Renungan Malam 11 November 2020
- Rende KEE GBKP No. 290:1,2
- Labo erkiteken beluhku. Labo erkiteken pentarku. Tapi perbahan penampatndu. Mbelin tergejap bas geluhku.
- Labo erkiteken dahinku. Labo erkiteken pangkatku. Tapi perbahan perkuahNdu. Malem ateku tuhu-tuhu.
- Ertoto
- Ngoge Kata Dibata Bilangen 11 : 4 – 5.
“Lit piga-piga kalak asing ikut i bas perdalanen ras bangsa Israel e. Lanai kal lang-lang rincuhna ia man daging, janah bangsa Israel jine pe enggo mulai jungut-jungut nina, “Lit kin min daging man panganta ! Adi i Mesir biasa kita rate-ate man nurung, janah la nukur pe. Ma siinget denga kin biasa lit i bas kita cimen, mandike, pere, pia, lasuna?”
Renungan
Bukan hanya covid-19 yang menular, keinginan pun juga dapat menular. Misalnya, ketika kita berjalan di supermarket, kita melihat banyak orang yang berkerumun membeli suatu barang. Dari rumah, sebenarnya barang itu tidak ada di daftar kebutuhan atau keinginan kita. Tetapi ketika kita melihat banyak orang antri ingin membeli barang itu, bisa jadi muncul juga keinginan dan kita rela antri kita untuk membelinya. Hal inilah yang terjadi dalam perjalanan bangsa Israel.
Dalam Kitab Bilangan 11 ini, dikisahkan bangsa Israel yang telah bebas dari Mesir dan sedang dalam perjalanan di gurun pasir meninggalkan gunung Sinai. Bersama-sama bangsa Israel ada orang asing yang juga ikut keluar dari tanah Mesir. Pada awalnya, orang-orang asing inilah yang mengingini makan daging. Kemudian, keingian orang asing itu menular kepada bangsa Israel. Dalam diri bangsa Israel keinginan itu telah berubah menjadi sungut-sungut. Dalam sungut-sungutnya mereka mulai membanding-bandingkan keadaan mereka. Mereka membandingken ketidakadaan daging yang mereka alami di gurun pasir dengan keadaan mereka yang dapat makan ikan sepusnya di Mesir. Mereka mengingat ketika di Mesir mereka dapat memakan ikan sepuasnya dan memiliki mentimun, semangka, bawang prei, bawang merah dan bawang putih untuk dimakan. Hal ini menunjukkan penyesalan mereka bebas dari Mesir. Dikatakan dalam Bilangan 12 :20, “menangis di hadapan-Nya dengan berkata: Untuk apakah kita keluar dari Mesir?”
Dapat kita katakana bahwa bangsa Israel tidak lagi mengingat dan menghargai anugrah besar yang telah diberikan kepada mereka hanya karena persoalan tertular keinginan. Sebelum tertular, mereka tidak menggangap itu kebutuhan penting. Tetapi setelah tertular, keinginan itu berubah menjadi kebutuhan utama, yang akhirnya membuat mereka mengganggap remeh dan tidak lagi menghargai anugrah kebebasan yang telah ada pada mereka. Kitab Bilangan 12 : 20 menyimpulkan sikap bangsa Israel ini dengan mengatakan, “kamu telah menolak TUHAN yang ada di tengah-tengah kamu”.
Pengalaman bangsa Israel ini dapat menjadi alat evaluasi perjalanan hidup kita. Keselamatan dan penebusan dosa yang telah dianugrahkan Allah kepada kita tidak dapat digantikan dengan apapun juga. Kesulitan hidup saat ini memanglah besar. Mungkin banyak kebutuhan atau keinginan kita yang tidak atau belum terpenuhi. Terkadang kita merasa tertekan dan hal itu dapat membuat emosi kita meledak-ledak, perasaan kita campur aduk, marah-marah dan berkata kasar. Dalam situasi seperti ini, mari kita mengingat kembali anugrah besar yang telah kita terima. Kita tetap mengingat dan mensyukuri anugrah Allah ini. Dengan hal inilah kita mengisi dan mengendalikan perasaan kita. Kita lebih mengingat dan menghargai keselamatan kita ketimbang dengan keinginan-keinginan kita yang belum terpenuhi. Inilah yang menguatkan kita dalam menghadapi kehidupan kita. Tuhan memberkati kita. Amin.
- Ertoto kenca renungen.
- Rende KEE GBKP No. 212:1,4
- Perkuah ate si mbelin. Nemani geluhku. Ije me aku erdalin. Teruh perkuahNdu.
- Perkuah ate si mbelin. Si mahan dame e. Bengketi pusuh kami min. ‘Lah kami senang je.
- Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.
Pdt. Tanda Pinem
GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan
Renungan Malam 10 November 2020
- Rende KEE GBKP No. 369:1,2
- O Dibata Kam pengarapenku, malem kal ateku ibahanNdu. Perban e kupuji Kam Tuhanku, rasa lalap seh rasa lalap.
- O Tuhan, Kam me kap kecionku. Tupung aku ‘bas kiniseranku. Perban e kupuji Kam Tuhanku, rasa lalap seh rasa lalap.
- Ertoto
- Ngoge Kata Dibata Mazmur 40 : 6
“ Banyaklah yang telah Kaulakukan, ya TUHAN, Allahku, perbuatan-Mu yang ajaib dan maksud-Mu untuk kami. Tidak ada yang dapat disejajarkan dengan Engkau! Aku mau memberitakan dan mengatakannya, tetapi terlalu besar jumlahnya untuk dihitung.”
Renungan
Banyak pekerjaan besar menanti kita. Seperti pak tani ini, dia baru memulai pekerjaan pengolahan sawahnya. Banyak pekerjaan besar menantinya untuk dikerjakan. Demikian juga dalam kehidupan kita, banyak pekerjaan yang harus kita kerjakan. Dapat saja, karena melihat banyaknya pekerjaan yang menanti, orang menjadi lemah duluan, kurang bersemangat dan patah hati. Oleh karena itu kita memang membutuhkan penyemangat dalam hidup ini. Dalam hal ini kita dapat belajar dari pengalaman Pemazmur dalam Mazmur 40.
Mazmur 40 ini berisi pengakuan dan sekaligus pujian Pemazmur bagi kebaikan Allah. Pemazmur mengakui bahwa dia telah banyak merasakan kebaikan Allah. Salah satunya diungkapkan Pemazmur dalam Mazmur 40 : 3, “Ia mengangkat aku dari lobang kebinasaan, dari lumpur rawa; Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku,” Dan bukan hanya Pemazmur saja yang merasakan banyaknya kebaikan Allah itu tetapi juga banyak orang yang mengalami kebaikan Allah yang banyak itu. Dalam ayat 6 ini, Pemazmur mengatakan “kami”. Pemamzur menyadari bahwa cara Allah menyelamatkan mereka sungguh ajaib, tak terselami maksud Allah bagi mereka. Tidak ada yang dapat disejajarkan dengan Allah. Kebaikan Allah yang begitu banyak dan ajaib ini mendesak Pemazmur untuk memberitakan kebaikan Allah itu. Namun Pemazmur menyadari bahwa kebaikan Allah itu terlalu besar jumlah sehingga tidak dapat dihitung.
Mengingat semua kebaikan Allah itu, Pemazmur datang kepada Allah memohon pertolongan Allah. “ Sebab malapetaka mengepung aku sampai tidak terbilang banyaknya. Aku telah terkejar oleh kesalahanku, sehingga aku tidak sanggup melihat; lebih besar jumlahnya dari rambut di kepalaku, sehingga hatiku menyerah. Berkenanlah kiranya Engkau, ya TUHAN, untuk melepaskan aku; TUHAN, segeralah menolong aku!” (Mazmur 40:12-13 ITB)
Dalam pemahaman yang seperti ini kita datang kepada Allah. Kita mengingat kebaikan Allah yang banyak itu di dalam hidup kita. Kita percaya bahwa cara Allah memperlihatkan kebaikannya sungguh ajaib, tidak terselami manusia. Dengan demikian kita tetap memohon pertolongan Allah dan berserah kepada cara Allah menunjukkan kebaikannya kepada kita.
Demikianlah dalam penderitaan hidup yang kita alami, kita datang kepada Allah memohon pertolongan Allah. Kita yakin akan pertolongan Allah sebagaimana Allah telah banyak menolong hidup kita di masa-masa yang lalu. Dengan keyakinan ini kita jalani hidup kita dengan ketenangan, kesabaran dan ketekunan. Dengan mengingat dan yakin Tuhan mendengar permohonan kita dan Allah memberi pertolonganNya, hal inilah yang menjadi penyemangat dalam hidup kita. Tuhan Yesus memberkati kita. Amin.
- Ertoto kenca renungen.
- Rende KEE GBKP No. 168:1,2
- Tegu aku o Tuhanku ibas dalan mesera. La lit ngasup ras gegehku, b’re min tanNdu negusa. Roti surga, roti surga, tetap b’reken man bangku. Tetap b’reken man bangku.
- Lau si nggeluh b’re min elah maka aku megegeh. ‘Tah kai jadi bas geluhku, Kamlah arah lebengku. O Tuhanku, O Tuhanku, Kam me kap sekawalku, Kam me kap sekawalku.
- Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.
Pdt. Tanda Pinem
GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan
Renungan Malam 9 November 2020
- Rende KEE GBKP No. 205:1,2.
- Rehlah min o Tuhan, sikap kami k’rina ersembah man baNdu jenda. Nusurlah min Tuhan bahan sikap k’rina, ukur kami pebadia. O Bapa, b’re gelah daten pasu-pasu kami k’rina enda.
- Tuhan Dibatanta lit bas rumah enda, nembah kita k’rina baNa. Alu kehamaten mungkuklah man baNa, kula, tendi pe kerina. Aloken KataNa ras Pasu-pasuNa, usekenNa banta.
- Ertoto
- Ngoge Kata Dibata Mazmur 20 : 2 – 3.
“ Dibatalah si mperdiateken kam tupung i bas kiniseran. Dibata nu Jakuplah si ngkawali kam ! IsampatiNalah kam i bas RumahNa si badia nari, iberekenNalah penampat i deleng Sion nari.”
Renungan
Kita menyadari bahwa kita memiliki keterbatsan, misalnya dalam hal kebijaksanaan, pemahaman, kemampuan dan kekuatan. Kita memang membutuhkan bantuan untuk menghadapi kehidupan ini. Bantuan itu dapat berasal dari keluarga kita, persekutuan kita, persahabatan kita dan lingkungan kita. Namun bantuan ini juga memiliki kebeterbatasannya. Oleh karena itu kita memang membutuhkan “kuasa” dari yang menciptakan kita, yang mengerti kita dan yang kuasanya yang tidak terbatas.
Hal inilah yang kita pahami dari doa permohonan Pemazmur ini. Pemazmur menyampaikan permohonannya kepada Allah untuk raja. Seorang raja tentunya memiliki kuasa yang besar. Dia memiliki kuasa atas hukum, kekuatan “tidak terbatas” atas rakyatnya dan dapat mengerahkan seluruh pejabatnya, tenaga ahlinya, dan kekuatan rakyatnya untuk membantu dirinya. Walaupun raja memiliki kekuatau besar, namun Pemazmur menyadari bahwa kekuatan raja itu juga terbatas. Seorang raja yang memiliki kekuasaan sekalipun tetap membutuhkan berkat dalam menjalankan pemerintahannya. Oleh karena itu Pemazmur memohon berkat kepada Allah.
Permohonan Pemazmur ‘agar Allah memberkati raja’ menunjukkan bahwa di atas kekuasaan raja ada kuasa yang lebih berkuasa atas seorang raja itu. Permohonan ini sekaligus juga menunjukkan bahwa Allah yang berkuasa atas kehidupan dan kepemimpinan seorang Raja. Atas kehendak Allah-lah maka seorang raja dapat memimpin rakyatnya.
Pemazmur memohon berkat Allah agar Allah memperhatikan seruan raja pada waktu kesesakannya. Pemazmur memohon perlindungan Allah dan pertolongan Allah. Keyakinan Pemamzur untuk memohon berkat Allah ini diperkuat dari pengalaman nenek moyang mereka. Bahwa Allah-lah yang menjadikan Jakup dan keturunannya menjadi bangsa yang besar. Demikian juga Pemazmur meyakini bahwa karena kuasa Allah maka raja dapat memimpin rakyatnya yang besar.
Demikian juga-lah kehidupan kita saat ini. Kita menyadari keterbatasan kita, terlebih ketika saat ini kita diperhadapkan dengan kesulitan yang besar dan berkepanjangan di masa pandemi ini. Seorang raja yang berkuasa pun tetap membutuhkan berkat, apalagi kita yang terbatas kebijaksanaan, pemahaman, kemampuan dan kekuatan kita. Oleh karena itu tetaplah kita memohon berkat- berkat Allah dalam kehidupan kita. Allah-lah yang memperhatikan seruan kita, membentengi dan menolong kita.
Kita jalani kehidupan kita dengan memaksimalkan kebijaksanaan, pemahaman, kemampuan dan kekuatan kita. Kita hidup dalam suasana saling memperhatikan, saling mendukung dan saling membangun di antara keluarga, persekutuan dan lingkungan kita. Dan di atas semuanya itu, kita percaya dan memohon bahwa oleh karena berkat Allah-lah kita mampu menjalani kehidupan kita. Tuhan memberkati kehidupan kita. Amin.
- Ertoto kenca renungen.
- Rende KEE GBKP No. 204:1.3.
- Pasu pasu ni Tuhanta , si nemani geluhta. Tiap wari seh man banta, la ersibar ngaruhna. Aku pe, aku pe, pasu-pasu aku pe.
- I ja ndia si ndarami si ngkawali geluh e. Yesus ngenca si nampati, maka kita la bene. Aku pe, aku pe, sampatilah aku pe.
- Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.
Pdt. Tanda Pinem
GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan
Renungan Malam 8 November 2020
- Rende KEE GBKP No. 275:1,3.
- Kam Tuhan sekawalku, la lit kebiarenku. Amin gulut ukurku, ernalem tetap baNdu. Galumbang si merawa, jadi ibas geluhku. Lalap kau erpengendes, sebab Kam kap bentengku
- ‘Di bage nina Tuhan, ula pedekah-dekah, sidahilah gundari, Tuhanta si perkeleng. Ikutkenlah kataNa, ula pekulah-kulah, pengarapen ib’rekenNa, em gegeh bas geluhta.
- Ertoto
- Ngoge Kata Dibata Yakobus 5 : 7
“ Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi.”
Renungan
Seorang petani bekerja tentunya untuk mendapatkan hasil. Dan untuk mendapatkan hasil itu, seorang petani harus mengerahkan kemampuannya. Dia harus membaca tanda-tanda waktu untuk menentukan bilamana sudah tiba musimnya untuk menanam. Dia harus mengolah lahan pertaniannya dengan baik, menyiapkan bibit, merawat, memelihara tanamannya hingga hari panennya tiba. Sepanjang proses ini, banyak hal yang diluar kendalinya. Misalnya, masalah cuaca, masalah bibit, masalah hama dan masalah nilai jualnya. Yang bisa dilakukan petani itu adalah mengerahkan semua kemampuan terbaiknya untuk mengolah lahan pertaniannya, yakin akan ada hasil yang menantinya dan bersabar sampai hasil terbaik itu diperolehnya.
Demikianlah Kitab Yakobus ini mengingatkan kita dalam menjalani hari-hari kehidupan kita. Khususnya dalam Kitab Yakobus ini kita diingatkan bahwa sebagai orang yang telah diselamatkan Allah, kita harus berusaha dan mengerahkan segala kemampuan kita untuk menjadi pelaku-pelaku Firman. Kita berjuang agar penggunaan lidah, pengekangan hawa nafsu, tentang menghakimi dan penggunaan kekuasan dan kekayaan, haruslah sejalan dengan kehendak Allah. Kita yakin ada harapan akan kemuliaan yang besar. “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia. (Yakobus 1:12) Oleh karena itu kita bersabar dalam menjalani kehidupan kita.
Demikianlah kita jalani kehidupan kita dengan kesabaran. Sabar berarti kita sudah mengerjakan pekerjaan kita dengan segenap kemampuan kita dan yakin ada hasil yang menanti kita.
Kita jalani kembali kehidupan kita dalam minggu ini. Dengan segenap kemampuan kita, kita kerjakan segala tugas tanggung jawab kita, rencana-rencana kita, pekerjaan yang harus kita teruskan, atau pekerjaan baru yang harus kita mulai, semuanya itu kita kerjakan dengan semangat dan semampu kita. Kita yakin Allah memberkati segala usaha, pekerjaan dan pencarian kita, sehingga ada hasil yang kita peroleh. Dengan demikian, kita dapat sabar dan tenang menunggu hasilnya.
Tuhan memberkati kita dalam mempersiapkan dan mengerjakan tugas, tanggung jawab dan pekerjaan kita dalam minggu ini. Amin.
- Ertoto kenca renungen.
- Rende KEE GBKP No. 276:1,2.
- Kuikutken Kam o Tuhan, Kam kap si perkeleng e. Sabab Kam si mere dalan, dalan terkelin kepe. Ia ka pen Jurus’lamat. Ia ka pen penampat. KataNa me kapen tambar, KuasaNa la ‘rsibar.
- Tuhan ka pen kuarapken jadi temanku nggeluh. Tetap Ia penalemen, kinitekenku ‘nteguh. Ia ka pen Jurus’lamat…
- Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.
Pdt. Tanda Pinem
GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan
Renungan Malam 7 November 2020
- Rende KEE GBKP No. 374:1,2.
- Yesus ulu kegeluhenku, Kam me ngenca pengendesenku. Lalap tedeh ate pusuhku, kupehaga Kam bas geluhku. O Tuhan pernehen pusuhku, si ertedeh ate man baNdu. Kugelem pedah ras padanNdu, kusembah Kam ibas geluhku.
- Ku sembah Tuhan Penebusku, si mereken kekelengenNa. Alu tutus reh aku Tuhan ras kerina isi jabungku. O Tuhan pernehen pusuhku, si ertedeh ate man baNdu. Kugelem pedah ras padanNdu, kusembah Kam ibas geluhku.
- Ertoto
- Ngoge Kata Dibata Ezra 9:9
“ Karena sungguhpun kami menjadi budak, tetapi di dalam perbudakan itu kami tidak ditinggalkan Allah kami. Ia membuat kami disayangi oleh raja-raja negeri Persia, sehingga kami mendapat kelegaan untuk membangun rumah Allah kami dan menegakkan kembali reruntuhannya, dan diberi tembok pelindung di Yehuda dan di Yerusalem.”
Renungan
Sering kita mendengar ungkapan “merutu si melinangna”. Ungkapan ini menunjukkan gambaran hidup tidak ada lagi yang baiknya, sudah buruk semuanya. Mungkin, kita pun pernah merasakan kehidupan kita tidak ada lagi yang baiknya, sudah buruk semuanya.
Hidup memang tidak lepas dari kesulitan hidup. Namun demikian, bukan berarti semuanya kesulitan. Tetap saja ada yang baik, yang melegakan hati dan pikiran kita. Hal itu tergantung bagaimana cara kita melihat dan memahami cerita kehidupan kita. Di tengah –tengah penderitaan hidup, kita tetap dapat melihat dan merasakan kasih Allah. Kita dapat belajar dari pengalaman Ezra.
Pada saat itu, bangsa Israel masih dalam perbudakan Babel. Bangsa Israel menyadari, keberadaan mereka sebagai bangsa buangan di Babel adalah tanda keadilan Allah. Mereka menyadari karena dosa-dosa merekalah maka mereka ada dalam pembuangan Babel. Namun demikian, mereka mengakui bahwa kasih setia Allah tidak meninggalkan mereka. Allah membuat mereka disayangi raja Persia. Sekelompok sisa orang Yahudi tetap dipelihara Allah dan dibawa kembali ke Yerusalem. Raja Persia mengijinkan mereka kembali ke Yehuda untuk membangun kembali Bait Suci di Yerusalem. Bangsa ini mengakui bahwa kebaikan Allah diperlihatkan Allah melalui kebaikan raja Persia.
Sebagai umat pilihan Allah, keberadaan mereka sebagai bangsa budak sungguh menyakitkan. Demikian juga, tanah Yehuda, tempat Biat Suci, tanah perjanjian kini menjadi tanah milik bangsa asing, yang tidak menyembah Allah, sungguh telah membuat mereka kehilangan status mereka sebagai umat Allah. Walaupun status mereka dan status Yerusalem masih dibawah kendali negara Persia, tetapi mereka menganggap kesempatan dapat kembali ke Yerusalem untuk memperbaiki Bait Suci Yerusalem merupakan keadaan yang melegakan. Demikianlah sekolompok orang Yahudi buangan ini tetap dapat melihat kebaikan Allah.
Sama halnya dalam kehidupan kita saat ini, tidaklah benar kalau kita mengatakan tidak ada lagi kebaikan. Semuanya sudah buruk. Tetap ada kebaikan Allah dalam kehidupan kita. Kebaikan itu dapat saja berupa adanya kesempatan bersama orang-orang terkasih, atau kesehatan kita, atau penghasilan kita, atau tetap adanya pekerjaan kita (lit ingan latih, lebih latih di kune lanai lit ingan latih) dan banyak hal lainnya. Yang penting adalah kemauan kita untuk melihat kasih Allah dalam kesulitan hidup kita.
Dengan cara memandang seperti inilah kita dapat mengucap syukur kepada Allah. Kita benar-benar dapat mengalami kebaikan Allah, ditengah-tengah kesulitan hidup ini. Ucapan syukur yang sungguh-sungguh muncul dari pengalaman kebaikan Allah dalam hidup kita. Bukan sekedar rutinitas ibadah Minggu. Kita lihat, kita pahami, kita rasakan dan kita ucapkan syukur dalam ibadah minggu kita. Kita persiapkan tubuh, roh, jiwa, hati dan pikiran kita untuk datang menyembah Allah melalui ibadah minggu kita.
Tuhan Yesus memberkati kita. Amin.
- Ertoto kenca renungen.
- Rende KEE GBKP No. 321:1,3
- Si sembahlah min, Tuhan si mbelin, endekenlah min, enden-nden pujin. Tuhan Dibatanta ingan cicio, sembahlah Ia ola kita menggo.
- Seh kal ulina penjayamenNdu, terang ras gelap e nuduhkenca. Udan ras lego k’rina kap ndatkenca. Kuasa kekelengenNa mbelin tuhu.
- Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.
Pdt. Tanda Pinem
GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan
Liturgi Ibadah Minggu 8 November 2020
Renungan Malam 6 November 2020
- Rende KEE GBKP No. 233:1,2
- Si bas dosa kin ercebah, olanai min dage pedekah-dekah. Tuhan Yesus ‘nggo ertenah, itimaiNa me kam wari sendah. Minter dahi Tuhan Yesus si melias, je turiken k’rina dosa alu telkas, ‘lah darehNa mbersihkenca seh melikas, maka baNa enggo kelas.
- Gia ‘nggo luka iban dosa, ibas Tuhan ‘nggo lit me kap tawarna. Ia ban si pekenasa,gelah ola pagi jumpa kelesa. Minter dahi Tuhan Yesus …
- Ertoto
- Ngoge Kata Dibata Ulangan 1:43;46
“ Dan aku berbicara kepadamu tetapi kamu tidak mendengarkan, kamu menentang titah TUHAN; kamu berlaku terlalu berani dan maju ke arah pegunungan.
Demikianlah kamu lama tinggal di Kadesh, yakni sepanjang waktu kamu tinggal di sana.”
Renungan
Allah telah memberi akal pikiran bagi manusia untuk menolong manusia memahami situasi hidupnya, menilai peristiwa dalam kerangka baik-buruk dan benar-salah dan mengambil keputusan yang berkenan kepada Allah. Namun demikian, penggunaan akal pikiran ini tidak dapat dibiarkan tanpa kendali. Ketidapatuhan dapat membuat kita melakukan hal-hal yang aneh. Akal pikiran kita harus tetap patuh kepada kehendak Allah.
Dalam renungan malam hari ini, kita dapat melihat salah satu contoh penggunaan akal pikiran yang tidak patuh pada kehendak Allah.
Di dalam Kitab Ulangan 1 ini, kita diberitahukan tentang perjalanan bangsa Israel yang telah keluar dari tanah Mesir. Saat itu bangsa Israel telah sampai di pegunungan Horeb. Allah menyuruh bangsa Israel maju ke pegunungan orang Amori sebab Allah telah menyerahkan negeri orang Amori ( Ulangan 1:7-8). Namun demikian, bangsa Israel meminta agar Musa menyuruh pengintai melihat tanah orang Amori. Laporan para pengintai justru membuat bangsa Israel mengerutu. (Ulangan 1:27) Mendengar hal itu Musa menetapkan hati orang Israel, “Ketika itu aku berkata kepadamu: Janganlah gemetar, janganlah takut kepada mereka; TUHAN, Allahmu, yang berjalan di depanmu, Dialah yang akan berperang untukmu sama seperti yang dilakukan-Nya bagimu di Mesir, di depan matamu, dan di padang gurun, di mana engkau melihat bahwa TUHAN, Allahmu, mendukung engkau, seperti seseorang mendukung anaknya, sepanjang jalan yang kamu tempuh, sampai kamu tiba di tempat ini.Tetapi walaupun demikian, kamu tidak percaya kepada TUHAN, Allahmu,” (Ulangan 1:29-32) Bangsa Israel tidak mau maju merebut tanah orang Amori. Melihat hal itu Allah menjadi murka dan menghukum bangsa Israel. Allah menyuruh bangsa Israel berbalik ke padang gurun. Mendengar murka Allah itu, akhirnya bangsa Israel, mengaku dosa dan bertekad maju menyerang orang Amori. Namun demikian, Allah telah menuruh mereka mundur. Tetapi mereka tidak mendengar perintah Allah itu dan akhirnya mereka kalah dan lama tinggal di Kadesh.
Dalam hal ini kita melihat bangsa Israel yang memakai logika dalam menanggapi perintah Allah. Mendengar laporan para pengintai, mereka menjadi takut berperang, walaupun Allah telah berjanji memberikan negeri orang Amori. Sebaliknya, ketika Allah menyuruh mereka mundur, mereka malah maju. Bisa jadi karena dorongan rasa bersalah dan pembuktian diri bahwa mereka tidak takut, sehingga walaupun waktunya tidak tepat, mereka tetap maju tanpa mengindahkan perintah Allah agar mereka mundur. Firman Tuhan menyebut mereka “berlaku terlalu berani”.
Walaupun kita salah, tidak perlu “berlaku terlalu berani” untuk membuktikan kita tidak takut, yang akhirnya justru membuat kita tidak patuh kepada kehendak Allah. Kita ingin cepat-cepat segera berakhir kegagalan itu. Sebaliknya, ketidakpatuhan kepada kehendak Allah-lah yang membuat kehidupan kita tidak bergerak maju. Rasa bersalah justru membuat kita semakin patuh kepada Allah. Kita datang kepada Tuhan dan melakukan kehendak Allah.
Tuhan memberkati kita. Amin.
- Ertoto kenca renungen.
- Rende KEE GBKP No. 309:1,3.
- Pengasup kami o Tuhan gelah pedahNdu banci idalanken, em kap tendang kami bas kegeluhen. KataNdu si man gelemen. Gelah tangkas kata ras perbahanen, ban min kami tetap bas kebujuren. SurgaNdu kap perayaken.
- Kawali kami o Tuhan, alu gegeh ras kuasaNdu si mbelin. Olangilah kami idur si setan si atena encedaken. DameNdu gelah tetap kuarapken. Ban kelengNdu ngenca kap kami atan, bengket ku bas kesangapen.
- Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.
Pdt. Tanda Pinem
GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan
Renungan Malam 5 November 2020
- Rende KEE GBKP No. 310:1,2.
Reff. Pujilah min Dibata, puji gelarNa Si Badia. Ibas Kristus ‘nggo si idah Dibata jine si perkuah.- Langit ras doni rendelah, mungkuk erjimpuh nembahlah. Pasu-pasuNa kap mbelin, keleng ateNa la erkerin… Reff.
- O doni k’rina, suraklah Tuhan Dibata pujilah. Rikut kulcapi ras gendang, sampur meriah la teralang. … reff.
- Ertoto
- Ngoge Kata Dibata Kolose 4:2
“ Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur.”
Renungan
Adalah suatu anugrah ketika kita dapat menjalani kehidupan kita tanpa permasalahan yang berat-berat. Di saat pandemi yang menekan berat kehidupan manusia, kita dapat merasakan hidup kita berjalan baik-baik saja, tanpa ada gangguan yang berarti. Ini adalah berkat Allah bagi kehidupan kita. Namun demikian, dalam kehidupan yang seperti inipun, kita perlu tetap waspada. Hal inilah yang dilakukan Paulus bagi Jemaat Kolose.
Dalam bacaan renungan malam hari ini, Paulus mendorong Jemaat Kolose untuk bertekun dalam doa. Mengapa Paulus mendorong Jemaat Kolose bertekun berdoa ? Situasi apa yang dialami Jemaat Kolose sehingga Paulus mendorong mereka bertekun dalam doa ?
Secara umum, para penafsir mengalami kesulitan dalam menentukan permasalahan atau konflik yang muncul di dalam jemaat Kolose. Dapat dikatakan bahwa kehidupan Jemaat Kolose sangat positif. Dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa surat Kolose ini lebih menekankan kepada pemeliharaan atau penjagaan pertumbuhan rohani jemaat Kolose. Surat Kolose ini juga dapat dianggap sebagai cara Paulus mempersiapkan jemaat Kolose untuk mengantisipasi ancaman-ancaman yang menganggu pertumbuhan iman jemaat Kolose. Di dalam Kolose 4:2 ini, Paulus mendorong Jemaat Kolose bertekun dalam doa, tidak putus-putusnya berdoa. Dalam hal ini, kata bertekun dihubungkan dengan kata berjaga-jaga. Dengan kata berjaga-jaga, kita teringat akan peristiwa Yesus dipermuliakan di atas gunung. Ketika Yesus berdoa, maka Petrus, Yohanes dan Yakobus tertidur. Dan mereka terbangun ketika mereka melihat Yesus dalam kemulianNya bersama dengan Musa dan Elia. (Lukas 9:28-32). Demikian juga dalam peristiwa di taman Getsemani, ketika Yesus berdoa, maka murid-muridnya tertidur. Yesus menasehatkan murid-muridnya dengan mengatakan, “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.” (Matius 26:41) Dalam hal ini, berjaga-jaga berarti memiliki kewaspadaan terhadap tarikan dunia untuk menyangkal iman percaya kita kepada Tuhan Yesus. Dengan demikian, berdoa merupakan gaya hidup Jemaat Kolose. Berdoa merupakan kebutuhan mendesak dan sebagai solusi untuk memelihara pertumbuhan iman jemaat sekaligus mengantisipasi ancaman-ancaman kehidupan.
Selain tekun berdoa dengan sikap berjaga-jaga, Paulus menekankan agar jemaat Kolose juga berdoa dengan sikap ucapan syukur. Artinya, di dalam doa-doa mereka, Jemaat Kolose harus tetap mengingat keselamatan yang telah dianugrahkan Allah ke dalam kehidupan mereka. Jemaat Kolose juga harus mengingat dan mengucap syukur atas kebaikan hidup yang mereka alami saat itu.
Dari bacaan ini, kita dapat juga mengatakan bahwa berdoa bukan karena ada masalah saja. Walaupun kita, mungkin merasa tidak ada permasalahan berat yang sedang melanda hidup kita, tetapi kita tetap tekun berdoa, tidak putus-putusnya berdoa. Sebab berdoa merupakan cara bagi kita yang diberikan Allah untuk memelihara pertumbuhan iman kita dan mengantisipasi permasalahan-permasalahan dalam hidup kita. Di dalam doa, kita juga harus tetap mengingat keselamatan dan kebaikan hidup yang telah dianugerahkan Allah ke dalam hidup kita.
Tuhan Yesus memberkati kita untuk tekun berdoa, berjaga-jaga dan mengucap syukur. Amin.
- Ertoto kenca renungen.
- Rende KEE GBKP No. 270:1,2
- Ermengkah ras ertoto, em keg’luhen si payo. Bas Kristus k’riahenta, meteruk ukurta. Ibas senang ‘ntah susah, kecibal geluhta. Pujilah Tuhan kataken bujur, alu bulat ukur.
- Meder udan ras baho, petir gelap ras lenggur, tumpat ukurku labo, kukataken bujur. Ibas senang ‘ntah susah,…
- Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.
Pdt. Tanda Pinem
GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan
Renungan Malam 4 November 2020
- Rende KEE GBKP No. 333:1,2
- Tuhan e tuhu melias perkuah, Ia ‘rbanca kita mejuah-juah. Ia me si erbanca ukur m’riah. Yesus e si njadiken kita erbuah.
- Yesus e teman suari berngi, kuasaNa labo kapen tersibari. BiakNa bali me kap nderbih gundari. Yesus e si nampati ras ngkawali.
- Ertoto
- Ngoge Kata Dibata Ibrani 6 : 19 – 20
“ Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir, di mana Yesus telah masuk sebagai Perintis bagi kita, ketika Ia, menurut peraturan Melkisedek, menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya.”
Renungan
Setiap orang memang perlu memiliki “sesuatu” yang dia yakini dan harapkan dapat menjamin kehidupannya. Suatu jaminan yang kuat dan aman bagi kehidupan kita saat ini dan masa depan kita. Ada orang yang meyakini dan mengharapkan pekerjaan, jabatan, kekuasaan, kekayaan, ketrampilan, keahlian, bentuk dan kesehatan fisiknya sebagai jaminan yang membuat masa depan seseorang itu kuat dan aman.
Bacaan renungan malam hari kita ini juga membicarakan tentang keyakinan dan pengharapan yang menjamin hidup kita. Di dalam Kitab Ibrani 6:19 ini, kata pengharapan diibaratkan dengan kata sauh, bahasa karo, jangkar. Jangkar harus diturunkan sampai ke dasar air sehingga jangkar itu dapat dengan kuat menahan dan mengamankan kapal dari derasnya arus air.
Demikianlah penulis kitab Ibrani ini menegaskan bahwa bagi kita orang percaya, pengharapan atau sauh kita ada Tuhan Yesus Kristus. Dikatakannya bahwa Tuhan Yesus Kristus telah memasuki tempat terdalam dari bangunan Bait Suci, yaitu ruang maha kudus, yang hanya dapat di masuki oleh Imam Besar. Tuhan Yesus adalah Imam Besar kita. Firman Tuhan dalam Ibrani 7:26-27 menjelaskan pemahaman tentang Yesus adalah Imam Besar kita. “Sebab Imam Besar yang demikianlah yang kita perlukan: yaitu yang saleh, tanpa salah, tanpa noda, yang terpisah dari orang-orang berdosa dan lebih tinggi dari pada tingkat-tingkat sorga, yang tidak seperti imam-imam besar lain, yang setiap hari harus mempersembahkan korban untuk dosanya sendiri dan sesudah itu barulah untuk dosa umatnya, sebab hal itu telah dilakukan-Nya satu kali untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai korban.” Yesus adalah Imam Besar kita karena Dia yang tidak bernoda, menjadikan diriNya sendiri menjadi korban penghapus dosa. Dengan demikian, di dalam pengorbanan Tuhan Yesus, Tuhan Yesus telah merintis jalan bagi kita untuk memasuki keselamatan itu. Yesus telah menjadikan dirinya sebagai jaminan keselamatan kita. “demikian pula Yesus adalah jaminan dari suatu perjanjian yang lebih kuat. (Ibrani 7:22) Inilah jaminan yang kuat dan aman bagi kehidupan kita.
Di dalam kehidupan kita, benar memang kita membutuhkan pekerjaan, jabatan, kekuasaan, kekayaan, ketrampilan, keahlian, bentuk dan kesehatan fisik yang baik untuk mendapatkan yang kita butuhkan. Namun demikian, meyakini dan mengharapkan hal ini sebagai jaminan kehidupan kita akan membuat kita kecewa. Pekerjaan, jabatan, kekuasaan, kekayaan, ketrampilan, keahlian, bentuk dan kesehatan fisik mempunyai keterbatasan waktu dan ketidakpastian hasilnya. Sebaliknya, dengan mendasarkan pengharapan kita kepada Tuhan Yesus Kristus, maka kita dimampukan untuk menerima keterbatasan waktu dan ketidakpastian hasil dari pekerjaan, jabatan, kekuasaan, kekayaan, ketrampilan, keahlian, bentuk dan kesehatan fisik kita. Dalam pengharapan kepada Tuhan Yesus kita dimampukan untuk sabar, tekun dan tenang dalam menjalani kehidupan kita, apapun hasilnya. Inilah yang menjadkan kehidupan kuat dan aman.
Tuhan Yesus memberkati kita dalam pengharapan kita kepada Tuhan Yesus Kristus. Amin.
- Ertoto kenca renungen.
- Rende KEE GBKP No. 451:1,2.
- Malerlah pasu-pasuNdu bagi nipadankenNdu. Gegeh ras ukur si paguh, tetap iberekenNdu. Pasu-pasuNdu em ulu gegeh kami. enggo kap maler me tuhu. Si ndemi geluh kami.
- Malerlah pasu-pasuNdu g’luh kami jadi baru. Sorana bagi lau maler mpeteneng ukur kami. Pasu-pasu Ndu…
- Pertoton syafaat ras pertoton Tuhan.
Pdt. Tanda Pinem
GBKP Rg. Jl. Sei Batang Serangan