Renungan Malam 6 November 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 233:1,2
    1. Si bas dosa kin ercebah, olanai min dage pedekah-dekah. Tuhan Yesus ‘nggo ertenah, itimaiNa me kam wari sendah. Minter dahi Tuhan Yesus si melias, je turiken k’rina dosa alu telkas, ‘lah darehNa mbersihkenca seh melikas, maka baNa enggo kelas.
    2. Gia ‘nggo luka iban dosa, ibas Tuhan ‘nggo lit me kap tawarna. Ia ban si pekenasa,gelah ola pagi jumpa kelesa. Minter dahi Tuhan Yesus …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Ulangan 1:43;46
    “ Dan aku berbicara kepadamu tetapi kamu tidak mendengarkan, kamu menentang titah TUHAN; kamu berlaku terlalu berani dan maju ke arah pegunungan.
    Demikianlah kamu lama tinggal di Kadesh, yakni sepanjang waktu kamu tinggal di sana.”

Renungan

Allah telah memberi akal pikiran bagi manusia untuk menolong manusia memahami situasi hidupnya, menilai peristiwa dalam kerangka baik-buruk dan benar-salah dan mengambil keputusan yang berkenan kepada Allah. Namun demikian, penggunaan akal pikiran ini tidak dapat dibiarkan tanpa kendali. Ketidapatuhan dapat membuat kita melakukan hal-hal yang aneh. Akal pikiran kita harus tetap patuh kepada kehendak Allah.
Dalam renungan malam hari ini, kita dapat melihat salah satu contoh penggunaan akal pikiran yang tidak patuh pada kehendak Allah.
Di dalam Kitab Ulangan 1 ini, kita diberitahukan tentang perjalanan bangsa Israel yang telah keluar dari tanah Mesir. Saat itu bangsa Israel telah sampai di pegunungan Horeb. Allah menyuruh bangsa Israel maju ke pegunungan orang Amori sebab Allah telah menyerahkan negeri orang Amori ( Ulangan 1:7-8). Namun demikian, bangsa Israel meminta agar Musa menyuruh pengintai melihat tanah orang Amori. Laporan para pengintai justru membuat bangsa Israel mengerutu. (Ulangan 1:27) Mendengar hal itu Musa menetapkan hati orang Israel, “Ketika itu aku berkata kepadamu: Janganlah gemetar, janganlah takut kepada mereka; TUHAN, Allahmu, yang berjalan di depanmu, Dialah yang akan berperang untukmu sama seperti yang dilakukan-Nya bagimu di Mesir, di depan matamu, dan di padang gurun, di mana engkau melihat bahwa TUHAN, Allahmu, mendukung engkau, seperti seseorang mendukung anaknya, sepanjang jalan yang kamu tempuh, sampai kamu tiba di tempat ini.Tetapi walaupun demikian, kamu tidak percaya kepada TUHAN, Allahmu,” (Ulangan 1:29-32) Bangsa Israel tidak mau maju merebut tanah orang Amori. Melihat hal itu Allah menjadi murka dan menghukum bangsa Israel. Allah menyuruh bangsa Israel berbalik ke padang gurun. Mendengar murka Allah itu, akhirnya bangsa Israel, mengaku dosa dan bertekad maju menyerang orang Amori. Namun demikian, Allah telah menuruh mereka mundur. Tetapi mereka tidak mendengar perintah Allah itu dan akhirnya mereka kalah dan lama tinggal di Kadesh.
Dalam hal ini kita melihat bangsa Israel yang memakai logika dalam menanggapi perintah Allah. Mendengar laporan para pengintai, mereka menjadi takut berperang, walaupun Allah telah berjanji memberikan negeri orang Amori. Sebaliknya, ketika Allah menyuruh mereka mundur, mereka malah maju. Bisa jadi karena dorongan rasa bersalah dan pembuktian diri bahwa mereka tidak takut, sehingga walaupun waktunya tidak tepat, mereka tetap maju tanpa mengindahkan perintah Allah agar mereka mundur. Firman Tuhan menyebut mereka “berlaku terlalu berani”.
Walaupun kita salah, tidak perlu “berlaku terlalu berani” untuk membuktikan kita tidak takut, yang akhirnya justru membuat kita tidak patuh kepada kehendak Allah. Kita ingin cepat-cepat segera berakhir kegagalan itu. Sebaliknya, ketidakpatuhan kepada kehendak Allah-lah yang membuat kehidupan kita tidak bergerak maju. Rasa bersalah justru membuat kita semakin patuh kepada Allah. Kita datang kepada Tuhan dan melakukan kehendak Allah.
Tuhan memberkati kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 309:1,3.
    1. Pengasup kami o Tuhan gelah pedahNdu banci idalanken, em kap tendang kami bas kegeluhen. KataNdu si man gelemen. Gelah tangkas kata ras perbahanen, ban min kami tetap bas kebujuren. SurgaNdu kap perayaken.
    2. Kawali kami o Tuhan, alu gegeh ras kuasaNdu si mbelin. Olangilah kami idur si setan si atena encedaken. DameNdu gelah tetap kuarapken. Ban kelengNdu ngenca kap kami atan, bengket ku bas kesangapen.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 5 November 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 310:1,2.
    Reff. Pujilah min Dibata, puji gelarNa Si Badia. Ibas Kristus ‘nggo si idah Dibata jine si perkuah.
    1. Langit ras doni rendelah, mungkuk erjimpuh nembahlah. Pasu-pasuNa kap mbelin, keleng ateNa la erkerin… Reff.
    2. O doni k’rina, suraklah Tuhan Dibata pujilah. Rikut kulcapi ras gendang, sampur meriah la teralang. … reff.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Kolose 4:2
    “ Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur.”

Renungan

Adalah suatu anugrah ketika kita dapat menjalani kehidupan kita tanpa permasalahan yang berat-berat. Di saat pandemi yang menekan berat kehidupan manusia, kita dapat merasakan hidup kita berjalan baik-baik saja, tanpa ada gangguan yang berarti. Ini adalah berkat Allah bagi kehidupan kita. Namun demikian, dalam kehidupan yang seperti inipun, kita perlu tetap waspada. Hal inilah yang dilakukan Paulus bagi Jemaat Kolose.
Dalam bacaan renungan malam hari ini, Paulus mendorong Jemaat Kolose untuk bertekun dalam doa. Mengapa Paulus mendorong Jemaat Kolose bertekun berdoa ? Situasi apa yang dialami Jemaat Kolose sehingga Paulus mendorong mereka bertekun dalam doa ?
Secara umum, para penafsir mengalami kesulitan dalam menentukan permasalahan atau konflik yang muncul di dalam jemaat Kolose. Dapat dikatakan bahwa kehidupan Jemaat Kolose sangat positif. Dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa surat Kolose ini lebih menekankan kepada pemeliharaan atau penjagaan pertumbuhan rohani jemaat Kolose. Surat Kolose ini juga dapat dianggap sebagai cara Paulus mempersiapkan jemaat Kolose untuk mengantisipasi ancaman-ancaman yang menganggu pertumbuhan iman jemaat Kolose. Di dalam Kolose 4:2 ini, Paulus mendorong Jemaat Kolose bertekun dalam doa, tidak putus-putusnya berdoa. Dalam hal ini, kata bertekun dihubungkan dengan kata berjaga-jaga. Dengan kata berjaga-jaga, kita teringat akan peristiwa Yesus dipermuliakan di atas gunung. Ketika Yesus berdoa, maka Petrus, Yohanes dan Yakobus tertidur. Dan mereka terbangun ketika mereka melihat Yesus dalam kemulianNya bersama dengan Musa dan Elia. (Lukas 9:28-32). Demikian juga dalam peristiwa di taman Getsemani, ketika Yesus berdoa, maka murid-muridnya tertidur. Yesus menasehatkan murid-muridnya dengan mengatakan, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:41) Dalam hal ini, berjaga-jaga berarti memiliki kewaspadaan terhadap tarikan dunia untuk menyangkal iman percaya kita kepada Tuhan Yesus. Dengan demikian, berdoa merupakan gaya hidup Jemaat Kolose. Berdoa merupakan kebutuhan mendesak dan sebagai solusi untuk memelihara pertumbuhan iman jemaat sekaligus mengantisipasi ancaman-ancaman kehidupan.
Selain tekun berdoa dengan sikap berjaga-jaga, Paulus menekankan agar jemaat Kolose juga berdoa dengan sikap ucapan syukur. Artinya, di dalam doa-doa mereka, Jemaat Kolose harus tetap mengingat keselamatan yang telah dianugrahkan Allah ke dalam kehidupan mereka. Jemaat Kolose juga harus mengingat dan mengucap syukur atas kebaikan hidup yang mereka alami saat itu.
Dari bacaan ini, kita dapat juga mengatakan bahwa berdoa bukan karena ada masalah saja. Walaupun kita, mungkin merasa tidak ada permasalahan berat yang sedang melanda hidup kita, tetapi kita tetap tekun berdoa, tidak putus-putusnya berdoa. Sebab berdoa merupakan cara bagi kita yang diberikan Allah untuk memelihara pertumbuhan iman kita dan mengantisipasi permasalahan-permasalahan dalam hidup kita. Di dalam doa, kita juga harus tetap mengingat keselamatan dan kebaikan hidup yang telah dianugerahkan Allah ke dalam hidup kita.
Tuhan Yesus memberkati kita untuk tekun berdoa, berjaga-jaga dan mengucap syukur. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 270:1,2
    1. Ermengkah ras ertoto, em keg’luhen si payo. Bas Kristus k’riahenta, meteruk ukurta. Ibas senang ‘ntah susah, kecibal geluhta. Pujilah Tuhan kataken bujur, alu bulat ukur.
    2. Meder udan ras baho, petir gelap ras lenggur, tumpat ukurku labo, kukataken bujur. Ibas senang ‘ntah susah,…
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 4 November 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 333:1,2
    1. Tuhan e tuhu melias perkuah, Ia ‘rbanca kita mejuah-juah. Ia me si erbanca ukur m’riah. Yesus e si njadiken kita erbuah.
    2. Yesus e teman suari berngi, kuasaNa labo kapen tersibari. BiakNa bali me kap nderbih gundari. Yesus e si nampati ras ngkawali.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Ibrani 6 : 19 – 20
    “ Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, ketika Ia, menurut peraturan Melkisedek, menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya.”

Renungan

Setiap orang memang perlu memiliki “sesuatu” yang dia yakini dan harapkan dapat menjamin kehidupannya. Suatu jaminan yang kuat dan aman bagi kehidupan kita saat ini dan masa depan kita. Ada orang yang meyakini dan mengharapkan pekerjaan, jabatan, kekuasaan, kekayaan, ketrampilan, keahlian, bentuk dan kesehatan fisiknya sebagai jaminan yang membuat masa depan seseorang itu kuat dan aman.
Bacaan renungan malam hari kita ini juga membicarakan tentang keyakinan dan pengharapan yang menjamin hidup kita. Di dalam Kitab Ibrani 6:19 ini, kata pengharapan diibaratkan dengan kata sauh, bahasa karo, jangkar. Jangkar harus diturunkan sampai ke dasar air sehingga jangkar itu dapat dengan kuat menahan dan mengamankan kapal dari derasnya arus air.
Demikianlah penulis kitab Ibrani ini menegaskan bahwa bagi kita orang percaya, pengharapan atau sauh kita ada Tuhan Yesus Kristus. Dikatakannya bahwa Tuhan Yesus Kristus telah memasuki tempat terdalam dari bangunan Bait Suci, yaitu ruang maha kudus, yang hanya dapat di masuki oleh Imam Besar. Tuhan Yesus adalah Imam Besar kita. Firman Tuhan dalam Ibrani 7:26-27 menjelaskan pemahaman tentang Yesus adalah Imam Besar kita. “Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga, yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban.” Yesus adalah Imam Besar kita karena Dia yang tidak bernoda, menjadikan diriNya sendiri menjadi korban penghapus dosa. Dengan demikian, di dalam pengorbanan Tuhan Yesus, Tuhan Yesus telah merintis jalan bagi kita untuk memasuki keselamatan itu. Yesus telah menjadikan dirinya sebagai jaminan keselamatan kita. “demikian pula Yesus adalah jaminan dari suatu perjanjian yang lebih kuat. (Ibrani 7:22) Inilah jaminan yang kuat dan aman bagi kehidupan kita.
Di dalam kehidupan kita, benar memang kita membutuhkan pekerjaan, jabatan, kekuasaan, kekayaan, ketrampilan, keahlian, bentuk dan kesehatan fisik yang baik untuk mendapatkan yang kita butuhkan. Namun demikian, meyakini dan mengharapkan hal ini sebagai jaminan kehidupan kita akan membuat kita kecewa. Pekerjaan, jabatan, kekuasaan, kekayaan, ketrampilan, keahlian, bentuk dan kesehatan fisik mempunyai keterbatasan waktu dan ketidakpastian hasilnya. Sebaliknya, dengan mendasarkan pengharapan kita kepada Tuhan Yesus Kristus, maka kita dimampukan untuk menerima keterbatasan waktu dan ketidakpastian hasil dari pekerjaan, jabatan, kekuasaan, kekayaan, ketrampilan, keahlian, bentuk dan kesehatan fisik kita. Dalam pengharapan kepada Tuhan Yesus kita dimampukan untuk sabar, tekun dan tenang dalam menjalani kehidupan kita, apapun hasilnya. Inilah yang menjadkan kehidupan kuat dan aman.
Tuhan Yesus memberkati kita dalam pengharapan kita kepada Tuhan Yesus Kristus. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 451:1,2.
    1. Malerlah pasu-pasuNdu bagi nipadankenNdu. Gegeh ras ukur si paguh, tetap iberekenNdu. Pasu-pasuNdu em ulu gegeh kami. enggo kap maler me tuhu. Si ndemi geluh kami.
    2. Malerlah pasu-pasuNdu g’luh kami jadi baru. Sorana bagi lau maler mpeteneng ukur kami. Pasu-pasu Ndu…
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 3 November 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 283:1,2.
    1. Kata ni Dibata bagi cirus udan. Nusur ku doni enda, peturah si nuan. O langit ras doni. Kam pe o pertibi, begiken pendiloNa, jadi erpemegi.
    2. Aloken tendingku kata ni Dibata. IA kap setia, adil perbahanNa. Benar me kap IA, padanNa pe tetap. Si ngikutken Ia, dame rasa lalap.
  2. Ertoto
  3. Pembacaan Firman Tuhan: Jakobus 3 : 9 – 11.
    “Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi. Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama?”

Renungan

Salah satu hal yang tersulit untuk dikendalikan manusia adalah mengendalikan lidahnya sendiri. Dengan memakai masker saja tidaklah cukup untuk mengendalikan lidah. Sebab lidah hanyalah tampilan luar, atau jalan keluar dari apa yang ada di hati dan pikiran kita. Bahkan terkadang, apa yang dikatakan lidah tidak singgah di pikiran kita terlebih dahulu. Lidah memiliki keinginannya sendiri, yang tidak sempat masuk ke terminal pikiran. Bahasa Karo sipasna emekap “la ngeranakan” artina ngerana alu la ngukurkenca lebe. Perjuangan pengendalian lidah inilah yang diingatkan dalam Surat Yakobus 3 :1-12 ini.
Dalam surat Yakobus 3 ini, Yakobus menyampaikan salah satu pengajaran moral bagi orang percaya, yaitu pengendalian lidah. Pada bagian awal, Yakobus memperlihatkan kuasa lidah itu. “Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka.” (Yakobus 3:6) Berikutnya, Yakobus juga memperlihatkan sulitnya mengendalikan lidah manusia. Di dalam Yakobus 3:7-8, dikatakan, “Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia, tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan.” Kita dapat mengatakannya bahwa begitu besar bahaya yang dapat dibawa lidah, dan begitu sulit untuk mengendalikannya. Yakobus menunjukkan bahwa orang yang sudah percaya saja, bisa jatuh dalam hal mengendalikan lidah. Bisa jadi orang percaya memakai lidahnya sebagai sarana berkat, tetapi juga memakai lidah untuk mengutuki. Dalam hal ini Yakobus mengingatkan agar hal ini tidak terjadi dalam kehidupan orang percaya.
Melalui pengajaran moral Yakobus ini, kita diingatkan untuk terus menerus mengendalikan lidah kita. Pengendalian lidah bukan peristiwa sekali sudah ditaklukan maka lidah itu akan selamanya terkendalikan. Perjuangan pengendalian lidah adalah perjuangan terus menerus. Kita harus memberi perhatian terus menerus kepada penggunaan lidah kita. Jangan lengah. Situasi pikiran yang berat dan suasana hati yang galau dapat saja membuat lidah kita mengatakan hal-hal yang menyakitkan dan mendukakan orang-orang yang kita kasihi. Terlebih dalam situasi dan suasana pandemi ini, kita diharapkan untuk semakin memperhatikan perkataan lidah kita. Oleh karena itu, kita terus menerus mengaliri kehidupan kita dengan sumber air tawar. Tuhan Yesus adalah sumber air kehidupan yang mengaliri kehidupan kita sehingga perkataan kita adalah berkat. KepadaNya kita berserah dan meneladani perkataan – perkataan Tuhan Yesus.
Tuhan Allah memberkati kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 323:1,2.
    1. Sura-sura daging, lawanlah tetap, je di la kam talu, tambah gegehndu. Sura-sura jahat simbaklah tetap, ngaraplah man Yesus tentu kam menang. Pindo gegeh man Tuhan, gelah kam lalap paguh, ib’reNa kita menang, menahang ras senang.
    2. Tadingken si jahat, olangi dosa. Ukurndu meciho la ercinengga. Pake kebenaren nggeluh bas terang, ngaraplah man Yesus tentu kam menang. Pindo gegeh man Tuhan.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 2 November 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 279:1,4
    1. Kam kap Dibatangku, Kam inganku cicio. Tegu-tegu aku, begiken pertotonku. Ernalem man baNdu, Kam pengarapenku. Kidekah geluhku, kupuji Kam Tuhan.
    2. Ku puji Kam Tuhan, rende aku man baNdu. Sabab seh ulina perbahanenNdu bangku. Ernalem man baNdu…
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Josua 23:11
    “ Maka demi nyawamu, bertekunlah mengasihi TUHAN, Allahmu.”

Renungan

Kita terus berjuang dalam kehidupan kita. Di dalam perjuangan itu, ada saja godaan yang mencoba membuat kita melakukan yang tidak dikehendaki Allah. Misalnya, secara emosi, kita diperhadapkan untuk mengeluarkan kata-kata kasar dan keras untuk menujukkan kemarahan kita terhadap mereka yang membuat kita sakit hati atau menahan emosi itu bahkan mengampuninya. Demikian juga dalam kesulitan ekonomi, bisa jadi muncul ide-ide untuk melakukan suatu pekerjaan yang tidak benar. Di dalam semua itu, yang kita ingat bukan hanya sekedar pemuasan kebutuhan emosi atau kepentingan ekonomi yang kita pertaruhkan, tetapi juga adalah keberlangsungan hidup kita. Dalam hal ini kita dapat belajar dari pengalaman Josua ketika memimpin bangsa Israel.
Pada jaman Josua, bangsa Israel telah menempati tanah bangsa Kanaan yang telah dijanjikan Allah kepada nenek moyang mereka Abraham. Tuhan sudah mengikatkan diriNya dalam perjanjian dengan bangsa Israel. Firman Tuhan dalam Keluaran 19:5-6, “Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang Israel.”
Demikian juga dalam Kitab Imamat 11:45 dikatakan, “ Sebab Akulah TUHAN yang telah menuntun kamu keluar dari tanah Mesir, supaya menjadi Allahmu; jadilah kudus, sebab Aku ini kudus”.
Dengan mengingat semua janji yang telah ditepati Allah, Josua mengingatkan bangsa Israel untuk setia kepada Allah. Kesetian bangsa Israel untuk hanya menyembah Allah, mendengarkan Firman Allah dan berpegang pada perjanjian dengan Allah merupakan penentu keberlangsungan atau kesinambungan hidup mereka di tanah yang telah diberikan Allah kepada mereka. Dengan demikian, kesetiaan kepada Allah sangat penting dalam kehidupan umat Allah.
Demikian juga dalam kehidupan kita saat ini, keselamatan yang telah dianugerahkan Allah kepada kita juga menuntut kesetian mutlak kepada Allah. Firman Tuhan dalam Lukas 21:19, “Kalau kamu tetap bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu.” Demikian juga dikatakan dalam Yakobus 1:12, “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.” Jadi kita dapat mengatakannya bahwa kesetiaan kepada Allah merupakan penentu keberlangsungan hidup kita.
Ditengah-tengah berbagai permasalahan hidup ini, terkadang kita melihat jalan keluar yang menggoda kita untuk melakukan yang salah. Namun demikian, kita diingatkan bahwa pertaruhannya bukanlah hal yang kecil. Kita diperhadapkan dengan keberlangsungan hidup kita. Bukan hanya hidup di dunia ini tetapi hidup setelah kita melewati kehidupan di dunia ini. Oleh karena itu, tetaplah kita setia, megenggeng erkiniteken man Tuhan Dibata, sampai pada akhirnya, sebab itu menentukan kehidupan kita.
Tuhan memberkati kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 202:1,2
    1. Ernalem gelah man Yesus, kula ukur tendingku. Endesken geluhndu baNa, keleng ateNa bandu. Ernalem gelah, tutus min gelah. O Yesus ku bahan aku ernalem gelah.
    2. Kita k’rina bas geluhta, p’raten daging simbak min. Pindo lebe gegeh baNa, maka kita erdahin. Ernalem gelah …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 1 November 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 368:1,2
    1. Si puji Tuhan Dibatanta, kataken bujur baNa. Sabab Ia si merekenca, pasu-pasu man banta. Mbelin ras mulia kekelengen Tuhan ibas doni enda. Ajari o Tuhan kami k’rina anakNdu, naksiken kerina perbahanenNdu.
    2. Geluh kami meriah tuhu, k’rina si k’rajangenNdu. Sabab kalak si nembah baNdu datken pasu-pasuNdu. Mbelin ras mulia kekelengen Tuhan ibas doni enda. Ajari o Tuhan kami k’rina anakNdu, naksiken kerina perbahanenNdu.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Nehemia 8 : 11
    “ Genduari mulihlah ku rumah janah man-manlah kam. Rasken panganndu ras anggurndu ras kalak si kekurangen. Sendah eme wari si badia man TUHANta, emaka ula ceda atendu. Keriahen si ibereken TUHAN man bandu sierbahanca kam megegeh.”

“Lalu berkatalah ia kepada mereka: “Pergilah kamu, makanlah sedap-sedapan dan minumlah minuman manis dan kirimlah sebagian kepada mereka yang tidak sedia apa-apa, karena hari ini adalah kudus bagi Tuhan kita! Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!”

Renungan

Kita teruskan perjalan hidup kita di bulan November ini. Khususnya, semenjak pandemi covid-19 ini, banyak hal-hal baru yang telah kita alami dalam hidup ini. Tentunya, kita tetap berharap lebih banyak lagi pengalaman-pengalaman baru yang akan kita lalui. Bagaimana kita menjalani hari-hari baru kita setiap hari ? Apakah kita menghadapinya dengan susah hati atau sukacita ? Kita boleh mendapat pengertian dari pembacaan Firman Tuhan malam hari ini.
Di dalam kitab Nehemia 8 :2 diceritakan tentang Ezra, ahli taurat diminta oleh rakyat untuk membaca kitab hukum yang diberikan TUHAN kepada Israel. Setelah mendengar pembacaan kitab hukum itu, mereka mengerti maknanya dan akhirnya menangis. Hal ini memperlihatkan kegagalan mereka selama ini. Dan kegagalan melaksanakan hukum biasanya mendatangkan malapetaka. Hal inilah yang mereka sesali, yaitu melalaikan hukum Allah, dan takuti, yakni menerima hukuman Allah, sehingga mereka menangis. Namun bagi Ezra, kejadian itu bukan untuk membuat mereka bersusah hati, tetapi hari itu adalah hari kudus. Dalam hal ini kekudusan hari itu dihubungkan dengan masih adanya kesempatan untuk menyesal dan takut dalam diri bangsa Israel. Adanya kesempatan untuk menyesal dan takut justru merupakan sukacita. Nina kuan-kuan, si sedihnya akap eme adi lanai lit nari penyesalenna ibas erbahan si salah janah lanai lit kebiarenna ngaloken hukumen e. Dengan demikian dapat kita katakan bahwa kekudusan hari itu terlihat ketika kita datang kepada Allah dalam penyesalan dan ketakutan. Hari dimana kita bisa datang kepada Allah, dalam penyesalan dan ketakutan, adalah hari sukacita. Kita dapat memahami hal ini dengan mengenang kembali kata-kata si ayah ketika melihat anaknya yang “hilang” datang kembali. “ Kata anak itu kepadanya: Bapa, aku telah berdosa terhadap sorga dan terhadap bapa, aku tidak layak lagi disebutkan anak bapa. Tetapi ayah itu berkata kepada hamba-hambanya: Lekaslah bawa ke mari jubah yang terbaik, pakaikanlah itu kepadanya dan kenakanlah cincin pada jarinya dan sepatu pada kakinya. Dan ambillah anak lembu tambun itu, sembelihlah dia dan marilah kita makan dan bersukacita.”(Lukas 15:21-23) Kita bersukacita, sebab kita yakin ketika kita datang dalam penyesalan dan ketakutan tetapi justru disambut Allah dengan sukacita. Inilah lembaran baru dalam kehidupan kita. Oleh karena sukacita itu, Nehemia menyuruh orang Israel pulang ke rumah mereka untuk memakan sedap-sedapan dan meminum manis-manisan. Sukacita itu juga harus dirasakan oleh orang yang tidak memiliki apa-apa, miskin. Sukacita yang diberikan Tuhan inilah juga yang merupakan kekuatan untuk menjalani kehidupan kita.
Demikianlah dengan sukacita yang berasal dari sukacita Allah, kita jalani kehidupan kita di hari-hari ini. Kita sambut hari-hari di bulan November dengan sukacita Allah. Tuhan Allah memberkati kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 202:1,2
    1. Ernalem gelah man Yesus, kula ukur tendingku. Endesken geluhndu baNa, keleng ateNa bandu. Ernalem gelah, tutus min gelah. O Yesus ku bahan aku ernalem gelah.
    2. Kita k’rina bas geluhta, p’raten daging simbak min. Pindo lebe gegeh baNa, maka kita erdahin. Ernalem gelah …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 31 Oktober 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 385:1,3.
    1. Kam me o Tuhan pematang g’luhku, Kam empuna tendingku. Tedeh ateku sikel ukurku rembak tetap min ras Kam. RembakkenNdu aku ku kayu persilangNdu. RembakNdu aku, rembakkenNdulah ku lebeNdu o Tuhan.
    2. Seh kal senangna seh kal riahna rembak ras Kam o Bapa, sanga ertoto entah ersembah ukur pusuh ermegah. RembakkenNdu aku …
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata Mazmur 28 : 2
    “Dengarkanlah suara permohonanku, apabila aku berteriak kepada-Mu minta tolong, dan mengangkat tanganku ke arah tempat-Mu yang maha kudus.”

Renungan

Kita tidak dapat memilih-milih atau menentukan permasalahan hidup apa yang boleh datang ke dalam kehidupan kita. Ya, memang masalah itu datang tanpa permisi dahulu atau tidak menanyakan kesediaan kita dalam menyambut kedatangannya. Dan rasanya setiap permasalahan itu datang pada waktu yang tidak tepat. Namun demikian, yang terpenting adalah respon kita atau bagaimana kita menghadapi permasalahan itu.
Dalam bacaan renungan malam hari ini, kita dapat belajar tentang respon Daud terhadap permasalahan yang dia hadapi. Daud mengakui bahwa dirinya sedang mengalami permasalahan berat. “Dari Daud. Kepada-Mu, ya TUHAN, gunung batuku, aku berseru, janganlah berdiam diri terhadap aku, sebab, jika Engkau tetap membisu terhadap aku, aku menjadi seperti orang yang turun ke dalam liang kubur” (Mazmur 28:1)
Dalam situasi ini, Daud tidak hilang kepercayaannya. Dia tetap mempercayai kuasa Allah mampu menyelamatkan dirinya. Oleh karena itu, Daud berseru kepada Tuhan dan mengangkat tangannya memohon belas kasihan Tuhan Allah. Inilah yang dilakukan Daud dalam menghadapi permasalahan berat yang mengancam nyawanya.
Dalam Mazmur 28 ini, kita juga melihat pengakuan Daud. “Terpujilah TUHAN, karena Ia telah mendengar suara permohonanku. TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya.” (Mazmur 28:6-7)
Dari pengalaman Daud ini, kita dapat memahami bahwa terkadang jalan terbaik yang harus kita lakukan adalah berseru kepada Tuhan. Kita menyadari bahwa akal, keahlian, kemampuan kita terbatas dan tidak mampu lagi membebaskan kita. Akal, keahlian dan kemampuan kita memang terbatas, namun demikian, kita percaya kuasa Allah yang tidak terbatas. Iman percaya kita-lah modal terbesar dalam hidup kita.
Pengalaman kita sendiri mengatakan, bahwa sudah berulang kali kita heran akan kuasa Allah. Kita sendiri sudah merasa kehilangan akal, keahlian dan kemampuan kita menghadapi permasalahan hidup kita. Kita hanya tahu berseru, berharap dan berdoa kepada Allah. Dalam situasi ini kita merasakan ada saja jalan terbuka yang membuat kita mampu dan memperoleh hasil terbaik yang diluar jangkauan akal kita. Kita mempercayai bahwa Allah-lah yang memberikan kemampuan dan hasil terbaik bagi kita.
Dari pengalaman ini, kita dapat belajar untuk meneguhkan iman percaya kita. Dalam permasalahan kita, kita berseru kepada Allah. Kita mempercayai Allah mendengar seruan kita dan memberkati kehidupan kita. Pengalaman ini juga menjadi motivasi bagi kita untuk menaikkan pujian syukur kita kepada Allah.
Kita persiapkan tubuh, roh, jiwa, hati dan pikiran kita untuk menaikkan pujian syukur kita melalui ibadah minggu kita. Melalui pujian dan penyembahan, kita terus menerus mengingat kuasa Allah ini dan meneguhkan iman percaya kita untuk berseru kepada Allah. Tuhan Yesus memberkati kita dalam mempersiapkan segala sesuatu untuk ibadah penyembahan kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 201:1,4.
    1. Malem ate tuhu-tuhu, si ernalem man baNdu. Kam Dibata sinjadiken langit ras doni enda. SalsaliNdu pusuh kami, maka t’rangndu tergejap. Kalak si tek la kap bene, ban kelengNdu e tetap.
    2. Aloken Kamlah o Bapa, kuendesken geluhku. KesahNdu min ngajarisa, lah kueteh nembah baNdu. Pasu – pasu min kerina, daging, ukur, tendingku. Gelah arah tan ras kata, ipujina gelarNdu.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 30 Oktober 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 291:1,3.
    Reff. M’riah ukur kami o, Bapa, nembah ‘rjimpuh ertoto baNdu. Kam o Tuhan ipuji kami, ermulia gelarNdu.
    1. Bengket kami o Tuhan, ngadap ku lebeNdu. Reh kami muji muji gelarNdu, Tuhan si Badia. Reff.
    2. Bujur ning kami baNdu ban keleng ateNdu. IcukupiNdu k’rina si perlu, mbelin kal kuasaNdu. Reff.
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata I Tesalonika 4: 11 – 12.
    “ Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah kami pesankan kepadamu, sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka.”

Renungan

Salah satu yang dibutuhkan batang padi ini untuk bertumbuh adalah air. Ada kalanya, pada saat batang padi ini selesai di tanam, terjadilah musim kemarau. Sungguh ini adalah permasalahan yang mengkhawatirkan seorang petani. Kehidupan kita juga tidak lepas dari permasalahan. Permasalahan hidup yang dapat saja membuat kita tidak bisa tenang, diliputi ketakutan dan kecemasan terhadap kemampuan kita mengatasi masalah itu dan ketidakpastian hasil bagi masa depan kita. Walaupun kita diliputi permasalahan hidup, sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus, bukan berarti kita tidak dapat tenang menghadapinya. Ketenangan dalam menghadapi permasalahan hidup-lah yang diingatkan Paulus dalam renungan malam hari ini.
Berdasarkan 1 Tesalonika 3:4, kita ketahui Jemaat Tesalonika sedang menghadapi permasalahan. “Sebab, juga waktu kami bersama-sama dengan kamu, telah kami katakan kepada kamu, bahwa kita akan mengalami kesusahan. Dan hal itu, seperti kamu tahu, telah terjadi.” Untuk menghadapi kesusahan ini, Paulus memberikan nasehatnya. Paulus menasehatkan Jemaat Tesalonika “anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang”. Hidup tenang merupakan cara hidup yang berketetapan hati, bebas dari ketakutan, lemah lembut, damai dan sabar terhadap orang lain. Bagi kita, ketenangan hidup ini bersumber pada kasih Allah yang telah dianugrahkan kepada kita. Firman Tuhan dalam 1 Tesalonika 2:12-13, berkata, “dan meminta dengan sangat, supaya kamu hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil kamu ke dalam Kerajaan dan kemuliaan-Nya. Dan karena itulah kami tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah, sebab kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu, bukan sebagai perkataan manusia, tetapi dan memang sungguh-sungguh demikian sebagai firman Allah, yang bekerja juga di dalam kamu yang percaya.” Hal inilah yang membuat kita dapat hidup tenang. Paulus juga menganggap adalah suatu kehormatan, apabila orang yang telah percaya kepada Kristus, dapat hidup tenang. Hidup tenang merupakan suatu panggilan untuk memperaktekkan iman percaya kita. Inilah adalah suatu kehormatan.
Paulus juga menasehati Jemaat “untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri”. Salah satu hasil dari ketakutan dan kecemasan dalam diri kita adalah kita mempersoalkan perbuatan atau pekerjaan orang lain terhadap diri kita. Kita erpengakap situasinta enda jadi erkiteken kurangna perhatian ras penampat kalak si iakap kita banci nampati kita. Kita cendrung menyalahkan orang lain sebagai bagian penyebab permasalahan kita. Tetapi bagi orang yang percaya kepada Tuhan Yesus, kita tidak perlu mempersalahkan orang lain sebagai penyebab permasalahan kita. Karena kita yakin, Tuhan tetap bekerja dalam kehidupan kita, maka kita dengan tenang menghadapinya. Kita mengerjakan apa yang menjadi pekerjaan kita, “bekerja dengan tangan” kita sendiri. Dengan cara hidup seperti ini, orang yang belum percaya kepada Tuhan Yesus akan berlaku sopan terhadap kita dan kita tidak menggantungkan pemenuhan kehidupan kita pada orang luar.
Demikianlah, keselamatan yang dianugerahkan Allah memang membuat perubahan tujuan dan cara hidup kita. Kita merasakan ada panggilan Allah dalam perilaku kehidupan kita dan adalah suatu kehormatan bagi kita untuk dapat menyaksikan iman percaya itu. Kita jalani hidup kita dengan mempraktekkan hidup tenang, tidak mencampuri urusan orang lain dan mengerjakan pekerjaan kita. Tuhan memberkati kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 320:1,2.
    1. Susah entah senang gia, ibas geluh enda. amin kita bas perbeben, ernalem man baNa. Nggeluh ‘bas Tuhan malem ateta, sibegiken pedahNa. Pindo gegeh ras pasu-pasuNa, ib’rekenNa man banta.
    2. Aminna latih mesera, gegeh ib’rekenNa. Tetap ernalem man baNa kidekah geluhta. Mejingkatlah ndahiken dahinNa, g’lah meriah ukurta. Sangap kalak si rembak ras Ia, terpujilah gelarNa.
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan

Renungan Malam 29 Oktober 2020

  1. Rende KEE GBKP No. 324:1,2.
    1. Tuhan kap penalemenku, Ia sinjayam geluhku. Ia kap pe sekawalku, la nggo kekurangen aku. Tuhan si mada sinasana, Tuhan saja si pehaga. Muliakenlah gelarNa, mari puji sembah Ia.
    2. Kune jumpa si mesera, kiniteken labo pera. Tetap aku isampatiNa, k’leng ateNa la erleka. Tuhan si mada sinasana…
  2. Ertoto
  3. Ngoge Kata Dibata 2 Samuel 16 : 12 – 13.
    “ Mungkin TUHAN akan memperhatikan kesengsaraanku ini dan TUHAN membalas yang baik kepadaku sebagai ganti kutuk orang itu pada hari ini.” Demikianlah Daud melanjutkan perjalanannya dengan orang-orangnya, sedang Simei berjalan terus di lereng gunung bertentangan dengan dia dan sambil berjalan ia mengutuk, melemparinya dengan batu dan menimbulkan debu.”

Renungan

Salah satu yang berpengaruh dalam perjuangan hidup kita adalah tanggapan dan perkataan orang lain kepada kita. Kita mengharapkan dapat mendengarkan kata-kata positif, kata-kata motivasi dan kata-kata yang menghibur dari orang. Kata-kata ini tentunya memberikan sukacita, semangat dan kekuatan untuk menjalani kehidupan kita. Tetapi, masalahnya kita tidak selalu mendengar kata-kata positif, kata-kata motivasi dan kata-kata yang menghibur dari mulut orang lain. Kita juga sering mendengar dan merasakan kata-kata negatif, kata-kata melemahkan dan kata kata yang mendukakan hati dan pikiran kita. Sungguh, kita tidak dapat mengatur apa tanggapan dan perkataan orang lain kepada kita, yang dapat kita kelola adalah bagaimana kita menanggapi perkataan orang lain itu. Inilah yang dapat kita pelajari dari pengalaman Daud ini.
Dalam 2 Samuel 16 ini, kita membaca kisah perjalanan Daud beserta rombongannya. Setelah Daud melarikan diri dari istana kerena pemberontakan Absalom, anaknya, tibalah Daud pada suatu daerah. Dikatakan dalam 2 Samuel 16 : 5-8, “Ketika raja Daud telah sampai ke Bahurim, keluarlah dari sana seorang dari kaum keluarga Saul; ia bernama Simei bin Gera. Sambil mendekati raja, ia terus-menerus mengutuk. Daud dan semua pegawai raja Daud dilemparinya dengan batu, walaupun segenap tentara dan semua pahlawan berjalan di kiri kanannya. Beginilah perkataan Simei pada waktu ia mengutuk: “Enyahlah, enyahlah, engkau penumpah darah, orang dursila! TUHAN telah membalas kepadamu segala darah keluarga Saul, yang engkau gantikan menjadi raja, TUHAN telah menyerahkan kedudukan raja kepada anakmu Absalom. Sesungguhnya, engkau sekarang dirundung malang, karena engkau seorang penumpah darah.”
Mendengar kata-kata kutukan itu, Abisai, salah seorang prajurit raja Daud meminta ijin untuk membalas perbuatan Simei ini. Dalam hal ini Daud melarang Abisai membalas kata-kata kutukan Simei itu. Malah sebaliknya, Daud mengatakan, “Pula kata Daud kepada Abisai dan kepada semua pegawainya: “Sedangkan anak kandungku ingin mencabut nyawaku, terlebih lagi sekarang orang Benyamin ini! Biarkanlah dia dan biarlah ia mengutuk, sebab TUHAN yang telah berfirman kepadanya demikian.” Daud menganggap bisa jadi kutuk yang dikatakan Simei merupakan penjelasan dari Tuhan tentang apa yang telah dilakukan Daud dalam hidupnya. Terlebih, Daud merasa bahwa kebaikan Tuhan akan melingkupinya sebagi ganti kutuk yang dikatakan Simei. Daud meyakini Tuhan itu maha adil, sehingga Tuhan memperhatikan kesengsaraanya, melindungi dan memelihara hidupnya yang dikutuki Simei.
Dari pengalaman Daud ini, kita dapat belajar untuk tidak perlu membalas caci maki dengan caci maki, kutuk dengan kutuk. Tetapi mempercayakannya kepada keadilan Allah. Allah Maha Adil yang memelihara hidup kita, dengan mengantikan kutuk itu menjadi berkat kebaikan dalam hidup kita. Kita memohon kepada Allah agar diberikan kemampuan menguasi emosi dan pikiran kita, sehingga kita mampu bersabar, tenang dan tetap memikirkan yang terbaik dalam hidup kita. Tuhan Yesus memberkati kita. Amin.

  1. Ertoto kenca renungen.
  2. Rende KEE GBKP No. 388:1,3
    1. Tupung tayang aku nginget Kam, gedang berngi ‘ku ukuri Kam. Sabab Kam si nampati aku, o Dibata tedeh ‘teku Kam. O Dibata Kam kap Dibatangku, kudahi tedeh ateku Kam. Mesikel aku nandangi Kam, desken taneh si enggo kerah. Bage me muasna tendingku, man baNdu Tuhan Dibatangku.
    2. Nteguh cikep tanku o Tuhan, teneng ukurku adi ras Kam. La mbiar jumpa percubaan, malem ate ‘di rembak ras Kam. O Dibata, Kam kap Dibatangku …
  3. Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.

Pdt. Tanda Pinem

GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan