terhadap panggilan Allah. Setiap harinya, dalam setiap aktivitas kita, dalam setiap tindakan kita itu semua adalah jawaban kita terhadap panggilan Allah. Kita juga menerima berkat Tuhan setiap harinya. Oleh karena itu tidaklah sama hari-hari yang kita jalani. Setiap hari adalah hari yang baru karena setiap hari kita menjawab panggilan Allah dan setiap hari ada berkat bagi kehidupan kita.
  4. Ertoto
  5. Rende KEE GBKP No. 203:1,3.
    1. Pasu-pasu ni Tuhanta, si nemani geluhta. Tiap wari seh man banta la ersibar ngaruhna. Aku pe, aku pe. Pasu-pasu aku pe.
    2. Ija ndia si darami singkawali geluh e. Yesus ngenca si nampati, maka kita la bene. Aku pe, aku pe, sampatilah aku pe.
  6. Pertoton Syafaat ras Pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan